Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n XXXNaru

Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).

Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, mungkin OOC, AU, typo(s), newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.

Klo nggak suka tolong jangan baca, dan bagi yang suka Read n Review.

.

.

.

2 years later

Siang hari ini masih sama seperti biasanya dengan matahari yang berada tepat ditempat tertinggi dan menghantarkan hawa panasnya ke bumi. Langitpun masih berwarna biru tanpa adanya awan hitam yang terkadang menjadi tanda akan adanya rintik-rintik air yang turun.

Terlihat disebuah koridor rumah sakit masih cukup ramai seperti biasanya penuh dengan dokter, suster, pasien, maupun pengunjung rumah sakit yang sibuk berlalu-lalang dengan kepentingan mereka masing-masing. Entah itu untuk memeriksa pasien, berkunjung, maupun sekedar membeli makanan di kantin rumah sakit. Tak terkecuali pria muda satu ini yang terlihat diantara orang-orang yang berlalu-lalang.

Jas putih yang dikenakannya bergerak melambai-lambai seiring dengan langkah kaki yang ia buat. Suara hasil dari benturan sepatu pantofelnya dengan lantai keramikpun juga ikut serta mengiringi langkahnya pasti. Sepasang kaki itu berjalan dengan kecepatan yang tidak terlalu lambat namun juga tidak terlalu cepat.

Tak berapa lama kemudian sepasang kaki jenjang itu berhenti di depan sebuah ruang rawat inap salah satu pasien. Sebelah tangannya yang terbalut kulit yang berwarna putih terangkat untuk membuka pintu yang ada di depannya.

Cklek

Pintupun terbuka, terlihat di matanya tiga orang yang berada dalam ruangan itu, terdiri dari dua orang dewasa dan satu anak kecil. Dua orang dewasa dalam ruangan itu sepertinya sedang asik berbincang-bincang sehingga mereka tidak mengetahui keberadaan seseorang yang berdiri di ambang pintu.

Pria muda itu kembali melangkahkan kakinya menuju salah satu orang dewasa yang berada di ruangan itu. Anak kecil berumur 6 tahun yang merupakan satu-satunya orang yang menyadari keberadaan pria itu hanya diam, ia sudah hafal dengan tingkah pria muda itu jadi dia lebih memilih diam dan melihat apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Terima kasih telah menemani cucu saya membeli makanan, dan saya minta maaf karena sudah merepotkan anda karena ulah cucu saya." salah satu orang dewasa yang umurnya telah mencapai lebih dari setengah abad berucap pada laki-laki yang berdiri di samping ranjang yang ia tempati.

"Ahaha... sudahlah tidak apa-apa Jii-san. Lagipula aku sedang tidak sibuk, jadi tidak usah minta maaf seperti itu." laki-laki itu membalasan perkataan pria tua di depannya.

Pria muda yang memasuki ruangan itupun akhirnya telah sampai didekat orang yang ia cari, yaitu tepatnya berada di belakang laki-laki pirang yang berdiri di samping ranjang pasien. Ia kemudian mengalungkan tangannya yang putih di leher tan laki-laki itu.

"?!"

Awalnya sempat kaget, namun kemudian perempatan tiba-tiba tercetak dengan jelas di kening laki-laki pirang itu. Ia sudah bisa menebak siapa orang yang berani bertindak kurang ajar padanya tanpa harus melihat terlebih dahulu. Tangannya terkepal kuat , bersiap untuk memberikan tonjokan pada orang di belakangnya itu.

JDUK!

"APA-APAAN KAU SAI!" laki-laki itu berteriak, mengeluarkan frekuensi suara yang cukup besar hingga mampu membuat telinga berdenging sesaat. Untungnya orang-orang yang berada seruangan dengannya dengan sigap menutup telinga terlebih dahulu, sehingga mereka tidak merasakan efek dari teriakan yang dibuatnya.

Pria yang merupakan Sai itu mengelus kepalanya yang baru saja mendapat pukulan dari orang yang ia peluk secara tiba-tiba.

"Ugh... Naruto bisakah kau tidak memukulku terus, rasanya benar-benar sakit."

"Huh! Kau pantas menerimanya, lagipula itu salahmu sendiri karena terus menggangguku!" nafas Naruto terlihat memburu karena harus menahan kemarahannya yang diakibat ulah Sai. Jujur, ia sebenarnya sudah cukup capek diganggu setiap kali oleh manusia dengan warna kulit menyerupai mayat itu.

"Um, yang dibilang Naruto-sensei itu benar, Sai-sensei memang pantas mendapatkan pukulan tadi." Tenten, satu-satunya anak kecil diantara mereka yang sedang duduk di atas ranjang tempat kakeknya menimpali perkataan Naruto.

"Lihat, Tenten-chan saja setuju denganku, jadi kau tidak boleh protes kalau kupukul." Naruto kembali berucap.

"Tapikan pukulanmu itu sakit Naruto, setidaknya kalau bisa kau kurangi kekuatanmu itu kalau mau memukulku." balas Sai.

"Ahahaha..."

Sebuah tawa keluar dari mulut seorang pria yang paling tua diantara mereka.

Tenten dengan Naruto dan Sai merasa heran melihat kakek yang terbaring di atas ranjang itu tiba-tiba tertawa tanpa diketahui penyebabnya.

Apa penyakit orang tua itu kambuh, hingga ia tertawa sendiri? Tapi setau Naruto kakek itu tidak memiliki penyakit kejiwaan. Atau mungkin saja sebenarnya kakek itu memang memiliki penyakit kejiwaan dan ternyata Naruto selama ini tidak tahu dan malah merawat seorang yang punya gangguan kejiwaan.

Naruto bergidik sesaat, ia kemudian mencoba menghilangkan pemikiran kurang ajarnya tentang orang tua itu.

"Jii-chan, kenapa kau tertawa?" ucap Tenten.

"Ahaha... tidak ada apa-apa. Jii-chan hanya merasa lucu melihat tingkah mereka." kakek itu menjawab pertanyaan yang diajukan cucunya.

"Mereka? Maksudnya kami berdua?" tanya Naruto sambil menunjuk dirinya dan Sai secara bergantian.

"Ya."

"Memangnya apa yang lucu dari tingkah kami?" kali ini Sai yang bertanya.

Sai merasa tersinggung akan ucapan kakek tersebut yang mengatakan bahwa tingkah mereka terlihat lucu, memangnya bagian mana yang lucu?

"Kalian ini terkadang terlihat seperti anak kecil yang suka bertengkar, tapi terkadang juga terlihat seperti sepasang kekasih yang selalu terlihat mesra."

Kekesalan Naruto kembali meningkat. Ia tidak terima dibilang seperti itu, dan ia ingin mengeluarkan protesnya karena disamakan dengan hal yang dikatakan kakek tua itu. Namun apa daya, protesannya itu hanya sampai di tenggorokan. Ia tidak mau dibilang anak yang kurang ajar karena marah-marah dengan orang yang umurnya terpaut jauh lebih tua darinya.

"Tunggu, Jii-san tadi bilang kalau kami terlihat seperti sepasang kekasih? Apa benar terlihat seperti itu?" Sai bertanya dengan antusias, entah kemana rasa kesalnya yang tadi ia rasakan menghilang.

"Ya, tentu saja!"

"Kau dengarkan Naruto, Jii-san saja bilang kalau kita seperti sepasang kekasih, jadi kenapa kau tidak menjadi pacarku saja sekarang?"

Sepertinya Sai masih tidak mau menyerah untuk mendapatkan cintanya Naruto. Ini sudah kesekian kalinya Sai menginginkan Naruto menjadi kekasihnya sejak seminggu setelah pertemuan pertamanya dengan Naruto. Sudah berbagai cara yang ia lakukan, dari cara yang biasa sampai cara yang ekstrem sudah pernah ia coba.

Tapi sepertinya memang keberuntung sama sekali tidak pernah berpihak pada Sai. Naruto yang keras kepala memang sulit untuk ditaklukan, sampai sekarang ia masih tetap menolak perasaan Sai.

"Huh! Jangan mimpi kau Sai, kau pikir aku mau menjadi pacar dari orang menyebalkan sepertimu!" Naruto menjawab ketus.

"Ugh... kau sungguh tidak berperasaan, Naruto!"

"Ya-ya, terserah kau saja. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini dan malah tidak bekerja?!" Naruto menatap tajam Sai, ia berpikir kalau Sai telah melalaikan tugasnya.

"Oh tenanglah Naruto, jangan berpikir yang buruk dulu tentangku. Aku kesini hanya untuk menghabiskan waktu denganmu sebelum kau cuti. Lagipula pekerjaanku hampir selesai, dan aku hanya harus memeriksa beberapa pasien sore nanti. Jadi intinya sekarang aku luang." di kalimat terakhir Sai mengucapkannya dengan nada riang.

"Naruto-sensei akan cuti?" sebuah pertanyaan keluar dari mulut kecil Tenten.

Naruto yang diberi pertanyaan sontak menoleh kearah Tenten yang menjadi lawan bicaranya.

"Um!" Naruto mengangguk. "Aku akan kembali ke Konoha untuk beberapa bulan ke depan."

"Heee...! Kalau begitu Naruto-sensei tidak akan ada di sini dong, nanti siapa yang akan memeriksa Jii-chan?" raut sedih terpancar dari wajah Tenten. Ia benar-benar tidak ikhlas dokter kesukaannya itu akan pergi jauh.

Naruto agak merendahkan tubuhnya untuk menyamakan tingginya dengan Tenten, ia kemudian mengusap rambut anak di depannya itu.

"Tenten-chan tenang saja. Nanti akan ada orang yang menggantikan Naruto-sensei untuk memeriksa Jii-san kok." Naruto menunjukkan cengirannya.

"Ugh... tapikan aku sebenarnya tidak ingin Naruto-sensei pergi."

Kakek Tenten hanya tersenyum melihat tingkah cucu satu-satunya itu.

"Sudahlah Tenten! Naruto-sensei juga memerlukan waktu untuk berlibur."

"Tapikan Jii-chan,"

"Ssst... sudahlah."

"Huh!" gadis itu merengut, ia mengerucutkan bibirnya.

"Tapi, kapan Naruto-sensei akan berangkat?" kakek itu bertanya.

"Aku akan berangkat besok."

Ekspresi kaget terpancar jelas di wajah kakek itu. "Cepat sekali!"

"Hehe..." dan Naruto hanya cengengesan menanggapinya.

Cklek

Suara dari pintu yang terbuka mengalihkan perhatian keempat orang itu. Sesosok wanita dewasa terlihat seiring pintu yang terbuka.

"Wah... ternyata ada Naruto-sensei dan Sai-sensei di sini!" wanita itu berucap.

"Kaa-chan!" Tenten turun dari ranjang yang digunakan untuk duduk sedari tadi dan berlari menuju sosok wanita itu yang merupakan ibunya.

"Maaf lama ya, Tenten-chan. Ngomong-ngomong Naruto-sensei kesini untuk melakukan pemeriksaan ya?"

"Ah ya, tapi aku sudah selesai. Kalau begitu saya mau permisi dulu."

"Baiklah. Terima kasih Naruto-sensei." Wanita itu tersenyum lembut.

"Sama-sama. Ayo Sai!"

"Ya! Kami permisi dulu Jii-san, Ba-san, dan Tenten-chan."

Naruto dan Sai akhirnya meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Sasuke tengah duduk di balik meja kantornya, kertas-kertas penting yang sebelumnya menumpuk di atas meja sejak pagi kini hanya tertinggal beberapa lembar saja lagi. Kacamata yang dikenakannya pun terlihat sedikit bergeser dari tempatnya semula, menandakan bahwa ia terlalu serius mengerjakan hal yang ia lakukan sampai-sampai tidak membenarkan letak kacamatanya. Ruangan itu benar-benar hening hanya suara gesekan pulpen dengan kertas bersama deru AC dan jarum jam yang bergerak ikut menemaninya di dalam ruangan yang hanya diisi olehnya tersebut.

Kertas yang tadi tersisa sudah mulai berkurang jumlahnya, kini ia hanya perlu membubuhkan satu tanda tangan lagi di kertas terakhir.

"Haah..." helaan nafas keluar dari mulutnya ketika ia menyelesaikan kertas yang terakhir.

Sasuke melepas kacamata berbingkai hitam yang sedari tadi bertengger di hidungnya dan meletakkannya di atas meja. Ia kemudian berdiri dan melangkahkan kakinya yang terbalut celana formal hitam menuju satu-satunya pintu berwarna coklat yang ada di ruangan itu.

"Sakura?" panggilnya pada seorang perempuan yang sedang duduk di meja sekretaris.

Sakura yang merasa kaget dengan panggilan tiba-tiba Sasuke refleks berdiri dari duduknya.

"Ah, ya! Apa anda memerlukan sesuatu Sasuke-sama?"

Sasuke mengernyit mendengar perkataan Sakura barusan. Helaan nafas kembali keluar dari mulutnya.

"Bukankah aku sudah kubilang kalau kau tidak perlu bicara formal denganku."

"Ah! Aku lupa. Kalau begitu maafkan aku Sasuke-kun."

"Hn, sudahlah. Apakah masih ada berkas yang masih harus aku kerjakan?"

"Tunggu sebentar, akan aku cek dulu!"

Setelah selesai memeriksanya Sakura kembali berucap. "Sepertinya untuk hari ini sudah tidak ada lagi."

"Baguslah. Lalu apa pekerjaanmu sudah selesai?"

"Sudah. Memangnya kenapa?" Sakura menatap heran Sasuke.

"Bagaimana kalau kita pergi kencan, lagipula ini masih jam 5 sore."

Wajah Sakura sontak berbinar senang. "Benarkah? Kalau begitu kebetulan sekali, ada satu tempat yang ingin aku kunjungi. Bagaimana kalau kita kesana?" ia berucap dengan semangat.

"Baiklah."

Mendengar jawaban Sasuke, Sakura langsung berlari menuju Sasuke dan memeluknya.

"Terima kasih, Sasuke-kun."

Sasuke dan Sakura, mereka adalah sepasang kekasih yang telah menjalin hubungan sejak 9 bulan lalu. Sasuke yang mempunyai perasaan terhadap Sakura sejak lama dan saat itu sudah tidak bisa menahan diri akhirnya memutuskan untuk menyatakan perasaannya pada Sakura tepat di hadapan karyawan-karyawan lainnya yang kemudian dihadiahi tepuk tangan riuh dan ucapan selamat dari para karyawan. Hingga saat ini hubungan mereka baik-baik saja tanpa adanya gangguan sama sekali.

.

.

.

Mobil yang ditumpangi oleh Sasuke dan Sakura berhenti, mereka telah sampai di tempat yang ingin mereka tuju. Sasuke pun memandang tempat itu dari balik kaca jendela mobilnya.

'Tempat ini...'

Seketika sepenggal kenangan masa lalu kembali menyeruak masuk kedalam otak Sasuke.

"Akhirnya sampai juga!" Sakura berseru.

Sasuke memalingkan wajahnya kearah Sakura.

"Jadi tempat ini yang ingin kau kunjungi?" tanya Sasuke.

"Ya! Aku dengar dari Ino di sini penuh pohon sakura, dan di tengah-tengah taman ini ada pohon sakura yang lumayan besar dari yang lainnya jadi aku ingin tahu seberapa besar pohon itu. Oh iya! Bagaimana kalau kita juga berfoto di sana?"

"Haah... untuk apa kita repot-repot berfoto juga?"

Sakura merengut sebal mendengar pertanyaan Sasuke, ia mengerucutkan bibirnya kedepan.

"Kau ini bagaimana sih. Lagipula itu untuk kenang-kenangan saja,kok."

Deg!

Sasuke terdiam, ia benar-benar merasa de javu dengan kata-kata itu. Jantungnya yang tiba-tiba berdenyut menghantarkan perasaan yang tidak ia pahami. Entah apa arti dari denyutan jantungnya itu saat mendengar perkataan Sakura. Perkataan itu benar-benar mengingatkannya akan suatu hal yang telah ia lupakan sejak lama.

Sakura mengernyitkan keningnya melihat keterdiaman Sasuke, ia heran kenapa Sasuke tiba-tiba jadi diam dan tidak membalas perkataannya. Ia memutuskan bertanya dan mengambil kembali perhatian Sasuke.

"Sasuke-kun, kau kenapa?"

Mendengar suara Sakura, Sasuke akhirnya kembali sadar dari acara melamunnya. Ia benar-benar tidak sadar kalau sedari tadi ia mendiami Sakura karena terlalu larut dalam pemikirannya.

"Tidak apa-apa." Sasuke menjawab seadanya.

Sakura terlihat ragu dengan jawaban Sasuke dan iapun kembali bertanya. "Kau yakin tidak apa-apa?"

"Hn. Sebaiknya kita cepat ke taman itu, hari sudah semakin sore."

Sakura akhirnya menyerah dan menyetujui perkataan Sasuke. "Baiklah kalau itu katamu."

Sasuke dan Sakura keluar dari dalam mobil yang ditumpangi, mereka berjalan memasuki taman sakura tersebut.

Taman itu benar-benar didominasi dengan warna merah muda khas bunga sakura, bahkan jalan-jalan setapaknya juga ikut terlihat berwarna merah muda karena ditutupi oleh bunga sakura yang berjatuhan ditiup angin. Di samping jalan setapak tersedia beberapa kursi taman jika ada orang yang ingin bersantai-santai.

Mereka tidak hanya sendiri. Di tempat ini ada juga beberapa orang yang ikut berkeliling melihat keindahan taman tersebut. Tidak hanya sepasang kekasih namun juga orang-orang tua yang bersama anak-anak mereka yang bermain juga ada di sana.

Semilir angin sore bergerak perlahan menerpa tubuh, menghantarkan rasa sejuk pada kulit putih Sasuke. Kelopak mata Sasuke menutup, menghayati suasana yang ada di sekelilingnya. Sakura telah berjalan lebih dahulu di depan Sasuke, jika tidak, sudah dipastikan wajah Sakura akan merona merah senada dengan warna rambutnya dan kelopak bunga Sakura ketika melihat wajah Sasuke yang biasanya selalu menampilkan raut datar, sekarang menjadi tenang dan damai.

Tak lama kemudian Sasuke kembali membuka mata, menampilkan sepasang onyx kelamnya pada dunia. Saat membuka mata Sasuke tanpa sengaja melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan keluar dari area taman.

'Bukankah itu...'

"Sasuke-kun, itu dia pohonnya. Ayo kita kesana!"

Sasuke yang awalnya ingin menyusul sosok itu akhirnya tidak jadi karena Sakura sudah menariknya lebih dulu menuju salah satu pohon sakura yang ada di sana, iapun hanya pasrah saja dan membiarkan sosok itu semakin menjauh.

.

.

.

Siang hari, waktu yang sangat ingin semua orang hindari untuk keluar dari ruangan yang teduh. Sengatan sinar matahari yang bisa membakar kulit dan hawa panas yang menimbulkan keringat hingga menyebabkan adanya bau badan menjadi faktor utama seseorang malas keluar ruangan. Yah, walaupun itu semua bisa diminimalisir dengan menggunakan pakaian yang lumayan tertutup dan mengipas diri dengan benda-benda yang berpotensi menjadi alat kipas dadakan. Namun, sepertinya itu tidak terlalu efektif untuk dilakukan, menggunakan pakaian yang tertutup hanya akan menambah intensitas hawa panas pada tubuh dan mengipas diri dengan kertas, buku, maupun benda lainnya hanya akan membuang-buang tenaga.

Tsunade sepertinya juga termasuk dalam jajaran orang-orang yang malas keluar saat ini. Ia sebenarnya ingin bersantai-santai saja di ruangannya saat siang hari yang panas ini dengan segelas minuman dingin yang menemani. Namun apa daya, semua itu harus ia relakan sirna saat telephone dari seseorang yang sudah ia anggap sebagai cucunya sendiri yang mengatakan kalau hari ini ia akan datang kembali ke kota ini dan minta dijemput, takut kesasar karena sudah lama tidak ke Konoha katanya.

Tsunade hanya pasrah-pasrah saja saat harus meninggalkan ruangannya yang dingin berAC dan harus rela menerobos teriknya matahari siang hari ini. Ingin dibilang ikhlas tapi sebenarnya juga enggak, ingin dibilang enggak ikhlas tapi sebenarnya ikhlas–ikhlas saja.

Untuk orang yang sudah ia anggap cucu apa aja ia rela kok, tapi sekarang ia juga mau berada di ruangannya saja sambil santai-santai. Kenapa juga Naruto harus pulang disaat hari yang panas begini, kenapa nggak nanti-nanti aja saat hari sudah tidak panas.

Akhirnya setelah perjuangan panjang melawan hawa nafsu untuk tidak malas-malasan di ruang kerjanya dan berakhir dengan kemenangan tekadnya untuk menjemput Naruto. Tsunade sampai juga di bandara. Terlihat di mata Tsunade para penumpang yang menaiki pesawat dari Ame sudah keluar. Tsunade mencari keberadaan sosok bersurai pirang di gerombolan orang-orang yang keluar dari pesawat dengan teliti.

Karena sudah terlalu capek, raut wajah Tsunade yang awalnya saat memasuki bandara terlihat senang dan gembira, sekarang berubah menjadi dongkol seiring dengan waktu yang terbuang hanya untuk mencari dan menunggu bocah pirang kesayangannya.

Sudah dibela-belain buat dijemput, eh dibuat jadi capek juga. Lama-lama stok kesabaran Tsunade bisa habis juga kalo begini terus. Naruto itu tidak tahu apa, kalau Tsunade harus melakukan perjuangan ekstra hanya untuk menjemputnya. Dari harus melawan hawa nafsu untuk nyantai-nyantai, menerobos terik panas matahari, ikut berdesakan dengan orang-orang yang ada di bandara, ditambah lagi harus menemukan bocah pirang berisik itu. Kurang apa coba.

Tsunade sudah terlalu lelah harus mencari keberadaan Naruto, padahal penumpang pesawat sudah keluar semua tapi kenapa keberadaan Naruto tidak terlihat bersama arus orang yang keluar dari pesawat tadi. Sepertinya ia harus mencari Naruto di sekitar bandara ini.

Tsunade akhirnya berjalan menjauh dari tempat ia berdiri tadi. Jika anak itu tidak bisa ditemukan, maka Tsunade sudah bertekad akan meminta bantuan petugas bandara untuk mencari Naruto. Ia melangkahkan kaki menelusuri semua tempat di bandara tersebut. Matanya menyusuri semua sudut, tidak membiarkan satu celahpun lewat dari pandangan matanya.

Tak lama kemudian mata Tsunade menangkap siluet orang yang ia cari. Ia melangkah menuju sosok pemuda pirang itu yang sepertinya terlalu asyik dengan handphone di tangannya sampai-sampai tidak memperdulikan keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Saat sudah sampai di depan Naruto yang sepertinya sama sekali tidak menyadari keberadaannya, Tsunade secepat kilat merampas handphone milik orang itu. Pemuda berkulit tan itu awalnya ingin menyampaikan protesnya dan marah-marah dengan orang yang telah lancang mengambil hanphonenya, namun saat melihat betapa seramnya wajah wanita berumur itu tiba-tiba saja nyalinya menciut.

Tangan kanan Tsunade terangkat bersiap-siap memberikan pelajaran bagi pemuda di depannya. Perempatan juga terlihat cukup banyak terlihat di keningnya. Tangan itu kemudian bergerak.

Nyut...

"AW-AW-AW... Baa-chan sa-sakiiit! Lepaskan telingaku Baa-chan! AW!"

Naruto menjerit kesakitan saat tangan Tsunade menjewer telinganya. Namun sepertinya Tsunade tidak menuruti perkataan pemuda itu, malahan ia menambah intensitas jewerannya pada telinga pemuda pemilik warna mata senada dengan batu safir itu dan mengakibatkan frekuensi jeritan Naruto juga bertambah.

Orang-orang yang berlalu lalang di bandara itu sontak juga mengalihkan pandangan pada sumber keributan di sana. Mereka memandang heran pada sepasang orang berbeda umur itu, bahkan ada orang-orang yang berhenti hanya untuk melihat keributan yang dibuat oleh Naruto dan Tsunade.

Tsunade yang merasakan beberapa pasang mata yang sepertinya memperhatikan mereka sontak melihat sekeliling. Ia segera tersenyum gugup saat mengetahui semua pengunjung bandara melihat kearah mereka berdua. Tsunade berdehem dan menghentikan jewerannya pada Naruto.

Naruto bernafas lega saat Tsunade menjauhkan tangan dari telinganya. Ringisan keluar dari celah kedua bibirnya akibat rasa sakit di telinganya karena kuatnya jeweran Tsunade. Ia kemudian mengosok-gosokkan tangannya pada telinga yang sudah berwarna merah.

"Kemana saja kau, bocah?! Aku sudah lelah mencarimu kesana kemari. Dan kenapa kau tidak kutemukan saat para penumpang keluar dari pesawat tadi, hah?!" Tsunade berucap dengan sedikit membentak.

"Setelah keluar dari pesawat dan mencari Baa-chan, tapi malah tidak kutemukan, aku akhirnya memutuskan menunggu di sini." Naruto menjelaskan dengan wajah cemberut lantaran kesal dengan sikap Tsunade yang seenak-enaknya menjewer telinganya. Padahal bukan salahnya kalau Tsunade tidak bisa menemukannya, saat keluar dari pesawatkan banyak orang-orang yang juga berkeliaran untuk menemukan orang yang mereka cari, tidak herankan kalau dia tidak menemukan Tsunade. Tapi kenapa dia yang malah kena marah.

"Haah... sudahlah, lupakan saja semua itu. Lebih baik kita pergi saja sekarang. Aku sudah terlalu lelah dan ingin segera beristirahat."

Naruto hanya mengangguk menanggapi perkataan Tsunade. Ia kemudian mengikuti Tsunade yang berjalan lebih dulu keluar dari bandara dan masuk kedalam mobil silver milik Tsunade. Tsunade mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya keluar dari area bandara tersebut.

"Naruto, bukankah rumahmu belum dibersihkan sama sekali?" Tsunade bertanya pada Naruto yang duduk di kursi penumpang di sebelahnya. Matanya masih fokus menatap jalanan di depannya.

Naruto mengkerutkan keningnya sebentar, namun tak lama kemudian matanya terbelalak ketika mengingat sesuatu yang ia lupakan. "Ah! Aku lupa meminta jasa cleaning service untuk membersihkan rumahku dulu sebelum aku datang. Baa-chan, bagaimana sekarang? Masa aku harus bersih-bersih dulu setelah tiba nanti, aku kan capek dan mau istirahat dulu." Entah kenapa, tiba-tiba bayangan-bayang kalau ia akan tidur di jalananpun terlintas dalam pikiran Naruto saat itu juga. Naruto pun merinding memikirkannya, masa ia harus tidur di jalanan yang penuh dengan resiko terjadinya kejahatan sih.

Tsunade hanya menggelengkan kepala merasa bahwa pemuda pirang di sebelahnya ini tidak berubah sama sekali. "Ck, kau ini. Padahal sudah 2 tahun, tapi kau masih ceroboh juga sampai sekarang!" Naruto cemberut mendengar hal itu. Tsunade yang merasa kasihan melihatnya akhirnya memutuskan sesuatu. "Baiklah kalau begitu, kau tinggal saja di rumahku dulu sampai rumahmu itu selesai dibersihkan."

Naruto bersorak saat itu juga"Yey! Arigatou, Baa-chan!" tak lama kemudian sebuah pelukan ringan Naruto hadiahkan untuk Tsunade.

.

.

.

Naruto sedang berada di ruang makan bersiap-siap untuk makan malam dengan Tsunade. Mata safirnya mengabsen semua hidangan yang berada di atas meja makan dari nasi, telur yang digoreng, sup, sampai ikanpun ada di sana. Namun ada satu hidangan wajib baginya yang tidak ada di atas meja itu.

"Baa-chan, kenapa tidak ada ramen?"

Tsunade yang sudah mengarahkan sendok kemulutnya terhenti sebentar, ia melirik sekilas kearah Naruto dan kemudian melihat kearah isi sendoknya. "Aku tahu kalau kau di sana selama ini sering makan ramen, jadi hidangan ramen makan malam ini kutiadakan." Tsunade menyuap makanannya.

"Tsunade Baa-chan, kau sungguh menyebalkan." Naruto mendelik pada Tsunade, namun Tsunade sama sekali tidak menanggapinya dan malah tetap melanjutkan makannya dengan tenang. Naruto benar-benar tidak menyangka kalau Tsunade dapat menebak dengan benar kalau ia selama ini sering memakan ramen. Sepertinya Tsunade memiliki kekuatan supranatural yang bisa membuatnya mengetahui kehidupan Naruto selama ini. Ia benar-benar harus menyelidikinya nanti.

"Hentikan pemikiran anehmu itu tentangku dan segera makan itu sebelum aku memberikannya pada kucing tetangga." tuhkan dia bahkan bisa menebak dengan benar lagi. Sepertinya dugaannya memang benar.

Perempatan mulai muncul di dahi Tsunade ketika Naruto masih memandang selidik kearahnya. Entah apa yang sebenarnya dipikirkan anak itu tentangnya, tapi ia merasa kalau tatapan yang berasal dari iris safir itu mengatakan kalau ia seperti tokoh-tokoh yang ada di sebuah cerita bergenre supranatural. Sepertinya otak pemuda di depannya ini sama sekali belum dewasa, masa dia masih percaya pada hal-hal seperti itu di dunia nyata ini.

Tsunade yang sudah tidak tahan lagi akhirnya berusaha untuk mengambil makanan Naruto. Dan Naruto yang sepertinya sudah mengetahui gelagat Tsunade berusaha juga untuk melindungi makanannya dengan menggunakan tangannya.

"Iya-iya, akan kumakan. Jadi jangan berikan pada kucing tetangga." Naruto akhirnya menyantap makanan di depannya dengan setengah hati.

Makan malam sudah selesai, Naruto masih duduk di meja makan sambil meminum air putih dan Tsunade sedang mencuci semua piring yang digunakan untuk makan malam tadi. Naruto mengarahkan pandangannya pada jam dinding yang ada di ruangan itu. Jam dinding itu menunjukkan pukul 07:54, menandakan baginya belum terlalu cukup malam untuk pergi tidur. Mungkin ia bisa menonton televisi setelah ini di ruang tengah. Naruto kemudian mengalihkan pandangannya pada Tsunade.

"Baa-chan, kau ada waktu luang tidak besok?" tanya Naruto.

"Hm? Memangnya kenapa?" Tsunade bertanya balik.

"Aku hanya ingin meminta kau menemaniku sebentar ketaman sakura yang ada di tengah kota dulu itu. Sekarang pasti di sana pohon sakuranya sangat indah dan banyak."

Tsunade berpikir sebentar, memastikan apakah ia memiliki waktu luang besok. "Hm... kurasa aku ada waktu besok siang untuk menemanimu."

"Baguslah kalau begitu."

Naruto tidak sabar untuk segera pergi ketaman yang menjadi tempat favoritnya itu, tapi sepertinya ada sedikit rasa sesak yang timbul bersamaan saat itu juga di dalam hatinya.

.

.

.

Mungkin sudah keratusan kalinya ia kesini. Jika memiliki waktu luang, maka ia akan menyempatkan waktu datang kemari hanya untuk melihat pohon sakura itu, tempat dimana ia pernah bertemu sosok berambut pirang yang menarik perhatiannya. Entah itu pada saat musim panas, musim gugur, maupun musim dingin ia akan tetap mengunjungi tempat itu, walaupun pohon itu tidak berbunga sama sekali dan tidak menampilkan warna merah mudanya ia akan tetap datang kemari. Sepertinya harapannya itu bertemu sosok itu membuatnya tetap bertahan untuk terus mengunjungi tempat ini. Padahal kemungkinan untuk bertemu sosok sama di tempat yang sama sangat kecil, tapi ia masih saja tetap pada pendiriannya.

Hembusan pelan angin di siang hari itu menerbangkan helaian-helaian rambutnya yang cukup panjang, membuat rambutnya bisa saja terlihat seperti jaring laba-laba yang diterbangkan angin jika saja rambutnya tidak berwarna raven. Dia menengadahkan tangan kanannya ketika sebuah kelopak sakura gugur tepat di hadapannya, membuat kelopak itu jatuh tepat di telapak tangannya yang putih. Dipandanginya kelopak itu selama beberapa saat, sampai sebuah suara menginterupsi kegiatannya.

"Ano, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

.

.

.

Naruto dengan ditemani Tsunade akhirnya sampai di taman yang ingin ia kunjungi. Padahal ia ingin mengajak Tsunade untuk memasuki taman tersebut, tapi Tsunade malah menolak untuk ikut dan lebih memilih untuk berdiam diri di mobil saja. Jadi akhirnya dia hanya sendiri saja mengelilingi taman itu.

Taman itu sudah jauh jadi lebih baik dari saat terakhir kali Naruto datang kemari. Berbagai fasilitas sudah banyak tersedia di sini, bahkan cukup banyak juga orang yang berjualan di tempat itu. Jumlah pohon sakura yang ada di tempat ini juga terlihat lebih banyak, melebihi pohon sakura yang ada dulu. Hah, kalau beginikan ia jadi tidak mau kembali ke Ame.

Naruto sudah berkeliling cukup lama di area taman, tapi sepertinya kakinya masih ingin berjalan-jalan. Semua tempat bahkan sudah ia kunjungi. Yah, kecuali satu, yaitu tempat dimana pohon sakura yang paling besar yang ada di taman ini berada. Ia sebenarnya tidak ingin kesana karena tidak ingin kembali mengingat kejadian dua tahun lalu, tapi sayangkan kalau ia tidak melihat item kebanggaan taman ini. Dengan penuh tekad, akhirnya Naruto memutuskan untuk pergi ketempat terakhir.

Sesampainya di tempat itu, Naruto melihat satu orang yang juga berada di dekat pohon sakura, berdiri sambil memunggunginya. Ia kemudian berjalan mendekat dan berdiri di samping orang itu yang sepertinya tidak mengetahui keberadaannya.

Naruto menatap sosok di sampingnya dengan teliti. Ia merasa seperti pernah bertemu dengan orang di sampingnya ini. Tapi, dimana ia pernah bertemu? Setelah berpikir cukup lama dan tidak mendapatkan hasil, Naruto akhirnya memutuskan untuk bertanya.

"Ano, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Pemuda raven di samping Naruto menoleh kaget ketika mendapat suara asing dari sebelahnya. Sepasang mata onyx pemuda itu terbelalak seketika ketika matanya menemukan sosok pemuda pirang yang sudah cukup lama ia tunggu kedatangannya selama ini. Siapa sangka kalau harapan yang pernah ia panjatkan dulu terkabul sekarang. Sepertinya, pikiran-pikiran negatif yang pernah lewat dalam otaknya dulu sekarang sama sekali tidak ada gunanya.

Wajah Naruto mengerut kesal saat orang yang ia hadapi ini tidak menjawab pertanyaannya dan malah asyik memperhatikan wajahnya dengan penuh kekaguman. Ia kemudian berdehem untuk menyadarkan pemuda raven itu. Dan sepertinya usaha Naruto itu membuahkan hasil, sebab sosok pemilik mata onyx itu segera memalingkan wajahnya kearah lain saat ketahuan memperhatikan Naruto.

"Jadi, aku akan mengulang kembali pertanyaanku tadi. Apa kita pernah bertemu sebelumnya, sebab aku merasa pernah melihatmu sebelum ini tapi aku tidak ingat dimana?" Naruto kembali bertanya.

Pemuda raven itu tersenyum kecil kearah Naruto. "Apa kau masih ingat dengan laki-laki yang pernah memberikan saputangan padamu di tempat ini dua tahun lalu?" ucapnya.

"Laki-laki? Saputangan? Dua tahun lalu?" Naruto menyilangkan kedua tangannya di depan dada, keningnya berkerut saat otaknya menggali memori-memori yang terjadi dua tahun lalu. Tak lama kemudian Naruto menepukkan kedua tangannya ketika mengingat sesuatu. "Ah! Sekarang aku ingat!" pemuda di sebelah Naruto sempat kaget saat mendengar suaranya yang lumayan nyaring. Pemilik mata onyx itu hanya dapat mengelus-elus dadanya berharap tidak menjadi pasien pengidap jantung dadakan.

"Jadi kau laki-laki itu ya?" pertanyaan penegasan Naruto ditanggapi dengan senyuman dan anggukan oleh orang di sebelahnya. "Oh iya, aku hampir melupakan itu. Tolong tunggu sebentar." Naruto memasukkan tangannya ke dalam tas selempang yang ia bawa. Tangannya kemudian berhasil mendapatkan benda yang ia cari dan mengeluarkannya dari dalam sana. Benda yang terbuat dari untaian benang-benang berwarna ungu terlihat di pandangan pemuda raven dan benda itu juga terarah padanya.

"Ini, benda milikmu! Terima kasih sudah meminjamkannya padaku dan maaf karena aku lama mengembalikannya."

Pemuda itu tertawa kecil, menyebabkan Naruto menatapnya heran. "Tidak kusangka kau masih menyimpannya sampai sekarang." Tangan putih itu terulur untuk mengambil saputangan miliknya dan memasukkannya ke dalam saku celana.

"Aku hanya tidak suka meminjam benda milik orang tapi malah tidak mengembalikannya, itu saja. Oh, perkenalkan aku Namikaze Naruto, apa namamu Itachi? Ada tulisan seperti itu di saputangan milikmu, jadi aku berpikir kalau itu adalah namamu. Apa itu benar?" Naruto bertanya dengan antusias.

"Ya, namaku Itachi, U..." sebelum Itachi selesai memperkenalkan dirinya, tiba-tiba ada sebuah suara menginterupsi.

"Naruto!" seru Tsunade memanggil Naruto.

Naruto segera menolehkan kepalanya ke belakang dimana Tsunade berada tidak jauh darinya. "Tsunade Baa-chan, ada apa?"

"Kita harus kembali kerumah sakit, ada pasien yang harus segera kutangani." Tsunade menjelaskan perihal kedatangannya menyusul Naruto kemari.

"Baik!" Naruto kembali menghadap kepemuda yang bernama Itachi itu. "Sampai jumpa lagi, Itachi. Kuharap kita bisa bertemu lagi." Naruto melambaikan tangannya pada Itachi dan berlari menuju Tsunade yang sudah menunggunya.

"Ya, sampai jumpa, Naruto." gumam Itachi saat Naruto sudah menjauh darinya, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya saat itu juga.

TBC

Balasan review!

RisaSano : Iya, akan diusahakan sebisa mungkin. Semoga Sasu-Teme cepat mendapatkan balasannya.

Rheafica : Tuh, udah kejawabkan, sudah kubuat Itachi yang jadi orang misterius itu, semoga suka.

Dahlia Lyana Palevi : Tebakan yang tepat, itu memang Itachi. Udah kubuat ketemu tuh.

Jasmine DaisynoYuki : He? Ganti main pair? Aduh, gimana ya. Sebenarnya pengen sih, tapi aku nggak tega bikin Sasu-Teme ditinggalin untuk selamanya oleh Naru-chan. Jadi maaf ya, aku nggak bisa ganti main pairnya. Tapi akan kucoba buat Sasu-Teme nyesel kok.

Thaliarivaneathaliarivanea : Itu udah dilanjutin. Aku juga berharap Sasu-Teme menyesal, tapi kayaknya butuh waktu lama buat dia ngerasain seperti itu deh.

Yuma : Terima kasih sudah penasaran.

Aiko Michishige : Iya, udah dilanjutin tuh, semoga suka.

Yuki akibaru : Di atas udah kejawabkan kalau itu Itachi, udah dilanjutin nih.

Halo... kembali lagi nih, masih dengan update lama dan alasan yang sama hehe... Nggak nyangka kalo ulangannya bakalan memakan waktu sampe dua minggu jadi deh fic ini terlantar cukup lama. Untungnya raport yang baru aja dibagi nilainya nggak anjlok, jadilah semangat mengetik karenanya. Ngomong-ngomong sepertinya fic ini makin lama makin ancur aja deh, dan apakah chap ini penulisannya masih jelek, amburadul, dan ada typo, kalau memang masih seperti itu minta maaf ya, semoga chap kedepannya akan jadi lebih baik lagi. Terima kasih bagi yang sudah mereview maupun memfavoritekan fic ini. Sampai jumpa di chap berikutnya.