" Sei-kun, kau mau mengajakku kemana ? "
Kuroko merasa bingung sendiri. Ia pergi dengan Akashi menaiki mobil ke suatu gunung yang tidak ia ketahui. Kemudian berhenti disuatu tempat dan memasuki hutan. Sungguh ia tak tahu apa yang dipikirkan Akashi. Mereka terus berjalan melalui jalan setapak. Kuroko diam – diam merasa khawatir, kenapa Akashi mengajaknya ke tempat ini ? Jangan – jangan Akashi mau bertindak tidak baik disini ? Atau yang paling buruk, Akashi mulai lelah dengannya dan bermaksud membunuh atau meninggalkannya disini. Setega itukah ? Oke, kau mulai paranoid sendiri, Kuroko. Akashi hanya murni membantu mencari inspirasi untukmu kok.
Bab 2 siap
Selamat membaca ...
Tiba – tiba langkah Akashi berhenti, membuat Kuroko yang sedang konflik batin hampir menabrak punggung yang ada di depannya. Akashi yang menoleh membuat Kuroko sempat tersentak, menggigil ketakutan. Akashi yang memperhatikan pun bingung, apa yang membuat Tetsuyanya ketakutan ?
"Tetsuya." Panggil Akashi.
" A-ah. Iya, Sei-kun ? " Jawab Kuroko dengan bibir bergetar. Kuroko merutuki suaranya yang sedikit bergetar, membuat Akashi semakin terpaut heran. Namun, Akashi pada akhirnya mengabaikan hal itu, dan menautkan kembali genggaman jari mereka yang sempat tertunda.
" Kita sudah sampai. "
Kuroko mengerjapkan matanya berulang kali. Mata Sapphire nya berbinar takkala menatap air yang mengalir dengan indah dengan nuansa alam yang asri. Air terjun. Obyek itulah yang kini menjadi pusat perhatian penuh si baby blue. Kaki kecilnya refleks berjalan mendekati aliran sungai yang tenang dan jernih dibawah naungan air terjun tersebut. Ia menutup matanya rileks ketika tangan kanannya ia celupkan pada air, suhu udara pada air itu secara perlahan merambat ke tangan putih pucat itu. Bebatuan - bebatuan disekitarnya nampak menghiasi setiap sudut jarak pandangnya ditambah tumbuh - tumbuhan di sela - selanya. Kuroko sempat melupakan eksistensi sesosok iris heterocrome di belakangnya. Sontak saja makhluk membubarkan merah yang tak lain adalah Akashi langsung mendekati kekasihnya yang masih asyik di dunianya sendiri.
Tangan Akashi kini merengkuh hangat pinggang Kuroko yang tentu terkejut dengan aksinya tiba – tiba. Salahkan Kuroko yang bisa – bisanya sempat melupakan dirinya.
"Tetsuya."
Kuroko bergidik.
" Iya, Sei-kun ? " Bergidik atau apa pun, wajah datar khasnya tak akan mudah hilang begitu saja. Ia tak menoleh pada sang kekasih yang ia yakini kini tengah mengendus lehernya.
" Aku bisa kesal loh kalau kau abaikan begitu saja... " Nada merajuk keluar dari sang surai merah. Kuroko hanya terkikik geli, mengingat kekasih yang selalu merasa absolut dan dingin ini menjadi kekanak – kanakan ketika hanya bersamanya.
" Maafkan aku, Sei-kun. Bongkahan batu – batu disini seperti telah ditata rapi disisi aliran sungai ini. Warna air ini juga sangat jernih dan sejuk, aku sangat suka. " Tangannya memegang tangan akashi yang merengkuh pinggangnya, tanda membalas perlakuan lawan bicaranya.
" Benarkah ? Syukurlah, Tempat ini indah sekaligus dapat menghilangkan depresi dan menambah ide bukan ? " Tanya Akashi dengan tangan masih setia merengkuh pinggang makhluk manis di depannya. Ingatkan Akashi untuk mengabadikan moment ini di kameranya.
" Iya. Ini benar – benar indah, Sei-kun. Terima kasih. " Ucap Kuroko tulus seraya menoleh memamerkan senyum termanis yang ia miliki. Akashi sempat menutup hidungnya.
Akashi butuh tisu saat ini juga.
Mereka masih diam tak bergeming, tidak bergerak dari posisi mereka, sebelum Akashi bersuara menggoda " Aku jadi ingin menciummu, Tetsuya. "
Mendengar ucapan blak – blakan tepat ditelinganya membuat semburat merah muncul di kedua pipi tembem berkulit pucat itu. Secara reflek ia menoleh kebelakang dan───
" Mmmhh ..!"
── Akashi mencium bibirnya.
Akashi tak menyia – nyiakan kesempatan yang ada. Ia mengulum hangat bibir manis dihadapannya. Lidahnya mencoba menerobos masuk ke dalam mulut sang kekasih, meminta persetujuan. Kuroko yang sempat terkejut perlahan memejamkan mata dan membalas, membuka pintu masuk. Badannya berbalik dan merangkul pemuda yang masih mencumbunya. Peraduan lidah tak terelak lagi, masing – masing tak ada yang mau mengalah sebelum kuroko mulai kehabisan nafas, membuat Akashi mendominasi permainan. Menyadari korbannya mulai kehabisan nafas, Akashi melepas cumbuan yang memabukkan itu.
Baru saja Akashi akan melanjutkan kegiatannya, tiba – tiba...
tes...
Cuaca berkehendak lain. Hujan secara mendadak mengguyur area Akashi dan Kuroko saat ini. Akashi segera menarik lengan Kuroko.
" Aku tau tempat teduh di dekat sini. "
Setelah mengatakan itu, Akashi menarik Kuroko ke arah air terjun. Mata kuroko membulat sempurna, jangan katakan Akashi akan menerjang air terjun itu ? Oh, mereka bisa – bisa basah kuyup. Itu benar – benar gila!
Untungnya, Akashi tidak segila itu, ternyata ada jalan lain yang mengarahkan ke balik air terjun. Dan di balik air terjun itu terdapat sebuah gua yang cukup luas. Setelah memasuki gua itu cukup dalam, mereka memutuskan untuk duduk berhimpitan sembari menunggu hujan reda.
" Sei-kun ? Kenapa kau bisa tau tempat seperti ini ? " Tanya Kuroko heran. Pandangannya yang daritadi menuju ke batu yang ada didepannya kini beralih menatap wajah berparas tampan disampingnya. Matanya memancarkan rasa penasaran penuh tanpa keraguan. Akashi yang daritadi terdiam (dan sedikit – sedikit melirik Kuroko), mulai angkat bicara.
" Dulu aku pernah mensurvey daerah sekitar sini dan aku pun menemukan air terjun yang menawan ini saat menjelajah. Karena sifat penasaranku, aku pun mulai mengamati dan berkeliling lebih dalam lagi dan akhirnya menemukan gua ini. " Jelasnya panjang lebar.
Kuroko pun mengangguk tanda mengerti. Diam – diam akashi mengamati pemuda didepannya yang cukup dikatakan basah kuyup. Pakaiannya yang berwarna putih polos itu berubah menjadi transparan dan memperlihatkan badan lelaki mungil itu beserta kulit putih pucatnya. Pandangan 'wah' yang di dapat oleh Akashi tentu membuatnya membayangkan sesuatu yang 'iya – iya' saat itu juga.
Oi, Sadar Tempat oi.
Saat itu juga Akashi menggeleng2kan kepala, hari ini pikirannya benar – benar terlalu berfantasi liar. Rasanya ia ingin menjedukan kepala nya ke dinding terdekat dan benar – benar melempar gunting ke Aomine. Tenang, seorang Akashi tidak sebodoh itu untuk melukai dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya.
Tapi mungkin ia benar – benar berniat melempar gunting ke Aomine.
Disisi lain di suatu tempat Aomine merasakan bulu kuduknya merinding.
Kembali ke tempat pasangan AkaKuro. Akashi mulai menghilangkan semua lamunannya dan bertekad menahan semua godaan itu hingga ia dan Tetsuyanya sudah kembali ke rumah nanti.
Oh... Ditunda toh.
Angin yang mengalir masuk ke goa menerpa kedua orang yang tengah bergumul mencari kehangatan ini. Tanpa dikomando, Kuroko tiba – tiba bersin dan merasakan suhu disekitarnya menurun. Akashi yang kelewat peka pun menyadari gerak – gerik aneh orang disampingnya. Menyadari baju Kuroko yang benar - benar basah, jelas Kuroko merasa kedinginan. Akashi pun melepas jaket hitamnya dan memakaikannya ke tubuh ringkih kekasihnya. Tubuh Kuroko pun ditarik dan direngkuh hangat, dipeluk dengan lembut seakan – akan Kuroko adalah sosok berharga dan rapuh, yang jika diperlakukan sembarangan bisa hancur sewaktu – waktu.
Kuroko yang mendapatkan kehangatan itu pun tidak menolak perilaku Akashi. Ia mencoba menyamankan diri dan menyandarkan kepalanya ke dada bidang Akashi. Aroma mint mulai masuk ke indra penciumannya. Betapa Kuroko ingin waktu agar berhenti lama, Kuroko benar - benar merasa nyaman berada di posisi ini. Kuroko pun memejamkan matanya. Efek begadang mulai muncul saat ini dan kini ia mulai terbuai dalam mimpinya. Sebelum ia benar - benar terbuai, Kuroko menyempatkan diri untuk mengatakan teriakan hatinya.
" Aku mencintaimu, Sei-kun " bisiknya pelan.
Akashi sempat terperanjat ketika mendengar kata - kata itu terlontar mulus ke gendang telinganya dari bibir pucat makhluk direngkuhannya. Senyum tulus mulai muncul dari bibir Akashi, mulutnya mulai berucap tepat ditelinga sang kekasih.
" Aku juga mencintaimu, Tetsuya. Selalu. Dan selamanya. "
.
.
.
Malamnya Kuroko Tetsuya langsung berkutat pada laptop tercintanya. Ide mengalir deras sehingga untuk beberapa jam lamanya ia tak ingin diganggu. Deadline besok pagi. Ia melirik jam sekilas, jam 00.14, masih ada waktu sekitar 7 jam 46 menit sebelum jam 8 pagi. Segelas kopi lagi – lagi menemaninya di sebelah kiri meja. Mata tetap fokus, seakan – akan tak peduli jika ada badai menerjang atau gempa mengguncang tempat tinggalnya.
' Selesaikan atau deadline menghantui 'Kalimat itu terngiang dipikirannya.
Kondisi masih hening sebelum sebuah suara masuk ke gendang telinganya,
"Tetsuya."
Ia kenal suara itu, tanpa berbalik ia pun menjawab "Iya, Sei-kun?"
Akashi berdengus. Kalau sudah begini kekasihnya pasti lebih memilih memandang layar laptopnya ketimbang wajahnya yang tampan dan menawan sehabis mandi ini.
Akashi mendadak narsis.
"Inikah upahku setelah memberimu ide? Hadiahku mana Tetsuya?" Akashi mencoba menarik perhatian sang mungil yang masih betah mengetik.
" Sebentar, Sei-kun, tugasku belum selesai.. " Kuroko mulai bernegoisasi, berharap kegiatan keramatnya tak terganggu.
" Aku tak bisa menunggu... " Tangannya memegang dagu Tetsuya, memaksa agar wajah itu menoleh padanya. Sedangkan tangan yang satunya lagi bertumpu pada meja. Kedua wajah mereka perlahan mendekat. Semakin dekat hingga deru nafas masing – masing bisa di rasakan kedua belah pihak. Kedua bibir itu akan bertemu sebelum───
"Tuk" "Byurrr ..."
─── kopi kuroko tersenggol tangan Akashi dan tumpah ke laptop Kuroko yang kemudian langsung mati.
Mata Kuroko membulat sempurna. Tangan meraih tisu terdekat, membersihkan, dan mencoba menyalakan laptop.
Nihil. Tak bisa dinyalakan.
Kuroko terdiam. Sedangkan Akashi terdiam seribu bahasa sambil gigit jari. Ia sudah mulai merasakan atmosfer sekitar memberat dan aura gelap telah menyelimuti malaikatnya, yang kini ia yakini mulai berubah ke mode : iblis. Mampus.
"T-tetsuya .. Maafkan aku, aku──"
"Sei-kun."
Gulp. Air liur ditelan. Dia menunggu penilaiannya bahwa ia percaya merugikan.
Sambil tersenyum sangat manis. Kuroko melanjutkan,
" Tidak ada jatah selama 2 bulan ke depan. "
Setelah pendeklarasiannya itu, ia beranjak dari tempatnya, mengambil ponsel dan laptop milik Akashi, kemudian berpindah ke kamar sebelah yang berfungsi untuk kamar tamu meninggalkan Akashi yang masih mematung.
Tak ada jatah ?
2 bulan ?
NO! Ia sudah tak tahan akan pemandangan menggoda kekasihnya tadi siang, dan sekarang ia tak mendapat jatah ? hingga 2 bulan kedepan ?!
Akashi tak terima, bung. Akashi tuh ngga bisa diginiin.
Dengan secepat kilat ia mulai menyusul sang kekasih untuk membujuk dan mendapat debaman pintu tertutup dan terkunci. Akashi mengetuk dan tak berhenti membujuk sedangkan sang kekasih sibuk menelpon editor untuk minta perpanjangan sedikit waktu dan meminta maaf karena filenya menghilang.
Dan malam itu pun di hiasi tangisan Akashi yang tak mendapat jatah dan teriakan frustasi Kuroko karena deadline berkepanjangan.
.
.
.
" Sepertinya pengalaman ini cukup bagus untuk diceritakan." – Kuroko Tetsuya
END atau berlanjut?
