Hidup itu memang tidak pernah bisa diduga. Ya, begitulah kata-kata yang selalu Naruto dengar dari orang-orang di sekitarnya. Kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi padamu hari ini, besok, lusa, maupun hari yang akan datang selanjutnya. Hidup itu selalu berkaitan dengan takdir. Takdirlah yang membuat ia harus menjalani hari-harinya secara tidak terduga.
Sama seperti hari ini.
Naruto tahu, ia tahu kalau pertemuannya dengan orang itu merupakan kehendak takdir. Ia tak akan mencoba menyalahkan takdir. Yang ia hanya ingin tahu hanyalah, mengapa takdir mencoba mempertemukan mereka kembali. Membuat lembara-lembaran usang yang sudah lama ia tutup dengan rapat, terbuka kembali.
Orang bilang, dari suatu kejadian ada maksud tersembunyi. Kalau begitu apa maksud dari pertemuan yang tidak sengaja ini. Apa yang Tuhan rencanakan dari semua ini.
Ini mungkin memang sudah dua tahun. Waktu yang lama, bahkan sangat lama untuk Naruto bisa melupakan sejenak sosok tersebut. Tapi waktu selama dua tahun itu tidaklah cukup untuknya menghadapi situasi seperti. Situasi dimana ia bisa menatap langsung bola mata kelam itu, membiarkan suara tegas itu mengalun lembut menuju lubang telinganya tanpa ada perantara, dan bahkan—
Melihat secara langsung tubuh tegap itu berdiri di hadapannya.
Hal itu hanya sekejap ia lakukan setelah mendengar sosok itu memanggil namanya tadi. Dengan lekas ia memalingkan wajah dengan sedikit menunduk, beberapa helai rambut jatuh menutupi matanya.
Tidak suka.
Aku tidak suka ini.
Kedua tangannya yang bergetar pelan perlahan saling menggenggam. Jantungnya yang beberapa menit lalu masih berdetak normal kini berpaling menjadi sebuah dentuman keras dan cepat yang membuat dadanya menjadi sakit. Naruto semakin mempererat genggamannya.
Di sisi lain, Sasuke yang masih berdiri di samping kursi menyadari perubahan pada laki-laki berambut pirang di depannya. Bagaimana wajah yang terlapisi kulit berwarna tan itu perlahan memucat saat melihatnya. Bagaimana kedua mata sewarna langit di atas sana membola dalam keterkejutan. Dan bagaimana, kedua tangan itu saling menggenggam disertai getaran-getaran kecil yang tidak akan pernah ia mengerti maknanya.
Sasuke perlahan mendekat, menjatuhkan diri tepat di ujung kursi taman tersebut tanpa meminta ijin terlebih dahulu pada sosok di sebelahnya yang mungkin saja terganggu. Ah, bukan mungkin, tapi pasti terganggu, dilihat dari gelagat orang itu yang sedikit menggeser duduk menjauh. Mata onyx itu mengedar mengamati orang-orang di sekeliling.
Angin berdesir pelan mencoba menurunkan ketegangan diantara kedua pria itu. Ego yang merantai masing-masing dari mereka menciptakan hening yang menyesakkan.
Mereka berdua tahu dengan sangat pasti. Dua orang yang dulunya saling mengenal, namun terpisah dengan cara tidak baik dan kemudian dipertemukan kembali bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Terlebih dua orang itu pernah menjalin hubungan yang khusus.
"Lama tidak bertemu."
Yang berambut pirang menurunkan egonya. Satu kalimat singkat setelah hening yang melanda cukup lama. Untaian tiga kata yang bertujuan mengusir sunyi yang menyesakkan berakhir dengan ketegangan yang makin meningkat. Getaran-getaran kecil di tangan berkulit tan itu sedikit demi sedikit menghilang. Wajah yang semula sarat akan keterkejutan berganti dengan mimik tanpa ekspresi, seakan-akan mencoba menyembunyikan apa yang tengah ia rasakan.
Sasuke tersentak kecil. Ia menggumam singkat sebagai formalitas. Pemuda raven tidak pernah berharap dan bahkan terpikirpun ia tidak pernah. Bahwa, Naruto akan membalas sapaannya—kalau memang bisa disebut sapaan—dengan ringan. Perkelahian di antara mereka yang terjadi sebelum mereka berpisah dan Naruto yang tiba-tiba menghilang bukanlah sebuah alasan yang pantas untuk mereka bertegur sapa kembali. Bahkan itu merupakan alasan yang tepat untuk mereka saling marah dan benci, tapi orang di sebelahnya ini malah berperilaku sebaliknya. Pengecualian untuk ekspresi yang tengah ia keluarkan saat ini, menunjukkan bahwa pemuda pirang itu tidak senang akan pertemuan mereka. Yah, ia bisa memaklumi hal itu.
"Ah!"
Seruan itu keluar setelah sepasang manik biru itu melihat jam di handphonenya.
"Maaf, aku masih ada urusan. Aku permisi."
Secepat mungkin kalimat itu diucapkan dan secepat itu pula Naruto menjauh dari tempat itu. Bahkan tanpa membiarkan lawan bicaranya membalas ucapannya.
Sasuke yang perlahan melihat sosok Naruto menjauh hanya menatap dalam diam, sebelum kemudian ia juga bangkit berdiri dan meninggalkan tempat yang menjadi saksi bisu atas pertemuan kembali mereka setelah sekian lama.
.
.
.
Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Pair : SasuNaru, Slight SasuSaku, n ItaNaru
Genre : Hurt/Comfort, Romance (yang diragukan).
Warning : Boys Love, OOC, AU, typo(s), masih pemula, dan masih banyak lagi kesalahan lainnya.
Don't Like Don't Read! Happy reading!
.
.
.
Sepasang kaki berjalan perlahan di atas trotoar yang cukup ramai. Kedua bola mata sewarna batu safir senantiasa menatap ke bawah. Tidak ia perdulikan umpatan orang-orang yang telah ia tabrak. Tidak pula ia perdulikan awan kelabu di atas sana yang berarakan menuju ke arahnya dengan membawa angin dingin yang menusuk kulit. Yang ia perdulikan saat ini hanya satu, menemukan jawaban dari perasaan yang mengganjal di hatinya saat ini. Sebuah perasaan di sudut kecil hatinya, di ruang yang penuh akan debu, tempat yang ia ingin kubur dalam-dalam dan tanpa pernah ia ingin perdulikan lagi, tempat dimana ia menyimpan kepingan-kepingan perasaan yang tersisa untuk orang yang menurutnya sangat brengsek.
Langkah Naruto tiba-tiba berhenti. Kilasan akan kejadian sebelumnya kembali terulang dalam otak. Perkataan kalau dia tadi ada urusan hanyalah kebohongan, hanya sebuah alasan agar ia bisa menjauh dari sosok yang dihindarinya. Ia tidak mungkin bisa bertahan lama berada di dekat sosok itu. Kalaupun ia bisa, mungkin ia akan berakhir dengan mendaratkan satu pukulan di wajah putih itu untuk membalas perlakuan sosok itu dulu atau berakhir dengan meneteskan air mata.
Salah satu tangannya terangkat untuk memegang dada kirinya. Naruto merasakannya. Rasa sakit seperti tertusuk jarum, menimbulkan luka yang tidak cukup besar, namun cukup untuk membuatnya meringis kesakitan dan membuatnya meneteskan setitik air mata hanya untuk melampiaskan rasa sakitnya.
Seandainya, seandainya ia tidak keluar rumah hari ini, maka ia tidak perlu bertemu Sakura maupun Sasuke, atau seandainya saja ia menerima ajakan Itachi untuk mengantarnya pulang maka semua ini tidak akan terjadi. Kata-kata 'seandainya' terus berputar dalam pikirannya bersama dengan rasa penyesalan.
Drrt drrt
Getaran dari kantong celana yang ia kenakan mengalihkan perhatiaannya. Diraihnya benda elektronik yang menjadi sumber getaran. Terlihat simbol pesan di layarnya. Dengan segera dibukanya pesan yang masuk tersebut.
From : Inuzuka Kiba
Naruto, kau ada di rumah, kan. Aku akan ke sana sekarang. Aku baru saja dapat manisan dari Shikamaru. Kita akan memakannya bersama-sama. Jadi tunggu aku, ya~
Ah, manisan disaat suasana hatinya sedang buruk. Naruto tidak yakin apakah manisan itu akan terasa enak di mulutnya nanti.
Tes
Setetes air menetes di atas layar handphonenya dan kemudian diikuti tetesan lainnya. Naruto mendongakkan kepalanya, dapat dilihatnya awan kelabu sudah berada tepat di atasnya, bersiap-siap menumpahkan semua muatannya dan membasahi bumi dengan ribuan tetes lainnya.
Beberapa orang terlihat berlarian menghindari hujan, bahkan ada beberapa orang yang menabraknya saking terburu-buru. Namun Naruto tidak mau repot-repot mengumpati mereka atau bahkan berlari seperti mereka hanya untuk menghindari hujan yang mulai mengguyur dengan deras. Yang ia lakukan hanya berdiri mematung di bawah langit kelabu. Membiarkan tetesan-tetesan itu menyejukkan dan meredakan rasa sakit di sudut hatinya. Ia berpaling, dapat dilihatnya pantulan dirinya di kaca sebuah toko.
Deg!
'Kau benar-benar menyedihkan, Naruto.'
Kalimat itu ia tujukan untuk dirinya yang berada di dalam kaca. Sorot mata sendu serta ekspresi terluka masih bisa ia lihat pada sosok dirinya di kaca. Bahkan meskipun pantulan dirinya di kaca tertutupi oleh tirai-tirai air yang malah membuat dirinya semakin terlihat menyedihkan, seakan-akan tirai-tirai air itu mencegahnya untuk mengetahui seberapa terlukanya ia saat ini.
.
.
.
Sebuah mobil taksi berhenti tepat di depan rumah bercat putih, seorang pemuda terlihat keluar dari dalam taksi dengan sekantong plastik di tangan.
"Paman, terima kasih ya!"
"Sama-sama."
Kaki yang terpasang sepatu karet biru itu segera berlari menghindari hujan menuju pintu rumah yang berwarna coklat, jarinya menekan bel. Tangannya kemudian bergerak mengibas-ngibaskan helaian rambut coklatnya yang terkena beberapa tetes hujan.
"Ck, kenapa harus turun hujan saat di tengah jalan sih. Semoga manisannya tidak apa-apa." pemuda itu menggerutu pelan, menyalahkan hujan yang dengan tiba-tiba mengguyur bumi dan membuat beberapa bagian pakaiannya harus basah.
Tak lama terdengar suara langkah kaki dari dalam rumah dan suara pintu yang terbuka menyusul. Sosok Naruto yang basah kuyup terlihat setelah pintu terbuka sepenuhnya.
"Huaaa...!" kedua mata melotot kaget sambil melangkah mundur, "Naruto, apa yang terjadi padamu?! Apa kau juga habis kehujanan?!" Kiba berucap histeris melihat Naruto yang benar-benar basah kuyup dengan kulit yang pucat serta dengan bibir yang membiru. Kiba yakin, Naruto pasti sudah berada di bawah guyuran hujan sejak lama, kalau tidak bagaimana mungkin pemuda pirang itu bisa jadi seperti ini.
Bibir yang membiru itu masih tidak bergerak. Kepala dengan helaian pirang itu menunduk dengan pandangan kosong.
Yang berambut coklat memasang ekspresi khawatir, dengan ragu-ragu ia bertanya, "Naruto, kau baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?"
"Kiba," suara itu mengalun pelan, bahkan suara hujan hampir mengalahkannya.
"Aku membencinya." kedua telapak tangan yang sudah memucat menggenggam erat.
Kiba pelahan-lahan meneguk ludah. Di mata pemuda itu saat ini Naruto benar-benar terlihat sangat menyedihkan.
"Siapa?" tanyanya lagi dengan ragu.
Naruto terdiam sesaat, terlihat enggan menyebutkan sebuah nama yang akan membuat sudut hatinya tersayat.
"Sasuke. Aku benar-benar sangat membenci Sasuke." suara yang sarat akan rasa sakit terdengar.
Kiba diam dalam keterkejutan. Salah satu tangannya ia gerakkan untuk menggenggam tangan pucat di depannya yang terasa dingin. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sesuatu yang membuat Naruto menjadi seperti ini pasti berkaitan dengan Sasuke.
"Sudahlah, Naruto. Lebih baik kita masuk ke dalam rumah, udara di luar sangat dingin, kau bisa sakit nanti."
Kiba menarik Naruto yang masih terdiam masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Dapat ia lihat jejak-jejak air di lantai rumah terarah menuju ruang tamu dan berakhir di sebuah sofa yang terlihat sangat basah. Sepertinya sang pemilik rumah langsung menduduki sofa tanpa mengganti pakaiannya yang basah.
"Naruto, sebaiknya kau mengganti pakaianmu, kau bisa saja masuk angin kalau tetap memakai baju ini."
Naruto menurut, dengan perlahan ia menuju kamarnya seperti yang dipinta Kiba.
"Haah... kali ini apa lagi masalahnya. Semoga dia baik-baik saja." Kiba bergumam pelan. Sepertinya ia harus menahan beberapa pertanyaan yang bersarang di dalam otaknya nanti sampai Naruto membaik. Anak itu benar-benar terlihat menderita.
.
.
.
Sang nyonya Uchiha terlihat duduk dengan nyaman pada sebuah sofa di ruang keluarga. Di pangkuannya terdapat seperangkat alat menyulam. Ruangan itu hening, bahkan meskipun ia ditemani oleh kedua putra kesayangannya. Tidak ada sama sekali dari mereka yang ingin angkat bicara hanya untuk mengusir keheningan yang membosankan ini. Yah, Mikoto bisa memahami itu. Ia memang tidak berharap kedua putranya itu akan bertingkah seperti dulu, saat-saat seperti sebelum mereka melewati masa kedewasaan mereka; berlarian kesemua sudut rumah, tawa riang khas anak kecil, memecahkan keramik-keramik di dalam rumah—yang mana malah membuat suaminya terkena migrain mendadak dan berakhir dimana kedua putranya duduk bersimpuh di lantai disertai ceramah panjang dari suaminya. Mikoto sadar, kedua putranya itu sudah dewasa dan tidak mungkin bagi mereka untuk melakukan hal konyol seperti dulu. Kalaupun iya mereka melakukannya, Mikoto bisa pastikan suaminya akan sering terkena tekanan darah tinggi.
Sebuah helaan napas keluar dari belahan bibir ibu dua anak itu.
Tapi, tidakkah mereka berdua mengerti. Ini akhir pekan. Dimana pada umumnya ini merupakan waktu untuk dihabiskan bersama keluarga; berlibur kesuatu tempat, melakukan hal menyenangkan, ataupun saling berbagi cerita. Tapi mereka bahkan tidak melakukan salah satu diantaranya, dan malah sibuk dengan urusan masing-masing. Itachi dengan telepon genggamnya, Sasuke dengan setumpuk lembaran kertas yang berisi utaian kalimat, grafik, serta angka—yang sialnya ingin sekali dia bakar. Padahal ia sudah memperingatkan beberapa kali pada anak bungsunya itu untuk tidak membawa pulang kerjaan di kantor. Namun, putranya itu masih saja keras kepala.
"Maaf Nyonya,"
Sebuah suara mengalihkan atensinya. Dapat dilihatnya seorang pelayan berdiri di samping kursinya dengan menunduk hormat.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ada telepon untuk Nyonya dari Uchiha-sama." jawab pelayan itu.
'Uchiha-sama.'. Oh, ia tahu siapa yang dimaksud pelayannya itu. Itu pastilah ayah mertuanya. Karena tidak mungkin ada pelayan yang berani memanggil mertuanya dengan sebutan lain selain marga, bahkan meskipun di hadapan pelayan itu ada Uchiha lain. Tapi ada apa mertuanya itu menelpon, tidak biasanya. Karena, jika ingin menelpon maka pastilah harus dimulai dari pihak keluarganya, ayah mertuanya tidak pernah menelpon terlebih dulu. Terlampau tidak terlalu memperdulikan orang lain dan lebih memilih menghabiskan waktu sendiri di dalam villa pribadinya yang berada di sebuah desa yang masih asri.
"Baiklah, aku segera ke sana." Mikoto merapikan alat menyulam dan memasukkan ke dalam keranjang yang berada di dekatnya. Sebelum beranjak dari duduknya ia masih menyempatkan diri untuk melihat kedua putranya, yang ternyata masih sibuk dengan kegiatan masing dan membuatnya semakin jengkel.
Helaan napas kembali dikeluarkan untuk kedua kalinya, dan dengan begitu Mikoto segera beranjak berdiri. Ayah mertuanya itu mungkin tidak akan suka jika dibuat menunggu terlalu lama.
"Sepertinya kau membuatnya ibu kesal, Sasuke." Itachi meletakkan telepon gengam yang sedari tadi ia gunakan dan merenggangkan badannya yang sedikit pegal.
"Hah? Kenapa aku? Seharusnya kau yang sedari tadi terus bermain dengan handphonemu dan membuat ibu kesal." jemari-jemari putih itu berhenti membolak-balik kertas-kertas di tangan dan beralih pada laptop yang tergeletak di meja.
"Menurutku tidak begitu." ia berhenti sejenak untuk menyesap jus yang tersedia. "Kau yang selalu membawa pulang dokumen-dokumen itu tentu lebih membuat ibu kesal. Padahal kau sudah tahu kalau ibu melarangmu."
Dengan mata masih terpaku pada layar laptop, Sasuke menjawab, "Apa boleh buat. Itu harus kulakukan jika aku tidak ingin dokumen ini secara tiba-tiba bertambah tiga kali lipat keesokan harinya. Aku bukan kau yang bisa dengan santainya menghilang secara tiba-tiba dari kantor dan menghadapi pekerjaan yang semakin menumpuk." kalimat itu disampaikan dengan nada sindiran.
Kedua alis sempat berkedut sesaat, tangan pucat itu mengibas-ngibas, "Yah, yah. Terserah kau saja."
Sial, darimana adiknya itu tahu kebiasaan buruknya akhir-akhir ini yang sering bolos kerja karena mengintai—atau lebih tepatnya menguntit—pemuda dengan helaian rambut pirang dan mata sewarna langit biru di hari yang cerah. Semoga adiknya itu tidak mengadukan pada orang tua mereka atau dia nanti akan tamat.
Itachi kembali berkutat dengan handphonenya, tanpa sadar ia tersenyum kecil saat layar datar benda elektronik itu menampilkan foto seseorang yang berhasil ia ambil secara diam-diam saat mengintai orang itu.
Sasuke mengernyitkan alis saat tanpa sengaja tengah melihat Itachi dan menemukan sebuah ekspresi di wajah kakaknya itu.
"Daritadi aku selalu penasaran," Sasuke berucap, dan itu sukses menarik perhatian Itachi untuk menatapnya yang kembali mengerjakan sesuatu di laptop.
"Sejak awal aku tahu kalau kau mencoba untuk menahan senyum saat menatap handphonemu. Memangnya apa yang ada dalam benda itu?" jari-jarinya berhenti bergerak di atas keyboard. Sepasang manik hitamnya menatap lurus pada sepasang mata yang senada dengan miliknya, "Jangan mencoba mengelak. Kau pasti tahu, kau tidak bisa membohongiku sekarang." lanjutnya kemudian.
"Haah... baiklah. Hanya foto seseorang."
Salah satu alis terangkat penasaran, "Seseorang? Siapa? Apa pacarmu?"
"Tidak juga."
"Orang yang kau sukai."
Itachi terdiam sejenak, "Yah... bisa dibilang seperti itu."
"Heee..." Sasuke tersenyum mengejek.
"Apa-apaan dengan senyum mu itu." Kedua mata onyx Uchiha sulung itu menatap jengkel.
Kedua tangan pucat kembali mengerjakan sesuatu di dalam laptop, "Tidak, tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong seperti apa dia?" Sasuke kembali bertanya.
"Heh, jangan harap aku akan menunjukkannya padamu. Aku tidak ingin kau nanti merebutnya dan menjadikannya pacar simpananmu setelah Sakura. Dia punya rambut pirang yang indah dan mata biru seperti langit,"
Jari-jari pucat yang bergerak di atas keyboard seketika terhenti. Bungsu Uchiha itu terdiam, beberapa perkataan Itachi membuatnya mengingat kejadian dimana ia bertemu dengan sosok yang sama persis seperti yang dideskripsikan Itachi.
"Dia itu orang yang bersemangat, wajahnya... aku tidak yakin apakah bisa dibilang cantik, tapi yang pasti dia menawan, dan juga dia dengan berbaik hati membantuku mencari hadiah untuk peringatan hari pernikahan orang tua kita. Jadi aku yakin kau pasti akan suka padanya dan—" Itachi menghentikan kalimatnya saat mengetahui adiknya itu terdiam. Ini sungguh aneh, kalau biasanya adiknya itu akan membalas saat ia mengejeknya, tapi sekarang adiknya itu malah terdiam. Apakah Sasuke benar-benar tersinggung dengan perkataannya. Itachi bahkan tidak bermaksud begitu, ia hanya sekadar bercanda.
"Sasuke." Itachi memanggil, namun tidak mendapat respon dari yang bersangkutan.
"Hei, Sasuke." bungsu Uchiha masih belum menyahut.
"Sasuke, kau mendengarku!" kali ini Itachi sedikit menaikkan nada suaranya.
Sasuke tersentak kecil. Ia segera menoleh pada Itachi dan menyahut, "Hn."
"Kau melamun. Apa ada yang kau pikirkan?"
"Tidak, tidak ada." ucapnya. Dan kemudian kembali menyibukkan diri dengan tumpukan dokumen yang dibawanya.
Itachi ingin kembali bertanya, namun suara sepasang sepatu yang berketukan dengan lantai mengalihkan perhatiannya. Ibunya baru saja kembali setelah mengangkat telepon.
"Kita harus bersiap-siap. Besok kakek kalian akan kemari." wanita itu menduduki kembali kursi yang tadi ia gunakan
"Untuk apa?" tanya Itachi.
"Hanya ingin mengunjungi kita dan menginap untuk beberapa lama di sini." kedua tangan dengan kulit putih itu kembali meraih alat menyulamnya.
Kedua alis Itachi menukik bingung. "Hn, tidak biasanya."
"Ibu juga sebelumnya berpikir seperti itu." Mikoto bersiap-siap untuk melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda, namun matanya yang sempat melirik pada sang putra bungsu menggagalkan niat awalnya.
"Sasuke,"
Yang dipanggil segera berpaling pada sang ibu.
"Kau terlihat melamun. Apa terjadi sesuatu?" kedua bola mata wanita itu menatap risau.
"Kaa-sama tidak perlu khawatir. Tidak ada apa-apa."
Mikoto menatap ragu pada sang anak. Namun ia tidak bisa memaksa kalau sang anak sendiri tidak ingin menceritakannya.
"Aku ke dapur dulu." Sasuke menyingkirkan dokumen yang ada di pangkuannya dan meninggalkan ibu serta kakaknya yang saling bertatapan heran.
'Ini tidak bagus.'
.
.
.
Pagi itu masih sama seperti pagi-pagi sebelumnya, cerah berawan, dengan selimir angin menyejukkan namun dengan suhu yang sedikit tinggi, mengingat sang raja siang sudah berada diseperempat jalurnya. Akan tetapi, pagi ini Naruto tidaklah bangun dengan semangat seperti biasanya, tidak dengan badan yang terasa sangat lemas, kepala yang berdenyut-denyut nyeri, ditambah dengan efek layaknya berputar-putar yang membuatnya ingin memuntahkan semua isi perutnya. Ia ingin sekali bangkit menuju kamar mandi, namun ia urungkan mengingat tubuhnya seperti kehilangan tenaga dan lebih memilih menahannya dengan berbaring kembali ke kasur.
Mengetahui tubuhnya sedang dalam keadaan yang tidak baik, lantas membuat Naruto mengambil handphone yang tergeletak di nakas samping tempat tidur. Dengan susah payah ia mencoba bangkit sambil menahan sakit di kepala. Jari-jemari bergerak lincah mencari sebuah nomor, setelah menemukannya ia dengan segera menekan nomor itu untuk membuat panggilan.
Sembari menunggu panggilan tersambung Naruto kembali berbaring.
/Halo? Naruto, ada apa kau menelponku?/ suara wanita dari seberang sana terdengar.
"Baa-Chan," Naruto ingin sekali meringis mendengar suaranya yang terdengar mengerikan. Serak dan terdengar sangat lemas.
/Hm? Ada apa dengan suaramu?/ Tsunade di seberang sana bertanya penasaran.
"Sepertinya aku sakit."
/APA?!/
Suara wanita itu melingking, membuat Naruto harus memijit kepalanya yang tiba-tiba bertambah sakit.
/Bagaimana bisa? Ck, tunggu di sana, aku akan segera berangkat./
Sambungan diputuskan sepihak. Naruto meletakkan handphonenya di samping bantal. Selimut ditarik untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin, bahkan cahaya matahari yang berhasil masuk ke dalam kamarnya tidak cukup untuk menghangatkannya.
Naruto merutuk. Mengutuk kejadian semalam yang malah membuatnya secara suka rela berdiri di bawah milyaran tetes hujan untuk menenangkan diri.
Sungguh bodoh. Ya, hanya orang bodoh sepertinya yang akan melakukan hal seperti itu. Menantang tetes-tetes dingin yang menusuk kulit hanya untuk menghindari sesuatu yang tidak ia inginkan dan berakhir dengan ia mendapat sesuatu yang lain.
Demam sialan.
Pemuda blonde itu bergerak mengganti posisi menjadi menyamping. Denyutan itu kembali terasa, napasnya pun terasa berat dan panas.
'Semoga Baa-chan cepat datang.'
Perlahan-lahan sepasang kelopak mata itupun terpejam, terlelap akan keheningan yang hinggap di dalam kamarnya.
.
.
.
Mobil silver melaju dengan sedikit terburu-buru di tengah padatnya jalan raya. Jari yang sudah mulai terkena keriput mengetuk-ngetuk dengan tidak sabaran. Tsunade yang melihat jarak menuju rumah Naruto sudah semakin dekat makin mempercepat laju mobilnya. Kegelisahan menyelimuti hatinya. Tsunade tidak habis pikir, kecerobohan apa lagi yang bocah pirang itu lakukan sampai dia jatuh sakit.
Rumah sederhana milik keluarga Namikaze sudah mulai terlihat. Tsunade menghentikan mobilnya di depan pekarangan rumah itu. Ia melangkah dengan tergesa-gesa menuju pintu, mencari-cari sebuah kunci duplikat yang ia miliki di dalam kantong. Kunci ditemukan dan dimasukan pada lubang kunci lalu diputar. Pintu itu terbuka. Dengan buru-buru dia menuju lantai dua dimana kamar Naruto berada.
Brak!
"NARUTO!"
Suara pintu yang dibuka dengan kasar serta sebuah suara yang bisa dikategorikan sebuah kebisingan berhasil menyentak pemuda pirang di balik selimut yang sempat tertidur.
"Naruto, bagaimana keadaanmu?" Tsunade bertanya khawatir.
Sepasang safir menatap lemas pada wanita di samping ranjangnya, "Aku demam. Benar-benar tidak baik."—Dan makin bertambah tidak baik saat kau mendobrak pintu dan berteriak. Inginnya sih diucapkan, namun otaknya yang masih waras mencegahnya untuk melakukan itu. Jika tidak, maka pasti Tsunade akan membiarkannya sekarat di dalam kamar ini.
"Kau sudah memeriksa suhumu?"
"Belum."
"Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan memeriksanya."
Tsunade segera menuju lemari yang tergantung di dinding dan mengambil termometer. Dengan segera ia mengecek suhu tubuh Naruto, dan betapa terkejutnya ia saat melihat angka yang tertera pada alat tersebut.
"40?! Yang benar saja, apa yang telah kau lakukan sampai-sampai demammu setinggi ini Naruto!" Tsunade menggeram kesal.
Naruto merasakan tenggorokannya gatal, ia terbatuk sesaat, "Kemarin aku kehujanan, Baa-chan. Jadi pasti demamku setinggi itu."
"Memangnya kau ada dimana saat itu, hah?!"
"Pusat pertokoan."
Bletak!
"Auw... ish..." Naruto hanya bisa meringis sakit saat wanita berumur di depannya itu menjetik dahinya.
Urat-urat kekesalan terlihat di dahi wanita dengan rambut panjang itu, "Dasar bodoh! Kalau begitu kenapa tidak kau cari tempat berteduh dulu?!"
Naruto hanya diam tidak menjawab dengan mata melirik ke arah lain. Kalau bukan karena kejadian itu mana mungkin juga dia akan hujan-hujanan.
"Ini. Sebaiknya kau minum obatmu, akan aku ambilkan air minum dulu, lalu setelah itu aku akan ke dapur untuk membuatkan bubur." Tsunade meletakkan sebotol obat di atas nakas dan kemudian berlalu pergi meninggalkan Naruto sendirian di kamar.
Pemuda itu menyamankan posisinya di tempat tidur, ia mencoba menghilangkan pemikiran yang sempat menghantuinya sesaat. Kelopak mata itu mencoba terpejam kembali. Tapi getaran di samping bantalnya membuatnya harus membuka mata.
From : Itachi
Naruto, apa hari ini kau luang? Ada toko roti yang baru buka, dan aku ingin mengajakmu ke sana?
Pesan singkat dari Itachi, yang malah membuatnya jadi tidak enak hati. Saat ini ia sedang sakit dan tidak mungkin baginya untuk bisa menerima ajakan pria tersebut.
To : Itachi
Maaf Itachi, saat ini aku sedang sakit, jadi tidak bisa menemanimu.
Send
Selesai mengirim pesan, suara langkah kaki Tsunade terdengar di lorong menuju kamarnya.
"Naruto, ini minumnya. Cepat minum obatmu." usai berucap dan menyerahkan gelas berisi air Tsunade segera kembali keluar kamar.
.
.
.
Semangkuk bubur di atas nakas mengepulkan asap. Aroma khas makanan tersebut menyeruak ke seluruh penjuru kamar menggelitik indra penciuman untuk mencicipi.
Pemuda pirang di balik selimut masih tetap dalam posisi semula, tidak berminat akan makanan di atas nakas yang terus menggodanya. Demam yang di deritanya membuatnya tidak nafsu makan sama sekali.
Tsunade berdiri di samping tempat tidur dengan salah satu tangan berkaca di pinggang. Alisnya menukik tajam melihat tingkah Naruto. Ia sadar kalau orang sakit pasti akan kehilangan nafsu makan, bahkan meskipun yang ada di depannya adalah makanan kesukaannya. Tsunade mengangkat tangan kirinya dan melirik jam yang terpasang di sana.
"Naruto, aku harus kembali ke rumah sakit sekarang juga. Pastikan kau memakan buburmu dan menghabiskannya. Bila terjadi sesuatu segera hubungi aku. Kau mengerti?"
Pemuda itu hanya menggumam.
Tsunade mengambil barang-barangnya. Ia bersiap melangkah keluar, tubuhnya berbalik sesaat hanya untuk melihat keadaan Naruto. Kedua kakinya melangkah mendekati pemuda itu, handuk basah di atas kening disingkikan dan mendaratkan kecupan singkat di kening yang terasa panas.
"Beristirahatlah. Aku akan kembali lagi nanti."
Pemuda itu menggeliat sesaat. Tsunade tersenyum kecil. Ia mulai melangkah keluar kamar dan menuruni tangga. Tepat saat ia membuka pintu depan rumah tersebut dirinya dikejutkan oleh sesosok laki-laki yang berdiri di depan pintu dengan napas yang terputus-putus. Beberapa bulir keringat hinggap di wajah dengan kulit putih itu. Terlihat jelas bahwa pria di depannya tergesa-gesa menuju kemari.
"Siapa kau?" tanya Tsunade pada sosok di depannya.
"Perkenalkan, saya Uchiha Itachi, teman dari Naruto. Saya dengar Naruto sakit, jadi saya kemari."
Tsunade menyipitkan mata. 'Uchiha?' batinnya. Tsunade memang pernah mengenal seorang Uchiha secara langsung dan beberapa Uchiha lainnya dari bocah pirang di dalam kamar sana. Namun itu dulu, sekarang ia tidak pernah lagi melihat seorang bocah Uchiha dengan model rambut unik yang selalu bersama Naruto, entah apa yang terjadi. Dan pemuda di depannya ini tidak pernah ia lihat sama sekali, Naruto juga tidak pernah menceritakannya.
"Hm, Benar. Masuklah. Dia sedang berada dalam kamarnya di lantai dua tepat sebelah kanan setelah menaiki tangga."
Itachi tersenyum senang, "Terima kasih."
Tsunade mengangguk sebagai balasan. Saat Itachi akan berjalan masuk, ia kembali bersuara, "Ah, tunggu!" pemuda itu menatapnya, "Bisa kau pastikan anak itu memakan buburnya? Aku tidak ingin anak itu semakin sakit karena tidak makan."
"Tentu." Itachi menunduk, lalu menuju kamar Naruto di lantai dua.
.
.
.
Naruto merasa kelopak matanya sangat berat sepeninggalnya Tsunade tadi. Mungkin ini karena obat tadi, pikirnya. Tepat beberapa detik setelah matanya terpejam Naruto kembali terlelap. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ia kembali terusik akan sesuatu yang menyentuh keningnya. Sentuhan itu membuatnya merasa nyaman.
'Hangat.'
Naruto menyadarinya, ia tahu suhu itu bukan berasal dari demam yang dideritanya, tapi sesuatu yang lain, seperti seseorang.
Tapi, siapa?
Kelopak mata itu perlahan terbuka. Pandangannya sedikit mengabur, namun ia tahu ada seseorang yang berdiri di samping tempat tidurnya. Laki-laki. Dengan helaian rambut hitam yang membingkai wajahnya.
Naruto mengutuk penglihatan yang belum jelas. Ia ingin memastikan apakah penglihatan benar atau salah. Karena, sosok laki-laki di depannya itu terlihat seperti—
Sasuke.
Bibir pucat itu tergerak untuk mengucapkan sebuah nama. "Sa—"
"Naruto, kau sudah bangun?" sebuah suara menginterupsinya
Ah, suara itu. Berbeda, namun terdengar hampir sama dengan seseorang yang sempat terbesit dalam pikirannya. Ia tahu siapa sekarang yang berada di dekatnya.
"Itachi?" suaranya terdengar pelan.
Itachi tersenyum kecil. "Ya, ini aku. Tadi aku segera ke sini saat kau bilang kalau kau sakit."
Pandangan Naruto akhirnya cukup jelas untuk bisa melihat senyum kecil di wajah itu.
"Kau belum memakan makananmu?" Itachi kembali berucap saat ia melihat semangkuk bubur yang masih hangat.
Naruto hanya menggeleng, terlalu lemas hanya untuk berucap.
"Kau harus memakannya sekarang sebelum dingin."
Kepala itu kembali menggeleng.
Itachi menghela napas melihat tingkah Naruto. "Kau bisa semakin sakit jika tidak makan. Aku akan membantumu menyuapnya."
Naruto terdiam sejenak untuk berpikir. Tangannya kemudian tergerak untuk menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuh itu bangkit perlahan sambil menahan nyeri di kepala. Punggungnya ia senderkan pada ranjang. Selimut kembali ditarik untuk menutupi tubuhnya.
Itachi tersenyum melihatnya. Tangannya tergerak untuk mengelus surai pirang Naruto.
"Anak pintar." ucapnya.
Sepasang safir hanya melirik kearah lain ditambah dengan ekspresi cemberut di wajah tan itu.
.
.
.
Suara detik jam terdengar jelas di kamar yang minimalis itu. Sang pemilik rumah terlihat tengah tertidur di atas kasurnya, sedangkan sang tamu hanya duduk diam di sampingnya. Dari balik jendela keluarga Namikaze itu matahari terlihat berada di puncak singgasananya.
Itachi melirik jam tangannya, jarum pendek sedikit melewati angka dua belas dan jarum panjang hampir menyentuh angka lima, terhitung sudah sekitar dua setengah jam ia berada di sini. Handphone di saku jasnya tiba-tiba bergetar, sebuah panggilan masuk terlihat di layar itu. Itachi menjauh dari samping ranjang sebelum mengangkat panggilan tersebut.
Setelah merasa bahwa jaraknya cukup jauh dan tidak mengganggu tidur pemuda di atas ranjang, Itachi lantas menekan tombol jawab.
/BAKA ANIKI!/
Suara yang keras dan mengandung umpatan tersebut sanggup membuat Itachi menjauhkan handphonenya untuk sesaat. Bahkan sebelum ia berucap, adiknya itu sudah mengatainya terlebih dahulu.
/Dimana kau sekarang, hah?! Kau tahu sendiri kalau hari ini kakek akan datang. Jadi cepat pulang sekarang juga!/
Diucapkan lantang dan sarat akan kekesalan. Itachi hanya bisa memutar mata malas menghadapi tingkah adiknya.
"Ya, aku mengerti. Aku akan pulang sekarang. Lagipula kau tidah harus berteriak dan mengataiku hanya untuk menyuruhku pulang."
/Tch,/
Tepat setelah decihan itu sambungan diputuskan secara sepihak. Alis Itachi berkedut menahan kesal.
"Heh, tidak sopan. Yang benar saja."
Dengan kekesalan Itachi memasukan kembali handphonenya ke dalam saku. Ia berbalik, dan dapat dilihatnya sepasang safir menatap heran. Naruto sudah terduduk di atas kasur. Bibirnya sudah tak sepucat sebelumnya, badannyapun tidak selemas beberapa saat yang lalu.
"Itachi, ada apa?" tanya Naruto.
"Bukan apa-apa, hanya adikku. Ngomong-ngomong bagaimana keadaanmu?" Itachi berjalan mendekat ke ranjang.
"Sudah lebih baik."
Salah satu tangan terangkat menyentuh kening pemuda yang berada di ranjang. Suhunya sudah tidak sepanas seperti saat ia pertama kali menyentuhnya. "Hmm... seperti benar. Baguslah kalau begitu. Kurasa sekarang aku bisa pulang dengan tenang."
"Maaf aku jadi merepotkanmu, Itachi." Naruto berucap, suaranya terdengar sarat akan penyesalan karena telah menyita waktu pria itu.
Senyum mengembangkan di wajah Itachi, "Tidak masalah."
"Um... apa perlu aku antar sampai keluar?"
"Tidak perlu. Kau beristirahat saja." tangannya mendorong bahu Naruto agar kembali berbaring. Selimut ditarik sampai sebatas dada pemuda itu. "Semoga cepat sembuh." lanjutnya kemudian.
Naruto hanya menatap dalam diam Itachi yang berjalan keluar. Suara mesin mobil yang menyala di depan rumahnya menjadi pertanda kepergian pria itu. Suasana kamar itu kembali sunyi. Naruto ingin sekali kembali menutup matanya, namun ia sudah terlalu banyak tidur ditambah lagi sebuah tanda tanya besar yang baru saja hinggap di pikirannya membuatnya terjaga.
Suara samar seseorang di dalam telepon tadi, sepertinya ia mengenalnya. Ataukah itu hanya imajinasinya saja.
.
.
.
Kediaman Uchiha hari ini berbeda. Bukan, bukan berbeda pada tampilannya, justru kediaman itu masih terlihat sama seperti sebelumnya. Tidak ada ornamen maupun hiasan-hiasan layaknya pesta. Yang berbeda hanya pada orang-orang yang berada dalam rumah itu. Beberapa pelayan berjejer rapi di depan rumah mewah. Keluarga inti Uchiha berdiri di depan pintu untuk menyambut seseorang yang akan segera tiba. Di depan sana terdapat sebuah mobil hitam melaju melewati gerbang kediaman tersebut. Mobil itu berhenti tepat di depan keluarga itu. Seorang pria berumur dengan tongkat di tangannya dan rambut yang sudah ditumbuhi uban keluar dari sana. Para pelayan secara otomatis menunduk hormat.
Fugaku sebagai kepala rumah tangga berinisiatif terlebih dulu menyambut.
"Selamat datang, ayah." Ia menunduk hormat dan diikuti Uchiha lainnya. "Bagaimana perjalanan Ayah?"
Uchiha Madara, senior keluarga Uchiha terdiam dan menatap keluarganya satu-persatu. "Biasa saja, tidak ada yang terlalu menarik." menantu perempuannya tersenyum sambil menawarkan diri untuk menuntunnya berjalan. Madara menerimanya, dengan dituntun Mikoto, ia melangkah memasuki rumah.
"Ayah pasti lelah selama perjalanan. Apa ayah ingin beristirahat terlebih dulu? Kamarnya sudah disiapkan." satu-satunya wanita dikeluarga itu menawarkan dengan lembut.
"Tidak perlu."
Mikoto kembali tersenyum, "Baiklah."
Suara langkah kaki Madara terhenti di balik pintu. Matanya menerawan ke sekitar, mengamati satu-persatu sudut ruangan tersebut. Pandangannya terhenti pada lemari di dekat jendela.
"Mikoto," suara tegas itu mengalun pelan.
"Ya?"
"Lemari itu tidak seharusnya kau letakkan di sana, menghalangi cahaya matahari."
"Akan kuminta pelayan memindahkannya nanti." seperti yang ia harapkan dari pria yang menyukai keteraturan. Ayah mertuanya itu memang tidak suka dengan sesuatu yang tidak pada tempat seharusnya. "Karena ini sudah masuk waktu makan siang, bagaimana jika kita makan bersama?" tanya Mikoto.
"Hn, baiklah."
"Kalau begitu, Sasuke, Itachi!" Mikoto berpaling pada kedua putranya yang ada di belakangnya. "Tolong bantu kakek kalian ke ruang makan."
Kedua bersaudara itu berniat melakukan apa yang dikatakan ibu mereka, namun suara pria paruh baya itu menginterupsi.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri."
"Tentu." Mikoto berjalan lebih dulu menuju dapur untuk menyajikan makanan di atas meja.
Makan siang itu berlangsung dengan tenang, tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk berbicara. Keluarga Uchiha dari dulu memang selalu menekankan agar menjaga tata krama saat makan. Piring-piring kotor mulai dibersihkan dari atas meja dan gantikan dengan beberapa hidangan penutup.
Mereka masih menyantap apa yang tersaji di depan mereka dengan tenang tanpa ada yang berbicara, bahkan meskipun waktu makan siang sudah dilewati.
"Ehem," suara deheman dari Uchiha tertua yang berada paling ujung meja makan mengalihkan perhatian beberapa Uchiha di sana.
"Bagaimana keadaan kalian?" kalimat itu menjadi persetujuan bagi Uchiha lain untuk mulai berbicara
"Kami baik-baik saja." jawab Fugaku. Ia sadar kalau pertanyaan sebelumnya hanyalah sebuah formalitas, ayahnya itu selalu mengirim orang agar bisa memberikan informasi mengenai perkembangan mereka. Jadi, tanpa bertanyapun ayahnya pasti sudah tahu keadaan mereka.
"Lalu Perusahaan?" orang tua itu kembali bertanya.
"Itachi sudah berhasil menjalin kerjasama dengan sebuah perusahaan luar negeri dan Sasuke saat ini sedang membangun proyek baru di luar kota." Fugaku berucap dengan tenang.
Madara mengangguk bangga, "Kau sudah mendidik anakmu dengan baik, Fugaku. Dan untuk kalian berdua, kerja bagus. Teruslah pertahankan."
Itachi mengangguk sebagai balasan, sedang Sasuke mengguman pelan menanggapi, tidak berminat akan pembicaraan kedua orang itu.
Suara yang tiba-tiba terdengar dari salah satu sisi meja mengagetkan beberapa penghuni yang berada di sana. Sasuke merutuk dalam hati akan kelupaannya untuk menurunkan volume handphonenya. Ia mengucapkan maaf akibat gangguan yang disebabkannya, mengecek sesaat pesan yang masuk, dan kemudian kembali memasukan benda itu ke dalam sakunya.
"Dari siapa, Sasuke?" Mikoto yang berada di seberang meja Sasuke bertanya.
"Sakura."
"Kenapa tidak kau balas?" Mikoto bertanya heran.
Sepasang onyx pemuda itu menatap ibunya dan melirik sekejap pada pria berumur di ujung meja makan yang ternyata balas menatapnya. "Nanti saja."
"Heee... memangnya tidak apa-apa memperlakukan kekasihmu seperti itu?"
Dengan tenang Sasuke menjawab, "Tenang saja, Sakura tidak akan marah. Dia tahu kalau hari ini aku ada acara keluarga."
Mikoto tersenyum kecil. "Hm, begitu~"
Madara memperhatikan interaksi ibu dan anak itu, ia meminum air di gelasnya, dan kemudian suaranya kembali menggema di dalam ruangan. "Jadi, kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang saat ini?"
Sasuke sempat tersentak kecil saat mengetahui pertanyaan itu dilontarkan padanya. Ia mencoba menenangkan diri, berbicara dengan kakeknya memang selalu membuatnya tidak nyaman, terlebih pada aura mengintimidasi yang dikeluarkannya, yang selalu menuntut lawan bicaranya untuk patuh.
"Ya." jawab pemuda itu singkat.
Kaket tua itu mengangguk paham.
"Lalu, bagaimana denganmu sendiri Itachi?"
Ohok!
Itachi tersedak kue yang dimakannya, membuat Mikoto meringis kasihan dan Fugaku menutup mata sambil menghela napas. Di sisi lain meja Madara memicingkan mata melihat sikap Itachi barusan.
"Maaf," Itachi meneguk air dari gelas miliknya, membersihkan sisi bibirnya dan kemudian kembali berucap, "Saat ini tidak ada."
"Hn, begitu." Madara menyatukan tangan di atas meja, "Itachi, kau tahu kalau umur manusia itu tidak panjang, dan keluarga kita membutuhkan keturunan untuk mewarisi perusahaan. Lagipula, apa kau tidak merasa kasihan pada orang tuamu yang menginginkan seorang cucu."
Suara itu terdengar sarat akan sebuah perintah terpendam. Itachi terdiam mendengarkan. Fugaku dan Mikoto pun hanya bisa diam saat mendengar itu, mereka tidak bisa melawan kata-kata ayah mereka untuk bisa mendukung Itachi.
"Sebaiknya kau segera mencarinya. Dan pastikan orang itu tidak akan mencoreng nama keluarga kita." Madara menekan kalimat terakhirnya, matanya menyipit tajam.
Itachi terdiam beberapa detik, dan kemudian menjawab, "Aku mengerti." nadanya mengalun dengan datar
Madara mengangguk, "Bagus. Aku sudah selesai, jadi aku akan ke kamar sekarang." kursi di dorong ke belakang, tangannya mengambil tongkat dengan ukiran unik yang tergeletak di sampingnya, dengan dibantu tongkat itu ia berjalan menjauh.
Itachi mencoba menahan kesal. Jika dulu ia selalu dijejali dengan tata krama, kemampuan dan pekerjaan, sekarang orang tua itu mengganggunya dengan urusan pasangan dan keturunan. Walaupun pria itu adalah kakeknya, terkadang Itachi menaruh rasa tidak suka akan sikap yang laki-laki itu tunjukan.
"Itachi," suara lembut seorang wanita menarik perhatiannya.
"Kau tidak perlu memikirkan perkataan kakekmu. Sebaiknya kau lakukan saja apa yang kau suka sekarang. Kami berdua saat ini tidak terlalu memikirkan masalah cucu, bagi kami melihat kalian menikmati hidup kalian itu sudah cukup bagi kami sekarang ini. Bukankah begitu?" kalimat terakhir dilontarkan pada sang suami yang duduk di sebelahnya. Fugaku yang menyadarinya mengangguk sambil meminum tehnya. Senyum yang menenangkan terbit di wajah wanita itu.
Itachi tercengang, "Terima kasih, Kaa-sama." senyum simpul ia tunjukan pada ibunya agar wanita itu tidak perlu khawatir. Namun, di balik meja makan, sepasang tangan putih itu mengepal erat.
.
.
.
TBC
.
.
.
a/n : Uhuk, mm... sepertinya ini sudah setahun, ya. Dan mungkin udah ada yang lupa sama ini fic. Hehehe... maaf karena tiba-tiba hiatus lama. Karena banyaknya urusan di dunia nyata yang harus dikerjakan jadi nggak sempat buat update, dan sekarang akhirnya bisa dapat sedikit waktu luang buat lanjutin cerita ini. Terima kasih untuk : sriwarhani91, Ryuu Sakamaki, Harukichi Arakida, usaginohime99, aki, , YongJin1106, Aiko Vallery, aiko4848, eldergrayskull, fatan, Janely591, Habibah794, Guest (1), princess UN, Classical Violin , kuraublackpearl, guest ny guest, mimi, .3, rheafica, Guest (2), aka-chan, mariaerisa, dan yuma. Maaf kalau ada nama yang salah dan ketinggalan. Dan juga maaf ya nggak bisa balas kali ini bagi yang review, badan udah pegel-pegel dan nggak sanggup ngetik lagi, jadi maaf ya! sekali lagi, terima kasih atas dukungan!
