Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n ItaNaru

Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).

Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, OOC, AU, typo(s), Author newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.

Don't Like Don't Read! Happy reading, mohon reviewnya!

.

.

.

Bagai kembang api yang meletup-letup di langit malam yang sepi, dimana percikan-percikan cahayanya terlihat seperti bintang-bintang di angkasa raya. Jika bisa diibaratkan seperti itu, mungkin seperti itulah perasaan Itachi saat ini.

Rasanya begitu menyenangkan, belum pernah ia merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Bahkan saking senangnya ia sampai-sampai tersenyum-senyum dan terkekeh sendiri di dalam mobilnya sejak keluar dari area taman. Ah... rasanya ia ingin cepat-cepat sampai ke mansionnya dan masuk ke dalam kamarnya.

Kemudian ia mungkin akan berguling-guling di atas kasurnya? Atau mungkin berteriak-teriak dengan suara yang teredam oleh bantal layaknya gadis yang sedang kasmaran? Ah, terserah yang mana saja.

Eh? Tapi bukankah kalau dia bertingkah seperti itu ia akan terlihat sangat OOC dan tidak Uchiha sekali? Haah... sepertinya ia harus mencoret kedua pilihan itu. Yah, walaupun ia begitu senang sekarang, tapi ia tidak sebodoh itu untuk mempermalukan nama keluarga karena tingkah konyolnya. Bagaimana kalau nanti ada pelayan yang melihat tingkah lakunya, bisa-bisa ia tidak akan diakui sebagai anak lagi oleh ayahnya dan Sasuke akan mencatatnya sebagai seorang kakak yang tidak patut diteladani. Ah sudahlah, daripada dia terus memikirkan hal itu lebih baik ia berkonsentrasi mengendarai mobilnya, bisa-bisa ia masuk rumah sakit hanya karena pemikiran sepele itu.

Kaki yang terbungkus dengan sepatu pantofel digerakkan untuk menekan pedal gas lebih dalam, membuat mobil sedan putih itu melaju cepat di atas aspal dan menyalip kendaraan-kendaraan di depannya. Tak lama kemudian gerbang besar bercat hitam terlihat di pandangan Itachi, laju mobil itupun berkurang. Penjaga yang bertugas di sana segera bergegas membukakan gerbang ketika melihat mobil salah satu tuannya berada di depan. Melihat gerbang di depannya telah terbuka Itachi kembali menggas mobilnya untuk masuk ke dalam.

Mobil sedan putih itu akhirnya terparkir bersama dengan kendaraan lainnya di tempat khusus yang memang disediakan untuk parkir. Saat keluar dari mobil, Itachi sempat melihat kearah mobil yang terparkir di sebelahnya, yang ternyata adalah milik Sasuke. Tidak mau berlama-lama ditempat ini, Itachi mulai melangkahkan kakinya menuju ke dalam mansion. Setelah masuk ia disapa oleh seorang pelayan dan hanya dibalas anggukan kepala olehnya.

Saat akan menuju kamarnya di lantai dua tanpa sengaja telinga Itachi mendengar suara ibunya yang berbincang-bincang dengan seseorang—yang sepertinya adalah Sasuke, karena ia tadi melihat mobil Sasuke terparkir di luar—dari ruang keluarga. Ia segera menghentikan langkahnya dan berbelok arah menuju ruang keluarga. Sesampainya di ruang itu, ia melihat sosok ibunya dan sang adik berada di ruangan itu, mereka terlihat sedang minum teh bersama di sana. Itachi memutuskan untuk ikut bergabung dan mengabaikan tujuan awalnya.

Mikoto dan Sasuke yang mendengar suara langkah kaki segera mengalihkan mata menuju sumber suara itu.

"Okaeri, Itachi." sapaan lembut serta senyum kecil terlontar dari Mikoto.

"Tadaima." kecupan singkat Itachi berikan pada kening sang ibunda. Ia kemudian mendudukkan dirinya di sofa panjang yang juga ditempati Sasuke. Salah satu pelayan yang baru saja lewat dipanggil, dipinta agar disediakan minuman untuknya juga. Pelayan tersebut itupun pergi setelah menerima perintah Itachi.

Atensi Uchiha sulung kemudian beralih pada sosok di sebelahnya. "Kenapa kau pulang cepat, Sasuke? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Itachi berucap pada Sasuke yang saat ini sedang fokus membaca sebuah buku di tangannya. Sedikit merasa terganggu sebenarnya saat Itachi bersuara.

"Hn." Sasuke hanya membalas ucapan Itachi dengan kata andalan singkatnya, membuat Mikoto menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan karena tingkah anak bungsunya itu. Dan sepertinya Itachi tidak terlalu memperdulikan ucapan Sasuke yang sangat singkat itu dan bahkan ia tidak mengatakan alasan dari kepulangannya yang cepat.

Haah... kalau dipikir-pikir rasanya dari dulu sampai sekarang Mikoto masih belum paham sama sekali kenapa suami dan kedua putranya itu sangat suka sekali mengucapkan kata yang sama sekali tidak ada dalam kamus bahasa dan memiliki banyak makna tersebut. Hanya karena kata itu ia jadi harus ekstra sabar dan maklum saat berbicara dengan ketiganya. Mungkin sepertinya karena sikap irit bicara yang sangat melekat pada nama Uchiha menyebabkan nenek moyang Uchiha jaman dulu menciptakan kata yang bisa mempermudahkan mereka dalam berbicara tanpa perlu banyak berucap. Dikelilingi oleh tiga orang yang irit bicara di dekatnya saja sudah sangat melelahkan, apalagi kalau nanti Itachi dan Sasuke sudah menikah dan memiliki anak, lalu nanti anak-anak mereka mewarisi sikap ayahnya. Oh... tidak tidak, ia tidak mau memiliki cucu yang seperti itu, ia hanya ingin memiliki cucu yang bisa membuat suasana tempat ini menjadi lebih berwarna, bukannya menambah suasana menjadi abu-abu persis seperti film jaman dulu.

Itachi yang tadi sempat melihat ibunya menggeleng-gelengkan kepala hanya bisa tersenyum kecil dan membiarkan ibunya itu larut dalam pemikirannya sendiri. Itachi kembali mengalihkan perhatiannya pada Sasuke.

"Jadi, apa kau akan menginap di sini malam ini?" senyum jahil terpampang di wajah Itachi. Jika Sasuke menginap di sini dan tidak tinggal di apartementnya sendiri, maka Itachi akan bisa sepuasnya menjahili adik satu-satunya itu untuk malam ini. Hei, walaupun ia sudah cukup tua untuk bersikap kekanak-kanakan tapi ia juga butuh hiburan disela-sela pekerjaan kantornya, dan salah satu hiburan itu adalah menjahili Sasuke.

Sasuke yang segera mengalihkan pandangannya ke Itachi saat ia bertanya dan sempat melihat senyum jahil terpampang di wajah yang mirip dengannya itu hanya membalas dengan seringai kemenangannya. "Maaf saja, tapi aku tidak menginap, aku hanya ingin berkunjung kesini."

Senyum yang tadi terlihat hilang sudah tergantikan dengan wajah datarnya, pupus sudah niat Itachi untuk menjahili Sasuke. "Hn, ya sudah kalau begitu."

Rasanya Sasuke ingin tertawa keras, persis tokoh antagonis di film-film saat mereka berhasil membuat tokoh protagonis yang berlagak sok pahlawan terkapar tidak berdaya di hadapan mereka. Tapi ia tidak sebodoh itu untuk bertingkah konyol seperti itu, jadi ia hanyalah menampilkan wajah datar walaupun batinnya tertawa setan. Menyenangkan sekali saat ia berhasil membuat kesenangan Itachi hilang, mungkin ia akan melakukannya lagi lain kali.

Tak lama setelah percakapan tadi pelayan datang mengantarkan minuman Itachi dan kembali lagi setelah mengantarkan minuman.

Suasana hening setelahnya, Sasuke lebih memilih menyibukkan diri dengan meminum teh dan kembali membaca bukunya yang sempat terabaikan, sedangkan Itachi sepertinya kembali terpikir dengan pertemuannya bersama sosok pirang yang ia kenal bernama Naruto. Karena pemikirannya itu, Itachi kembali tersenyum-senyum sendiri.

Mikoto yang merasa suasana di sekitarnya hening akhirnya kembali tersadar dari acara khayalannya tentang masa depan keluarga ini. Tapi saat ia melihat keadaan kedua putranya, ia dibingungkan dengan satu hal. Kalau Sasuke sih ia lihat masih biasa-biasa saja, nah yang anehnya itu Itachi. Kenapa juga dia senyam-senyum sendiri begitu, Mikoto kan jadi khawatir kalau anak sulungnya ini kenapa-kenapa.

Rasa penasaran yang tinggi akan tingkah aneh Itachi membuat Mikoto akhirnya memutuskan memanggil Itachi.

"Itachi?"

"..." tidak ada respon dari sang sulung, sepertinya dia masih asyik dengan lamunannya.

Panggilanpun kembali diucapkan, namun hasilnya tetap sama. Tidak ada tanggapan berarti dari laki-laki dewasa di sana.

Sasuke yang mendengar ibunya terus memanggil Itachi dan malah tidak mendapat sahutan dari yang bersangkutan melihat kesebelah kanannya dimana Itachi berada. Sasuke ikut menatap bingung pada kakaknya dan mengernyitkan dahinya ketika melihat Itachi tersenyum sendiri. Uchiha bungsu itupun kemudian menatap ibunya dan melihat bahwa ibunya itu memberi isyarat kepadanya untuk menyadarkan Itachi.

"Aniki!" panggil Sasuke disertai tepukan pelan di pundak Itachi.

Tersentak saat merasakan tepukan di pundaknya dan kemudian memandang bingung pada pelaku penepukkan di sebelahnya. "Ada apa?" tanyanya.

"Kau seperti orang tidak waras, Aniki."

Perempatan muncul di keningnya tepat setelah kalimat yang dilontarkan Sasuke. "Apa maksudmu, Sasuke?" alis Itachi terlihat berkedut bersamaan saat ia berucap. Ia cukup kesal mendengar ucapan Sasuke yang mengatainya tidak waras, memangnya apa yang membuatnya terlihat tidak waras di mata Sasuke? Benar-benar adik durhaka, bisa-bisanya mengatakan kakaknya sendiri tidak waras.

"Kau tadi tersenyum-senyum sendiri, Itachi. Apa kau tidak apa-apa?" kali ini Mikoto yang berucap, pandangan khawatir diarahkannya pada anak sulungnya itu.

"Huh? Aku, tersenyum-senyum sendiri?" jari telunjuknya ia arahkan ke depan wajahnya, tidak yakin akan ucapan ibunya.

Kalimat Itachi kemudian direspon dengan anggukkan kepala dari Mikoto.

Rasanya dia tadi tidak tersenyum. Oh, apa jangan-jangan karena memikirkan sosok berambut pirang itu ia tersenyum tanpa sadar. "Ah, tidak ada apa-apa, Kaa-sama." hanya kalimat singkat itulah yang ia ucapkan setelah mengetahui penyebabnya.

Sebenarnya Sasuke masih ragu akan perkataan itachi, tapi karena teringat akan kejadiaan saat dimana ia melihat sosok seseorang yang mana sosok itu adalah Itachi berada taman sendirian, ia membatalkan niatnya untuk bertanya lebih lanjut dan mengganti topik pembicaraan. "Aniki, kemarin aku melihatmu ada di taman sakura sendirian, apa yang kau lakukan di sana? Jarang-jarang kau pergi ke tempat umum, dan bahkan kau lebih sering memilih mengerjakan tugas-tugas kantormu daripada jalan-jalan." Sasuke memandang selidik.

"Taman sakura? Jadi kau pergi ke taman yang ada di tengah kota itu lagi?" tanya Mikoto.

"Hn, begitulah Kaa-sama." jawab Itachi akan pertanyaan ibunya dan tidak menjawab pertanyaan Sasuke. Cangkir berisi cairan lemon tea di atas meja diangkat dan diminum isinya.

"Lagi? Apa maksud Kaa-sama dengan 'lagi', apakah Aniki tidak hanya sekali pergi ke sana?" Sasuke menatap heran pada ibunya.

"Yah... sebenarnya Anikimu ini sering sekali pergi ke sana sejak dua tahun lalu, bahkan hampir setiap hari dia pergi. Sampai sekarang ini bahkan Anikimu ini belum mengatakan alasan kenapa dia sering pergi ke sana." Mikoto memasang wajah cemberut, pasalnya Itachi tidak pernah ingin mengatakan alasannya pada Mikoto sehingga membuat Mikoto penasaran sekaligus kesal sampai sekarang. "Nah, karena sekarang kita sedang membahas hal ini, jadi Kaa-sama akan bertanya sekali lagi denganmu, kenapa kau sering pergi ke sana? Dan berhentilah membuat Kaa-sama penasaran, Itachi!" di akhir kalimat Mikoto memberikan nada perintah dan memasang wajah serius pada Itachi.

Sasuke sebenarnya agak sedikit kaget mengetahui bahwa kakaknya ternyata sering keluar tanpa pernah ia ketahui selama ini, tapi ia berhasil menyembunyikan perasaan kagetnya di balik wajah datarnya. Siapa sangka kalau ternyata kakaknya ini sudah melakukannya selama dua tahun ini, dan ia bahkan tidak tahu akan hal itu. Mungkin karena terlalu larut akan pekerjaan dan urusan pribadinya (yang kau tahu apalah) itu, membuatnya tidak terlalu memperhatikan tingkah kakaknya selama ini. Sekarang ia malah jadi penasaran juga kenapa Itachi sering pergi ke sana, sampai-sampai itu terlihat seperti sebuah jadwal kegiatan yang harus Itachi lakukan.

"Errr..." sedikit gugup juga kalau boleh dikata. Siapa sih yang tidak gugup saat dipandang oleh dua orang di depannya. Ibunya yang lebih sering memasang senyum lembut sekarang sedang memasang wajah serius menuntut. Dan adiknya, yah... wajahnya sih masih datar-datar aja, yang jadi masalah matanya itu loh, memandang tajam seakan-akan menjelaskan bahwa ia juga menuntut jawaban dari mulut Itachi.

Haah... sepertinya dia memang harus mengatakan kepada keduanya, lagipula apa untung dan ruginya ia menyembunyikan hal itu. Cangkir di tanganpun diletakkan kembali di atas meja.

"Hn, baiklah akan aku katakan. Sebenarnya dua tahun lalu sebelum aku pulang kemari, aku sempat singgah di taman itu, dan di sana aku bertemu seseorang," kedua sudut bibir Itachi kembali tertarik ke atas, menghasilkan sebuah senyuman yang tidak luput dari penglihatan Mikoto dan Sasuke. "wajahnya sangat menawan dan matanya biru sangat indah saat pertama kali aku melihatnya. Sebenarnya aku ingin berkenalan dengannya, tapi saat kulihat ia sedang sedih dan sepertinya membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi aku meninggalkannya." senyum sendu ia pasang di wajahnya ketika mengingat air mata yang sempat keluar dari mata safir orang itu. "Besoknya aku kembali lagi ke sana, berharap bisa bertemu lagi dengannya. Walau kecil kemungkinan aku bisa bertemu dengannya lagi, tapi apa salah untuk mencoba berharap. Namun, aku tidak berhasil menemuinya di sana. Sejak saat itu aku terus melakukannya sampai sekarang dengan harapan bisa bertemu kembali. Dan entah ini takdir atau bukan," ekspresinya Itachi yang sebelumnya terlihat sedih kini kembali berseri-seri.

"Aku berhasil bertemu dengannya lagi tadi siang di taman itu."

Itachi tersenyum, tersenyum sangat lebar, sampai-sampai matanya menyipit karena saking lebarnya. Rona merah bahkan sedikit terlihat di wajahnya.

Ini pertama kalinya kedua Uchiha di depan Itachi melihat ekspresi seperti ini terpampang jelas di wajah Uchiha sulung. Jujur, walaupun sangat kaget dengan peristiwa itu, tapi Mikoto dan Sasuke merasa senang saat itu juga. jarang-jarang Itachi terlihat bahagia seperti itu ketika bertemu seseorang.

'Jadi itu alasan Aniki ada di sana kemarin.' batin Sasuke yang masih memperhatikan Itachi.

"Wah-wah, jadi ini yang membuatmu tersenyum-senyum sendiri tadi, Itachi?" tanya Mikoto sambil memandang Itachi dengan alis yang naik turun naik turun.

"Hn." Mikoto sweatdrop mendengar ucapan singkat Itachi.

Drrtt...drrtt...

Getaran handphone di saku celananya mengalihkan atensi Sasuke dari pasangan ibu anak di depannya. Sebuah pesan singkat terpampang di layar handphone tersebut. Setelah membaca pesan singkat itu, Sasuke kembali memasukkan benda itu ke dalam saku.

"Kaa-sama, kalau begitu aku mau pergi dulu."

Mikoto dan Itachi mengalihkan pandangan pada Sasuke yang telah berdiri.

"Kau akan pulang ke apartemenmu sekarang?" sebenarnya Mikoto berharap Sasuke lebih lama berada di sini.

"Hn, aku ada janji dengan Sakura malam ini, jadi aku ingin bersiap-siap terlebih dahulu."

"Oh, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, Sasuke!"

"Hn." Sasuke berjalan menuju ibunya dan mencium sekilas keningnya. "Aku pergi!"

Sasuke pun berjalan menuju pintu keluar, menyisakan Mikoto dan Itachi di ruangan itu.

"Ne~ne~ kembali lagi ke topik tadi. Jadi, bisa kau ceritakan pada Kaa-sama seperti apa orang itu?" Mikoto menatap penuh harap pada Itachi.

Itachi hanya tersenyum melihat tatapan ibunya. "Nanti saja ya, Kaa-sama. Aku mau ke kamar dulu. Dah~" meminum lemon tea sedikit dan setelahnya Itachi pun melengos meninggalkan ibunya sendiri di ruangan itu.

Yah, walaupun diperlakukan seperti itu Mikoto tetap tersenyum. "Haah... dasar anak itu, selalu saja membuat orang penasaran."

.

.

.

Itachi melangkahkan kakinya menaiki satu per satu anak tangga menuju kamarnya, menuntaskan niat awalnya sebelum bergabung dengan ibu dan adiknya di ruang tengah tadi. Tangan kanannya meronggoh saku kemeja yang ia kenakan mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam sana. Kalau dipikir-pikir lagi rasanya aneh sekali mengetahui ada orang yang masih menyimpan benda seperti ini selama dua tahun dan bahkan ingin mengembalikannya. Benar-benar aneh.

Tawa kecil keluar dari mulut Itachi, kakinya masih tetap terus menapaki tangga menuju ke atas. Setelah tawanya berhenti ia kembali menatap benda di tangannya itu, diarahkan benda tersebut kemudian ke depan hidungnya, mencoba menghirup aroma yang dari tadi terus mengusiknya.

Persis aroma jeruk. Sepertinya dia selalu mencuci sapu tangan ini, sampai-sampai aromanya melekat kuat. Rasanya ingin bertemu dengannya lagi besok.

Eh tunggu, bukankah selain nama dan wajah ia tidak tahu apa-apa tentang orang itu. Kalau begitu bagaimana ia bisa bertemu lagi. Sungguh merepotkan, seharusnya ia bertanya tempat tinggalnya.

Tapi kalau tidak salah Naruto tadi pergi bersama dengan seorang wanita yang ia panggil dengan sebutan Tsunade Baa-chan kan, dan wanita bernama Tsunade itu juga bilang kalau ia harus segera pergi karena ada pasien yang harus ia tangani. Mungkinkah wanita itu adalah dokter Tsunade yang bekerja di Rumah Sakit Konoha. Sepertinya nanti ia harus mencari orang untuk mencari informasi tentang Naruto. Dan Itachi benar-benar beruntung sekarang, Kakashi sekarang ada di depannya ia bisa meminta Kakashi untuk mencarikan orang tersebut.

"Kakashi!" panggil Itachi.

Kakashi segera menuruni tangga dan berhenti pada anak tangga yang juga menjadi tempat pijakan Itachi. "Ada apa, Itachi-sama?"

"Bisakah kau mencarikan orang untuk mencari informasi tentang pria yang bernama Namikaze Naruto, dan seperti Naruto mengenal dokter Tsunade yang bekerja di Rumah Sakit Konoha." Jelas Itachi.

"Baiklah Itachi-sama, akan saya laksanakan. Jika tidak ada lagi maka saya permisi dulu."

"Hn."

.

.

.

Satu minggu sudah berlalu sejak kedatangan Naruto ke Konoha. Naruto sekarang sudah kembali tinggal di rumahnya sendiri. Ia hanya tinggal sendiri di rumah yang sederhana itu, orang tua Naruto telah meninggal saat ia berumur 15 tahun karena kecelakaan. Sejak saat itu ia dirawat oleh Tsunade yang dulu adalah tetangganya. Walaupun Tsunade tidak satu keluarga dengan keluarga Naruto namun hubungan antara mereka sangat dekat, Naruto saat kecil selalu dititipkan pada Tsunade saat kedua orang tua Naruto pergi bekerja, karena hal itulah Naruto menjadi sangat dekat dengan Tsunade dan bahkan ia menganggap Tsunade seperti neneknya sendiri.

Kembali kewaktu sekarang, Naruto kini sedang berada di trotoar ia baru saja mengunjungi Tsunade di rumah sakit tadi. Siang hari ini benar-benar panas sekali, kalau tahu begini seharusnya ia tadi memakai motor sport merahnya saja. Benar-benar merepotkan. Oh ya, kalau diingat-ingat bukankah persediaan bahan makanan di kulkasnya sudah hampir habis. Sepertinya ia harus mampir ke toko swalayan dulu sebelum pulang.

Naruto mempercepat langkahnya dan tidak menyadari akan sesosok manusia di belakangnya yang kini tengah berlari dengan cepat kearahnya dan siap menubruknya.

"NARUTOOO...!" teriakan kencang yang membuat telinga berdenging dikeluarkan oleh sosok itu.

Naruto yang mendengar namanya dipanggil segera berhenti berjalan dan menolehkan kepala kepada pelaku pemanggil di belakangnya. Namun belum sempat menoleh sempurna ke belakang, tubuh Naruto sudah ditubruk terlebih dahulu oleh sosok tersebut, sehingga menyebabkan tubuhnya oleng dan jatuh terduduk di trotoar.

"Aw!" ringisan kesakitan keluar dari celah kedua bibirnya. Bokongnya sekarang benar-benar sangat sakit karena sudah berbenturan dengan permukaan trotoar yang keras dan panas. Setelah rasa sakitnya berkurang Naruto kemudian menoleh pada sosok di depannya yang menabraknya tadi. Dan respon yang diberikan Naruto tidaklah jauh berbeda dengan sosok itu.

"KIBAAA...!" teriakan yang frekuensinya hampir sama dengan sosok yang ternyata bernama Kiba itu Naruto ucapkan disertai dengan jari telunjuk yang teracung ke depan.

.

.

.

Setelah adegan teriak-teriakan antara Naruto dan Kiba yang dimana kemudian mereka saling berpelukkan ala teletubies dan berakhir dengan mereka mendapat tatapan aneh dari para pejalan kaki di trotoar itu serta pandangan selidik dari pak polisi lalu lintas yang sedang bertugas, Naruto dan Kiba akhirnya memutuskan untuk pergi ke kedai ramen.

"Aku tidak percaya saat aku melihatmu. Kupikir itu bukan kau, tapi saat kuperhatikan lagi ternyata itu benar-benar kau Naruto. Sudah tiga tahun kita tidak bertemu, kemana saja kau selama ini?" Kiba yang pertama berucap setelah memesan makanan pada pelayan. Raut senang terlihat di wajahnya, Kiba benar-benar tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan sahabat pada masa kuliahnya dulu.

"Sebenarnya tiga tahun lalu aku masih tinggal di sini, tapi satu tahun kemudian aku harus pergi ke Ame karena urusan pekerjaan. Kau sendiri kemana saja dan apa saja yang kau lakukan selama ini?" Naruto membalas ucapan Kiba dengan semangat, ia juga ikut merasa senang karena bisa bertemu dengan Kiba lagi.

"Aku pulang ke rumah orang tuaku di Suna dan baru satu tahun lalu aku pindah kemari, lalu aku juga mendirikan klinik hewan di sini. Oh ya, Naruto bukankah kau tadi bilang kalau kau pindah ke Ame, lalu apa yang kau lakukan di sini?"

"Wah wah, jadi cita-citamu mendirikan klinik sendiri sudah tercapai ya. Mengenai kenapa aku ada di sini karena aku hanya ingin berlibur saja kok."

Pelayan kemudian datang mengantarkan pesanan dan memutuskan sementara percakapan dua sahabat tersebut. Sumpitpun dipatahkan dan ucapan selamat makanpun diucapkan keduanya.

Sudah beberapa suap ramen masuk ke dalam mulut mereka. Naruto masih terus memakan ramennya sedangkan Kiba berhenti makan, ia memperhatikan Naruto yang menikmati ramennya. Sebenarnya ada hal yang ingin Kiba tanyakan, namun ia takut kalau pertanyaannya itu hanya akan membuat Naruto tersakiti. Tapi ia benar-benar penasaran akan hal itu.

"Errr... Naruto?" panggilan yang disertai nada ragu-ragu Kiba ucapkan.

Menelan makananya terlebih dahulu dan kemudian membalas. "Ada apa?"

"A-apa kau putus dengan Sasuke?"

Deg!

Mata safir dengan kelopak mata berwarna tan itupun sontak melebar, kaget akan pertanyaan sahabatnya itu. Darimana sahabatnya itu tahu akan hal itu.

"Darimana kau tahu hal itu, Kiba?" mata yang sebelumnya menampilkan pandangan keterkejutan kini terganti pandangan kosong.

"Sebenarnya ini hanya hipotesis ku saja. Shikamaru menceritakan padaku, kalau temannya yang bekerja di perusahaan Sasuke melihat kalau Sasuke itu menyatakan perasaan pada sekretarisnya sendiri di depan semua karyawan sembilan bulan lalu. Jadi menurutku, kalau Sasuke berbuat seperti itu bukankah berarti dia sudah tidak memiliki hubungan lagi denganmu?" Kiba sebenarnya ragu untuk menjelaskan, tapi nasi sudah menjadi bubur.

"Ya begitulah, aku memang sudah tidak ada hubungan lagi dengannya. Dia memutuskanku hanya karena ia menemukan seseorang yang menurutnya lebih baik daripada aku." ramen yang masih tersisa di mangkok diaduk-aduk, tidak ada lagi niat untuk menghabiskan makanan kesukaannya itu.

"Tapi kupikir kalian saling mencintai, bahkan kalian dulu selalu bahagia walaupun sering mengalami kejadian-kejadian menyedihkan." kalimat tersebut diucapkan dengan nada tidak percaya.

Naruto mendecih mendengar ucapan Kiba. "Kiba, apa kau tahu? Di dunia ini tidak ada yang bisa menjamin perasaan manusia. Perasaan manusia bisa berubah seiring dengan berjalannya waktu. Persis seperti perasaan Sasuke, tidak ada yang bisa menjamin kalau dia akan terus mencintaiku selamanya, rasa cintanya pasti akan luntur juga padaku."

Kiba tahu kalau di dunia ini memang tidak ada yang bisa menjamin perasaan manusia tidak berubah, dan Kiba juga tahu di balik sikap tegar yang diperlihatkan pria blonde di depannya ini pasti menyimpan perasaan luka. Ia tidak menyangka kalau perjuangan yang pernah dilakukan Sasuke dan Naruto dulu hanya akan menjadi sia-sia seperti ini. Masih tersimpan di memori otaknya masa-masa kuliah dulu, ingatan tentang kejadian-kejadian yang dialami Naruto dan Sasuke karena banyaknya pihak yang menentang hubungan mereka. Naruto sering dibully oleh mahasiswa dan mahasiswi di kampus, atau bisa dibilang lebih tepatnya dialah yang selalu menjadi bahan bully-an. Lalu bagaimana dengan Sasuke? Oh ayolah, apa yang kau harapkan dari itu. Memangnya siapa yang berani menganggu sang pangeran kampus keturunan orang kaya itu. Yang ada kau hanya akan mendapatkan balasan lebih karena telah mengganggunya. Tapi bukankah menganggu Naruto artinya kau juga berurusan dengan Sasuke? Yah, itu bisa terjadi kalau Naruto tidak memohon pada Sasuke agar tidak membalas mereka yang telah menyakitinya dan Sasuke pun berjanji pada Naruto untuk tidak melakukannya.

Namun, karena permohonan itulah petaka selalu mendatangi Naruto. Pernah satu kejadian yang mana kejadian itu merupakan kejadian yang paling mengerikan terjadi pada si blonde, koma selama beberapa minggu dengan keadaan yang sangat mengenaskan dimana darah mengalir deras dari tubuhnya saat pertama kali ditemukan di jalan gang sempit. Setelah diselidiki oleh polisi, pelaku dari kejadiaan tersebut ternyata adalah preman-preman yang dibayar oleh seorang mahasiswi di kampusnya. Itu merupakan kejadian yang benar-benar ingin Kiba lupakan dalam hidupnya, ia benar-benar tidak suka perasaan saat dimana ia harus terus merasa gelisah memikirkan keadaan si blonde yang entah akan sadar atau tidak. Setelah mengalami kejadian yang hampir menghilangkan nyawanya inikah yang Naruto dapatkan, berakhir dengan putusnya hubungan keduanya. Kiba benar-benar tidak mengerti dengan semua ini.

"Kiba?" suara dari pria di depannya menyadarkan Kiba dari lamunannya.

Senyumanpun diperlihatkan oleh dokter hewan itu. "Aku yakin kau pasti akan baik-baik saja tanpanya. Aku akan selalu ada jika kau butuhkan, karena kau adalah sahabatku Naruto." Ucapnya.

"Terima kasih." Naruto ikut tersenyum kecil mendengar ucapan pria di depannya.

.

.

.

"Kau masih menyimpan nomor teleponku yang dulu kan Naruto?"

"Ya, aku masih menyimpannya."

"Hubungi aku kalau kau butuh teman ngobrol ya. Sampai jumpa lagi!"

"Ya, sampai jumpa! Aku akan menghubungimu kok!"

Naruto dan Kiba berpisah di depan kedai ramen, keduanya berjalan dengan berlawanan arah. Naruto berjalan sambil mencari toko swalayan terdekat. Untung dia masih ingat untuk membeli bahan makanan, bisa-bisa ia tidak dapat makan untuk malam ini. Setelah berjalan beberapa ratus meter Naruto akhirnya menemukkan toko swalayan, ia pun segera masuk ke dalam toko tersebut.

Kantong belanjaan sudah ada di tangannya, Naruto kini melangkah menuju pintu keluar toko. Sesampainya di luar Naruto memandang langit kelabu di atas sana, rintik-rintik air juga ikut turun dari awan-awan tersebut.

'Bukankah tadi panas, tapi kenapa sekarang hujan. Haah... kalau begini aku benar-benar sangat menyesal sudah meninggalkan motorku di rumah.' batin Naruto sambil memandang pasrah pada langit mendung di sana.

Suhu udara semakin rendah dan Naruto pun semakin kedinginan karena angin yang terus menerpa tubuhnya yang hanya dibalut oleh kaos putih dengan celana jeans hitam. Pintu masuk toko kemudian terbuka menampakkan seorang pria raven yang keluar dari dalam toko. Pria raven itu mengernyit ketika merasa familiar dengan sosok berambut pirang di depannya, ia kemudian melangkah mendekati sosok pirang itu memastikan apakah dugaannya tepat. Dan sepertinya dugaannya benar-benar tepat, sosok pirang itu memang merupakan orang yang dikenalnya.

"Naruto!" panggilnya.

Naruto refleks menoleh. "Itachi? Apa yang kau lakukan di sini?" pandangan heranpun dilayangkan.

"Habis membeli minuman." Itachi menunjukkan minuman kopi kaleng yang baru dibelinya. "Kau sendiri, apa yang kau lakukan berdiri di depan sini?" kaki melangkah mensejajarkan diri di samping si pirang.

Pegangan pada kantong plastikpun dieratkan. "Hanya menunggu hujan reda, aku baru saja habis membeli bahan makanan di sini tadi."

"Memangnya kau kesini pakai apa?" Itachi memandang bingung.

"Hanya berjalan kaki." Naruto membalas singkat.

"Jalan kaki?" tanya Itachi sekali lagi. Setahu Itachi dari informasi yang diberikan orang suruhannya jarak rumah Naruto kesinikan cukup jauh.

Naruto mengangguk.

"Begini saja, bagaimana kalau kau aku antar pulang. Aku ada bawa mobil." Itachi menunjuk mobilnya yang terparkir di depan swalayan.

Naruto melihat kearah mobil sedan yang ditunjuk Itachi. "Apa tidak apa-apa, aku tidak ingin merepotkanmu."

"Tidak apa-apa, aku tidak merasa direpotkan kok."

Sedikit ragu menerima tawaran Itachi, tapi kalau tidak diterima bisa-bisa ia sakit karena kedinginan di luar sini. "Um... baiklah kalau begitu."

"Kalau begitu ayo!"

Naruto dan Itachi berlari kecil menuju mobil, mereka pun segera masuk ke dalam mobil tersebut setelah sampai. Sedikit basah dirasakan Naruto pada bahu dan kepalanya yang terkena rintikan hujan. Tak lama kemudian sebuah handuk kecil terlempar kearahnya.

"Pakai handuk itu untuk mengeringkanmu." ucap Itachi sang pelaku pelemparan handuk.

Naruto menurut pada perkataan Itachi, ia menggosokkan handuk itu pada rambutnya yang basah. Mesin mobilpun menyala dan ban mobil berputar menyusuri jalan beraspal yang basah. Naruto yang sudah merasa cukup kering akhirnya meletakkan handuk itu di jok belakang.

"Aku benar-benar berhutang budi padamu, mungkin lain kali aku harus mentraktirmu makan untuk membalasnya." ucap Naruto.

Itachi tertawa kecil. "Kau tidak perlu seperti itu Naruto."

"Tapi aku sungguh-sungguh!" nada tegas dikeluarkan.

Itachi hanya tersenyum kecil. "Ya baiklah, terserah kau saja." ia terdiam sebentar, "Tapi kalau tidak salah besok lusa aku luang, bagaimana kalau kau menemaniku jalan-jalan saja?" tawarnya.

Naruto menimbang-nimbang, "Kurasa aku bisa, lagipula aku juga sedang libur jadi tidak ada kerjaan."

"Kalau begitu mana handphonemu, akan aku berikan nomor teleponku supaya aku bisa memberitahumu kapan dan dimana tempatnya nanti."

Naruto mengambil handphonenya dan menyerahkannya pada Itachi. Salah satu tangan putih itupun segera bergerak menekan angka-angka yang ada pada handphone tersebut lalu melakukan panggilan dinomor yang ia ketik. Handphonepun dikembalikan kepada si pemilik setelah selesai menyimpan nomornya.

Perjalananpun berlanjut dengan perbincangan ringan yang dilakukan Naruto dan Itachi.

.

.

.

"Kita sudah sampai." ucap Itachi setelah memberhentikan mobil sedannya tepat di depan rumah bercat putih gading.

"Ah, ternyata sudah sampai." Naruto membuka pintu mobil dan keluar. Hujan sudah tidak sederas tadi, yang ada hanya rintik-rintik kecil yang tersisa. " Apa kau mau mampir dulu?" tanya Naruto.

"Tidak usah, kurasa lain kali saja." tolak Itachi.

"Baiklah, kalau begitu hati-hati dijalan dan terima kasih sudah bersedia mengantarku pulang."

"Hn, sama-sama. Sampai jumpa lusa depan!"

"Ya!" Naruto melambaikan tangannya.

Mobil sedan itu kembali berjalan, menjauh dari rumah tersebut. Setelah mobil itu tidak terlihat lagi Naruto pun berjalan masuk ke rumahnya. Tapi saat akan meraih daun pintu tiba-tiba muncul pemikiran yang janggal.

"Rasanya aku tadi belum memberitahukan alamat rumahku pada Itachi, tapi kenapa dia bisa tahu aku tinggal di sini?" angin kembali menerpa tubuh Naruto, membuat si pirang menggigil dan malas memikirkan jawaban dari pertanyaannya tersebut. "Ah sudahlah. Di luar dingin sekali, lebih baik aku masuk saja."

Haah... Naruto seandainya saja kau tahu kalau dia mengirim orang untuk menguntitmu.

.

.

.

TBC

.

.

.

Balasan Review!

Vincent Aresh : Ahahaha... iya Itachi Itu. Makasih reviewnya!

Yamito chan : Iya aku aku juga do'a in supaya Sasu-Teme itu dapat karma, Amin! Makasih reviewnya!

Aiko Vallery : Iya! Makasih reviewnya!

Kuma Akaryuu : Wah, suka ya, makasih! Dan makasih reviewnya!

Mimi : Endingnya ItaNaru? Errr... kayaknya enggak deh maaf ya. Tapi makasih reviewnya!

RisaSano : Iya semoga saja kayak itu, Amin! Makasih reviewnya!

Sibohae : Salam kenal juga! iya aku nggak marah kok, lagipula aku juga nggak wajib in buat review fic ini. Akan aku usahain buat Sasu-Teme menderita nantinya, tapi kayaknya masih lama deh. Makasih reviewnya!

Dahlia Lyana Paveli : Kayaknya aku masih tetap sama keputusan awal deh untuk endingnya maaf ya. Makasih reviewnya!

Yuki akibaru : Kalau masalah Naru-Chan jadian ama Itachi aku masih belum tahu nih. Makasih reviewnya!

Rheafica : Iya, sama-sama! Makasih reviewnya!

Xhavier rivanea huges : kalau cemburu sih mungkin nanti-nanti aja deh, pertama-tama sih aku pengen buat Sasu-Teme nyesel dulu, tapi itu masih rencana kok. Makasih reviewnya!

Guest 1 : Heee... jadi yang kemarin kurang panjang ya? Padahalkan udah nyampe 4K word lebih, aku usahain supaya lebih panjang lagi. Makasih reviewnya!

Guest 2 : Maaf lama ya! Akan aku usahain deh. Makasih reviewnya!

Akhirnya selesai juga balas review. Maaf lama update, abis banyak masalah beberapa minggu ini dari kehilangan mood nulis, mata kiri aku sempat kabur yang untungnya bisa sembuh, hp rusak, lalu UAS, habis itu kena flu dan pas makan obat, obatnya nyangkut ditenggorokan pula. Benar-benar menyiksa banget deh akhir-akhir ini. Ahahaha... maaf ya jadi curhat. Ngomong-ngomong kalau chap ini kurang memuaskan aku minta maaf, aku usahain supaya yang kedepannya lebih baik. Walaupun aku nggak yakin sih. Ya sudah aku ucapkan terima kasih untuk semua yang udah fav, follow, review, maupun yang udah baca fic ini.

Sampai jumpa chap berikutnya!