Wanita itupun menoleh ke arah sumber suara. Yoongi menatap lekat Jimin yang berdiri agak jauh dari tempatnya sekarang duduk. Yoongi berdiri mendekati Jimin yang berdiri mematung dan menunduk. Ia menunduk untuk menahan air mata yang mulai tergenang di matanya.

"Jimin-ah..." Yoongi mencoba memegang tangan Jimin. Tetapi Jimin melepas genggamannya. Tangannya kini mengusap air matanya yang mengalir deras.

"Ada apa denganku? Kenapa mataku berair. Aah.. aku rasa aku tadi kemasukan banyak debu. Bisa kita langsung duduk saja?"

Jimin berusaha tidak melihat wajah Yoongi. Ia tak mau air matanya kembali mengalir.

"Mmm... Aku mau menjelaskan sesuatu padamu Chim. Maafkan aku selama ini tidak memberi kabar. Aku punya alasan untuk itu. Aku tinggal di asrama setelah Appa dan Eomma ku meninggal... Ponselku juga hilang saat kecelakaan 5 tahun lalu."

"Kecelakaan? Kapan kau kecelakaan ? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Apa kau terluka parah? Bagaimana bisa hal itu terjadi? Hah!"

Jimin terkejut dengan penjelasan Yoongi. Dia tidak tau sama sekali 5 tahun lalu Yoongi kecelakaan. Yang dia tau Yoongi pergi begitu saja tanpa memberi kabar sama sekali padanya.

"Aku mengalami kecelakaan saat diperjalanan menuju rumah nenekku yang di desa. Aku tidak mau mengingat kejadian itu lagi. Hal itu membuatku sakit, karena kecelakaan tersebut. Aku jadi kehilangan Appa dan Eommaku."

Yoongi mulai menitikan air mata. Kejadian itu pastilah sangat menyedihkan baginya. Jiminpun sampai tak enak hati menuduh Yoongi yang bukan bukan. Tangisan Yoongi semakin keras terdengar. Jimin pun membiarkan pundak perkasanya dipinjam oleh yeoja itu untuk bersandar. Jimin pun menepuk nepuk pundak Yoongi. Dengan maksud supaya Yoongi tenang dan berhenti menangis.

"Oppa. Apa kau masih marah padaku? Aku benar benar tidak ada niat untuk meninggalkanmu. Aku benar benar dalam keadaan sulit. Aku juga tidak dapat menghubungi karena aku tidak punya kontakmu. Aku mendapatkan kontakmu dari Tae Hyung waktu aku bertemunya di minimarket minggu lalu."

"Hhmm... aku tidak marah lagi kok. Aku agak sedikit kesal saat kau pergi tanpa memberitahuku. Aku juga dalam keadaan sulit tau! Kau tau tidak betapa sulitnya aku menjalani hidup ini tanpa ada kamu! Ah sudahlah... aku tidak mau membahas masa lalu lagi. Sekarang mari kita pulang sudah malam. Kajja." Jimin menarik lengan Yoongi. Lalu menggenggam tangan putih mulusnya. Sudah lama sekali Jimin ingin melakukan ini bersama Yoongi. Yoongi pun juga sama. Ia sangat senang saat Jimin menggenggam tangannya.

"Oppa? Tapi rumahku sangat jauh. Aku naik taksi saja. Kalo berjalan kaki sampai rumahku mungkin 2 hari 2 malam." Yoongi sambil tertawa kecil.

"Tidak. Tidak boleh. Anak perempuan tidak boleh naik taksi sendirian. Akan aku temani yah. Aku juga ingin tau rumahmu dimana."

Jimin tersenyum. Tangannya melambai memanggil taksi.

"Oppa... "