Kuroko no Basuke disclaimer by Fujimaki Tadatoshi-sensei

Bye Bye, My Shelter by Rin Shouta
Rate : T
Genre : D
rama, Romance, Hurt/Comfort

Pair : AkaKuro (main pair)

Summary : Hubungan AkaKuro sudah berjalan kurang lebih empat tahun sebagai sepasang kekasih. Namun sejak Seijuurou mulai magang di perusahaan Akashi Corp., sikapnya mulai berubah. Tetsuya sakit hati karena selalu mendapat bentakan dari kekasihnya itu. Di satu sisi, Tetsuya ingin fokus untuk bisa mengikuti pertukaran mahasiswa dengan universitas lain di luar negeri. Fanfic request by Aike Wikanti Fitriani.

Warning : OOC, typos, etc. Don't like, don't read. I've warned you, okay?


Mood Tetsuya hancur sejak siang tadi. Tak ada yang bisa ia lakukan dengan benar. Tidur pun rasanya mustahil karena pikirannya dipenuhi pembicaraan yang ia dengar di kantin tadi antara Satsuki dan dua pemuda beda jurusan yang mengaku sebagai teman Furihata. Mengingat nama itu buat Tetsuya harus meredam emosi. Dari ciri-ciri yang diberikan oleh Taiga pagi ini, ia memang merasa pernah atau sering melihat Seijuurou jalan bersamanya. Tapi tak ada satu pun terlintas di benaknya kalau mereka menjalin hubungan di belakangnya.

Seijuurou bukan orang seperti itu. Bukan... Mereka hanya teman. Pasti.

"Tapi sepertinya gosip mereka dekat itu benar, deh. Kalau tidak salah... sejak goukon enam bulan yang lalu."

"Aku tidak tahu ada hubungan apa di antara mereka. Tapi aku cukup sering bertemu dengan Akashi di apartemen Furihata. Bahkan pernah ada saat masih pagi sekali. Sepertinya dia habis menginap semalaman atau semacamnya."

Tetsuya mendongakkan kepala dan menatap langit-langit ruang tamu. "Menginap... huh?"

Kalau diingat-ingat lagi, memang benar sikap Seijuurou berubah sejak enam bulan yang lalu. Lebih tepatnya sebulan setelah ia resmi menjadi karyawan magang di Akashi Corporation. Wajar saja jika Tetsuya berpikir Seijuurou berubah sikap karena stres dengan pekerjaannya. Bukan karena kegiatan perselingkuhannya. Pemuda itu memikirkan segala kemungkinan yang terjadi sambil menggigit ujung kuku ibu jari tangan kanannya tanpa sadar.

Kalaupun benar Seijuurou merasa terbebani karena pekerjaan, tentu mentalnya makin tambah tertekan dengan menyembunyikan sesuatu dari Tetsuya. Perselingkuhan itu misalnya. Saat kita berusaha merahasiakan sesuatu, pasti kita harus berbohong. Detak jantung akan bekerja secara tidak beraturan, meski dari luar terlihat tenang-tenang saja. Tetsuya hanya bisa menyimpulkan bahwa Seijuurou tidak tahan dengan tekanan mental akibat pekerjaan dan perselingkuhannya sehingga meluapkannya pada Tetsuya yang hanya mengira ia kelelahan karena pekerjaan.

Kesimpulan yang mana pun, hasilnya tetap sama di mata Tetsuya. Negatif. Terlebih setelah ia tahu kenyataan pasangannya bermain-main di belakangnya meski dari mulut orang lain.

Ia memeluk lutut seraya menyembunyikan wajah. Tetsuya ingin bertanya langsung pada Seijuurou. Namun dalam hatinya ia merasa takut untuk mendengar jawabannya. Mau Seijuurou menjawab dengan bohong atau jujur, sama-sama membuat hati Tetsuya sakit. Rasa percayanya pada sang kekasih mulai terkikis. Ia tidak tahu harus percaya atau tidak dengan jawaban Seijuurou nanti.

Tiba-tiba terdengar suara seseorang membuka kunci pintu. Itu pasti Seijuurou. Hanya mereka berdua yang punya kunci apartemen ini.

Masih dihantui rasa tidak percaya, mata beriris aquamarine itu memandangi pintu. Seijuurou jarang bisa pulang lebih awal. Paling cepat pun sekitar jam delapan dan sekarang masih jam enam sore. Tetsuya tidak tahu harus bersikap seperti apa. Jiwa dan raganya sudah lelah. Perlahan ia menarik napas lalu mengembuskannya lewat mulut. Ketika pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Seijuurou secara utuh, Tetsuya sudah dalam posisi duduk manis sambil bersandar pada sofa.

"Tadaima, Tetsuya." Seijuurou mendekat kemudian mencium kening Tetsuya dengan lembut.

Dalam sekejap, perasaan buruknya menghilang. Tetsuya tersenyum. "Okaeri, Sei-kun."

Jika cerita itu benar... asalkan Sei-kun kembali padaku. Hanya untukku. Ugh!

Mendadak tubuh Seijuurou ditarik. Tetsuya memeluk lehernya erat. Ia hampir jatuh menimpa tubuh mungil Tetsuya jika kedua tangannya tidak menahan beban tubuhnya sendiri. Ekspresi bingung terlihat di wajah Seijuurou lalu mengabaikan sikap aneh Tetsuya. "Hei, aku bawa kue dan vanilla milkshake kesukaanmu. Kita makan dulu, ya?" ucapnya dengan nada penuh kasih sayang.

Dengan gerakan terpaksa, pelukan itu terlepas. Kepala Tetsuya terus menunduk walau sempat mengangguk sekali. Ia menengok sebentar ke arah Seijuurou yang mulai melepas mantel cokelat serta syal merah rajutan Tetsuya lalu menaruhnya sembarang di sofa yang lain.

"Oh iya, apa kau kaget karena aku pulang sore?" tanya Seijuurou sambil menengok.

Tetsuya mendongak, membalas tatapan sang kekasih. "Ya."

Gerakan pemuda berambut merah itu terhenti dan membiarkan dasi biru tua tetap di kerah kemeja putihnya meski ikatannya sudah terlepas. "Kau kenapa, Tetsuya? Sedang memikirkan sesuatu? Atau tidak enak badan?" tanya Seijuurou sekaligus seraya duduk di sisi kanan Tetsuya. Tanpa meminta izin, tangan kirinya memegang kening Tetsuya sementara tangan kanan memegang keningnya sendiri. Ia bermaksud membandingkan suhu tubuh dirinya dengan kekasihnya itu.

"Suhu tubuhmu normal—" Ucapan Seijuurou terputus saat pergelangan tangan kirinya dicengkeram lalu ditarik oleh Tetsuya. Kedua matanya mengerjap beberapa kali. Memproses apa yang sedang terjadi. Ah, Tetsuya mencium bibirnya. Lamat-lamat ia pun membalasnya.

Ketika lidah Tetsuya meminta akses untuk masuk, Seijuurou langsung menghentikannya dengan mendorong pelan bahunya. Pemuda itu merasa aneh dengan sikap Tetsuya yang agresif secara mendadak. Ini bukan yang pertama kali, tapi Seijuurou selalu tahu alasannya. Tetsuya sedang memikirkan sesuatu dan memilih untuk berusaha melupakannya walau hanya sesaat. Dengan cara bercinta. Tentu saja.

"Hei, aku tahu kau sedang memikirkan sesuatu. Kau bisa cerita padaku, Tetsuya," ucap Seijuurou seraya mengelus pipi sang kekasih dengan tangan kanan.

Tetsuya menampakkan ekspresi merengut. "Sei-kun tidak mau?"

Samar-samar wajah Seijuurou merona. "Bukannya tidak mau—"

"—berarti kau mau."

Kedua tangan Tetsuya melingkar di leher Seijuurou. Dengan kekuatan yang seadanya, ia menarik pemuda tersebut hingga jatuh ke atas tubuhnya. Tetsuya mencium bibir itu lagi. Melumatnya secara sensual dan berusaha meminta akses masuk ke dalam mulut Seijuurou. Lenguhan terdengar ketika terjadi gesekan lutut kaki kiri Seijuurou pada bagian selangkangan Tetsuya. Tanpa ampun lidah Seijuurou menginvasi mulut sang kekasih yang sudah tak berdaya di bawahnya. Bergulat lidah lalu menerima kiss mark di beberapa tempat sebelum mencapai klimaks.

Pandangan Tetsuya mengabur. Air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Seijuurou tidak tahu makna dari air mata itu dan menganggapnya sebagai air mata akibat kegiatan panas mereka. Ia mencium bibir Tetsuya, kemudian beralih pada keningnya.

Ah... Aku tidak suka bau kayu-kayuan ini...

Sei-kun... Katakan kalau gosip itu tidak benar...

"Nee... Sei-kun... Kau mencintaiku, kan?"

"Hm? Tentu saja. Selalu. Selalu, Tetsuya. Aku akan selalu mencintaimu."

...usotsuki.

.

Hari ini Tetsuya meliburkan diri karena rasa penat atas segala rutinitas selama tiga minggu belakangan ini. Ah, sebenarnya ia sengaja menyibukkan diri supaya tidak memikirkan rasa sakit hati yang ia terima dari pengkhianatan sang kekasih. Jurnal sebagai persyaratan program pertukaran mahasiswa sudah dikumpulkan sejak tiga hari yang lalu. Sekarang Tetsuya hanya bisa berdoa. Entahlah, antara yakin tidak yakin ia bisa mendapatkan kesempatan tersebut. Saingannya bukan hanya sepuluh orang, tapi hampir semua mahasiswa seangkatan.

Yang terpenting, aku sudah berusaha, pikirnya.

Ponsel layar sentuh warna hitam miliknya menarik perhatian Tetsuya.

Ia menyesap kopi susu pesanannya. Jari telunjuk tangan kanannya bergerak dengan kecepatan pelan di atas layar ponsel. Menu galeri dibuka. Satu per satu mata aquamarine itu memandang sendu foto-foto yang silih berganti. Rasa bosan pun menyergap dalam hitungan menit.

Tetsuya menatap ke arah luar coffee shop. Berbagai lampu serta hiasan khas Natal sudah terlihat dimana-mana, termasuk di tempatnya sekarang. Dari semua toko, arah pandangnya tertuju pada toko buku yang ada di seberang jalan. Sebuah memori menyelinap masuk tanpa diminta. Memori tentang hadiah pertama yang Tetsuya berikan untuk ulang tahun Seijuurou dulu saat mereka masih melakukan pendekatan. Ia hanya memberikan kado pembatas halaman buku yang hingga detik ini masih digunakan oleh Seijuurou. Walau hanya itu, ekspresi Seijuurou ketika mendapatkan hadiah tersebut takkan pernah bisa Tetsuya lupakan.

Tiap tahun mereka memang selalu bertukar hadiah ulang tahun. Jadi, tahun ini pun Tetsuya akan memberikan hadiah pada Seijuurou dan memang hadiah itu sudah ia beli. Perlahan Tetsuya tersenyum bodoh.

Hubungannya dengan Seijuurou bisa dibilang biasa saja. Tak ada pertengkaran maupun bentakan searah seperti yang biasanya terjadi, plus tak ada hubungan badan karena dengan berbagai alasan, Tetsuya menolaknya. Seijuurou tidak marah atau kesal. Sikapnya mulai berubah menjadi Seijuurou yang ia kenal. Tetsuya merasa hidupnya kembali damai.

Tapi apa benar begitu?

Aa... Orang yang dibicarakan muncul.

Cahaya dalam mata aquamarine itu meredup. Jantungnya berdetak normal. Tidak, tidak. Sungguh Tetsuya sudah tidak kaget lagi melihat pemandangan yang terpampang jelas di depan matanya. Ia sudah sering menangkap basah kekasihnya jalan bersisian dengan seseorang yang diketahui bernama Furihata Kouki. Bahkan karena terlalu sering, Tetsuya memilih untuk mengabaikannya. Bersikap seolah percaya kalau mereka hanya teman biasa seperti yang dikatakan oleh Seijuurou.

Entah sampai kapan Tetsuya harus mengikuti permainan yang dibuat Seijuurou. Pemuda itu benar-benar lelah jiwa dan raga. Ia tak ada keinginan untuk memperjuangkan hubungan mereka jika begini jadinya. Memberi kesempatan kedua pada Seijuurou pun rasanya enggan.

Cekrek. Ckrek. Ckrek.

Tiga foto berhasil masuk ke dalam memori ponsel.

Menu galeri kembali dibuka. Siulan menggoda terdengar walau terkesan lirih. Foto pertama mereka masih terlihat seperti teman biasa dan bergandengan tangan. Foto kedua Seijuurou membelakangi kamera, membuat gestur ia sedang mencium pemuda di sampingnya. Foto ketiga mereka berjalan normal, seolah tak terjadi apa-apa.

"Ii jan futari domo. Akting mereka juga bagus, sih. Tidak heran," gumam Tetsuya dingin.

Drrt! Drrrttt! Ponselnya bergetar dengan layar menampilkan nama, nomor serta foto Momoi Satsuki. Pertanda gadis itu sedang menelponnya.

"Hai, moshi-moshi." Masih dengan nada dingin, Tetsuya menjawab panggilan tersebut.

"Halo, Tetsu-kuuuuun! Aku punya kabar gembira untukmu!"

Perlahan hatinya melunak. Bagaimanapun juga ia tak bisa bersikap demikian pada Satsuki. Gadis itu sudah menjadi sahabatnya sejak SMA, sama seperti Kagami Taiga. Toh, mereka pernah satu kelas selama dua tahun dan kini kuliah di satu jurusan.

Tetsuya tersenyum tipis. "Kabar gembira apa? Kau dapat nilai A dari Miyaji-sensei?"

"Salah! Oh please, jangan ingatkan soal itu! Mustahil aku bisa mendapatkannya, hiks!"

Kali ini ia menyangga dagu dengan tangan kiri. Tak ada suara tawa yang keluar dari mulutnya. "Tak ada yang mustahil, kok. Miyaji-sensei 'kan juga manusia. Jadi?"

"Jurnalmu diterima! Omedetou, Tetsu-kun! Perjuanganmu tidak sia-sia!"

Senyum penuh kelegaan tampak di wajah pemuda itu. Namun tatapan matanya justru terlihat kosong. "Usaha takkan mengkhianatimu, kan?"

"...Tetsu-kun?"

"Momoi-san tahu dari mana kalau jurnalku diterima?"

"Ada di mading utama kampus. Oh iya, Okazaki-sensei memintamu datang ke ruangannya besok."

Kepala itu mengangguk seolah Satsuki bisa melihatnya. "Baiklah. Arigatou, Momoi-san."

"Un! Sekali lagi selamat, ya! Bakal kangen Tetsu-kun nanti, hiks!"

Kali ini tawa mengalun sebagai balasannya. "Kita masih bisa chat, telpon, atau video call, kan?"

"Tetap saja beda! Oke deh, sampai jumpa besok, Tetsu-kun!"

"Hm. Ja."

Sambungan itu pun terputus. Pandangan Tetsuya kembali ke luar kedai kopi. Tangan kanannya memegang cangkir kemudian meminum kopi susu pesanannya hingga habis. Ia memanggil seorang pelayan untuk meminta kertas tagihan. Setelah kegiatan pembayaran selesai, Tetsuya berdiri dan melangkahkan kaki keluar kedai kopi.

"Nah, bagaimana aku harus mengucapkan 'selamat tinggal', ya?"


.

.

I could never find the right way to tell you,
Have you noticed I've been gone?

Porter Robinson & Madeon – Shelter

.

.


Sudah tiga kali Furihata Kouki mengecek isi map berwarna merah di tangannya. Ternyata tak ada yang tertinggal maupun hilang. Semua data sudah lengkap. Ia bisa bernapas lega sekarang karena tugasnya selesai sebelum deadline. Padahal teman-temannya belum ada yang mengumpulkan. Kouki berharap dapat nilai plus-plus, berhubung ia (mungkin) menjadi orang pertama yang mengumpulkan tugasnya.

"Katanya ada di ruang dosen, ya. Hmm..."

Kakinya berniat untuk belok ke kiri. Namun suara familiar menyapa telinganya. Dengan segera Kouki berhenti melangkah. Punggungnya bersandar pada tembok lalu berusaha melihat siapa yang baru saja keluar dari ruang dosen.

Ternyata Dosen Okazaki dan Kuroko Tetsuya. Jantungnya berdetak kencang. Tak seharusnya ia melakukan ini, tapi dirinya juga penasaran lantaran mereka sempat menyebut negara Amerika Serikat.

"Jurnalmu memang bagus, Kuroko-kun. Saya salut denganmu."

Dari sudut pandang Kouki, Tetsuya terlihat bersikap rendah hati. "Sensei terlalu memuji saya."

Masih dengan senyum bangga, Okazaki-sensei berucap, "Tidak, kok. Tapi wajar saja kalau jurnalmu sampai dilirik perusahaan media massa di Amerika sana."

"Padahal aku hanya berminat ikut program pertukaran mahasiswa saja, Sensei," ringis Tetsuya.

"Tidak apa. Itu bisa dijadikan pengalaman. Jujur saja, saya rasa ini pertama kalinya ada mahasiswa yang ikut program pertukaran sekaligus mendapat pekerjaan magang di perusahaan terkenal," cerita sang dosen sambil membuat gestur sedang mengingat-ingat sesuatu.

"Benarkah?" Tetsuya memasang ekspresi tidak percaya.

"Iya, benar. Ingatanku tidak seburuk itu, loh," balas Okazaki-sensei membenarkan.

"Mm, saya tidak bilang ingatan Sensei buruk, kok. Saya hanya masih tidak percaya saja." Kepala Tetsuya sedikit menunduk seraya mengikuti langkah sang dosen yang sudah berumur enam puluh tahunan itu. Perlahan mereka menjauh dari ruang dosen tanpa menyadari keberadaan Kouki yang sejak tadi berdiri di balik tembok.

Pertukaran mahasiswa? Magang? Amerika?

Tanpa sadar tangan kiri Kouki menutup mulutnya. Kaget.

Apa Akashi tahu soal ini?

Dengan gerakan terburu-buru ia mengambil ponsel dari dalam tas lalu mencari nama kontak seseorang. Ada yang ingin kukatakan. Bisa kita ketemu di tempat biasa? Begitulah isi singkat pesan yang Kouki kirim pada Seijuurou sebelum pemuda tersebut masuk ke dalam ruang dosen.

Sekitar setengah jam Kouki menunggu di taman kota, tempat mereka sering bertemu dan (diam-diam) menghabiskan waktu bersama selain di apartemen Kouki tentunya. Pemuda berambut merah dari jurusan Manajemen itu pun datang. Kepala Kouki menengok sebentar lalu bersikap seolah mereka tidak saling kenal. Sambil bersandar pada kursi panjang yang sedang ia duduki, pemuda berwajah manis itu mengarahkan pandangannya pada danau buatan di hadapannya. Begitu merasa lawan bicara mulai ikut duduk di kursi yang sama dan berjarak sekitar tiga puluh centi meter darinya, Kouki pun angkat bicara.

"Kau tahu soal program pertukaran mahasiswa?" Kouki melirik ke samping kanan sebentar. Ekspresi Seijuurou terlihat tenang-tenang saja.

"Tahu," jawabnya singkat. "Kenapa?" Kali ini Seijuurou yang melirik walau tidak dibalas.

Kouki menunduk. "Dan apa kau tahu kalau Kuroko ikut program itu?"

Hening sejenak. Waktu terasa berhenti di saat itu juga bagi Seijuurou. "...huh?"

"Jadi, kau tidak tahu sama sekali?" tanya Kouki memastikan sambil menengok.

"Tetsuya tidak bicara apa-apa padaku."

"..."

"..."

Punggung Seijuurou yang sebelumnya bersandar pada kursi kini menjauh. Sebuah kaleng minuman isotonik di tangan kanannya digenggam terlalu kuat hingga bengkok ke dalam. Kouki yang melihat itu pun bergedik. Jujur saja baru pertama kali ia melihat sosok Seijuurou sedang menahan amarah.

Seram... pikir Kouki dalam hati.

Lagi, kepalanya menunduk.

Ini baru yang pertama dan perasaan pemuda penyuka warna cokelat itu kalang kabut. Rasanya ingin cepat-cepat menjauh supaya tidak kena marah Seijuurou. Lalu terbersit beberapa pertanyaan di benaknya.

Bagaimana dengan Tetsuya yang sudah lebih sering melihatnya?

Apa yang biasa dilakukannya di saat seperti ini?

Memikirkan pemuda yang masih berstatus sebagai kekasih resmi Seijuurou buat Kouki merasa gelisah, kagum, sekaligus iri. Gelisah karena menyadari dirinya adalah pihak ketiga di antara Seijuurou dan Tetsuya, meski Seijuurou tidak bilang apa-apa soal status hubungan mereka yang terlihat hanya sebagai teman 'sex'. Intinya Kouki bukan pacar kedua Seijuurou.

Ia kagum pada sosok Tetsuya yang sudah empat tahunan menjadi kekasih Seijuurou dan kini tinggal bersamanya. Pemuda itu memang tidak pernah cerita apapun tentang kehidupan mereka, tapi Kouki bisa melihat sosok Seijuurou yang lain jika ia bersama Tetsuya. Kalau tidak salah ingat, Kouki pernah menjadi saksi mata waktu Seijuurou akan meninju seorang preman yang sempat mengganggu sang kekasih. Namun dengan cepat Tetsuya menahan lengannya lalu membungkus kepalan tangan kanan Seijuurou dengan dua tangannya.

Ingatan itu hanya samar-samar. Kouki tidak bisa melihat dengan jelas wajah mereka karena jarak dirinya dengan tempat kejadian cukup jauh. Tapi ada dua hal yang sangat ia yakini bisa menjadi penenang hati Seijuurou, yaitu tatapan penuh kasih sayang dan senyuman dari seorang Kuroko Tetsuya. Hanya itu. Tidak ada lagi.

Dan itulah yang buat Kouki iri.

Dirinya hanya bisa menatap punggung Seijuurou yang menjauh.

"Jadi, beginikah akhirnya? Kau sama sekali tidak menengok ke belakang... huh?"

.

Tap. Tap. Tap. Suara langkah kaki yang terdengar lambat mulai menyatu dengan suara bising kendaraan di jalan raya. Pemuda bernama lengkap Kuroko Tetsuya memandangi gugusan bintang di langit malam tanpa menghentikan langkahnya menuju halte bus. Senyum tipis melekat di wajah manisnya.

Selesai ngampus, Tetsuya memutuskan untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Sang ibu menyambutnya dengan pelukan hangat. Lalu kepala keluarga Kuroko datang dan rambut Tetsuya menjadi sasaran tangan jahil ayahnya itu.

Mereka pun makan malam bersama. Saat Tetsuya menyuap nasi, tanpa sadar air mata menetes. Ah, ia merasa benar-benar berada di 'rumah' yang sesungguhnya.

Kedua orang tuanya tidak menanyakan apa-apa. Mereka bersikap seolah tak melihat air mata itu dan mengajak Tetsuya bicara banyak hal. Entah kenapa mereka juga tidak bertanya tentang Seijuurou. Ia hanya bisa bersyukur karena tanpa mengatakan apapun, orang tuanya bisa mengerti. Mungkin keputusannya untuk pulang ke rumah orang tuanya hari ini memang benar. Berhubung ia juga harus memberitahu tentang keputusannya yang ikut program pertukaran mahasiswa dan magang di negara Amerika Serikat nanti.

Tanpa ada rasa macam-macam, apalagi cemas, Tetsuya mengutarakan maksud dari kepulangannya itu. Ibunya terlihat kaget sekali hingga menutup mulutnya dengan tangan kiri. Sementara ayahnya hanya tersenyum bangga.

"Keinginanmu terwujud, Tetsu-kun! Omedetou!" ucap sang ibu bahagia sambil memeluknya erat.

Tetsuya membalas pelukan tersebut. "Un. Maaf, Okaasan."

"Kenapa harus minta maaf? Okaasan justru bangga karena keinginan Tetsu-kun terwujud."

"Tapi aku akan pergi jauh selama satu tahun. Aku..."

Dengan gerakan cepatan wanita paruh baya itu melepas pelukannya seraya menangkup wajah anak semata wayangnya. "Tetsu-kun, dengarkan Okaasan. Mau kamu pergi sejauh apapun itu, Okaasan selalu menyertaimu. Di sini," jari telunjuk sang ibu menunjuk dada Tetsuya, "Okaasan selalu ada di sini, kan?"

Perlahan Tetsuya mengangguk diiringi tangisan haru.

"Hei, Otousan tidak mengajarkanmu jadi laki-laki cengeng, loh," canda ayahnya.

Meski pria yang sudah beruban itu mengatakan hal demikian, air mata malah terlihat mengalir hingga ke dagu. Tetsuya menggembungkan kedua pipinya. "Otousan juga nangis!" seru sang anak tidak terima.

Pembicaraan mereka pun berakhir dengan tawa bahagia. Sejenak pikiran Tetsuya teralihkan hingga ia melangkah keluar rumah sederhana namun memiliki kehangatan yang bisa membuat dirinya selalu merindu. Tetsuya mengembuskan napas berat begitu ingat dirinya belum membicarakan hal ini pada Seijuurou.

Bus yang ditunggu-tunggu pun datang. Segera Tetsuya menaiki bus tersebut ketika pintu bus terbuka lalu duduk di kursi kosong. Ia termenung sambil memandangi ujung sepatu.

Di saat dirinya tak melakukan apa-apa selain diam di tempat, waktu pun seolah ikut berhenti. Tetsuya diam bukan berarti tidak memikirkan apa-apa. Justru kejadian demi kejadian yang ia tidak inginkan merasuk dalam benaknya secara paksa. Sebenarnya pemuda itu lebih suka melakukannya di dalam kamar. Namun Tetsuya tak bisa berbuat apa-apa sekarang selain memikirkan hal tersebut.

Dua puluh menit berlalu, bus sampai di tempat pemberhentian yang dituju Tetsuya. Ia pun turun dari bus setelah membayar jasa sambil bicara sepatah-dua patah kata pada supir bus. Tentunya diiringi senyum ramah karena mereka sering bertemu.

Kedua kaki Tetsuya bergerak meninggalkan halte bus. Langkahnya tertuju pada sebuah toko percetakan foto yang sepi pengunjung. Sekitar setengah jam ia baru keluar toko dengan sebuah amplop putih di tangan. Tak jauh dari toko, matanya menangkap vending machine minuman dan rokok. Tetsuya sempat memandang lama rokok-rokok yang berjejer rapi dalam mesin sebelum beralih pada mesin penjual minuman.

Koin ratusan dan puluhan yen ia masukkan ke dalam mesin. Jari telunjuknya menekan tombol minuman beralkohol rendah. Klak. Minuman kaleng yang sebenarnya tidak baik untuk tubuh itu pun keluar. Tetsuya mengambil kalengan tersebut dari bagian bawah mesin.

Ia kembali melanjutkan perjalanan ditemani minuman kaleng beralkohol. Gerbang milik gedung apartemen yang memiliki dua puluh lantai dan menjadi tempat tinggal Tetsuya sekarang mulai terlihat. Kepalanya menunduk hingga syal biru muda rajutan almarhumah neneknya menutupi sebagian wajah. Tetsuya menyempatkan diri menyapa beberapa staf pengelola apartemen, termasuk staf administrasi sebelum masuk lift menuju lantai sebelas.

1104. Itulah nomor apartemen yang diminta Seijuurou secara paksa (walau dengan nada formal) pada pengelola apartemen. Senyum tipis tampak di wajah Tetsuya ketika mengingatnya.

Dari saku jaket sebuah kartu ia keluarkan. Kartu tersebut ditempelkan pada intercom yang sekaligus memiliki mesin pendeteksi sensor di dalamnya. Ceklek. Pintu yang secara otomatis terkunci dari dalam sudah bisa dibuka.

Tetsuya melepas sepatu kemudian memakai sandal selop berbulu dan berbentuk kepala anjing warna hitam putih. Tubuhnya bergeming ketika melihat seseorang sedang duduk di atas sofa sambil menatap ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Seijuurou. Tetsuya berusaha bersikap biasa lalu ikut duduk di ujung sofa setelah menaruh amplop dan kaleng yang isinya tinggal setengah ke atas meja.

"Kau minum alkohol?"

"Hanya satu kaleng."

"Mana ucapan 'tadaima'?"

Helaan napas lelah terdengar dari mulut Tetsuya. "...tadaima."

Hening merajai ruang tamu. Seijuurou terus memandangi Tetsuya dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Sementara obyek yang dipandangi memilih tak peduli dan menegak isi kaleng sambil bersandar pada sofa. Kesadaran Tetsuya masih penuh, meskipun ia termasuk tipe orang yang tak kuat minum alkohol.

"Ada yang ingin kau bicarakan?" tanya Tetsuya seraya melirik ke samping kiri.

"Ada. Banyak." Seijuurou menjawab dengan nada datar.

Sou da yo ne... Tetsuya tertawa garing atau lebih tepatnya tanpa tenaga. "Pasti tentang program pertukaran mahasiswa dan magang di Amerika. Benar, kan?" Tawa aneh terdengar lagi dari mulut pemuda itu. Benar-benar bukan seperti Kuroko Tetsuya yang biasanya. Ia pikir, dirinya mulai gila sekarang.

"Ya, dan kenapa kau tidak bilang apa-apa padaku dari awal?" tanya Seijuurou menuntut penjelasan. Dari nadanya, ia sedang menahan amarah.

"Banyak hal yang terjadi sampai-sampai aku tidak tahu dari mana aku harus bercerita."

"Dari mana pun terserah. Tapi aku tidak suka keterlambatanmu menceritakannya, Tetsuya."

Rasanya Tetsuya ingin memberikan tawa mengejek pada kekasihnya ini. Masih sambil bersandar, ia pun melirik lewat ujung mata dan membalas ucapan Seijuurou. "Lebih baik terlambat daripada merahasiakannya, kan?"

Jauh dalam hati Seijuurou merasa disindir. Tidak mau termakan emosi, pemuda itu mengalihkan pembicaraan. "Kapan kau berangkat ke Amerika?"

"Belum ditentukan. Mungkin satu bulan lagi. Mungkin."

"...satu bulan, huh?"

Isi kaleng kembali ditenggak hingga tandas tak bersisa. Tetsuya tidak bisa menahan perasaannya. Sudah cukup ia bersabar. Ini harus diselesaikan. Dirinya tidak ingin ada hal yang disembunyikan darinya lagi. Tetsuya ingin Seijuurou jujur sekarang. Tanpa sadar, kaleng di tangan kanannya bengkok ke dalam. Ternyata rasa amarahnya sudah tersalurkan sedikit.

"Kenapa? Kau ingin aku secepatnya pergi supaya kau bisa membawa selingkuhanmu ke sini?"

"...kau bicara apa, Tetsuya?" Sikap dan ekspresi Seijuurou masih terlihat tenang, walau jantungnya mulai merusuh.

"Tidak perlu disembunyikan lagi. Aku sudah tahu, kok." Tetsuya menatap Seijuurou dengan pandangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Senyum tipis berusaha ditunjukkan. Namun ia merasa sia-sia saja. Dadanya sesak seolah oksigen di sekitarnya menghilang dalam sekejap dan digantikan oleh karbondioksida. Pandangannya pun ikut mengabur sesaat.

Pemuda berambut biru langit itu menarik napas sebelum melanjutkan, "Semua orang di kampus sedang membicarakanmu. Kau tidak sadar? Ah, mungkin karena kau terlalu terlena padanya. Mm, siapa namanya?" Kali ini ia memasang pose berpikir. "Ah, Furi...? Furihata-kun... bukan?" tanyanya sambil menatap lurus ke arah mata Seijuurou dengan ekspresi datar.

Bola mata beriris ruby itu melebar. Seijuurou terlihat sangat kaget. Mulutnya langsung bungkam ketika Tetsuya mengeluarkan isi amplop putih. Dengan kasar ia melempar isinya yang berupa foto-foto Seijuurou dan Kouki ke atas meja.

"Ternyata dengan selingkuhanmu, kau bisa come out di depan publik ya, Akashi-san?"

"Kau dapat foto-foto ini—"

Seijuurou menahan napas. Tetsuya memandanginya dengan wajah memerah karena menahan tangis. Dari matanya, ia tahu kalau Tetsuya sakit hati. Perlahan Seijuurou menundukkan kepala. Sejak awal dirinya memang salah. Diam-diam memilih untuk bermain api di belakang Tetsuya dengan alasan bosan. Tapi ia juga tak bisa mengelak perasaan tertarik pada pemuda bernama Furihata Kouki saat pertemuan pertama mereka bertemu di goukon dulu.

Sekarang apa yang harus Seijuurou lakukan? Ia sudah menyakiti Tetsuya. Mengkhianati semua perjuangan mereka berdua sebelum akhirnya bisa tinggal bersama seperti saat ini.

"Tetsuya, aku—" Seijuurou tergugu untuk pertama kalinya di depan seorang Kuroko Tetsuya.

"Kau bosan denganku, kan?" tanya lirih Tetsuya.

"Aku—tunggu, aku bisa jelaskan—"

"—penjelasan apa lagi yang harus kudengar? Aku lelah mendengar penjelasan penuh kebohonganmu, Akashi-san." Bersamaan dengan ucapan itu, air mata benar-benar membasahi pipi Tetsuya. Terdengar isakan pelan memenuhi ruangan tersebut. Tetsuya menangis sambil menutupi wajahnya. Ia tak suka sisi rapuhnya terlihat, meski di depan Seijuurou sekalipun. Tapi untuk kali ini, hanya hari ini, Tetsuya ingin meluapkan perasaan yang selalu tertahan dalam hati lewat air mata.

Bibir Seijuurou bergetar, namun tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Bersamaan dengan itu, tangan kanannya perlahan bergerak ingin menyentuh sosok Tetsuya. Belum sempat tersentuh, tangan itu malah mengepal. Ia memejamkan mata sebelum benar-benar menggapai pergelangan tangan kiri sang kekasih.

Di lain pihak, tubuh Tetsuya melemah. Dirinya tidak menolak genggaman Seijuurou yang seolah memintanya untuk menunjukkan ekspresi tangisnya pada pemuda tersebut. Namun wajah Tetsuya tetap berpaling sedikit. Tiba-tiba ia merasa kepala Seijuurou bersandar pada bahu kirinya dan membuat tangisnya mereda walau sesaat.

"Tetsuya, aku tahu ucapan maaf tidak akan cukup untuk menebus sikap keterlaluanku ini. Tapi tetap aku ingin minta maaf. Maafkan aku, Tetsuya. Maafkan aku."

"..."

"Maafkan aku..."

"...Akashi-san..."

Lagi, Tetsuya memanggilnya dengan nama marga. Seijuurou tidak suka ini. Sangat tidak suka. Apa hubungan mereka harus berakhir sekarang? Tak adakah kesempatan kedua yang diberikan Tetsuya untuknya?

Seijuurou menggeleng tak mau semua ini berakhir. "Jangan panggil aku dengan nama itu, Tetsuya," pintanya lirih. Dalam hati berharap Tetsuya kembali memanggilnya dengan nama 'Sei-kun' seperti biasa.

"...mou owari da yo."

"Tetsuya..."

Pemuda berambut biru langit itu menengok pada Seijuurou. Tetsuya tampak bersusah payah menampilkan sebuah senyuman tulus di akhir, meski wajahnya justru terlihat aneh. Masih dengan wajah penuh aliran air mata di kedua pipinya, ia berucap, "Wakare shi—"

Dengan paksa bibir Tetsuya yang bergetar diklaim oleh Seijuurou. Pemuda itu tidak ingin mendengarkannya hingga selesai. Ia yakin kalau Tetsuya juga tidak mau mengatakannya. Tidak. Seijuurou yakin, dirinya dan Tetsuya sama-sama tidak menginginkannya.

Isak tangis kembali terdengar di sela-sela ciuman penuh rasa putus asa dan tanpa nafsu. Tetsuya menyembunyikan iris sewarna langit di musim panas ketika Seijuurou menautkan jemari mereka. Tak ada perlawanan yang berarti saat tangan kanan Seijuurou menekan kepala belakang Tetsuya dan tangan kiri memeluk pemuda bertubuh lebih kecil darinya itu dengan sangat erat.

Tiba-tiba terdengar lagu dari saku celana Seijuurou. Pertanda ada panggilan masuk. Tetsuya yang sudah setengah sadar langsung mendorong dada pemuda berambut merah tersebut hingga ciuman mereka terlepas.

Suara decihan keluar dari mulut Seijuurou. Di lain pihak, Tetsuya sibuk mengatur napas sambil bersandar pada sofa dan mendongakkan kepala. Dengan raut wajah kesal, Seijuurou berdiri lalu mengambil ponsel dari dalam saku celana. Kakinya melangkah menjauhi sofa dan membelakangi Tetsuya. Sebelum mengangkat panggilan, ia sempat mengatur napas.

"Moshi moshi, Otousama."

Diam-diam Tetsuya bisa bernapas lega karena Masaomi yang menelpon.

"Hai. Hai. Aku mengerti. Secepatnya aku akan ke sana."

Panggilan terputus. Tetsuya tak berucap apa-apa selain memandang punggung Seijuurou dari sudut matanya. Ia memejamkan mata ketika sosok itu menggerakkan kaki kanan. Sepertinya Seijuurou harus segera pergi. Terserahlah... pikir Tetsuya tidak peduli.

"Kita bicarakan lagi besok. Tidurlah. Aku akan tidur di rumah utama sekaligus menemui Otousama." Seijuurou mengatakannya tanpa menatap lawan bicara. Kepalanya pun terlihat sedikit menunduk.

Mata Tetsuya kembali memanas. "Kenapa tidak langsung disu—"

"—TETSUYA! KUMOHON BERHENTI!"

"..."

"...maafkan aku, Tetsuya. Oyasumi."

Sosok Seijuurou benar-benar pergi setelah menengok sebentar ke belakang. Perlahan Tetsuya memeluk kedua lutut lalu menyembunyikan wajahnya. "Curang. Kau yang berbuat salah, kenapa kau juga yang memperlihatkan wajah seperti orang yang disakiti, sih? Padahal aku korbannya, kan? Kau curang, Sei-kun," lirih Tetsuya diikuti isakan beberapa kali.

Drrt! Drrrrrtttt! Drrrrrtttt!

Ponsel layar sentuh milik Tetsuya bergetar. Ketika dicek, ternyata ada pesan masuk dari Momoi Satsuki. Baru saja satu kata ia baca, layar mendadak terganti dengan nama beserta nomor telepon Okazaki-sensei. Sebelum menjawab panggilan tersebut, Tetsuya menyempatkan diri melihat jam yang ada di sudut kanan atas layar ponsel. 07.35 PM..

"M-moshi moshi, Okazaki-sensei?"

"Aa! Ternyata diangkat! Ya, ini saya Okazaki-sensei."

Tetsuya tersenyum paksa seolah sang penelpon sedang melihatnya. "Ya. Ada apa ya, Sensei?"

"Hm? Tunggu, suaramu kok bindeng? Sakit? Flu?"

Secara reflek, tangan kiri Tetsuya menyambar tisu yang ada di tengah-tengah meja lalu membersihkan sisa-sisa air mata dan kotoran hidung alias ingus. Ia tertawa hambar. "Sepertinya begitu, Sensei. Maaf kalau terdengar tidak nyaman," ucapnya dengan nada tidak enak.

"Tidak, tidak. Tapi kalau kau sakit, harus segera minum obat, Kuroko-kun."

"Hai. Setelah makan malam saya akan minum obat. Arigatou gozaimasu, Sensei."

"Oh iya, sampai lupa. Ada yang ingin Sensei katakan padamu, Kuroko-kun. Tentang magang dan pertukaran mahasiswa."

Tiba-tiba rasa gugup menyerangku. "Hai?"

"Jadi begini. Tadi sore saya dapat email dari perusahaan yang menawarimu magang. Katanya kamu diberi waktu selama seminggu mulai dari besok untuk memikirkannya. Kalau Kuroko-kun bersedia, mereka akan membiayai kehidupanmu di sana, termasuk uang transport. Tapi sekali lagi, saya tekankan. Mereka bersedia melakukannya jika Kuroko-kun mau berangkat dalam waktu seminggu mulai dari besok."

Blank. Pikiran Tetsuya terasa kosong dalam hitungan detik. Diberi waktu berpikir hanya seminggu? Bukannya terlalu cepat?

"Saya mengharapkan jawaban positif darimu, Kuroko-kun."

"A-ano, Sensei. Kok mendadak sekali, ya?"

"Hmm, memang termasuk mendadak. Tapi cobalah berpikir positif kalau mereka sedang kekurangan SDM. Dari sekian banyaknya calon pekerja, kamu yang dipilih. Hebat, bukan? Apalagi mereka mengambil pekerja dari beda benua."

Mungkin memang iya, pikir Tetsuya. "Jika saya bersedia, apa saja persyaratannya?"

"Soal itu nanti saya kirimkan lewat pesan sekaligus email perusahaannya."

"Baiklah. Tapi bagaimana dengan kuliah saya? Ini masih pertengahan semester dan semua mata kuliah yang saya ambil belum selesai, Sensei." Tetsuya menggigit pelan bibir bawahnya. Bingung dan gelisah di saat yang bersamaan.

Terdengar tawa pelan dari pihak lawan bicara. "Tenang saja. Semua bisa diatur, kok. Kuroko-kun hanya harus menyelesaikannya di sana, walau mungkin nanti wisudamu akan terlambat dari jadwal. Tapi saya yakin, Kuroko-kun pasti bisa. Saya percaya Kuroko-kun."

Tetsuya bisa bernapas lega mendengar ucapan salah satu dosen favoritnya itu. "Arigatou gozaimasu, Sensei. Maafkan saya yang selalu merepotkan Sensei."

"Sama-sama. Tidak perlu sungkan, Kuroko-kun. Kalau begitu, saya tutup teleponnya."

"Hai. Sekali lagi, terima kasih, Sensei."

Sambungan pun diputus. Tetsuya menghela napas berat untuk kesekian kalinya. Telapak tangan kanan menutup kedua mata dengan wajah menghadap langit-langit ruang tamu. "Seminggu? Tidak buruk juga. Kalau begitu aku akan mengurus passport dan mulai menge-pack barang-barangku besok," gumamnya.

Hening sejenak. Ia beranjak dari sofa seraya membawa tas ke dalam kamar. Matanya melirik amplop dan lembaran-lembaran foto di atas meja sebentar.

"Pack barang sekarang saja, deh."

To Be Continued

Saya jadiin fanfic ini three-shots. ^^

Diusahakan besok bisa update. Yah, mudah-mudahan bisa. Tinggal bagian akhirnya masih OTW. #pundung

Thanks to shi, narura aihara, dan Violet Meh for your reviews. #bow ^^

Okay, bye bye!

CHAU!