Kuroko no Basuke disclaimer by Fujimaki Tadatoshi-sensei

Bye Bye, My Shelter by Rin Shouta
Rate : T
Genre : D
rama, Romance, Hurt/Comfort

Pair : AkaKuro (main pair)

Summary : Hubungan AkaKuro sudah berjalan kurang lebih empat tahun sebagai sepasang kekasih. Namun sejak Seijuurou mulai magang di perusahaan Akashi Corp., sikapnya mulai berubah. Tetsuya sakit hati karena selalu mendapat bentakan dari kekasihnya itu. Di satu sisi, Tetsuya ingin fokus untuk bisa mengikuti pertukaran mahasiswa dengan universitas lain di luar negeri. Fanfic request by Aike Wikanti Fitriani.

Warning : OOC, typos, etc. Don't like, don't read. I've warned you, okay?


Deru napas tak beraturan dari mulut Seijuurou menjadi pertanda bahwa dirinya sedang panik. Ia mengendarai mobil hatchback merahnya dengan kecepatan 70 km/jam dan sampai di rumah utama Akashi hanya dalam waktu dua puluh menit. Sebelum pemuda itu keluar dari mobil, ia berusaha menetralkan emosi serta detak jantung karena akan menghadap sang kepala keluarga. Siapa lagi kalau bukan Akashi Masaomi?

Para pelayan yang melihat Seijuurou langsung bersiap memberi salam. Mereka hanya membungkukkan badan ketika tuan muda berjalan melewati mereka lalu kembali melakukan pekerjaan masing-masing. Itu sudah jadi rutinitas di kediaman Akashi sejak dulu.

Tanpa bertanya pada siapapun, langkah kaki Seijuurou tertuju pada pintu besar bermotif hewan phoenix yang ada di samping tangga. Pintu itu satu-satunya akses masuk menuju ruang kerja Masaomi. Ternyata salah satu tangan kanan sang ayah sekaligus kepala pelayan di rumah utama Akashi sudah menanti kedatangannya. Pelayan tua itu tersenyum kemudian membungkuk sebentar sebelum membukakan pintu untuk Seijuurou.

Dua mata ruby-nya melirik ke belakang sebelum pintu ditutup. Memasang ekspresi datar di wajah, Seijuurou mulai melangkah mendekati Masaomi yang duduk membelakanginya. Entah apa yang dilihat seolah tak ada minat untuk bicara dengannya.

"Jadi, ada apa Otousama memintaku datang sekarang?" tanya Seijuurou sambil berdiri satu meter dari meja kerja sang ayah.

"Aku ingin mendengar laporan proyek kantor cabang baru di Fukuoka darimu langsung."

Tangan kanan Seijuurou terkepal. Ayahnya kenapa merusuh di saat ia sedang ada masalah, sih? Sabar, sabar. Seijuurou berdeham. "Pembangunan gedung kantornya sudah delapan puluh persen. Untuk persediaan gudang, setengahnya sudah diangkut ke sana dari gudang utama," lapornya.

"Hmm... Cepat juga kerja kalian."

"Terima kasih, Otousama."

Perlahan kursi beroda yang duduki Masaomi berputar menghadap Seijuurou. Ekspresi wajah pria kepala lima (hampir kepala enam malah) terlihat menahan amarah. Di tangannya juga ada amplop cokelat ukuran kecil. Melihat amplop tersebut, entah kenapa membuat Seijuurou merasakan firasat buruk. Apa di dalamnya ada foto juga seperti amplop yang dibawa Tetsuya? Atau memang amplop itu datangnya dari Tetsuya? Yang manapun sukses buat dirinya makin gelisah.

"Buka dan lihat isi amplopnya," suruh Masaomi.

Seijuurou menurut dan terdiam ketika melihat isinya.

"Bisa jelaskan apa yang terjadi di foto-foto itu?"

"...Otousama memata-mataiku lagi?" tanya pemuda berambut merah itu. Perasaan marah dan panik bercampur jadi satu. Namun Seijuurou memilih untuk memendamnya. Padahal Masaomi pernah bilang tidak akan melakukan hal ini lagi.

"Sudah bosan dengan Kuroko Tetsuya?" tanya Masaomi balik tanpa menjawab pertanyaan sebelumnya.

"...bukan urusan Otousama."

"Kau tinggal dengannya sudah termasuk aib keluarga, Seijuurou."

"...aib keluarga? Bukannya—"

"—Otousama memang menerima hubungan kalian. Tapi Otousama tidak ingin media massa dan masyarakat tahu soal minat abnormalmu." Masaomi menatap lurus ke kedua mata anak semata wayangnya. "Lagipula kau hanya main-main, kan? Kalau kau serius, kau tidak akan melakukan hal hina seperti berselingkuh atau semacamnya."

Jleb. Seijuurou benar-benar tidak bisa berkutik. Apa yang ia lakukan memang salah. Kedua tangannya jatuh ke sisi tubuh seolah tenaganya diserap sampai habis.

"Putuskan Kuroko Tetsuya dan jangan berhubungan lagi dengan sesama jenis. Cukup sekali ini saja dan jadikan hubungan kalian sebagai pembelajaran hidup untukmu," putus Masaomi secara sepihak sambil membelakangi Seijuurou. Ekspresinya terlihat menahan amarah dan lebih memilih menyalurkannya dengan kepalan tangan.

"Mau aku putus dengan Tetsuya atau tidak, itu urusanku. Aku harap Otousama tidak ikut campur," balas sang anak sengit.

"Terserah. Otousama harap kau tidak menyesal. Di dunia ini, karma berlaku."

"...jika tak ada lagi yang ingin dibicarakan, lebih baik saya undur diri. Selamat malam, Akashi Masaomi-sama."

Tap, tap, tap. Brak!

Tangan kanan pria setengah abad itu menyentuh kening lalu memijatnya pelan. Kepalanya terasa pusing memikirkan masalah Seijuurou.

Masaomi tidak menyangka kalau anaknya malah berselingkuh di saat dirinya mulai menerima kehadiran Kuroko Tetsuya sebagai calon menantu. Tak ada rasa lega seperti yang (mungkin) diperkirakan Seijuurou. Justru Masaomi merasa marah karena anaknya tidak bisa setia pada satu orang seperti dirinya. Seumur hidup, Masaomi takkan pernah mau menduakan almarhumah istrinya, Akashi Shiori. Bahkan ia sampai tak ada niat untuk menikah lagi. Tapi kenapa...?

"Shiori, bagaimana aku harus mendidik anak itu?" lirihnya di keheningan malam.

.

Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam ketika mobil hatchback yang dikendarai Seijuurou berhenti tepat di depan gedung lima lantai. Kemeja warna kremnya terlihat berantakan dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka. Kedua mata ruby-nya menatap lurus ke depan. Ia mendecih pelan sebelum kembali meminum bir kalengan. Dengan gerakan gusar, pemuda yang kebal minuman alkohol itu menekan layar pada nomor kontak di ponselnya.

Tok, tok, tok.

Kaca mobil sebelah kiri diketuk. Sosok yang ditunggu Seijuurou muncul. Tanpa dijawab, pintu mobil dibuka.

"Tumben kau tidak langsung masuk ke dalam apartemenku?" tanyanya seraya menutup pintu mobil.

"Aku tidak ingin lama-lama di sini," jawab Seijuurou singkat.

"Kenapa?"

"Aku ingin mengakhiri hubungan ini."

Tubuh lawan bicara menegang. Seijuurou kembali menenggak bir sampai habis lalu menaruh kalengnya ke kotak dekat porseling. Ia menghela napas berat sebelum menjelaskan keadaannya.

"Tetsuya dan Otousama sudah tahu semuanya. Untuk apa dilanjutkan lagi?"

"Jadi, sampai akhir pun aku hanya dianggap hiburan di matamu, begitu?"

"Aku sudah bilang berulang kali kalau aku tidak serius denganmu dan kau mengiyakan ajakanku begitu saja."

Furihata Kouki menggigit bibir bawah, berusaha mati-matian menahan amarah dan tangis. Namun itu sia-sia setelah tiga detik diisi dengan keheningan. Pandangannya tak lepas dari sosok Seijuurou yang tak kunjung menatapnya sejak awal ia masuk ke dalam mobil. Perlahan tangan kanan Kouki menggapai lengan kemeja lawan bicaranya. Dengan nada bergetar ia bertanya, "Apa... rasa 'itu' tak pernah ada di hatimu?"

Masih tanpa menatap balik, Seijuurou menjawab. "Tidak ada."

Kali ini tangan Kouki menyentuh pipi lalu menarik wajah Seijuurou, meminta pemuda tersebut untuk menatapnya. "Sedikit pun kau tidak menyukaiku, Sei?"

Pandangan menusuk sebagai balasannya.

"Sei—"

"—berhenti memanggilku dengan nama itu. Hanya Tetsuya yang boleh—"

"—BERHENTI!" Kouki menutup kedua telinga. Rasa marah mulai menguasai hati. Kepalanya menggeleng pelan sambil terus menutup indera pendengarannya. "Tetsuya, Tetsuya, dan hanya boleh Tetsuya. Aku tidak mau mendengarnya lagi," lirih Kouki dengan air mata mulai beranak sungai di kedua pipinya.

"..."

"Kenapa? Kenapa aku harus menyukaimu?"

"..."

"Pembohong. Tadi kau bilang rasa 'itu' tak ada untukku. Tapi dalam hatimu aku tahu, kau juga menyukaiku, Sei—"

"—sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama itu!"

Perlahan sebuah senyum terulas di wajah Kouki. Kedua tangannya menangkup wajah Seijuurou. "Lihat, kalau kau tidak menyukaiku, kenapa kau terlihat kesakitan?" bisik Kouki seraya menempelkan dahinya dengan dahi Seijuurou.

Tubuh Seijuurou tetap bergeming. Ia tak melakukan apa-apa. Namun matanya tak pernah lepas dari wajah Kouki yang tersenyum sambil meneteskan air mata.

"Kalau kau bilang, kau menyukaiku, aku takkan pergi dari sisimu, Sei."

"..."

"Sei?"

"...sudah kubilang aku tidak mau mendengar panggilan itu keluar dari mulutmu."

"..." Kedua mata Kouki terpejam. Perlahan ia mundur namun gerakannya terhenti tiba-tiba. Arah pandangannya tertuju pada tangan lain yang mencengkeram pergelangan tangannya. "Maumu apa sekarang, Akashi Seijuurou?" tanya Kouki dengan nada lelah.

"Kau mau berteman denganku?"

"...huh?"

"Aku ingin kita berteman saja."

Slap! Sebuah tamparan melayang tepat ke pipi kiri Seijuurou. Deru napas yang tak beraturan memenuhi suara dalam mobil.

"Jangan mengatakan hal bodoh, Akashi! Mana mungkin aku menjadi temanmu setelah semua yang terjadi! Aku mencintaimu dan kau tahu itu! Tapi kau masih menginginkanku menjadi temanmu!? Kau sudah gila!?" teriak Kouki.

"Lalu aku harus apa!? Aku tidak ingin kau pergi juga, Furihata!"

Lagi-lagi Kouki menggigit bibir bawahnya. Dari kedua matanya terlihat jelas kalau pemuda itu bingung. Jauh dalam hatinya, ia juga tak mau mereka pisah. Tapi mana mungkin mereka bisa menjadi teman, kan? Kouki bukan manusia yang kuat. Hatinya takkan sanggup berbohong lebih lama lagi jika dirinya tidak apa-apa dijadikan pihak ketiga di antara hubungan Seijuurou dan Tetsuya. Rasa ingin memonopoli seorang Akashi Seijuurou untuk dirinya sendiri semakin kuat dari waktu ke waktu. Bahkan sekarang, Kouki tidak tahu lagi kapan rasa itu akan menghilang.

Karena... semuanya sudah terlambat.

Ia terlanjur mencintai Seijuurou.

Setelah lama terdiam, Kouki menggelengkan kepalanya pelan. Wajahnya menatap lurus pada mata Seijuurou. "Kau harus memilih, Akashi. Melepaskan Kuroko atau membiarkanku pergi," ucapnya tegas.

"...aku menyukaimu, Furihata. Tapi aku hanya ingin berteman dengamu."

Kouki menunduk kemudian mengangguk. Ia senang karena Seijuurou mengakui perasaannya, meski pemuda itu tetap memilih Tetsuya sampai akhir. "Un, aku tahu. Makanya... lebih baik kita tidak berhubungan lagi. Ya, Akashi Seijuurou-san?"

Perlahan pemuda berambut merah itu ikut mengangguk. Senyum tipis samar-samar muncul di wajahnya.

"Sebelum kita benar-benar berpisah, aku ingin minta sesuatu darimu," pinta Kouki.

"Apa?" tanya Seijuurou dengan nada tenang.

"Cium aku."

Di lain tempat, yaitu di dalam sebuah taksi, sosok Kuroko Tetsuya tampak menyangga dagu sambil menatap keluar jendela. Ia tak mempedulikan pandangan heran dari sang supir karena sudah hampir lima belas menit mereka berhenti di pinggir jalan. Fokus Tetsuya tertuju pada dua manusia sedang berciuman di dalam mobil hatchback merah yang terparkir di seberang jalan.

"...jalan, Pak," suruh Tetsuya seraya menatap lurus ke depan.

Supir taksi mengangguk.

Taksi berwarna hitam itu bergerak secara perlahan. Sang supir melirik ke arah penumpang lewat kaca depan sebelum menaikkan kecepatan. Ia memilih diam karena hawanya tidak enak.

Tetsuya terlihat sibuk menatap layar ponsel yang menyala sebelum menekan menu kontak telepon. Nama 'Home' disentuh dengan ibu jari. Ponsel itu ditempelkan ke telingan kanan. Terdengar suara sambungan meminta teleponnya untuk diangkat oleh pemilik nama kontak 'Home'.

"Moshi moshi, Kuroko desu."

"Aa, Okaasan? Ini aku, Tetsuya."

"Ara? Ada apa? Apa ada yang tertinggal?"

Kepalanya menggeleng pelan seolah ibunya ada tepat di hadapannya. "Bukan. Malam ini sampai aku berangkat ke Amerika, aku boleh tidur di rumah saja?"

Terdengar tawa merdu dari seberang sana. "Tentu saja boleh! Biar Okaasan rapikan dulu kamarmu, ya."

"Un. Arigatou, Okaasan."

"Hati-hati di jalan, ya."

"H-hmm."

Sambungan diputus oleh Tetsuya setelah sadar kalau suaranya bergetar. Air mata keluar begitu saja dan sudah mengalir hingga dagu. Pemuda rapuh itu menangis dalam diam. Ia menunduk, berusaha menutupi wajahnya walau sia-sia karena supir taksi sudah melihatnya. Tiba-tiba sekotak tisu berada di jangkauan pandangnya. Kepala Tetsuya terangkat sebentar untuk melihat asal kotak itu yang tak lain dari supir taksi.

"Pakailah tisunya, Nak."

"...arigatou, Pak."

.

Kuroko Yui memandangi pemuda di hadapannya dengan kedua tangan terlipat di atas meja. Tatapan khawatir terpancar jelas dari bola mata sewarna lautan itu. Sang pemuda tampak tidak menyadari dan sibuk menyuap sup makaroni tanpa semangat.

Pasti terjadi sesuatu. Itu yang Yui pikirkan sejak semalam. Namun pemuda yang mewarisi warna bola matanya tersebut tetap bungkam hingga sekarang. Jujur saja, ia gemas. Rasanya Yui ingin meninju sang suami karena sikap keras kepalanya untuk menyimpan masalah sendiri sukses menurun ke anak semata wayang mereka, Kuroko Tetsuya.

Tiba-tiba ponsel yang sejak tadi dibiarkan tergeletak di dekat segelas jus melon bergetar. Tetsuya melirik sebentar sebelum menonaktifkan ponselnya. Kemudian ia menyuap supnya lagi seolah tak terjadi apa-apa.

Diam-diam Yui sempat melihat nama 'Akashi Seijuurou' di layar ponsel. Jelas sekali mereka sedang ada masalah karena biasanya Tetsuya memberi nama 'Sei-kun' di menu kontaknya untuk nomor Seijuurou.

"Yappari, Akashi-kun ka," ucap Yui.

"Kenapa dengan Akashi-kun?" tanya Tetsuya datar.

"Barusan Akashi-kun yang menelpon, kan?"

"...ya."

"Kenapa tidak diangkat? Kalian bertengkar?"

Kali ini Tetsuya tidak menjawab dan hanya menatap sang ibu. Namun tatapannya tak lebih dari dua detik. Ia menyuap lagi dengan kepala sedikit menunduk sehingga setengah wajahnya tertutup poni.

"Tetsu-kun tidak mau cerita?" Nada penuh harap terdengar di sana.

"...bukan masalah besar, kok." Senyum tipis menjadi pemanis untuk jawaban tersebut.

Oke, fix. Itu berarti Yui tidak bisa ikut campur. Ia menghela napas tapi bukan berarti akan menyerah. Setidaknya Yui ingin memberi petuah-petuah sebagai orang tua yang mungkin bisa membantu anaknya ini dalam menyelesaikan masalahnya. Apalagi tentang percintaan, ehem.

"Sudah bicarakan baik-baik dengan Akashi-kun?"

Anggukan pelan dan lambat menjadi jawabannya.

Yui yakin seratus persen mereka 'sudah' membicarakannya, namun kata 'baik-baik' yang ia tanyakan masih dijawab ragu oleh Tetsuya. Mungkin salah satu atau keduanya meluapkan emosi sehingga berakhir tanpa kejelasan. Ini hanya asumsi berdasarkan pengalaman dan insting perempuan yang kata orang-orang selalu benar.

Perlahan senyum keibuannya muncul. Kedua tangan Yui menyentuh tangan kanan sang anak yang terlihat mengepal. Kepalan itu pun mengendur beberapa detik kemudian.

Kepala Tetsuya mulai terangkat untuk menatap wanita yang paling ia cintai di hadapannya. Senyum paksa disertai sorot mata tanpa cahaya kehidupan menjadi pemandangan langka bagi Yui. Sudah lama sekali dirinya tak melihat ekspresi sesedih itu di wajah putranya. Terakhir kali ia melihatnya saat ibu dari suaminya meninggal. Itu pun sudah dua tahun yang lalu.

"Apa... aku salah jika menjadi manusia yang egois?"

Aa... Sepertinya Yui paham alasan pertengkaran mereka kali ini.

"Tidak kok. Akashi-kun pasti mengerti karena dari dulu Tetsu-kun ingin—"

"—bukan begitu, Okaasan. Maksudku, aku ingin... Akashi-kun hanya mencintaiku."

"..."

"Apa itu buruk? Tidak boleh?"

Entah kenapa atmosfer berubah. Tetsuya masih terus menatap lurus pada wajah Yui, sementara wanita tersebut diam saja. Tetsuya sendiri bingung dengan ekspresi ibunya yang berubah menjadi lebih sedih daripada dirinya. Ia memilih untuk menundukkan kepala. Tidak suka dengan pandangan mengasihani seperti itu, meskipun datangnya dari ibu sendiri, wanita yang sudah melahirkannya ke dunia ini.

"Wajar kok, sepasang kekasih ingin memonopoli pasangannya," jawab Yui kalem.

Masih menundukkan kepala, Tetsuya membalas. "Jadi, apa ini... karma?"

Mulut sang ibu benar-benar bungkam. Jika sudah membicarakan tentang karma, rasa bersalah akan merasuk dalam tubuh. Tidak, bukan salah Tetsuya. Tapi yang harus disalahkan adalah dirinya sendiri sebagai seorang ibu karena sudah membebaskan Tetsuya untuk memilih masa depannya sendiri. Yui menunduk sebentar sambil menghirup napas kemudian mengeluarkannya lewat mulut.

"Tetsu-kun, tatap Okaasan."

Bukannya menurut, pemuda itu justru semakin menundukkan kepala.

"Tetsu-kun, tolong tatap mata Okaasan."

"Satu hal yang bisa Okaasan ingatkan dan pastinya Tetsu-kun sering mendengar soal ini." Genggaman dua tangan Yui mengerat namun tak ada rasa sakit di sana. Melainkan rasa hangat yang tidak akan bisa digantikan oleh yang lain.

"Keputusan ada di tanganmu. Pilih mana yang terbaik untuk dirimu sendiri, Tetsu-kun. Apapun yang terjadi, Okaasan dan Otousan takkan pernah lelah untuk menjadi tempatmu berlindung."

Perasaan tenang mulai menyelinap masuk ke dalam hati Tetsuya secara perlahan. Jika hubungannya dengan Seijuurou harus berhenti sampai sini, itu bukan berarti hidupnya akan hancur. Masih ada orang tuanya yang mau menjadi rumah untuknya. Menjadi tempat berlindung dari segala keburukan duniawi. Semua keinginan dan cita-citanya juga masih belum terwujud.

Tidak. Seorang Kuroko Tetsuya tidak bisa hancur karena masalah cinta. Ia masih bisa bahagia hanya dengan berhasil meraih cita-cita dan membanggakan orang tuanya.

Pasti.

Pasti.

Pasti...

Aku masih bisa hidup tanpa Akashi Seijuurou.

Kedua matanya terpejam. Satu kalimat itu berusaha dijadikan sugesti untuk melangkah ke depan. Satu menit kemudian, Tetsuya membuka mata. Ia tersenyum seraya menaruh tangan kiri di atas genggaman tangan Yui.

"Terima kasih, Okaasan. Perasaanku jadi lebih baik."

"Baguslah kalau begitu," balas Yui senang.

Pasangan ibu dan anak itu kembali menyantap makan siang yang sudah mendingin karena tidak disentuh selama belasan menit. Di sela-sela kegiatan makan siang, Yui mengajak anaknya membicarakan banyak hal. Meski terlihat jelas kalau obrolan ringan tersebut berat sebelah karena Tetsuya lebih sering mengangguk atau ikut tertawa saja seolah tak ada niat untuk bicara panjang lebar.

Waktu sudah menunjukkan jam 01.30 PM saat mereka keluar dari restoran keluarga dan pergi menuju gedung Kedubes Amerika Serikat di seberang jalan. Paspor sudah diurus pagi tadi. Sekarang Tetsuya hanya menyerahkan berkas-berkas sebagai persyaratan pengajuan visa bekerja dan kuliah beasiswa di Negara Adi Daya tersebut.

Beruntung sekali perusahaan yang mempekerjakan Tetsuya mau bekerja cepat. Jam dua belas malam, Tetsuya yang tidak bisa tidur berhasil mendapat surat resmi yang menyatakan dirinya bekerja magang di perusahaan bernama NEXT Jr Company.

Usut punya usut, perusahaan itu sudah berjalan kurang lebih selama dua puluh tahun. Saat ini sedang mengalami transisi dari media cetak menjadi media digital. Selain mencetak koran, tabloid, dan majalah, perusahaan tersebut juga mencetak novel, komik, dan sejenisnya. Tetsuya benar-benar syok karena jurnalnya dilirik oleh perusahaan sebesar itu. Belum lagi ia juga ditawari bekerja magang di sana.

Benar-benar rezeki nomplok.

Tiba-tiba perut Tetsuya mulas setelah mengingatnya.

"Okaasan, aku... ingin duduk di kursi tunggu," izin Tetsuya.

Melihat wajah anaknya memucat sambil memegang perut, Yui mengangguk. Sebelum pergi, Tetsuya sempat menjelaskan apa yang harus dilakukan Yui sebagai wakilnya. Toh, jarak kursi tunggu dan meja registrasi tidak terlalu jauh. Tetsuya juga masih bisa melihat dari tempatnya duduk nanti.

"Istirahat saja. Biar Okaasan yang urus."

"Terima kasih, Okaasan."

Sekali lagi wanita itu memaklumi keadaan sang anak. Tetsuya memang jadi lebih pendiam saat memikirkan sesuatu, tapi diamnya akan berefek pada tubuh. Misalnya mulas, sakit kepala, bahkan pernah ada sampai demam tinggi hingga harus dirawat inap.

Sambil menghembuskan napas lewat mulut, Tetsuya duduk di kursi tunggu barisan belakang. Ia menunduk lalu memejamkan mata. Kemudian Tetsuya berusaha menangkal rasa pusing akibat melihat orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Walaupun tidak banyak, tapi kondisi tubuhnya mungkin bisa lebih parah sampai harus dipapah oleh Yui. Membayangkannya saja buat pemuda itu geleng-geleng kepala. Dirinya tak mau merepotkan sang ibu. Belum tentu juga ibunya kuat memapahnya, kan?

Tetsuya bukan anak kecil lagi. Ia sudah berumur kepala dua. Berat dan tinggi badan sudah bertambah pula dari terakhir kali ia mengukurnya.

Tidak mau larut dalam rasa sakit akibat mulas dan pusing, pemuda itu mencari kotak kecil khusus P3K dari dalam tas. Selain kotak tersebut yang diambil, ia juga mengeluarkan sebotol air mineral dan ponsel. Lama arah pandangnya tertuju pada benda yang sejak tadi dinonaktifkan hingga tidak sadar sosok Yui sudah berdiri tak jauh dari tempatnya duduk.

Yui masih setia berdiri di tempatnya saat Tetsuya menyalakan ponselnya lagi. Sambil melipat kedua tangan di depan dada, ia terus memusatkan perhatian pada tingkah sang anak. Kalau dirinya langsung duduk di samping Tetsuya, mungkin anak itu tidak jadi melakukannya.

Di lain pihak, rasa mulas dan sakit yang tadi dirasakan Tetsuya kini menghilang dengan sendirinya ketika melihat layar ponsel berubah. Seijuurou menelponnya lagi. Ibu jari Tetsuya langsung menekan tombol tutup telepon. Ia tak mau bicara dengan kekasihnya itu sekarang. Ketika layarnya berubah lagi, Tetsuya ingin menolak sambungan kalau saja tak melihat kanji dan hiragana bertuliskan 'Momoi Satsuki'.

Aa, mana mungkin ia menolaknya. Satsuki salah satu tipe orang yang Tetsuya segani karena perangainya mengingatkan dirinya pada sang ibu. Kecuali, tentang masakan.

"Moshi moshi, Momoi-san?"

"Tetsu-kuuuuun! Kemana saja kamu hari ini!?"

"A-aa, aku sibuk mengurus paspor dan visa."

Tiba-tiba tak ada balasan dari si penelpon. Kedua alis Tetsuya tertekuk. Ada yang aneh. "Halo, Momoi-san?"

"Tetsuya, ini aku. Seijuurou."

Aa... Ternyata Seijuurou sedang bersama Satsuki.

Baru saja Tetsuya ingin mematikan sambungan, namun terdengar teriakan dari pemilik suara sebelumnya.

"Tetsuya! Jangan putuskan sambungan teleponnya!"

Ponsel kembali ditempelkan pada daun telinga. Tak ada niat untuk mengucapkan sepatah kata, tapi Seijuurou pasti tahu kalau Tetsuya akan mendengarkan. Sebuah bayangan hitam di dekat kakinya membuat Tetsuya mendongak. Yui tersenyum lalu duduk di samping kirinya dengan membawa selembar kertas. Surat pernyataan tentang jadwal wawancara. Terdapat tulisan hari dan tanggal di tengah-tengah surat. Jadwal wawancara yang harus dihadiri adalah besok siang. Tetsuya mengangguk dan membalas senyuman tersebut lalu fokus pada sambungan telepon.

"Kau tidak berangkat ke Amerika besok, kan?"

"..."

"Kau mau pergi dengan hubungan kita yang tidak jelas ini, Tetsuya?"

"...semalam aku sudah bilang ingin putus denganmu, tapi kau malah—"

"—benar-benar tidak ada kesempatan untukku memperbaikinya?"

Tangan kiri Tetsuya yang sedang memegang kotak P3K terlihat mengepal. Namun sedetik kemudian, tangan kanan Yui memegang kepalan itu. Bermaksud untuk menenangkan Tetsuya yang tampak kesulitan. Sebelum berucap, ia menarik napas lalu mengeluarkannya lewat mulut perlahan.

"Aku sudah memikirkan ini baik-baik. Aku ingin putus denganmu," ucap Tetsuya tegas.

"Tapi aku tidak setuju. Aku ingin kita bicara empat mata secara langsung."

Bibir bawah digigit tanpa sadar. Tetsuya berpikir, mungkin pertahanannya bisa roboh jika bertemu. Tapi memutuskan hubungan lewat telepon juga termasuk cara yang tidak baik. Kepalanya menengok ke kiri. Dilihatnya sang ibu masih tersenyum kalem. Tak lama wanita itu mengangguk, meyakinkan Tetsuya kalau semuanya akan baik-baik saja.

"Bisa kita bertemu besok sore saja?" tanya Tetsuya dengan nada menyerah.

"...kenapa tidak hari ini?"

"Aku lelah, besok ada jadwal wawancara."

"Malam ini... tidak pulang ke apartemen kita?"

"Tidak. Apartemen itu sudah jadi milikmu sekarang. Sebagian barangku sudah kubawa, sisanya menyusul." Mendengar helaan napas berat dari ujung telepon, ekspresi Tetsuya terlihat makin rumit. Dari pancaran matanya, jelas sekali ia merasa sedih atas keputusannya sendiri. Tapi mau bagaimana lagi? Tetsuya terlanjur sakit hati.

"Baiklah, besok jam tujuh di restoran biasa."

"Hn."

"Aku merindukanmu, Tetsuya."

"Hn." Aku juga, Sei-kun.

"Aku masih mencintaimu. Aku menyesali semua yang sudah kulakukan padamu."

"H-hm. Sudah, kan? Kututup teleponnya."

Tanpa mendengar jawaban Seijuurou, Tetsuya langsung memutuskan sambungan secara sepihak. Pertahanannya runtuh seketika. Air mata yang sejak tadi tertahan kini mulai mengalir hingga menetes ke sweater krem yang ia pakai.

Kenapa dirinya bisa serapuh ini hanya karena mendengar kalimat Seijuurou tadi?

Apa ia terlalu mencintai pemuda itu sampai bisa memaafkannya semudah membalikkan telapak tangan?

Apa dirinya salah satu manusia yang memiliki kelapangan hati di atas rata-rata?

Tidak. Tetsuya hanya manusia biasa. Kuroko Tetsuya hanya terlalu mencintai Akashi Seijuurou sampai tak ingin membaginya dengan yang lain. Ia ingin jiwa, raga, serta hati Seijuurou hanya untuk dirinya sendiri.

Tak ada yang salah dengan itu, kan?

Suara isakan lolos dari mulutnya, berhasil membuat Tetsuya menangis sejadi-jadinya. Ia menutup wajah dan menangis tanpa suara. Yui memeluk tubuh ringkih itu perlahan seolah jika ia terlalu erat, sosoknya akan hilang dalam sekejap mata.

"Okaasan... Okaasan..."

"Kau sudah berjuang keras, Tetsu-kun."

Tak ada sahutan lagi. Namun pelukan itu dibalas dengan erat oleh Tetsuya. Yui mengecup puncak kepalanya seraya mengusap punggung anak satu-satunya tersebut.

.

Momoi Satsuki melirik Taiga yang duduk di sisi kanannya. Pemuda jangkung itu ikut menatapnya balik sebelum menatap pihak ketiga yang masih berdiri membelakangi mereka. Pandangan sedih dan iba ditunjukkan oleh wajah Satsuki. Namun ia tak bisa berbuat apa-apa, walau dalam hati sempat kesal setengah mati karena sahabatnya sekaligus cinta pada pandangan pertamanya dikhianati.

"Padahal aku sudah menyerah soal Tetsu-kun. Tapi kalau seperti ini, rasanya aku ingin memperjuangkannya lagi," ujar Satsuki dengan nada berani dan menantang.

Seseorang yang sebenarnya sedang disindir oleh gadis cantik itu melirik tajam kemudian berbalik. Ia mengembalikan ponsel Satsuki dengan menaruhnya di atas meja. Matanya masih menatap sosok Satsuki dan membuat Taiga berkeringat dingin. Percayalah, Taiga tidak pernah suka dengan situasi seperti ini. Absolute man vs Woman always right.

"Aku tidak akan biarkan hal itu terjadi."

"Oh? Kau masih percaya diri kalau Tetsu-kun akan memilihmu lagi?"

"Terima kasih untuk ponselnya."

Terdengar suara gigi bergemeletuk saat Seijuurou pergi meninggalkan mereka. Asal suaranya siapa lagi kalau bukan dari Satsuki? Taiga bisa bernapas dengan normal sekarang.

"Jadi, kau benar-benar akan melalukannya?" tanya pemuda itu.

"...ada kesempatan, kan? Harus dicoba."

Taiga angkat tangan. Menyerah dengan sikap Satsuki yang memang memiliki sifat agresif. Tapi sifatnya ini mampu ditutupi dengan sikap feminimnya jika di depan Tetsuya. Sayangnya, Satsuki tidak tahu kalau pujaan hati sudah menyadarinya namun memilih untuk pura-pura tidak tahu. Taiga tahu hal ini karena Tetsuya sendiri yang bercerita padanya.

"Aku belum pernah dikhianati oleh orang yang kucinta. Tapi aku bisa mengerti perasaan Tetsu-kun sekarang," ucap Satsuki mengepalkan tangan kanannya yang sedang memegang ponsel.

"Kuroko orang yang kuat, kok." Taiga meminum jus lemon lalu bergedik sebentar.

Wajah sang gadis tampak cemberut sambil menengok pada salah satu sahabatnya itu.

"BaKagami! Lambungmu 'kan tidak kuat makan dan minum yang asam-asam!"

"Awawawaw, jangan cubit pipiku, Momoi!"

"Biarin!"

"Jangan limpahkan kekesalanmu padaku, dong!"

"Bodo! BaKagami baka!"

.

Hari sudah berganti menjadi malam ketika langkah kaki Seijuurou berhenti di depan pintu apartemennya. Dalam diam matanya menatap lama pada papan nama bertuliskan 'Akashi & Kuroko' di atas mesin intercom. Perlahan tangan kanannya menyentuh papan nama itu sebelum akhirnya masuk ke dalam apartemen. Ia tak mengucapkan apapun karena sudah tahu bahwa salamnya takkan dijawab.

Pemuda itu melepas sepatu dan menaruhnya di rak alas kaki. Sandal dan sepatu milik Tetsuya masih ada di sana. Masing-masing ada satu. Sandal berbulu dan memiliki bentuk kepala anjing yang kata Tetsuya sangat mirip dengan anjing peliharaan di rumah orang tuanya. Lalu satunya lagi adalah sepatu sneakers khusus couple warna merah, sedangkan sepatunya sendiri berwarna biru muda.

"Aku mau membelinya kalau sepatu kita bertukar warna."

"Maksudnya?"

"Sei-kun beli yang biru muda, aku yang merah."

"Oke. Apa sih yang tidak buat Tetsuyaku?"

"Gombal, ih."

"Mukamu merah."

"Memangnya salah siapa!?"

"Aku."

Seijuurou hanya bisa tersenyum miris mengingat momen manis yang terjadi saat ia membujuk Tetsuya untuk mau membelinya dulu. Kapan terakhir kali mereka kencan? Atau sekedar jalan berdua sambil pegangan tangan di pinggir jalan? Rasanya sudah lama sekali sampai ia kesulitan mengingatnya.

Dengan gerakan tak bertenaga, ia mulai melangkah memasuki ruang tamu sebelum masuk ke dalam ruang makan sekaligus dapur. Seperti biasa, Seijuurou mengambil gelas lalu menuang air mineral dingin botolan yang disimpan di kulkas ke gelas tersebut. Saat ingin menaruh botol ke tempat semula, sebuah kertas berisi memo singkat menempel di pintu kulkas.

'Aku sudah buatkan sup tofu dan kusimpan di lemari. Panaskan lagi sebelum dimakan. Kuroko Tetsuya.'

Senyum tipis terukir di wajah Seijuurou. Berarti Tetsuya sempat ke sini tadi. Andai ia bisa pulang lebih cepat, mungkin mereka bisa bertemu. Jadi, tidak perlu menunggu sampai besok sore, kan?

Tangan kanan Seijuurou mengambil ponsel layar sentuhnya dari dalam saku celana. Ibu jari menekan lama pada gambar angka satu. Layar ponsel berubah, menampilkan foto Tetsuya yang sedang tersenyum bahagia beserta nama dan nomornya. Sambil menunggu teleponnya tersambung, Seijuurou membuka lemari tempat biasa kekasihnya itu menyimpan lauk. Ia mengambil panci kecil dengan tangan kiri lalu menaruhnya di atas kompor gas.

Namun sayang, Tetsuya masih tak mau mengangkat teleponnya. Sambungan dialihkan ke mail box. Seijuurou tersenyum kecut.

"Halo, Tetsuya. Kau sedang apa? Oh iya, tadi kau ke sini? Terima kasih untuk supnya. Rasanya enak seperti biasanya."

Kali ini Seijuurou menatap isi panci yang sengaja dibuka dengan tatapan menerawang. Entah Tetsuya mau mendengarnya atau tidak, tapi ia tetap bicara seperti orang gila. Pemuda itu juga ingin sekali mendengar suara Tetsuya. Satu detik—tidak, tiga detik. Tiga detik sudah cukup. Tiga detik hanya untuk menyebut namanya saja sudah cukup mengobati rasa rindu di hatinya.

Rekaman suara mail box masih berjalan ketika sup sudah mendidih. Seijuurou mematikan kompor lalu menutup panci. Kakinya melangkah menuju kursi makan sebelum duduk di atasnya.

"Apartemen ini sepi sekali, Tetsuya."

"..."

"Jadi seperti ini ya rasanya menunggu di ruang makan sendirian."

"..."

"Maafkan aku yang akhir-akhir ini lebih sering makan di luar."

"..."

"Kau pasti kesepian saat itu, kan? Sementara aku malah bersenang-senang dengan yang lain. Manusia macam aku ini?"

Terdengar pemberitahuan bahwa rekaman akan berakhir dalam waktu satu menit lagi. Alis Seijuurou tertekuk. Kesal dengan suara wanita yang bekerja sebagai operator itu.

"Aku ingin mendengar suaramu, bertemu denganmu, memelukmu, dan bilang maaf berulang kali sampai kau mau kembali padaku. Bertekuk lutut di depanmu pun aku mau, Tetsuya. Asalkan hubungan kita tidak berakhir. Sampai kapanpun aku akan mencintaimu. Sela—"

"—rekaman berakhir dan sudah dialihkan ke mail box—"

"...padahal belum selesai bicara."

Layar ponsel kembali menjadi wallpaper foto dirinya yang sedang memeluk Tetsuya dari belakang sambil mencium pipi kanannya dengan latar belakang sunset. Seijuurou melempar pelan ponselnya ke atas meja makan. Kepalanya menunduk saat punggungnya bersandar pada sandaran kursi.

"...maafkan aku, Tetsuya. Maafkan aku."

.

Restoran sederhana favoritnya, Lognaria, menjadi tempat tujuan Tetsuya. Di tangan kanannya ada sebuah bingkisan ukuran sedang sementara tas selempang warna hitam menggantung di sisi kiri tubuhnya. Suara lonceng terdengar ketika ia membuka pintu restoran. Seorang pelayan wanita menghampiri pemuda tersebut seraya tersenyum.

"Irrasshaimase. Untuk berapa orang?" tanya pelayan itu.

Tetsuya ikut tersenyum walau samar. "Dua orang."

"Baik. Mohon ikuti saya."

Ia pun dibawa menuju meja kosong yang berada di pojok restoran dan bersebelahan dengan kaca. Tetsuya duduk di sisi kiri meja sehingga dirinya bisa melihat pemandangan di luar restoran hanya dengan menengok ke sebelah kiri sambil menyangga dagu seperti kebiasaannya ketika di Majiba. Omong-omong, sejak statusnya berganti jadi mahasiswa, Tetsuya jarang sekali ke sana. Rasanya rindu ingin meminum vanilla shake walau sekarang ia sudah bisa membuatnya sendiri di rumah.

Tapi tetap saja ada yang berbeda, pikirnya.

"Ingin pesan sekarang atau nanti?"

"Sekarang." Tetsuya menaruh bingkisan di sebelah kiri dekat kursinya. Tangannya mengambil buku menu lalu mulai mencari makanan dan minuman yang ingin dipesan. "Saya pesan milk tea dulu, lainnya menyusul," ucapnya.

"Baik. Mohon tunggu sebentar."

"Terima kasih."

Mata Tetsuya menatap jam di pergelangan tangan kirinya setelah pelayan itu undur diri. Waktu masih menunjukkan jam setengah tujuh sore. Masih ada sisa waktu setengah jam dari janji temu. Ia pun menyangga dagu dengan tangan kanan sambil memperhatikan keadaan di luar restoran.

Ada banyak pasangan manusia sibuk berlalu lalang di depan restoran. Mereka terlihat saling melempar senyum dan pandangan penuh cinta kepada pasangannya masing-masing. Namun ada juga kelompok muda-mudi yang jalan beriringan sambil tertawa bahagia. Dari pakaiannya, mereka adalah murid SMA Teikou.

Aah... Tetsuya rasanya rindu dengan sekolahnya dulu.

Sejak lulus memang dirinya jarang ke SMA Teikou. Ia akan datang kalau teman-teman seangkatan yang mengajaknya melihat kouhaitachi dari klub basket putra. Tapi tidak jarang Tetsuya absen dengan macam-macam alasan.

Omong-omong, sudah sebulan tak ada kabar dari mereka. Apa mungkin mereka sedang sibuk dengan tugas? Terutama Midorima Shintarou yang masuk jurusan Kedokteran. Walau mereka satu kampus, entah kenapa jarang sekali bisa berpapasan.

Ah, Tetsuya belum menyampaikan berita soal dirinya akan pergi ke Amerika.

Hmm, apa sebaiknya nanti saja ya, saat akan berangkat? pikirnya. Tapi kalau begitu, ia bisa diamuk oleh Kise Ryouta, si pemilik suara nyaring dari Kiseki no Sedai.

Tetsuya pun memilih mengambil ponselnya dari saku jaket biru tuanya. Seorang pelayan datang dengan membawa segelas milk tea pesanannya, ia pun berterimakasih sebelum pelayan tersebut undur diri. Ia kembali sibuk dengan ponselnya dan membuka aplikasi GARIS.


Menbaa Teikou Basukebu 20XX (7)


Kuroko Tetsuya Hai. Apa kabar kalian?

Aomine Daiki Kurokocchiiiiiii! XD #hug

Kuroko Tetsuya Mm, Kise-kun?

Aomine Daiki Yap! Aku sedang bersama Daikicchi, hehe~ :3

Aomine Daiki Yo, Tetsu! Kabarku baik. Bagaimana denganmu?

Kuroko Tetsuya Oh, kalian nge-date, ya? Hmmm...

Kabarku baik. Kalian sibuk?

Aomine Daiki Hai-ssu! Kami sedang kencan~ Khukhukhu~ XD

Aomine Daiki Ck, rasanya OOC sekali baca balasan dari Ryouta dengan akun namaku.

Yaaah, lumayan sibuk. Jadwal praktiknya bertambah. Kau sendiri sibuk, Tetsu?

Kuroko Tetsuya Memang. Rasanya aneh. Kise-kun, tolong pakai ponselmu sendiri untuk membalas chat-nya.

Lumayan senggang. Aku baru saja menyelesaikan jurnalku.

Aomine Daiki Kurokocchi hidoi-ssu! T~T

Aomine Daiki Jurnal apa? Tumben? Persyaratan skripsi?

Kuroko Tetsuya Jurnal untuk persyaratan program pertukaran mahasiswa, Aomine-kun.

Midorima Shintarou Oh, kau ikut program itu, Kuroko?

Kuroko Tetsuya Iya, Midorima-kun. Jurnalku diterima dan dalam waktu dekat akan ke sana.

Kise Ryouta Eh!? Kurokocchi mau ke mana!? o_o?

Kuroko Tetsuya Ke Amerika.

Aomine Daiki Wot!? Serius!?

Midorima Shintarou Bukan 'wot', tapi 'what', Aomine. Baka ne.

Aomine Daiki Bodo, Midorima. Tapi Tetsu, kok mendadak sekali?

Kise Ryouta (sent a stiker—chara anime versi chibi nangis)

Kuroko Tetsuya Tidak mendadak, kok. Aku pernah bilang kalau aku ingin kuliah di Amerika, kan?

Kuroko Tetsuya (sent a stiker—chara anime versi chibi pelukan)

Aomine Daiki Aa... Rasanya memang aku pernah mendengarnya dulu.

Midorima Shintarou Bukannya kuliahnya dimulai semester depan-nanodayo?

Kuroko Tetsuya Memang begitu, Midorima-kun. Tapi aku diterima magang di perusahaan NEXT Jr Company. Okazaki-sensei juga mengharapkanku untuk menerimanya demi nama baik Universitas Teikou. Jadi, aku akan berangkat lebih cepat dari jadwal.

Kise Ryouta EH!? NEXT JR!? NEXT JR YANG ITU!? Perusahaan media massa terkenal di Amerika itu, Kurokocchi!? O_O

Kuroko Tetsuya Iya, perusahaan yang itu, Kise-kun.

Midorima Shintarou Kok bisa? Tidak biasanya kau pilih kerja dibanding kuliah-nanodayo.

Kuroko Tetsuya Perusahaan itu menawariku magang di sana selama tiga bulan setelah membaca jurnalku. Aku tidak tahu mereka dapat dari mana, tapi aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini.

Aomine Daiki Ya. Itu kesempatan bagus, Tetsu! Btw, selamat ya! :)

Kise Ryouta Betul-ssu! Ini kesempatan langka! Aku turut senang, Kurokocchi! :') Tapi... aku akan merindukan Kurokocchi nanti, hiks.

Midorima Shintarou Omedetou-nanodayo, Kuroko. Semoga karir dan kuliahmu di sana lancar.

Murasakibara Atsushi Eh? Kuro-chin mau pergi ke Amerika? Apa nanti akan bertemu Muro-chin?

Kuroko Tetsuya Terima kasih, minna. Aku juga akan merindukan kalian, terutama Kise-kun. :)

Himuro-san? Aku tidak tahu apa kami berada di lokasi yang sama atau tidak. Kemungkinan untuk kami bertemu sangat kecil. Memang Himuro-san dimana sekarang?

Murasakibara Atsushi Hm, di Los Angeles. Kuro-chin mau pergi ke mananya memang?

Kuroko Tetsuya California bagian utara, Murasakibara-kun. Kampusku nanti juga di sana.

Murasakibara Atsushi Hmm, kalau begitu, titip salam saja kalau kalian bertemu nee, Kuro-chin. Sebelumnya, omedetou nee~

Kuroko Tetsuya Iya, nanti kalau bertemu ya. Terima kasih, Murasakibara-kun.


"Tetsuya."

Tubuh Tetsuya menegang karena kaget. Ia mengembuskan napas sebelum menatap seseorang yang ditunggunya sejak tadi. "Akashi-kun, kau mengagetiku."

Alis Seijuurou mengkerut. Tidak suka dengan panggilan Tetsuya. Tapi ia pilih menyerah saja karena tahu kalau alasan di balik sikap pemuda di depannya ini adalah kesalahannya. "Belum pesan makanan?" tanya Seijuurou setelah melihat hanya segelas milk tea di atas meja seraya duduk berseberangan dengan Tetsuya.

"Aku menunggumu. Kita pesan sama-sama," jawabnya.

Seijuurou pun langsung memanggil seorang pelayan. Mereka memesan menu yang berbeda dan sempat berdebat. Tetsuya keras kepala hanya ingin memesan sweet potato fries, tapi Seijuurou menambahkan curry chicken. Sementara Seijuurou sendiri oroshiso hamburg dan orange juice. Ponsel Tetsuya yang sejak tadi bergetar di atas meja menarik perhatian pemiliknya. Setelah pelayan pergi, ia sibuk dengan ponselnya tanpa ada maksud untuk mengabaikan keberadaan Seijuurou. Chat group di aplikasi GARIS tadi masih ramai, walau objek pembicaraan berubah. Kali ini mereka sibuk melakukan tanya-jawab dengan Atsushi soal hubungannya dengan Himuro Tatsuya yang sampai saat ini masih mengaku sebagai senior-junior biasa.

Ryouta terlihat gesit dan paling bersemangat. Ia terus memojokkan Atsushi. Tapi jika dilihat dari balasannya, pemuda raksasa yang tingginya sudah dua meter lebih itu tidak terusik. Atsushi menjawab dengan jujur semua pertanyaannya sampai Daiki menyulut emosinya dengan sebuah fakta baru.


Aomine Daiki Aku melihat kalian ciuman di bioskop loh, dulu. Mengaku saja, Murasakibara.

Murasakibara Atsushi Kau salah orang, Mine-chin. Mana mungkin kami ciuman.

Aomine Daiki Hooooo lantas siapa orang bertubuh tinggi sampai harus menunduk saat masuk ke teater bioskop dan berambut ungu selain kau? Ano Himuro sempat mengelus kepalamu walau kesusahan.

Murasakibara Atsushi Sudah kubilang, itu bukan aku. Mine-chin tidak percaya nee~

Aomine Daiki Hei! Aku duduk dua baris di belakangmu! Aku tidak mungkin salah!

Kise Ryouta Ano, Daikicchi. Kau nonton dengan siapa? Seingatku kita tak pernah bertemu dengan Murasakicchi saat nonton bioskop-ssu. :(

Aomine Daiki Momoi yang memaksaku untuk menemaninya nonton. Moodnya hancur entah karena apa. Aku yang kena imbasnya. Aku tidak selingkuh, Ryouta, kalau itu yang kau pikirkan.

Murasakibara Atsushi left the group.

Midorima Shintarou *sigh Baka ne-nanodayo.

Aomine Daiki invited Murasakibara Atsushi to join the group.

Kise Ryouta Iiiiih! Murasakicchi ngambek-ssuuuuuuu! TAT

Kuroko Tetsuya Aku tidak ikut-ikutan ya. Bye. *kemudian pergi

Aomine Daiki Sialan... Sini kau, Tetsu! *lari mengejar Tetsu


Bahu Tetsuya bergetar pelan karena menahan tawa. Merasa ada yang aneh, ia menatap ke depan. Ternyata dari tadi Seijuurou diam memperhatikannya sambil tersenyum tipis dengan pandangan lembut. Kedua mata Tetsuya tidak lepas dari mata pihak seberang seolah Seijuurou sedang menggunakan sihir untuk mengunci pandangannya agar ia hanya bisa melihat sosok itu seorang. Tak ingin lama-lama bersitatap, bola mata biru tersebut bergerak ke kiri lalu menunduk. Perlahan ia menaruh ponselnya ke dalam kantung celana jeans hitamnya.

"Kau sudah memberitahu mereka?" tanya Seijuurou.

Tetsuya merasa tidak yakin kalau mantan kapten klub basket SMA Teikou ini sudah membaca chat di grup GARIS. "Sudah. Baru saja," jawabnya dengan nada pelan.

"Baguslah. Mereka bisa kena serangan jantung kalau kau memberi kabar saat sudah sampai di sana."

"Ya. Tapi aku jadi ingin lihat reaksi mereka kalau hal itu benar-benar kulakukan."

Senyum Seijuurou semakin lebar dari sebelumnya. "Tetsuya tetap saja sadis, ya?"

"Memang berkat siapa aku jadi seperti ini?" balas Tetsuya. Ia ikut menarik garis bibir ke atas.

Pemuda yang biasanya stay calm and cool itu tak bisa menahan tawa. Walau hanya sebentar tapi sisi Seijuurou yang ini jarang sekali diperlihatkan ke depan publik. Seijuurou lebih sering tersenyum biasa atau menahan tawa dan menutupinya dengan punggung tangan kiri sambil menghindari tatapan lawan bicara. Tetsuya berpikir, mungkin ia takkan bisa membuat ataupun melihat sosoknya yang seperti ini lagi di masa depan.

Sejak ia tahu Seijuurou selingkuh di belakangnya, Tetsuya sudah tak bisa membayangkan kehidupan mereka jika mereka masih ingin bersama lagi. Bukannya Tetsuya tidak bisa memaafkan Seijuurou. Tidak. Semarah-marahnya Tetsuya, ia tak mungkin sampai membenci. Lagipula Tetsuya sudah memaafkannya. Tapi pemuda itu takkan mungkin melupakan kejadian ini. Rasa segan untuk memberi Seijuurou kesempatan kedua pun masih ia rasakan. Wajar juga jika Tetsuya tak ingin hal ini terulang dengan orang yang sama lagi. Tetsuya merasa sudah tak bisa percaya pada Seijuurou lagi.

Dan Tetsuya benci itu.

Tanpa sadar Tetsuya sudah menggelengkan kepala beberapa kali. Seijuurou mengernyit bingung. "Kau memikirkan sesuatu?"

"Hm?" Lagi, Tetsuya menggelengkan kepalanya.

Mereka terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Mata Seijuurou masih betah menatap pemuda manis di hadapannya. Ia berpikir, seberapa lama lagi ia bisa memandangi Kuroko Tetsuya sebelum sosoknya pergi ke negara beda benua, Amerika Serikat? Seberapa lama lagi Seijuurou bisa memperhatikan gerak-geriknya yang terkadang buatnya geleng-geleng kepala atau gemas? Seberapa lama lagi... ia bisa menghabiskan waktu bersama Tetsuyanya sebagai sepasang kekasih?

"Omatase shimashita."

Pelayan wanita yang melayani Tetsuya di awal tadi datang dengan pesanan mereka di atas nampan. Wanita itu tersenyum sambil menata pesanan, dibantu oleh Tetsuya dengan senang hati. Sebagai pelanggan yang baik, mereka mengucapkan 'terima kasih' sebelum pelayan itu undur diri.

"Ittadakimasu."

"Ittadakimasu."

Tangan kanan Tetsuya berniat untuk mengambil kentang goreng. Namun Seijuurou berdeham, pertanda tidak suka dan melarang pemuda yang masih berstatus sebagai kekasihnya itu tidak memakan kentang goreng lebih dulu. Dengan terpaksa ia mengalihkan minatnya pada pesanannya yang satu lagi. Tetsuya mengambil sendok dan mengabaikan garpu kemudian mulai menyuap kari ayam secara perlahan.

Di sisi lain, Seijuurou tersenyum. Dalam hati bersorak akan kemenangannya. "Terima kasih. Kau mau menuruti permintaanku, Tetsuya," ucapnya seraya memulai kegiatan makan malamnya bersama Tetsuya.

Entah kenapa Tetsuya malah berdencih. "Kau masih lebih seram dari Otousan, Akashi-kun."

Alis kanan Seijuurou mau tidak mau terangkat. Bingung. "Kok bisa?"

"Kau berterimakasih karena aku mau memakan kari dulu sebelum kentang goreng. Padahal aku sedang diet, tahu." Tetsuya memasukkan sesendok kari dan nasi ke dalam mulut. Ekspresinya terlihat kesal hingga bibirnya maju beberapa mili meter.

Sebenarnya maksud Seijuurou bukan itu. Tapi... ya sudahlah. Biarkan makan malam ini berjalan lancar dan damai. Setelah pesanan mereka habis atau sepulang dari restoran, mungkin Seijuurou bisa membahasnya.

"Tunggu. Sejak kapan kau suka diet, Tetsuya?" tanya Seijuurou heran.

"Sejak hari ini."

Tetsuya mode ngambek memang bisa buat penerus Akashi Corp. itu menghela napas berulang kali. Namun terselip juga rasa gemas akibat bibir mungilnya mengerucut. Ditambah tingkahnya yang akan bertransformasi jadi lebih mirip tingkah anak kecil umur lima tahun.

"Tidak perlu diet. Tubuhmu sudah cukup terisi, kok."

"Hm."

"Aku lebih suka Tetsuya makan yang banyak sampai pipimu seperti ikan buntal."

"Hm!?"

Meskipun mendapat tatapan membunuh dari Tetsuya, Seijuurou tetap melanjutkan pembicaraan yang sebenarnya tidak penting tersebut. Pemuda berambut merah itu terus berkicau, menasihati kekasihnya soal kesehatan tubuh. Tetsuya tidak tinggal diam. Ia protes namun dibalas lagi hingga dirinya skakmat. Topik pembicaraan pun habis. Tidak mau diisi keheningan yang mengganjal hati, suara monoton kembali membuka pembicaraan.

Apapun itu temanya. Sebisa mungkin Tetsuya tidak mau mereka saling diam. Baik topik random yang bersifat lucu hingga dunia politik yang Tetsuya sendiri tidak yakin bisa mengalahkan argumen Seijuurou.

Pihak lawan bicara pun juga terlihat sama. Meski sikapnya kalem dan terkesan santai, Seijuurou sedang berusaha tidak memperkeruh atmosfer di antara mereka berdua yang sudah bisa dianggap normal. Ia ingin selama mungkin bisa bicara dan mendengar suara monoton namun terdengar merdu di telinganya tersebut. Dibanding itu semua, Seijuurou lebih ingin bisa menghentikan waktu selamanya karena ia tahu, setelah ini tak ada lagi kesempatan untuk menghabiskan waktu berdua dengan Tetsuya sebagai sepasang kekasih.

Seijuurou sangat yakin. Ia sudah tinggal dengan Tetsuya selama empat tahun lebih. Itu pun belum dihitung dengan saat pendekatan yang berjalan selama hampir satu tahun.

Sekalinya orang lain melakukan kesalahan, Tetsuya masih akan memaafkan orang tersebut. Tapi jangan harap ia bisa melupakannya. Seumur hidup Tetsuya akan mengingatnya dengan senang hati. Rasa percaya terhadap orang itu pun akan menghilang secara perlahan. Cepat atau lambat, kepercayaan tersebut habis tak bersisa. Tetsuya akan menjadikan hal itu sebagai pembelajaran berharga untuk hidupnya, namun ia takkan memberikan kesempatan kedua. Apalagi jika luka yang ditorehkan oleh orang itu terlalu dalam bagi Tetsuya.

Dan Akashi Seijuurou adalah salah satu dari orang itu.

"Jangan banyak berpikir. Aku ingin makan malam ini seperti biasanya," ucap Tetsuya tanpa menatap lawan bicara. Matanya tampak sibuk melihat daging ayam yang sulit dipotong dengan garpu dan sendok.

Ah, ketahuan. "Hm. Sure, My Princess."

"I'm not—"

"—kau bisa makan kentang goreng kalau tidak mau makan karinya lagi."

"...un." Tetsuya menggigit bibir bawah. Ia hampir keceplosan mengatakan sesuatu. I'm not Your Princess anymore. Kalau Seijuurou tidak memotong ucapannya, kalimat itulah yang akan keluar dari mulutnya. Tetsuya menarik napas lalu mengembuskannya lewat mulut secara perlahan.

"Biar kuambilkan saus tomat untukmu," ucap Seijuurou sambil berdiri dari kursinya.

Pemuda berambut biru muda itu hanya diam memandangi punggung kekasihnya yang perlahan menjauh. Tiba-tiba kedua matanya terasa panas. Secepat mungkin Tetsuya berusaha menghilangkan genangan air mata yang mulai menumpuk di kantung mata seraya mengalihkan pandangan ke luar restoran. Ia bergeming melihat titik-titik putih yang berjatuhan dari langit.

Salju pertama di musim dingin tahun ini sudah turun ke bumi.

Ah, ini akan jadi kenangan manis sekaligus pahit di hidupku, pikir Tetsuya.

Tak lama kemudian Seijuurou datang dengan sepiring kecil saus tomat. Saus kesukaan Tetsuya untuk menemani kentang goreng. Tetsuya menghentikan kegiatan memakan karinya yang masih tersisa seperempat porsi lalu mulai melakukan suatu ritual, yaitu mengguyur saus tomatnya ke atas tumpukan kentang goreng. Jika ditanya, Tetsuya akan menjawabnya dengan singkat, "Biar lebih praktis."

"Tetsuya, sudah cuci tangan?" tanya Seijuurou lembut.

"...belum."

"Cuci tangan dulu."

"Akashi-kun juga belum. Ayo cuci tangan sama-sama."

Seijuurou hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala ketika Tetsuya sudah berjalan ke kamar mandi lebih dulu. Sebelum mengikuti sang kekasih, ia menyempatkan diri meminta salah satu pelayan untuk mengawasi meja mereka. Bahaya kalau ada barang-barang di tas mereka hilang. Atau malah tasnya yang hilang.

Tanpa banyak bicara Seijuurou berjalan mendekati Tetsuya yang sedang mencuci tangan. Ia masih sibuk memakai sabun cair dengan pandangan tak fokus. Melihat hal itu, Seijuurou jadi cemas. Namun dirinya sendiri juga merasa gelisah.

Bukan. Bukan karena mereka berada di kamar mandi lantas berpikiran yang iya-iya. Di saat seperti ini, mana mungkin mereka memikirkannya. Apalagi setelah melihat adanya pancaran kesedihan di mata Tetsuya ketika mata Seijuurou bersitatap dengan matanya lewat kaca.

Kegiatan Tetsuya terhenti. Seolah waktu berjalan lambat, Tetsuya bisa melihat gerak tubuh Seijuurou dengan sangat jelas. Dari bagaimana langkahnya mendekati Tetsuya sampai memerangkap tubuhnya ke dalam pelukan secara tidak langsung dan menaruh dagunya pada bahu kanan Tetsuya. Kedua tangan pemuda biru itu disentuh setelah Seijuurou menggunakan sabun cair untuk kedua tangannya sendiri. Air keran dinyalakan, kesadaran Tetsuya kembali meski hanya setengahnya. Dengan lembut Seijuurou mulai membasuh tangan mereka di bawah guyuran air keran.

Pandangan bola mata sebiru laut itu tertuju pada tangan mereka. Sentuhan Seijuurou benar-benar lembut seolah sedang mencuci gelas yang sudah retak dan akan hancur jika melakukannya secara kasar dan tanpa perasaan. Tetsuya menutup mata. Air mata pun tak bisa dibendung lagi.

Seijuurou yang sadar akan air mata Tetsuya ikut menutup mata seraya menggenggam tangan sang kekasih. Ia bisa merasakan sosok itu bersandar padanya. Seijuurou mencium leher Tetsuya yang terekspos jelas dengan penuh kasih sayang. Tetsuya sedikit menunduk, geli. Bagaimanapun leher adalah salah satu anggota tubuhnya yang sensitif. Namun kepala Tetsuya menengok ke kanan lalu terangkat hingga membuat keningnya dan kening Seijuurou menempel secara tidak langsung.

Mereka terdiam dalam posisi tersebut. Biasanya Seijuurou yang akan bergerak, tapi kali ini pemuda itu hanya diam. Dari matanya Tetsuya tahu, kekasihnya takut. Oleh karenanya Tetsuya yang mulai.

Cup.

"Terima kasih, Akashi-kun." Perlahan Tetsuya melepaskan diri dari genggaman dan pelukan Seijuurou. Namun kekasihnya berkata lain. Tetsuya bisa merasakannya kalau Seijuurou belum ingin melepaskannya.

"Sebentar lagi."

"Akashi-kun..."

.

Tetsuya memandangi keadaan lalu lintas di malam hari yang tampak ramai lancar. Bibirnya terkatup rapat. Tatapannya terlihat kosong. Tiap beberapa menit tangannya akan terkepal diiringi kernyitan di alis. Hari ini, sekitar dua jam lagi, ia akan pergi meninggalkan negara kelahirannya dan merantau ke negara Amerika Serikat. Rencananya Tetsuya hanya berada di sana selama satu tahun. Tapi jika terjadi sesuatu, misalnya ia ditawari pekerjaan setelah lulus kuliah, ada kemungkinan Tetsuya akan tinggal lebih lama di sana.

Lagi-lagi, Yui hanya bisa menghela napas ketika memikirkan kemungkinan sang anak semata wayangnya memilih menetap di Amerika. Kalau hal itu terjadi, pasti mereka akan sulit bertemu. Bisa setahun sekali, dua tahun sekali, atau saat kembali ke Jepang, Tetsuya sudah bawa cucu dan istri (atau suami) ke rumah.

Takeru berusaha fokus pada keadaan jalan di depannya. Ia ingin bicara tapi melihat istri dan anaknya sibuk memikirkan sesuatu, Takeru pilih untuk bungkam. Ini pertama kalinya Tetsuya pergi ke luar negeri sendiri, wajar kalau dirinya dan Yui khawatir.

Terlebih... setelah tahu hubungan sang anak dengan pacarnya sedang bermasalah.

Sejak tiga hari yang lalu, setelah Tetsuya izin pergi makan malam dengan Seijuurou, anaknya itu terlihat lebih lesu dari sebelumnya. Seperti tubuh tanpa jiwa. Tetsuya jadi lebih sering bengong sambil menatap jauh entah ke mana. Matanya mencari sesuatu tapi beberapa detik kemudian ekspresi kecewa muncul di wajah. Takeru sendiri tidak tahu masalah apa yang mereka hadapi. Ia ingin bicara dengan Seijuurou tapi kepala keluarga Kuroko itu juga tidak ingin ikut campur dalam urusan privasi Tetsuya.

Setelah dipikir-pikir lagi, Takeru putuskan untuk membuka pembicaraan. "Tetsuya, jangan bengong begitu. Kau tidak suka pergi ke Amerika?"

Pemuda berumur kepala dua itu mengerjap lalu menengok ke arah sang ayah. "Bukannya aku tidak suka, aku sedang memikirkan sesuatu. Maaf, Otousan." Kali ini ekspresinya semakin menggelap, lelah atas semua yang terjadi.

"Masalahmu dengan Akashi-kun masih belum selesai?" tanya Yui to the point.

Tetsuya menghindari kontak mata dengan sang ibu. "Belum."

"Cepat selesaikan. Besok kalian tidak bisa bertemu lagi, kan?"

"...ya. Nanti jika Akashi-kun datang ke bandara, aku akan bicara dengannya sebentar."

Yui mengangguk. Takeru melirik sebentar lalu fokus ke jalanan lagi. Mobil sedan hitam itu mulai memasuki area bandara internasional Narita. Setelah memarkir mobil dengan benar, mereka turun dari mobil tersebut. Tetsuya langsung mengeluarkan koper besar warna perak miliknya dari dalam bagasi. Takeru ikut membantu dengan membawa satu tas tenteng warna merah berukuran sedang. Yui hanya memperhatikan. Tanpa mengucapkan apa-apa, tangan sang ibu menggenggam tangan kiri Tetsuya ketika anaknya sudah siap berangkat.

Tetsuya ikut diam namun membalas genggaman tersebut. Selama satu tahun ia takkan bisa merasakan genggaman ini. Tidak jika Tetsuya ingin pulang ke Jepang, misalnya saat libur semester. Tapi tentunya tidak akan mudah karena biayanya cukup mahal.

Dalam keheningan mereka berjalan masuk ke dalam bandara dan menuju tempat tunggu. Takeru menyuruh anak dan istrinya duduk, sementara dirinya akan membeli minuman hangat. Yui mengangguk, Tetsuya hanya diam memperhatikan. Sepertinya sang anak tahu kalau ayahnya bermaksud untuk memberi ruang lebih pada mereka. Bagaimanapun ikatan anak dan ibu sangat kuat. Tetsuya masih bergeming saat bahu kirinya terasa berat. Ternyata ibunya yang bersandar di bahu Tetsuya.

"Kekuatan Okaasan sudah sampai batasnya, Tetsu-kun," lirih Yui.

"Aku tahu, Okaasan. Aku tahu." Tetsuya tidak tahu harus berucap apa. Hanya itu yang bisa ia katakan.

"Jaga kesehatanmu, ya. Jadi anak yang baik. Jangan terjerumus pergaulan bebas. Jangan pilih-pilih teman, tapi... untuk menjadikannya teman dekatmu, kau harus memilih sesuai hati nurani. Jangan terlalu mendengarkan kata orang. Jika menurutmu itu benar, perjuangkan. Jangan sombong. Tetaplah... tetaplah jadi—" Air mata mulai mengalir di kedua pipi Yui.

Bibir Tetsuya masih tertutup rapat. Namun tangannya menggenggam erat tangan sang ibu. Memberinya kekuatan untuk melanjutkan ucapannya yang belum diselesaikan.

"—tetaplah jadi... Kuroko Tetsuya yang biasanya. K-Kuroko Tetsuya, anak satu-satunya Kuroko Takeru dan Kuroko Yui... mahasiswa pintar dan rajin yang berhasil menjadi peserta program pertukaran mahasiswa perwakilan Universitas Teikou."

Kali ini Tetsuya mengangguk kemudian tersenyum. "Hai, Okaasan."

"Tetsu-kun tidak ingin mengatakan sesuatu?"

"Aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku... hanya ingin Okaasan dan Otousan bisa menjaga diri dan melindungi satu sama lain saat aku tak ada. Terutama Otousan yang sering memaksakan diri saat bekerja." Terdapat nada menggerutu di akhir, namun ekspresi Tetsuya tidak terlihat marah sama sekali. Dari matanya, ia justru merasa khawatir.

"Tenang saja. Okaasan akan mengomelinya. Biasanya juga begitu, kan?" balas Yui.

Terdengar tawa pelan dari Tetsuya dan menular pada Yui.

"Kurokocchiiiiiii!"

Yui memilih untuk duduk biasa, Tetsuya berdiri dan melihat teman-temannya berjalan menghampirinya. Tentu saja yang barusan memanggilnya adalah Kise Ryouta. Ia berlari kecil setelah melepas genggaman tangannya dengan Aomine Daiki. Di sisi kiri pemuda tan ada Momoi Satsuki dan Kagami Taiga. Satsuki melambaikan tangan sebelum ikut lari. Di belakang mereka ada Midorima Shintarou dan Murasakibara Atsushi.

Ryouta memeluk Tetsuya erat, kemudian Satsuki ikut memeluknya dari samping. Tetsuya tersenyum ketika teman pirangnya mulai curhat tentang kepergiannya yang terkesan mendadak. Satsuki mulai terisak dan Tetsuya hanya bisa membelai rambut merah mudanya.

"Hei. Aku hanya pergi selama satu tahun. Kenapa kalian berlebihan sekali?"

"Uwah. Air matamu juga keluar, Tetsu," ucap Daiki dengan nada jahil.

Tetsuya malah tertawa, diikuti oleh Ryouta dan Satsuki. "Kita masih bisa saling bertukar kabar. Tapi maaf, aku tak bisa ikut kumpul lagi dengan kalian."

"Satu tahun dari sekarang, kau bisa ikut kumpul-nanodayo," ujar Shintarou.

"Atau kita bisa main ke Amerika saat liburan semester, nee~" imbuh Atsushi.

"Benar-ssu! Pasti menyenangkan! Ne, Momocchi?" Ryouta menengok ke arah Satsuki dan gadis itu mengangguk sambil tersenyum. Ryouta sebagai laki-laki berusaha menenangkannya dengan menaruh kedua tangan di bahu Satsuki. Daiki terlihat tak ambil pusing meski Ryouta pacarnya dan Satsuki sahabatnya sejak kecil.

"Wah, sudah ramai ternyata."

Muda-mudi itu menengok. Takeru datang dengan tiga minuman kaleng di tangannya. Tetsuya menggigit bibir bawah karena melihat sosok Akashi Seijuurou sedang berjalan santai di sisi kanan sang ayah. Ia memicingkan mata. Penampilan Seijuurou cukup berbeda. Lebih... berantakan dari terakhir bertemu.

"Tumben pakai kacamata?" tanya Tetsuya langsung saat sosok itu sudah berdiri di hadapannya.

"Hm? Kenapa? Kau terpesona?" Seijuurou tersenyum tipis. Ucapan terkesan jahil, tapi tak ada nada jenaka di sana. Melainkan rasa lelah. Mungkin ia jadi workaholic sekarang.

Tangan kanan Tetsuya terulur dan menyentuh pipi tirus Seijuurou. "Tubuhmu terlihat lebih kurus dari tiga hari yang lalu. Jangan memaksakan diri sendiri," ucapnya dengan nada cemas sekaligus menasihati.

Seijuurou masih tersenyum kemudian menggenggam tangan Tetsuya sebelum mencium punggung tangannya. "Yes, My Princess. I'll remember it."

Tetsuya menunduk dan menggeleng pelan. "I'm not Your Princess anymore." Pada akhirnya kalimat itu meluncur mulus dari mulutnya. Genggaman tangan Seijuurou mengerat. Tetsuya masih menghindar dari kontak mata dengan kekasihnya.

Ya. Mereka masih berstatus sepasang kekasih. Tiga hari yang lalu di Restoran Lognaria, mereka hanya makan malam biasa. Tanpa berucap apapun keduanya sepakat untuk membicarakan masalah itu nanti. Lebih tepatnya Seijuurou yang menuruti permintaan awal Tetsuya, yaitu "Aku ingin makan malam ini seperti biasanya". Sampai Seijuurou mengantar pemuda itu di depan rumah Kuroko, mereka tetap tidak membahasnya. Benar-benar seperti tak terjadi apa-apa, meski atmosfer di sekeliling mereka tak bisa dibohongi.

Keduanya merasa inilah saatnya untuk menyelesaikan masalah mereka. Tetsuya memandangi sekeliling mereka, baru sadar kalau mereka jadi pusat perhatian. Baru saja mulut itu terbuka, suara lain mengintrupsi.

"Maaf, semuanya. Aku ingin pinjam Tetsuya sebentar. Tidak apa, kan?" tanya Seijuurou meminta izin. Terutama orang tua kekasihnya.

Yui mengangguk, diikuti yang lain.

Satsuki terlihat tidak suka dan hanya diam melihat kepergian sepasang kekasih tersebut. Meski mereka menjauh, namun siluitnya masih bisa terlihat di tengah-tengah keramaian bandara. Bahu kanannya ditepuk. Taiga tersenyum dengan ekspresi menyemangati. Ia menghela napas lalu mendongak ke atas.

"Aah~ menyebalkan..."

.

Seijuurou dan Tetsuya berdiri saling berhadapan. Kedua tangan Tetsuya digenggam oleh pemuda berambut merah yang kini memakai kacamata dengan frame tebal warna hitam. Tetsuya mulai berani menatap Seijuurou yang masih tersenyum tipis. Semakin diperhatikan, semakin jelas ia bisa melihat kantung mata hitam di bawah mata sang kekasihnya. Selain workaholic, ada kemungkinan Seijuurou kurang tidur.

Aah... bagaimana bisa aku pergi dengan tenang kalau seperti ini?

Seolah paham apa yang sedang dipikirkan pemuda biru di hadapannya ini, Seijuurou pun berucap, "Aku memang kurang tidur. Ada masalah dengan pembangunan cabang kantor di Fukuoka." Ia buru-buru menambahkan. "Kau tidak perlu khawatir. Aku bisa mengatasinya. Setelah projek itu selesai, Otousama akan memberiku hari libur selama seminggu, kok."

Tetsuya menunduk lagi lalu menjatuhkan tubuhnya ke depan. Seijuurou menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Genggaman itu terlepas. Ia memeluk tubuh Tetsuya. Erat. Sangat erat. Tetsuya membalas pelukannya secara perlahan. Mereka saling mencium bau khas tubuh masing-masing. Seijuurou bisa merasakan baju bagian depannya basah, diikuti bahu Tetsuya yang bergetar. Pemuda itu tak sanggup menahan air matanya lagi. Ia ikut menangis dan menyembunyikan wajahnya di sekitar leher Tetsuya sambil menciumnya beberapa kali.

"Aku tak mau kau sakit. Makanya jaga kesehatanmu selama aku tidak ada. Kau tahu 'kan, aku tidak suka kalau kau pingsan saat bekerja."

"Hm. Aku tahu. Akan kuingat. Ada lagi?"

"Meski tadi kubilang... 'selama aku tidak ada', aku akan membebaskanmu bersama dengan yang lain, Akashi-kun."

"...membebaskan, ya? Jadi, ini caramu memintaku untuk putus denganmu?"

Pelukan itu mengerat. Tetsuya mendongak. Wajahnya dengan wajah Seijuurou yang berjarak tiga centi meter. Kali ini ia yang tersenyum. "Halus atau kasar caraku barusan?"

"Halus, tapi cukup sadis," jawab Seijuurou jujur.

"Thanks."

Wajah Seijuurou mendekat setelah melihat ekspresi penuh ketegaran di wajah Tetsuya. Pemuda itu tersenyum lebar hingga matanya membentuk garis meski air mata mengalir di pipinya. Perlahan Seijuurou menempelkan bibirnya pada bibir sang mantan kekasih. Ia tak ingin ciuman ini jadi yang terakhir. Suatu saat, Seijuurou akan mendapatkannya lagi. Pasti.

Pihak lawan membalas ciuman tersebut seraya mencengkeram sweater biru tua yang dikenakan Seijuurou. Air mata masih mengalir saat ciuman itu berakhir. Tetsuya yang mengakhirinya meski Seijuurou sempat menolak. Tawa pelan terdengar karena ada sepasang lengan di sekitar pinggangnya yang menarik tubuhnya untuk tidak menjauh. Keningnya menempel pada kening Seijuurou. Jarak bibir mereka masih bisa dikategorikan 'bahaya'. Tapi Tetsuya suka dengan jarak ini. Mereka bisa kapan saja mencuri ciuman kalau salah satunya lengah.

"Hei. Ini tempat umum, loh," ucap Tetsuya mengingatkan.

"Aku tak peduli," balas Seijuurou cuek.

"Dasar. Aku ini mantanmu. Bagaimana kalau calonmu melihat, hm?"

"Calonku sudah melihat kok, Mantan Terindahku."

"Eh? Mana? Aku tak melihat Furihata Kouki di sekitar sini."

"Siapa bilang kalau calonku adalah Furihata?"

"Oh, ternyata ada lagi. Yang mana?"

"Di depanku. Di pelukanku. Sekarang sedang tersenyum aneh, tapi masih terlihat imut."

Cup. Tetsuya mencium Seijuurou sebelum mendorong tubuh itu agar pelukannya terlepas. Ia menahan tawa. Tanpa ia sadari, wajahnya tampat sedikit memerah. "Tipemu aneh sekali, Akashi-kun," balasnya.

Seijuurou tak bisa menyembunyikan seringaiannya. "Aku tidak punya list tipe apapun. Kalau kubilang 'suka' berarti suka. Kalau kubilang 'cinta' berarti benar-benar cinta. Aku ingin kau mempercayai kata-kataku ini, Kuroko Tetsuya."

"Baiklah. Waktuku sudah habis di sini." Tetsuya pura-pura tidak mendengar ucapan Seijuurou dan mulai berjalan menuju tempat teman-teman dan orang tuanya menunggu. Ia bisa merasakan sosok mantannya mengikuti di belakang.

Aah... mantan ya...

Aku punya satu mantan sekarang.

"Aaaaaargh! Aku takkan mau punya pacar tukang selingkuh lagi!" seru Tetsuya. Sengaja. Supaya mantannya bisa mendengar. Termasuk orang tua dan teman-temannya. Meski ia merasa sedang mendapat delikan mata dari seseorang, tapi Tetsuya tidak peduli. Dalam hati dirinya malah tertawa miris.

"Yap, Tetsu! Jangan mau pacaran sama tukang selingkuh!" balas Daiki.

Seijuurou mendelik pada mantan ace klub basket SMA Teikou. Daiki membalasnya dengan senyuman miring.

"Kalau begitu, Kurokocchi denganku saja-ssu! Ne, ne, ne? Aku tidak masalah kalau kita LDR-an~ Aku sudah bosan dengan Daikicchi yang terlalu sibuk dengan praktiknya-ssu~"

"Oi, Ryouta! Kau bercanda, kan!?"

"Wah, keputusanmu benar, Kise. Putus saja dengan Aomine. Tapi jangan pacari Kuroko Tetsuya."

Kali ini Daiki yang mendelik pada Seijuurou. Namun ditambah sepasang mata biru lainnya.

"Huh? Kenapa kau yang melarang? Kau 'kan hanya mantanku, Akashi-kun," ucap si baby blue tidak terima.

"Kau sudah ku-booking, Tetsuya. Terima saja nasibmu," balas Seijuurou dengan nada arogan.

"Kan sudah kubilang, aku tidak mau punya pacar tukang selingkuh lagi. Kau tuli, Akashi-sama?"

Jleb. Seijuurou tak berkutik, namun senyum geli tercetak jelas di wajah tampannya. Perasaan Seijuurou bercampur aduk setelah melihat senyum dan pandangan Tetsuya padanya masih sama seperti biasanya. Apa ini pertanda ia diberi kesempatan kedua? Entahlah. Ia takkan berharap banyak jika menyangkut sosok Kuroko Tetsuya. Tapi Seijuurou akan harus berusaha harapannya itu menjadi nyata. Bukan hanya angan belaka. Tapi benar-benar jadi kenyataan.

Pemuda itu tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Tetsuya. Namun ia akan mengikuti alur yang sudah dibuat. Jika Tetsuya memilih untuk mengakhiri hubungan ini, Seijuurou terima dengan ikhlas. Kesalahan ada padanya. Akashi Seijuurou bukanlah seseorang yang tak tahu diri, kok.

Tapi nyatanya, sekarang Tetsuya memberinya tanda positif. Mungkin benar mereka berpisah, putus, atau semacamnya. Namun Seijuurou yakin, Tetsuyanya masih mau menerima cintanya kelak. Saat Tetsuya benar-benar sudah sembuh dari rasa sakit hati, saat itulah Seijuurou akan menjemputnya. Sementara Seijuurou sendiri juga akan berbenah diri menjadi lebih baik lagi dari sebelumnya. Berusaha setia dengan satu orang meski ada banyak orang yang mampu melebihi Tetsuya, baik fisik dan rohani.

Karena sosok yang Akashi Seijuurou cintai adalah Kuroko Tetsuya dan hanya ada satu di dunia ini.

Sebuah pengumuman tentang keberangkatan pesawat menuju California terdengar. Tetsuya pamitan dengan semuanya untuk yang terakhir kali. Tak ada yang menangis lagi di antara mereka. Hanya ekspresi bahagia dan penuh harap kalau mereka akan bertemu lagi dengan Kuroko Tetsuya. Seijuurou ikut melambaikan tangan.

"Aku akan mendapatkanmu lagi. Tunggu aku, Tetsuya."

.

Tetsuya sudah duduk di kursinya. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya sejak ia masuk ke dalam badan pesawat. Matanya tertuju pada gedung bandara. Ia yakin semuanya belum pulang sebelum pesawatnya benar-benar take off.

"Are you Kuroko Tetsuya?"

Kegiatan Tetsuya terhenti. Ia menengok dan tampak pemuda yang sepertinya berumur lebih tua darinya berdiri dengan pandangan menganalisa. Perawakannya mengingatkan Tetsuya pada sahabatnya, Kise Ryouta. Apalagi rambutnya sama-sama pirang. Sadar kalau dirinya belum menjawab pertanyaannya, Tetsuya pun berucap dengan bahasa Inggris seadanya. Dalam hati berharap pemuda itu mengerti.

"Y-yes, I am. W-what can I do for you, Sir?"

"Ah, yappari. Tidak perlu bicara bahasa Inggris, Kuroko."

Alis Tetsuya mengernyit. Agak kesal karena ternyata pemuda pirang ini fasih bicara bahasa Jepang. Apa tadi ia bermaksud untuk mengetes, Tetsuya?

Tangan kanan pemuda itu terulur. "Perkenalkan. Namaku Nash Gold Jr. Direktur NEXT Jr Company."

Kedua mata Tetsuya hampir keluar dari tempatnya. Tubuhnya mundur secara reflek karena kaget. Direktur NEXT Jr Company. Direktur. Direktur.

DIREKTUR!?

"A-aa! S-saya Kuroko Tetsuya!" Tetsuya berdiri hingga terdengar bunyi 'thud' sambil menerima uluran tangan Nash. Dari ekspresinya, jelas sekali ia panik.

"Santai saja. Oh iya, Sekretarisku booking kursi di sebelahmu. Tidak keberatan, kan?"

"S-seharusnya saya yang bertanya seperti itu, Sir. Maaf karena saya duduk di sebelah Anda."

"Sudah kubilang santai saja. Aku yang memintanya, kok."

"Eh?"

~ THE END ~

:') Saya menyelesaikannya dalam sehari. Huft. Sudah dua tahun menghabiskan hari spesial dengan mengetik fanfic. But, I'm happy. I give my special time to my second world.

Awalnya mau angst, entah kenapa malah jadi ngelucu gitu. Gak jelas. Mari berharap yang terbaik buat Tecchan milih Sei-kun lagi atau Bang Nash~ #plak

Saya memang ada rencana bikin sequel atau semacamnya. Tapi saya gak yakin bisa membuatnya dalam waktu dekat. Saya mau nerusin ZPS, MnSB, dan sequel Akkr senpai-kouhai. :')

Yap, segini aja curcolnya. THANK YOU FOR READING THIS FANFIC! XD

Terima kasih untuk review-nya, Wako P, Guest, AkaKuro-nanodayo, Violet Meh, Vanilla Parfait, nimuix, Kutoka Mekuto, kkuro, Iftiyan Herliani253.

Terima kasih juga buat semua yang mereview, follow, dan favorite fanfic BBMS. #bow ^^

Maaf kalau ending-nya gak sesuai harapan kalian. Saya hanya mengikuti imajinasi saya yang keseringan belok kemana-mana, haha. :')

JA! BYE BYE!

CHAU!