Perjalanan pulang dilanda keheningan di antara mereka berdua. Kuroko memang suka kesunyian dan ketenangan, tapi bukan dengan atmosfer canggung macam ini. Mobil melaju tentram, jalanan lancar dan tidak macet, bahkan bisa dikatakan sepi. Tidak ada penampakan setan atau hewan liar semacam kucing yang berkeliaran, jalan yang mereka lalui juga tidak berlubang sehingga nyaman ketika di lewati.
Lantas apa yang membuat sang Kaisar merah bertingkah dingin dan gusar ?
Bab 5 siap!
Harap Jangan Copy
Selamat membaca ...
"Sei-kun?"
Panggilannya pun diacuhkan.
"Sei-kun? Apa ada masalah?" Bukan Kuroko jika tidak keras kepala, ia masih memanggil nama kekasihnya tanpa henti, berharap ada salah satu panggilannya yang ditanggapi.
"Sei-kun, apa ada masalah?"
"Sei-kun, Kau mendengarkanku?"
"Seijurou-kun?"
"Apa kau marah, Sei-kun?"
" Sei-kun, tolong jawab aku.. "
" Apa ini salahku ? "
Pertanyaan semacam itu terus terlontar hingga mereka sampai ke tempat tinggal mereka. Kuroko membuntuti Akashi hingga mencapai ruang tamu, dimana si surai merah duduk angkuh dan Kuroko duduk di hadapannya. Kuroko mulai risau, kenapa kekasihnya sama sekali tak menjawabnya ?
Di sisi lain, dalam hati yang terdalam Akashi merasa khawatir dan galau. Ingatannya tentang kejadian 'Kuroko mencium Mayuzumi' terus terngiang di pikirannya. Ia tak habis pikir, kenapa Kuroko tega mengkhianatinya?
" Sei-kun, ada apa ? "
Akashi ingin sekali menanyakan ini, tapi entah kenapa hatinya masih terliputi emosi yang tinggi. Hatinya bimbang untuk menanyakan hal ini, jika ia bertanya, ia takut akan jawaban dari kekasihnya. Tapi jika tidak ditanya, rasa ingin taunya itu kan tinggi banget, yang ada ia tidak bisa tidur nanti malam.
"Sebenarnya ada masalah apa, Sei-kun?"
Jadi apa yang harus dilakukan Akashi ? Sejujurnya ia ingin menggunting botak kepala si Chihiro itu. Sayangnya mangsa udah ngacir duluan.
"Sei──"
" Cukup Tetsuya, aku butuh istirahat. Selamat malam. "
Akashi memilih mendinginkan pikiran dulu. Ia langsung memasuki kamar tamu dan menguncinya. Kuroko yang ditinggal hanya menatap heran dan tersakiti, ada apa dengan kekasihnya ? Mengapa Akashi-nya menjadi dingin seperti ini ?
Kuroko tau jika sudah begini sang emperor tak bisa diganggu. Ia hampir tak bisa berkata – kata, kepalanya tertunduk, menutupi kedua bola mata langitnya yang berubah menjadi mendung.
"Selamat malam, ... Akashi-kun."
Dan sepanjang malam itu, mereka berdua sama – sama tak bisa tidur.
.
.
.
Sudah 3 hari mereka berdiam diri, mereka jadi tak pernah bertemu walau satu apartemen. Kuroko lebih sering berdiam diri di kamar, sedangkan Akashi selalu berangkat terlalu pagi dari biasanya. Walau begitu, mereka masih mempedulikan satu sama lain secara tidak langsung. Akashi selalu meninggalkan sarapan untuk Kuroko di meja makan sebelum berangkat ke kantor, sedangkan Kuroko selalu menyiapkan makan malam sebelum Akashi pulang.
Tapi tetap saja mereka tidak makan bersama – sama. Entah kenapa mereka merasa ada tembok tak kasat mata di antara mereka. Jika hal ini dilihat dari sudut pandang orang lain, mereka terlihat kurang lebih seperti menyakiti satu sama lain.
Kuroko menganggap Akashi telah marah padanya (tanpa ia tahu sebabnya). Ia tak berani bertanya apa sebabnya karena ketika ia kebetulan mengintip lewat celah pintu di pagi hari, Akashi selalu terlihat menyeramkan (padahal karena orangnya kurang tidur dan banyak pikiran). Sedangkan Akashi sendiri menganggap Kuroko telah membencinya karena ia telah bersikap dingin di hari - hari lalu. Akashi benar - benar menyesal dan sedih karena melihat Kuroko menatapnya dengan tatapan takut lewat celah pintu (Ia sadar Kuroko melihatnya, dan tanpa diketahuinya, lagi - lagi itu adalah kesalah pahaman belaka).
Lagipula kenapa ia bodoh sekali sih ? Kenapa dirinya tak berani bertanya langsung ?
Intinya, keduanya sama – sama takut bertanya dan takut mendengar jawaban masing – masing.
Kalau gini caranya kan jadi ribet.
Mati aja sanah * digebukin akakuro shipper *
Tepat hari ke empat, Kuroko yang mengepel lantai sambil mendengarkan lagu " Nenchaku kei danshi no 15 nen nechinechi " di handphonenya terusik oleh suara dering bel pintu rumah, pertanda ada tamu yang minta dinotis . Air mata yang sempat mengalir melewati pipinya kontan dihapus dan tongkat pel disandarkan ke dinding terdekat. Dengan langkah pelan tapi pasti, ia segera membuka pintu guna melihat siapa tamu tak diundang di siang bolong begini.
"Kuroko-chi ~"
Surai kuning terlihat pertama kali di penglihatan ketika pintu dibuka, kemudian seluruhnya berubah menjadi gelap. Sebelum Kuroko sadar bahwa ia tengah dipeluk dengan eratnya, ada suara yang menginstrupsi atas kelakuan pemeluknya saat ini.
" Oi, Kise! Lepaskan atau kau akan membuat Tetsu menghembuskan nafas terahir! " Seseorang yang diyakini Kuroko sebagai makhluk dakian dengan mahkota biru alias Aomine Daiki mulai menarik kerah sang hyperaktif darinya. Kise Ryouta, sang copy cat hanya bisa meringis di tempat.
" Berisik sekali. Ah, Yo, Kuroko! " Si alis cabang ikut nimbrung, rambut bergadrasi merah dan hitam yang khas tlah membuktikan bahwa ia adalah seorang Kagami Taiga yang asli, bukan KW.
Oh. Tamunya ternyata si trio idiot.
" Apa yang kalian lakukan di sini ? " Kuroko ingat ia tak pernah membuat janji dengan teman – temannya ini. Ia menatap heran ketika makhluk yang masih nyengir tanpa dosa dihadapannya, tidak merasa bersalah telah mengganggu hari tenang milik Kuroko Tetsuya.
Untung Kuroko bisa memakhlumi.
" Kami hanya ingin mampir. Sudah cukup lama kita tidak bertemu kan, Tetsu ? " Aomine menyahut, senyum lima jari masih menghiasi wajahnya yang masih menghitam itu (untuk fans Aomine, jangan memukulku). Kuroko hanya bisa menghela nafas, " Kita sudah bertemu 2 minggu yang lalu, Aomine-kun. Lagipula apa kalian tidak bekerja ? "
" Kebetulan aku memang libur hari ini dan Aomine sedang tidak menangani kasus. Kise juga sedang mengambil cuti, dia pula yang mengajak kami ke sini. " Kagami yang memberi alasan, ia tahu duo kuning-biru itu pasti malas menjelaskan.
" Tak apa kan-ssu ? Ne, Kurok── " Si iris mata madu tak melanjutkan kata – katanya. Sepertinya hanya Kise disini yang peka akan keadaan Kuroko. Di mata Kise, Kuroko saat ini tak lebih dari mayat berwajah panda. Tubuh itu memucat, menjadi berwarna teramat putih. Kedua matanya dihiasi kantung mata yang agak menghitam pekat, ditambah lagi badannya jadi agak lebih kurus.
Kise langsung panik kuadrat.
" Kuroko-cchi! Apa yang terjadi padamu ?! Astaga, kau sakit ? " Kise langsung memegang kedua pipi dan memeriksa Kuroko dengan rasa kekhawatiran yang amat berlebihan. Kuroko mulai membuka suara dan terhenti akibat kedua orang di depannya ikut bersuara.
" Ah, aku baru sadar! Kuroko, kau jadi kurus! Maksudku kau memang kurus, tapi kali ini benar – benar parah! " Kagami ikut memeriksa Kuroko sekalian modus, tangan dingin itu digenggam. Niatnya kagami ingin memeriksa denyut nadinya gitu. Tatapan khawatir juga dilayangkan ke wajahnya Kuroko yang manis (walau rambutnya masih agak berantakan),
" Gez, apa yang dilakukan si psikopat merah itu hingga tidak memperhatikanmu seperti ini ? " Tangan Aomine mengelus rambut biru langit, mencoba ikut andil dalam memeriksa kesehatan dan memberi perhatian tulus untuk sang malaikat biru di Generation Miracle.
Kini Kise beralih merangkul si baby blue. Kise ingat, kaptennya itu pasti tak akan membiarkan 'primadona kiseki' ini jatuh sakit kalau tidak terjadi sesuatu di antara mereka. Dulu saja ketika Kuroko tak sengaja bersin dua kali berturut – turut dihadapannya, Akashi langsung memerintahkan para kisedai untuk segera membeli obat flu dengan baskom berisi handuk yang direndam air plus dengan teh hangat sebagai pelengkap. Ia ingat Kuroko menolak semua itu dan beralasan ia hanya bersin biasa.
Bukannya tenang dan percaya, Akashi malah mengira Kuroko terkena alergi atau penyakit semacamnya. Kemudian dengan seriusnya Akashi menelpon butlernya untuk menjemput serta mengantar Kuroko ke rumah sakit terdekat.
Ah, masa – masa yang heboh.
Beralih ke masa sekarang, Kuroko saat ini tengah menikmati susu vanilla hangat buatan Kagami barusan dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu. Kise ada di sampingnya dan dua orang sisanya duduk dihadapan mereka berdua. Tatapan ketiga orang itu seakan – akan tengah mengintrogasi si mungil lewat telepati.
" Andai kisedai lengkap di sini-ssu.. " Ucap Kise mengeluarkan isi pikirannya. Jika Kisedai lengkap, pasti akan lebih seru dan lebih mudah menyelesaikan masalah (yang belum diketahui) ini. Tapi mau bagaimana lagi ? Murasakibara berada jauh di Akita saat ini dan Kise ragu Midorima bisa datang saat ini juga.
Suasana sempat canggung setelahnya hingga dering bel pintu depan lagi – lagi berbunyi.
Siapa lagi sih !?
" Biar aku saja yang buka kan-ssu. " Kise beranjak membuka pintu dengan derap langkah terburu – buru. Ketika pintu terbuka, rambut hijau dan ungu menghiasi penglihatan sang model yang terlonjak.
"Murasakibara dan Midorima-cchi ?" Para manusia itu sama - sama terkejut. Tidak Semuanya sih, yang berambut ungu hanya memandang malas Sambil mengunyah keripik digenggaman dengan Khidmat tanpa ada rasa peduli sedikit pun.
" Kise-chin ngapain di sini ? " Suara dengan nada anak kecil keluar setelah keripik berhasil ditelan oleh sang titan. Yang berkacamata hanya berdengus karena pertanyaannya sudah dilontarkan. Dengan refleks ia masih berniat bertanya " Dimana Akashi ? Kenapa kau ada di sini, Kise? Mana Kuroko ?-nanodayo"
Kise tidak tau apakah ini kebetulan atau takdir, yang pasti ia senang para Kisedai dapat berkumpul sungguhan. Dengan ini ia bisa mendiskusikan permasalahan sang pujaan hati. Mengesampingkan niat untuk menjawab pertanyaan, niatnya Kise malah mau berteriak ' Wow, emejing banget kalian bisa di sini bareng! '
Tapi diurung, takut digeplak karena berbicara ngawur.
" Akashi masih pergi bekerja-ssu. Sebelumnya masuk saja dulu, semuanya sudah lengkap di ruang tamu-ssu. " Kise menutup pintu dan mendorong paksa kedua orang itu ke dalam, mengabaikan beratnya sang titan dan teriakan protes dari si lumut. Dengan riang ia berteriak " Minna, sekarang kita sudah lengkap! "
Yang ada di ruang tamu menoleh secara bersamaan. Kuroko memandang heran kedua orang baru yang masuk ke rumahnya. "Midorima-kun, Murasakibara-kun. Apa yang kalian lakukan di sini?" Kuroko mendadak merasa déjà vu.
" Aku hanya berniat mengambil kembali gunting merah bercorak milikku yang sempat dipinjam oleh Akashi. Itu adalah lucky itemku besok-nanodayo " Midorima membetulkan letak kacamatanya, padahal tidak miring atau bermasalah sama sekali. Murasakibara ikut menyahut " Kalau aku sedang mencoba makanan di warung dango dekat sini yang terkenal kelezatannya. Ketika akan pulang, aku tak sengaja bertemu Mido-chin. Karena sudah lama tidak pernah bertemu, aku ikut mampir ke sini. "
" Ngomong – ngomong, apa kau sakit Kuroko ? Bukannya aku peduli karena aku khawatir melihatmu pucat, tapi kau kini terlihat seperti mayat hidup-nanodayo. " Tsundere milik sang surai hijau masih belum menghilang rupanya. Kuroko hanya tersenyum sendu, kemudian menjawab " Tak apa, aku hanya tak enak badan. Terima kasih telah memperhatikanku. "
Tidak ada yang peduli ketika wajah si megane memerah tanpa sebab.
" Jadi, bisa kau ceritakan kronologi yang membuatmu seperti ini-ssu ? " Kise mendadak serius, berlagak layaknya detektif yang sedang mengintrogasi korban. Yang lain entah kenapa tidak ada yang protes dan turut memperhatikan si baby blue yang tetap memakai topeng datar.
" Aku hamil. "
"..."
Jangkrik pun berokestra
" HAH ? " Semua memasang wajah aneh, bahkan Murasakibara membanting keripiknya dan kacamata Midorima mendadak retak. Kuroko tidak berpengaruh sama sekali, kemudian melanjutkan " Aku hanya bercanda. "
Candaanmu membuat semuanya hampir terkena serangan jantung, Kuroko.
Gerombolan warna – warni itu menghela nafas. Kise sendiri hampir saja menggigit Aomine yang ada di sebelahnya sembari menangis Bombay sebelum mendengar pernyataan terakhir si kecil imut. Lagipula ngga lucu banget candaannya! Kise kan takut tidak bisa memeluk Kuroko lagi lantaran perutnya membuncit. Ditambah lagi itu tidak menutup kemungkinan sang mantan kapten akan bertindak menjadi lebih overprotektif.
" Yang serius, Tetsu. Kau membuatku, maksudku kami, jadi penasaran. " Setelah berhasil menggeplak dan menyadarkan makhluk berisik di sebelah yang hendak menggigitnya, Aomine berdengus.
Kuroko memasang wajah datar, tapi tatapannya berubah menjadi kelam. Hal ini tentu menarik minat para Kisedai untuk mendengarkan dan memperhatikan lebih seksama perilaku sang phantom sixth. Kuroko pun menjelaskan semuanya dari kejadian 'pergi ke taman bermain' hingga 'perjalanan pulang kelewat hening'
.
.
.
Usai Kuroko menceritakan apa yang terjadi (dari sudut pandangnya) ditambah dengan jeda minum air sejenak akibat kerongkongan yang mengering lantaran berbicara lebih banyak dari biasanya, para Kisedai hanya mengangguk tanda memahami. Tapi sejujurnya, mereka sendiri tidak tahu bagaimana untuk menyelesaikan masalah ini.
Bagaimana mau menyelesaikan masalah jika sang tokoh utama di sini tak tau sebabnya dan ini terjadi mendadak ?
" Jadi, semua ini di mulai dari sepulang kau dari taman bermain bersama si ... siapa tadi ? Mayo Shiro ? " Aomine mengulang pernyataan yang sempat masuk ke gendang telinganya, walau sempat melupakan nama orang yang baru diceritakan Kuroko tadi. Kuroko mengoreksi " Yang benar Mayuzumi Chihiro, Aomine-kun. "
" Bukankah berarti permasalahan terletak di situ-nanodayo ? " Eksistensi maniak oha asa yang duduk bersandar di sofa kini menjadi pusat perhatian orang di sekeliling. Kacamata di benarkan lengkap dengan tatapan ggs (garang garang serius). " Maksudku, mungkin saja Akashi cemburu kau dekat dengan editormu itu, Kuroko. "
' Ah, benar juga ' Seluruh orang terkecuali Kuroko dan Midorima memukul tangan, berposisi bahwa hal itu baru terpikirkan oleh mereka. Kenapa juga baru kepikiran ? Akashi kan orangnya posesif, berbagai kemungkinan bisa terjadi kan ?
" Tapi Sei-kun tidak akan sediam dan semenakutkan itu jika cemburu.. " Kuroko menyangkal sesuai fakta dan pengalaman yang ia ketahui. Yang lain hanya tersenyum kaku, si baby blue ini kan tidak tau tabiat asli si iblis merah ketika sedang cemburu. Bagai penjaga neraka gunting, mereka pernah setidaknya merasakan 'sedikit' dari neraka versi pemilik mata heterochrome itu dan menghasilkan trauma berat pada masing – masing kejiwaan mereka. Tetsuya mah apa, pasti kebagian aura bunga – bunga musim semi si psikopat melankolis itu.
" Tapi benar juga sih... Aka-chin pasti akan lebih memilih memotong hidup – hidup orang yang mendekati Kuro-chin daripada seperti ini. " Murasakibara lanjut mengunyah maibou dan meminum hidangan teh yang disajikan. Sisanya mengangguk setuju, dalam hati membenarkan perkataan bayi besar yang memang cukup dekat dengan si Akashi sendiri ini.
" Sebelumnya apa yang dilakukan Akashi, Kuroko ? " Mantan cahaya Seirin mengajukan pertanyaan. Sedari tadi dia diam menyimak dan akhirnya sedikit penasaran akan hal kecil yang terlintas di benaknya ini. Kuroko menoleh, menanggapi dengan jawaban yang tidak memakan banyak kalimat " Hmm.. Ia menerima telepon dari kantornya. Lebih tepatnya sekretarisnya. "
" Darimana kau yakin itu sekretarisnya ? " Kagami bertanya kembali atas kejanggalan yang ia rasakan. " Karena Sei-kun memang sering menerima telepon dari sekretarisnya, rata – rata tugasnya ia limpahkan ke sekretaris itu dan semua jadwal Sei-kun juga diatur secara keseluruhan olehnya. "
"Jangan - jangan Akashi-cchi selingkuh dengannya-ssu" Kise berceletuk atas pemikirannya barusan. Yang lain melotot padanya walau mungkin saja itu memang terjadi, sedangkan Kuroko sendiri hanya terdiam shock menyadari hal ini.
Hiks
Sang phantom tak tahan untuk tidak meneteskan air mata ketika berbagai hal yang 'jelas' tidak menyenangkan terlintas di benaknya. Mereka yang melihatnya menatap horror.
Mampus.
Jika di sini ada Akashi, mereka mutlak akan dibakar hidup – hidup saat ini juga.
"Ting tong" Suara bel berbunyi ketiga kalinya bersamaan dengan kegundahan hati para pria ini, yang lain menoleh dengan tertatih, berprasangka bahwa yang datang bukan tamu yang diharapkan. Bisa jadi itu Akashi sendiri.
...
' GUA MATI BENERAN NIH ? –SSU/NANODAYO! ' Teriakan hati bersenandung bagai ajal akan mendekat untuk mereka semua terkecuali yang sedang menangis saat ini (dan jika benar itu Akashi, ajal mereka benar – benar ada di depan mata). Kisedai mendadak kalang kabut tidak tahu harus melakukan apa dan semua menjadi panik tak terkendali.
Aomine dan Kise langsung melesat ke arah pintu tanpa dikomando, mencegah calon shinigami mereka masuk (mungkin). Yang tersisa mencoba membujuk dan menenangkan Kuroko yang masih terisak. Midorima sendiri bahkan memainkan boneka kelinci –yang kebetulan dibawa- di depan Kuroko, bermaksud menghibur serta merta membuang rasa tsundere demi menghindari maut yang menjemput. Kagami yang melihat kontan menahan tawa dan mendapat hadiah timpukan bungkus makanan dari si ungu.
Aokise sendiri kontan dengan paniknya (atau bodohnya) menggebrak pintu tanpa tahu wajah si tamu yang berdiri diam tak melakukan apa pun di depan mereka. Keduanya bersujud seraya berteriak meminta maaf hingga mengganggu tetangga sebelah.
" MAAFKAN KAMI! YANG MEMBUATNYA MENANGIS BUKAN KAMI, TAPI KAGAMI(CCHI)- (SSU) !"
Hening sesaat.
" TEME, ITU BUKAN SALAHKU ! " Orang yang disebut namanya lantas tak terima, membutuhkan jeda 20 detik untuk Kagami membalas teriakan dari dalam rumah sembari menyumpah serapah kedua orang tak bertanggung jawab tersebut.
" Hah? Siapa yang menangis ? "
Suara datar mengundang otak kedua orang yang bersujud itu untuk mendongak, melihat wajah si pemilik suara yang berbeda 'banget' dengan suara 'shinigami jadi – jadian' mereka. Mata mereka melotot ketika rambut abu – abu yang mereka kenal masuk ke indra penglihatan.
Entah angin darimana, rambut itu berkibas – kibas layaknya model ternama yang tengah difoto di pinggir pantai. " Kuroko Tetsuya ada ? Aku Mayuzumi Chihiro. "
Jeda beberapa saat.
" Haha...Ternyata Mayuzumi toh... Hahaha " Aokise kompak tertawa paksa, kemudian langsung memasang mimik serius dan beranjak menerjang lelaki di depan mereka dengan luapan emosi.
" JANGAN BIKIN KAGET DONG, SIALAN ! "
Kemudian Mayuzumi Chihiro pun dicekik hingga setengah mati oleh kedua mahkluk berbeda rupa detik itu juga.
.
.
.
" Jadi begitu... "
Pada akhirnya Mayuzumi ikut bergabung dalam perdiskusian kecil mengenai perubahan Akashi yang berdampak pada kesehatan Kuroko. Setelah mendengar cerita dari Midorima (tokoh utama sendiri baru selesai menangis dan menikmati vanilla milkshake yang dibeli Aomine dengan kecepatan zone), sang editor langsung mengangguk mengerti. Lagipula ia juga ada di dalam cerita itu, yang berarti dia sendiri bahkan melihat secara live kronologinya, terkecuali bagian akhir ketika ia buru – buru meninggalkan Kuroko karena ada urusan mendadak.
Ia sama sekali tidak menyadari bahwa pokok permasalahan ini adalah dirinya sendiri.
Mayuzumi kemudian menatap miris pemilik surai biru yang masih meringkuk di sebelah Murasakibara, tubuh ringkih itu benar – benar menjadi lebih kurus. Ini bahkan lebih parah dari peristiwa deadline 7 bulan yang lalu, dimana Kuroko hampir 'mati' akibat deadline yang terus terkikis jarak waktunya hingga membuat si kecil lupa makan dan minum.
Kali ini Kuroko benar – benar terlihat depresi.
Mau tak mau Mayuzumi merasa iba. Sisi kemanusiaannya memaksanya untuk membantu si mungil, ia secara otomatis ingin mengembalikan kebahagiaan gebetannya itu.
" Ini, Kuro-chin... " Tanpa disadari, ternyata Murasakibara sempat pergi dan mengambil selimut. Selimut berwarna biru muda itu diraih oleh tangan kecil yang mungkin memang merasa kedinginan seraya bersuara " Terima kasih, Murasakibara-kun ".
" Ngomong – ngomong, Mayuzumi-cchi ada urusan apa kemari-ssu ? " Kise mengalihkan topik sejenak, berniat merilekskan suasana yang sedaritadi terasa menegangkan. Yang ditanya menoleh, " Aku ingin mengambil naskah milik Kuroko hari ini. Panggilan teleponku tidak dijawab, jadi aku langsung datang kesini. "
Si biru langit tersentak, " Ah, maafkan aku.. naskahnya di atas meja itu, Mayuzumi-kun. "
" Biar kuambil sendiri.. " Mayuzumi beranjak dari sofa nyamannya menuju meja yang terdapat berbagai bingkai foto, yang tentu saja memajangkan foto – foto berisi kombinasi merah dan biru. Mayuzumi mengampit naskah di ketiaknya, kemudian tertarik untuk mengambil dan mengamati foto pajangan di salah satu pigura yang berjejer itu. Dengan senyum sendu yang tipis, mulutnya mulai berbicara kembali " Menurutku, Kuroko, entah kenapa Akashi tidak akan pernah berkhianat padamu, apalagi sampai selingkuh.. "
Titik fokus seluruhnya kini ada pada Mayuzumi, perkataannya dilanjutkan " Melihat matanya kemarin dan semua hal yang telah dia lakukan untukmu selama ini, aku tidak percaya ia akan berpaling darimu dengan mudah. "
" Kau dan dia sudah bersama selama bertahun – tahun. Kalian telah diikat oleh takdir, hati kalian benar – benar murni untuk satu sama lain. Kau itu... mencintainya kan ? " Mayuzumi lantas membalikkan badan, menghadap tepat ke arah si surai biru langit yang masih menatapnya.
" Jika kalian memang saling mencintai, maka berusahalah untuk saling memahami dan percaya satu sama lain. "
Semua mendadak bisu. Kuroko sendiri hanya terbelalak, kemudian tersenyum lembut.
' Apa yang telah kupikirkan tentang Sei-kun ? '
" Terima kasih, Mayuzumi-kun. Kau benar... Aku mencintainya, aku harus percaya padanya. " Dengan sedikit semu merah, Kuroko tersenyum lembut. Hampi membuat semua orang yang ada di sana ingin nosebleed saat itu juga.
" Tapi, bagaimana aku bertanya padanya ? Ia selalu menghindariku dan wajahnya selalu terlihat seakan – akan ia tak ingin diganggu.. Aku tidak tahu cara menyelesaikan ini jika tidak tahu masalah sebenarnya." Kuroko pudung kembali, yang lain langsung sibuk memutar otak agar si maniak gunting itu dapat bertemu langsung dan tidak menghindar dari Kuroko.
Mayuzumi masih berwajah datar, tapi hati bersorak bangga akibat quote mendadak yang baru ia buat. Ia berdehem, meminta perhatian kembali.
" Sebenarnya aku punya rencana... "
Bersambung ...
Akhirnya bisa update QAQ Rasanya something banget karena berhasil memasukan Kisedai ke dalam cerita walau maksa banget ;_; Jadi maafkan aku jika kelihatannya aneh dan ngga nyambung T_T
Ah iya, mumpung agak senggang *digeplak* aku akan mencoba menjawab beberapa review ^^
Kawaii Nyanko: Hehe, akhirnya aku bisa update, cepet kan ? *dibanting* Maaf baru bisa publish, Nyanko-san ;_; Semoga cerita ini dapat menghibur setidaknya sedikit kokoro anda XD dan tenang saja, konflik ini akan tetap berlanjut hingga 1 – 2 chapter ke depan :D Aku akan mencoba sebaik dan selucu mungkin, karena pastinya saya tidak mau Akakuro berpisah '3', terima kasih atas reviewnya!
Hatsune Shinju : Ini sudah di update :D Maaf jika telat dan kurang 'ngeh' ._. Kuusahakan selanjutnya akan kupublish lebih cepat ^^ Mohon doakan agar aku bisa cepat lanjut ;_; Terima kasih atas reviewnya!
Naruhina Sri alwas: Ini sudah dilanjut ^^ Terima kasih atas reviewnya! :D
LEAJ2530 : Akhirnya aku bisa update ;-; Haha XD Pertanyaan Leaj-san akan terjawab di 1 -2 chapter selanjutnya :D Yah, anda tau lah Akashi seperti apa, mungkin agak 'anu' hukumannya/hoi. Terima kasih karena telah mendukungku :') Aku akan berusaha sebaik mungkin, dan maaf jika ceritanya kurang absurd ._. Terima kasih atas reviewnya!
Cloudyeye : Hontou ? Terima kasih atas pujiannya XD Ini memang pertama kali aku membuat fanfict, tentang akakuro pula. Selama ini aku membaca berbagai genre dari Akakuro, dan aku akhirnya mencoba belajar membuatnya juga ^^ Iya, di sini entah kenapa aku nafsu banget ngebully Mayuzumi -3- *dihajar fans Mayuzumi* Jawaban dari pertanyaanmu ada di 1 – 2 chapter ke depan, jadi tolong bersabar ya :D Terima kasih atas reviewnya!
Terima kasih atas review – review minna-san XD Aku sangat senang dan menghargai itu :'D Selanjutnya aku akan mencoba lebih baik dan lucu lagi, tapi sepertinya yang selanjutnya akan sedikit nganu (?) jadi silahkan bersiap – siap dengan apa pun yang terjadi :D
Terima kasih juga untuk yang menyempatkan membaca^^ Mohon reviewnya jika berkenan :3
