Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n ItaNaru
Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).
Warning : Boys Love/Sho-ai/Homo, OOC, AU, typo(s), Author newbei, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.
Don't Like Don't Read! Happy reading!
.
.
.
Angin pagi berhembus pelan, membelai tubuh dengan lembutnya. Daun-daun yang bergerak diterpa angin saling bergesekan menimbulkan suara yang menenangkan di hari yang cerah ini. Seorang wanita dengan beberapa kantong plastik belanjaan terlihat diantara para pejalan kaki yang berlalu-lalang di trotoar. Helaian rambut berwarna pinknya tertutupi oleh topi rajut yang saat ini dikenakannya. Beberapa kali ia memperbaiki letak kantong plastik yang ia pegang. Beratnya belanja bawaannya membuat tangannya agak sedikit pegal.
Terlalu fokus dengan belanjaannya, tanpa wanita itu sadari seseorang yang tengah terburu-buru mengejar bis berlari berlawanan arah dengannya dan menabraknya. Barang-barang di dalam kantong plastikpun berhamburan, sedangkan sang pelaku penabrakan hanya mengucapkan kata maaf singkat kemudian berlalu begitu saja.
"Ck, dasar tidak bertanggung jawab, dia malah pergi begitu saja." gerutuan pelan keluar dari mulut wanita dengan nama Sakura itu melihat tingkah pelaku penabrakan yang malah pergi tanpa membantunya sama sekali. Ia mulai memunguti barang belanjaannya yang berceceran di trotoar itu. Tanpa disangka-sangka seorang laki-laki membantunya memungut barang-barang.
"Ini belanjaanmu! Apa kau tidak apa-apa?" tanya laki-laki itu.
Sakura berdiri dari jongkoknya dan memperlihatkan rupanya pada laki-laki tersebut. Sepintas laki-laki itu terlihat terkejut melihat wajah Sakura.
"Ah ya, aku tidak apa-apa, terima kasih sudah membantuku." Sakura mempelihatkan senyum tipisnya.
"Sama-sama." laki-laki itu berbalik melanjutkan perjalanannya.
"Tunggu!" Sakura menahan tangan orang tersebut. "Sebagai rasa terima kasih karena telah membantuku aku ingin mentraktirmu. Bagaimana?"
"Ah, kurasa tidak perlu." dengan cepatnya ia menolak tawaran tersebut.
"Tidak baik loh menolak kebaikan orang lain." Sakura tetap memaksa.
Akhirnya dengan ragu laki-laki itu menjawab. "Ya, baiklah. Kurasa... tidak apa-apa."
Senyum Sakura melebar mendengar jawaban tersebut.
.
.
.
Hari ini sungguh hari yang sangat sial untuk Naruto. Awalnya ia hanya ingin berjalan-jalan di pagi akhir pekan ini, tapi saat sedang berjalan-jalan di jalur trotoar dia melihat seorang wanita yang sedang mengumpulkan barang belanjaannya yang berhamburan, hatinya pun entah kenapa terketuk untuk membantu wanita tersebut. Dan betapa terkejutnya Naruto saat melihat rupa wanita itu. Wajah yang hanya pernah ia lihat sekali, namun sama sekali tidak pernah ia lupakan kini terlihat di depannya.
Jantungnya tiba-tiba saja berdetak cepat membuatnya merasakan sesak yang amat sangat. Ia benar-benar ingin pergi secepatnya dari sana, tapi kenapa wanita itu malah menghentikannya dan memaksanya untuk ikut. Dia benci ini, tapi perkataan wanita itu memang benar, tidak baik untuk menolak kebaikan orang lain. Dan dengan berat hati Naruto akhirnya meng-iyakan.
Itulah awal hari ini berubah menjadi kesialan bagi Naruto. Terjebak dengan seorang wanita yang sangat tidak ingin ia temui adalah hal pertama yang ingin ia hindari. Dari awal dia sudah tidak nyaman berada didekat Sakura, dan dia semakin tidak nyaman karena sudah beberapa menit lalu kedua mata emerald Sakura terus menatapnya, membuatnya makin merasa sangat risih.
"Bisakah kau berhenti menatapku?" suara datar yang dikeluarkan Naruto membuat Sakura terkejut.
"Ah, maaf. Itu pasti membuatmu tidak nyaman." dengan kikuk wanita dengan rambut berwarna pink itu menjawab.
'Kalau sudah tahu itu membuatku tidak nyaman kenapa kau harus melakukannya.' batin Naruto kesal.
"Tadi itu aku hanya ingin memastikan saja."
"Hm?" kedua alis Naruto mengeryit bingung.
"Bukankah kau adalah Naruto, teman Sasuke-kun yang dulu pernah memperkenalkan diri saat Sasuke-kun dan aku makan siang?"
"Tidak kusangka, ternyata kau memiliki ingatan yang bagus." ekspresi datar terpasang di wajahnya menunjukan bahwa dia tidak berminat dengan pembicaraan ini. Naruto mengambil cangkir kopi yang berada di depannya dan menyesap isi cangkir tersebut yang cukup panas.
Sedangkan Sakura tersipu mendengar kalimat Naruto yang seperti pujian untuknya. "Ah, tidak juga. kalau bukan karena gerakan Sasuke-kun yang tiba-tiba menggebrak meja mungkin aku tidak akan mengingatnya. Sebenarnya aku penasaran kenapa dia melakukannya dan setelah itu menarikmu, tipa kurasa aku tidak punya hak untuk menanyakannya."
Pegangan Naruto pada gelas mengerat, wajahnya terlihat mengeras dari balik gelas kopi yang sedang diminumnya. Ini benar-benar menyebalkan, kenapa ia harus bertemu dengan wanita ini, dan kenapa wanita ini harus bercerita tentang kejadian yang sudah lama itu.
"Oh, ngomong-ngomong kau terlihat berbeda, ya?" Sakura kembali berucap.
'Ck, sekarang apa lagi yang ingin dia bicarakan?'
"Saat pertama kali kita kenalan dulu kau terlihat seperti orang yang ceria dan penuh ekspresi. Tapi saat kuperhatikan dari tadi kau sekarang tidak terlihat seperti itu."
Hening untuk beberapa saat, sampai suara dari dentingan cangkir kopi dan dan piring yang beradu terdengar di telinga mereka berdua. Naruto menghela napas pelan.
"Seiring berjalannya waktu manusia akan berubah, mereka tidak mungkin akan sama seperti sebelumnya." balas Naruto.
"Kau benar. Oh ya, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Ya, silahkan."
"Kau dulu pernah berpacaran dengan Sasuke-kun?"
Deg!
Kelopak mata berwarna tan itu melebar sedikit jantungnya pun berdetak menjadi lebih cepat lagi.
'Darimana... dia tahu?'
Seolah bisa membaca isi pikiran Naruto, Sakura langsung menjawab. "Kau pasti bingung darimana aku mendapatkan hal itu. Sebenarnya aku mendengarnya dari salah satu teman kantorku, dia menceritakannya padaku."
Naruto mencoba mengendalikan dirinya, ia merubah ekspresinya kembali seperti sebelumnya. Terlihat tenang seakan tidak terusik akan pertanyaan sebelumnya.
"Kalau memang seperti itu memangnya kenapa? Apa kau takut aku merebut Sasuke darimu? Aku dengar kau sudah menjalin hubungan Sasuke. Kau tidak perlu khawatir tentang itu, aku tidak akan pernah ingin mengambilnya darimu, tidak setelah apa yang dia perbuat padaku." pada beberapa kata terakhir suara Naruto terdengar memelan, ekspresinya pun untuk sesaat terlihat sedih. Namun dengan cepat ia mengubah ekspresinya menjadi datar dan menatap tepat pada kedua buah bola mata Sakura.
"Atau kau berniat mengolok-olokku karena aku seorang gay?" lanjut Naruto.
"Ah, tidak, tidak, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya tidak pernah menyangka kalau orang yang pernah berkenalan dulu denganku adalah pacarnya Sasuke-kun." Sakura menyanggah dengan cepat.
Setelah itupun tidak ada lagi yang mau berbicara, meja yang saat ini ditempati Sakura dan Naruto menjadi hening. Suara bising dari meja lainpun tidak dapat memecahkan suasana hening di meja tersebut. Aura canggung yang keluar dari Sakura memenuhi tempat mereka, sedangkan Naruto dengan tenang kembali menikmati kopinya yang mulai mendingin, padahal dalam hati ia sudah tidak tenang sama sekali.
'Sial, aku benar-benar ingin pergi dari sini secepatnya. Tapi alasan apa yang harus aku gunakan?' batin Naruto.
Dan walaupun sesial-sialnya hal yang Naruto alami hari ini rupanya ia masih sedikit memiliki keberuntungan, ponselnya yang tiba-tiba bergetar menyelamatkannya dari suasana canggung tersebut.
"Maaf, aku permisi dulu untuk mengangkat telepon."
"Ya." jawaban singkat Sakura menjadi aba-aba untuknya menjauh dari meja tersebut.
Setelah mendapat tempat yang lumayan hening Naruto mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana, ia pun melihat nama Itachi tertera di layar ponselnya. Tombol hijaupun ditekan oleh jari berkulit tan.
"Halo, Itachi?"
/Naruto./
"Ada apa kau menelponku?"
/Apa kau punya waktu luang sekarang?/
"Ya, aku punya."
/Baguslah, aku ingin bertemu denganmu, tempat pertemuannya akan aku kirimkan lewat pesan. Kau bisakan?/
"Tentu, aku bisa."
/Kalau begitu sampai jumpa di sana, Naruto./
"Sampai jumpa."
Dengan berakhirnya kalimat Naruto sambungan telepon ditutup. Helaan napas lega terdengar dari mulutnya.
"Itachi, aku berhutang budi padamu, kau sudah menyelamatkanku dari wanita itu." gumam Naruto dengan penuh rasa terima kasih. Ia kembali berjalan menuju meja dimana Sakura berada. Sakura yang melihat kedatangan Naruto tersenyum.
"Sepertinya aku harus pergi sekarang, ada teman yang ingin bertemu denganku." ucap Naruto.
"Ah, begitu ya, sayang sekali. Kalau begitu sekali lagi aku berterima kasih padamu karena sudah menolongku hari ini."
"Sama-sama, aku permisi."
Naruto berjalan keluar dan meninggalkan Sakura yang melambaikan tangan padanya sekaligus menatapnya penuh arti.
.
.
.
Sepasang bola mata safir mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman. Taman yang saat ini Naruto datangi tidaklah terlalu besar, hanya ada beberapa benda yang mengisi taman tersebut. Para pengunjung taman tersebutpun tidak terlalu banyak, hanya segelintir orang yang terlihat berada di tempat ini untuk berjalan-jalan.
Naruto melangkah masuk lebih dalam lagi karena tidak menemukan sosok yang ia cari. Akhirnya tak lama kemudian ia melihat siluet orang tersebut terduduk di salah satu bangku taman. Naruto pun berlari kecil menuju ke sana dan memanggil-manggil sosok tersebut.
"Itachi!"
Tangan Naruto terangkat untuk memberikan lambaian, yang tentunya juga mendapat balasan dari sosok yang dipanggil.
"Kau sudah lama menunggu?" ucap Naruto sesampainya di depan Itachi. Napasnya terdengar tersenggal-senggal, seakan ia habis berlari.
"Tidak, aku juga baru sampai. Sebaiknya kita duduk dulu, aku yakin kau pasti lelah sehabis berlari untuk bisa sampai ke sini."
"Kau ini, tahu saja kalau aku habis berlari."
Itachi terkekh pelan. "Orang lain juga pasti akan tahu kalau kau baru saja berlari, Naruto."
Mereka pun kemudian menuju kursi yang sebelumnya di tempati Itachi, pohon yang tumbuh di belakang kursi itu membuat tempat tersebut menjadi teduh. Saat mereka berdua duduk, untuk sesaat Itachi melihat raut wajah Naruto yang terlihat murung, ia pun hanya bisa memandang heran hal tersebut. Itachi mengangkat tangannya dan mengacak-acak lembut rambut pirang Naruto.
"Apa yang terjadi dengan wajahmu, Naruto?"
"Hm, memangnya ada apa dengan wajahku?"
"Kau tadi sempat terlihat murung. Apa terjadi sesuatu?"
"Ah tidak kok, tidak ada yang terjadi." jawab Naruto. Teringat akan tujuannya kemari ia pun kembali berucap. "Oh ya, ngomong-ngomong ada urusan apa kau ingin bertemu denganku?"
"Oh benar, aku hampir lupa." Itachi memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya dan meronggoh suatu benda yang berada di dalamnya. "Berikan tanganmu!" perintah Itachi.
"Huh, memangnya untuk apa?" Naruto bertanya heran.
"Sudah, berikan saja."
Naruto menyerahkan tangan kanannya pada Itachi dan dengan segera Itachi memasangkan benda yang ia ambil dari dalam kantong sebelumnya ke tangan Naruto.
Naruto memperhatikan sebuah benda berwarna hitam dan putih yang kini melingkar di pergelangan tangannya. "Gelang? Untuk apa?"
"Sebagai ungkapan terima kasihku karena kau sudah membantuku mencarikan hadiah untuk orang tuaku, mereka menyukai hadiah yang kau pilih itu. Maaf aku hanya bisa memberikanmu yang seperti itu."
"Ahahaha... tidak apa-apa, mendengar orang tuamu menyukai hadiah yang kupilih saja sudah cukup membuatku senang." Naruto tersenyum sangat lebar.
"Baguslah kalau itu juga membuatmu senang." Itachi kembali mengacak-acak rambut Naruto, namun kali ini lebih keras.
"Ah... Itachi, kau membuat rambutku jadi makin hancur." Naruto menggerutu kesal.
"Apa, 'makin'? Ahahaha... jadi kau mengakui kalau rambutmu itu dari awal sudah hancur?"
"Aku tidak bilang begitu, kok!"
"Ya, ya. Oh, maaf Naruto. Kurasa aku tidak bisa lama-lama di sini, aku masih ada urusan lain. Apa kau juga mau pulang, aku akan mengantarmu kalau kau mau."
Naruto menggeleng. "Tidak perlu, aku masih ingin berada di sini. Sampai jumpa, Itachi."
"Baiklah kalau itu mau mu, sampai jumpa."
Dengan begitu Naruto akhirnya sendiri, angin berhembus pelan membelai kulitnya membuatnya menutup mata untuk menikmati suasana nyaman tersebut. Namun sebuah suara bariton yang cukup ia kenal menghilangkan suasana nyaman tersebut dengan cepat.
"Naruto!"
.
.
.
Sasuke baru saja mengadakan pertemuan dengan koleganya di sebuah restoran dan sekarang ia sedang berjalan menuju pintu keluar restoran. Saat sudah berada di luar sopir pribadinya dengan sigap membukakan pintu untuknya, namun saat melihat sebuah taman kecil yang berada di depan restoran tersebut ia berubah pikiran untuk masuk ke dalam mobil.
"Nanti saja kita kembali, aku ingin ke taman itu dulu sebentar. Aku butuh sedikit bersantai." ucap Sasuke pada sopir pribadinya.
Sepasang kaki dengan sepatu pantofel melangkah menuju taman tersebut. Taman tersebut cukup sepi, hanya ada sedikit orang yang ada di sana, sungguh sangat cocok untuknya yang tidak suka akan keramaian. Kedua bola mata serupa batu onix miliknya menangkap sebuah objek berupa bangku taman yang di belakangnya terdapat sebuah pohon. Sasuke pun mendekati kursi tersebut dan tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang duduk di bangku itu, terlindung oleh pohon yang berada di belakangnya.
Sasuke sudah berada di samping bangku taman pandangannya pun menangkap sebuah sosok yang terduduk sambil memejamkan mata. Kedua matanya sontak melebar, suara yang sarat akan keterkejutan terlontar begitu saja tanpa ada diminta.
"Naruto!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Balasan Review!
Squidneko : Ini udah ketemu. Maaf karena lama update.
Mimi : Makasih buat sarannya, akan aku gunakan. Dan makasih udah mau ngingetin buat lanjut, kalau nggak mungkin fic ini bakalan lebih lama lagi updatenya. Aku udah usahain supaya ngetik fic ini, dan maaf kalau hasilnya malah ancur kayak gini.
Angledevil204 : Iya ini udah lanjut, maaf lama, ya.
Kucing manis : Maaf, nggak bisa jamin update kilat. Kehidupan dunia nyata benar-benar menyita waktuku. Sasu-teme sudah pasti bakalan menyesal.
Jasmine DaisynoYuki : Hieee... gomen! Mungkin itu masih bakalan ada beberapa chap lagi. Sebenarnya aku sedang mencoba menyusun ulang plot yang aku buat, menurutku fic ini berjalan dengan sangat lambat, jadi aku robak supaya agak lebih cepat lagi. Dan kalo chap kali ini malah cepet amat apalah dayaku, lagi pusing nih ama alur cerita ini. Liat microsoft word nya aja aku udah eneg.
Mariaerisa : Huhuhu... kenapa aku selalu dibrondong sama kata-kata ini ya dari chapter kemarin-kemarin T-T, apa Sasu-teme kejam amat sampai banyak yang ingin ItaNaru, padahal... ups! Hampir aja. Iya ini udah lanjut, maaf lama!
Aiko Vallery : Iya, ini udah dinext!
Guestny guest : Hieee... ada lagi! Ini udah dinext! Maaf lama.
Guest (1) : Huwa... ada lagi! Masa sih, emangnya keliatan kayak itu ya? walaupun Naru-chan udah sakit hati, tapikan dia tidak tau aja kalau... Ini udah update!
Justin cruellin : Hahaha... sebenarnya aku dapat adegan lari-lari itu dari anime yang pernah aku tonton, salah satu adegan kesukaan ku di anime itu, jadi aku buat aja deh. Hehehe... ternyata ada yang sadar juga ternyata kalau wordnya makin sedikit, sebenarnya aku udah sadar kalau wordnya mulai dikit sejak awal, tapi apa boleh buat otakku cuma dapat segitu aja untuk chapter-chapter tersebut. Dan maaf kalau chap ini sungguh sangat sedikit plus ancur.
Kuma Akaryuu : Aish... aku tersentuh! Nggak bakal kok, sejak awal aku juga nggak kepikiran gitu.
Princess UN : Akan aku usahakan. Sudah pasti, ayo bikin dia menderita! Itachi nggak bakalan selalu mengalah sama Sasu-teme, ada saatnya nanti dia juga bersikap egois. Fufufu...
Hiori Fuyumi : Iya, nggak apa-apa. Bukan kok, itu bukan Sakura, hanya karakter luar yang tidak memiliki arti penting. Iya udah pasti. Ini udah ada lanjutan.
Kuraublackpearl : Ada lagi yang mau ItaNaru ternyata. Memang sih Itachi baik dan tetap setia menunggu Naru-chan, tapi kalau aku terus membayangkan adegan-adegan 'itu' aku malah jadi nangis dan kasihan sama Sasu-teme. Nggak tahu apa nanti kamu juga bakal nangis kayak aku baca adegan-adegan 'itu'. Kalo nggak nangis berarti aku aja yang nggak pandai mendeskripsikan adegannya. Huhuhu... Sasu-teme yang sabar ya.
Guest (2) : kayaknya masih cukup banyak deh, ini sekarang aku lagi berusaha buat mengurangi jumlah chapnya supaya nggak kebanyakan.
A/N : Huwaaa... aku tidak tahu fic ini masuk kategori apa, ancur, benar-benar ancur, paling ancur, atau sangat ancur T^T. Maaf karena sudah lama nggak update fic ini, bahkan hampir tiga bulan. Beberapa bulan ini aku harus bertarung melawan penderitaan hidup yang sangat berat #lebay. Dan maf kalau chap kali ini sangat jauh lebih pendek dari sebelumnya. Jujur, ide yang nemplok di otak cuma ada segitu, bahkan untuk buka microsoft word aja rasanya males banget karena sedikitnya ide yang ada. Thanks buat Mimi yang udah mau review lagi untuk ngingetin aku buat update, aku sungguh terharu T^T. Mudah-mudahan aja chap depan bisa update cepet dan semoga buku tempat aku mencatat plot cerita ini nanti ketemu.
Sampai jumpa di chap depan!
