Chapter 2: Chapter 2
Seungkwan, Hansol, Jeonghan dan Junhui memilih untuk menunggu di luar bandara dengan dua mobil sewaan. Setelah sepakat dengan Seungcheol yang berangkat dari bandara Incheon tiga puluh menit lalu kini mereka bertemu di bandara domestik Jeju.
"Selamat datang." Sama seperti yang dilakukan pada empat kawannya kemarin, Seungkwan menyambut empat laki-laki lain yang ketenarannya sekelas aktor Lee Minho, Lee Jongsuk, Jang Geunsuk dan Song Jongki di kampus mereka dengan satu pelukan akrab.
"Loh, Wonwoo mana?"
Hong Jisoo adalah yang terakhir mendapat pelukan selamat datang dari 'Geum Jan-di'-nya kampus bertanya saat menyadari satu wajah tidak tampak.
Bukan hal mengherankan bagi mereka jika Hong Jisoo bertanya mengingat alasan Jisoo mau datang menyusul ke Jeju adalah satu orang yang kini mereka tinggal sendiri di rumah. Tapi karena pertanyaan itu pula kini mereka punya bahan ledek selama perjalanan menuju rumah Seungkwan.
"Kenapa? Hyung sudah merindukannya?"
Jisoo hanya mengulum senyum tanpa mengatakan jawaban. Dia justru kembali bertanya, "Wonwoo sakit?"
"Tidak, kok."
Seungkwan menggiring Jisoo untuk satu mobil dengannya, Hansol dan Soonyoung. Menahan penjelasannya tentang ketidakhadiran Wonwoo di acara menyambut tadi sampai mobil sewaan mereka yang Hansol kendarai meninggalkan bandara.
"Jadi, kemana Jeon Wonwoo?"
"Ah, hyung. Sebegitu penasarannya kau pada Wonwoo hyung? Dia baik-baik saja, kok."
"Lalu kenapa tidak ikut?"
Hansol dan Seungkwan saling pandang sesaat sebelum Seungkwan menjawab, "Dia masih terkejut dan butuh waktu untuk sendiri."
"Terkejut? Kenapa?"
Soonyoung di samping Jisoo yang mengisi bangku belakang ikut tertarik mendengar jawaban singkat Seungkwan itu. Begini-begini Soonyoung sama seperti Junhui yang mengenal Wonwoo cukup lama. Sejak jaman SMA Soonyoung cukup mengenal Jeon Wonwoo dan itu cukup untuk bisa menggolongkan Wonwoo pada jenis orang yang kurang ekspresif —termasuk kategori tertutup bahkan.
Jadi mendengar kabar Wonwoo yang butuh waktu sendiri karena terkejut itu sedikit ... mengherankan? Karena biasanya Wonwoo bisa menutupi masalahnya dengan baik.
"Tadi kami mengunjungi seorang cenayang ternama di Jeju —teman baik kakak pertamaku— untuk meminta sedikit pencerahan."
"Pencerahan apa yang kau maksud?" Jisoo memotong penjelasan Seungkwan. "Tolong jangan berbelit. Kau tahu, aku jadi khawatir padanya."
Soonyoung mengangguk setuju.
"Ya, makanya hyung dengar dulu. Jangan memotong ceritaku." Jisoo diam, begitu pula Soonyoung. Hansol yang mengendarai mobil juga ikut menyimak penjelasan Seungkwan tentang apa yang tadi mereka dengar dari Madam Jessica.
"..begitu ceritanya, hyung."
"Serius?" Soonyoung masih tidak percaya. Belum bisa lebih tepatnya. "Tapi kenapa bisa seperti itu? Wonwoo selama ini tidak pernah dekat dengan siapapun kecuali aku dan Junhui. Baru setelah kuliah dia dekat dengan kalian semua. Rasanya tidak mungkin."
"Kau pikir aku tidak kaget, Soonyoung hyung? Kami semua juga kaget mendengarnya. Apa lagi saat Madam Jessica bilang mereka sudah melakukan itu."
"Itu? Apa maksudmu dengan itu?" Soonyoung masih setia bertanya. Laki-laki bermata sipit itu —setidaknya dia yang paling sipit dari yang lain— tidak perduli lagi bagaimana wajah Jisoo di sampingnya. Yang ada di kepala Soonyoung sekarang adalah cerita gila tentang pertemuan lima temannya dengan seorang cenayang ternama di Jeju yang kemudian memberi tahu mereka fakta baru tentang Wonwoo.
"Itu ya itu, hyung."
"Apa? Yang jelas, dong."
Seungkwan tampak bingung untuk menjawab karena baginya itu adalah hal tabu, tapi akhirnya Hansol yang menjawab.
"Hubungan intim. Itu yang Seungkwan maksud, hyung."
"Hu-hubungan intim?" Seungkwan mengangguk. "Maksudmu yang seperti itu?" Tangan Soonyoung bergerak tidak jelas seperti halnya Seungkwan tadi di kediaman Madam Jessica.
"Iya, yang seperti itu."
Hening. Tak ada yang bergeming.
Tiga kepala di mobil itu sekarang punya pikiran sama tentang satu kepala yang sejak awal penjelasan Seungkwan sudah mengunci bibir rapat-rapat; sama sekali tidak bersuara. Menebak-nebak apa kiranya pendapat satu kepala ini mengingat Wonwoo adalah orang yang dia sukai.
"Oh, begitu ya?" Hanya itu dan segaris senyum yang dia tunjukan. Entah apa maknanya. Tidak ada yang berani bertanya juga karena Jisoo adalah yang paling tua di sana. Jika yang tua belum bersuara, maka yang muda akan menghormatinya dan menunggu. Seperti itu prinsip mereka sekarang.
"Lalu apa lagi yang Madam Jessica katakan?"
"Tidak ada. Dia mengatakan hal lain hanya saat kami sudah dipersilahkan keluar. Hanya Wonwoo hyung yang tahu kelanjutan ceritanya."
"Oh ... Madam Jessica tidak mengatakan bagaimana ciri-ciri orang itu?"
"Tidak—ah, dia bilang katanya Wonwoo hyung akan segera bertemu dengan orang itu secara langsung."
"Oh~ dia sudah tahu sejauh itu rupanya."
"Jisoo hyung, kau kenapa?" Hansol yang bertanya. "Jangan tersenyum seperti itu. Hyung menakutiku."
"Ahahaha, maaf."
"Hyung, baik?"
"Aku baik, Soon. Hanya sedikit—apa ya? Lucu? Aku merasa seperti sudah menantikan ini."
Baik Seungkwan, Hansol maupun Soonyoung tidak ada yang berani bertanya apa maksud perkataan Jisoo itu. Bagi mereka hanya ada satu kesimpulan yang masuk akal saat ini.
Hong Jisoo sama terkejutnya dengan Jeon Wonwoo.
.—.
CAST BUKAN PUNYAKU DAN AKU CUMA PINJEM NAMA MEREKA. IDE DAN PLOT MURNI PEMIKIRANKU. KALAU ADA KESAMAAN ITU HANYA KEBETULAN. TERINPIRASI DARI MITOS-MITOS DI INDONESIA DAN BEBERAPA KISAH NYATA.
.—.
You are My..
Romance, Drama, Supernatural, Friendship, Family, Slice of Life,
Rate T (dan mungkin bisa menjurus ke M pada beberapa scene)
Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Hong Jisoo
Madam Jessica (OC)
Jeon Jungkook
SEVENTEEN MEMBER
Warning: FF orang labil. Typo. Menjurus ke OOC. BL. YAOI. SHOUNEN-AI. Kalau nggak suka bisa pergi baik-baik.
.—.
Kim Mingyu tidak pernah merasa sesenang ini sejak terakhir kali Ibunya mengajak Mingyu jalan-jalan di N Tower sepuluh tahun lalu. Tapi disaat bersamaan Mingyu juga merasa begitu khawatir. Jauh lebih khawatir dari saat pertama kali naik Cable Car menuju N Tower.
Sudah ada dua orang yang tahu tentang dirinya. Satunya memang bukan seseorang yang akan mengusik, tapi satu lainnya itu yang berbahaya. Iya, berbahaya. Bagi Mingyu orang itu cukup berbahaya. Salah-salah rencana yang sudah dipersiapkan bertahun-tahun lalu rusak; sia-sia.
"Wonwoo hyung ada di Jurusan Psikologi, kan?" Wonwoo mengangguk santai. Masih asik dengan daging ayam yang dikunyahnya. "Aku juga. Kalau boleh, aku ingin tahu mata kuliah apa saja yang hyung ambil semester ini, jadi kita bisa satu kelas terus."
Alis Wonwoo mengerut heran. "Kalau kau ambil mata kuliah yang sama denganku, lalu mata kuliahmu yang harus diambil semester ini bagaimana?"
"Tetap aku ambil. Aku berniat untuk mempercepat kuliahku, jadi bisa setali tiga uang."
"Apanya yang setali tiga uang?"
"Kuliahku dan—" Mingyu hanya tersenyum lalu menggeleng. Melanjutkan makan ayam pesanan Wonwoo yang terhidang di hadapan mereka. "Oh ya, hyung."
"Apa?"
"Mulai besok biarkan aku yang masak. Aku cukup ahli dalam bidang itu." Mingyu langsung melanjutkan saat sadar Wonwoo akan menyelanya. "Aku hanya tidak bisa diam saja. Setidaknya aku harus melakukan sesuatu di rumah ini. Ya-ya? Jungkook dan Wonwoo hyung 'kan sudah menolak kalau aku bayar dengan uang."
Ada jeda singkat yang Wonwoo buat sebelum sebuah anggukan dia jadikan jawaban. Malas juga kalau harus berdebat tentang hal sepele dengan Mingyu —yang di mata Wonwoo tampak begitu keras kepala. "Kalau begitu nanti aku akan belanja."
"Aku ikut."
"Tidak perlu."
"Please, hyung—" Sengaja Mingyu pasang tampang memelas dan menyatukan tangannya di depan wajah. Bertingkah seperti bocah yang meminta dibelikan pemen oleh Ibunya. "—biarkan aku membantu." Katanya memohon.
Wonwoo terpaksa mengiyakan lagi. Laki-laki dengan taring mencuat saat tersenyum itu tampak persis seperti Jungkook bagi Wonwoo. Manja, tapi pekerja keras dan tentu kepala batu. Belum lagi fakta bahwa mereka sudah berteman cukup lama, Wonwoo merasa tidak boleh membuat Mingyu tidak nyaman.
.—.
Nama lengkapnya Kim Mingyu. Kelahiran Seoul pada enam April dua puluh tahun lalu. Pemilik keahlian supranatural (biasa disebut supranaturalis) yang luar biasa —katanya itu turunan dari nenek buyut. Anak dari seorang cenayang hebat juga di Jepang, dan seorang mahasiswa Jurusan Psikologi tahun kedua.
Katakan saja Mingyu ajaib. Itu cukup untuk menggambarkan seorang Kim Mingyu. Karena dua hal yang dia pelajari kini, Mingyu hampir bisa membaca seseorang secara keseluruhan. Bohong atau jujur itu hal mudah bagi Mingyu. Kawan atau lawan pun bisa Mingyu kenali hanya dengan bertatap muka—
"Ini orang yang aku bilang di Jeju kemarin."
"Oh. Kenalkan, aku Hong Jisoo. Seniornya Wonwoo di kampus. Senang bisa bertemu denganmu."
—dan akan semakin Mingyu kenali saat bersentuhan; berjabat tangan misalnya.
Laki-laki bernama Hong Jisoo itu lawan bagi Mingyu. Setidaknya untuk satu alasan laki-laki yang lebih pendek darinya itu adalah lawan berbahaya. Ada semacam alarm imajiner yang memperingati Mingyu tentang keberadaan Jisoo.
"Aku Kim Mingyu yang menumpang di rumah Wonwoo hyung. Teman baik Jungkook dan akan jadi junior kalian di kampus nanti. Senang juga bisa bertemu." Setelah mengeraskan jabat tangannya sesaat, Mingyu melepas tangan laki-laki itu. Di tengah mereka Wonwoo tampak sangat bersemangat dengan perkenalan Mingyu dan Jisoo. Jadi sebisa mungkin Mingyu menjaga suasana sesuai dengan keinginan Wonwoo.
"Ini, Won. Kau mau inikan? Aku sudah pilihkan yang sesuai denganmu."
Sebuah paper bag berpindah tangan dari Jisoo ke Wonwoo. Saat Wonwoo keluarkan isinya adalah sepasang sepatu. Mingyu mengenali merek sepatu itu dan dalam hati dia juga ber-wah ria melihatnya. Tapi detik selanjutnya dia menyipitkan mata, tidak suka pada cara kerja laki-laki Hong di hadapannya.
"Kau suka?"
"Wah, ini pasti mahal. Jisoo hyung mulai lagi." Jisoo merangkul Wonwoo akrab dan berbisik dengan suara yang cukup jelas untuk Mingyu dengar.
"Asal kau senang. Mahal bukan masalah bagiku." Dia melepas rangkulannya setelah melirik sinis dengan maksud pamer pada Mingyu. "Lagi pula aku yang sudah janji. Ini ganti kado ulang tahunmu bulan lalu."
"Baiklah. Lain kali jangan seperti ini, aku tidak enak pada yang lain."
"Iya-iya." Usapan lembut di kepala bersurai hitam Wonwoo membuat Mingyu hampir bereaksi lebih. Untung Mingyu masih bisa menahan diri. "Kalau begitu aku duluan ya? Ada beberapa hal yang harus aku siapkan."
"Untuk?"
"Untuk apa ya? Perang ... mungkin?"
"Hah? Aku tidak mengerti. Tapi ya sudahlah. Aku dan Mingyu juga harus ke super market sebelum gelap."
"Bye~"
"Hemm."
Tadi Mingyu dan Wonwoo baru keluar gedung apartemen saat Jisoo menghampiri Wonwoo untuk sepasang sepatu baru yang harganya luar biasa bagi mahasiswa biasa seperti Mingyu dan Wonwoo. Sudah begitu, pake acara pamer kedekatan segala pula. Mingyu hampir bereaksi lebih tadi.
Kalau tidak sadar posisi Mingyu yakin seratus persen dirinya akan menarik Jisoo menjauh dari Wonwoo. Memagari Wonwoo dari laki-laki kaya tadi agar tak tersentuh. Bahkan jika perlu Mingyu bisa memberi sedikit pelajaran pada Jisoo. Tapi untungnya —benar-benar beruntung Hong Jisoo itu— karena Mingyu masih bisa menahan diri.
Bukannya membenci Hong Jisoo, Mingyu hanya tidak suka pada laki-laki itu. Dia punya apa yang Mingyu punya. Dia menginginkan apa yang Mingyu inginkan pula. Itu sebabnya dia berbahaya.
"Hyung."
"Apa?"
"Kalian cukup dekat ya?"
Wonwoo menoleh.
"Siapa? Aku dan Jisoo hyung maksudmu?"
Mingyu mengangguk. Kedua tangannya disembunyikan pada saku hoodie. Berjalan selangkah di belakang Wonwoo dengan maksud menyembunyikan wajah dari lirikan mata Wonwoo.
"Yah, anggap saja begitu. Dia sering membantuku sejak masa orientasi. Dia juga teman di kelompokku. Kenapa memangnya?"
"Tidak. Hanya rasanya berlebihan saja. Sepatu yang kau dapat itu harganya benar-benar mahal. Aku butuh tiga atau empat bulan menabung untuk bisa mendapatkannya."
Mingyu menatap sinis paper bag di tangan kiri Wonwoo. Perasaannya tidak enak. Pasti ada sesuatu yang Hong Jisoo ingin lakukan pada Wonwoo.
Oh, bukannya Mingyu sok tahu, tapi Mingyu memang benar-benar tahu. Insting pemilik keahlian supranatural seperti Mingyu cukup peka jika berkaitan dengan sesama pemilik keakhilan supranatural lainnya. Terlebih jika itu tentang lawan, musuh, saingan atau apalah itu.
Iya, si Hong Jisoo itu, laki-laki yang baru beberapa menit lalu Mingyu jumpai itu juga seorang suprabatural. Sama seperti Mingyu. Dan yang lebih hebat lagi laki-laki itu sedang mencoba merusak usaha Mingyu.
"Dia itu cukup berada, Gyu. Ibunya adalah salah satu pengusaha hebat di L.A. Sepatu seperti ini bukan hal sulit baginya."
"Jadi hyung suka dapat benda mahal?"
"Tidak begitu juga." Wonwoo berhenti dan memagang jalan Mingyu. "Dia yang janji. Aku sudah menolaknya juga, tapi dia memaksa. Bukan salahku jika aku menerimanya."
"Iya, bukan salahmu sih, hyung. Tapi tetap saja terlihat seperti itu di mataku."
.—.
Dari yang bisa Mingyu lihat Hong Jisoo itu sebenarnya orang baik. Dia bukan orang yang akan menggunakan kekuatan supranaturalnya untuk hal-hal negatif. Bahkan jika ditanya baik mana antara dirinya dan Hong Jisoo, Mingyu sendiri akan menjawab orang itu; Hong Jisoo.
Tapi untuk satu hal Mingyu tidak bisa menerima perlakuan baik Hong Jisoo pada Wonwoo.
"Hyung, pinjam sepatunya boleh tidak?"
"Ha? Aku bahkan belum mencobanya."
"Ya, pinjam sebentar. Kan tadi hyung sendiri yang bilang kalau itu bukan keinginanmu. Jadi bukan masalah juga kalau aku yang pertama mencobanya, kan?"
Bimbang. Wonwoo menimbang-nimbang.
Masih segar dalam ingatan Wonwoo bagaimana Mingyu menyindir dirinya terus selama menuju super market tadi. Laki-laki yang lebih tinggi darinya itu terus membahas brand-brand ternama dan membandingkan setiap harganya. Meledek Wonwoo agar meminta Jisoo membelikan benda lain selain sepatu.
"Tidak boleh ya?" Dan kenapa pula laki-laki ini begitu memaksa? Wonwoo heran. "Yah, berarti benar kalau hyung itu matre. Berteman hanya karena u—"
"Pakai! Pakai saja sesukamu!"
Paper bag di meja dapur Wonwoo lempar kasar pada Mingyu yang duduk di sisi lain meja itu. Matanya berputar jengah. Bocah satu ini tabiatnya jauh lebih buruk dari pada Jungkook, adiknya sendiri. Wonwoo yakin betul kalau ada Jungkook sekarang sekalipun Jungkook ingin memakai sepatu itu si adik pasti akan tetap mempersilahkan Wonwoo yang pertama memakainya. Jelas karena itu adalah milik Wonwoo. Tapi Kim Mingyu ini..
"Hehe, terima kasih, hyung. Besok aku akan memakainya untuk jogging. Kebetulan size-nya muat untukku."
Tidak memperdulikan cengiran Mingyu, Wonwoo sibuk dengan bahan makanan yang tadi ia beli. Cukup banyak, mungkin bisa bertahan untuk seminggu sampai sepuluh hari.
"Oh ya, Gyu."
Alis Mingyu menjengit heran. Untuk kedua kalinya laki-laki ini memanggil Mingyu hanya dengan nama tengah.
Tidak masalah bagi Mingyu sebenarnya, hanya terasa sedikit aneh. Panggilan itu terlalu akrab bagi Mingyu.
"Apa?"
"Kau—" Wonwoo menatapnya datar. Mungkin ada tiga detik terbuang sia-sia bagi Mingyu yang menanti terusan kalimat Wonwoo. Karena akhirnya yang dia dapat adalah, "—ah, tidak jadi."
Setelah ini ingatkan Mingyu untuk tidak terlalu menganggap serius setiap perkataan Wonwoo.
.—.
Mingyu mengedus kasar, tersenyum sinis menatap sepasang sepatu apik yang baru didapatnya tadi.
"Lumayan juga." Katanya lirih sebelum menyalahkan lilin dan dipasang pada setiap ujung sebuah kertas karton yang di tengahnya tergambar bintang besar, ada tulisan latin pada lingkaran di tengah bintang. Ditaruhnya sepasang sepatu itu pada lingkaran bertulisan latin dan kemudian merapakan kalimat panjang. Tidak jelas, tidak bisa dimengerti pula. Tapi kemudian sepasang sepatu yang mulanya berwarna putih itu mulai berubah warna jadi kekuningan.
"Rasakan." Bisik Mingyu sesaat setelah mematikan semua lilin yang ia pasang. Menggulung kertas karton tadi lalu menyimpannya lagi di lemari. "Kau pikir kau bisa membatalkan rencanaku hanya dengan cara seperti ini? Aku jauh lebih baik darimu, Jisoo hyung."
.—.
Jam di dinding ruang tengah sudah menunjuk angka satu dan langit masih gelap saat Wonwoo baru keluar kamar mandi. Tugas dan beberapa laporan penelitiannya baru selesai setengah tapi Wonwoo benar-benar ingin segera tidur. Jadi sebelum itu dia memilih mandi mengingat besok dia punya janji temu dengan teman-temannya yang lain.
"Mingyu? Kau belum tidur?"
"Ada beberapa hal yang aku bereskan tadi. Wonwoo hyung sendiri?"
Wonwoo mendekat. Aroma sampo yang ia gunakan langsung menyeruak masuk penciuman Mingyu. Menggoda Mingyu. Belum lagi tubuh yang kini hanya tertutup celana training dan handuk yang tersampir di leher. Kulit putih pucat laki-laki kurus di hadapannya itu seolah mengundang Mingyu untuk menyerang.
"Aku baru mau tidur."
Wonwoo melewatinya begitu saja. Mengambil satu gelas susu di lemari pendingin dan menenggaknya langsung habis tanpa tahu bahwa Mingyu setengah mati menahan diri saat melihat buah adam di leher Wonwoo bergerak naik-turun. Mingyu pikir dirinya mulai gila. Dia bahkan bisa lebih gila lagi.
"Hyung."
"Apa?"
Wonwoo kembali mengusap rambutnya yang basah dan sedikit memberi percikan dingin pada kulit Mingyu.
Mingyu tidak tahu kakak laki-laki kawan baiknya sengaja atau tidak. Tapi sikap Wonwoo benar-benar sudah membangunkan jiwa lain dalam diri Mingyu. Kalau tidak ingat ini baru hari pertamanya menumpang, Mingyu yakin dirinya pasti sudah lepas kendali dan menyerang laki-laki satu itu tanpa perduli apa yang akan Wonwoo hadiahi nanti.
"Kau sengaja ya?"
"Sengaja apa?"
"Menggodaku."
"Ha?"
Alis Wonwoo menjengit heran. Gelas bekas susu dia taruh begitu saja pada bak cuci. Perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada Mingyu dan berdiri dua langkah di sampingnya.
"Aku menggodamu? Kapan aku menggodamu? Lagi pula untuk apa aku menggodamu? Dasar!"
"Yah, habis hyung—" Mingyu menahan kalimat yang akan dia ucapkan dan memilih menggantinya dengan seringai. Alih-alih menjauh Mingyu justru memepet tubuh Wonwoo hingga punggung laki-laki Jeon itu menyentuh pintu lemari pendingin di belakang. "—aku tidak masalah, kok, kalau Wonwoo hyung yang menggodaku. Aku justru senang."
"Hah? Kau gila? Minggir! Aku mau tidur."
"Mau aku temani?"
"Minggir, Kim Mingyu!"
Wonwoo menatap tajam mata Mingyu saat Mencoba menjauhkan diri dari kawan baik adiknya itu. Tidak ada pikiran jelek di kepalanya saat ini —atau lebih tepat dikatakan jika Wonwoo enggan berpikir macam-macam.
"Minggir, Gyu!" Wonwoo menggeram kesal dan baru setelah itu Mingyu menyingkir. Sorot mata tajam yang Wonwoo beri sebagai peringatan tadi cukup membuat Mingyu untuk menyerah dan meminta maaf.
"Aku hanya bercanda, hyung."
Tapi Wonwoo tetap acuh. Terlanjur tidak suka dengan cara bercanda Mingyu yang bagi Wonwoo cukup kelewatan. Apa lagi saat Wonwoo ingat tentang apa yang Madam Jessica kata beberapa hari lalu. Bagi Wonwoo candaan Mingyu kali ini terlalu kasar.
"Hyung, jangan marah."
Mingyu menghadangnya yang akan keluar dapur. Memohon seperti bocah cilik yang meminta dibelikan permen oleh Ibu —lagi. Tapi sayang kali ini itu tidak berhasil pada Wonwoo.
"Minggir. Aku lelah."
"Aku minta maaf, hyung."
"Aku tidak marah asal kau minggir."
Mendapat tatapan kesal dari Wonwoo membuat Mingyu pasrah dan mengalah. Memberi akses untuk Wonwoo pergi meninggalkannya di dapur.
Sepeninggalan Wonwoo itu Mingyu menggeram kesal. Menyalahkan dirinya sendiri yang lepas kendali dan tidak bisa menahan diri untuk godaan kecil macam tadi. Di saat bersamaan Mingyu kesal karena ada perasaan tidak enak yang sejak tadi mengganggunya.
.—.
Hari-hari berikutnya Mingyu bersyukur karena Wonwoo sudah tidak tampak marah seperti malam sebelumnya. Mingyu justru mendapat pujian karena rasa sup yang ia buat untuk sarapan mereka sangat sedap. Wonwoo bahkan tidak lupa dengan janji akan menemani Mingyu mengurus semua keperluan pindah.
Tapi masih ada satu hal yang mengganggu konsentrasi Mingyu.
Kakak kesayangan kawan baiknya ini bukanlah orang yang akan berbuat baik pada setiap orang. Wonwoo itu pemilih dan Mingyu heran kenapa dirinya bisa dengan mudah membuat Jeon tertua itu mengiyakan setiap ajakannya. Rasanya aneh saja.
Jelas Mingyu senang, tapi—
"Hyung, habis ini ada acara?"
"Kenapa?"
"Tidak. Seminggu ini kau terus menenaniku, bahkan sampai mengabaikan ajakan Seungkwan dan teman-temanmu yang lain."
"Tidak masalah. Aku juga sedang malas kumpul."
"Kenapa?"
"Kenapa ya?" Wonwoo mendahuluinya masuk ruang administrasi kampus. "Mungkin karena aku tahu apa yang akan mereka bahas jika aku ada disana?"
Nada tanya di ujung kalimat itu membuat kepala Mingyu sedikit miring. Merasa ini benar-benar aneh.
Apa? Memangnya apa yang akan mereka bahas jika berkumpul? Mingyu justru penasaran!
"Apa memangnya yang akan mereka bahas?"
"Aku rasa—ah, kau tidak perlu tahu."
.—.
TBC
.—.
Hayyyy!
Wah, sebelumnya aku mau bilang terima kasih banyak. Aku nggak nyangka kalau fiksiku ini bakal dapet respon yang bener-bener bagus. Nggak nyangka juga kalo bakal banyak yang suka. Aduh, aku sampe bingung mau ngomong apa sama kalian para pembaca. Intinya aku seneng!
Gimana chapter yang ini? Cukup bagus? Atau malah mengecewakan? Maaf kalau gitu..
Maaf juga kalo aku nggak bisa nge-update ini cepet dan terjadwal. Mengingat banyak yang nunggu lanjutannya jadi bikin aku ngerasa untuk nggak asal bikin lanjutan gitu aja. Aku pengen ngasih yang terbaik dan semakin baik setiap chapternya. Aku nggak mau bikin kalian yang suka fiksi ini kecewa udah nungguin lama tapi hasilnya malah nggak memuaskan /alesan!/hehe
Tapi tenang aja, aku janji bakal update minimal satu chapter dalam satu bulan. Berdoa saja aku nemu banyak inspirasi jadi bisa nerusin fiksi ini tanpa hambatan.
Narin (Guest): Aduh aku jadi ngefly dikasih tau begitu. Kalo gitu sering-sering komen ya.. SeungHan17Ever: Berapa chapter aku belum tau, tapi mungkin panjang. Fast atau slow update juga aku nggak tau. Tapi aku usahain untuk update minimal sebulan sekali. nuyybonew: iya itu mungkin efek terlalu banyak kerja. Moga aja bukan yang kaya Wonu ya.. hehe. Rie Chocolatos (Guest): Dinikahin sama pohon? Jin penunggu pohon mungkin maksudnya? Soalnya aku juga nemu beberapa kasus kaya gitu juga, hehe. 17MissCarat: serius kamu dapet tanda kek gitu? Yakin bukan memar? Atau kamu kekurangan vit. B mungkin? Semoga sih bukan kaya Wonu ya. hoshilhouette: bagus, Kak. Jangan dipercaya. Kita masih punya agama untuk di percaya. ria (Guest): aduh mpreg ya? Aku belom bisa mungkin. Belom bisa ngebayangin Wonu punya perut buncit/plak.
And thanks to :
itsathenazi, Narin (Guest), SeungHan17Ever, svtvisual, NunaaBaozie, funf (Guest), Zahra492, Anna-Love 17Carats, tutihandayani, tryss, elferani (Guest), meaniezzi (Guest), Firdha858, URuRuBaek, putrifitriana177, nuyybonew, Kasdu, BYDSSTYN, Rie Chocolatos (Guest), Daerin-ssi, Iceu Doger, kookies (Guest), 17MissCarat, xingliexia, hoshilhouette, DevilPrince, lulu-shi, Nam627, Arlequeen Kim, Herlin790, wonrepwonuke, hamipark76, alwaysmeanie, ria (Guest), AXXL70, xingliexia, whatamitoyou, Mrs. EvilGameGyu, NichanJung, Park Rinhyun-Uchiha, Ara94,
1) semua pasti udah pada tau siapa yang nikahin Wonwoo. Aku yakin pasti udah pada sadar siapa orangnya. Jadi aku cuma mau kasih tahu kalau konfliknya nggak sesederhana itu. Untuk beberapa chapter awal aku mungkin belum menonjolkan sisi supranaturalnya, apalagi tentang pernikahan goibnya dan lebih berfokus sama siapa aja yang bakal jadi sorot utama selain Wonwoo, Mingyu, dan Jisoo. Jadi kalo penasaran silahkan diikuti fiksinya ya, hehe
2) ada beberapa yang bilang konflik utama di fiksi ini juga udah pernah mereka denger di sekitar mereka dan karena itu aku bakal nekenin banget untuk jangan terlalu mempercayai apa yang aku tulis disini. Karena jujur aku sendiri sengaja menutupi beberapa hal dan diganti dengan hal lain dengan alasan takut merusak kepercayaan pembaca.
3) oh ya, di chapter kali ini aku nyampein kalo cara sesama supranaturalis saling mengenali itu gampang banget. Cuma tatap muka. Itu nyata loh. Beberapa supranaturalis yang aku kenal bilang mereka emang bisa saling mengenali cuma dengan tatap muka. Bahkan anak indigo yang aku tanya juga mengaku kaya gitu. Intinya, mereka tahu kalau mereka sama-sama punya sesuatu yang orang kebanyakan nggak punya.
4) dan, pasti yang baru baca pada bingung kalo di chapter ini aku nggak pake kata spiritual dan aku ganti sama supranatural. Aku punya alesannya. Aku baru tahu kalau dua kata itu berbeda. Spiritual itu digunakan untuk sesuatu yang berbau agama sedangkan supranatural itu lebih universal dan tidak menjurus. Jadi demi menghindari SARA aku memilih untuk ganti istilah di chapter ini tapi nggak akan mengganti apa yang udah aku tulis di chapter sebelumnya. Itung-itung itu adalah cacatnya tulisanku. Bisa jadi pembelajaran juga buatku ke depannya supaya lebih teliti saat memakai istilah. Hehe
5) belakangan ini aku juga mulai nemu banyak fakta baru dan pengetahuan baru karena aku meneliti kebiasaan supranatural di Indonesia, ternyata kita orang Indonesia punya hampir semua kebiasaan supranatural dari berbagai negara, loh. Hebat kan? Tapi ada beberapa yang disesuaikan sama tradisi dan budaya kita.
6) terus tentang ritual kecil Mingyu yang aku ceritain di atas itu, aku belum pengen ngejelasin di chapter ini. Ntar jadi spoiler soalnya, hehe. Mungkin di chapter selanjutnya nanti.
7) Gimana Meanie momennya? Pasti nggak pada puas ya? Aku yang bikin juga nggak puas dan setengah mati nahan diri untuk bikin ini nggak terlalu terburu-buru. Yang nungguin scene rate M pasti kecewa ya? Maaf deh, aku juga lagi belajar buat bikin, hehe. Buat yang minta dipanjangin juga maaf ya, aku bakal berusaha di chapter lain nanti. BTW AKU SENENG BANGET SAMA MV-NYA MONSTA X YANG ALL IN.. NGASIH BANYAK IDE BUAT FIKSI INI.. HEHE/plak
8) sisanya aku harap respons dari kalian semua. Review yang membangun mungkin? Aku pasti masih sering bikin kesalahan. Jadi berharap sama kalian untuk bantu aku cari kesalahan itu untuk pembelajaran.
Okeh, aku pamit—
