Chapter 3: Chapter 3

"Aku ingin bicara berdua dengan Wonwoo. Bisa kalian tinggalkan kami dulu?"

Seungkwan, Hansol, Jeonghan dan Junhui terpaksa meninggalkan tempat aneh yang penuh dengan barang antik itu demi memberi ruang pribadi pada Wonwoo dan Madam Jessica.

Mereka sadar betul kalau memang pembicaran serius kali ini bukan lagi dalam konteks yang bisa mereka dengar sesuka hati seperti fakta pertama tadi—fakta tentang pernikahan goib Wonwoo dengan seseorang yang entah siapa.

Baru setelah pintu di tutup Madam Jessica meminta Wonwoo pindah pada tempat lain di ruangan itu. Duduk pada satu dari dua sofa yang saling berhadapan dengan sebuah meja sebagai batas tengahnya.

Wonwoo menurutinya bukan karena takut, tapi lebih karena rasa penasaran yang kini menguasai pikirannya. Masih ada banyak hal yang Wonwoo yakin akan dia dengar dari cenayang kebanggaan Jeju ini.

"Kau punya seorang adik, bukan?"

Wonwoo mengangguk, mengiyakan saat Madam Jessica mengisi satu lagi sofa di hadapannya. Wanita cantik nan eksentrik itu tersenyum misterus sebelum mengatakan fakta lain yang—lagi-lagi membuat Wonwoo hampir kehilangan detak jantung saat itu juga.

"Dia juga sudah dinikahi seseorang di alam goib." Itu kata Madam Jessica sebelum terdiam. Memberi waktu lebih pada Wonwoo untuk mencerna setiap katanya.

Setelah dirinya sekarang Jungkook juga. Sebenarnya apa yang salah dengan keluarganya? Wonwoo sungguh ingin menanyakan hal itu, tapi tidak sekarang. Tunggu dulu sebentar.

"Madam tahu orangnya?"

Wanita itu mengangguk. "Dia temanmu. Seseorang yang kau kenal tapi tidak dikenal oleh adikmu."

"Lalu kenapa bisa dia menikahi adikku jika tidak saling kenal?"

"Aku tidak bilang mereka tidak saling kenal." Seringaian aneh namun memikat tampak di wajah wanita berumur tiga puluh tahunan itu. "Aku bilang adikmu tidak mengenalnya. Itu artinya bisa saja kawanmu itu mengenalnya. Iyakan?"

Anggukan ringan menjadi jawaban Wonwoo.

"Dan ... kalau kau mau, aku bisa membantumu untuk tahu siapa orang yang sudah menikahimu juga adik kesayanganmu itu."

Perasaan Wonwoo sedikit tidak enak saat kata adik kesayangan terucap dari mulut cenayang di hadapannya. Itu terasa seperti singgungan yang cukup mengena.

"Bagaimana caranya?"

"Membuka mata batinmu."

Wonwoo diam. Memilih untuk membiarkan lawan bicaranya menjelaskan lebih banyak.

"Jika mata batinmu terbuka, kau mungkin bisa lebih mudah mengenali siapa orang yang menikahimu saat nanti dia kembali datang untuk menemuimu. Wujudnya mungkin tidak akan sama dengan yang ada di dunia nyata, tapi instingmu akan semakin peka dalam mengenali orang-orang di sekitar. Kau bahkan bisa mencari tahu siapa orang kurang ajar yang sudah menikahi adikmu seenaknya.

"Kalau kau mau juga, aku bisa membantumu untuk membuka beberapa kunci cakra dalam tubuhmu, karena pada dasarnya kau dan adikmu juga seorang supranatural juga. Hanya saja tidak sehebat dan sebanding orang-orang yang mengincar keberadaan kalian. Hanya kemampuan kecil yang mungkin cukup berguna disaat seperti ini.

"Lalu tentang seorang temanmu yang tadi ikut datang, kau harus hati-hati pada satu dari mereka."

"Teman? Siapa?"

"Aku tidak bisa mengatakannya sekalipun aku tahu dan mau. Itu terlalu beresiko. Tapi satu dari mereka adalah suruhan seseorang yang sudah menikahi adikmu. Orang itu ada di sekelilingmu untuk memastikan bahwa hanya kau yang terlibat hubungan khusus dengan adikmu."

Kepala Wonwoo rasanya berdenyut. Terlalu banyak hal yang ia terima hari ini. Otaknya serasa akan pecah. Tapi tidak terpikir oleh Wonwoo untuk melupakan satu poinpun dari setiap informasi yang Madam Jessica katakan padanya.

Belum lagi tentang Jungkook. Rasanya Wonwoo bisa gila mendadak mengetahui jika adiknya juga bernasib sama dengan dirinya sendiri. Dan tolong diingat jika Jungkook adalah adik kesayangan Wonwoo. Jungkook adalah segalanya bagi Wonwoo.

"Kalau aku setuju untuk membuka mata batinku, apa itu benar-benar membantu?"

Madam Jessica mengangguk. "Sangat membantu." Yakinnya. "Tapi ada resikonya juga."

"Apa?"

"Kau akan bisa melihat semua yang tidak bisa sembarangan orang lihat. Itu mungkin bisa membuatmu ada pada masa yang jauh lebih sulit dari saat ini. Yah, kau pasti paham maksudku."

Alis Wonwoo mengerut tidak suka.

"Seperti hantu?"

"Bukan hanya itu. Kau mungkin bisa mendengar suara hati orang. Kemampuan bawaan yang ada dalam dirimu cukup unik walau tidak begitu kuat untuk sebuah pergulatan supranatural. Kepekaannya setara dengan orang-orang sepertiku."

"Jungkook juga?"

"Dia bahkan bisa lebih."

Helaan nafas menjadi jawaban Wonwoo kemudian. Tubuhnya sampai tegang mendengar semua hal yang menimpa ia dan adiknya. Jadi begitu bersandar pada sandaran sofa punggung Wonwoo merasa seperti akhirnya dunia membiarkannya istirahat. Lelah. Wonwoo sungguh lelah hanya untuk mengetahui semua hal gila ini.

"Wonwoo, jika aku boleh sarankan, lebih baik kau setuju untuk membuka mata batinmu dan beberapa titik cakra. Dengan begitu kau bisa menjaga adikmu juga. Kalian bisa tetap seperti saat ini tanpa ada gangguan orang lain. Itukan yang kau mau?"

Madam Jessica benar. Wonwoo memang tidak pernah berpikir akan ada banyak gangguan baginya dan Jungkook. Tidak pernah terlintas jika hal gila yang berhubungan dengan dunia supranatural bisa merusak semua pandangannya selama ini.

—~—

CAST BUKAN PUNYAKU DAN AKU CUMA PINJEM NAMA MEREKA. IDE DAN PLOT MURNI PEMIKIRANKU. KALAU ADA KESAMAAN ITU HANYA KEBETULAN. TERINPIRASI DARI MITOS-MITOS DI INDONESIA DAN BEBERAPA KISAH NYATA.

—~—

You are My..

Romance, Drama, Supernatural, Friendship, Family, Slice of Life,

Rate T (dan mungkin bisa menjurus ke M pada beberapa scene)

Jeon Wonwoo

Kim Mingyu

Hong Jisoo

Madam Jessica (OC)

Jeon Jungkook

SEVENTEEN MEMBER

Warning: FF orang labil. Typo. Menjurus ke OOC. BL. YAOI. SHOUNEN-AI. Kalau nggak suka bisa pergi baik-baik.

—~—

"Kook, kau baik?"

"Aku baik, hyung."

Wonwoo sedang ada di kampus, menemani Mingyu untuk mengurus kepindahannya saat ada telpon dari adik kesayangannya itu. Terpaksa Wonwoo tingga Mingyu di ruang administrasi sendirian dan berjalan menuju taman terdekat untuk mencari tempat nyaman mengobrol dengan sang adik.

"Bagaimana kuliahmu?"

"Ah hyung, jangan tanyakan itu. Aku benar-benar akan gila jika mengingatnya." Segaris senyum merekah pada bibir Wonwoo kala mendengar nada manja adiknya itu. "Aku benar-benar ingin bertemu denganmu, hyung. Sendirian disini dengan tugas-tugas iblis itu membuatku hampir berpikir untuk mengundurkan diri."

"Yang tabah, Kook."

"Hyung, kau tahu tidak?"

"Apa?"

"Kemarin ada e-mail masuk dari orang yang mengaku temanmu. Dia bilang dia akan menjadi tutor pribadiku."

"Siapa?" Ingatan tentang percakapannya dengan Madam Jessica minggu lalu menganggu pikirannya saat itu juga.

"Dia bilang namanya Kim Taehyung."

"Oh, Tae-Tae hyung rupanya." Helaan nafas lega menyertai jawaban itu. "Aku memang yang memintanya. Dia adalah yang terbaik di jurusan. Kau bisa bertanya banyak padanya, Kook."

Dan pada akhirnya percakapan Wonwoo dengan Jungkook kembali pada satu hal yang sama. Keluh kesah Jungkook yang merindukan kakaknya dan keinginan untuk bisa pulang ke Korea.

"Kalau saja mendiang Ayah tidak menuliskan keinginannya agar aku melanjut ke luar negeri, aku sekarang pasti ada di kampus yang sama denganmu, hyung."

"Yah, kalau saja." Sahut Wonwoo miris.

Jujur saja, keputusan agar Jungkook melanjut ke luar negeri adalah hal yang paling mengesalkan dari semua isi pesan terakhir yang menyertai warisan mereka—selain tentang harta dan saham yang tertahan hingga Wonwoo lepas dari status mahasiswa.

"Omong-omong, hyung."

"Apa?"

"Bagaimana dengan Mingyu? Dia baik bukan?"

"Hemm, begitulah. Sekarang juga aku sedang menemaninya mengurus kepindahan."

"Oh ya sudahlah, hyung. Aku mengantuk."

"Baiklah. Tidur yang nyenyak, Kook. Lain kali kalau tidur jangan malam-malam."

"Tapi di sana pagi, kan?"

"Tapi di sana tengah malam."

"Ah, iya-iya. Sudah ya hyung?"

Dan bib. Percakapan mereka berakhir bersamaan dengan kedatangan Mingyu yang menamerkan selembar kertas persetujuan dari bagian administrasi.

"Mulai besok aku akan ada pada kelas yang sama denganmu, hyung." Senyum sumringah Mingyu menarik Wonwoo untuk ikut tersenyum. "Sekarang mau kemana? Rasanya aku mau jalan-jalan."

"Jalan-jalan kemana? Jam satu nanti aku ada janji dengan Seungkwan dan Junhui untuk bertemu di perpustakaan kampus."

"Oh, begitu ya? Kalau begitu kita cari makan saja."

Wonwoo sudah bilangkan kalau Mingyu itu tampak seperti Jungkook? Mereka tampak mirip bukan karena wajah atau penampilan. Hal yang membuat mereka mirip justru tingkah laku dan kebiasaan mereka. Sifat—kecuali manja—mungkin beda, tapi tetap tampak sama di mata Wonwoo. Jadi jangan salahkan Wonwoo jika dia melampiaskan rasa rindunya untuk Jungkook pada Mingyu.

"Kau mau makan apa?"

"Hyung sendiri mau apa?"

"Asal bukan seafood."

"Oh, kalau begitu ayo ke sana."

"Kemana?"

Mingyu menarik tangannya tanpa memberi jawaban sama sekali.

Benar-benar seperti Jungkook!

Manja. Egois. Suka sok misterius. Dan menggemaskan.

—~—

Alis Jisoo mengerut tidak suka saat sosok tinggi yang semalam dia temui ketika menyambangi area apartemen Wonwoo muncul dan berjalan santai di samping Wonwoo. Ingatan tentang seberapa curang cara main bocah tinggi itu membuat Jisoo ingin menelan habis wajah Mingyu yang sedang pamer senyum.

"Aku tidak tahu kalau ada kalian juga."

Wonwoo mengisi tempat di samping Jisoo dan si Kim itu dibiarkan duduk bersama dengan Junhui. "Oh ya, dia Mingyu. Temannya Jungkook yang aku ceritakan waktu itu."

Mingyu mengenalkan dirinya sambil menebar aura persahabatan yang Jisoo anggap sebaliknya.

Bukan apa-apa, Jisoo hanya tidak suka dengan cara curang Mingyu yang main belakang. Belum lagi sifat jahil Mingyu yang semalam hampir membuat Jisoo menderita. Jisoo sungguh tidak suka sifat itu.

"Oh, kau memakainya?" Wonwoo dan Jisoo sama-sama menunduk melihat sepatu yang semalam Jisoo berikan. "Kupikir kau tidak suka."

"Tidak mungkin, hyung. Aku suka, kok. Terima kasih ya?"

Jisoo mengangguk dan tidak lupa memasang segaris senyum walau dadanya bergemuruh melihat senyum mengejek Mingyu di hadapannya. Jisoo tahu, kok, kalau yang pertama memakai sepatu itu bukan Wonwoo. Tahu juga apa yang Mingyu lakukan pada sepasang sepatu yang sudah Jisoo mantrai itu.

"Oh ya, Seokmin hyung bilang ingin kita mendatanginya saat sampai nanti. Semua alatnya ada di dia." Seungkwan mengingatkan Jisoo, Wonwoo, Junhui dan Hansol.

"Jeonghan hyung dan Seungcheol hyung?" Wonwoo yang bertanya. Mengingat dua orang tertua dalam perkumpulannya itu tidak menampakan batang hidungnya. Tumben saja. Biasanya kalau Jisoo ada maka sepasang kekasih yang sudah seperti pengawal Jisoo itu juga ada.

"Sama seperti Jihoon dan Soonyoung. Mereka kencan." Sahut Junhui ketus. Niatnya Wonwoo ingin mempertanyakan keberadaan Minghao tapi kawan sesama asal China-nya itu sudah melanjutkan; "Dan tolong jangan tanyakan Xu Minghao padaku. Aku lelah dengan bocah itu."

Selagi yang lain mengulum senyum, pandangan Jisoo dan Mingyu justru saling bertemu. Seolah dengan sepasang mata itu mereka sedang melakukan pergulatan. Tidak ada satupun yang ingin mengalihkan terlebih dulu.

"Seokmin hyung sudah datang. Ayo." Seungkwan mengajak kawan-kawannya untuk menjemput pemasok mereka di parkiran. Tapi Jisoo menolak ikut, begitu pula Mingyu yang beralasan lelah dan ingin istirahat sebentar.

Jadilah mereka punya waktu berdua mereka di ruang perpustakaan yang terbilang besar. Iya, berdua. Tidak ada siapapun kecuali mereka.

"Aku tahu kau pasti ingin memintaku untuk tidak mengganggu. Tapi maaf, aku tidak bisa." Jisoo bersandar pada bangkunya, melipat kedua tangannya di depan dada dan tersenyum sarkas pada Mingyu. "Aku tidak akan membiarkan orang seperti dirimu merusak kawan yang sudah kuanggap seperti adik sendiri."

"Adik?" Mingyu menarik naik satu alisnya. Sikapnya tidak mau kalah sarkas dari Jisoo. "Itu caramu, hyung?"

"Setidaknya aku menujukan diriku padanya dan berusaha menariknya tanpa main belakang." Mingyu menggeram kesal. "Aku bukan orang yang suka seenaknya mengikat orang lain. Hebatnya lagi, kau memperkosanya."

"Aku tidak memperkosanya! Aku sudah menikahinya!"

"Tanpa dia tahu? Kau sebut itu penikahan? Cih, dasar hina!"

Mingyu hampir saja maju untuk memukul wajah mulus Jisoo kalau saja tidak ingat setelah ini Wonwoo akan kembali dengan kawan-kawan yang lain. Mingyu hanya tidak ingin semua rencana yang sudah ia rangkai sejak jauh-jauh hari rusak dihari pertama dia bisa pergi ke kampus dengan pujaan hatinya.

Satu hembusan nafas jadi ganti segala macam amarah yang ingin mulut Mingyu layangkan pada pemuda Hong di hadapannya.

"Aku hina, baiklah. Tapi tolong bercermin, hyung. Dirimu itu apa?" Jisoo tampak tenang. Tidak terpancing dengan balasan Mingyu. "Mengakui dia sebagai adikmu seenaknya, diam-diam menaruh hati, dan kini ikut campur dengan urusan rumah tangganya. Kau pikir kau lebih baik dariku?"

"Hmm." Jisoo mengangguk. "Aku jelas lebih baik darimu. Setidaknya aku tidak memperkosanya dan menakutinya dengan menjadi suami di alam lain."

"Aku bilang aku tidak memperkosanya! Lagi pula, apa baiknya dengan menaruh mantra anti-Mingyu di sepatu mahal pemberianmu itu? Caramu sungguh buruk."

Mereka berdua sama-sama diam saat mendengar pintu ruang perpustakaan dibuka. Seungkwan yang kemudian disusul oleh Wonwoo masuk membawa alat proyektor. Tidak lama Junhui, Hansol dan Seokmin masuk membawa banyak jajanan dan minuman dingin. Mereka akhirnya pindah pada ruang kecil yang memang terselip di antara puluhan rak buku perpustakaan.

Hari ini adalah hari yang Seungkwan janjikan pada Wonwoo untuk menujukan film dokumentasi kelompok mereka untuk tugas awal semester dari Profesor Cho. Dengan bantuan Junhui dan Seokmin yang merupakan mahasiswa perfilman, Seungkwan meyakinkan Wonwoo dan Jisoo kalau film dokumentasi mereka akan dapat nilai A+.

—~—

"Prof, punya waktu?"

"Kenapa, Won? Tumben kau datang ke ruanganku."

Wonwoo melangkah lebih dalam, mendekati salah satu dosen kesukannya yang hari itu tidak ada jadwal kelasnya. Apalagi ini masih hari pertama kuliah, jelas tidak banyak kelas. Setidaknya seminggu ini, Wonwoo cukup bisa bersantai.

"Aku mengantar CD untuk tugas film dokumentasi yang anda katakan." Setelah kotak CD tadi berpindah tangan Wonwoo masih berdiri disana. "Aku ingin tanya sesuatu padamu, Paman."

Dosen dengan nama lengkap Cho Kyuhyun itu mempersilahkan Wonwoo mengisi bangku kosong di dekatnya setelah mengunci pintu masuk ruangan itu dari dalam. Kata Paman yang Wonwoo gunakan tadi memberinya sinyal untuk membuat tempat pribadi bagi pemuda Jeon kebanggaannya itu.

"Ada apa?"

"Paman percaya hal mistis?"

"Misalnya?"

"Seperti pernikahan di dunia lain, atau tentang kemampuan supranatural luar biasa."

Wonwoo mengenal dosennya itu sejak remaja. Sejak Ayah dan Ibunya bercerai dan Ibunya memilih menikah lagi dengan putra kebanggaan seorang pengusaha bernama belakang Cho itu. Cukup dekat juga jika mengingat dulu ia dan Jungkook sering dijemput untuk ikut saat Ibu dan suami barunya itu jalan-jalan. Jadi bukan hal aneh jika Wonwoo menemui pria ini walau kini status Kyuhyun bukan lagi Ayah tirinya.

"Aku percaya."

"Kenapa?"

"Kenapa? Entahlah." Kyuhyun mengendik. "Aku hanya percaya saja—oh, mungkin karena aku sendiri pernah bertemu dengan seseorang dengan kemampuan supranatural."

"Siapa maksud, Paman?"

"Ibumu."

Wonwoo memberi jeda pada percakapan mereka. Menahan diri untuk tidak bertanya lebih banyak tentang mendiang Ibunya.

"Jadi?"

Wonwoo memilih untuk bercerita tentang apa yang sudah dia dengar dari Madam Jessica. Semuanya, tanpa terlewat satupun. Wonwoo sudah benar-benar bingung harus bagaimana. Otaknya sudah memberi pilihan rasional; untuk tidak mempercayai apapun yang sudah ia dengar dari Madam Jessica tempo hari. Tapi hatinya mempercayai itu. Hatinya yang dirundung rindu pada sang adik tidak bisa menampik rasa khawatir dalam dada yang sudah memercik rasa penasarannya akan hal mistik.

"..Paman percaya?—Ah tidak, kalau Paman ada di posisiku, apa yang akan Paman lakukan?"

Kyuhyun menghela nafasnya. Diam beberapa saat demi sedikit jeda. "Aku akan mengikuti apa yang Madam Jessica katakan. Dia yang lebih tahu. Dan dalam kasusmu sekarang, kau belum sepenuhnya percaya tentang itukan?" Wonwoo mengangguk. "Ada baiknya kau mencoba sarannya. Barang kali setelah itu kau lebih bisa menentukan untuk percaya atau tidak. Maka akan mudah juga bagimu untuk membuat keputasan jika bersangkutan dengan hal ini."

Wonwoo mengangguk paham. Dia menyimpan baik-baik saran dari mantan suami Ibunya itu.

"Lalu bagaimana kabar Jungkook?"

"Dia baik. Kemarin dia meneleponku dan banyak cerita tentang betapa menderinya dia di sana." Akhirnya Wonwoo justru bercerita tentang adiknya lagi.

Memang selalu Jungkook objek yang menjadi bahan paling hangat diperbincangan Wonwoo dengan Kyuhyun.

Selalu adik kesayangannya itu.

—~—

"Mingyu, sekarang ini kekasihmu?" Wonwoo menatap heran Mingyu yang ada di sampingnya. Bingung saat tiba-tiba ada seorang perempuan mendekati mereka dan bertanya seperti tadi dengan sangat mudah. "Kenapa? Jangan bilang kau lupa padaku. Ini aku, Choi Yuju."

"Oh, Yuju! Apa kabarmu?"

Mereka baru akan pulang setelah kelas terakhir sore itu rampung. Tapi tanpa diduga, seorang perempuan yang mengaku sebagai teman sekelas Mingyu saat SMA—yang otomatis juga berarti teman sekelas Jungkook—datang dengan pertanyaan anehnya.

Kekasih? Siapa? Wonwoo? Jangan gila!

"Oh, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kau senior, apalagi kakaknya Kookie." Wonwoo mengiyakan kaku walau dalam hati tidak suka sama sekali dengan panggilan Kookie untuk adik kesayangannya. "Aku Choi Yuju. Teman sekelas Mingyu dan Kookie saat SMA dulu. Senang bisa bertemu denganmu, senior."

"Gyu, aku tunggu di gerbang ya?" Wonwoo pergi tanpa membiarkan Mingyu mencegahnya. Oh, jangan salah paham. Wonwoo bukannya sinis dengan perempuan bernama Yuju itu, hanya tidak suka pada cara perempuan itu memanggil Jungkook. Tolong ingat ya, Wonwoo yang kakaknya saja tidak pernah memanggil Jungkook dengan panggilan semanis tadi. Bukan salah Wonwoo kalau tiba-tiba kesal.

Lagi pula Wonwoo butuh lepas dari Mingyu. Seharian terus ada di samping bocah itu cukup menguras energi. Dan tolong jangan tanya kenapa. Wonwoo juga butuh waktu untuk sendirian saat ini. Otaknya penuh dengan banyak pertanyaan aneh yang dirinya sendiri tidak bisa menjawab. Rasanya dia hampir gila hanya karena ingat hal itu.

Belum lagi sekarang Wonwoo mulai mencurigai beberapa orang yang ada di sekitarnya. Tapi dia tidak bisa sembarangan menuduh sebelum tahu siapa orangnya. Tidak boleh lebih tepatnya.

"Won, kenapa sendiri? Mana bocah yang selalu bersamamu itu?"

"Dia bertemu temannya, tuh." Wonwoo menunjuk Mingyu yang belum begitu jauh darinya dengan dagu. "Taehyung hyung sendiri sedang menunggu siapa?"

"Junhui dan Soonyoung. Aku janji pada mereka kalau hari ini aku akan meneraktir mereka."

"Woah, dalam rangka apa? Kenapa aku tidak diajak?"

Laki-laki bernama Taehyung itu terkekeh lalu merangkul Wonwoo akrab seraya berjalan menuju gerbang depan. "Kemarin mereka membantuku keliling perpustakaan mencari bahan tugas."

"Oh~ Wen Junhui itu suka sekali membantu orang. Dia juga membantuku membuat film dokumentasi untuk tugas Profesor Cho."

"Itulah dia. Mungkin begitu caranya mendapat banyak teman disini. Kau pasti paham betul kalau tinggal di negara orang itu cukup keras." Wonwoo mengangguk setuju. Dia memang tidak merasakannya sendiri, tapi setidaknya dia tahu seberapa sulitnya hidup Jungkook di negara orang.

"Oh ya, hyung sudah menghubungi Jungkook, kan? Bagaimana?"

"Dia tidak banyak tanya. Sepertinya bukan tugas masalah utamanya." Wonwoo juga tahu hal itu. Memang bukan kemampuan otak masalah yang Jungkook alami saat ini. Adik kesayangan Wonwoo itu cukup cerdas walau tidak sampai tahap jenius. "Dia benar-benar ingin kembali. Tidak bisakah kau melakukan sesuatu?"

"Aku ingin, hyung. Tapi kalau dia kembali itu akan berimbas pada masa depannya. Ayah kami dengan jelas menulis jika Jungkook tidak melanjutkan sekolahnya di luar negeri maka tidak akan ada sepeserpun harta yang diwariskan padanya."

Taehyung menepuk punggung Wonwoo pelan. Berharap dengan cara itu kawannya ini bisa sedikit lebih baik.

"Tapi, Won." Wonwoo menoleh. "Dia punya kau. Kalaupun tidak mendapat apa-apa kau pasti bisa membantunya untuk tetap dapat sedikit bagian. Pikirkan itu. Aku hanya tidak tega melihat seberapa lesu bocah itu saat skype denganku semalam."

Taehyung benar. Wonwoo pernah berpikir demikian pula. Tapi masalahnya bukan itu saja. "Aku bisa, hyung. Setidaknya dia bisa kerja dengan bayaran tinggi di perusahaan Ayah kami nanti. Tapi apa kau pikir Jungkook tidak akan marah jika kuperlakukan seperti itu?"

"Kau yang lebih mengenalnya. Kau kakaknya, kan? Coba berpikirlah dari sisi itu."

Saat itu Mingyu datang mendekat. Tanpa butuh waktu Wonwoo memperlenalkan laki-laki jangkung itu pada Taehyung yang langsung disambut dengan senyum ramah—menggemaskan pula—dari Taehyung. Sedangkan Mingyu sempat membelo, tampak kaget dengan sosok di hadapannya.

"Kau pasti yang Jungkook ceritakan itu. Senang bertemu."

Segaris senyum Mingyu suguhkan pada laki-laki di samping Wonwoo. "Aku juga senang bisa bertemu."

"Kalau begitu kami duluan ya, Taehyung hyung?"

"Hmm. Hati-hati."

Setelah melambai singkat Wonwoo dan Mingyu pergi lebih dulu. Meninggalkan laki-laki unik tadi sendiri. Dalam hati Mingyu senang bukan main bertemu dengan laki-laki tadi.

"Aku harus bisa lebih akrab dengannya setelah ini." Itu gumam Mingyu setelah kembali menoleh pada Taehyung yang masih menatap mereka di tempatnya.

~—

TBC

~—

Jooheonie Noona: nggak kok, kak. Jisoo mah baik. Aku juga nggak ada niat bikin dia jadi orang licik. 17MissCarat: sama, aku juga nggak ngerti awalnya, tapi untuk tugas aku terpaksa belajar dan banyak nyari tau. Oh, lingkaran yang kaya tanda kutukan gitu ya? Anna-Love 17Carats: aku kasih spoiler deh, banyak yang bakal mereka lakuin nanti. Hehe, iya typo itu emang kaya debu buatku, susah dibersihin/bhak. svtvisual: makasih. Oke aku usahain untuk cepet, hehe. lulu-shi: aku juga nggak tau bisa apa nggak bikin rate m. Mungkin bakal jadi rate m, tapi rate m versiku beda kayanya sama yang lain. Betul sekali, nggak harus, kok. Kadang yang kyun-kyun aja udah cukup/ngeles. hoshilhouette: iya, aku kan baru baca A Pair of Shoes, tapi belom khatam, jadi belom review..hehe. Untung bukan diapa-apain sama mahluk aneh ya, kak. Itu kucing namanya kaya kartu alf*mart ya? Btw kak, nggak cuma dua supranaturalis, kok. Ntar juga nambah /aku labil sih/plak. Re-Panda68: oke aku lanjut, kok, say. Arlequeen Kim: bukan, Jisoo bukan cenayang, dia cuma supranaturalis aja, kok. Iya, Mingyu mah gitu, suka jail sama orang/diamul Aming. kookies (Guest): cie-cie Wonwoo cie. Padahal dianya sendiri juga cogan/bhak. itsathenazi: ih, kakak tau banyak ya? Kakak supranaturalis ya? Ngaku aja/ceritanya nuduh/ btw, Jisoo nggak jahat, kok. Justru sebaliknya. Pertanyaan laen udah kejawab dichap ini ya, kak. wonnderella: enci ya? Kayanya nggak bakal dalam waktu deket, soalnya mao bulan puasa. Okeh, sarannya aku tampung dulu ya. wonrepwonuke: jangan, jangan, jangan kasih jempol, aku bukan kanibal, kasihnya permen aja/apa lagi ini?/plak. Duh, makasih untuk pengertianmu. Aku terharu biru/lebay mode on/bhak. restypw: wah, nungguin M ya? Ntar-ntar ya, hehe. Oke nanti aku bikin Wonu kena mantra tergila-gila sama aku/plak. ketiiiliem: udah tau siapa yang nikahin Wonu kan? Btw, nama pena kamu unik ya? Mengalihkan duniaku. putrifitriana177: haha, maaf deh kalo lama, lain kali aku bikin cepet deh. zahra9697: iya Jisoo punya bakat kaya gitu juga. Hebat ya dia? Oke-oke ditunggu saja, aku cari tangga dulu buat naekin si rate/plak. Rie Chocolatos (Guest): DEMI APA AKU JUGA SHOCK BANGET TAU HARGA TIKET MEREKA. SAMPE NANGIS, TAKUT NGGAK BISA KETEMU WONWOO. MPreg ya? Aku nggak bisa kayanya deh. Aku nggak sanggup bayangin Wonu buncit! Jangan, tolong jangan paksa aku! Aku nggak sanggup. Hehe. whatamitoyou: kurang? Okeh lain kali mungkin lebih panjang. Naenanya ntar abis lebaran ya.. hehe. NichanJung: begitulah Jisoo si anak orang kaya, kak. Suka pamer duit emak. Benerkan? Aku juga ngerasa chap dua kemaren ada yang kurang. Tapi semoga yang ini nggak ya, kak. SeungHan17Ever: jangan ditebak-jangan! Aku yang bikin aja masih ngerasa burem, ntar aku tanya Madam Jessica dulu biar jelas. Jisoo nggak nyebelin kok, cuma pengen ngebantu Wonu. Sumpah. Suwer. kim eun bom (Guest): annyeong Eunbom-ah, iya lain kali aku panjangin dan aku cepetin deh. Berdoa aja aku inget, hehe. Mrs. EvilGameGyu: masih rate T kak, belom M. Mao bulan puasa, ntar dulu jadinya. Iceu Doger: iya, Wonu mah gitu, polos. Jadi gampang percaya. Bukan makanan ikan kok/bukan pelet yang itu ya?/ cuma mantra aja. Firdha858: iya, mereka bakal saingan. Sama dong, mereka juga otp favorit gue. hamipark76: eh, kakak asma? Duh salahin itu Mingyu yang suka dempet-dempet Wonu. Ahndelhyun: oke, aku lanjut ini. Jjinuu7: eh kaya kakak? Kakak supranaturalis atau cuma punya insting kuat? Keren ih! Aku iri! Yey, penggila Meanie. Kita sama! ria (Guest): suka yang berbau mistis? Sama dong, aku penggila malah, gampang penasaran, sih. Trims mao ngikutin. Daerin-ssi: kyaa aku juga suka Ex-Girl suaranya Whieen gila bener /salvok.

Terima kasih sudah ninggalin review. Aku seneng banget banyak yang nungguin lanjutannya. Buat yang sudah FavFol, makasih juga. Tanpa kalian aku mungkin nggak bakal semangat lanjutin FF ini.

1) Sudah terjawabkan Jisoo ngapain sepatu yang buat Wonu itu? Jelas banget tuh di atas Mingyu bilang apa. Sebenernya mantra anti-seseorang itu nggak ada, loh. Yang ada itu mungkin bikin jadi nggak suka, bikin jadi benci. Kaya diguna-guna. Tapi ya, mungkin itu maknanya sama. Dan ... Jisoo nggak jahat, kok. Banyak yang salah paham dichapter dua kemaren. Bener deh, aku nggak ada niat bikin Jisoo jadi orang jahat. Adeku penggila Jisoo soalnya, kalo dia tau aku menistakan Jisoo, bakal ada perang dunia di kamarku nanti.

2) Makasih buat yang mau mengerti aku. Mau menunggu FF ini. Buat yang berharap ini Mpreg, aku sungguh minta maaf. Aku nggak bisa ngebayangin laki-laki hamil. Apalagi kalo itu Wonu. Kalo rate jadi M, mungkin habis lebaran nanti. Aku ngga mau nambah dosa orang yang baca ff ini nantinya /plak/kaya lo punya dosa sedikit aje/

3) Ngomongi tentang supranatural, baru-baru ini aku dapet fakta keren tentang dunia supranatural. Sebenernya di komunitas mereka ada parameternya juga, loh. Tapi itu berbentuk lingkaran. Jadi semisal gini, Mingyu menang dari Jisoo, Jisoo menang dari Taehyung, Taehyung menang dari Yuju, tapi Mingyu kalah dari Yuju. Kaya gitulah intinya dan aku nerapin konsep itu di FF ini. Yang barusan contoh loh. Jadi silakan nebak gimana yang asli buat FF.

4) Terus ada yang sadar nggak kalo Wonwoo, Jisoo, sama Mingyu itu mahasiswa Psikologi? Kalo sadar kenapa nggak ada yang nanya? Padahal Psikologi itu salah satu ilmu pengetahuan yang dasarnya bertolak belakang sama dunia supranaturalus, loh. Dari sudut pandang Psikologi lebih menganggap dunia supranaturalis itu semacam pola pikir mempercayai tenaga dalam seseorang, semacam kepercayaan yang berlebih pada kekuatan diri sendiri. Yang namanya santet, mantra atau sejenisnya itu dalam sudut pandang Psikologi dianggap sumpah yang dipercaya sama orang yang terkena sumpah itu. Aku masih belum terlalu paham, tapi kaya gitulah intinya.

5) Buat yang nungguin Meanie, I 'm so sorry. Dichapter ini jarang bahkan hampir nggak ada Meanie-nya kan ya? Tenang, aku janji chap selanjutnya bakal banyak.

6) Sudah cukup panjangkan ya? Aku sudah berusaha buat cepet. Bener deh. Btw, karena mao puasa, jadi rate-nya aman. Aku main adegan fluff, hurt-comfort dulu aja ntar.

7) Sekali lagi aku ingetin, ini masih belom sampe pada konflik-konfliknya. Masih pengenalan dulu. DAN SUMPAH DEMI APA? KATANYA WONU DIBAWA KE RUMAH SAKIT GARA-GARA KENA GASTRITIS. AAAAAKU NANGIS! BELOM LAGI EXO MAO KAMBEK PAKE KONSEP ANAK SETAN! (read: monster) NANGISNYA JADI NGGAK JELAS KARENA APA! TEASER SEHUN-BAEKHYUN MENGALIHKAN DUNIAKU POKOKNYA!

8) Jangan lupa review-nya ya.. pai-pai!

Aku pamit—