I Know You Were Trouble

.

Characters belong to Masashi Kishimoto.

.

This Is SasuHina Story!

Alternative Universe! Out Of Character! Plot Rush! Unbetaed! Grammatical Errors! Typical Errors!

You've been warned!

.

.

.

Hinata mengintip dari balik tirai jendela kamar tidur, sisi kiri tubuhnya ia tumpukan pada bingkai jendela dengan kedua tangan memeluk tubuhnya sendiri. Malam semakin gelap dan dingin, tapi sepertinya daya tahan tubuh Hinata lebih kuat dari sebelumnya sehingga dirinya tak begitu menggigil sekarang.

Suasana malam itu terasa hidup meskipun dalam kegelapan. Kini, Hinata sendiri sudah cukup terbiasa dengan semua kelam yang telah merenggut hidupnya itu. Lautan hitam kini menimbun takdirnya, membawanya pada kemalangan yang terjawab atas nama Uchiha Sasuke.

Hinata menjauhkan dirinya dari jendela, kemudian mengusap pelan wajah lelahnya. Hari ini pekerjaannya di kafe cukup melelahkan. Siapa yang akan menyangka sebelumnya kalau hidup seorang Hyuuga Hinata akan sebegini menyulitkannya.

Tapi lagi semua memang memiliki harga. Dan harga yang harus Hinata bayar karena telah memilih Sasuke di atas segalanya ternyata senilai senilai dengan seluruh yang pernah ia miliki di hidupnya.

Hinata memutuskan untuk memakai sweater yang sebelumnya ia gantungkan di balik pintu kemudian berjalan keluar kamar dengan satu tangan menyentuh kepalanya yang berdenyut. Ia melangkah menuju dapur, mengambil sebutir aspirin dan segera menelannya dengan bantuan segelas air.

Hinata meringis melihat keadaan dapur yang begitu berantakan. Apartemen Sasuke sendiri luasnya tak jauh berbeda dengan luas ruang tengah rumahnya dulu, dan kebiasaan Sasuke yang sangat tidak bisa hidup dengan rapih membuat apartemen itu terasa lebih sesak. Setiap pagi Hinata akan meninggalkan apartemen dengan keadaan cukup rapih untuk kemudian ia temukan dalam keadaan berantakan saat ia kembali bekerja sore harinya. Seperti memang sudah di tentukan bahwa apapun yang Hinata buat memang ada untuk Sasuke hancurkan.

Tapi Hinata tidak mengeluh. Belum pernah mengeluh. Ia berpikir sejalan dengan waktu ia akan terbiasa dengan segalanya. Yang ia butuhkan hanya lah Sasuke yang belakangan malah terlihat masa bodoh. Membuat Hinata bertanya-tanya tinggal seberapa banyakkah cinta yang masih pemuda itu simpan untuknya.

Meskipun sederhana, apartemen Sasuke memiliki perabot yang cukup lengkap. Namun Hinata lebih dari sadar untuk mengetahui bahwa barang-barang itu kebanyakan dibeli dengan uang yang Sasuke dapatkan melalui cara yang tidak pantas. Itulah mengapa Hinata memutuskan untuk bekerja. Yang tak ia sangka adalah Sasuke malah bertingkah seperti memanfaatkannya karena itu.

Hinata meneguk air dalam gelas di genggamannya, sembari menelan cairan itu ia mengingat awal-awal dirinya pindah dan tinggal bersama Sasuke. Semuanya terasa menakjubkan. Saat itu apartemen kecil ini tak terasa semenyesakkan sekarang. Malah membuat jarak antara keduanya semakin dekat.

Tapi sekarang, Sasuke jarang tertidur di kamar yang sama dengannya. Oh, pemuda itu bahkan sering tak pulang semalaman. Entah itu menghabiskan waktu dengan teman-temannya, menginap di apartemen Suigetsu ataupun tidur di sembarang tempat karena terlalu mabuk. Memikirkan semua itu membuat Hinata mengeratkan pegangannya pada gelas.

Kemudian suara pintu yang terbuka kasar merenggut perhatiannya. Dengan segera Hinata berjalan ke ruang tengah untuk kemudian menemukan Sasuke bergumam dan terkekeh tak jelas seperti orang gila. Di sampingnya, Suigetsu menopang pemuda itu yang sepertinya memang sudah tak mengerti arti kata lurus.

Hinata menatap kekasihnya itu dan mendapati sebuah luka memanjang di pelipis kiri Sasuke. Ia menghela nafas, kekasihnya itu pasti terlibat perkelahian lagi.

"Si brengsek itu benar-benar tolol!" Sasuke tertawa-tawa sambil menepuk dada Suigetsu.

Suigetsu memutar bola matanya dan masih mencoba menahan Sasuke yang sebenarnya lebih berat darinya. Momen berikutnya, ia menyadari keberadaan Hinata disana.

"Oh, hey... Hinata," sapanya dengan senyum kikuk, dari wajahnya Hinata dapat melihat pemuda itu juga habis mengkonsumsi alkohol, namun tidak sampai dikuasai seperti Sasuke. "Dia—"

"Halooo, Sayang!" Sasuke berseru memotong perkataan Suigetsu, mencoba melepaskan diri dari temannya itu dan bergerak ke arah Hinata.

"Hentikan, Sasuke!" desis Suigetsu, ia menarik kembali lengan Sasuke dengan mudah dan menahannya agar tetap diam. "Dia mabuk," lanjut Suigetsu kepada Hinata.

"Bisa kulihat itu," respon Hinata tajam.

"Aku tidak mabuk," Sasuke mendorong wajah Suigetsu menjauh dan kembali melepaskan diri, kali ini ia berhasil meraih Hinata. Dilingkarkannya lengan kekar itu di pinggang sang gadis, keningnya pun ia jatuhkan pada bahu Hinata.

Aroma alkohol yang menyerang indra penciuman Hinata benar-benar selalu menganggunya. Ia tak pernah terbiasa meski sudah beberapa kali hal ini terjadi. Ia mencoba menjauhkan tubuh kekasihnya, namun terhenti saat Sasuke memeluk erat lengannya.

"Aku tidak mabuk, Hinata," Sasuke merengek, tangannya terangkat untuk menangkup pipi Hinata kemudia mulai menciumi area rahang gadis itu.

Suigetsu yang masih berdiri di sana berdeham. Tangannya dengan kikuk mengusap tengkuknya sendiri.

"Hentikan, Sasuke!" Hinata masih mencoba menjauh untuk meminimalisir bau alkohol yang seakan mencekik tenggorokannya.

"Kenapa? Tidakkah kau ingin kusentuh malam ini, Sayang?" Sasuke masih menciumi permukaan kulit wajah Hinata ringan.

"Kurasa aku akan pulang sekarang," gumam Suigetsu sebelum berbalik.

"Tidak perlu, Sui," Sasuke tergelak, satu tangannya melingkar di pinggang Hinata sedang tangan lain menelusup ke dalam kaus gadis itu, membelai ringan permukaan kulit pinggangnya. "Kau bisa duduk manis di sana sambil melihatku membuatnya meneriakkan namaku," Sasuke mengatakan itu tanpa melirik Suigetsu sedikitpun, ia malah menundukkan kepalanya untuk menjilat kecil telinga Hinata.

Hinata menghela nafas lelas, matanya terpejam. Ini bukan pertama kalinya Sasuke memperlakukannya seperti ini di hadapan temannya. "Kau bisa pulang sekarang, Sui," gumam Hinata yang kemudian direspon anggukan oleh Suigetsu.

Setelah menarik diri dari Sasuke, Hinata menutup pintu dan berjalan kembali ke dapur untuk melakukan niat awalnya merapikan kekacauan disana.

"Sayang," panggil Sasuke, satu tangan menarik pelan lengan Hinata. Hinata merespon dengan menarik kasar tangannya sendiri, menghindari sentuhan Sasuke kemudian menatap sang pemuda dengan tajam. "Apa masalahmu?" nada yang Sasuke gunakan mulai kasar, tak terima dengan penolakan sang gadis.

"Kau mabuk, Sasuke," jawab Hinata tajam. "Pergilah tidur," ia kembali bergerak ke dapur.

"Wow... apa-apaan sikapmu itu?" cerca Sasuke.

Hinata berhenti dan membalik tubuhnya hingga berhadapan dengan Sasuke. "Sikapku? Kau seharusnya mengurus sikapmu sendiri terlebih dahulu sebelum mengomentari sikapku!" nada bicara Hinata meninggi.

"Aku?" Sasuke menunjuk dadanya sendiri. "Apa yang salah denganku?"

"Oh, aku perlu seharian penuh untuk menyebutkan semua yang salah tentangmu!" Hinata baru akan melangkan menjauh dari Sasuke lagi sebelum lelakinya itu menarik lengan atasnya dengan tenaga yang lebih besar, memaksa Hinata agar tak berpaling darinya.

"Kau bermasalah dengan sikapku sekarang? Bukannya itu semua yang membuatmu jatuh cinta padaku?"

"Benar sekali. Aku pernah jatuh cinta pada kelakuanmu itu... tapi tidak lagi," jawab Hinata rendah namun cukup membuat mata sayu Sasuke yang tengah mabuk itu melebar terkejut. "Tinggalkan aku sendiri, Sasuke," pintanya.

"Kau memintaku meninggalkanmu?" kepalannya meremas sebagian kerah baju Hinata sebelum mendorong gadis itu ke dinding. Hinata merasa pening mendadak karena tubrukan antara punggungnya dan dinding. "Kalau kau lupa, Hinata, kuingatkan bahwa kau tinggal di rumahku sekarang!"

"Memang," balas Hinata. "Tapi akulah yang memenuhi semua kebutuhan di rumah ini!"

Sasuke melepas cengkramannya di kerah Hinata hanya untuk kemudian menampar pipi sang kekasih. "Tapi aku selalu memberimu kepuasan, bukan?"

Tubuh Hinata melemas, kalimat tadi lebih memukulnya daripada tamparan yang baru ia terima. Kata-kata Sasuke terdengar begitu menghinanya. "A-apa?"

"Aku menyetubuhimu sesuai dengan apa yang kau inginkan, bukan? Itu artinya kita impas," Sasuke menyeringai tajam.

"Cukup, Sasuke! Persetan denganmu! Aku tidak peduli!" Hinata mendorong Sasuke kasar.

"Dengar aku," Sasuke membalas dengan mendorong balik Hinata hingga tubuh gadis itu mendarat di atas sofa. "Kau tidak berguna! Tidak ada yang menginginkanmu!"serunya sambil mengambil posisi duduk agak menindih perut Hinata.

"Sasuke," panggilan lirih itu muncul bersamaan dengan satu butir air mata yang lolos dari mata kirinya. "Lepaskan aku, kumohon."

"Diam kau, jalang!"

Sasuke menundukkan wajahnya dan menyerang bibir Hinata dengan ciuman kasar. Lidahnya memaksa masuk ke dalam rongga mulut gadis itu. Tak terima, Hinata mencoba mendorong dada Sasuke menjauh, namun usahanya berhenti di tengah jalan karena Sasuke mencekal tangannya dan menahannya di atas kepala.

Hampir setiap waktu, Hinata menyerah dengan apa yang Sasuke lakukan pada dirinya. Sasuke akan selalu memaksa, tidak ada lagi bercinta. Hanya beberapa momen ketika Sasuke lepas dari pengaruh alkohol lah mereka benar-benar bercinta. Dan untuk alasan itulah yang membuat Hinata bertahan, bahwa dalam kesadaran, Sasuke masih mencintainya.

"Sasuke," Hinata terengah membutuhkan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya sehingga ia nekat menggigit bibir Sasuke agar pemuda itu melepaskan bibirnya.

Aksi Hinata tadi ternyata membuatnya kembali dihadiahi sebuah tamparan, meski yang ini tak sekencang tadi.

"Lakukan itu lagi dan aku tidak akan segan lagi padamu!" geram Sasuke sebelum kembali memaksa ciumannya kepada Hinata.

Saat itu Hinata dapat merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya. Mau tak mau pikirannya kembali mengingat saat pertama mereka bercinta setelah tinggal bersama. Bagaimana Sasuke menyentuhnya, membisikkannya kata cinta. Bagaimana mata hitam itu menatapnya lembut saat mereka meraih puncak masing-masing.

Sasuke adalah lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk pertama kalinya. Lelaki yang membuatnya bahagia hanya dengan berjalan bersama tanpa arah di jalanan kota. Lelaki yang ia peluk dan memeluknya erat dimanapun mereka berada.

Tapi semua sensasi itu serasa mati sekarang. Hinata mencintai Sasuke, masih mencintainya. Namun ia tak yakin jika Sasuke masih memiliki perasaan cinta yang sama. Itupun jika Sasuke memang benar pernah mencintainya.

"Kumohon, Sasuke," Hinata terisak saat Sasuke membalik tubuhnya, membuatnya berbaring tengkurap membelakangi Sasuke.

Dengan gerakan cepat, Sasuke menarik lepas celana sang gadis kemudian kembali menindih punggungnya. Tangannya bekerja menaikkan sweater Hinata tanpa melepasnya kemudian menghujani punggung mulus itu dengan kecupan.

Hinata menggigit bibirnya untuk menahan erangan juga isakan yang menjadi saat ia merasakan jari Sasuke di bagian intimnya. Tangannya mencengkeram permukaan sofa. Ia menyerah untuk melawan.

"Aku mencintaimu, Sasuke," bisik Hinata parau. Dan untuk beberapa saat, Sasuke terdiam, seakan waktu berjalan melambat.

Sasuke lebih mencondongkan dirinya ke arah Hinata dan mengangkat kepala gadis itu yang sebelumnya gadis itu benamkan di sofa. Sasuke membuat Hinata menengok ke samping hanya untuk memberikan ciuman lain yang penuh gairah.

"Jangan lagi-lagi membuatku marah, Hinata," desis Sasuke di sela ciumannya.

Kemudian semuanya berlanjut dengan aktivitas yang membuat desahan dan erangan mengisi mengusik sunyi ruangan. Sasuke sepenuhnya memegang kendali malam itu.

Tubuh Hinata tak melawan, namun air matanya tak kunjung hilang memikirkan semuanya. Sasuke belum kehilangan apapun dalam hubungan ini. Hinata di sisi lain, telah kehilangan kenyamanan rumah yang menaunginya sejak kecil, masa depannya dan segalanya karena jatuh cinta pada pemuda ini.

Hinata merasa kini semuanya terlalu berat untuk ia jalani. Namun ia sendiri tak tahu apakah semuanya akan baik-baik saja jika ia memutuskan untuk meninggalkan Sasuke. Karena bagaimanapun, Hinata tetap Hinata yang mencintai pemuda itu.

Namun tetap saja, Hinata tidak bisa jika harus terus seperti ini. Ia tak ingin jika Sasuke hanya memanfaatkannya.

Cukup lama hingga akhirnya Sasuke menarik diri melepaskan penyatuan mereka. Ia memeluk tubuh Hinata dari belakang kemudian bergerak mencari posisi yang cukup nyaman untuk bereka berdua di sofa yang sempit itu. Setelah cukup puas dengan posisinya, tak ada lagi yang Sasuke katakan. Ia hanya mendekap Hinata erat hingga perlahan terlelap.

Hinata merasakan nafas Sasuke yang teratur di tengkuknya. Hingga kini, ia masih menemukan bahwa tertidur di pelukan pemuda itu memberinya kenyamanan.

Pikirannya kemudian terbang pada masa saat Sasuke begitu memujanya, mengikutinya kemanapun ia pergi. Sikap posesif Sasuke sempat membuatnya takut untuk sekedar berbicara dengan lelaki lain. Sasuke dengan jelas membuat semuanya paham bahwa Hinata hanya miliknya. Sayangnya, Sasuke tak pernah menunjukkan bahwa dirinya hanya milik Hinata.

..

...

..

Dengan segala lelah dan nyeri yang dirasakannya, mata Hinata terbuka perlahan melawan sinar matahari yang menyelip masuk dari balik tirai. Setelah cukup sadar, matanya berkeliling. Ia mendapati dirinya masih di sofa, namun kini dengan selimut tebal menutupi tubuhnya.

Hinata kembali memejamkan matanya saat mengingat kejadian malam tadi. Ia menghela nafas lelah.

'Pergilah bersamanya dan kau akan menyesal.'

Ia ingat jelas itulah yang dikatakan sang ayah. Dan benar saja, kini Hinata menyesal karena telah membuang semua yang ia miliki di hidupnya untuk Sasuke. Ia menyesal telah memilih Sasuke meski ia mencintai pemuda itu.

Hinata mengangkat lengannya untuk menutupi matanya yang sebenarnya sudah tertutup. Meruntut lagi hari-harinya bersama Sasuke selama lebih dari dua bulan ini. Mereka berbagi tujuan dan gaya hidup yang sama sekali berbeda, namun saat itu masih terasa menyenangkan. Tak seperti sekarang.

"Hinata?" suara Sasuke terdengar rendah.

Hinata mencoba mendudukkan dirinya kemudian hanya diam, kepalanya tertunduk saat Sasuke mulai melangkah dari ambang pintu kamar mandi menuju ruang tengah. Untuk beberapa saat tak ada yang memecah keheningan.

"Maafkan aku," ujar Sasuke, masih berdiri di sisi sofa.

"Simpan maafmu, Sasuke," Hinata berdiri, sedikit meringis saat ia merasakan nyeri di bagian bawah tubuhnya.

"Sayang," panggil Sasuke lagi saat Hinata berjalan pelan melewatinya, menuju kamar tidur.

"Aku tidak bisa lagi, Sasuke," Hinata membalik tubuh menghadap Sasuke.

"Aku tahu. Semalam itu aku mabuk, aku hanya... sumpah itu tidak akan terjadi lagi," jelas Sasuke rendah dan serius.

"Tidak. Pasti akan terulang. Setiap kau menjanjikan sesuatu, kau tidak pernah menepatinya!" Hinata membalas dengan nada yang lebih tinggi, matanya terasa memanas. Kalimat Hinata itu jelas membuat Sasuke mematung tak menyangka. Mata mereka terus terhubung hingga Hinata kembali bersuara. "Aku ingin pulang, Sasuke," sambung Hinata lebih rendah.

"Apa?" kening Sasuke berkerut, membuat kedua alisnya nyaris tertaut.

"Kau dan aku... kita tidak bisa bersama," Hinata meraa seluruh pasokan oksigen di paru-parunya keluar saat ia mengatakan kalimat itu, membuat dadanya terasa sesak. Berkedip satu kali, Hinata mencoba menelan kembali air mata yang mulai menggenangi korneanya. "Aku tidak menyangka hidup denganmu akan sangat menyakitkan seperti ini."

"Apa yang kau bicarakan, Hinata?!" oniks Sasuke menajam, kepalannya mengerat. "Kau jatuh cinta padaku dengan mengetahui secara jelas siapa aku!"

"Memang! Tapi aku tidak bisa jika terus seperti ini, Sasuke!" Hinata mencoba menyamai nada tinggi yang Sasuke lemparkan. "Semuanya semakin parah. Kau bahkan memaksaku semalam!"

"Jadi ini tentang semalam? Aku sudah bilang aku minta maaf, Hinata."

"Ini bukan hanya tentang itu, Sasuke. Kau banyak melakukan hal yang lebih tabu. Kau tidak peduli padaku!"

"Aku peduli padam—"

"Tidak," Hinata menyela pembelaan Sasuke. "Karena jika kau peduli padaku, kau akan berhenti melakukan semua hal buruk yang biasa kau lakukan. Apa kau tidak pernah memikirkan betapa cemasnya aku menunggumu di rumah? Menebak apakah kau akan pulang dengan selamat atau tidak? Tapi apa? Saatnya kau pulang, kau tidak pernah berbicara atau berlaku dengan baik padaku!"

"Itu karena aku mabuk hampir setiap pulang, Hinata," respon Sasuke rendah.

"Itulah masalahnya!" Hinata benar-benar berteriak kini, tak peduli jika amarah Sasuke akan tersulut kembali. "Aku benar-benar tak menyangka kau seorang pemabuk berat. Jika aku tahu dari awal, aku mungkin akan berpikir ulang untuk tinggal bersamamu!"

Wajah Sasuke terlihat layu, memucat saat ia memandang Hinata. "Kau bercanda, bukan?" desisnya.

"Tidak. Kita berakhir," ujar Hinata rendah namun jelas.

"Kau memutuskanku setelah semua yang kita lalui?!"

"Sebelumnya aku hanya seorang remaja yang jatuh cinta pada lelaki pertama yang menunjukkanku sebagian kecil arti cinta. Aku tidak terlalu memikirkan apa yang lebih baik saat itu. Dan saat aku menyadari bahwa kau bukanlah hal baik untukku, aku sadar aku sudah terlalu jatuh padamu hingga titik dimana aku tidak dapat menolakmu. Hingga titik dimana aku melepaskan semuanya hanya untukmu," tatapan dan nada bicara Hinata melembut, namun Sasuke dapat melihat luka di ametis gadisnya itu. "Dan jika kau tidak bisa setidaknya mencoba sedikit saja berubah untukku. Artinya tidak ada gunanya lagi aku mencoba meyakinkan diriku sendiri dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja," final Hinata.

"Bagaimana bisa kau memintaku untuk berubah, Hinata? Inilah aku," respon Sasuke, nyaris terdengar seperti rintihan.

"Jika begitu, artinya kau harus melepasku," dengan itu Hinata kembali berbalik, melanjutkan langkahnya ke dalam kamar tidur meninggalkan Sasuke yang menjatuhkan dirinya kasar di atas sofa.

Hinata mengambil kopernya, mengumpukan semua barang miluknya dan mulai memasukkannya. Tak butuh waktu lama hingga semuanya selesai. Sebelum memutuskan untuk keluar, Hinata masuk ke kamar mandi, sekedar untuk membasuh wajahnya.

Saat keluar dari kamar dengan kopernya, Hinata melihat Sasuke yang berbaring dengan satu lengan menutupi matanya. Ia menarik nafas panjang, bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Haruskah ia berpamitan?

"Sasuke," panggilnya.

"Pergilah," Sasuke berdesis tanpa mengubah posisi tubuhnya.

Hinata menghela nafas sekali lagi sebelum keluar dari sana, tanpa kata.

..

...

..

"Kau tahu tidak?" Hinata mendadak bertanya saat mereka berjalan berdua dengan tangan saling menggenggam.

"Apa?" Sasuke melirik.

"Hari ini aku ulang tahun," Hinata tersenyum menahan kekehannya.

Langkah Sasuke berhenti secara otomatis. Ia menghadap pada kekasihnya kemudian berkedip dua kali mencerna informasi yang baru didengarnya itu. "Kau bercanda, kan?"

Hinata menggeleng, cengiran lebar yang manis menghiasi wajahnya. Sasuke berdecak sekali sebelum tiba-tiba mengangkat tubuh Hinata di depan dada dengan kedua tangannya. Hinata yang terkejut reflek mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke.

"Turunkan aku, Sasuke!"

"Kenapa kau tidak memberitahuku?" protes Sasuke.

"Baru saja kuberitahu. Sekarang turunkan aku!"

"Berapa usiamu sekarang? Tujuh belas?"

"Ya. Kalau kau? Berapa usiamu?" tanya Hinata balik.

"Kenapa menanyakannya. Aku tidak berulang tahun hari ini."

"Hanya ingin memastikan aku tidak sedang mengencani om-om pedofil," ledek Hinata yang kini tak lagi protes dengan posisinya yang masih dibopong oleh Sasuke.

Sasuke meutar bola matanya malas namun akhirnya menjawab. "Dua puluh dua. Sekarang kau yakin aku bukan om-om pedofil, bukan?" kalimat balasan Sasuke membuat keduanya tertawa kecil.

Sasuke kemudian menurunkan tubuh Hinata dan kembali membuatnya berdiri berhadapan dengannya. Satu tangannya ia letakkan di tengkuk Hinata, menariknya, membuat wajah keduanya begitu dekat.

"Selamat ulang tahun, Sayang," bisiknya sebelum mengecup bibir Hinata.

..

...

..

Hinata merasakan pergolakan batin yang luar biasa hebat saat menunggu pintu rumahnya terbuka. Dan ia hampir menggigit keras-keras lidahnya sendiri saat pintu akhirnya terbuka dan menampakkan sosok sang ayah.

"Ayah," bisiknya masih tertunduk.

Hinata sempat menduga sang ayah akan terkejut mendapati kepulangannya. Namun lelaki paruh baya itu terlihat tenang seperti biasa.

"Kau kembali lebih cepat dari yang ayah perkirakan," ujar Sang ayah.

Hinata menggigit bibir, kepalanya terasa berat hingga rasanya ia tak mampu menegakkan kepalanya. "Ayah... a-aku..."

"Ada yang kau butuhkan, Hinata?" tanya sang ayah sebelum ujung matanya mendapati koper di samping putrinya itu. "Ah," ia mengangguk mengerti akan situasinya.

"Ma-maaf, Ayah..." mata Hinata memanas, ia menelan salivanya sendiri yang terasa mencekat kerongkongannya. "Aku... harusnya aku mendengarkanmu."

"Ya, seharusnya begitu, Nak," sang ayah menghela nafas. "Kau sudah meninggalkannya?"

Hinata mengangguk pelan dan kemudian yang selanjutnya ia rasakan adalah tepukan juga elusan ringan di kepalanya. Air mata yang sedari tadi ia coba tahan seakan meledak tiba-tiba.

"Masuklah," ujar sang ayah kembali setelah menepuk pelan bahunya.

..

...

..

Sejak kembali ke rumah tiga minggu yang lalu, sang ayah bersikap biasa padanya. Tak pernah sekalipun ayahnya itu menyinggung apapun tentang Sasuke dalam pembicaraan mereka. Mereka memang jarang berbincang, momen dimana mereka saling bertukar katapun di dominasi dengan topik tentang kelanjutan sekolah Hinata.

"Kau tahu? Ino berhasil masuk sekolah desain di Prancis. Ku dengar Sakura juga diterima di sekolah kedokteran universitas nasional," buka sang ayah ketika mereka bersama membersihkan meja makan setelah selesai makan malam.

"Aku sudah dengar," gumam Hinata.

"Jangan cemas. Kau juga akan melanjutkan sekolahmu," kata ayah Hinata lagi. "Surat pengajuanmu yang kau kirim ke Inggris diterima."

Hinata berkedip dua kali mendengar informasi itu. Namun sebelum sempat bertanya, ayahnya kembali menambahkan.

"Surat balasannya ada di meja ayah. Ayah juga sudah mengurus visa-mu. Kau akan tinggal dengan Neji disana," lanjutnya sebelum keluar ruang makan. Hinata tersenyum kecil menatap punggung sang ayah. Sepenuhnya menyadari bahwa dibalik sikap apatis yang ditunjukkan lelaki paruh baya itu, ayahnya memang memiliki rasa sayang dan kepedulian yang luar biasa untuknya.

Hinata memang memutuskan untuk memulainya dari awal. Ia tak ingin tenggelam dalam rasa sesal dan kecewa. Karena itulah, beberapa hari setelah kembali, ia berusaha untuk kembali mengejar apa yang dulu sempat ia abaikan.

Suara bel tiba-tiba berbunyi, membuyarkannya dari lamunan. Ia bergegas menuju pintu.

"Biar aku yang buka, Ayah," seru Hinata dari ruang tengah, memberikan sinyal kepada sang ayah yang sudah berada di lantai atas agar tak perlu turun.

Hinata merasa setiap organ tubuhnya berhenti berfungsi ketika membuka pintu.

"Sasuke?" bisiknya.

"Aku tahu apa yang akan kau katakan," sela Sasuke, nada suaranya terdengar gelisah.

"Shh," Hinata menengok ke belakang, memastikan sang ayah tak berada di sekitar lantai bawah. "Apa yang kau lakukan disini?" tanya Hinata dengan suara rendah, pintunya ia tutup separuh di belakang tubuhnya.

"Siapa itu, Hinata?" suara ayahnya terdengar dari arah lantai atas.

"Tukang pos, Yah," serunya balik. "Kenapa?" tanyanya lagi kepada Sasuke.

"Aku tidak bisa jika tanpamu, Hinata," lirihnya.

"Kau harus mulai membiasakan dirimu untuk itu," balas Hinata lembut.

"Hinata, aku... aku minta maaf. Sungguh," ujarnya dengan nada putus asa.

"Bukan saatnya lagi untuk saling meminta maaf atau memaafkan, Sasuke."

"Dengar," Sasuke menghela nafas. "Aku tidak akan memintamu untuk kembali tinggal bersamaku, hanya saja... ayo kita mulai semuanya dari awal," pinta Sasuke, sungguh ini pertama kalinya Hinata melihat sisi yang satu ini dari pemuda itu.

"Aku tidak bisa, aku harus pergi."

"Pergi?"

"Aku akan melanjutkan sekolahku di Inggris, Sasuke."

"Apa?" warna di wajah Sasuke seketika memudar.

Hinata menatap Sasuke dalam. "Aku pernah sekali kehilangan masa depanku, Sasuke. Kukira kau adalah masa depanku, tapi ternyata..." Hinata menggeleng.

"Baiklah, kalau begitu pergilah. Tapi kau akan kembali, bukan?"

"Entahlah," bisik Hinata.

Sasuke menyapukan jemarinya ke surainya sendiri, ia mengalihkan pandangannya dari Hinata untuk beberapa saat kemudian menggigit pelan bibirnya sendiri. "Aku..." perasaan ragu kental dalam suaranya saat ia membuka mulu. "Aku mendapat pekerjaan hari ini," gumamnya namun masih terdengar oleh Hinata. "Aku... aku hanya ingin kau mengetahuinya."

Hinaa berkedip, meminta penjelasan lebih lanjut.

"Kau ingin aku berubah, aku akan mencobanya," ujar Sasuke, kembali menghubungkan oniksnya pada ametis Hinata. "Dan jika nantinya kau kembali... ketahuilah bahwa aku menunggumu."

"Sasuke."

Sasuke menghela nafasnya, tangannya ia tumpukan di kedua pinggang dan kepalanya tertunduk. "Jadi... ini perpisahan, huh?"

Hinata diam. Sasuke yang menyadari bahwa Hinata tak akan menjawabnya memutuskan untuk mengambil sau langkah mendekat. Tangan kanannya ia angkat untuk menyentuh wajah Hinata sebelum ia daratkan satu kecupan ringan yang cukup lama di kening gadis itu.

"Apa ini janji yang akan kau tepati?" tanya Hinata setelah Sasuke melepaskan kecupannya.

Sasuke mengangguk, pelan namun yakin. "Bagunlah masa depanmu seperti yang selama ini kau impikan. Lalu jangan lupa kembali untuk mengabulkan impianku, oke? Aku akan mencoba untuk menjadi lelaki yang lebih baik," Sasuke tersenyum. Senyum yang begitu Hinata sukai, senyum yang tak akan Hinata lupakan apapun yang terjadi.

"Hinata," suara ayahnya kembali terdengar dari dalam.

"Iya, Yah, sebentar," serunya balik sebelum menghadap Sasuke lagi. "Sampai jumpa, Sasuke," ujarnya, membalas senyum Sasuke.

"Sampai jumpa, Hinata," Sasuke mundur menjauh dengan seringai kecil, ia berhenti setelah empat langkah menjauh. "Terima kasih telah memperlihatkan bajingan ini masa depan untuk digapai. Aku mungkin bukan masa depanmu, Hinata. Tapi kau selalu menjadi masa depanku," jelasnya dengan suara lembut. "Mungkin... selama ini aku mencintaimu dengan cara yang salah. Dan saat kau kembali nanti, jika kau izinkan aku akan memperbaikinya. Aku akan mencoba mencintaimu dengan cara yang benar," Sasuke tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah Hinata sebelum melompati pagar rumah itu.

Hinata menggelengkan kepalanya, senyuman masih terpatri manis di wajahnya.

Ya, mungkin nanti, Sasuke akan mencintainya dengan kesungguhan. Dan mungkin juga takdir Hinata akan selamanya Sasuke apapun yang terjadi.

Mungkin saja.

Tapi apapun kemungkinan itu, kali ini Hinata akan memilih jalan yang benar untuk menuntunnya menuju takdirnya.

-END-

...

..

.

Yap. That's it.
Ngga tau deh ini menurut readers ending bahagia bukan, soalnya menurut saya bahagia wkwk.

Yang tanya un wattpad saya, sama kok 'skyrans'... silahkan dicolek-colek hhaha, oh iya manggilnya ngga usah thor deh, ren aja atau ran atau sky atau skyran nya juga gapapa, lets make it cool aja :3

Makasih yoow udah sudi nengok fic saya ini *boww

Ehmm, fyi, karena schedule saya yang normal lagi, mungkin saya ngga bakal update sesering minggu lalu hhehe, mungkin sekitar once a week? Entahlah...

Byee, and see ya :3