"mommy, apa kita langsung masuk?"

"iya, baby. Memangnya kenapa?"

"ti-tidak, mommy. Aku,,, aku gugup. Boleh aku ke toilet sebentar?"

"kkk~ arraseo, baby. Pergilah ke toilet. Tapi hati-hati make up mu nanti luntur. Kau bawa bedak dan kosmetik lainnya, kan?"

"ne, mommy! Ada di dompet ini." Jawab baek sembari menyodorkan dompet sedangnya berwarna putih blaster merah. Setelahnya, ia melenggang pergi ke toilet.

.

.

"eoh? Park saem?!" cicit baekhyun saat tiba-tiba ia berpapasan dengan gurunya saat keluar dari toilet.

"byun baekhyun? Kau,,, ada urusan apa di tempat seperti ini? Dengan pakaian seperti itu?" kejut park chanyeol.

"ah. Aku, ada acara keluarga. Dan park saem?"

"aku mau bertemu dengan keluarga tunanganku." Jawab chanyeol asal sembari menatap dalam mata baekhyun. Baekhyun yang mulai risih terus dipandangi mulai berdehem.

"baiklah, saem. Aku, duluan."

"ne."

Sesaat setelah kepergian baekhyun, chanyeol menyeringai tipis.

"surpise, byun baekhyun. Ani, park baekhyun"


Hellaw hellaw.. :'v

thanks to: cici fu, Just05, ChanHunBaek, BabyCoffee99, elfiliebe, leeminoznurhayati, Putri397, exindira, kim eun bom, misslah, caca02, yousee, Chanbaekhunlove, xiuxiumin, dan reviewer lainnya! siders juga, terimakasih, ne!

Gomapta, neh~ author saaayyyaaanng kalian! *kecup basah atu-atu*

typo bersamamu, beibih~

cerita hanya fiksi belaka. Jika terjadi kesamaan alur, pemain, hanya ketidaksengajaan. Cerita murni dari otak gaje author. -_-

story by carlachoi02.

Happy reading~

.

.

Chapter 2: I marry you.

.

"park saem?" cicitnya

Terkejut? Bukan main, malah.

Kini baekhyun mulai berfikir keras.

"park? Keluarga park,,, park chanyeol,,, jadi,,, PARK SAEM?!"

Ia mulai melotot kaget.

"annyeong, byun haksaeng." sapa chanyeol pada baekhyun setelah menyapa kedua orang tua baekhyun. Melihat respon baekhyun yang hanya diam, chanyeol yang tak tahan langsung tersenyum geli.

"kalian sudah saling kenal?" tanya tuan park.

"kkk~ ne, appa. Dia siswaku. Baru pindah kemarin."

"eoh? Jadi, kau gurunya baekhyun?" kini mommy baekhyun.

"ne, eomonim."

"berapa usiamu, chan?" ayah baek.

"22, abeonim."

"wah masih muda tapi sudah berkarir banyak"

"kamsahamnida."

Jika mereka sedari tadi terus bercakap, apalah daya baekhyun. Kini ia hanya duduk terdiam menatap gelas winenya dengan tatapan kosong. Sungguh, ia masih syok. Gurunya,,, menjadi tunangannya sendiri.

"ehm. Eomma, appa, eomonim, abeonim. Aku ingin mengajak baekhyun jalan2 mengelilingi seoul. Kudengar, ia baru datang dari kanada. Jadi, bolehkah aku dan baekhyun meninggalkan kalian berbicara tentang rencana pernikahan kami?" ujar chanyeol.

"eoh? Tentu, chan. Kenapa tidak? Lagipula dia 50% menjadi milikmu, chan." Ujar daddy baekhyun.

"baiklah. Ayo, baek. kta jalan-jalan."

.

.

.

Kini chanyeol tengah mengajak baekhyun mengelilingi kota seoul dengan mengendarai mobil sport hitamnya. Kap mobil sengaja dibuka agr mereka dapat menghirup udara malam yang menenangkan fikiran.

Tiba-tiba, chanyeol menghentikan mobilnya tepat didepan sebuah danau dibawah jembatan gantung besar.

"huuuhh… kita berhenti disini dulu, oke? Aku lelah."

"…"

"aku sengaja mengajakmu pergi. Kelihatannya kau tak ada minat sama sekali pada pembicaraan tadi. maklum. Mereka sudah tua."

"aku bukan tidak ada minat."

"akhirnya kau buka suara juga. Jadi, kenapa? Karena apa?"

"aku,,, aku masih shock saja."

"shock?"

"iya… orang yang kupanggil saem, kini akan menjadi calon suamiku. Aigoo~." Ujar baekhyun dengan nada gugup.

"memangnya kenapa?"

"saem, apakah kau tak kaget?"

"tidak, baek. justru akulah yang memilihmu sebagai istriku."

"n-ne?"

Chanyeol terkekeh geli dan sedikit mengacak surai lembut baekhyun.

"iya. Aku memilihmu. Kau tau? Sebenarnya aku akan dijodohkan dnegan byun luhan. Kakakmu yang nakal itu. Tapi, aku kurang suka. Lalu kudengar dari temanku, kau sangat ramah. Jadi, aku lebih memilihmu."

"teman? Siapa?"

"wu yi fan? Kris? Kau kenal dia?"

Baekhyun nampak berfikir.

"ah! Kris oppa?! Iya, aku kenal. Ia sepupuku. Yang paling dekat denganku." Ujar baekhyun sedikit memekik dengan ekspresi berbinarnya.

Untuk beberapa detik, chanyeol terdiam. Ia tengah serius memandangi wajah polos baekhyun yang mulai tertidur. Amat polos.


"DUARRR!"

Baekhyun tersentak kaget bertubi-tubi. Ia terus memandang lapangan basket outdoor lewat jendela kelasnya, tetapi tiba-tiba seorang yeoja mengagetkannya begitu saja.

"lulu eonni! Kau mengagetkanku!" cicit baekhyun sembari memegang dadanya.

"kkk~ mian, baby. Habisnya kau terus saja melamun disini. Jadi, aku langsung masuk kedalam kelasmu dan mengagetkanmu. Jadi,,, apa yang membuatmu terus melamun dari seminggu yang lalu, eoh?" selidik luhan dengan ekspresi seorang detektif.

Baekhyun hanya terkikik geli dan kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela. Tapi tawanya luntur sesaat setelah melihat sesosok namja yang berdiri dibalkon sebelah kelasnya dan menghadap langsung kejendela kelasnya. Park chanyeol. Oh, itu park saem.

"baby? Gwenchana?" tanya luhan dengan nada khawatir.

"eoh? N-ne. gwenchana, eonni." Ujar baek lembut sembari tersenyum manis.

"byun baekhyun! Kau sudah melaporkan tugas kelompok kita?" tanya sehun dengan sedikit memekik.

"ne, sehun? Eoh? Bukankah kyungie yang bertugas melaporkannya?" ujar baekhyun lembut dengan raut berfikir.

"aigo, baekki. Kyungsoo sakit semenjak 3 hari yang lalu. Jadi sekarang, bagaimana kalau kita yang melaporkannya langsung pada park saem agar kita cepat dapat nilai?" jelas sehun dengan nada ditegas-tegaskan karena sedikit gemas dengan kepolosan baekhyun.

.

.

.

"jadi, dimana satu anggota lain?" selidik park saem yang kini tengah memeriksa map yang berisi tugas kelompok baekhyun.

"ne, saem? Ah, do kyungsoo? Dia sakit, saem. Jadi, kami yang melapor langsung." Ujar sehun yang duduk disamping kiri baekhyun dan merangkul pundak kanan baekhyun lembut.

Chanyeol sedikit mengerutkan alisnya melihat apa yang dilakukan sehun. Bagaimanapun, baekhyun adalah tunangannya yang sebentar lagi akan menjadi istri sah miliknya.

"j-jadi, saem. Ka-kami sudah me-melaporkan tugas kami, dan,,, artinya tugas kami sudah selesai. Bi-bisakah kami keluar, s-saem?" tanya baekhyun cukup lirih dengan terbata-bata. Chanyeol sedikit mengangkat alis kanannya.

"yap. Keluarlah. Tugas kalian sudah selesai."

Dan sehun baekhyun pun keluar dari ruangan itu. Sehun menggandeng pinggang baekhyun saat berjalan menuju pintu. Dan hal itu membuat chanyeol sedikit jengah. Cemburu,,, mungkin?

.

.

.

.

"jha, ini ramen mu, baekki." Ujar sehun sembari menyodorkan salah satu cup ramen panas tepat dimeja makan didepan baek. sehun langsung mendudukkan dirinya disamping kanan baekhyun, bersiap menyantap ramennya.

Baekhyun yang tengah bersiap makan, tiba-tiba menangkap sosok namja yang kini tengah membawa nampan makanannya dan mencari tempat duduk. Reflek, baekhyun langsung meletakkan sumpitnya dan menundukkan kepalanya.

Sehun yang melihat perilaku menggemaskan baekhyun, kini tertawa geli. Sehun mengedarkan pandangannya dan menemukan sosok park saem.

"tenanglah, baek. se arogannya park saem, ia tak akan pernah memakan siswanya sendiri. Kkk~" kekeh sehun sembari mengacak rambut baekhyun gemas.

"saem! Kemarila!, ayo duduk dengan kami!" pekik sehun langsung pada park saem.

Oh, sial. Kini park saem memandangi mereka. Kini,,, kini,,, oh…. Kini ia bahkan berjalan mendekati meja mereka. Kini,,, ia duduk tepat dihadapan baekhyun. Sudah dipastikan, kini jantung baekhyun tak dapat berfungsi lagi.

"saem. Kenapa kau ketus sekali? Aigo~ lihatlah wajahmu… datar sekali. Tersenyumlah, saem. Wajahmu tampan. Kalau kau rajin senyum, aku yakin pasti gadis2 yang mengantri untuk dipinang olehmu tambah banyak…" ujar sehun antusias. Chanyeol hanya terkekeh simpul. Dan baekhyun? Kini ia jadi tidak enak dan menyenggol lengan kiri sehun.

Mereka makan dengan hening. Oh, tak hening. Sehun sedaritadi terus mengurusi baekhyun. Mengingatkannya agar makan tak terlalu menunduk. Dan, oh, sudahlah.

"saem, kapan kau menikah?"

"uhhukk uhhukk"

"baek, gwenchana?"

Tidak, hun. Dia tak baik-baik saja. Salahkan mulutmu yang asal bertanya itu. Chanyeol? Ia hanya tersentak sedikit, tak terlalu kaget seperti baekhyun yang sampai tersedak. Kini chanyeol beranjak menuju kulkas kantin dan mengambil susu vanilla dingin sebotol dan memberikannya pada baek.

"kamsahamnida, songsaengnim." Lirih baekhyun setelah meminum susu dingin itu.

"aigoo~, baekki. Aku kan bertanya pada saem, kenapa malah kau yang tersedak?" cicit sehun sembari mengelus punggung baek.

"bukan begitu! Ak-aku,,, aku hanya terkejut… bagaimanapun, dia adalah guru kita. Ta-tapi, kau berani sekali bertanya tentang hal-hal privasi!" elak baek sembari sedikit memekik imut. Sehun hanya terkekeh.

"segera."

"hm?"

"kau bertanya, kapan aku menikah, bukan? Segera."

Sehun dan baekhyun terdiam. Oh lain. Sehun terdiam dengan pengakuan singkat park saem. Sedangkan baekhyun terdiam karena terlalu gugup.

"jadi, kini boleh aku mengajukan pertanyaan?" ujar park saem mengalihkan suasana. Sehun langsung mengangguk cepat.

"yang kutau, baekhyun baru pindah seminggu. Tapi, kalian langsung jadi sedekat ini. Bagaimana bisa?" selidik chanyeol.

"kkk~ karena, dia pendiam dan lugu, saem. Aku suka dengan yeoja seperti dia. Mudah diatur. Lalu, dia juga cocok denganku. Jadi,, you know what I mean, saem.." jawab sehun enteng sembari menyeringai.

Oh, shit damn! Kini sehun bahkan merangkul pinggang ramping baekhyun dan menariknya mendekat kearahnya. Chanyeol ingin langsung menendang sehun jika bisa. Tapi,, oh ini area sekolah!

"aku takut."

"takut apa?"

"bagaimana kalau pihak sekolah tau?"

"tenang. Kalau kau pandai menjaga rahasia, aku yakin mereka tak akan tau."

"tapi tetap saja_"

"baek?"

"ne, park chanyeol?"

"jika kita menggunakan tanda pengenal sekolah, kita akan berusaha seolah tak saling kenal."

"janji?"

"yap, janji."

"jadi, tanggal pernikahan sudah ditentukan."

"yap, seminggu lagi."

"aku sudah membooking gedungnya, tuan byun. Aku akan mengunakan gedung di hotel milikku."

"dan istriku akan merancang gaunnya, tuan park. Aku akan mengurus cincinnya. Perusahaanku akan membuatnya. Soal desain cincin, chanyeol sudah memberikannya. Emas putih dan buahnya adalah berlian jenis langka."

"yap, tuan byun. Istriku yang akan mengurusi soal dekorasi ruangan pernikahan. Soal chef, aku yang akan mengurusnya."

Oh tuhan, pembicaraan ini lagi. Baekhyun kini hanya bisa terdiam dan mencuri-curi pandang pada chanyeol yang duduk tepat dihadapannya, hanya dibatasi oleh meja makan panjang.

"oh, tunggu, yeobo. Jadi, chanyeol kita akan menikah dengan baekhyun, kan? Kalau begitu, bukankah mereka membutuhkan rumah sendiri? Kau tau maksudku, kan?" ujar nyonya park dengan kekehan diakhirnya.

Baekhyun langsung membelalakkan matanya imut, sementara chanyeol hanya terkekeh kecil sembari menatap baekhyun.

"oh, aku baru ingat, yeobo! Aigoo~…. Begini saja. Kau siapkan dekorasi rumah yang paling modern dan cocok untuk anak-anak muda ini. Soal bangunan, aku punya yang belum tersentuh dekorasi apapun. Tinggal mendekorasi saja." Ujar tuan park dengan senyum.

"wah wah… kalau begini, hatiku rasanya nyaman sekali. Aku jadi lega untuk melepaskan baekki kami." Ucap nyonya byun sumringah.

"benar. Baekki, berbahagialah dengan chanyeol, ne?"

"eh? Ne, daddy."


"baek? kenapa park saem bisa izin tak masuk besok? Kau juga izin besok tak masuk untuk 5 hari. Park saem juga. Aneh." Selidik kyungsoo.

"aniya, kyungie! Besok aku akan menjenguk nenek di jeju. Jadi untuk 5 hari kedepan, aku tidak bisa sekolah. Kalau park saem, aku tidk tau kenapa besok dia tak masuk." Bela baekhyun dengan suara memekik, sangat jelas kalau kini dia mencoba membuat alasan.

"terserah kau saja…"

"BYUN BAEKHYUN!"

"e-eonni…"

"ikut aku."

"ta_"

"SEKARANG!"

.

.

.

Kini baekhyun harus terus mengelus lengannya yang perih karena seretan kakaknya. Yap. Kakaknya memang beda dengannya. Byun baekhyun, yeoja sopan, ramah, murah senyum, lugu, polos, pemalu, pendiam, tak banyak bicara, tenang. Berbanding terbalik dengan kakaknya, byun luhan. Yeoja kasar, pecicilan, berani, dan agak semrawutan. Walaupun sama-sama memiliki kecerdasan tinggi, tapi tetap saja perilaku mereka sangat berbeda.

"sekarang jelaskan padaku. Kenapa aku tak tau kalau calon suamimu adalah park chanyeol, hmmm?" selidik luhan. Sontak mata baekhyun melebar.

"ssttt! Pelan-pelan, eonni! Siapa tau, ada yang sedang menguping!" cicit baekhyun sembari menyumpal mulut luhan dengan jari telunjuknya. Luhan langsung melepaskan jemari lentik itu.

"ayo jelaskan, baek!" tuntut luhan.

"i-iya.. aku,,, aku minta maaf, eonni. Ini,,, ini salahku… aku,,, terlambat memberitaumu. Mian, eonni…" lirih baek sembari menundukkan kepalanya.

"aishhh, sudahlah, baby.. kau malah membuatku merasa bersalah dengan ekspresimu seperti itu. Sudahlah, jangan menangis. Aku hanya kaget saja setelah melihat foto pre wedding kalian." Ujar luhan sembari mengelus pundak adiknya.

"ne, eonni. Sekali lagi aku minta maaf. Lusa adalah hari pernikahanku, eonni." Lirih baekhyun lagi, sembari memeluk kakaknya.

"ne, baby. Aku akan terus menyupport-mu. Tak apa. Kuharap, kau bahagia dengannya, baby~" bujuk luhan sembari mengelus punggung baekhyun.


"mempelai park chanyeol? Bersediakah kau menerima byun baekhyun sebagai pendamping hidupmu?"

"ya, aku bersedia"

"mempelai byun baekhyun? Bersediakah kau menerima park chanyeol sebagai pendamping hidupmu?"

"ya? Y-ya. Ak-aku,,, bersedia."

"baiklah. Dengan ini, kedua mempelai sah menjadi sepasang suami-isteri. Sekarang, kedua mempelai dipersilakan untuk mencium pasangannya."

Bagai sambaran petir, kata-kata pendeta barusan langsung menyambar dada baekhyun. Jantung baekhyun bekerja ribuan kali lebih cepat dari biasanya. Chanyeol yang mulai berjalan mendekatinya, oh, kini chanyeol bahkan sudah memeluk pinggangnya dan mengelus pipi kanannya.

"tenanglah, baek. lakukan seperti kita latihan kemarin. Ini hanya sebuah ciuman. Tutup matamu, baek."

Baekhyun mengikutinya. Kini ia menutup erat matanya, dan mempersiapkan dirinya.

'chu'

Hanya sebuah kecupan. Tunggu, ini bahkan belum dilepas. Oh, ini diluar latihan. Kini chanyeol mulai melumat bibir baek. sontak, baekhyun membuka matanya dan langsung memeluk leher chanyeol karena chanyeol yang menarik pinggangnya mendekat.

Beberapa saat kemudian, ciuman itu terlepas. Oh. Kalau saja tepuk tangan riuh dari tamu undangan tak ada, mungkin kini chanyeol akan kelepasan.

.

.

.

.

.

"kkk~ chukkahae, baby~ mommy sangat bangga padamu, nak."

"gomawo, mommy."

"aku juga bangga padamu, baekki. Aigo~ lihatlah. Kau sudah menjadi seorang isteri. Dan aku? Masih tetap single sejak zaman purba."

"kkk~ lulu eonni, jangan begitu. Aku yakin, pasti nanti eonni akan menemukan pendamping hidup eonni."

Kini, mari kita langsung menuju waktu saat dua keluarga bertemu.

"woahhh… eomonim, rumahnya sangat indah…" lirih baek dengan wajah polosnya yang memancarkan senyum memuja.

Yap. Kini baekhyun sudah sampai dirumah yang akan dihuninya bersama chanyeol. Sangat menawan. Desain modern nuansa putih, silver dan grey disegala tempat, dan beberapa sudut berwarna merah terang. Masuk kekamar utama, baekhyun kembali menganga. Kamar luas ukuran 5x5 nuansa warna putih dan silver. Balkon sebagai jendela. Kamar mandi cukup lebar dengan dominasi warna putih merah. Ranjang king size kayu hitam dan sprei putih dan selimut lembut bahan beludru tebal warna merah. Dilantai, dihiasi karpet bulu kucing warna catur. Sangat elegan.

"yasudah, chan, baek. appa dan tuan byun akan pulang dulu. Nikmati malam indah kalian, ne? dan chanyeol? Jangan terlalu kasar." Ujar tuan park dengan kekehan jahil. Chan hanya tersenyum geli. Baek? ia tetap memasang ekspresi watadosnya.

.

.

.

.

"uggghhhh! Aku lelah sekali!" gerutu chan yang langsung membantingkan tubuhnya pada ranjang empuk berselimut beludru.

Mendapati baek yang hanya berdiri melihat sekeliling kamar, chan kemudian menyeringai.

"akkhh! S-saem, apa yang k-kau lakukan?"

Yap. Tiba-tiba chanyeol menarik tangannya dan menindihnya. Tetntu saja baekhyun kaget, bukan main malah.

"jangan panggil aku saem, baek. sekarang kita dikamar. Kalau perlu panggil aku yeobo. Karena sekarang, kita suami isteri." Ujar chanyeol dengan suara bariton-nya tepat ditelinga baekhyun.

"ne, yeol-ah. Ak-aku minta maaf."

Hening. Hanya terdengar nafas mereka berdua. Keadaan sekitar rumah yang tenang, AC yang tak bising, memang menjadikan ruangan ini amat tenteram.

"kau milikku,,, park baekhyun."

"uuuggghhh~"

TBC

Hayokk~

Bisa nebak kelanjutan ceritanya, kaga? :'v

Sp tau bisa author jadiin ide buat cerita lanjutannya. Author pan masih pemula :'v

Review juseyo~ saran juseyo~ pndapat juseyo~

Makasih yang udah nge review di chapter sblumnya~

Review kalian adalah energi buat author buat publish lagi. So, review, neh~

Silent readers, kutetap menanti reviewmu, neh~ makasih bgt udah baca ff carla. Tapi kalo mau review, carla doain sukses selalu, dah~ :'v *njirrr, ngehasut*