Inspirate by : Skydive-B.A.P's MV
Aku hanya mencintaimu, setinggi langit...
Kau adalah alasan aku hidup...
Perasaanku penuh dengan keinginan dan harapan
Hatiku tumbuh lebih dalam, aku tidak bisa menyembunyikannya.
Kau untukku, My One...
[SHINee : One]
Pesawat bertype Boeing 747-8 VIP mendarat mulus pada lapangan khusus, bandara pribadi Akuma. Sang pilot pesawat berwajah ramah, langsung beranjak keluar dari cockpit setelah memastikan alat transportasi udara tersebut aman.
Sementara Hansol, lelaki blasteran Korea-Amerika itu bergegas menuju satu-satunya kamar yang tersedia. Berniat membangunkan sang atasan yang kemungkinan masih mengistirahatkan diri.
Setibanya di sana, Hansol langsung mengulurkan tangan kemudian mengetuk pintu. Bibirnya sudah terbuka, berniat mengatakan jika mereka telah tiba di Jepang, sebelum pintu yang bersebelahan dengan kamar mewah tersebut terbuka. Ia menoleh cepat, retinanya menangkap figur semampai Wonwoo yang hanya berbalutkan bathrobe putih selutut. Jika di lihat dari rambutnya yang basah, sepertinya lelaki manis itu baru saja selesai mandi. Wonwoo nampak segar sekaligus lebih manis dengan penampilannya sekarang.
"Oh, Hansol.. Ada apa?" tanya Wonwoo dengan kening berkerut samar. Cukup terkejut saat dirinya membuka pintu kamar mandi tadi, dan menemukan Hansol di sana. Ia melangkahkan kaki jenjang berlapis kulit putihnya mendekati pemuda tampan tersebut.
Hansol buru-buru membungkuk hormat. Mencoba meredam rasa canggung karena sempat mengagumi tubuh semampai kekasih atasannya itu. "Kita sudah tiba di Jepang, My Lord.." tuturnya setengah gugup. Mengambil nafas sejenak lalu kembali melanjutkan. "Tadi saya berpikir Anda serta Tuan Mingyu sedang beristirahat, dan berniat untuk membangunkan.. Ternyata Anda berada di sini.."
Wonwoo mengangguk sekilas sebagai respon, setelahnya mengukir senyum manis yang khas. Sementara kedua tangannya kembali sibuk mengeringkan surai hitamnya dengan handuk putih yang ia pegang. "Baiklah.. Kau bisa pergi, Hansol. Biar aku yang membangunkan Mingyu.."
"Baik. Saya permisi, My Lord.." Hansol segera berbalik dan melangkah pergi setelah sebelumnya membungkuk serta berpamitan. Di tanggapi dengan anggukan singkat sang pemuda manis yang langsung memutar kenop pintu kamar.
[BACKSONG : SHINee-ONE]
Melihat Mingyu yang masih tertidur lelap, Wonwoo terpaksa mengurungkan niatnya untuk membangunkan pemuda tampan tersebut. Memilih untuk berjalan menuju koper miliknya yang terletak dekat dengan kaca rias, lalu membuka koper tersebut dan memilah-milah baju yang akan ia kenakan.
Di tengah kesibukannya itu, Wonwoo sampai tidak menyadari jika sosok tegap sang kekasih sudah berdiri tepat di belakang tubuhnya. Setelah mendapatkan pakaian yang ia cari, dirinya langsung berdiri. Bersiap membuka bathrobe putih yang membalut tubuhnya sebelum sebuah lengan kekar melingkar erat di pinggang rampingnya.
Wonwoo yang terkejut refleks memekik tertahan. Bahkan pakaian yang tadinya berada di tangannya kini sudah teronggok pada permukaan lantai. Ia mendongak, guna melihat bayangan dirinya juga pemuda yang memeluknya pada kaca rias.
Mingyu mengeratkan pelukannya. Memberi kecupan beserta isapan lembut pada tengkuk Wonwoo. Aroma manis vanilla yang menguar dari tubuh di dekapannya ini membuatnya terbuai. Wonwoo begitu memikat. Entah harus berapa kali dirinya rela bertekuk lutut pada pemuda manis ini.
"M-Mingyu... K-kita sudah sampai di Jepa-eunghhh.." ucapan Wonwoo yang terputus-putus langsung tergantikan dengan lenguhan, saat salah satu tangan Mingyu menyusup melalui celah bathrobenya. Mengelus perut ratanya dengan gerakan teramat lembut.
Mingyu tak mengacuhkan perkataan sosok yang begitu ia puja. Lebih memilih untuk menjelajahi leher jenjang Wonwoo dengan lidah panjangnya. Memberi jilatan-jilatan menggoda yang berhasil membuat sang terkasih semakin tak terkendali. Bagi Wonwoo, sentuhan Mingyu itu bagaikan api, yang bisa membakarnya kapan saja dengan sensasi panas yang menggilakan.
Kecupan Mingyu berhenti tepat di cuping telinga pemuda Jeon. Mengulumnya sebentar lalu berbisik dengan suara berat yang menggoda. "Keberatan jika aku melakukannya?"
Wajah Wonwoo memanas. Di tengah napasnya yang tak beraturan, ia hanya menggeleng sebagai respon bahwa dirinya tak keberatan. Terlalu malu untuk menanggapi perkataan sang ketua Akuma dengan kata-kata.
Senyum menawan terukir pada wajah tampan Mingyu ketika mendapat respon positif dari Wonwoo. Menampakkan kedua taringnya yang melewati batas manusia normal. Taring yang di mata Wonwoo begitu manis sekaligus-Sexy.
Mingyu langsung menyelipkan tangan kanannya di antara belakang lutut pemuda tersebut, menggendongnya menuju ranjang besar yang ada di sana. Sesampainya di dekat ranjang berseprai putih itu, dirinya langsung merebahkan Wonwoo yang masih melingkarkan lengan pada lehernya.
Bergerak menindih tubuh ramping itu, mendekatkan wajah pada telinga Wonwoo lalu berbisik lembut, "Ketahuilah, tulisan tak akan terbaca jika kau tidak-" berhenti sejenak guna memberi kecupan sekilas pada pipi halus pemuda Jeon. "-membuka covernya.." katanya melanjutkan. Sesaat setelahnya menyambar bibir pink segar Wonwoo dan menciptakan suasana yang sarat akan gairah.
-MW-
Wonwoo termenung. Perkataan yang Mingyu lontarkan sebelum mereka melakukan 'itu' beberapa jam lalu, masih berputar-putar di kepalanya. Entah apa makna di balik perkataan itu, ia sama sekali tidak mengerti.
Yang pasti, dirinya merasa terbebani. Setiap kali Mingyu akan menyentuhnya, lelaki tampan itu selalu mengucapkan beberapa patah kata yang seperti teka-teki tersulit baginya. Sampai detik ini, tidak ada satu pun dari sekian banyak ungkapan yang Mingyu utarakan berhasil ia pecahkan.
Entah karena Mingyu yang terlampau cerdik merangkai kata, atau justru ia yang terlalu bodoh untuk mengartikan.
Wonwoo mengacak-acak rambutnya frustasi. Semakin dirinya mendalami rasa cintanya pada pemuda Kim itu, semakin besar pula beban yang ia tanggung. Ia rindu. Rindu akan sosok Mingyu yang hangat dan sikapnya yang manis.
Mingyu yang sekarang sama sekali tidak tertebak. Terkadang dia bersikap manis pada Wonwoo, tetapi tak jarang Mingyu bersikap tak perduli juga dingin terhadapnya. Senyum tulus yang dulu sering Wonwoo lihat, kini tergantikan dengan senyum misterius yang menurutnya mengerikan. Meskipun tak jarang Mingyu memperlihatkan senyum yang nampak normal, tapi Wonwoo tahu, ada sesuatu yang terselip di balik senyuman itu.
"...My Lord?"
Wonwoo tersentak merasakan tepukkan lembut pada bahunya. Ia mendongak, dan menemukan sosok pemuda tampan bermata sipit memandangnya khawatir.
"Anda baik-baik saja?" Seokmin bertanya hati-hati. Prihatin melihat wajah pemuda manis yang tengah duduk di tepi ranjang ini terlihat sedikit pucat.
Wonwoo tersenyum tipis. Memasang ekspresi senatural mungkin, lantaran tidak ingin membuat pemuda bermarga Lee itu semakin khawatir. "Aku tidak apa-apa.." balasnya pelan. Keping indahnya tertuju pada Seokmin yang masih menatapnya. "Ada apa, Seokmin?"
"Tadi saya mengetuk pintu, tetapi Anda tidak merespon. Saya berpikir terjadi sesuatu pada Anda, jadi saya memilih untuk masuk. Maaf atas kelancangan saya, My Lord.." Seokmin menjelaskan, lalu membungkuk dalam setelah menyelesaikan penjelasannya.
Wonwoo tertawa kecil. Merasa sedikit terhibur dengan tingkah pemuda tersebut. "Tak apa.. Ada yang kau butuhkan hingga mencariku?"
"Kedatangan saya kemari untuk menyampaikan pada Anda jika Tuan Kim Mingyu pergi keluar. Beliau tidak bisa berpamitan langsung karena urusannya terlampau mendadak."
Wonwoo mengangguk-angguk pelan. Beberapa saat memperhatikan wajah Seokmin yang berpamitan undur diri. Ia kembali bersuara saat pemuda itu sudah berbalik hendak memutar handle pintu. "Seokmin, boleh aku bertanya sesuatu denganmu?"
Seokmin kembali membalikkan tubuh. Menghadap Wonwoo. "Ya, silakan tanyakan apa yang ingin Anda tanyakan, My Lord.."
Wonwoo mengambil nafas dalam. Jika di lihat dari wajah, sepertinya pemuda Lee itu adalah sosok yang jujur. "Kenapa-Akuma bisa berdiri di Jepang? Bukankah Yakuza juga di Jepang? Aku tidak mengerti bagaimana bisa 2 Organisasi berdiri di negara yang sama.." mulainya sedikit ragu. Matanya menatap Seokmin tepat di mata. "Seokmin, aku tahu kau seseorang yang jujur.. Jadi, aku memohon padamu untuk mengatakan hal yang sebenarnya padaku."
Seokmin sontak terdiam. Ekspresinya yang tadinya tenang langsung berubah tegang saat mendengar pertanyaan pemuda Jeon. Tidak tahu harus menjawab atau sekedar merespon seperti apa.
"Aku merasa seperti orang bodoh karena tidak mengetahui apapun tentang kekasihku sendiri. Aku...aku merasa sulit hidup pada keadaan seperti ini. Ku mohon mengertilah, Seokmin.." tutur Wonwoo lagi.
Seokmin menghela nafas berat. Memandang Wonwoo dengan pandangan yang sulit di artikan. "Apa-perasaan Anda akan tetap bertahan jika mengetahuinya, My Lord?"
Wonwoo refleks mengangguk patah-patah. "T-tentu.."
"Akuma adalah sindikat terorganisir terbesar di dunia. Jika Anda berpikir Yakuza, TRIAD, atau bahkan Organisasi lain yang terkenal adalah penguasa dunia kelam di dunia, Anda salah besar. Pada kenyataannya, Akuma adalah raja dari semua Organisasi yang ada."
Wonwoo tercekat. Oksigen di sekitarnya seakan menghilang mendengar kata demi kata yang meluncur dari belah bibir Seokmin.
"Perjudian ilegal, Kasino, Prostitusi, Penyelundupan, Perdagangan narkoba serta senjata api, Pembunuh bayaran, Pemerasan. Itu adalah sumber kebesaran Akuma."
Lagi-lagi Wonwoo di buat terkejut atas penjelasan Seokmin. Ia bisa merasakan sesak sekaligus rasa takut yang amat sangat menyelimuti hatinya. Mingyu-
-adalah ketua dari Organisasi sekejam Akuma?
Tidak. Fakta apa yang baru saja ia dengar. Itu tidaklah mungkin!
Sedingin apapun Mingyu sekarang, dia tidak mungkin melakukan itu!
Seokmin yang melihat keterdiaman Wonwoo, kembali menghela nafas sebelum melanjutkan. "Jika hati Anda tak mampu bertahan, bersiaplah untuk melihat kehancuran Akuma. Kehancuran Akuma sekaligus-
-pemimpinnya.."
Aku masih berada di titik yang sama
Bergerak sedikit saja titik itu akan bergeser
Detik itulah, bayang-bayang kehancuran menjadi nyata
-MW-
[Backsong : B.A.P-One Shot]
Lamborghini Veneno Roadster berwarna hitam metalik berhenti tepat pada persimpangan jalan. Di belakangnya terdapat mobil lain, Jaguar XJ Sentinel, yang juga berhenti di tempat yang sama.
Pintu mobil sport keluaran Lamborghini terbuka, menampilkan sosok lelaki tinggi berpakaian serba hitam dengan lapisan jubah selutut berwarna sama. Menyusupkan kedua telapak tangan pada kantong jubah hitamnya, lalu berjalan angkuh menuju bangunan yang di tuju. Sementara 4 orang pria yang tadinya berada di mobil lain, berjalan di belakangnya dengan patuh.
Menghentikan langkah kakinya ketika berada di depan bangunan tersebut. Mata dinginnya hanya memperhatikan sang tangan kanan memukul-mukul Krey berbahan aluminium dengan keras.
Tak lama kemudian, tirai teras itu di tarik ke atas oleh seseorang dari dalam bangunan. Pria yang sepertinya sudah memasuki usia kepala 4 itu langsung mematung ketika melihat sosok pria tinggi di hadapannya.
Tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, lelaki berjubah hitam langsung mengarahkan moncong S&W 500 Magnum miliknya pada kepala pria tersebut. Menghasilkan bunyi ledakan khas senjata api. Dengan santai melewati sosok yang sudah meregang nyawa atas perbuatannya barusan.
DOR!
DOR!
DOR!
Bunyi bising yang memekakkan telinga sekaligus jeritan tertahan terdengar berulang-ulang. Menghabisi satu persatu seluruh eksistensi yang ada, hingga hanya tersisa seorang pria dewasa dengan penampilan mewah yang khas, duduk tepat di depan sebuah meja yang di penuhi kertas berharga, uang.
Pria berperawakan sedikit tambun tercekat. Tubuhnya mendingin seiring dengan pria berjubah hitam, berjalan mendekatinya sembari mengarahkan ujung pistol tepat pada kepalanya. "Oh! Apa gerangan yang membuat ketua Akuma mengunjungi Silencer.." mencoba bersuara sesantai mungkin, dan bersikap seolah tak merasa bahwa nyawanya dalam bahaya.
Tersenyum meremehkan. Lalu menyahut santai. "Membantai pengkhianat.."
"Pengkhianat? Lelucon macam apa yang baru saja kau katakan, heh?" menyilangkan tangan di dada, sementara retinanya memperhatikan gerak-gerik lelaki yang berdiri menghadapnya. "Apa aku perlu mengingatkanmu bahwa aku...sudah keluar dari Akuma, hm?"
Pemuda yang masih setia mengarahkan ujung pistolnya ke kepala pria tua bersedekap. Ekspresinya yang tadi terlihat datar, berubah drastis. Menatap dingin sang 'mantan bawahan' dengan kilatan berbahaya. "Pemerasan terhadap anggota Yakuza dengan memakai Akuma sebagai dalih." senyum mengerikan terukir pada wajah tampannya melihat reaksi pria tersebut. Ia bisa melihat kilat ketakutan di matanya. "Masih mengingat perjanjian saat terikat dengan Akuma, Dai Yamamoto-san? Berkhianat sama dengan-mati.."
Selesai dengan ucapannya, ia langsung menekan pelatuk S&W 500 Magnum miliknya. Menimbulkan bunyi ledakan yang tak lagi asing di telinganya sendiri. Dai Yamamoto, menekan dada kirinya yang baru saja menjadi sasaran benda kecil namun tajam sekaligus mematikan, peluru. Dirinya terbatuk pelan, menyemburkan cairan merah pekat yang berhasil membuat sudut bibir pria tampan tertarik naik.
Dengan sisa tenaganya, melayangkan tatapan benci pada pemuda tersebut. "K-kau ben...benar hahh brengsek, Kimu Mingiyu.. K-kau-" belum sempat menyelesaikan perkataannya, Dai Yamamoto jatuh tersungkur dari kursinya. Menghembuskan nafas terakhir.
Puas memandangi hasil kerja senjata kesayangannya, pria yang di panggil oleh Dai Yamamoto Kimu Mingiyu langsung membalikkan tubuh. Memandang sang tangan kanan beserta bawahannya yang lain, sibuk memasukkan uang yang berserak di atas meja ke dalam sebuah tas.
"Hansol, segera bereskan tempat ini." perintahnya dengan wajah yang kembali datar.
Sang pemilik nama langsung mengangguk patuh. "Yes, My King.."
Kimu Mingiyu melangkahkan kakinya keluar. Berjalan santai menuju Lamborghini Veneno Roadster yang terparkir di persimpangan jalan.
Sesampainya di sana, ia langsung bergerak masuk kemudian menurunkan kaca mobil. Menyaksikan dari jauh ke-4 bawahannya berjalan menjauh dari markas Silencer. Tak lama kemudian, terdengar suara ledakan keras dari bangunan tersebut.
Melihat kobaran api yang mulai memakan habis markas Silencer, membuatnya tersenyum. Senyuman yang mengisyaratkan kelicikan di baliknya. Kimu Mingiyu kembali menaikkan kaca mobilnya, menghidupkan mesinnya kemudian memacu mobil tersebut membelah jalanan yang sepi di tengah gelapnya malam.
Dengan kecepatan mobil sport yang tak lagi di ragukan, membuatnya hanya memakan waktu 20 menit untuk tiba di sebuah bangunan tinggi dengan Neon Box bertuliskan A-gam.
A-gam, kependekan dari Akuma Gambling. Salah satu tempat Perjudian Ilegal yang di naungi oleh Organisasi Akuma.
Kimu Mingiyu, dengan nama Korea Kim Mingyu, yang tak lain adalah pemimpin Organisasi tersebut, langsung beranjak keluar dari mobil edisi terbatas miliknya. Berjalan dengan kesan angkuh khas pemimpin dunia kelam.
Kedua bodyguard yang berdiri di sisi pintu masuk A-gam, langsung membungkuk dalam sembari menyilangkan tangan kanan yang di kepal di antara dada dan bahu. Salam hormat khas Akuma. "Konbanwa, Kimu Mingiyu-sama.." sapa keduanya sopan.
Mingyu bergumam sekilas sebagai respon. Kembali melangkahkan kaki ketika kedua pria bertubuh kekar tersebut bergerak, memberi akses masuk pada sang atasan.
Aroma alkohol bercampur bau asap rokok yang begitu kuat, langsung menusuk hidung mancungnya seiring dengan langkah kakinya yang semakin memasuki ruangan tersebut. Hal yang biasa jika menapakkan kaki di tempat perjudian.
Mengabaikan beberapa bawahannya yang menyapa, Mingyu lebih memilih menarik salah satu kursi yang berisi 3 orang pria berlainan usia. Mereka terlihat sibuk bercakap-cakap sebelum mendengar deritan kursi yang di tarik. Salah satunya yang terlihat paling muda, langsung menyunggingkan senyum melihat kedatangannya.
"Oh! Lihat siapa yang datang, ketua Akuma.." pria berwajah tampan dengan hidung mancung serta mata sipitnya, Ren Watanabe, berujar pelan. Menyambut sosok yang di tunggu. Dirinya mengulurkan tangan lalu bertanya ramah. "O genki desu ka, Kimu Mingiyu-sama?"
Mingyu menyambut uluran tangan itu sekilas. "Genki desu." jawabnya singkat. Tanpa repot-repot membalas senyuman yang di tujukan untuknya. "Hal menarik apa yang membuat anak 'Bangsawan' mengundangku ke sini, hm?" tanyanya datar.
Ren melirik sekilas Ryuzaki yang duduk di sebelahnya, lalu kembali mengarahkan pandangan pada pria bersurai abu-abu. "Saham besar di Jepang beserta cek 1 triliun. Tidakkah itu menggiurkan, Mingiyu-sama?" sahutnya sembari bersedekap. Memperlihatkan sifat sombong khas anak dari pemilik perusahaan terbesar di Jepang.
Mingyu mengangkat bahu. Tidak begitu perduli dengan penawaran yang di tawarkan. Percayalah, pendapatan Akuma selama 3 hari bahkan lebih dari jumlah yang lelaki itu sebutkan. Tetapi, mendengar kata 'saham besar' membuatnya sedikit tertarik. Jika dirinya menang, ia bisa menjual saham itu dan menambah saham untuk perusahaannya di Korea.
"Hajimemashou." ujar Mingyu akhirnya. Mengundang senyum kemenangan pada wajah tampan Ren, Ryuzaki, maupun Shigeo.
Melihat senyuman yang mereka ukir pada wajah masing-masing, sang pemimpin Akuma hanya membalas dengan seringai misterius. 'Ketahuilah bahwa-
-Kim Mingyu lebih licik dari yang kalian bayangkan..'
-MW-
Sedan berwarna hitam metalik, Jaguar XJ Sentinel, melaju kencang di tengah sepinya jalan. Hal yang wajar, jam sudah menunjukkan pukul 11 lewat, hanya orang-orang yang berbaur dalam dunia 'gelap' lah yang mau berkeliaran di tengah malam seperti ini. Layaknya mereka.
Pria perpaduan antara tampan dan imut bermata sipit, dengan rambut pirang yang di tata acak-acakkan, menolehkan kepala ke samping kiri tempat sang pengemudi mobil anti peluru yang di naikinya. "Hansol, kau sudah bertemu dengan Wonu-sama 'kan? Bagaimana wajahnya? Kau tahu, aku begitu penasaran seperti apa rupa dari kekasih Kimu Mingiyu-sama.." ia bertanya sekaligus memberi pernyataan dengan bahasa Jepang yang fasih.
Hansol yang mendengar itu, sontak menoleh sekilas lalu kembali fokus pada jalanan di depannya. Sungguh, ia tidak mau mati muda kalau-kalau secara mendadak ada mobil lain yang melintas di depan sana. "Lupa jika kau adalah warga negara Korea, Kwon Soonyoung?" bukannya menjawab, Hansol justru memberi pertanyaan lain. "Bahasa Jepang mu memang patut di acungi jempol. Tetapi itu tidak menutupi fakta bahwa kau adalah orang Korea.."
Pria yang di panggil Soonyoung mendengus kesal mendengar penuturan Hansol. "Dan fakta yang harus kau tahu, tanah yang kita pijak adalah Jepang, bukan tanah kelahiranku!"
"Apa katamu saja.." sahut pemuda blasteran tak perduli.
Soonyoung memajukan bibirnya. Bertindak sok imut tetapi malah membuat sang lawan bicara mengeryit jijik.
"Jangan memasang wajah menggelikan, Kwon. Kau sangat tidak pantas berekspresi seperti itu."
Soonyoung tak mengacuhkan perkataan berupa sindiran dari pemuda Choi. Ia justru memasang wajah semangat ketika kembali mengingat niat awalnya. Perihal kekasih ketua Akuma. "Kau belum menjawab pertanyaanku, Hansol! Katakan padaku, seperti apa ciri-ciri kekasih Kimu Mingiyu-sama!" pintanya semangat. Yang sebenarnya lebih pantas di katakan desakan daripada permintaan.
Hansol terdiam beberapa detik. Guna membuka rekaman rupa Jeon Wonwoo di dalam benaknya. Setelah kilasan wajah manis Wonwoo tergambar jelas di pikirannya, ia langsung bersuara. "Dia tinggi, ramping, kulitnya sangat putih dan halus, wajahnya sangat manis menjurus cantik.." menghentikan penjelasannya sejenak, hanya untuk mengukir senyum aneh. "Juga-sexy.." lanjutnya lagi dengan suara pelan. Terlampau pelan hingga suaranya tertelan dengan suara mesin mobil.
Hansol menggeleng-gelengkan kepala begitu menyadari perkataannya terakhir. Apa yang baru saja ia katakan, sungguh, dirinya tidak bermaksud menaruh pujian 'seintim' itu pada kekasih atasannya. Kata itu terucap begitu saja,
tanpa niatan sama sekali.
Tetapi, sepertinya gumaman Hansol yang terakhir sama sekali tidak di dengar oleh Soonyoung maupun kedua anggota Akuma yang berada di belakang. Terbukti saat ini pemuda bermarga Kwon di sampingnya sibuk menerawang, menggabungkan ciri-ciri yang Hansol sebutkan hingga membentuk figur yang ia bayangkan adalah Wonwoo.
Soonyoung yang sudah mendapat gambaran seorang Wonwoo-sesuai pemikirannya sendiri-langsung bersuara. "Wonu-sama manis sekali.. Kimu Mingiyu-sama sangat beruntung! Andai aku menjadi dirinya.." celetuknya masih dengan pandangan menerawang.
Hansol langsung menoleh cepat. Keningnya berkerut samar mendengar ucapan pria di sampingnya. "Kau...berharap ingin menjadi Kimu Mingiyu-sama?" tanyanya heran, yang refleks di angguki oleh Soonyoung. "Sungguh Soon, semisal wajahmu adalah wajah pemimpin Akuma, tubuhmu tetaplah tidak mendukung. Dia tinggi dan tegap, sementara kau-OUH! Kenapa kau memukulku?!"
"Kau menghinaku, sialan!"
"Itu fakta!"
"Kau tidak beda jauh dariku, Choi! Berkaca lah sekali-kali!"
Skakmat. Hansol menutup bibirnya rapat-rapat mendengarnya. Ia mengatai Soonyoung pendek, yang pada kenyataannya tinggi tubuhnya pun tidak beda jauh dengan lelaki bermarga Kwon. Sial. Kalau sudah begini, Hansol jadi menyesali lantaran memusuhi susu yang katanya tinggi kalsium sejak kecil.
-MW-
Suasana tegang yang kentara melingkari sebuah meja berisikan 4 orang pria. Lebih tepatnya hanya 2 di antaranya. Seorang pria bermahkota perpaduan merah dan hitam, nampak mengukir seringai tipis. Sementara seorang pria lagi hanya duduk santai dengan wajah datar andalannya.
Ren Watanabe, pria bersurai merah gelap, menatap penuh arti sebuah kartu yang hanya tersisa satu di tangannya. Meletakkan kartu tersebut di antara kartu lain pada permukaan meja, sembari memasang senyum kemenangan. 1 saham besar beserta cek 1 triliun akan menjadi miliknya. Ia yakin itu.
Baik itu Ryuzaki Nakamura maupun Shigeo Tanaka yang sedari tadi merasa tegang, kini hanya menghela nafas pasrah. Pasalnya mereka sama-sama memiliki 3 kartu di tangan, sementara Ren juga Mingyu memiliki sisa 1 kartu. Sudah jelas pemenangnya di antara kedua pria tampan tersebut.
Mingyu meletakkan kartunya dengan santai. Mata tajamnya bisa melihat bagaimana terkejutnya Ren ketika melihat kartu miliknya.
Terdiam beberapa saat dengan ekspresi terkejut bukan main, Ren yang tengah menatapi kartu yang tadi di letakkan oleh Mingyu, perlahan mendongak dan menatap pemuda tan dengan tatapan tak percaya. Ia yang melakukan shuffle, dan dirinya bisa memastikan tidak ada satupun dari mereka yang memegang kartu Joker. Lalu, bagaimana bisa Mingyu mendapatkan kartu itu?
Mingyu berdiri tegak, melipat tangan di dada seraya menatap Ren datar. "Berkas Saham, Cek 1 triliun. Dalam 24 jam tidak sampai ke markas Akuma, bersiaplah untuk-mati."
Setelah berucap demikian, sang pemimpin Akuma tersebut langsung beranjak pergi. Meninggalkan ketiga pria yang menatap kepergiannya dengan raut kesal bukan main. Terlebih Ren, ia sampai mengepalkan tangan lantaran merasa di remehkan oleh pria yang menurutnya bukan apa-apa di bandingkan dengan dirinya.
Mingyu menyeringai puas melihat ekspresi Ren yang ia lihat sekilas saat hendak pergi. Jangan sebut dirinya pemimpin Akuma jika ia tidak bisa membaca gerak-gerik licik pemuda bermarga Watanabe itu. Ia paham, sangat paham apa siasat Ren saat menerima kekalahan.
Langkah kakinya terhenti, merasa bagian belakang tubuhnya seperti di hantam benda kecil yang beberapa detik kemudian menggelinding dari kemeja hitamnya lalu terjatuh ke bawah dan memantul kecil di lantai. Sebuah peluru yang tak lain adalah milik Ren Watanabe.
Tangan kekar Mingyu merogoh saku jubah hitamnya, mengambil benda kebanggaannya dari dalam sana. Menekuk tangan kanan hingga S&W 500 Magnum miliknya berada di atas bahunya sendiri, dan menekan pelatuknya santai.
DOR!
"AKHH!"
Tanpa melihat target sama sekali. Tetapi peluru miliknya tepat mengenai sasaran. Jeritan kesakitan Ren yang baru saja Mingyu dengar adalah buktinya.
Ketahuilah, ketua Akuma bukanlah seorang pengecut yang menggunakan pistol redam suara untuk menyerang lawan. Seperti yang Ren lakukan. Lagipula, Mingyu sangat menyukai sensasi suara ledakan dari senjata api kesayangannya.
Tidak memperdulikan keadaan A-gam yang mulai histeris karena suara tembakan barusan, ataupun Ryuzaki dan Shigeo yang shock melihat Ren yang memuntahkan darah, Mingyu malah melenggang pergi meninggalkan bangunan tersebut. Tanpa rasa bersalah ataupun prihatin.
"Mencari perkara denganku sama saja dengan-
-mengantar nyawa."
bisiknya dengan seringai mengerikan.
Mingyu memasuki mobil sport miliknya saat tiba di area parkir. Bahkan ia sama sekali tidak menghiraukan kedua bodyguard yang berjaga di depan pintu, menanyakan apakah di dalam telah terjadi keributan.
Melajukan Lamborghini Veneno Roadster itu dengan kecepatan tinggi. Membelah jalanan yang bisa di bilang sangat sepi.
Jarak dari A-gam menuju markas Akuma seharusnya memakan waktu sekitar 1 jam. Seharusnya.
Tapi hal itu tidak berlaku untuk Mingyu. Lelaki Kim itu patut di beri penghargaan dalam hal menyetir. Hanya dengan 25 menit mobil edisi terbatas itu sudah berhenti tepat di depan gundukan halus pada permukaan aspal. Alat yang sebenarnya adalah pemindai untuk mendeteksi mobil yang akan memasuki jalan tersembunyi, yang sepintas di lihat hanya seperti gundukan aspal biasa.
Jika alat tersebut menandai mobil di depannya, maka gundukan itu akan tertekan ke bawah dan memperlihatkan lorong panjang tanpa penerangan. Jalan bawah tanah yang tak lain adalah jalur menuju markas utama Akuma. Lebarnya bisa memuat 2 buah mobil sekaligus. Mingyu kembali melajukan mobilnya, dan sedetik setelahnya jalan tersebut kembali naik dan tertutup sempurna. Seperti tidak pernah ada jalan di baliknya.
Jalan bawah tanah Akuma bukan sekedar jalan layaknya jalanan biasa yang terarah lurus ke depan. Selain pengamanannya yang amat ketat, terdapat juga sebuah labirin rumit yang di buat khusus. Hanya segelintir anggota berstatus tinggi di Akuma yang mengetahuinya.
Bukan. Markas utama Akuma bukanlah bangunan bawah tanah. Jalan itu hanya sekedar jalur khusus yang sengaja di buat untuk keamanan. Ujung dari lorong ada alat pemindai seperti sebelumnya, dengan tugas yang sama pula. Mendeteksi mobil yang ada di depan kemudian terbuka otomatis jika alat tersebut menandainya.
Mingyu memarkirkan mobil di antara deretan mobil sport lainnya. Bergerak keluar dan di sambut salam khas Akuma dari beberapa bawahannya yang berjaga di depan pintu.
Pria bertubuh kekar dengan wajah yang memperlihatkan ketidakramahan, segera membukakan pintu. "Silakan masuk, My King."
Anggukkan singkat Mingyu berikan sebagai respon. Melangkah lebar menyusuri ruangan super besar menuju sebuah tangga yang mengarah ke lantai 2. Menapaki anak tangga satu-persatu sampai langkahnya terhenti di depan pintu bercat hitam dengan ukiran Serigala besar. Lambang Organisasi Akuma.
Memutar handle pintu lalu membukanya perlahan. Takut jika dirinya membangunkan sosok yang tengah tertidur di dalam. Sesaat setelah menutup pintu, Mingyu membalikkan tubuh dan keping tajamnya menangkap punggung seseorang yang sangat di kenalinya duduk pada tepi ranjang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 lewat 15 menit. Sudah terlalu larut bagi sang terkasih untuk terjaga.
"Kau belum tidur?" tanya Mingyu. Melangkah mendekati Wonwoo yang sama sekali tidak merespon. Kerutan samar menghiasi kening Mingyu. Tidak biasanya pemuda manis itu bersikap seperti ini padanya. Ada apa? Apa ada sesuatu yang aku lewatkan selama beberapa jam terakhir. Pikirnya.
Cukup lama terlarut dalam keterdiaman, Wonwoo akhirnya membuka suara. "Mingyu, bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanyanya lirih. Tanpa membalikkan tubuh atau sekedar menolehkan kepala pada sang lawan bicara.
Mingyu mengangguk singkat. Meskipun ia tahu Wonwoo tidak akan melihatnya.
Wonwoo berdiri. Kembali bersuara masih dengan memunggungi pemuda Kim. "Apa artinya aku bagimu?" suaranya terdengar sarat akan kesedihan. Entah karena apa, hanya dirinya serta hatinya sendiri yang tahu.
Sama sekali tidak ada jawaban yang meluncur dari belah bibir sedikit tebal milik Mingyu. Lelaki dengan surai abu-abu itu justru meraih pergelangan tangan Wonwoo, menariknya dengan sedikit mencengkram tangan kurusnya.
Perlakuan Mingyu membuat ribuan pertanyaan berputar-putar di benak Wonwoo. Kerutan samar di kening putihnya memperlihatkan dengan jelas kebingungan yang melanda dirinya. Dan ia semakin di buat tidak mengerti karena Mingyu membawanya menghadap cermin full body yang tersedia di kamar luas tersebut.
Mingyu berdiri tepat di belakang tubuh ramping pemuda Jeon. Tangan kanannya bergerak mengangkat dagu runcing Wonwoo untuk memandang ke arah cermin. "Perhatikan dengan seksama.." bisiknya tepat di telinga pemuda manis. Wonwoo menurutinya, menatap ke arah cermin dimana di sana terdapat pantulan dirinya bersama sosok tegap Mingyu yang seolah-olah tengah membalas tatapannya melalui kaca. "Kau bisa melihat bahwa kita adalah satu. Bukankah pertanyaanmu sudah terjawab hanya dengan melihat pantulan di cermin itu, Jeon Wonwoo.."
Wonwoo terdiam. Membiarkan ujung hidung mancung Mingyu membelai tengkuknya hingga akhirnya bersentuhan dengan daun telinganya.
"Kau adalah hidup.. Tidak ada dirimu di sampingku itu berarti tak ada kehidupan bagiku.."
Wonwoo merasakan jantungnya berdegup kencang mendengarnya. Bukan karena merasa bahagia lantaran posisinya begitu berarti untuk Mingyu, melainkan rasa takut yang tak beralasan. Lelaki tampan itu mencintainya dengan 'tidak normal'. Hal itu yang membuat keraguannya untuk bertahan semakin membuncah.
Mingyu sedikit memiringkan kepala, kilatan matanya menggambarkan makna yang di artikan Wonwoo bukanlah hal yang baik. "Kau tahu, aku akan mempertahankan eksistensimu untuk terus berada di sisiku. Tidak perduli apapun rintangan yang harus ku lalui, aku akan terus membuatmu berdiri patuh di sampingku dengan-
-nyawaku sebagai jaminan.."
TBC
Q : Sebenernya apa masa lalu mereka? Kenapa Wonwoo kayak merasa bersalah banget?
A : Itu bakal aku jelaskan nanti kok. Tapi gak tau entah kapan, karna itu adalah inti cerita jadi aku gak bisa beberin disembarang chapter. /sungkem/
Itu jawaban dari pertanyaan yang dominan di lontarkan para reader ya :'*
Oh iya, ini aku juga bakal balas beberapa Review dari kalian. Hanya beberapa, karna akunya ngepost dari warnet, waktunya gak keburu kalo harus balas satu-persatu.
Untuk yang reviewnya belum aku respon jangan berkecil hati / merasa diasingkan ya :')
seira minkyu : Suka karakter Mingyu yang begini? Yakin masih suka sehabis baca chapter ini? Ini belum seberapa loooh, banggyu bisa lebih kejam dari itu /pasang senyum sok misterius/
Thanks untuk koreksinya ya sayang.. Agak2 ngantuk pas ngerjain, jadilah banyak typo :')
kembarannya KylaMassie : Yap bener! Mingyu itu ketua Akuma. Untuk babeh kups sih... hayoo coba tebak dia siapanya Mingyu /dirajam/
Thanks untuk reviewmu yang panjangnya kaya anunya Mingyu ya sayang :'* /kok ambigu ya/
avs1105 : Fanfic ini akan jelas seiring berjalannya cerita. Beribu maaf untuk dirimu yang belum paham karna belum ada penjelasan soal masa lalu mereka /cries/
Bukan kok bukan, Wonwoo gak pernah buat Mingyu kecelakaan.. Wonwoo cuma buat banggyu klepek2 /pasang muka songong/
Jangan pernah bosan buat nunggu inti ceritanya ya sayang :'*
Jww8 : Sebenernya fic ini memang di sengaja pake bahasa yang ringan. Selain karna belum tentu semua reader suka cerita dengan bahasa yang sulit dipahami, akunya juga gak bisa buat bahasa yang berat. Jadi aku buat sesuai kemampuan otakku berpikir.. Maaf nde /sungkem/
Tapi aku bakal usahain untuk buat yang bahasanya sedikit lebih berat ;')
adellares : Kaya main tebak2an? Kaya aku dong, bisa nebak kalo dihatinya banggyu cuma ada Wonu ceolang /muka songong mode on/
Entah Mingyu bisa disebut sebagai Mafia atau bukan, tapi kurang lebih emg begitu sih /kok labil diriku ini/ :')
BIG THANKS TO :
mannekeen, Viyomi, WooMina, kembarannya KylaMassie, Firdha858, pizzagyu
wonppa, 7D, Dazzpicable, Guest(1), fxznaexo, avs1105, Jww8
Park RinHyun-Uchiha, bonanona, adellares, MoniqJen, ddazed, meanieland
Mocca2294, Guest(2), nikeagustina16, Guest(3), Guest(4).
Sign; Cattaon Candy
