Inspirate by :
VIXX-Error (Lyric)
Yakuza (Organinasi)
[Backsong : VIXX-Error]
Wonwoo berguling-guling di atas tempat tidur. Baik rambut maupun wajah manisnya nampak kusut. Jam yang terletak pada meja nakas masih menunjukkan pukul setengah 6 pagi.
Lelah dengan kegiatannya itu, akhirnya ia menenggelamkan wajahnya pada bantal empuk. Setengah jam lalu saat dirinya terbangun, Wonwoo melihat sisi sebelah ranjang besarnya sama sekali tidak kusut. Bahkan bantal di sebelahnya masih sangat rapi, menandakan jika seorang pemuda yang harusnya berada disana tidak pulang semalaman.
Aku tidak bisa menahannya jadi aku melemparkan semuanya
Aku menghapus semua emosiku
Tapi aku tidak bisa menghapusmu
Karena hatiku terlalu sedih
Tidak bisa di pungkiri bahwa dirinya mengkhawatirkan Mingyu. Meskipun rasa khawatirnya itu tak beralasan. Sungguh, bukan hanya lima sampai sepuluh orang yang melindungi pria tampan itu, bahkan sampai ratus bahkan ribuan. Tapi tetap saja ia merasa resah lantaran Mingyu tak memberinya kabar.
'Apa Mingyu marah padaku?' batinnya muram.
Wonwoo membalik tubuhnya menjadi telentang. Menenggelamkan wajah pada permukaan bantal berlama-lama membuatnya tidak bisa bernafas.
Keping indahnya tanpa sengaja menangkap ponselnya yang terletak di samping jam weker di atas meja nakas. Mengambil benda pipih itu, dan berniat menghubungi Mingyu. Tapi, bagaimana kalau ternyata lelaki itu tengah sibuk dan terganggu karena ia menelepon.
Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Wonwoo memutuskan untuk menghubungi sang kekasih. Bagaimanapun respon Mingyu nantinya, ia tidak perduli.
Jemari lentik Wonwoo sudah menekan angka 1, speed dial yang sengaja ia buat untuk Mingyu. Tepat saat dirinya akan menekan tombol hijau, seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. Itu bukanlah Mingyu, karena lelaki bersurai abu-abu itu tidak pernah mengetuk pintu saat memasuki kamar mereka.
Takut sang pengetuk pintu menunggu terlalu lama, akhirnya Wonwoo merespon singkat setelah meletakkan ponselnya di ranjang. "Masuk."
Pintu berwarna putih itu terbuka. Menampilkan figur lelaki tampan dengan rambut berwarna cokelat gelap yang di tata membentuk poni. Choi Hansol.
Hansol membungkuk dalam sebagai tanda hormat. "Maaf mengganggu waktu Anda, My Lord.." ucapnya tak enak hati.
Wonwoo meringis mendengar panggilan dari pria berkebangsaan amerika tersebut. Ia bukan Tuhan. Tetapi anggota 'Akuma' yang jumlahnya sampai ratusan ribu orang selalu memanggilnya seperti itu. Jujur saja, Wonwoo tidak menyukai panggilan itu.
"Tuan Kim Mingyu menyuruh Anda bersiap. Kita akan segera terbang ke Jepang. Beliau mengatakan akan sampai setengah jam lagi."
Kening Wonwoo berkerut samar. Terlihat jelas kebingungan terpancar dari matanya. "Jepang? Untuk apa?" tanyanya.
Hansol tidak langsung merespon. Ia ragu apakah dirinya harus mengatakan alasan mereka akan ke Jepang atau tidak. Melihat ekspresi Wonwoo yang menuntut penjelasan, membuatnya mau tak mau memilih jujur. Selagi orang itu adalah Wonwoo, Mingyu pasti tidak mempermasalahkan.
"Apartement sebelumnya berhasil di lacak oleh Agen Rahasia tepat sebelum kami mem-bom tempat itu. Tuan Mingyu memutuskan untuk ke markas utama Akuma. Markas itu berada di Jepang.." Hansol menjelaskan dengan detail. Meskipun tak seluruhnya.
Wonwoo mengangguk-anggukkan kepala. Beberapa saat kemudian ia kembali bersuara ketika melihat pergerakan Hansol yang hendak berpamitan. "Hansol, boleh aku bertanya sesuatu?"
Hansol mengangguk. "Yes, My Lord.."
"Sebaiknya kau duduk disini." kata Wonwoo sembari menepuk lembut sisi tepi ranjang. "Aku merasa tidak enak membiarkanmu berdiri disana.."
Hansol refleks menggeleng singkat. Menolak secara halus agar pemuda Jeon tidak tersinggung. "Saya akan tetap berdiri disini, My Lord. Silakan tanyakan hal apa yang ingin Anda ketahui." sahutnya. Bukannya berniat tidak sopan karena menolak perintah pemuda tersebut, ia hanya tidak ingin ada kesalahpahaman semisal Mingyu melihatnya terlalu dekat dengan Wonwoo.
Wonwoo menghela nafas ringan sesaat, lalu bertanya ragu. "Kenapa kita harus ke markas utama? Ah, maksudnya kenapa kita tidak pindah tempat saja. Semisal mencari apartement lain.."
Senyum tipis terukir apik pada wajah menawan Hansol. Pria di depannya ini terlampau lugu dalam bertutur kata. Tetapi, setidaknya ada seseorang yang cukup manis untuk ia lihat disini. Sungguh, semua anggota Akuma seluruhnya mempunyai sifat yang tak beda jauh. Dingin, datar, kejam, dan kaku. Dan sekarang Hansol patut bersyukur pada Tuhan yang telah meletakkan Wonwoo di tengah-tengah kelamnya Akuma.
Wonwoo memandang Hansol yang tak kunjung menjawab. "Hansol?" panggilnya lembut.
Hansol tersentak kecil. "I'm sorry, My Lord.." ujarnya menyesal. Wonwoo mengangguk mengerti. "Markas utama adalah satu-satunya tempat yang tidak bisa di lacak oleh siapapun. Memang, kita bisa saja pindah apartement tanpa meninggalkan jejak, tetapi Tuan Mingyu memutuskan untuk kembali ke markas utama. Selain disana sangat aman, beliau juga harus mengurus sesuatu di Jepang."
Wonwoo terdiam. Dua tahun tinggal bersama, ternyata tak cukup untuknya mengenal Mingyu secara mendalam. Ia bahkan baru mengetahui fakta jikalau Organisasi Akuma bermarkas utama di Jepang.
Wonwoo mendongakkan kepala. Memandang Hansol yang masih setia berdiri tak jauh darinya. "Terimakasih atas penjelasan yang kau berikan. Kau bisa pergi, Hansol.."
Hansol langsung membungkuk hormat. "Saya pamit undur diri, My Lord.."
Wonwoo hanya bergumam kecil sebagai balasan. Mata indahnya masih tertuju pada sosok Hansol yang beranjak pergi kemudian menghilang di balik pintu.
"Itu artinya-Akuma dan Yakuza berdiri di negara yang sama. Bagaimana bisa?" bisik Wonwoo entah pada siapa.
-MW-
Kaki jenjang itu melangkah melewati kamar demi kamar, menjauhi kamar hotel yang menjadi tempat untuknya mengistirahatkan diri selepas pulang dari mansion megah Kim kemarin.
Tujuan Wonwoo saat ini adalah cafe depan bangunan hotel. Ia sudah mengemas pakaiannya di koper beberapa menit lalu. Tidak banyak, sebab seluruh barang-barangnya memang masih berada di dalam koper karena kepindahan mereka dari apartement 2 hari lalu.
Lantaran Mingyu belum juga menampakkan batang hidungnya, jadilah Wonwoo memutuskan untuk membeli makanan guna mengganjal perutnya yang tak hentinya berbunyi.
Tadinya beberapa bodyguard yang menjaga di depan kamar hotel memaksa untuk menemaninya. Bahkan salah satu dari mereka juga menawarkan diri untuk membelikan makanan yang ia inginkan. Sontak saja Wonwoo menolak dengan tegas, selain ia tak ingin merepotkan, dirinya juga membutuhkan waktu untuk melihat dunia luar.
"My Lord?" Hansol yang hendak berselisihan dengan pemuda bersurai hitam sedikit panjang membentuk poni, langsung berhenti melangkah. Wonwoo sedari tadi menunduk, wajar saja jika dia tidak melihat keberadaannya. "Maaf, bukan maksud untuk memaksa Anda. Tetapi Anda harus kembali ke kamar, Anda tidak di perbolehkan pergi kemanapun."
Wonwoo tersentak melihat keberadaan Hansol tepat di hadapannya. Matanya bergerak resah, mencoba mencari alasan yang tepat agar tangan kanan Mingyu ini memberinya izin untuk keluar. "Aku-hanya ingin membeli makanan.." Wonwoo berujar seadanya. Dan kembali bersuara saat melihat gelagat Hansol yang hendak menolak. "Aku membutuhkan waktu untuk sendiri, Hansol... Aku... Aku juga ingin hidup bebas seperti yang lainnya meskipun hanya beberapa menit."
Helaan nafas meluncur begitu saja dari belah bibir Hansol. Sejujurnya ia merasa tak tega melihat wajah memelas Wonwoo. Tetapi bagaimanapun juga, ia harus tetap menjalankan hal yang menjadi tugasnya. Membiarkan Wonwoo pergi hanya akan mengundang kemurkaan dari Mingyu.
Masih jelas di ingatannya saat salah satu anggota Akuma membiarkan Wonwoo pergi, sang atasan yang mengetahui hal itu langsung mengakhiri hidupnya detik itu juga. Hansol hanya tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.
"Harap Anda mengerti, My Lord. Segeralah kembali ke kamar jikalau tidak ingin hal buruk terjadi pada bodyguard yang bertugas menjaga Anda.."
Aku hanya perlu hidup seperti ini, aku hanya perlu untuk bernapas
Aku hanya perlu hidup, mengapa tidak bisa?
Aku berkata seakan tidak bisa
Ini lebih baik untukku
Cukup lama terdiam, akhirnya Wonwoo menganggukkan kepala pasrah. Membalikkan tubuh rampingnya kemudian melangkah gontai menuju kamar. Di ikuti oleh Choi Hansol yang mengekor di belakang, menatap punggung rapuh Wonwoo dengan pandangan yang sulit di artikan.
-MW-
"Permisi, Sajangnim.. Ini makanan pesanan Anda.." seorang gadis berwajah oriental berujar pelan, sembari berjalan menghampiri seorang pemuda yang masih sibuk dengan berkas-berkas penting.
Lelaki dengan mahkota abu-abu itu sontak mengangkat wajahnya, dan mengerutkan kening melihat nampan yang di bawa oleh pegawainya tersebut. "Letakkan saja disana." perintahnya seraya menunjuk meja di sudut ruangan. Kemudian kembali melanjutkan aktifitasnya yang sempat tertunda.
Wanita tersebut segera meletakkan nampan yang ia bawa pada permukaan meja yang di tunjuk oleh sang atasan. Tersenyum ramah ketika beradu pandang dengan pemuda lain bersurai cokelat gelap yang di tata berdiri, yang juga tersenyum padanya.
"Saya pamit undur diri, Kim Sajangnim, Choi Kwajangnim.." pamitnya setelah meletakkan nampan di tangannya dan membungkuk sopan. Sang direktur tak merespon sama sekali, sementara pemuda bersurai cokelat gelap bernama lengkap Choi Seungcheol membalas dengan gumaman pelan.
Setelah memastikan pegawai wanita tersebut pergi, Mingyu langsung mengarahkan pandangannya pada Seungcheol.
Seungcheol yang kebetulan juga tengah melirik ke arah atasannya itu, langsung bertanya santai. "Apa? Jika yang ingin kau tanyakan siapa yang memesan makanan ini, akulah jawabannya." jelasnya yang seakan paham akan tatapan yang Mingyu layangkan padanya. "Aku lupa kapan terakhir kali melihatmu memakan sarapan pagi. Jadi aku sengaja memesannya untukmu.."
Mingyu tak mengacuhkan perkataan Seungcheol. Meraih penanya yang tergeletak di atas permukaan kertas, lalu kembali membubuhkan tanda tangannya pada berkas-berkas yang menumpuk.
Seungcheol mendengus melihat respon tidak menyenangkan dari pemuda dingin tersebut. Dengan sedikit dongkol mengambil sumpit yang tersedia lalu memakan makanan yang awalnya ia pesan khusus untuk Mingyu.
Jam yang tergantung apik di dinding bahkan masih menunjukkan pukul setengah 7. Masih terlalu pagi untuk berkutat dengan kertas menyebalkan berkedok berkas penting.
Tetapi sepertinya waktu bukanlah panutan seorang Kim Mingyu. Seungcheol bersumpah, pria berkedudukan tertinggi di Kim Corporation itu sama sekali tidak ada beranjak dari kursi keagungannya sejak tadi malam. Dengan kata lain tidak tidur semalaman.
Seungcheol sempat berpikiran bahwa sebenarnya Kim Mingyu bukanlah manusia. Sama sekali tidak beristirahat, tetapi masih tetap fokus dalam pekerjaan. Benar-benar mengerikan. Pikirnya.
Bunyi dering ponsel disertai getaran ringan berhasil menghentikan kegiatan Mingyu sejenak. Tangan kekarnya merogoh saku celana, mengambil benda canggih yang masih berdering.
Melihat nama yang tertera di layar pintarnya, Mingyu langsung mendekatkan ponselnya pada telinga setelah mengangkat panggilan tersebut. "Ada apa?" tanyanya singkat dengan nada datar. Berbasa-basi dalam berbicara bukanlah tipikal seorang Mingyu. Menurutnya itu hanya akan membuang-buang waktu.
["Pesawat pribadi yang Anda butuhkan sudah siap, My King. Lee Seokmin akan menjemput Anda di atas gedung Kim Corp menuju ke Bandara khusus."]
"15 menit dari sekarang, Wonwoo harus sudah berada disini."
["Yes, My King.."]
Mingyu langsung memutus sambungan telepon secara sepihak. Menyimpan ponselnya kembali di saku celana, setelahnya merapikan berkas yang sudah ia selesaikan sebelum tangan kanannya menelpon.
Seungcheol yang melihat Mingyu terlihat sibuk merapikan meja kerjanya, mulai angkat suara. "Sudah mau berangkat?"
"Hm." Mingyu merespon singkat. Tanpa menghentikan jemarinya yang sibuk memasukkan berkas ke dalam map.
"Berapa lama kau berada di Jepang?"
"Don't know."
Seungcheol mengangguk paham. Tak lagi bersuara dan memilih untuk melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda.
Selesai membereskan berkas-berkas di mejanya, Mingyu meraih jas hitamnya yang ia letakkan pada sandaran kursi kemudian memakainya. Beranjak pergi tanpa berniat untuk berpamitan pada pemuda yang masih sibuk dengan menu sarapannya.
Seungcheol mendengus untuk kesekian kali. Mengalihkan perhatiannya yang tadinya tertuju pada figur bak model Mingyu, kembali pada makanan yang hanya tinggal sedikit.
"Aku jadi meragukan eksistensinya sebagai manusia.." Seungcheol menggoyang-goyangkan sumpitnya yang tengah menjepit Tteokbokki. "Tidak butuh makan, tidak butuh istirahat, tetapi tubuhnya sama sekali tidak menyusut. Monster macam apa Mingyu itu.."
Lelaki tampan bertubuh kekar itu langsung meringis dalam hati. Mengira bahwa dirinya juga ikut-ikutan tidak waras lantaran berbicara sendiri.
'Sepertinya aku mulai gila..' batinnya ngerih.
-MW-
Decakan kagum tak henti-hentinya meluncur dari belah bibir tipis lelaki manis. Mata sipitnya memperhatian interior mewah pesawat pribadi yang perlahan menukik naik. Boeing tipe 747-8 VIP. Pesawat pribadi yang Wonwoo tebak harganya lebih dari 400 triliun.
Entah dari mana Mingyu mendapat uang sebanyak itu hingga bisa membeli pesawat pribadi semewah ini. Tetapi pemikiran tersebut langsung ia tepis mengingat apa status kekasihnya itu. Uang sebanyak itu pastilah hanya seperti membalikkan telapak tangan bagi Mingyu.
Terdapat sebuah kamar mewah dengan ranjang Queen Size berseprai putih bersih, bersampingan dengan kamar mandi besar yang juga mewah. Di bagian depan, terdapat satu set sofa lembut yang juga berwarna putih, di lengkapi televisi lumayan besar. Wonwoo jadi merasa bahwa dirinya tengah berada di hotel bintang lima ketimbang di dalam pesawat.
Puas memandangi desain pesawat milik kekasihnya itu, Wonwoo menolehkan kepala. Menangkap sosok sang pemilik alat transfortasi udara tengah duduk di sofa sembari membolak-balik sebuah kertas di dalam map cokelat.
Memang, hanya ada 4 orang dalam pesawat tersebut. Dirinya, Mingyu, Hansol yang duduk di cockpit bersama lelaki berwajah ramah bernama Seokmin yang tengah mengemudikan pesawat.
Wonwoo melangkahkan kakinya menuju ke arah Mingyu berada. Mendudukkan bokongnya tepat di samping pemuda yang sama sekali tak menoleh melihat kedatangannya.
"Mingyu... Sebaiknya kau mengistirahatkan tubuhmu. Aku tahu kau sama sekali belum beristirahat sejak tadi malam.." Wonwoo berujar lembut. Salah satu tangannya memegang bahu tegap lelaki tersebut agar memandang ke arahnya.
"Tid-"
"Aku mohon, kali ini menurutlah padaku, Mingyu.." Wonwoo menyela sebelum pemuda tampan tersebut sempat menolak.
Mingyu akhirnya mengangguk pasrah. Menuai senyum manis dari kekasih manisnya yang kini menarik lengannya menuju satu-satunya kamar yang tersedia.
Sesampainya disana, Wonwoo langsung menaiki ranjang super empuk itu lalu duduk dengan punggung menyandar pada headrest. Tangan kurusnya menepuk-nepuk pahanya yang berbalut jeans hitam, memberi isyarat pada Mingyu untuk merebahkan kepalanya disana.
Mingyu sama sekali tak keberatan. Ia langsung merebahkan tubuhnya dengan kepala berbantalkan paha Wonwoo. Mulai memejamkan mata ketika jari-jari lentik itu membelai lembut surai abu-abunya berulang kali. Sekeras apapun ia menutupi kelelahan yang mendera tubuhnya, nyatanya Mingyu memang membutuhkan waktu untuk beristirahat.
Elusan lembut yang di berikan pemuda Jeon memberi kenyamanan tersendiri baginya. Rasa nyaman yang hanya Mingyu rasakan ketika bersama Jeon Wonwoo.
Tak sampai 5 menit pria di pangkuannya sudah tertidur nyenyak. Menandakan jika sang kekasih benar-benar lelah hingga langsung tertidur dalam waktu singkat. Seulas senyum terukir pada wajah indah Wonwoo. Senyuman yang bukan mengartikan kebahagiaan, melainkan sarat akan kepedihan.
Aku tidak ingin melepaskan diri
Aku tidak ingin merusak diriku lagi
Kenangan yang tidak berakhir bahkan ini sudah terlalu lama
Aku tidak punya kepercayaan diri untuk menang di atasnya
Wonwoo sedikit membungkukkan tubuh, memberi kecupan singkat pada kening berlapis kulit tan Mingyu sembari menggumamkan kalimat 'selamat tidur'.
Jemari lentiknya sama sekali tidak berhenti mengelus mahkota lelaki yang melekat erat di hati serta pikirannya. Setetes air bening meluncur tanpa sadar dari mata indah Wonwoo saat memperhatikan wajah damai Mingyu yang terlelap.
Mingyu nampak polos dan murni saat tertidur. Sangat berkebalikan ketika mata dingin itu terbuka dan memperlihatkan sifatnya yang sebenarnya.
Rasa sesak itu lagi, Wonwoo kembali merasakannya. Entah apa yang mempengaruhi dirinya dulu hingga berani melalukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan.
Tetes demi tetesan air mata semakin deras mengalir. Membasahi pipi putih itu tanpa di minta oleh Wonwoo sendiri. Kilasan masa lalunya yang terbesit begitu saja di kepalanya membuat rasa bersalah semakin menggerogoti hatinya.
Hatiku pincang dan ini adalah akhir dari jalan
Setelah membuat keputusan itu dan mengambil napas
Aku merobek tubuhnya dari dalam hatiku
Aku menghapus gambar yang beredar
Membakar habis kenangan yang tersisa sampai ke langit
"Maafkan aku..."
TBC
BIG THANKS TO :
Park RinHyun-Uchiha, Viyomi, mannekeen, egatoti,
wonppa, wanUKISS, seira minkyu, pizzagyu, Guest, PPine,
Nishabacon627, 7D, byeons, adellares
Hayooo.. Udah ada yang bisa nebak siapa itu Mingyu?
Oh iya, mungkin ini fic lebih menonjol Crime-nya ya.. Tapi aku usahain Romancenya seimbang sama Crimenya..
Btw makasih yang sebanyak2nya untuk yang udah fav/foll/review :'* seneng deh baca respon positif dari kalian.. Laphyuh buat yang udah ninggalin jejak :'*
Sign; Cattaon Candy
