"jadi,,, apa yang dilakukan orang setelah mereka menikah, chanyeol?"
Pertanyaan polos baekhyun barusan, malah menciptakan fikiran ambigu bagi chanyeol. Bagaimana tidak, pertanyaan itu, ekspresi itu,,, ugghhh,,, chanyeol jadi gemas sendiri dengannya.
"nanti kau juga tau, baek." jawab chanyeol asal sembari mngelus surai baekhyun gemas.
Ciehh, ketemu lagi! :'v
Gomaptahhh buat review yang chapter sebelumnya. :'v
Sekali lagi, gomapta, neh~
typo bersamamu, beibih~
story by carlachoi02.
Happy reding~
.
.
Chapter 3: my happines?
"uugghhh"
Oh, suara itu. Tidak bukan desahan, tetapi sebuah perlawanan. Baekhyun kini sudah duduk disudut ranjang, menjauhi chanyeol.
"j-jadi, ini yang mereka lakukan setelah menikah." Lirih baekhyun. Keadaan kamar yang memang sepi, tak mungkin chanyeol tak mendengarnya.
"iya, baby. Ini yang mereka lakukan setelah menikah. Kau mau melanjutkannya, baek?" ujar chanyeol dengan suara beratnya.
"tidak!"
"huh?"
"aku tidak mau! Saling menggelitiki satu sama lain! Aku tak mau! Aku tak tahan jika digelitiki! Terakhir kali luhan eonni menggelitikiku, aku menangis semalaman." Lirih baek dengan wajah,,, uggghhhh, amat polos.
Hening
Chanyeol terkekeh gemas dibuatnya. Sungguh, jika bisa, saat ini juga chanyeol ingin memakannya. Tapi, chanyeol sadar harus menahan nafsunya dahulu.
"eh? Kenapa tertawa?" tanya baek, polos.
"tidak, baby. Kau sangat polos. Kkk~… baiklah tidak sekarang. Mungkin nanti kalau kau sudah tau sedikit, baru akan kulakukan. Jadi sekarang, jhaaa, mandi dulu dan kemudian ganti gaun itu dengan pakaianmu yang ada didalam koper. Aku juga akan mandi dan ganti baju. Lalu kita tidur." Titah canyeol dhadiahi anggukan puppy oleh baekhyun.
.
.
Kini baekhyun dan chanyeol sduah siap tidur. Chanyeol hanya menggunakan T-shirt putih dan celana bahan kanvas grey selutut. Dan kini baekhyun yang tengah berdiri dihadapan chanyeol membuat chanyeol harus menelan air liur beberapa kali.
Hotpants dark blue denim. Tanktop putihnya dan dilapisi rompi bahan chiffon tersusun warna merah maron yang dihubungkan dengan tali ditengah. Lengannya terekspos begitu saja. Mungkn chiffon adalah bahan kain kesukaan baekhyun, lihatlah, hampir setiap hari baekhyun memakainya. Bahkan, hampir seluruh pakaian yang dimilikinya, bahannya adalah chiffon. Kainnya yang menerawang membuat lekuk tubuhnya terlihat walaupun tertutup oleh tanktop putihnya. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja.
"k-kenapa, chan?"
"ti-tidak, baek. tapi, apa kau yakin mau memakai pakaian itu?" 'karena mungkin aku akan memakanmu sekarang juga, baek'
"yeah~ ini style kesukaanku. Hampir seluruh pakaianku stylenya seperti ini. Bagaimana? Menurutmu, ini terlihat manis?" tanya baekhyun cukup canggung.
"terlihat menggairahkan." Ucap chanyeol lepas.
"eh?"
"a-aniya… baiklah, sekarang, kita tidur?"
"ne!"
.
..
…
.
"uuggghhh~ sial, sudah pagi." Gerutu chanyeol yang kini tengah menggeliat tak nyaman diranjangnya. Ia sempat menatap sekeliling, tak mendapatkan siluet baekhyun. Gorden dan jendela terbuka, pintu kamar terbuka, AC dimatikan. Dan indera penciumannya yang menangkap aroma khas masakan. Sudah dapat dipastikan, baekhyun tengah menyiapkan sarapan. Jam,,,, oh ya ampun! Pukul 09.00 pagi?! Rekor pencapaian terbaru seorang park chanyeol yang biasa bangun pada pukul 5 pagi.
.
.
"eh?"
Baekhyun kaget. Tiba-tiba chanyeol datang dan langsung menyandarkan kepalanya dipundak kanannya.
"kau tak membangunkanku." Rengek chanyeol dengan suara berat sok tegasnya.
"m-mian, chan. Kukira kau kelelahan. Habisnya, kau sangat lelap. Jadi, aku beranjak pukul 7, lalu membereskan rumah, lalu memasak."
Baekhyun lalu menata meja makan dengan masakannya. 4 lembar Roti tawar isi cokelat dan vanilla yang dipanggang, 4 buah pancake dengan didampingi saus vanilla dan cokelat, semangkuk buah strawberry dan pisang, segelas chocolate cofee latte, dan segelas vanilla latte, tersusun rapi di meja makan kayu jati putih itu.
"ayo, dimakan. Aku hanya memasak makanan yang bisa kumasak saja. Aku tak bisa memasak hidangan berat. Hanya hidangan breakfast seperti ini." Ujar baekhyun rendah diri.
"sudahlah, baek.. ini sudah lebih dari cukup. Aku sangat bangga padamu." Puji chanyeol sembari mengecup puncak kepala baekhyun dengan penuh kasih sayang. Membuat pipi baekhyun merona saja.
Merekapun duduk dan sarapan dengan keadaan hening. Well, katakanlah, pemikiran mereka beda. Chanyeol yang tenang karena menikmati kelezatan sarapan buatan baekhyun. Sedangkan baekhyun, tenang karena makan dalam keadaan cukup gugup.
"gaya makanmu seperti seorang putri."
Blush~. Pipi baek merona seketika. Kumohon, yeol! Kau membuatnya membatu saat ini!
"ayolah, jangan gugup seperti itu. Aku tak sejahat yang kau kira. Aku hanya tegas, bukan jahat. Disekolah, mungkin aku sangat disiplin dan tegas pada murid-muridku. Tapi dirumah, tenang saja, aku cukup menyenangkan, kok." Ujar chanyeol sembari tersenyum ramah. Baekhyun hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian melanjutkan makannya.
"setelah ini, kau mau jalan-jalan denganku?"
"ya?"
"well, sedikit menghilangkan kecanggungan? Kau mau? Mungkin kita akan ke kebun strawberry milik temanku. Kudengar kau suka strawberry? Lalu kita akan mengitari seoul, karena kau dari kanada, jadi aku akan menjadi pemandu wisatamu." Ujar chanyeol sembari menyeruput chocolate cofee lattenya sesekali.
"n-ne. aku,,, aku mau."
.
..
…
.
.
"baek?"
"hm?"
"jangan terlalu kaku begitu. Aku jadi seperti seorang penculik." Cicit chanyeol sembari mengacak gemas rambut baekhyun yang tengah memetik strawberry.
"wae? Aku,,, aku tidak kaku. Lihatlah! Aku tengah memetik buah sekarang…" elak baekhyun dengan senyuman hambarnya.
"jangan bohong, byun baekhyun. Aku bisa membaca raut wajah orang." Ujar chanyeol lembut.
Hening.
"aku bukan gugup." Lirih baekhyun sembari menundukkan kepalanya.
"lalu?"
"aku hanya tidak bisa menerima fakta bahwa suamiku adalah guruku sendiri. Hanya itu." Lirih baekhyun lagi.
Chanyeol beranjak mendekati baekhyun, lalu menenggelamkan yeoja mungil itu kedalam pelukan hangatnya.
"jangan begitu, baek. anggap saja aku seperti orang lain. Sehun, mungkin?" ujar chanyeol mngelus punggung baekhyun.
"ke-kenapa harus sehun?"
"kulihat kau sangat dekat dengan sehun. Jadi, sehun kujadikan perumpamaan." Ujar chanyeol sembari terkekeh miris.
"jangan begitu, chan. Sehun sahabatku."
"iya aku tau, baek."
Hening. Chanyeol mulai melepas pelukan itu. Kini ia memegang bahu mungil baekhyun dan menatap manik hazel milik baekhyun.
"umurku 22, baek. kau 18. Kita hanya beda 4 tahun. Jangan terlalu canggung denganku. Ayolah~ aku tidak sejahat disekolah. Aku hanya tegas saja. Tapi untukmu, gadis yang kucintai, aku tak akan sejahat itu. Janji." Ujar chanyeol lembut sembari terus menatap mata baekhyun.
"tapi, kalau mereka tau, bagaimana? Aku akan dikeluarkan dari sekolah, saem. Ini seperti skandal guru dan siswa."
"park baekhyun, kini aku suamimu, bukan gurumu." Tegas chanyeol dengan mengerutkan keningnya.
"m-maaf, chan. Aku,,,"
"sudah, tak apa. Jadi, sekarang kau bahagia, park baekhyun?"
"ne, park chanyeol." Jawab baekhyun sembari tersenyum tulus.
Dan merekapun melanjutkan kegiatan mereka. Memetik strawberry, makan ice cream, dan mengelilingi kota seoul yang indah. Mereka melakukannya hinga malam.
.
..
…
.
.
Pagi hari si SW SHS. Hari ini baekhyun datang dengan wajah amat ceria. Kemarin malam, ia tidur dengan chanyeol tanpa ada rasa canggung sedikit pun. Tadi pagi, ia memasak sarapan bersama dengan chanyeol. Dan pagi ini, ia berangkat dengan diantar oleh chanyeol. Well, walaupun hanya sampai halte bus, tapi sudah cukuplah.
"byun baekhyun. Kau senang sekali hari ini, eoh? Apa hal yang membuatmu jadi seceria ini, eoh?" selidik kyungsoo tepat setelah baekhyun memasuki kelas dan duduk dibangkunya. Sehun yang duduk dibelakangnya hanya terkekeh gemas dengan keceriaan baekhyun.
"ne, kyungie! Kemarin, lulu eonni menraktirku es krim vanilla berry! Dan semalam, aku tidur dengan paha lulu eonni sebagai bantal! Aku senang sekali, eonni!" bohong, memang. Tapi, syukurlah kali ini baekhyun pandai menyusun skenario.
"SEMUANYA! CEPAT GANTI PAKAIAN KALIAN! 5 MENIT LAGI PARK SAEM MENUNGGU KITA DI LAPANGAN!" pekik suho, sang ketua kelas.
.
.
.
.
.
"aishhh, hunnie! Aku yeoja! Tidak mungkin aku bisa memukul namja kuat sepertimu!" rengek baekhyun pelan sembari memukul kecil lengan sehun. Sehun hanya terkekeh.
"eh? Dimana kyungie? Kenapa dia tidak kelihatan?" lirih baekhyun sembari mengedarkan pandangannya.
"dia masih dalam proses penyembuhan. Jadi belum bisa ikut kegiatan olahraga." Jelas sehun.
Langkah baekhyun terhenti saat menangkap siluet jangkung yang kini tengah memegang bola basket. Bukan. Bukan park chanyeol. Ini lain.
"kris oppa?"
"waeyo, baek?"
"ah, aniya. Ayo, ke lapangan."
.
.
"jadi, semuanya. Hari ini kita memasuki materi basket. Seperti yang kalian tau, basket membutuhkan kekuatan fisik yang kuat. Jadi, pelatihnya juga arus disiapkan khusus. Dalam hal ini, saya akan memperkenalkan kalian dengan seorang pelatih basket dari kanada. Perkenalkan dirimu, kawan." Jelas park saem lalu mempersilakan namja blaster china kanada di sampingnya.
"hai, semuanya. Namaku wu yi fan, tapi untuk kalian, panggil saja aku coach kris. Wajahku blaster china kanada? Of course. Ayahku kanada dan ibuku china. Jadilah aku setampan ini." Jelas coach kris yang dihadiahi gelak tawa oleh seluruh siswa kelas 11-1.
"mulai hari ini, aku akan melatih kalian tentang materi permainan bola besar, membantu park saem. Aku sahabat park chanyeol, jadi dia mengusulkan pada kepsek agar aku menjadi kawan pelatih. Tapi, bukan artian guru. Aku disekolah ini hanya sebagai pelatih olahraga, bukan sebagai guru. Umurku, 23 tahun. Jadi, salam kenal." Jelas kris dengan senyum berkharisma miliknya.
Tak disadari oleh kris, kini baekhyun terus bersembunyi dibalik punggung lebar sehun.
"jadi semuanya, lakukan pemanasan secara individu! Setelah saya arahkan untuk berkumpul disini, kalian harus berkumpul!"
"ne, park saem!"
Para siswa pun mulai bubar untuk mengambil tempat melakukan pemanasan. Baekhyun? Ia terus saja bersembunyi dibalik sehun.
"tunggu, kau! Yeoja yang berjalan dengan namja tinggi! Yang pakai sepatu sneakers denim merah!" titah kris sembari menatap yeoja mungil yang terus bersembunyi darinya.
Baekhyun. Yeoja itu merutuki dirinya sendiri. Ia diam membatu. Menjadi seorang yang pendiam memang tak menyenangkan. Tak bisa menangkis suatu serangan lawan. Dengan gerakan slow motion, ia memutarkan tubuhnya menghadap kris, tetap dengan kepalanya yang tertunduk.
"oh my god!. Ternyata benar. Kau byun baekhyun ku. Yeoja manis ku." Sadar kris dengan suara agak keras. Dengan lapangan indoor yang luas begini, suaranya tentu saja menggema diseluruh sudut ruangan.
Baekhyun tersentak. Kini tengah dipeluk oleh kris. Aroma maskulin dari tubuh kris menguar begitu saja. Aroma chocolate woody. Membuatnya amat nyaman. Tanpa sadar, ia menutup matanya.
"aku datang untukmu, baby."
TBC
Kkk~… ada yang penasaran kagak?
Ato udah bisa bikin skenario sendiri tentang kris? Bukankah di chapter sebelumnya kris itu jelas-jelas sepupunya baekhyun? Tapi kenapa sekarang kris malah bilang kalu baekhyun itu yeoja manisnya? Hayookkk,,, ada yg bisa nebak? :v
Makasih yang udah nge review di chapter sblumnya~
Review kalian adalah energi buat author buat publish lagi. So, review, neh~
Silent readers, kutetap menanti reviewmu, neh~ makasih bgt udah baca ff carla. Tapi kalo mau review, carla doain sukses selalu, dah~ :'v *njirrr, ngehasut*
Pen kenal lebih dekat ama author? PM juseyo :'v
Sptau bisa kenalan lewat social media juga. :'v *ngarep*
Maaf carla baru bisa publish..dikarenakan urusan sekolah dan sana sini, blablabla… yg penting, skarang carla balik egen…
