Keadaan seakan membeku ratusan tahun, nyatanya waktu baru berjalan lima menit semenjak permohonan Kuroko yang tidak dimengerti oleh Akashi dikumandangkan.
"Hah ?"
Rahangnya terasa ingin lepas, tapi otaknya untuk kali ini benar - benar tidak mau diajak bekerja sama. Loadingnya luar biasa lama, barangkali kuota otaknya mau habis lantaran kebanyakan dibuat begadang untuk menutup gundah gulana.
Tapi satu hal yang pasti diketahui Akashi.
Kuroko Tetsuya-nya yang unyoeh sekarang mengibar tanda minta dikarungin.
.
.
.
Chapter 7 is ready!
Happy Reading !
.
.
.
.
Akashi ingin menutup mulutnya, serius. Melongo selama penantian satu chapter selanjutnya tidak bisa dikatakan sebentar (ditambah lagi authornya super kampret), walau di cerita dibuat hanya berjangka waktu beberapa menit, pegal rahangnya itu setara kuda – kuda delapan jam nonstop persis avatar yang belajar elemen api.
Pikirannya kini melalang buana, bernostalgia tapi bukan untuk mengenang. Memori yang lalu seperti digali secara paksa, mencoba menyambung – nyambungkan setiap kejadian untuk memahami titik yang dipermasalahkan oleh Tetsuya-nya.
Tetsuya begadang membuat novel, Tetsuya menerima ajakannya untuk tinggal bersama, laptop Tetsuya yang rusak karena terkena kopi, Tetsuya yang makan nasi goreng buatannya, Tetsuya yang bersemu karena gombalannya, Tetsuya yang tersenyum malu – malu ketika ia mencumbunya, Tetsuya yang berada di atasnya─
─tolong, tolong jangan kebablasan.
Tapi nihil, sejauh kodok jomblo di kolam pekarangan memandang, Akashi tidak pernah ingat atau tahu mengenai apa yang dimaksud Kuroko.
"Maksudmu apa, Tetsuya ?" Genggaman tangan dibalas, rasanya rindu juga dengan tangan selembut sutra ini. "Aku benar – benar tidak mengerti."
Niatnya sih modus elus – elus, logika Akashi tuh, tidak akan ada rasa kepuasan apabila belum menyentuh Kuroko minimal satu jam. Baik menyentuh secara 'normal' atau lebih dari kata 'normal'.
Itu khusus Akashi, hanya Akashi yang boleh menggunakan aturan mainnya sendiri dan tidak diperbolehkan siapa pun membuat plagiatnya. Kuroko Tetsuya itu sudah ada yang memiliki, tidak boleh dipublish, apalagi dibagi – bagi. Bukannya Akashi mau monopoli, tapi kan sudah seharusnya menjaga apa yang sudah dimiliki.
Lagipula hak kepemilikan kok mau – maunya diduplikat, dipikir kunci gembok berkarat yang sering raib di kantong celana.
"Kenapa …" Kuroko menundukkan kepala, matanya menyirat penuh luka. "Kenapa Sei-kun menjauhiku ? Apa Sei-kun membenciku ?"
Mustahil nak.
Total tiga pertanyaan, walau sebenarnya ada jutaan pertanyaan tak terjawab yang menghantam kepala, Kuroko rasa – rasanya tak kuasa melayangkan semuanya─dipikir sesi tanya jawab ?
"Aku …" Kuroko masih merasa perlu bicara, "Aku tidak tahu apa salahku… Tapi kumohon, jangan berpaling .. A-a-aku …."
Pemuda mungil itu tidak tahu harus berkata apa, dirinya panik. Semua yang ia katakan merupakan improvisasi, mendadak, tidak direncanakan. Tahu – tahu hatinya sudah melayangkan berbagai macam kalimat yang belum disetujui benar oleh si otak, tapi dapat menyelundup mulus di bibirnya. Tepat ketika suatu kalimat terlintas di benaknya, wajahnya otomatis menunduk. Kepul asap dengan warna merah menghiasi wajah sang novelis. Mulutnya mulai bercicit, malunya sedang di tahap maximum.
"… Aku … Masih mencintai Sei-kun …"
DZING !
Peluru imajinasi menembus tepat di hati.
Akashi merasa hatinya baru diterbangkan ke puncak gunung Everest.
Sruk. " S-Sei … ?! "
Akashi memeluknya, setelah empat hari ia tidak berbicara bahkan menyentuh, kini Akashi jelas – jelas tengah memeluk Kuroko dengan erat.
"Jangan membuatku tertawa, aku tidak sebodoh itu untuk berpaling darimu Tetsuya."
Pelukan semakin dieratkan, Kuroko hanya terdiam mendengar bisikan tepat ditelinganya. Ah … berapa lama ia tidak mendengar suara ini ? Rasanya bertahun - tahun, Kuroko rindu suara ini, aroma mint ini, dan helaian merah ini.
( Mohon maaf mengganggu momen, kalian tidak bertemu selama empat hari, bukan empat tahun. )
"Tapi … Tapi sekretaris itu …" Kuroko memang merasa nyaman, tapi dadanya tetap terasa sesak. Pemuda biru langit itu tahu betul bahwa eratnya pelukan bukan faktor dari rasa sakitnya. Kedua tangan mungil mencoba mendorong pelan, setengah tidak rela menghindar penawar rindu. Namun pikiran berisi Akashi yang mungkin saja mendua dengan sekretaris pribadi masih melekat kuat diingatan, rasanya seperti ditampar dan ditusuk berulang kali.
Maaf saja, Kuroko juga termasuk satu dari sekian juta orang yang takut menghadapi kenyataan.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksudmu, Tetsuya …" tidak berbeda dengan Kuroko, Akashi justru adalah manusia yang paling tidak ingin(baca:bisa) dipisahkan dengan sang kekasih. Dahi sang kaisar mengerut, matanya menyipit, menatap sedih. "Yang kutahu adalah seharusnya aku yang bertanya padamu."
"Apa ?" Kuroko yang sedaritadi sudah berspekulasi buruk menatap pucat, rentetan perkiraan tiba – tiba berpusar di otaknya.
"Aku hanya ingin memastikan." Lanjut si emperor.
'Bertanya ? Memastikan ? Maksudnya, bertanya apakah aku rela berpisah dengannya ? Atau memastikan aku sanggup diduakan ? Aku mengecewakan Sei-kun ?'
Entah datang darimana prasangka buruk itu, yang pasti rasa optimis Kuroko Tetsuya terkuras sudah. Sifat keras kepala dan tidak menyerah entah telah minggat kemana hingga membuat Kuroko berada di titik dimana ia mencapai penghujung keputusasaan. Pesimis ekstrim.
"Sei-kun … Maaf bila aku memiliki kesalahan padamu, maaf … Tapi, aku tidak tahu apa aku bisa berpisah darimu … Aku tidak tahu apa aku mampu untuk diduakan … Aku tidak tahu, tidak tahu aku mampu atau … tidak."
Kuroko tiba -tiba menangis sejadi – jadinya, menutup wajah agar tidak terlihat oleh sang kekasih. Akashi langsung terkejut, kedua tangannya langsung memegang erat tangan Kuroko yang sibuk menutup diri.
"Astaga, Tetsuya ! Kenapa kau menangis ?" Akashi bukan bayi yang bilamana melihat bayi tetangga menangis maka ia akan ikut berteriak penuh atensi, tapi rasanya ia seperti dihantam berkali – kali. Dirinya terluka setiap melihat tetes air mata Kuroko berjatuhan, rasanya ia ingin ikut menangis merasakan kepedihan kekasihnya.
"Hiks, aku tidak tahu … Aku rasa tidak mampu … Hiks, tidak mampu …"
Sebenarnya dia itu kenapa ?!
Dalam hati Akashi memohon, ia rela bersabar tidak bertemu Kuroko bertahun – tahun, menahan diri untuk tidak menyentuh, berjuang meski harus terluka, Akashi benar – benar ikhlas. Apa saja akan dia lakukan demi Kuroko walau harus melukai diri sendiri. Tapi tolong, tolong jangan sampai air mata Tetsuya-nya yang mengalir deras seperti ini. Satu tetes saja ia tak mampu menatap, apalagi macam tsunami begini.
"Tetsuya !" Panggil Akashi. "Dengarkan aku dulu ! Jangan menangis sayang … Kumohon jangan …"
"Sei-kun … Hiks, jangan tinggalkan aku ! Aku tahu aku egois──"
"Demi Tuhan Tetsuya, aku tidak akan meninggalkanmu ! Kumohon jangan menangis !"
"Ta─Tapi, Sei-kun … Hiks, Sei-kun !"
"Apa, Tetsuya ? Apa ?"
"Sei-kun … Aku tahu Sei-kun akan anu … Aku takut … Hiks."
"Maksudmu apa, Tetsuya ?!"
"Sei-kun pasti nganu! Hiks, anu … Aku tidak mau kau pergi !"
"Tetsuya !"
"Sei-kun anu ! Anu !"
"Ap─"
"Anu !"
"Maks─"
"ANU !"
NGANU APA SIH.
"Nganu apa, Tetsuya ?" Akashi mencoba tenang walau tangannya gatal mencakar dinding, "Jelaskan padaku, aku tidak akan pergi kemana pun."
"Slruppp─hiks, Sei-kun akan─slurrppp meningga─slurrpp! sebentar."
Kuroko mengurut hidung sendiri, cairan yang enggan untuk didefinisikan keluar tanpa hambatan. "Sei─slrruppp─kun, tolong ambilkan tisu di meja sebelahmu. Ingusku keluar."
Lah.
Akashi menatap nano - nano. Ini anak masih sempatnya ngurus lendir.
Sudah begitu, rasanya ada yang aneh ketika Kuroko memanggilnya.
Apa tadi ? Selai sirup ?
Akashi berdengus, manut tanpa bertanya, tisu akhirnya diambil empat lembar kemudian diusap ke hidung Kuroko yang memerah.
"Biar aku sendiri."
"Ssst, aku saja yang lakukan."
Tingkah mereka serasa seperti seorang bapak mengelap anaknya yang cemot bersimbah dar─es krim di wajah. Walau terlihat kelewat mesra untuk analogi seperti itu, tetap saja intinya ada aura hangat penuh perhatian mengumbar kuat di area duo mini ini. Percakapan mereka seakan dilupakan sesaat, terlalu terbuai untuk dipengaruhi hal lain.
Tetsuya yang sedang dilap lembut mulai beranjak tenang, hidungnya fresh karena tidak tersumbat lagi. Akashi sendiri sedikit bernafas lega, sudah saatnya mendapat penjelasan yang ada.
"Jadi, Tetsuya." Akashi memulai, tisu dilempar tepat ke tempat sampah. Kuroko yang tadinya menunduk untuk renungan malam mendongak, Akashi melanjutkan. "Aku ingin bertanya."
Tes.
Tanpa komando, aliran air bening mengalir kembali di kedua permata biru.
Iris heterochrome pun langsung membulat lebar. "Tet─!"
PERCUMA DONG TISUNYA.
"Astaga, Tetsuya ! Kau menangis lagi !" Akashi tergopoh – gopoh, kali ini tangannya yang reflek menghentikan air mata yang tak kunjung berhenti. "Sebegitu takutnya kah kau kutanya ?"
Sumpah untuk pertama kalinya Akashi melihat orang phobia ditanya, walau sebenarnya kebanyakan siswa juga takut ditunjuk guru untuk menjawab soal yang ditanya - tanya.
"Tetsuya." Akashi mempertegas suaranya. Ia lelah tersakiti oleh air mata Tetsuya-nya, reader juga lelah menanti akhir kesalahpahaman mereka yang tak jelas kapan datangnya. "Kumohon dengan sangat, apa yang membuatmu menangis ? Katakan padaku dengan jujur, aku tidak akan marah."─bahkan aku sudah tidak bisa marah padamu, Tetsuya. Aku tidak sanggup.
Kuroko sontak terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa, ia bingung harus memulai darimana.
"Aku … Berpikir bahwa Sei-kun telah menyukai orang lain …" Kuroko semakin menunduk, tidak kuasa melihat ekspresi kekasihnya sekarang. "Kupikir kau mulai menyukai sekretarismu, karena semenjak kau ditelpon kemarin, sikapmu berubah."
Angin lewat sempat menghiasi pendengaran di ruangan yang sunyi itu.
"Kau pikir aku selingkuh, Tetsuya ? Jadi kau pikir aku akan menduakanmu ?"
Akashi merasa seharusnya dirinya yang menangis sekarang juga.
Wajah pengusaha itu terlihat lelah, tidak mengerti dan tidak sanggup mengerti. Kemudian menghela nafas gusar dan berkata. "Aku tidak tahu bagaimana kau bisa berpikir seperti itu, tapi tolong dipikir lagi Tetsuya. Bagaimana bisa aku selingkuh dengan sekretarisku, jika sebelumnya aku terus berada di sampingmu dan memberi seluruh cintaku padamu ? Bagaimana mungkin sifatku bisa berubah dalam kurun waktu sehari hanya karena telepon dari dia ?"
Kuroko mengerjap matanya, kepikiran.
Secara logika, itu ada benarnya juga.
Duh, kan malu.
"Tapi …" Kuroko Tetsuya adalah orang yang paling keras kepala, tapi bukan berarti dia menolak rasa lega yang menguasai hatinya sekarang.
"Dan mungkin ini juga salahku yang tidak memberitahumu." Akashi memegang semakin erat tangan kanan Kuroko, menatapnya dalam. " Sekretarisku, Alex, sudah menikah. Bahkan sudah memiliki anak, untuk apa aku selingkuh dengan tante – tante itu ? Lagipula, hanya Tetsuya yang kucinta."
Tangan bak porselen dikecup mesra, wajah Kuroko mulai memerah kentara.
"Lalu …" Kuroko bernafas lega, namun masih memandang penuh kebingungan. "Kenapa Sei-kun marah dan dingin padaku ?"
"…"
Para hadirin yang budiman maupun budimin.
Selamat datang di babak final permasalahan.
"..." Akashi tarik nafas, sudah tiba saat dimana jantungnya harus dipaksa tabah, emosi ditahan sedemikian rupa, dan nafsu ditekan sebejat apa pun caranya.
Akashi hanya butuh penjelasan, tidak peduli bahwa fakta yang mendera bisa jadi menusuk mental dan akal sehat.
"Itulah yang akan kutanyakan." Pandangan sang kaisar mulai ke tahap paling serius, pemuda biru langit seakan – akan merasa dirinya kini berada di pengadilan hidup dan matinya.
"Tetsuya." Akashi memberi jeda, sejujurnya hati juga bergemuruh ketakutan akan kenyataan. "Aku melihatmu berciuman dengan Chihiro … Bisa kau jelaskan hal itu ?"
" … "
Alis si biru sontak mengerut.
"Katakan sejujurnya, aku tak akan marah."
"…"
Keadaan menjadi sunyi senyap.
"Tetsuya."
"…"
"… Tetsuya ?"
"…"
"Hoi !"
"..."
"..."
"..."
Wah, barusan ada dua nyamuk melintas.
"…"
"Kuroko Tetsuya ?!"
"..."
Yang ditanya masih belum menunjukkan tanda - tanda akan menjawab.
"Tetsuya ?" Akashi memanggil lagi, sudah sekitar lima menit terlewati menunggu nyamuk lew─menunggu Kuroko menjawab.
"…"
Kuroko masih terdiam, memandang kosong.
"Kau tidak apa – apa ? Hei, Tetsuya !"
"…"
Kuroko masih tidak bergeming, kendati dikhawatirkan berhenti bernafas juga.
"Tetsuya !"
"…"
Yang dipanggil tidak menjawab, tidak ada binar di matanya. Akashi mulai berkeringat, pembaca juga sudah siap golok karena penulis memperpanjang dialog seenak jidat.
"Tetsuya, kenapa kau──"
───Diam, tanpa~ kata. Kau seolah~ jenuh, padakuu~. Ku~ingin, kau biiiicara. Katakan saja apa~ salahkuu~. Sungguh aku, tak mengerti, apa yan─Tut*
Ponsel merah lekas dimatikan, suasana tidak mendukung untuk menjawab telfon. Akashi pakai acara lupa ganti lagu nada dering pula.
"Sei-kun …"
Kuroko akhirnya berbicara. Tangan mungil itu menarik ujung kemeja sang kekasih, watados dan ternyata dipastikan masih bisa bernafas. "Aku baru saja mencoba mengingat, tapi aku tidak merasa pernah mencium Mayuzumi-kun. Sei-kun menduga itu darimana ?"
Mengingat ?
"Barusan ini kau apa ?"
"Mencoba mengingat."
"Barusan ini ?"
"Hm."
"Ketika diam tadi ?"
Kuroko mengangguk, enggan membuang suara untuk pertanyaan retoris.
Akashi mengerjap mata, jadi penyebab mata ikan mati Kuroko tadi itu karena orangnya sendiri sedang menjelajah kenangan ? Alam bawah sadar ? Melewati paradoks ? Memilah memori ?
Akashi tak habis pikir.
Cara macam apa itu.
"… Tetsuya, aku melihatmu dengan mata kepalaku sendiri." Pemuda merah melotot seakan sedang serius, Kuroko malah membayangkan wajah pak Tarno yang sedang melawak. "Kau dengan si─bangsatjahanamloliconakut─Chihiro itu berciuman ketika kalian lalai kutinggalkan sendiri untuk menelpon sekretarisku, sepulang kita ke taman bermain empat hari yang lalu."
Kuroko menerka – nerka, apa yang telah ia lakukan dengan editornya saat kejadian yang dimaksud (juga memperkirakan seberapa besar kebencian Akashi dengan makhluk abu – abu itu hingga memberi nama sebutan kelewat panjang tak mengenakan telinga bagian gendang.)
Sempat diam sebentar, Akashi berharap Kuroko tidak seperti tadi. Serius pemuda merah itu sempat mengira si biru mati suri, tega meninggalkannya lantaran lebih memilih bertemu vanilla milkshake di alam khayal ketimbang dirinya.
.
.
.
"Oalah, Sei-kun. Sing iku toh !"──Ya ampun, Sei-kun. Yang itu ternyata !
Kuroko berceletuk keras, mendadak logat jawanya kambuh.
"Sebenarnya begini──"
.
.
.
.
.
.
.
.
Kembali ke empat hari sebelumnya yang cerah dengan background langit sore.
"Ah, tunggu sebentar.." Akashi mendapat panggilan dari kantornya. Sontak si pemilik perusahaan besar Akashi ini pergi menjauh untuk mengangkat telepon, meninggalkan kedua insan itu terduduk diam. Secara tiba – tiba, Kuroko menoleh dan menghadap langsung ke Mayuzumi yang masih terdiam.
"Mayuzumi-kun, aku ingin minta tolong padamu .."
Mayuzumi yang mengusap mata (bukan karena kelilipan, ia tengah menghapus jejak air mata mengingat wajah Akashi yang kelewat horror di rumah hantu tadi), menoleh dengan tatapan tanda tanya.
"Ada apa──dan lagi, kenapa wajahmu jadi orang cina begitu ? Matamu mendadak sipit."
Perkataannya memang begitu, tapi dalam hati luar biasa menahan nafsu buat mencubit kedua pipi tembem novelis unyu ini.
"Enak saja, orang jepang matanya juga ada yang sipit." Sebagai anak baik hati, Kuroko diajari untuk tidak bersikap diskriminasi. "Tolong tiup mataku, kelilipan nih."
'Dikira minta dicium.' Kalau Akashi dengar, pasti Mayuzumi dirajam ratusan kali.
"Yaudah, sini – sini." Mayuzumi mendekat, kemudian meniup pelan bulu – bulu lentik di mata Kuroko."Sudah belum ?"
"Sudah, mungkin." Matanya dikucek pelan. "Coba tiup lagi sedikit."
Mayuzumi mendekat lagi, berharap kali ini matanya tidak dicongkel raja iblis lantaran berani melihat wajah rupawan malaikat dengan jarak yang sangat dekat.
Tolong, niat Mayuzumi tuh lagi baik – baiknya.
Mata sebelah kanan yang menjadi korban pasir bertebangan dikedip – kedipkan, mulai terasa membaik. Namun Mayuzumi tidak menjauhkan wajahnya dari Kuroko, melainkan menunduk dan mengamati wajah si itik biru lamat – lamat.
"Ng … Ada apa, Mayuzumi-kun ?"
"Hm …" Entah kenapa mata si abu – abu ini melotot, seakan – akan sedang mengamati benda setara tungau.
Wajahnya semakin mendekat, tangan kanannya mulai menyentuh pipi kiri Kuroko.
Merasa ada yang tidak benar, Kuroko baru ingin membela diri. "Mayuzumi-ku─"
"Nah !" Mayuzumi terlihat takjub, seakan – akan menemukan jawaban perbandingan trigonometri. Telunjuk kirinya menyentuh daerah hidung Kuroko, mengelus kecil lalu menunjuk apa yang ditemukan tepat di depan iris sapphire, tanpa mengurangi jarak di antara mereka.
"Kukira komedo, Kuroko. Ternyata serpihan abu hitam." Wajah yang berbicara itu datar, tapi matanya berbinar. "Dugaanku salah, padahal wajahmu sering berminyak."
Mengabaikan jarak mereka yang cukup ambigu, Kuroko jelas tak terima. "Dusta, wajahku tuh bersih."
Mayuzumi──entah sengaja atau tidak──mendekat sedikit dan memperhatikan wajah Kuroko lebih detail untuk mencari pembuktian. "Serius, Kuroko. Wajahmu tuh bermi──ah, kau mengingatkanku dengan Takao. Rambutnya rada klimis begitu."
Kuroko tersulut emosi. "Penipu, wajahku-tidak-berminyak."
Adegan tatap – tatapan terjadi selayaknya rival yang masing – masing mengibar bendera tanda perang.
"Kata Sei-kun wajahku putih bersih, lagipula aku pakai sabun bayi merk─" Kuroko memundurkan kepalanya, mata kiri mendadak terkena benda asing. "Aduh, kok kelilipan lagi, tolong tiup mataku, Mayuzumi-kun."
Mayuzumi terkesiap, secara bersamaan kedua matanya juga terkena sedikit debu. Dengan terburu – buru, ia mengucek sembarangan. Hasilnya, cukup membaik meski masih agak susah membuka mata. Menghiraukan keadaan penglihatannya yang belum cukup jelas, Mayuzumi memilih untuk membantu Kuroko terlebih dahulu.
"Sini." Mayuzumi menarik bahu Kuroko, ia kurang bisa melihat dengan baik hingga wajahnya mendekat lebih daripada sebelumnya untuk memperjelas bayangan di hadapan. Mata Kuroko ditiup, lalu wajahnya yang persis menghadap baby blue langsung melotot bertanya. "Sudah belum ? Matamu agak merah. Kalau perih, bisa jadi iritasi. Nanti ke dokter sekalian saja, matamu itu bekal untukmu menulis."
"Uh, yang kiri, bukan kanan." "Roger."
"Hmm." Kuroko hanya mengedipkan matanya berkali – kali. "Sudah tidak apa, terima kasih."
Pemuda abu – abu itu memundurkan kepalanya, "Huft, kok bisa matamu rawan kelilipan. Aduh, mataku kena pula. Debu disini sebesar apa sih, lebih baik kau pakai kacamata sekalian untuk jaga - jaga."
"Itu tidak ada pengaruhnya, Mayu─"
Tap. Tap. Tap.
"Ah, Sei-kun.. Kau sudah kembali ?" Kuroko langsung menoleh ke belakang ketika mendengar derap langkah yang dikenalnya terdengar. Permata sapphire yang berbinar berubah menjadi bingung ketika pemuda merah itu menatapnya aneh, lalu mendingin.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Kejadiannya kurang lebih seperti itu."
Kuroko melipat televisi imajiner, menerangkan kenyataan yang terjadi beberapa hari lalu. Akashi yang mendengar dan membayangkan kejadian dari sudut pandang Kuroko pun hanya terdiam kaku. Mulutnya mengeluarkan bayangan putih penuh abstrak.
"Serius, Tetsuya ?"
Akashi masih belum bisa menerima.
"Serius, Sei-kun. Triplerius." Karena doublerius sudah dipakai di chapter sebelumnya.
"Serius mampus ?"
"Iya."
"Ciyus ?"
"Ciyus."
"Miapah."
Kuroko ingin headbang di tempat, tren itu sudah lewat tolong.
"Beneran, Sei-kun."
Nyatanya, perkataan itu tidak didengar oleh pemuda jelmaan iblis merah tersebut.
"Tolong dikondisikan, Tetsuya. Bercandamu keterlaluan."
Yang dikondisikan itu harusnya wajahmu, Akashi. Ngga pantes bingit.
"Aku tidak bercanda. Sei-kun tidak percaya padaku ?" Kuroko menatap tajam, terluka juga kok omongannya dikira humor gadungan. Tau tidak sih kalau fitnah itu lebih kejam daripada fitness ?
Akashi sendiri kini mencoba memilah, menerima, mencoba mengkaji ulang dari chapter sebelumnya hingga sekarang.
Jadi alasan mereka enggan bertemu, penyebab kesalahpahaman beruntut tragedi rindu maut, asal muasal konflik kerenggangan hubungan sekitar tujuh tahun, berawalnya puasa empat hari tanpa saling menyentuh, semua siksaan lahir batiniah itu hanyalah karena debu ?
Sekali lagi──debu ?!
DEBU ?!
'Aku tanpamu butiran debu sih iya !' Tangis Akashi dalam hati.
Melihat sang kekasih yang terdiam seribu bahasa, Kuroko memilih untuk bersuara, "Jadi, Sei-kun bertingkah seperti ini karena──eh ?"
Pemuda mungil itu dipeluk erat──sangat erat. Seakan – akan jika dilepas barang sebentar, Kuroko akan raib dari dunia dalam sekejap mata. Pipi sang absolut sibuk digesek – gesekan ke helaian halus baby blue, Akashi rindu aroma ini, rindu dengan halusnya rambut ini, rindu dengan kehangatan ini.
Akashi merutuk dalam hati, merasa bodoh setengah mati.
"Tetsuya …" Bisik Akashi tepat di telinganya. "Maafkan aku … Maaf karena aku telah melakukan hal bodoh."
Untuk kesekian kalinya Akashi merasa menyesal.
"Aku tidak akan meninggalkanmu, tidak akan membiarkanmu sendirian, tidak akan mengkhianatimu, tidak akan melepasmu, tidak akan berpikiran konyol lagi tentangmu, tidak akan ... Aku mencintaimu terlalu dalam, Tetsuya … terlalu jauh hingga aku enggan berbalik apalagi kembali."
Kuroko merasakan bahu orang yang memeluknya bergetar.
"Aku sempat takut, Tetsuya …" Wajah rupawan itu menyusup ke leher, mengendus dan mengecup. "Takut setengah mati, membayangkan kau berciuman dengan orang lain. Aku takut kau berpaling, takut kau akan pergi meninggalkanku. Tetsuya, aku sadar tidak cukup sempurna untukmu."
Akashi Seijurou, seorang pengusaha ternama besar sepanjang sejarah dengan latar belakang baik dan kekayaan tak ternilai serta merta selalu menang atas segalanya di dunia ini, merendah diri dan mengaku tidak sempurna di hadapan Kuroko Tetsuya.
Tangan pucat itu membalas pelukan, mencengkram kemeja bagian punggung kekasih. Mengelus pelan, menenangkan. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Sei-kun. Kau tahu itu."
"Aku tahu, aku mutlak." Iris heterochrome itu menatap sendu. "Tapi kau tahu, rasa takutku mengalahkan semuanya. Aku panik dan khawatir, di sisi lain aku juga mengira kau membenciku karena sikapku yang kekanak – kanakan."
Surai biru itu bergerak, menggeleng.
"Aku tidak akan pernah bisa membenci, Sei-kun." Satu aliran kecil mengalir dari pelupuk kanan. "Aku juga merasa takut, Sei-kun. Takut kau pergi memilih orang lain."
"Kau juga seharusnya tahu aku tidak akan melakukan itu."
"Alasannya sama denganmu, Sei-kun."
"Ini kali kedua aku merasa takut."
"Yang pertama ?"
"Ketika aku masih di pelukan ibuku."
Kuroko setia mendengar, tidak membalas karena tahu orang yang memeluknya akan bercerita.
"Ketika aku masih merasakan kehangatan ibuku, aku merasa sangat nyaman sekaligus takut. Bagaimana jika aku tak bisa merasakan sentuhan itu lagi ? Tak bisa bertemu dengan ibuku tersayang ?"
Pandangan delima itu terpaut jauh ke dalam kenangan.
"Dan di saat aku benar – benar kehilangannya, aku merasa sudah mati." Binar itu tertutup kelopak mata, kemudian membuka sedikit untuk melanjut. "Delapan tahun yang lalu, aku melihatmu berjalan dengan tenang di bawah terpaan bunga sakura. Aku benar – benar sudah terperangkap, Tetsuya. Aku sudah jatuh padamu dan tidak sudi membiarkanmu bersama orang lain."
"Nyatanya sekarang, aku lebih takut kau benar – benar pergi. Takut kau tidak bahagia denganku. Takut kau membenciku." Akashi tersenyum kecil. "Semua itu membuatku hancur, bahkan aku lupa bagaimana sifatku seharusnya."
"Ya." Kuroko hanya pasang papan bundar tanda setuju dalam hati. "Sei-kun seperti monster, aku tidak menyangka Sei-kun akan salah paham padaku. Padahal biasanya kalo ada yang mendekat, pasti langsung kau bantai."
"Seharusnya …" Akashi menjeda. "Di saat itu fokus utamaku adalah mempertimbangkan kebahagiaanmu Tetsuya, juga mencari tahu bagaimana dan apa hubunganmu dengan si editor itu. Entah kenapa aku kalut, ingin bacok si abu itu tapi takut kau semakin membenciku. Selama kita tidak bertemu, hanya itu yang kupikirkan."
"Hentikan kata 'benci'… Aku tidak suka kata itu, dimana kenyataannya aku tidak membencimu."
"Hm." Akashi hanya bergumam, kepalanya terlalu nyaman di bahu mungil. " Tapi sekarang aku berpikir, bahkan jika kau memang akan pergi, aku akan menahanmu. Aku tidak akan bertindak konyol lagi. Kau dengar Tetsuya ? Perkataanku absolut dan kau tidak boleh pergi. Kau akan kubuat jatuh cinta padaku berkali – kali hingga amnesia dengan kata bosan."
"Tadi kau merenung penuh sesal dan sekarang menjadi egois," Kuroko terkikik geli, mulai tersenyum. "Apa kau anak kecil ?"
"Tidak, aku adalah pria yang memasuki masa kawin."
"Hentikan. Jangan menggerakan dagumu seperti itu, Sei-kun. Geli."
"Biar. Ini sudah PW."
"Sei-kun manja."
"Aku kangen Tetsuya."
"Aku juga kangen, Sei-kun."
"Jangan biarkan orang lain menyentuh wajahmu."
"Jangan memendam kegelisahanmu."
"Jangan berduaan dengan orang lain."
"Jangan menjauhiku karena cemburu."
"Tetsuya suka aku cemburu."
"Siapa bilang, aku tidak suka Sei-kun menjauhiku."
"Aku juga tidak suka itu."
"Aku sayang Sei-kun."
"Hanya sayang ?"
"Lalu ?"
"Maunya cinta."
"Cinta Kuya ?"
Akashi melepas pelukan, lalu menatap Kuroko kesal. "Tetsuya."
Kuroko tertawa pelan, lalu mengelus surai merah itu lembut. "Bercanda, Sei-kun."
Mata setenang air itu menyorot dalam, menghipnotis pandangan lawan dengan luapan kehangatan. Begitu membahagiakan, begitu menghanyutkan. Senyum kecil tak luput ditunjukkan, tambahan semu merah seperti blush on alami menempel lekat di pipi. Akashi ingin mengklaim ke dunia bahwa ia sudah menemukan titisan dari khayangan di bumi.
"Aku mencintaimu, Sei-kun."
DZING !
Peluru versi kedua sukses dihantamkan ke hati sang kaisar merah.
Kokoro Akashi tuh lama – lama ngga kuat diginiin. Efeknya seperti listrik mengalir di aliran darah, full seluruh tubuh tanpa terkecuali. Menyebar ke semua saraf hingga ke ujung – ujungnya. Rasa sengatan itu membuat hatinya doki doki suru, wajahnya memanas, dan bersyukur masih bisa menikmati hidup. Sekonyong – konyongnya ganja yang disinyalir membawa kebahagiaan luar biasa, cinta yang ia rasakan lebih dari cukup untuk bisa diungkapkan kata – kata.
Tak ternilai.
"Oh ya," Kuroko seperti baru mengingat, pelukan direnggang sedikit. "Aku tadi memasak macam – macam makanan kesukaan Sei-kun."
Kuroko bukannya mengingat rencana tentang penyogokan makanan ke kekasihnya loh ya.
Mantan phantomsixthman itu lantas beranjak berdiri, berbalik pergi ke arah meja makan.
"Sei-kun mau coba ? Aku──"
BRUK.
Kalimat Kuroko terpotong bersamaan dengan tangannya yang ditarik hingga ia jatuh dan berbaring di sofa. Lengkap dengan siluman singa merah yang menerkam di atasnya.
"Sei-kun ?"
Itik biru masih belum menyadari alarm tanda bahaya.
Kedua tangan si mungil terkunci oleh tangan kiri kekasihnya. Badannya yang terbaring tertimpa, kaki kanan si merah berada di antara kedua kaki yang jenjang. Jelas sedang dihadang agar tak bisa kemana – mana. Jika mempertanyakan tangan kanan tuan muda ada dimana, tangan lucknut itu sedang bermesraan dengan leher korban.
"Tetsuya … kau … berniat mengundang ?"
Telunjuk kanan itu mengelus erotis, menyusuri leher, dada, dagu, pipi, kemudian bibir yang basah. Iris belang itu menatap lapar, kalau sedang tidak jaga image mungkin akan ada aliran liur di mulut Akashi.
Jangan salah, emperornya sudah menatap ganas tubuh molek itu dari awal pelukan.
"Apa──ngh."
Kaki kanan itu hanya dimajukan tiga senti, namun cukup membuat Kuroko mengerang. Telunjuk kanan yang sempat mengelus bibir delima itu dijilat oleh sang pemilik, menggoda.
"Aku suka yang kau pakai." Kancing kemeja dilepas, kedua, ketiga, dan keempat. Menyisakan satu kancing paling bawah yang awet menyatu, namun cukup mengekspos perut datar layak kecupan.
"Tetsuya ..."
Kuroko terengah – rengah, wajahnya menunjuk semu paling merah sepanjang keseharian. Itik biru ini memang paling tak kuasa menerima sentuhan pelan namun mematikan yang menggerayangi tubuhnya. Celana pendek itu diaku cukup longgar, sehingga ketika kaki kirinya terlipat ke atas(mencoba membela diri), pahanya yang mulut terpampang dengan jelas.
Mata predator jelas tidak melewatkan seinci pun bagian tubuh mangsanya.
"Hei, Tetsuya …"
Akashi berbisik seduktif, tangan kanannya beralih mengelus paha putih di sampingnya.
"Tagihan janjimu akan dilunasi sekarang juga."
Kuroko terkesiap, berniat menolak sebelum titah tanda penghakiman mengalun mutlak. Membuatnya bungkam.
"Kau tidak berhak menolak, karena ini melewati masa kontrak."
Bibir itu dijilat, mencoba rasa pembuka.
"Ciciplah kerinduan kekasih egois sepertiku, Tetsuya. Akashi Seijurou sebagai pemegang hak kuasa akan melaksanakan hukuman yang tertunda."
Bisikan itu selayaknya godaan iblis yang paling manis.
"Selamat menikmati."
Bibir itu menyeringai, pemuda di bawah hanya menunduk pasrah. Menggigil karena angin nakal melewati seluk titik paling sensitif.
.
.
.
Kuroko Tetsuya tahu, seharusnya ia mendoakan Akashi Seijurou terbentur dan amnesia saja.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued (?)
.
.
.
.
.
.
.
.
.
AKHIRNYA ASTAGA AKHIRNYA ! /udah woi
Ampun, saya mohon ampun karena sudah menelantarkan cerita ini. Pokoknya saya mohon maaf sebesar - besarnya pada reader yang (syukur2) berkenan membaca cerita ini. Saya benar - benar berterima kasih. Saya tidak menyangka banyak yang suka cerita pertama ini. Daku terharu, serius terharu sangat:') *peluk Tetsuya* /digorokAkashi
Awalnya saya ingin menggunakan alasan 'komedo' sebagai dalang si abu kelam main modus deket2 ke wajah Kuroko, namun hal itu langsung saya ubah karena saya takut dirajam Akashi dan fans2nya karena telah mefitnah dan menistakan ke'moeh'an Kuroko sepanjang masa. (walau tetap dipakai) /tolongtaruhgoloknya
Yang mungkin penasaran mengapa saya telat (luar biasa hingga nyaris setahun), sebenarnya saya sudah menguak topik ini di cerita berjudul "Hampa". Alasan saya benar - benar memang sangat sederhana, tapi itulah kenyataan yang ada.
Untuk yang tidak penasaran, silahkan loncati gemuruh lebay author di bawah ini.
Alasanya hanya ada 2, Tugas dan kesalahan teknis.
Saya ulangkan lagi, penyebab saya telat adalah tugas dan kesalahan teknis.
Tugas saya menumpuk parah, baik akademik maupun ekstra atau pun organisasi. Untungnya saya tidak stress, tapi sebagai gantinya cerita - cerita saya mulai berdebu tanpa tersentuh berbulan - bulan.
Sungguh saya mohon maaf.
Alasan kedua, kesalahan teknis. Ini dia biang keladi saya enggan melanjut cerita ini (dan bahkan malah seenak udel membuat cerita baru.)
Draft ini hilang.
Untung ada kopiannya, tapi ketikan baru saya nyaris tak bersisa, hilang bersamaan dengan virus tak jelas asalnya sampai sekarang. Entah hidden atau apa, tapi cerita dan file video saya raib dari document dan download.
Itu membuat saya pusing, walau mengaku tidak stress, jujur saya sebenarnya merasa tertekan. Saya sempat memilih lari, lebih fokus ke ide - ide baru yang secara brutal berseliweran di otak.
Tapi teman - teman di sekitar (yang kagetnya ternyata juga pembaca) mendukung saya, menyemangati pula (bahkan ada yang mengancam). Review - review juga membuat saya luluh dan bimbang, saya sering membaca ulang untuk mengenang. Saya merasa bersalah, tapi tangan mengkhianati jika ingin lanjut menulis.
Sekian lama gerah berdiam diri, saya akhirnya memilih berhenti lari dan mencoba lanjut. Mengetik sambil mengingat2, bahkan menambahkan banyak kata baru.
Saya takut cerita saya tidak masuk akal dan garing untuk dibaca pembaca. Takut pula bila ini tidak sebanding dengan penantian reader, tapi inilah hasil yang bisa saya kerahkan. Walau lama tidak melanjut, di pertengahan cerita saya mulai terbuai dan mengetik tanpa memikirkan hal lain. Hanya fokus akakuro, fokus membuat mereka kembali.
Sekali saya katakan, inilah hasilnya.
Mohon maaf sekali lagi jika ceritanya kurang memuaskan, semoga cerita ini tidak mengecewakan. Terima kasih untuk yang setia menunggu, mereview, memberi vote / favorite, yang berkenan membaca cerita penulis amatir ini. Saya sangat berterima kasih.
Sekian dan ...
... Mohon tunggu sebentar.
Saya ingin bertanya (jika boleh) pada kalian, para pembaca.
Menurut kalian, apakah cerita ini dilanjut atau tidak ?
Kemudian, ada juga yang membuat saya bingung bukan kepalang.
Apakah saya perlu mempublish cerita 'anu' di chapter selanjutnya ?
Tentang hukuman Akashi itu loh *cengar - cengir* /digampar
Saya merasa banyak yang ingin tahu bagaimana Akashi menghukum Kuroko. Hal itu membuat saya berpikir untuk membuat cerita tentang itu, walau saya tidak menjamin bagus atau tidak hasilnya nanti.
Tapi di sisi lain cerita ini ingin saya buat hanya sekedar renyah biasa, tidak menyerempet M (walau seringkali nyaris berujung itu). Apalagi ada anak orang di bawah umur yang walau udah ada peringatannya, tetap nekat membacanya.
Jadi, mohon saran bagi kalian semua.
Saya tidak tahu ini akan lanjut apa tidak, cepat atau tidak, tapi saya akan mencoba yang terbaik *nunduk2*
Baiklah, sekian dari saya. BUBYE ~
Jika berkenan, mohon reviewnya ! Terima kasih ^^
