Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n ItaNaru
Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).
Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, OOC, AU, typo(s), Author newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.
Don't Like Don't Read! Happy reading, mohon reviewnya!
.
.
.
Menunggu merupakan kegiatan yang paling membosankan dan menyebalkan bagi semua orang, apalagi kalau harus menunggu dengan waktu yang cukup lama. Dan Naruto termasuk dalam jajaran orang yang sangat tidak suka menunggu. Tadi malam Itachi menelponnya dan menagih perkataan Naruto yang akan menemaninya jalan-jalan. Dan karena alasan itu ia kini berada di sebuah halte pemberhentian bus, duduk tanpa melakukan apapun sejak lima belas menit lalu.
Tunggu, lima belas menit? Apakah menurutmu lima belas menit waktu yang cukup lama? Ah, mungkin menurutmu itu waktu yang tidak terlalu lama, tapi mungkin itu akan berbeda kalau Naruto yang berpendapat. Sungguh lima belas menit yang membosankan.
Sepasang manik safir bergerak memperhatikan kendaraan-kendaraan serta orang-orang yang berlalu-lalang di depannya. Hembusan nafas lelah keluar dari celah kedua bibir. Kaki dengan sepatu sport putih dihentak-hentakkan pada lantai halte yang kini ditempatinya, menimbulkan suara yang mungkin bisa menghilangkan kebosanannya.
"Hhhh... kenapa dia lama sekali." gerutuan kecil keluar dari celah bibir Naruto.
Mengenai kenapa Itachi belum sampai sekarang di tempat ini kurasa itu tidaklah mengherankan, Naruto sampai lebih dulu sebelum waktu pertemuan dan sekarang masih tersisa tiga menit sebelum waktu yang dijanjikan.
Naruto berdiri, ia merasa bokongnya benar-benar panas karena harus duduk terus sejak berada dalam bus. Ia meregangkan sedikit tubuhnya yang terasa pegal karena duduk cukup lama dan kemudian merapikan jaket merah berhoddie miliknya. Kepala bersurai pirang ditolehkan kekanan dan kekiri, mencari lagi sosok dengan rambut raven yang mungkin saja akan muncul diantara orang-orang yang berlalu-lalang.
Tak lama kemudian manik safirnya melihat sosok tersebut berjalan diantara pejalan kaki. Salah satu tangan terbalut kulit tan diangkat dan mulutpun menyerukan sebuah panggilan, memberitahukan posisinya pada sang raven di depan sana.
Itachi yang mendengar panggilan Naruto segera berlari kecil menuju si pirang. Sebuah senyum kecil terulas dibibirnya ketika melihat penampilan si pirang yang sangat menawan dengan balutan jaket hoddie berwarna merah, celana jeans hitam, dan sepatu sport berwarna putih.
"Naruto, kau sudah lama menunggu?" tanya Itachi.
"Yah, bisa dibilang seperti itu." Ekspresi datar terpampang jelas di wajah pria berkulit tan itu. Menunjukkan pada pria di depannya kalau dia menunggu cukup lama hingga membuatnya bosan akut.
Itachi terkekeh kecil mendapati ekspresi Naruto yang seperti itu. "Oh ayolah, lagipula itu bukan salahku. Kau saja yang datang terlalu cepat, aku bahkan tadi tiba masih tepat waktu." berdalih tidak ingin disalahkan.
Hanya gerutuan tidak jelas Naruto yang menjadi balasan akan perkataan Itachi. Sepertinya dia tidak suka dijadikan kambing hitam. Yah, walaupun sebenarnya memang Narutolah yang salah.
"Sudahlah, daripada kita terus berdiri di sini lebih baik kita segera pergi!" lanjut Itachi.
Naruto menurut. Merekapun pergi meninggalkan halte bus tersebut.
Itachi berjalan dengan terus menghadap ke depan memperhatikan jalan, sedangkan Naruto sejak pergi dari halte bus terus memperhatikan penampilan Itachi. Diperhatiankannya penampilan Itachi dari atas sampai bawah. Dari kaos putih polos yang dilapisi blazer biru dongker terpasang di badan tegapnya, lalu kemudian celana jeans hitam dan sepasang sepatu sneakers hitam dengan sedikit corak biru melekat pada kedua buah kakinya.
Tatapan takjub dari sepasang manik safir terarah pada Itachi.
"Itachi, kau sungguh sangat keren." ucap Naruto memuji penampilan Itachi.
Itachi segera mengalihkan pandangannya pada Naruto, menatap dengan salah satu alis yang terangkat. "Hm, benarkah? Apa aku sekeren itu." jari telunjuk dan jempol di tangan kananpun mengamit dagu, "Tapi kurasa ucapanmu itu memang benar, aku ini memang keren dan bahkan mungkin selalu keren." ucap Itachi dengan narsisnya.
Naruto yang mendengar kalimat narsis yang diucapkan Itachi hanya bisa melemparkan pandangan aneh pada sosok raven disampingnya. "Tch, dasar manusia narsis! Aku tarik ucapanku tadi, kau sama sekali tidak keren!" seru Naruto.
"Eits, tapi kau sudah mengatakannya Naruto. Dan itu tidak akan mengubah fakta kalau aku memang keren."
"Terserah, dasar menyebalkan!" Naruto mempercepat langkahnya, ia berjalan di depan Itachi. Namun tak lama kemudian jalannya pun melambat.
"Itachi, sebenarnya kita akan kemana?" posisinya masih di depan, namun kepala sedikit ia tolehkan ke belakang.
Itachi tersenyum kecil. "Kau nanti juga akan tahu, lagipula sebentar lagi kita akan sampai. Ayo!" Itachi mengamit salah satu tangan Naruto dan menariknya. Mereka berlari kecil sejauh beberapa meter lalu kemudian berhenti setelah mereka berbelok kekanan.
"Whoaaa...!" Naruto berseru, manatap penuh binar setelah melihat tempat di depannya.
Sebuah district perbelanjaan yang sangat ramai terpampang di hadapan keduanya. Aneka macam toko berjajar dengan rapi sepanjang kanan kiri jalan di district itu, dari toko pakaian, mainan, bunga, kue, dan bukupun ada di sana. Di atas jalanpun tergantung lampion-lampion kecil berwarna merah, yang mana tali untuk mengantung lampion itu terhubung dari satu toko ke toko yang lain sehingga membentuk sebuah jalur berbentuk zigzag.
"Aku tidak tahu kalau ada tempat seperti ini di daerah ini." kata Naruto masih sambil memandang kearah toko-toko yang berjejeran di depannya.
"Tentu saja kau tidak tahu, tempat ini baru dibuka sejak satu setengah tahun lalu." jelas Itachi.
"Oh, begitu." jawab Naruto seadanya.
"Ayo!" ajak Itachi.
"Baik!" Naruto menjawab dengan semangat.
Naruto dan Itachi berjalan memasuki area district. Sepasang mata safir mengamati toko-toko disekitarnya.
Sebuah tempat yang berbeda dengan tempat yang Naruto kenal dulu, setahu Naruto tempat ini dulu hanyalah kawasan yang kumuh dan sepi bahkan bangunannya pun banyak dipenuhi dengan coretan-coretan di dindingnya. Tapi sekarang tempat ini telah berubah menjadi ramai dan terlihat lebih menarik dengan hiasan-hiasan yang menemani. Sepertinya pemerintah melakukan tugasnya dengan baik.
Manik safir beralih memandang lampion-lampion kecil yang bergantungan di atas sana. Sayang dia tidak datang pada malam hari, lampion-lampion itu pasti menyala dan terlihat cantik pada waktu itu. Mungkin lain kali ia akan mengunjungi tempat ini lagi pada malam hari. Pandangan kembali diarahkan ke depan. Manik safir Naruto tanpa sengaja melihat sebuah toko es krim di depan.
"Wah, es krim! Itachi aku ingin ke sana dulu, aku sedang ingin sesuatu yang dingin. Apa kau mau juga?" kata Naruto sambil menunjuk toko es krim di depan sana.
Si raven memandang kearah yang ditunjuk Naruto "Hmm... kurasa tidak ada salahnya juga aku membelinya. Baiklah, ayo!" mereka pun akhirnya memutuskan ke toko es krim tersebut.
Es krim telah berada di tangan masing-masing, Naruto dan Itachi kembali berjalan diantara orang-orang yang berlalu-lalang.
"Hey, Itachi!" panggil si pirang.
"Hn?" balas Itachi. Potongan cone es krim terakhir dilahap. Telapak tangan ditepuk-tepuk menghilangkan remah-remah yang menempel.
"Kau ke sini apa hanya karena ingin jalan-jalan saja?" es krim dengan rasa vanilla di tangannya dijilat.
"Sebenarnya tidak juga, ada yang ingin kucari di sini."
"Hm, memang apa?" Naruto memandang penuh tanya. Es krim yang masih tersisa dihabiskan.
"Entahlah, aku tidak tahu."
Jawaban Itachi membuat Naruto ternganga. "Hah, Apa?! Kau tidak tahu?!" ulang Naruto, nada suaranya sedikit meninggi menandakan kalau ia kaget dengan pernyataan Itachi.
Itachi mengangguk.
Cengo untuk sesaat, namun kemudian menghela nafas lama setelahnya telapak tangan kanan terangkat menepuk dahinya sendiri. "Kalau begitu tidak ada gunanya ada di sini sekarang kalau kau tidak tahu apa yang kau cari." lanjut Naruto.
Sepasang onyx memandang pria pirang di sampingnya. "Haah... sebenarnya kedua orang tua ku akan mengadakan perayaan kecil-kecilan untuk memperingati hari pernikahan mereka berdua malam ini. Dan aku tidak tahu kado apa lagi yang harus aku berikan pada mereka. Itu sebabnya aku datang ke sini, mungkin kalau aku melihat benda-benda yang dijual disini aku bisa tahu apa yang akan kuberikan nanti."
"Hmm... jadi begitu," saraf-saraf otak di kepala si pirang digerakkan untuk memikirkan sesuatu. "bagaimana kalau kau ke toserba saja dulu, kau mungkin bisa menemukan sesuatu disana." usul Naruto.
Si raven menimbang-nimbang sebentar. "Hn, baiklah. Kita coba kesana."
Dua pasang kaki berjalankan sejauh lima belas meter dan akhirnya manik berbeda warna mereka menemukan sebuah toko toserba dengan cat berwarna biru di deretan toko sebelah kanan. Pintu kaca toko dibuka oleh Itachi, tanpa basa-basi lagi ia segera melihat barang-barang yang berada dalam toko tersebut.
Naruto yang ditinggal Itachi pergi mengelilingi toko hanya memilih menunggu di dekat pintu yang baru mereka lewati sambil melihat-lihat benda-benda seperti jam tangan, kalung, gelang, cincin, dan anting yang terpajang di etalase toko.
Tak lama kemudian Itachi kembali, auranya terasa suram dan raut wajahnya terlihat murung.
"Bagaimana?" tanya Naruto.
Itachi menghela nafas.
"Aku sama sekali tidak tahu harus memilih apa. Barang-barang di sini terlalu banyak, sampai-sampai membuatku pusing dan bingung." kembali helaan nafas dikeluarkan. "Lalu bagaimana denganmu, apa menurutmu ada benda yang bagus untukku hadiahkan nanti?"
Naruto berpikir sebentar, ia kemudian melangkah menuju rak yang menempel di dinding dan melihat benda-benda yang berjejer pada rak tersebut. Tanpa sengaja safir Naruto melihat jejeran music box pada rak urutan ketiga dari bawah. Sebuah music box berwarna coklat dengan ukiran piano kecil di dalamnya menarik atensi Naruto.
Pandangan mata meredup, Naruto menatap sendu pada music box tersebut. Tangan di samping tubuhnya mengepal erat, mencoba mengabaikan sesuatu yang berdenyut sakit di dalam rongga dadanya dan membuatnya ingin mengeluarkan cairan bening dari matanya.
Kepala bermahkotakan surai pirang menggelengkan pelan dan kembali melihat jajaran benda di rak lainnya, memilih mengabaikan music box tersebut. Ia berbalik, menghadap pada Itachi yang sebelumnya berdiri beberapa meter di belakangnya. Pandangan tanyapun dilayangkan Itachi.
"Aku tidak tahu." jawab Naruto pasrah sambil menggendikan bahu.
Itachi menghela nafas lelah dan menunjukkan raut kecewa. "Begitu."
Sepasang safir memandang tidak tega melihat raut kecewa Itachi, ia kembali melihat jejeran music box di rak. Bibir bagian bawah digigit dan kemudian menghela nafas.
"Tapi... kalau kau mau, kau bisa menghadiahkan music box yang ada di sana pada orang tuamu." ucap Naruto sambil terus memandangi benda-benda yang dapat mengeluarkan suara tersebut.
Itachi melirik mengikuti arah pandangan Naruto.
"Apa kau yakin mereka akan menyukainya?" tanya Itachi ragu.
"Untuk itu aku tidak yakin apakah orang tuamu akan suka, tapi dulu aku pernah menyarankan seseorang untuk menghadiahkan benda itu untuk orang tuanya, dan kedua orang tuanya menyukai hadiah tersebut." jelas Naruto. Raut wajahnya nampak terlihat sedih dan sayangnya Itachi tidak dapat melihat ekspresi tersebut karena asyik melihat deretan-deretan music box.
"Baiklah, kalau itu menurutmu. Kurasa aku akan memilih ini untuk di hadiahkan. Tapi yang mana harus kuambil? Di sini ada banyak music box."
Itachi kembali melihat-lihat, mata onyxnya tiba-tiba mendapati sebuah music box coklat dengan ukiran piano kecil di dalam music box tersebut. Tangannya pun terangkat untuk mengambil music box tersebut.
"Kurasa aku akan mengambil yang ini saja." tangannya yang memegang music boxpun terarah untuk menunjukkannya pada Naruto. "Bagaimana menurutmu?" tanyanya.
Naruto segera merubah ekspresi wajahnya menjadi biasa ketika Itachi menghadap kearahnya. Mata safirnya menatap lama benda di tangan Itachi.
"Bagus." komentarnya singkat dan mencoba berusaha tersenyum.
"Kalau begitu aku akan mengantarnya ke kasir dulu." Itachi segera pergi menuju kasir membayar benda tersebut dan membungkus benda itu dengan kertas kado.
.
.
.
"Haah... kemana Itachi, ya?" gumam Naruto. Ia terus berjalan sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok Itachi.
Sebenarnya Naruto baru saja terpisah dengan Itachi beberapa belas menit lalu. Ia dan Itachi yang saat itu sedang berjalan sambil berdesak-desakkan dengan orang-orangpun terdorong kesana-kemari dan berakhir dimana ia terbawa arus orang-orang yang berjalan kaki dan terpisah dengan Itachi.
"Ck, kenapa orang itu susah dicari sih!" Naruto mendengus sebal. Kepalanya menunduk dan kakinyapun sudah berjalan dengan sangat pelan. Panas dari matahari di atas sana benar-benar sudah menguras cukup banyak tenaganya.
Tanpa Naruto sadari di depannya ada seorang pria yang berdiri sambil mengobrol dengan seorang temannya.
Bruk!
Tabrakanpun terjadi antara pria tersebut dengan Naruto.
"Ittai..." ringis Naruto sambil memegang dahinya yang berbenturan dengan bahu tegap pria itu.
Naruto mengangkat kepalanya dan melihat sosok yang baru ditabraknya. Matanya melotot dan ia pun meneguk ludah.
'Habislah aku!' batin Naruto ketakutan karena melihat penampilan pria di depannya.
Dua sosok pria berbadan besar dengan pakaian jaket kulit hitam serta celana yang sobek di sana-sini terpampang dihadapan Naruto. Wajah mereka penuh dengan piercing, membuat mereka terlihat mengerikan layaknya preman-preman.
"Hei, kau sengaja ya melakukannya!" ucap pria yang Naruto tabrak. Pria itupun melangkah mendekati Naruto bersama dengan seorang temannya. Wajahnya terlihat marah karena ia mengira Naruto tadi sengaja menabraknya.
Naruto yang merasa alarm bahaya di otaknya berbunyi segera bergerak mundur.
"Ma-maaf, tadi a-aku benar-benar ti-tidak sengaja." nada suaranya terdengar gemetar. Kakinya terus melangkah mundur ke belakang secara perlahan.
"Sudahlah, pasti dia bohong. Lebih baik kita beri pelajaran dia sekarang!" kata teman dari pria itu.
'Huaaa... bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan!' batin Naruto berteriak panik. 'Apa aku lari saja. Hei, tapikan aku laki-laki masa harus lari, seharusnya aku lawan mereka. Ah ya benar, aku lawan saja mereka.' lanjutnya kemudian.
Naruto berhenti melangkah mundur, berniat untuk melawan dua pria berbadan besar di depannya. Tubuh mulai digerakkan untuk memasang kuda-kuda.
Sreet!
'eh?'
Belum sempat memasang kuda-kuda dengan benar tangan Naruto sudah ditarik lebih dulu oleh sebuah tangan berkulit putih dan diseret berlari.
Naruto masih terdiam, ia terpaku akan kejadian barusan yang berlangsung secara cepat. Safirnya memandang tangan yang baru saja menariknya. Sepertinya ia mengenal tangan ini. Pandangan kemudian beralih untuk melihat wajah sang pelaku.
"Itachi!" pekik Naruto.
Itachi terus menyeret Naruto berlari tanpa berniat membalas.
"Hei, Itachi kenapa kau membawaku berlari, aku kan ingin melawan mereka."
Itachi yang mendengar kalimat Naruto itupun segera menoleh ke belakang, masih sambil menyeret Naruto berlari. Sepasang onyx mengobservasi tubuh Naruto dari atas sampai bawah. Tawa kecil keluar dari pria bersurai raven setelah mengamati objeknya.
Sang objek yang diamati memandang heran pada laki-laki yang menariknya
"Tubuh seperti itu ingin kau bawa berkelahi untuk melawan dua pria besar di belakang sana? Kau pasti bercanda." ejek Itachi.
Sepasang mata safir mendelik. "Hei, kau menghinaku ya!" raut wajah berubah kesal mendengar penuturan Itachi. Memangnya apa yang salah dari tubuhnya, toh tubuhnya juga tidak terlalu beda jauh dengan tubuh pria pada umumnya. Yah... mungkin pengecualian untuk otot-otot tubuhnya yang tidak menonjol sama sekali. Berbeda jauh dengan dua pria tadi yang memiliki otot-otot besar dibalik baju yang mereka kenakan. Naruto bergidik ngeri membayangkan otot-otot itu digunakan untuk menghajarnya. Mungkin perkataan Itachi tadi ada benarnya juga.
"Hahaha... sudahlah, lebih baik kita berlari saja daripada harus babak belur."
"Baiklah..." dengan raut wajah pasrah dan cemberut ia meng-iyakan. "Ngomong-ngomong, terima kasih karena sudah menolongku." gumam Naruto pelan.
Itachi yang mendengar gumaman Naruto membalas dan tersenyum kecil. "Sama-sama."
Dua preman yang sebelumnya tercengang dengan kejadian tiba-tiba tadi segera tersadar dan saat mengetahui mangsanya kabur salah satunya segera berteriak. "HEI, JANGAN KABUR KAU!" merekapun berlari mengejar sosok Naruto dan Itachi yang sudah berlari jauh.
.
.
.
"Hah... hah... hah... akhirnya kita bisa kabur juga." keringat pada dahi berkulit tan diseka menggunakan tangan. Paru-paru di balik dada terus bergerak untuk mengambil pasokan udara lebih banyak.
"Hah... hah... tadi itu hah... benar-benar menegangkan," Itachi menumpukan kedua tangannya pada lutut, dadanya bergerak naik turun seirama dengan tarikan dan hembusan nafasnya. "tapi tadi juga menyenangkan hah... hah..." raut senang terlihat diantara lelah dan penat yang ia rasakan.
Naruto memandang Itachi heran , namun kemudian ia tersenyum lebar ketika mengetahui alasan pria itu mengatakan kalau tadi menyenangkan. "Kau benar."
Saat dua pria yang mengejar Itachi dan Naruto hampir menangkap mereka, Itachi dan Naruto selalu bisa berhasil kabur. Dan klimaksnya adalah saat mereka melewati jalan yang sedikit ramai, dua pria itu tanpa sengaja menabrak seorang nenek yang sedang berjalan yang mengakibatkan nenek itu jatuh terduduk dan dua pria itu mendapat omelan dari orang-orang sekitar karena mereka malah tidak membantu nenek itu untuk berdiri. Naruto dan Itachi yang melihat kedua pria itu sedang disibukkan oleh beberapa orang segera mengambil kesempatan itu untuk lari.
"Ngomong-ngomong aku haus, bagaimana kalau kita mencari tempat beristirahat?" usul si raven.
"Baiklah."
Naruto dan Itachi mencari tempat Istirahat terdekat, dan mereka sungguh beruntung, tidak jauh dari mereka, kira-kira 8 meter di depan sana terdapat sebuah cafe. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk pergi ke cafe itu saja.
Pintu cafe di buka, pandangan mengedar kesegala penjuru mencari tempat yang nyaman untuk duduk. Pilihanpun jatuh pada meja dekat dengan dinding kaca yang menampilkan pemandangan di luar cafe. Naruto dan Itachi menempati meja tersebut. Tak lama setelah duduk di kursi seorang pelayan datang menawarkan pesanan.
Sebuah puding coklat serta ice cappucino menjadi pilihan Itachi, sedangkan Naruto memilih memesan sebuah blueberry cheese cake dan ice lemon soda.
Pelayan segera pergi menyampaikan pesanan dari sang pelanggan. Setelah beberapa menit pelayan lain datang mengantarkan pesanan Itachi dan Naruto.
Sepasang safir menatap dengan mata berbinar makanan dan minuman yang tersaji di depannya. Tanpa membuang waktu ia segera meminum terlebih dahulu lemon sodanya. Rasa dingin menjalar seketika ketika minuman itu melewati kerongkongannya. Rasa haus karena berlari tadi juga ikut sirna bersamaan dengan air yang masuk ke dalam tubuh si pirang.
Setelah selesai dengan minumannya si pirang kemudian beralih kepada kue di depannya. Satu potongan disendok dan dimakan. Sempat terdiam sesaat, namun tak lama kemudian ekspresi senang terlihat. Kuepun kembali disendok namun dengan potongan yang lebih besar dari tadi, dilahapnya potongan tersebut masih dengan ekspresi senang.
Berbeda dengan si pirang yang makan dengan berekspresi, pria raven satu ini memakan makanannya dengan tenang dan elegan persis seperti anak bangsawan. Beberapa gadis bahkan sempat mencuri-curi pandang pada sosok raven itu karena kagum akan ketampanan dan sikap seperti orang terhormat yang tercermin dari cara makannya.
Itachi menghentikan makannya menikmati puding dan melihat kearah Naruto yang dengan lahap memakan kuenya sampai-sampai tidak menyadari ada sisa selai blueberry di dekat bibirnya. Tangan putih pria itu berinisiatif mengambil tissue di meja dan mengarahkan tissue tersebut untuk mengelap sisa selai di dekat bibir Naruto.
Naruto yang mengetahui ada benda yang mengarah pada wajahnya refleks memundurkan kepala. Matanya memandang heran pada Itachi.
"Aku hanya ingin mengelap sisa selai di dekat bibirmu." jawab Itachi ketika mendapat pandangan heran dari Naruto.
"Ka-kau tidak perlu melakukannya , biar aku saja."
Naruto segera mengambil tissue yang berada di tangan Itachi dengan gugup dan menggunakannya untuk mengelap mulutnya sendiri.
Merasa kalau mulutnya sudah bersih, ia meletakkan tissue bekas itu. "Eum... Itachi, aku mau ke tolet dulu." ucap Naruto.
"Hn."
Naruto beranjak dari kursinya dan menuju toilet yang disediakan cafe tersebut.
Setelah si pirang pergi, Itachi meminum cappucinonya. Baru sampai di pangkal kerongkongan cairan itu masuk, sebuah gelombang suara yang keluar dari mulut seseorang melesak masuk ke dalam gendang telinga sang Uchiha sulung.
"Itachi!"
Respon yang diberikan Itachi selanjutnya hanyalah suara batuk-batuk, terkejut akan suara tiba-tiba itu hingga membuat ia tersedak minumannya sendiri.
"Uhuk... uhuk Sasuke uhuk...? Apa yang kau lakukan di sini uhuk...?"
Sasuke, pelaku yang membuat Itachi tersedak hanya menatap datar kakaknya yang berusaha meredakan batuk, tidak berniat untuk menjawab sama sekali. Onyx yang identik dengan kakaknya itu menangkap sebuah objek bingkisan tepat di samping tempat duduk Itachi.
"Kau sepertinya sudah mendapatkan hadiahnya." ucap Sasuke dengan sepasang mata yang terus melihat pada bingkisan.
Itachi yang sudah bisa meredakan batuknya dan mengetahui arah pandangan adiknya membalas. "Ya. Kau sendiri, apa sudah mendapatkannya?"
"Belum, justru aku sekarang sedang mencarinya."
Manik kelam Sasuke kemudian melihat dua buah minuman tergeletak di atas meja. Kedua alisnya menukik, memandang heran pada kedua gelas di sana.
"Kau dengan seseorang?" tanyanya.
"Hn, dia sedang ada di toilet sekarang ." Itachi menjeda sebentar. Ia memperhatikan adiknya yang sedari tadi terus berdiri di samping mejanya. "Kau tidak ingin ikut bergabung di sini?"
"Kurasa tidak. Aku masih harus mencari kado untuk Tou-sama dan Kaa-sama, lagipula sakura juga sedang menungguku di luar sekarang. Aku pergi dulu."
"Hn, semoga kau mendapatkan kadonya."
Adik dari Itachi itupun kemudian melangkah pergi dan berjalan menuju pintu keluar.
Di sisi lain, Naruto baru saja kembali dari toilet dan mendengar suara bel lonceng yang dipasang di pintu berbunyi, namun saat ia melihat kearah pintu tidak ada seorangpun di sana. Mungkin ada pengunjung yang baru keluar, begitulah pikirnya.
Pria berkulit tan itu berjalan menuju mejanya, yang mana ditempat itu Itachi sedang meminum cappucinonya sambil memperhatikan pemandangan di luar sana dari balik jendela. Ia mendengus geli ketika mengedarkan pandangannya keseluruh area cafe dan mengetahui banyaknya gadis di dalam cafe yang melirik-lirik dan berbisik-bisik dengan teman sebangkunya sambil terus menatap kagum kearah Itachi.
Haah... sepertinya ia berteman dengan sesosok orang yang penuh dengan pesona—lagi.
.
.
.
Langkah kaki melangkah asal di jalan beraspal district perbelanjaan. Tangan putih ditarik paksa oleh sosok bersurai merah jambu di depannya, membuat pria dengan sepasang manik sekelam malam ini hanya bisa bertampang pasrah diseret kesana-kemari sedari tadi.
"Sasuke –kun, kita kesana saja, ya?" jari telunjuk berkulit putih terarah pada suatu tempat di depan sana.
Sepasang onyx melirik objek yang ditunjuk. Sebuah bangunan toko dengan cat berwarna biru dan terletak di samping toko kue. Dari jendela kaca besar toko tersebut dapat terlihat dari luar benda-benda yang terpajang di dalam sana. Bisa dibilang itu merupakan toko toserba, toko yang sama dengan Naruto dan Itachi kunjungi sebelumnya.
"Hn." Hanya gumaman yang menjadi jawaban dari pria raven untuk wanita yang menyeretnya.
Tangan ditarik lagi setelah mendapatkan jawaban serupa gumaman dari pria raven, membuat pria itu kembali terseret-seret untuk kesekian kalinya.
Pintu dibuka. Mata emerald si wanita menatap penuh binar benda-benda di dalam toko. Pegangan pada si raven di lepas dan kemudian melangkah menuju etalase toko yang memajang berbagai perhiasan cantik. Manik emeraldnya menatap penuh minat pada benda yang tergeletak di dalam sana.
Selagi sang wanita melihat-lihat ke dalam etalase, si raven memilih berjalan-jalan diantara rak-rak tinggi yang memajang berbagai barang. Matanya beralih dari satu rak ke rak yang lain secara bergiliran.
Sekelompok benda yang terpajang pada rak yang menempel pada dinding menarik atensi pria raven. Music box, itulah jenis benda yang terpajang di rak sana.
Sepasang kaki dibawa melangkah mendekati rak yang memajang music box itu. Memandang dengan ekspresi datar pada benda bersuara merdu di depannya. Tidak ada yang bisa menebak apa yang dirasakannya sekarang, bahkan walaupun melihat masuk ke dalam sepasang manik sekelam malam miliknya.
"Sasuke-kun!"
Seruan dengan suara wanita itu kembali menarik perhatiannya. Ia melangkah menuju Sakura yang masih berdiri di dekat etalase.
"Sasuke-kun, bagaimana kalau kau hadiahkan gelang itu untuk Okaa-san mu dan jam tangan itu untuk Otou-san mu?"
Sasuke sebenarnya ragu untuk menjawab setuju, karena dia tahu ayah dan ibunya pasti sudah memiliki banyak benda seperti itu di rumah. Tapi kalau dia tidak mengambil itu ia tidak tahu lagi harus memberikan hadiah apa untuk orang tuanya. Mungkin tidak ada salahnya juga kalau ia memberikan benda itu sebagai hadiah, toh dia juga sudah tidak memiliki ide untuk memberikan benda apa lagi.
"Baiklah, kurasa itu boleh juga."
Sasuke memilih-milih benda mana yang paling bagus diantara semua gelang dan jam tangan yang terpajang di etalase, setelah menemukannya ia segera meminta pelayan untuk membungkus dua barang yang ingin dibelinya itu. Sembari menunggu barangnya selesai dibungkus onyx Sasuke memandang kearah Sakura yang menatap penuh minat pada sebuah kalung dengan liontin merah.
"Kau menginginkannya? Aku bisa membelikanmu kalau kau mau." tanya Sasuke.
Wanita dengan surai merah jambu mengalihkan pandangannya pada Sasuke. Ia menatap dengan penuh binar pada sosok pria itu. "Benarkah?"
"Hn."
"Arigatou, Sasuke-kun!" wanita pemilik manik emerald itu segera menubruk pria revan di dekatnya dengan sebuah pelukkan hangat, membuat pria raven itu oleng untuk sesaat karena gerakan yang tiba-tiba.
.
.
.
Malam ini semua maid dan butler di mansion Uchiha berkumpul dalam satu ruangan, menyaksian majikan mereka meniup kue ulang tahun pernikahan mereka. Tidak ada tamu undangan satupun di acara itu, hanya keluarga dan para pelayanlah yang menjadi saksi perayaan ulang tahun pernikahan sepasang Uchiha itu.
Tepuk tangan riuh dan ucapan selamat terlontar dari para maid dan butler. Senyum terpatri dalam wajah pasangan itu, merasa bangga akan umur pernikahan mereka yang terbilang sudah cukup tua dan masih bertahan sampai sekarang tanpa ada perpisahan sedikitpun. Sungguh cinta yang kuat, sekuat ombak yang menghantam tebing yang menghalangi di bibir pantai.
Putra bungsu pasangan Uchiha mendekat , memberikan kado yang dibelinya tadi siang kepada kedua orang tuanya yang menghasilkan sebuah pelukkan dari sang ibunda tercinta yang telah membuka kado pemberian dari Sasuke dan sebuah ucapan terima kasih bernada datar dari sang ayahanda.
Setelah giliran si bungsu, kini giliran si sulung yang memberikan kado miliknya.
"Tou-sama, Kaa-sama, ini adalah hadiah dariku." tangannya menyerahkan kado yang sejak tadi dipegangnya pada sang ibunda. "Maaf kalau hanya satu, tidak seperti Sasuke. Aku tidak tahu harus memberikan apalagi selain ini."
Mikoto tersenyum kecil mendengar perkataan anak sulungnya itu. "Kau tidak perlu minta maaf seperti itu. Asalkan kau ada di sini, ikut merayakannya bersama kami itu sudah lebih dari cukup. Bukankah begitu?" Mikoto memandang Fugaku di sebelahnya, meminta persetujuan akan perkataannya tadi dan hanya dibalas dengan gumaman singkat andalan suaminya.
"Kalau begitu boleh Kaa-sama buka kadonya sekarang?"
"Tentu saja."
Tangan wanita itu dengan lincah merobek kertas yang membungkus kotak, lalu kemudian membuka tutup kotak yang menghalangi. Senyum yang dari tadi terus terukir diparasnya kini makin melebar. Tangannya mencoba mengeluarkan benda dari dalam kotak.
"Sayang, lihatlah! Sebuah music box!" Mikoto menunjukkan hadiah Itachi pada suaminya.
Sepasang onyx Fugaku mengamati music box di tangan Mikoto. "Music box yang sama dengan yang pernah Sasuke berikan dulu." komentarnya.
"Kau benar. Bagaimana kalau kau taruh ini di ruang kerjamu, kau bisa mendengarkannya kalau kau sudah pusing dengan pekerjaanmu, lagipula di kamar juga sudah ada pemberian dari Sasuke dulu."
"Hn, kurasa itu bagus." Fugaku menjawab dengan singkat.
"Kau tidak keberatankan Itachi?" tanya Mikoto pada Itachi yang masih berdiri didekatnya.
"Itu tidak masalah untukku." Senyum terulas di wajah Itachi mengetahui orang tuanya menyukai hadiah pemberiannya.
Mikoto segera memeluk Itachi dan mengucapkan terima kasih.
Sasuke yang sedari tadi memperhatikan perbincangan kedua orang tuanya dan Itachi hanya bisa menatap aneh pada music box pemberian Itachi, setahunya kakaknya itu terlalu rasional hanya untuk menghadiahkan sebuah music box kepada orang tuanya. Sejak dulu ia pasti akan memberikan hadiah berupa barang mahal atau paling tidak sesuatu yang memang cocok untuk dihadiahkan pada orang tua.
Tapi sekarang kakaknya itu memberikan sesuatu yang berbeda pada orang tuanya, sesuatu yang tidak terlalu mahal dan entah apakah akan cocok untuk menjadi hadiah bagi para orang tua. Yah, walaupun orang tuanya sebenarnya suka dengan pemberian Itachi, tapi itu belum tentu berlaku kepada para orang tua lain, kan?
"Hei, ada apa denganmu, Sasuke?"
Lamunan Sasuke buyar ketika mendengar suara Itachi.
"Tidak ada apa-apa."
Bungsu Uchiha itu berjalan menjauhi. Ia menuju orang tuanya untuk berpamitan, berniat untuk pulang ke apartementnya sendiri.
Itachi yang ditinggal adiknya hanya memandang heran kearah perginya Sasuke, bingung akan ekspresi Sasuke yang memandang aneh pada hadiah pemberiannya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Balasan Review!
Yuki akibaru : Kalau untuk itu saat ini hanya Sasuke, Tuhan, dan Author dulu yang boleh tahu. #grin Dan untuk yang satu itu mungkin aja kali, habis sampe sekarang masih bingung gimana reaksinya nanti. Makasih reviewnya!
Fatan : Iya, pasti aku lakuin. Errr... tapi untuk pacaran... HUUAAA...AKU TIDAK TAHU! Makasih reviewnya!
Kuma Akaryuu : Iya, sama-sama! Untuk update cepet aku nggak berani jamin, abis semester ini dapat giliran magang, jadi mungkin agak susah untuk megang laptop lagi mungkin. Makasih reviewnya!
Jasmine DaisynoYuki : Hieee...! Um... gimana ya, aku ini orangnya keras kepala jadi susah untuk mengubah keputusan awal, kecuali kalau ada alasan kuat yang bisa membuat pahamku bergeser. Maaf ya! Untuk reaksinya Naru-Chan nanti masih cari-cari yang pas. Makasih reviewnya!
Aiko Vallery : Iya, itu sudah dilanjutin. Makasih reviewnya!
CocoCorn : Huaaa... maaf, maaf sebesar-besarnya! Aku ini orangnya susah mengubah keputusan awal. Ini sudah diupdate. Makasih reviewnya!
Justin cruellin : Haduh... aku benar-benar minta maaf! Habisnya kalau aku lakuin itu aku malah keinget sama ending Naruto yang benar-benar menohok hati (ketahuan masuk jajaran orang-orang yang gagal move on) hiks. Makasih reviewnya!
Allen491 : Iya, itu udah lanjut! Ngomong-ngomong apakah ini termasuk lama? Ah, mungkin iya kali. Makasih reviewnya!
Haah... nggak tahu harus bilang apa tentang chap ini sama yang kemarin. Menurutku penulisannya masih kurang, yah tapi akan aku coba supaya lebih baik lagi. Mungkin chap berikutnya agak lama karena besok akan memasuki masa sekolah lagi hiks... PADAHAL AKU MASIH INGIN LIBUR! Tapi sebagai murid yang baik #Plak (baik dengkul lo!) aku terpaksa harus ngurangin lama-lama di depan laptop. Ngomong-ngomong selamat tahun baru untuk semua! (telat woy!)
Terakhir aku ucapin terima kasih untuk semua yang sudah review, fav, follow, maupun yang telah membaca fic nista ini. Terima kasih banyak!
Sampai jumpa di chap selanjutnya!
