Setumpuk dokumen terlihat menggunung di atas meja. Di sisi lain, suara ketikan keyboard terdengar seraya helaan nafas seseorang yang keluar. Akashi Seijurou tak pernah menyangka tugas di kantornya akan bertambah lagi hanya dalam kurun waktu 2 jam dan tiada henti menggodanya untuk menggoreskan tinta ke kertas putih bisu itu. Keadaan tubuhnya juga kurang baik saat ini akibat kurangnya waktu tidur (ia khawatir dirinya mulai terkena insomnia), ditambah lagi ia masih kepikiran mengenai permasalahannya dengan si baby blue.
Ah ... Dia sangat rindu pada malaikat birunya.
Bab 6 Siap!
Harap Jangan Copy
Selamat membaca...
Akashi menggeleng – gelengkan kepala, mencoba menghentikan lamunannya. Ia harus cepat mengerjakan semua pekerjaan laknat ini agar ia dapat segera pulang. Enggan ia akui bahwa ia pulang pun pasti tempat tinggalnya sekarang sangat sepi karena kekasihnya sering mengurung diri di kamar. Tapi dirinya juga ingin cepat pulang agar dapat membujuk si mungil untuk baikan.
Ya, Akashi akan memperbaiki hubungannya dan bertanya mengenai insiden 'itu'. Ia sudah tidak kuat untuk tidak bertemu atau berbicara dengan si surai biru langit walau baru berjalan 4 hari lamanya.
' 4 hari itu lama loh, sob ' begitulah isi hati Akashi.
Namun, AC yang menghembuskan udara dingin mulai membuat si surai merah merasa ngantuk. Sudah beberapa kali Akashi menguap, mencoba menghirup oksigen sebanyak – banyaknya demi mempertahankan kesadaran otak briliannya. Kepala itu sempat terantuk – antuk dan tangannya sempat mati rasa lantaran setiap sendinya telah terasa remuk. Entah itu karena pekerjaannya atau cobaan hidup tidak bisa mencium bahkan memeluk Tetsuya-nya. Lagipula, kenapa rasa ngantuknya baru muncul sekarang ?
Akashi Seijurou dipastikan sudah mengalami kelelahan Jasmani Dan rohani.
Mata dipaksa untuk tetap terjaga. Sedikit lagi tugasnya selesai dan dia akan dapat segera baikan dengan Kuroko walaupun kemungkinannya masih kecil. Yah, setidaknya ia ingin segera pulang ke kasur tercinta (sebenarnya dia lebih berharap Kuroko berada disampingnya ketika tidur). Tapi mau bagaimanapun, matanya tak sejalan dengan rencana yang ia susun saat ini. Tiba – tiba telinganya seperti menangkap bisikan – bisikan ghaib nista yang tak diketahui dalangnya,
"Tutuplah matamu ... Tidurlah ... Akashi Seijurou...
.
.
.
..., kalau bisa sampai selamanya... "
Kampret.
Damn. Seijurou merutuki jin mana pun yang telah berani berbisik macam itu. Jika jin itu memiliki wujud seperti Aomine Daiki, ia tak segan - segan melempar puluhan gunting sakti kebanggaannya sekarang juga. Terutama saat moodnya sedang buruk seperti ini, hukuman ganda dipastikan terealisasi detik itu juga. Lagipula, yang bisa menyuruhnya 'menutup mata selamanya' itu hanyalah Kuroko Tetsuya kesayangannya seorang.
Ya ngga begitu juga, Akashi... Kalo kubuat begitu, Kuroko akan menggunakan teknik ignite pass padaku sambil berderai air mata.
Menghiraukan hal itu, Kedua tangannya tetap dipaksa untuk mengetik beberapa proposal yang akan dia butuhkan. Di sela – sela kegiatannya, kadang tangan kanannya berpindah ke samping guna mentanda tangani kertas – kertas yang seakan berteriak minta diisi. Demi lucky item shintarou, rasa kantuknya tidak mau mengalah sama sekali seperti sifat keras kepalanya Kuroko!
Akashi mulai tidak kuat. Sedikit demi sedikit kelopak matanya akan mulai menutup sempurna. Tangannya perlahan berhenti melakukan aktivitas apa pun.
Tinggal beberapa ketikan, dan Akashi Seijurou ternyata sudah tumbang duluan.
.
.
.
.
.
.
" Jadi, apa rencanamu ? "
Kagami membalas ucapan Mayuzumi, menggantikan semua orang yang sama – sama memiliki tanda tanya besar penuh atensi pada makhluk abu – abu penganut paham 'no loli no life' di hadapan mereka. Yang akan mengajukan rencana malah berdehem dahulu, berusaha terlihat bijak dan keren di depan sang pujaan hati yang sebenarnya tidak ditanggapi sama sekali.
Merasa peka dan kesal, Kuroko bersuara, " Tidak perlu terlihat sok keren, Mayuzumi-kun. Kalau mau mengatakan sesuatu langsung saja, jangan kelamaan seperti ini. "
Dua kalimat yang menohok hati keluar dengan mulus dari mulut Kuroko. Yah, mulus sekali, semulus bilah pedang yang baru di asah tiga menit yang lalu. Tajam banget loh, jika diuji coba diyakini akan mati dengan sekali tusukan. Mayuzumi sendiri hanya bisa menganga, secara tidak sadar menanamkan kalimat itu ke otak sebagai salah satu dari sekian ribu kata yang membuat trauma hati dan pikiran.
'Tidak perlu sok keren... Tidak perlu sok keren... '
Rasanya Mayuzumi ingin menangis di ujung karang pinggir laut tepat di samping rumah pamannya dulu, plus dengan background matahari tenggelam dan suara deburan ombak bak yang ada di film – film roman berakhir angst.
'EMAK! Mayu SALAH APA SAMPAI DIGINIIN? Mayu BAHKAN BELUM NIKAH SAMA Ringo-CHAN! 'Hatinya meraung, meratapi segala dosa yang telah ia perbuat sampai ia bisa mendapat karma sedemikian rupa begini.
Bukan Karma fandom sebelah, loh.
Kise yang mendengar itu langsung terkikik geli,sedangkan Aomine mati – matian menahan tawanya dan sibuk menonjok perut Kagami yang sukses mendapat jitakan balik dari mantan ace seirin itu. Mayuzumi sendiri mendadak pudung, niatnya membuat hati diri menjadi berbunga asri malah berbalik membuat hati jatuh ke dasar lembah berduri.
Sekali lagi, Mayuzumi itu kuat kok... Mayuzumi itu anak strong...
" Baiklah, aku akan menjelaskan rencanaku. Rencana ini sangatlah mudah.. Dengarkan baik – baik. " Mayuzumi memandang serius, membuat semua pihak yang ada di tempat lantas mendengarkan setiap kata dari editor novel tersebut. Murasakibara sendiri bahkan mengurungkan niat untuk membuka bungkus maibou kesekian kalinya itu. " Sebelumnya aku ingin memastikan lagi, Kuroko, apa Akashi masih selalu makan malam di rumah dengan masakanmu walau kalian bertengkar seperti saat ini? "
" Iya.. Pernah sesekali aku mengintipnya, ia selalu memakannya dan tidak lupa mencuci piring sampai wajan bekasku memasak juga dicucinya. " Jawaban Kuroko berhasil menciptakan seringai tipis di bibir mantan murid rakuzan itu.
" Baiklah. Pertama, Kuroko, kau akan membuat makan malam untuk Akashi seperti biasa. "
Seluruhnya mengangguk tanda mengerti.
" Beri sianida- "
" Mayuzumi-kun.. "
" Aku bercanda. "
Mayuzumi mencoba mengabaikan tatapan maut dari sang pujaan hati.
"Kedua, tunggulah Akashi pulang di ruang tamu ini. Selarut apa pun tetap tunggulah dia."
Walau agak bingung, anggukan kembali dilakukan sebagai balasan.
" Ketiga, pakailah kemeja putih dan celana pendek, minimal jangan sampai melebihi lutut. "
Mereka kembali mengangg──
" APA ?! " Seluruh anggota GoM terkecuali Kuroko dan Murasakibara berteriak tanda tak terima, sedangkan Kagami tidak nyambung sama sekali dengan rencana buatan mahkluk yang diduga satu spesies dengan Kuroko ini. Aomine lantas menyahut. " Kau mau apakan Tetsu, hah ?! Mau cari untung dengan melihat paha mulus Tetsu ya ?! Aku juga mau, tauk! "
" Ngomong difilter dulu, elah-ssu ! " Kise melempar bantal tepat mendarat di muka hitam itu, " Aominecchi mesum-ssu ! Yang benar itu ' menyentuh sensual kulit putih salju itu '-ssu... "
" Sama saja-nanodayo! " Kepala kuning digeplak dengan gulungan majalah oleh si megane. " Bahkan itu lebih mesum lagi-nanodayo! Mayuzumi, aku tak menyangka kau sebegitu nekatnya ingin melihat 'anu'-nanodayo! " Midorima membenarkan kacamatanya sekaligus menutup wajahnya yang memerah. Perkataannya itu malah menambah kesan ambigu di benak masing – masing.
" Jangan asal menuduh oi! Lagian nista banget sih pikiran kalian! Aku belum selesai bicara, dengerin orang lain ngomong sampai akhir dulu dong! " Mayuzumi jelas tidak terima ketika dituduh yang tidak – tidak (walau ia memang pernah memikirkan hal itu). Ia menggebrak meja, secara tidak langsung meminta agar semua orang yang terkait diam dan tidak berbicara apa pun dulu.
Hening menguasai keadaan.
" Jangan menyela lagi. Begini runtutannya penjelasannya, pertama - tama Kuroko akan bersembunyi dan menunggu Akashi untuk memakan masakannya. Kedua, di pertengahan kegiatan makan Akashi, Kuroko akan menghampiri dan mengajaknya untuk berbicara. Dengan itu, Akashi dapat dicegat dan mereka bisa bertemu tanpa harus saling menghindari lagi. Terakhir, Kuroko akan berbicara baik – baik dan viola, happy ending.. " Mayuzumi memandangi satu persatu ekspresi wajah orang – orang di depannya, berharap ada yang menanggapi dan ngehdengan idenya.
Oh.
Yaelah. Ternyata rencana gitu doang.
" Ng... Intinya, Kuro-chin akan mencegat Aka-chin ketika Aka-chin tengah lengah alias saat dia sedang makan, begitu ? " Tanggapan malas dilontarkan, tangan si pemilik suara saat ini beralih mengambil coklat batangan di sakunya. Mayuzumi mengangguk.
" Lalu apa gunanya Kuroko-cchi memakai baju mengundang begitu-ssu ? " Kise tak habis pikir dengan ide sederhana itu. Mudah sekali, tapi apa hubungannya dengan apa yang dikenakan oleh si surai langit ?
" Tentu saja ada maksudnya. Bukan tidak mungkin jika Akashi akan langsung kabur, jadi Kuroko harus memakai celana pendek agar ia bisa berlari lebih cepat dan bisa mencegat Akashi. " Mayuzumi menjelaskan dengan lancar, tapi entah kenapa dibalik kata – katanya itu seperti tersembunyi maksud tertentu. Kuroko yang akan berperan melaksanakan misi mendadak mengerutkan dahi, " Tapi kenapa harus memakai kemeja ? Bukannya akan lebih luwes jika aku memakai kaos biasa ? "
" Aku memiliki intuisi tersendiri, Kuroko. Ikuti saja kata – kataku, ini juga berpengaruh pada kesuksesan misi. Lagipula hal itu juga mengurangi kemungkinan Akashi untuk kabur. " Para kisedai mendadak mengangguk membenarkan. Pemuda lolicon itu diam – diam menunjukan senyum misterius, membuat Kuroko heran sendiri.
Benar - benar mencurigakan.
" Ah, kalau boleh aku ingin minta tolong Kuroko. Bisa kau pinjamkan aku laptopmu ? Ada yang mau kuperiksa di flashdisk ini. "
Sebuah flashdisk berada digenggaman editor. Kuroko hanya melirik sekilas, kemudian mengangguk dan beranjak dari sofa. " Laptopku ada di kamar. Biar kuambilkan, Mayuzumi-kun."
Yang disebut namanya kembali menunjukan wajah datar sekaligus mengangguk. Sepeninggalan Kuroko, Midorima melirik tajam ke arah Mayuzumi " Aku tahu pasti ada maksud terselubung dari rencanamu itu-nanodayo. Apa maksudmu membuat Kuroko memakai baju itu ?-nanodayo " Kacamata kembali dibetulkan, yang dituduh hanya terkekeh kecil.
" Percaya tidak percaya, seleraku sama dengan Akashi. Aku yakin Akashi akan senang. " Mayuzumi memasukkan kembali flashdisk di tangan ke dalam saku celana. Kagami berdecih menyadari, " Aku merasa kau menjadi sama liciknya dengan Akashi saat ini. Kau kerasukan ? Ngomong – ngomong, tumben sekali kau mau membantu Kuroko berbaikan dengan Akashi. Kupikir kau akan menolak. "
Mayuzumi berdengus. " Mungkin refleks. Hanya saat ini saja aku akan membantu, dan jangan samakan aku dengan setan merah itu, Kagami Taiga. " Tas kecil diraih, si iris kelam mulai berdiri dari tempat duduknya " Aku akan pulang, ini sudah sore. Mungkin Akashi akan segera pulang. "
" Loh, Mayuzumi-kun tidak jadi pinjam ? " Kuroko yang baru sampai memandang datar editor bejatnya yang mulai beranjak ke arah pintu depan. Mayuzumi hanya tersenyum tipis, " Maaf, tidak jadi Kuroko. Aku harus segera pulang, lagipula kau harus bersiap – siap dengan misimu nanti. "
Tanpa diketahui Mayuzumi, Kuroko hampir ingin melempar laptopnya ke kepala abu - abu itu.
Menyadari adanya kode ringan, Midorima mulai membenah diri. " Aku juga akan pulang, Murasakibara, kau juga jangan sampai ketinggalan kereta. "
" Eh ? Padahal aku belum melepas rindu dengan Kuro-chin dan bertemu Aka-chin... " Tatapan galak dilayangkan oleh penggemar oha-asa di sampingnya, Murasakibara memilih mengalah " Baiklah.. Aku juga akan pulang, Mido-chin. "
Kagami yang mulai memahami alur juga ikut bersuara " Kami juga akan pulang! Ayo Aomine, Kise! "
" Hah ? Terserah lah... "
" Eh ? Tidak mau-ssu! Aku masih ingin di sini! Aku ingin lihat Kuroko-cchi memakai kem─mmng! " Mulut ember sontak dibekap oleh Kagami. Wajah kesal plus pelototan semua orang terkecuali Kuroko menghiasi penglihatan iris madu miliknya. Aomine lantas mengalihkan perhatian si baby blue" Kami pulang dulu, Tetsu. Jangan lupa kunci pintunya ya.. "
" Ah, Haik.. Aomine-kun. " Kuroko mengindahkan tatapan meminta tolong dari model berisik yang masih dibekap oleh Kagami. Semua sudah mulai beranjak keluar, satu persatu mulai mengucapkan tanda perpisahan.
" Jaa, Kuroko! Kapan – kapan kita makan di Maji Burger seperti dulu ya! "
"Bye - bye, Kuro-chin .. Titip salamku pada Aka-chin."
" Bukannya aku peduli atau apa, tapi kusarankan agar kau segera makan yang banyak. Jaa ne. "
" Sampai jumpa lagi, Kuroko. Siap – siap dengan deadline selanjutnya, kau harus memenuhi nutrisimu mulai dari sekarang. "
"Mmmmm, MMMNNGGG! MMMMMFFT! (Bye, Kuroko-cchi! Lepaskan aku-ssu!)"
Kuroko hanya tersenyum lembut dan melambaikan tangan ketika melihat teman – temannya mulai menjauh (Kise sendiri masih diseret oleh Kagami dengan dibantu oleh Aomine). Setelah temannya mulai tidak terlihat, Kuroko segera masuk dan bersiap untuk melaksanakan rencana malam ini.
" Dimulai darimana ya...? "
.
.
.
Kelopak mata itu mulai mengerjap, tangan refleks menggosok mata dan otak mulai menganalisa tentang apa yang tengah terjadi. Jiwanya lambat laun mulai memenuhi tubuh, membuat kesadarannya kembali sepenuhnya. Akashi ingat, ia tertidur di meja kantornya ketika ia disibukkan dengan berbagai runtutan pekerjaan. Ah, masih sempatnya ia tertidur ditengah kegiatannya.
Matanya melirik jam tangan, pukul 08.54. Gawat, ia bisa – bisa terlambat pulang.
Dengan semangat'45, tangannya mulai jeli mengetik kembali berbagai macam kata di Microsoft word tanpa henti. Berbekal niat ingin segera pulang dan tak lupa berdoa memohon agar pekerjaannya cepat selesai, Akashi melanjutkan kegiatannya yang sempat terhenti sejenak.
Tinggal 5 lembar lagi, sikat habis!
.
.
.
Di sisi lain, Kuroko sudah berpakaian seperti yang dianjurkan oleh Mayuzumi Chihiro itu. Sangsi sih, tapi saran yang (menurut Kisedai) baik itu harus ia hargai. Kini ia memakai apron, digunakan sebagai pelindung diri ketika ia memasak seperti saat ini. Menu yang dibuatnya untuk makan malam berbahan dasar tofu semua, mulai dari sup tofu, tofu daging cingcang, Mapo tofu, spicytofu, hingga siomay tofu pun dibuatnya.
Sepertinya ia benar – benar ingin menyogok Akashi dengan makanan kesukaannya.
Jangan menatapku seram begitu, Kuroko.
Setelah selesai, ia beranjak ke ruang tamu untuk menunggu kekasihnya pulang. Jam dinding menunjukan pukul 9 kurang 5 menit, ia akan bersabar menunggu sambil menonton televisi. Walaupun ia yakin hari ini tidak ada siaran yang bagus untuk ditonton.
Tiba – tiba Kuroko merasakan kantuk yang luar biasa. Apa dewa Hipnos sedang menghampirinya sehingga ia merasa ingin segera tertidur ? Efek dari kurangnya waktu tidur baru berdampak saat ini. Tidak, Kuroko tidak ingin tidur. Ia masih harus menunggu Akashi.
Namun, sekeras apa pun keinginan Kuroko, ia masih kalah dengan godaan diri menuju alam mimpi...
...Dan 10 menit kemudian, Kuroko telah dipastikan tertidur di atas sofa dengan televisi masih menyala.
.
.
.
Akashi keluar dari mobil sport merahnya. Jam 09.47. Ia terlambat pulang. Padahal biasanya ia pulang sekitar jam 8 sampai tepat jam 9 malam. Ia yakin kekasih imutnya sudah tidur lelap di kamar. Niat baikan langsung hilang akibat keteledorannya. Tidak, Akashi tidak salah. Ia tidak pernah salah, tadi itu ada perubahan teknis mendadak saja kok.
Ngeles aja terus, Seijurou... Ngeles aja...
Manik heterochrome itu tertutup sejenak, untuk kesekian kalinya ia menghela nafas berat. Duh.. Cobaan oh cobaan, mengapa ia harus mengalami hal ini ? Ia rindu dibelai, bermanja – manja, memeluk, bahkan mencium Tetsuya-nya. Bahkan 'hukuman manis' untuk si surai biru juga belum terlaksana.
Sambil berusaha menerima kenyataan, ia melangkahkan kakinya ke pintu apartemen. Dibukanya pintu itu setelah kunci dimasukkan, kemudian melepas sepatu dan mengucapkan 'tadaima' walau ia yakin tak ada yang akan menjawabnya.
Samar – samar ia seperti mendengar suara gemerisik, seperti siaran televisi. Siapa yang menonton televisi jam segini ? Tetsuya memangnya belum tidur ? Atau ada maling yang tengah memasuki rumahnya dan menyempatkan diri menonton siaran malam ?
Maling mana ada yang nonton televisi di rumah korbannya, Akashi...
Dengan santai tapi mengendap – endap, ia mengintip melalui celah pintu (yang kebetulan) terbuka sedikit. Yang ada di jangkauan matanya saat ini adalah meja tempat rangkaian pigura fotonya disusun, televisi yang menampilkan siaran humor, dan beberapa sofa dengan kaki menyembul di samping salah satu sofa yang membelakanginya..
.. Tunggu, kaki siapa itu ?
Akashi mendekat tanpa membuat suara yang gaduh, diam – diam mengintip untuk mengetahui siapa yang berbaring (atau mungkin tertidur) di sofa rumahnya. Surai biru terlihat dan hembusan nafas yang teratur (menandakan respirasinya lancar) memasuki salah satu point analisa Seijurou saat ini. Kuroko Tetsuya sekarang tengah tertidur cantik dengan antengnya di depan mata.
Akashi Mendadak Bisu.
Wahai dewi elok, ketahuilah engkau telah menancapkan panah cinta untuk kesekian kalinya di hati iblis merah ini.
Secara perlahan, Akashi mendekatkan diri ke Kuroko yang masih tertidur lelap. Wajah manis (yang masih tidak menyadari kehadiran Akashi) itu dipandang lamat – lamat olehnya, memperhatikan keadaan sang kekasih yang sudah hampir 4 hari tidak ditemuinya. Rindu rasanya tidak melihat wajah tidur nan polos milik orang di depannya. Ingin langsung peluk dengan erat, tapi takut mengagetkan.
Tidak, jangan sampai kekasihnya semakin takut padanya.
Tangan putih dan dingin itu digenggam pelan, mencoba menyalurkan kehangatan untuk membuat si baby bluemerasa nyaman. Senyum sendu muncul di wajahnya, ah... Tubuh ringkih kekasihnya semakin kurus. Apa pola makannya menjadi semakin tidak teratur ? Apa – apaan dengan lingkar hitam di sekitar kelopak mata yang menyembunyikan iris sapphire itu ? Pipinya yang kenyal juga sedikit terlihat tirus, apa Kuroko juga kurang tidur seperti dirinya ?
Rasa bersalah muncul di hatinya. Ia tidak menyadari semua hal ini menyebabkan keadaan kekasihnya memburuk (tidak dipungkiri lagi dirinya juga merasakan hal yang sama). Harusnya ia tidak menjadi seorang pengecut. Seandainya ia berani bertanya saat itu. Seandainya ia tidak bersikap dingin seperti itu. Seandainya ia tidak mencoba menghindari kekasihnya. Seandainya ia lebih percaya dengan kekasihnya...
Di kepalanya penuh dengan kata 'perandaian'. Tapi mau bagaimanapun, semua sudah telanjur terjadi. Ia tidak bisa memutar kembali waktu dan mengubah semuanya. Akashi menyesal. Ia baru menyadari bahwa sikap dingin dari mereka berdua sama – sama menyakiti diri mereka satu sama lain. Lamunan dihilangkan, kemudian matanya sekali lagi melirik Kuroko yang masih tertidur pulas. Kecupan di dahi diberikan sekaligus elusan di rambut biru lembut itu.
" Maafkan aku Tetsuya... Aku mencintaimu, sangat mencintaimu.. Aku rindu padamu... "
Perkataan itu terus dilontarkan layaknya suara boneka yang rusak. Badan itu dipeluknya, mencoba melepas rasa lelah dan rindunya. Aroma vanilla di perpotongan leher dihisap, 4 hari terasa bagai 400 tahun lamanya bagi Akashi. Pelukan itu terasa ringan dan lembut, tidak berniat mengganggu Kuroko dalam tidurnya.
Biarlah orang mengatakannya berlebihan, dia memang sedang kangen setengah mati dengan malaikat tak bersayap ini.
Merasa ada pergerakan dari orang dipelukannya, Akashi kontan mengadahkan wajahnya. Sepertinya Kuroko mengalami mimpi buruk, buktinya dahinya mengerut dan mulutnya terus memanggil nama 'Sei-kun' berulang kali. Entah mau senang atau bingung, tangan itu semakin digenggam erat oleh Akashi seraya membisikan sebuah kalimat tepat di telinga Kuroko.
" Tenanglah, Aku disini... "
Ketenangan menghiasi wajah cantik itu. Perlahan, bulu mata lentik itu bergerak pertanda pemiliknya akan terbangun dari alam bawah sadarnya. Bola sapphire itu mulai terlihat, mulut pucat itu terbuka ketika ia berhasil melihat orang yang menggenggam tangannya saat ini. Suara bak melodi milik Lorelei mengalun di telinga milik Akashi, sudah lama ia tidak mendengar suara itu memanggil namanya.
"... Seijurou-kun?"
" Tetsuya... " Akashi beranjak melepas genggaman, membiarkan Kuroko terbangun untuk mengumpulkan kesadarannya dan mengamati sekitar. Kuroko menatap lawan bicara, merasa bingung. " Sei-kun sudah pulang ? Sekarang jam berapa ? Ah, Okaeri... "
Mantan kapten Rakuzan itu tersenyum lembut, kemudian membalas " Sekarang jam 10 kurang 5 menit, Tetsuya... Dan, iya, aku sudah pulang... "
Anggukan kecil dilakukan. Tanpa aba - aba mata biru itu mendadak terbelalak seperti baru mengingat sesuatu, kemudian tangannya beranjak menggenggam erat tangan si surai merah dan menatap langsung manik heterochrome itu yang sukses menciptakan tanda tanya besar dibenak Akashi akibat prilaku spontan dari Tetsuya-nya.
" Aku mencintai Sei-kun, tolong jangan tinggalkan aku demi sekretaris cantik itu... Jangan pergi... Kumohon " Mata itu memohon, genangan air mulai muncul dan siap menjadi air terjun di wajah mungil itu.
...
"Hah?"
Dan untuk pertama kalinya, Akashi menampakan wajah cengonya di depan orang lain.
.
.
.
.
.
TBC
Akhirnya bisa lanjut! QAQ *nari hula – hula*
Setelah menghadapi unprak berkepanjangan, mood lanjutin cerita akhirnya muncul T_T Maafkan aku bila updatenya bener – bener lama ;_;
Setelah ini aku sungguh tidak tau bisa update atau tidak karena sebentar lagi aku akan menghadapi ujian sekolah ._. Tapi, selagi ada waktu, mungkin aku bisa publish secepatnya :'D
Btw, konflik ini mungkin terlihat tidak ada habis – habisnya, tapi sepertinya chapter depan akan muncul adegan 'huwa – huwa' akakuro gitu *teriak salto* Maaf jika kalian dibuat penasaran banget, entah kenapa aku tidak mau kebenarannya cepat terungkap :'3 *dibanting*
Aku tidak sempat membalas review, tapi aku sangat berterima kasih pada :
kawaii Nyanko
Rizky307
Hatsune Shinju
LEAJ2530
Atin350
PreciousPanda
Aziichi
Terima kasih atas reviewnya X') Terima kasih untuk kalian yang mendukung dan berbaik hati membaca cerita absurd ini :') *sedot ingus*
Semoga cerita ini cukup menghibur ! ^^ jika boleh berkenan, mohon reviewnya :3
