Chapter 4: Chapter 4
"Gila kau ya? Kenapa bertanya pertanyaan aneh macan tadi, huh? Kalau Wonwoo hyung salah paham bagaimana?" Mingyu berkacak pinggang saat perempuan bernama Yuju di hadapannya justru terkekeh senang.
Perempuan satu ini kawan baiknya—selain Jungkook—di sekolah. Tapi bukan seperti Jungkook yang memang berteman baik dengan cara biasa, perempuan Choi di hadapannya ini adalah kawan di sebuah perguruan bela diri—katakan seperti itu karena baik Mingyu atau Yuju tidak suka menyebut perguruan mereka dengan istilah yang sebenarnya. Cukup lama saling mengenal dan cukup lama juga mereka tidak mengobrol. Jadi kalau Yuju jahil itu bukan salah Yuju, salahkan Mingyu.
"Tapi tadi itu benar kakak laki-laki Kookie?" Mingyu berdehem. "Berarti dia orangnya?"
"Kenapa memang? Kau kaget?"
Yuju mengiyakan. "Tentu saja. Dia lebih tampan dari yang aku bayangkan. Tapi, Gyu."
"Apa?"
"Kau dalam masalah besar."
"Maksudmu?"
Yuju menarik Mingyu lebih dekat dan menunjukan seorang laki-laki yang kini sedang berjalan merangkul Wonwoo. "Jeon Wonwoo itu dikelilingi oleh orang-orang seperti laki-laki itu. Salah sedikit saja kau bisa kehilangan Jeon Wonwoo."
"Aku tahu." Itu sebabnya Mingyu memilih kembali ke Korea dan bertemu pujaan hatinya. Karena Mingyu tahu ada beberapa orang yang sanggup membantu Wonwoo terlepas dari ikatan sakral yang Mingyu ciptakan di alam lain. "Oh ya, kau kenal Hong Jisoo?"
Yuju menganggu. "Kau sudah bertemu dengannya? Dia itu ancaman untukmu, kan?"
"Bisa bantu aku?"
"Untuk?"
"Menjauhkan laki-laki itu dari Wonwoo hyung. Dia mulai banyak tingkah. Kau tahu, beberapa hari lalu dia memberikan Wonwoo hyung sepatu yang sudah dimantrai agar tidak suka dekat-dekat denganku. Untung saja aku bisa mendapatkan sepatu itu sebelum Wonwoo hyung memakainya."
"Dan kau balas menjahilinya?"
Mingyu mengiyakan dengan cengiran senang. Ingat malam saat dia mengirim balik mantra sialan yang Jisoo pasang pada sepatu pemberian Jisoo sendiri, lengkap dengan buah tangan.
"Aku kirim dia kelabang. Tapi dia sadar."
Yuju kembali terkekeh. Perempuan itu menepuk bahu Mingyu beberapa kali sambil mengatakan kata sabar. "Maaf saja, tapi aku tidak mau ikut campur. Baik Hong Jisoo atau Kim Taehyung, aku tidak mau terlibat dengan mereka. Salah-salah aku bisa sial nanti."
"Cih, dasar tidak setia kawan."
"Bukan begitu. Aku jelas bukan tandingan mereka. Sudah begitu aku juga sedang mengejar seseorang. Jadi, maaf ya?"
Mingyu mendengus kesal tapi tidak bisa memaksa kawan perempuannya itu. Apa yang Yuju katakan memang benar, Yuju tidak sebanding dengan semua supranaturalis yang ada di sekitar Wonwoo. Kelas gadis itu masih ada di bawah Mingyu, artinya itu bisa jadi pertaruhan nyawa jika Yuju masuk pada ring yang sama dengan Mingyu—sekalipun itu hanya untuk membantu Mingyu.
"Dan satu hal lagi."
"Apa? Aku belum yakin betul, tapi Jeon Wonwoo itu mungkin seorang supranaturalis."
"Ha?"
"Kookie juga. Tapi aku belum begitu yakin. Mereka punya sesuatu tapi tersembunyi."
Mingyu mengangguk paham lalu pamit untuk menghampiri Wonwoo. Tidak ingin Wonwoo terlalu lama dengan laki-laki bernama Kim Taehyung itu.
—;—
CAST BUKAN PUNYAKU DAN AKU CUMA PINJEM NAMA MEREKA. IDE DAN PLOT MURNI PEMIKIRANKU. KALAU ADA KESAMAAN ITU HANYA KEBETULAN. TERINPIRASI DARI MITOS-MITOS DI INDONESIA DAN BEBERAPA KISAH NYATA.
—;—
You are My..
Romance, Drama, Supernatural, Friendship, Family, Slice of Life,
Rate T (dan mungkin bisa menjurus ke M pada beberapa scene)
Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Hong Jisoo
Madam Jessica (OC)
Jeon Jungkook
Kim Taehyung
SEVENTEEN MEMBER
Warning: FF orang labil. Typo. Menjurus ke OOC. BL. YAOI. SHOUNEN-AI. Kalau nggak suka bisa pergi baik-baik.
—;—
Wonwoo menolak ajakan makan siang Mingyu keesokan harinya. Menolak ajakan belanja Jeonghan dan Seungkwan juga. Selain karena jam kuliah, Wonwoo terus mengurung diri di meja paling pojok perpustakaan. Menyembunyikan dirinya dari orang banyak, bahkan Kyuhyun dan Taehyung. Satu-satunya orang yang terus ada di dekatnya hanya Kim Mingyu. Kawan baik Jungkook itu mau-mau saja menemaninya di perpustakaan sampai menjelang malam dan tidak protes sekalipun perutnya meronta minta diisi.
Di mata Mingyu, Wonwoo kini tampak buruk. Bukan buruk dalam penampilan, melainkan wajah dan ekspresinya. Terpampang jelas apa yang tertulis di wajah itu sekarang.
"Hyung, Jungkook belum meneleponmu?"
Wonwoo menoleh. Memandangnya sesaat. Kemudian menggeleng dan kembali membaca sebuah novel tebal. Mingyu yakin Wonwoo tidak benar-benar membacanya. Laki-laki berwajah manis itu terus memandangin satu halaman dalam kurun waktu yang cukup lama, atau kadang membalik beberapa halaman tanpa membacanya terlebih dulu.
"Kenapa tidak kau yang telepon dia?"
"Aku takut mengganggunya."
Kali ini Mingyu yakin betul kalau mata kecil pujaan hatinya tidak sedang membaca buku di meja. Pandangannya memang mengarah kesana, tapi mata itu menerawang jauh.
"Hyung."
"Apa?"
"Aku dengar pembicaraanmu dan temanmu waktu itu. Siapa namanya? Kim Taehyung?"
"Kenapa?"
"Aku setuju dengannya. Kenapa Jungkook tidak pulang saja? Kau bisa melakukan banyak hal sekalipun tidak ada warisan yang Jungkook terima. Kau kakaknya, tidak mungkin juga kau membiarkan Jungkook susah nanti, kan?"
"Aku inginnya begitu."
Buku di meja Wonwoo dirampas. Mingyu menarik perhatian pujaan hatinya itu dengan satu tangan yang menarik dagu Wonwoo agar menghadapnya. "Hyung, kau tahu tidak? Aku tidak tahan melihatmu seperti ini seharian. Kau bahkan belum makan dari tadi pagi. Kalau sakit bagaimana? Jungkook bisa membunuhku—"
"Itu tidak mungkin, Gyu."
"Hmm, tidak mungkin hanya membunuhku. Dia mungkin memutilasiku dan membuang serpihan dagingku di sungai Amazon untuk pakan Ikan Piranha."
"Kau berlebihan." Wonwoo menarik wajahnya agar tidak terus berhadapan dengan Mingyu. Dadanya tiba-tiba saja bergemuruh dapat perlakuan seperti tadi. "Adikku tidak mungkin melakukan itu. Jungkook-ku itu anak baik."
"Siapa yang tahu." Mingyu mengendik. Membereskan buku-buku yang ada di meja Wonwoo dan dirinya untuk ditaruh pada meja penjaga. Dia meninggalkan Wonwoo sesaat setelah perlakuannya tadi.
Mingyu pikir tadi dia hampir lepas kembali lagi. Dagu kecil Wonwoo yang dia sentuh terasa lembut, ingin rasanya Mingyu mendekatkan dagu itu pada dirinya tadi. Tapi tidak, Mingyu harus tahan dulu segala pikiran itu. Semua demi suksesnya pendekatan yang ia lakukan.
"Ayo makan. Aku harus pastikan kau makan tiga porsi untuk ganti waktu makan yang terlewat tadi atau aku akan benar-benar mati."
Tangan kurus yang ia tarik menahannya. "Disini saja, sebentar lagi." Itu yang Wonwoo minta dan Mingyu tidak bisa menolaknya begitu saja. Tidak jika wajah lelaki Jeon satu itu menatapnya seperti tadi.
Wonwoo tidak melepas pegangannya dari Mingyu, dia justru balik menggenggam tangan besar dengan kulit coklat sexy milik si Kim yang menumpang di rumahnya. Membawa tangan itu kehadapannya dan menjadikan tangan mereka bantalan saat dia menunduk. "Sebentar saja, biarkan aku menenangkan diriku."
Mingyu membiarkannya. Satu tangannya yang lain justru memberi elusan lembut pada punggung Wonwoo dengan harapan segala beban sang pujaan hati bisa sedikit terangkat.
Mingyu membiarkan waktu berlalu dengan keadaan seperti itu. Dia justru bersyukur karena Wonwoo mau membagi bebannya seperti ini—yah, walau sejak tadi dada kiri Mingyu terasa berdenyut sakit menatapnya.
Mingyu mungkin belum pernah mengakuinya secara langsung, tapi setiap malam Mingyu selalu menggumamkan kata cinta untuk Wonwoo. Setiap mereka bertemu di alam lain setidaknya ada sepuluh kali Mingyu mengungkapkan cintanya pada Wonwoo. Mungkin bagi Wonwoo itu hanya mimpi; bunga tidur tanpa makna lebih. Tapi bagi Kim Mingyu itu bukan mimpi, itu kenyataannya.
"Hyung, ayo makan. Kau bisa sakit jika seperti ini terus."
"Gyu, terima kasih."
Mingyu sempat menahan nafasnya, kaget dengan ucapan dari Wonwoo itu. Tapi sekon kemudian segaris senyum tampak di wajah tampannya. "Sama-sama, hyung."
"Aku bersyukur ada kau."
—;—
Malam itu juga Wonwoo menelepon si adik, meminta adiknya itu untuk mengurus semua keperluan pindah dan siap saat dijemput Mingyu dua hari kemudian.
"Serius, hyung? Aku boleh pulang? Sungguh?"
"Iya, Kook. Kalau kau mau, kau boleh kembali. Aku tidak akan memaksamu untuk tetap tinggal di sana."
"Hyung, kau baik-baik sajakan? Kau tidak sedang bercanda atau mabuk, kan?"
Wonwoo dan Mingyu saling pandang sebelum sama-sama mengulum senyum. Suara bahagia Jungkook tampak jelas dari sambungan load-speaker yang Wonwoo pasang pada ponselnya.
"Hey, Jeon Jungkook! Jangan banyak tanya, kau harusnya langsung bilang iya dan mengurus semuanya."
"Mingyu? Sialan kau, Kim! Aku tahu-aku tahu. Jangan cerewet." Wonwoo tersenyum mendengar logat adiknya keluar. "Hari ini aku akan siapkan semuanya. Kau datang saja dulu. Bantu aku berbenah di apartemen."
"Aku bukan pembantumu, Bro."
"Cih, ingat baik-baik apa yang aku lakukan saat kau akan kesana. Setidaknya kau harus balas budi."
Mingyu mendengus kesal. Kalah debat dengan Jungkook. "Baiklah, aku tahu. Kau urus saja yang lain. Apartemen jadi tugasku."
"Itu baru kawanku." Jungkook tertawa lepas dan membuat Wonwoo sedikit merendahkan posisi kepalanya.
Baru ingat Wonwoo jika adiknya itu sudah jarang tertawa seperti tadi. Setiap kali mereka telepon yang Wonwoo dengar hanya keluh kesah dan rengekan rindu ingin pulang. Sekalipun Jungkook tertawa, mungkin tidak seperti tawanya yang biasa. Berbeda dan bukan seperti tawa senang.
"Gyu, Won hyung mana?"
"Iya, kenapa Kook?"
"Hyung jangan jemput aku di bandara nanti."
"Kenapa?"
"Jangan pokoknya. Biarkan Mingyu saja yang membantuku. Kau di rumah saja."
"Baiklah."
—;—
"Dia akan pulang. Pastikan kau mendapatkan perhatiannya lagi. Usahakan untuk selalu ada di sekitarnya juga."
"Aku mengerti."
"Bagus. Dengan begitu aku bisa menyingkirkan mereka juga. Tenang saja, aku janji padamu, kau akan dapat bagianmu juga."
"Terima kasih, hyung."
"Dan tentang Minghao, suruh anak itu mengawasi iparku."
"Akan aku sampaikan."
"Kau memang yang terbaik, Wen."
—
Jisoo benar-benar senang saat Wonwoo mau datang menemuinya di kafe tempat Soonyoung kerja paruh waktu. Sendiri. Tanpa laki-laki tinggi yang Jisoo tidak suka itu.
"Taehyung bilang Jungkook akan kembali."
Wonwoo mengiyakan dan menceritakan kronologi kenapa dia memutuskan untuk membiarkan adiknya kembali dan melepas kesempatan emas agar sang adik bisa hidup mewah nantinya. Semua karena saran Taehyung dan Mingyu. Ada beberapa saran dari Kyuhyun juga—walau sebenarnya itu saran lama yang sang Paman ulang setiap kali mereka bertemu.
"Jadi Jungkook akan kuliah di tempat kita?"
"Iya. Aku menyarankannya agar ikut kelas yang sama dengan Taehyung hyung, tapi lihat saja nanti."
Jisoo memamerkan senyumnya saat mengusap lembut surai hitam Wonwoo. "Kau sudah mulai lebih dewasa, Won. Keputusanmu benar, kok. Aku yakin ini yang terbaik."
"Terima kasih, hyung. Aku berhutang banyak padamu."
"Haha, kalau begitu lain kali aku bisa minta bayarannya, kan?"
"Asal bukan barang mahal. Aku mungkin sanggup."
Jisoo merangkulnya, mengusap gemas surai hitam Wonwoo sambil tertawa. "Tidak akan mahal. Aku jamin." Wonwoo mengiyakan. "Jadi, kau yang menjemput Jungkook?"
"Bukan. Mingyu yang akan pergi. Sore nanti dia akan berangkat. Kau mau ikut mengantar, hyung?"
"Tidak usahlah. Aku ada tugas yang belum selesai. Lain kali, mungkin." Sebenarnya Jisoo hanya sedang menghindari Mingyu. Malas bertemu dengan bocah Kim yang bisa memancing emosinya itu. "Atau saat Jungkook sudah sampai. Kita bisa adakan pesta penyambutan."
"Boleh. Akan aku pikirkan itu."
Hari ini Jisoo meminta Wonwoo datang menemuinya dengan alasan ingin berdiskusi tentang beberapa tugas lain. Tapi sesungguhnya itu hanya alasan. Jisoo hanya ingin melihat Wonwoo dan memastikan jika si Kim itu belum melakukan apapun lagi pada kawannya ini.
"Oh ya, Won. Kim Mingyu itu ... dia suka bertingkah aneh atau tidak?"
"Maksudnya?"
"Ya, mungkin dia melakukan beberapa hal aneh seperti bermain lilin, begitu?"
"Tidak, kok. Tingkah lakunya di rumah biasa saja. Dia justru banyak membantuku." Wonwoo jadi asik sendiri menceritakan tentang Mingyu dan kebiasaan Mingyu setelah dua minggu lebih tinggal di rumahnya. Tentang Mingyu yang kadang menjadi alarmnya, tentang Mingyu yang mengerjakan banyak pekerjaan rumahnya, juga tentang Mingyu yang sekarang menjadi juru masak bagi Wonwoo.
"Jadi dia membuatkan makanan untukmu?"
"Iya. Masakan Mingyu enak, loh, hyung. Dia saingannya Seokmin."
Jisoo mengangguk-angguk sambil mengulum senyum. Menyembunyikan perasaan tidak enaknya yang ia rasakan dari pandangan Wonwoo. "Lain kali, aku akan mampir ke rumahmu untuk menyicipi masakannya."
"Akan aku tunggu."
—;—
Wonwoo terus mengingatkan Mingyu untuk hati-hati sejak kembali dari pertemuannya dengan Jisoo dan Soonyoung. Entah mengapa, Wonwoo merasa sesuatu yang tidak baik akan terjadi pada Mingyu. Wonwoo takut juga jika sesuatu itu berkaitan dengan adiknya.
"Tenang saja. Aku dan Jungkook bukan anak kecil, hyung. Kami akan sampai disini dengan utuh."
"Bukan itu, bodoh!" Satu pukulan ringan mendarat di kepala belakang Mingyu. Wonwoo masih sempat mendumal saat membawa koper Mingyu keluar rumah. Memasukannya ke bagasi taksi yang sudah ia panggil tadi. Dia batal mengantar Mingyu karena Mingyu menolak diantar.
Mingyu di dalam hanya mengulum senyum. Dia bukannya tidak paham apa yang Wonwoo maksud, hanya saja dibanding mengkhawatirkan diri sendiri, Mingyu justru lebih mengkhawatirkan sang pujaan hati. Kalau ada Mingyu di dekatnya saja Wonwoo masih terus jadi target incaran, apalagi saat Mingyu pergi. Bisa-bisa saat Mingyu kembali Wonwoo justru sudah menjadi kekasih lelaki Hong itu.
"Sana, taksinya sudah menunggu, tuh."
Wonwoo kembali masuk dan memanggilnya. Jeon sulung itu masih tampak kesal saat mengambil satu lagi tas bawaan Mingyu. "Cepat, Gyu."
"Tunggu sebentar." Mingyu menahannya untuk keluar lagi. Tangan besar pemuda bertaring panjang itu kini melingkar mengalungi leher Wonwoo. Menahan si empunya rumah tempat tinggalnya untuk keluar. "Sebentar saja, hyung. Biarkan seperti ini."
Lekuk bahu kiri Wonwoo menjadi tumpuan bagi dagu Mingyu yang justru asik menghirupi aroma tubuh Wonwoo. Satu tangannya yang lain meraih tangan Wonwoo yang tidak memegang tas, membawanya pada genggaman.
Mingyu menikmati itu. Saat Wonwoo diam saja menerima perlakuannya, ataupun saat Wonwoo tampak risih namun tak bisa berbuat banyak.
Tapi beda Mingyu, beda pula Wonwoo. Dia diam awalnya karena kaget mendapat perlakuan seperti itu. Kemudian tetap diam karena merasa Mingyu hanya terlalu manja seperti Jungkook. Dan tetap diam pula saat Mingyu mulai melakukan hal lain, itu karena tiba-tiba saja tubuhnya tidak bisa digerakan. Mau protes tidak bisa, mau melawanpun demikian.
Seperti ada ular yang melilit tubuhnya.
"Kau tenang saja, hyung. Aku dan Jungkook akan baik-baik saja. Aku janji."
Tubuh Wonwoo menegang saat dirasa hembusan nafas Mingyu semakin dekat dengan tengkuknya. Hangat hembusan udara itu membuat bulunya meremang. Sungguh Wonwoo ingin melepaskan diri dari perlakuan Mingyu ini, tapi tidak bisa entah karena apa. Di lain sisi, Wonwoo juga sedang mengutuk diri sendiri karena merasa tidak ada ruginya menerima perlakuan Mingyu. Seketika isi kepala Wonwoo langsung dipenuhi oleh Jungkook.
Apa yang akan Jungkook lakukan jika tahu kakaknya dapat perlakuan seperti ini? Apa kiranya yang akan terjadi nanti? Bagaimana nasib Wonwoo setelahnya? Bagaimana nasib Mingyu pula? Dan ... Wonwoo enggan membayangkan lebih.
"Hyung, boleh aku tanya satu hal?" Mingyu masih asik menghirupi aroma tubuh Wonwoo saat satu anggukan menjadi jawaban si empunya tubuh. "Kau ... pakai parfum apa? Aromanya sangat menenangkan." Kemudian rengkuhan di tubuh Wonwoo terlepas. "Aku jadi ingin terus memelukmu."
Plak.
Satu pukulan lagi mendarat di kepala belakang Mingyu. Membuat si pemilik kepala mengaduh kesakitan.
"Kenapa aku dipukul?"
"Lain kali jangan pernah berkata seperti tadi lagi. Aku bisa lebih kejam."
"Cih, apa salahnya? Akukan sedang memujimu."
"Aku tidak suka dipuji seperti itu. Terlebih oleh kau, Kim Mingyu."
Mingyu mematung. Sorot mata penuh amarah yang Wonwoo lempar membuat Mingyu sedikit takut. Bukan takut dimarahi lagi, ini lebih pada takut Wonwoo tahu siapa Mingyu sebenarnya. Takut Wonwoo lebih marah dan justru menjauhinya.
"Hyung."
"Apa lagi? Sana cepat berangkat. Kau bisa ketinggalan pesawat nanti."
"Kau dan Jisoo hyung ... kalian—"
"Kami kenapa?"
"Ah, tidak. Lupakan saja." Mingyu mendekati Wonwoo yang akan membuka pintu. Memeluknya sekali lagi dari belakang dan berbisik, "Won hyung, kau harus berjanji untuk tidak dekat-dekat dengan Jisoo hyung selama aku pergi. Jangan terima apapun darinya dan meminjam apapun darinya."
"Kenapa harus begitu?"
"..."
Mingyu hanya diam. Mengeratkan pelukannya pada Wonwoo. Seperti bocah cilik yang ketakutan, laki-laki tinggi bertaring itu justru menenggelamkan wajahnya pada bahu Wonwoo. Sampai Wonwoo kembali bertanya Mingyu tetap bungkam. Dia justru menjawabnya dengan hal lain.
"Pokoknya jangan dekati dia. Kumohon."
"Kalau begitu cepat bawa Jungkook kembali."
"Um. Pasti. Kau tenang saja, hyung. Aku akan kembali dengan Jungkook. Kupastikan juga dia akan aman."
Wonwoo memberi puk-puk pada pucuk Mingyu yang lebih tinggi darinya itu. Mengulas segaris senyum untuk dia yang tampak khawatir pada sesuatu yang tidak jelas dan dibalas dengan senyum yang tak kalah manis dari Mingyu.
"Sana berangkat."
"Baiklah. Aku pergi."
Saat pintu itu kembali tertutup Wonwoo jatuh terduduk. Jantungnya berdegup cepat, kakinya lemas dan Wonwoo rasa seluruh tubuhnya bergetar saat ini.
"Aku ... kenapa?"
—;—
"Kuperingatkan pada kalian berdua untuk tidak ikut campur."
"Mana bisa! Kau sungguh keterlaluan, Wen."
"Cih, aku tidak suka orang seperti kalian. Suka seenaknya menguping dan sok-sokan bertindak seperti pahlawan."
"Tapi kami tahu kami benar dan kau yang salah."
"Apanya yang salah dari memisahkan sesuatu yang harusnya terpisah?"
"Salah. Kau salah, Wen. Sadarlah, kau mau apakan Minghao nanti?"
"Itu bukan urusan kalian. Dan kuperingatkan kalian, jangan menggangguku. Aku bisa bertindak kejam sekalipun pada teman baikku."
"HEY, WEN JUNHUI! TUNGGU DULU! Cih, dia mengabaikan kita."
—;—
Yang Wonwoo ingat, malam itu dia tidur di kamar Jungkook—yang kini menjadi miliknya juga. Tidak ada serpihan ingatan kalau dia pergi ke Jeju dan mendatangi kediaman Madam Jessica. Tidak ada ingatan tentang dia yang berjanji untuk menemui wanita blasteran Mexico-Korea itu. Tapi entah bagaimana sekarang dirinya dihadapkan pada sosok cantik berpenampilan eksentrik, khas Madam Jessica.
"Kenapa, Won?"
Wonwoo menggeleng bingung. "Madam?"
"Iya, ini aku." Wanita itu mendekat, mengisi satu tempat di samping Wonwoo.
Jujur saja, Wonwoo tidak tahu sekarang ia ada dimana. Ruangan itu bukan kamarnya, bukan juga ruang praktek Madam Jessica yang pernah ia sambangi.
"Kita dimana?"
"Di kamarmu."
"Kamarku?" Sekali lagi Wonwoo memastikan pengelihatannya. Tapi ruangan itu tetap tampak asing baginya. "Tapi aku tidak ingat punya kamar seperti ini."
"Jelas saja." Madam Jessica mengusap bahunya seolah membersihkan sesuatu disana. "Ini kamarmu dan pengantinmu."
Wonwoo membelo. Bingung harus bagaimana menanggapinya. Otaknya berpikir cepat mendengar perkataan Madam Jessica.
Kamarnya dan pengantinnya. Berarti saat ini Wonwoo ada di alam goib itu.
"Berarti—"
"Iya, kita ada di alam goib."
"Tapi kenapa bisa?"
Madam Jessica pengusap pucuknya lembut seperti seorang ibu—atau mungkin kakak perempuan. Sambil tersenyum kecut dia berkata, "Seseorang menemuiku kemarin malam. Dia mendatangi mimpiku dan bilang untuk memperingatimu."
"Memperingati? Aku kenapa?"
Usapan di pucuk Wonwoo berhenti sesaat kala Madam Jessica menjawabnya.
"Sebentar lagi kau akan ada dimasa sulit. Adikmu kembali dan itu berjalan sesuai keinginan beberapa pihak yang punya rencana buruk—setidaknya menurutku itu buruk bagimu.
"Mereka akan semakin masuk dalam kehidupanmu dan merusak semua yang sudah kau punya. Aku tahu mereka tidak akan menyakiti kalian secara fisik dan berusaha untuk tidak menyakiti perasaan kalian juga, tapi kalian pasti akan terluka nanti."
"Aku dan Jungkook?"
Madam Jessica mengangguk. Tangan lentiknya kembali mengusap surai hitam halus milik Wonwoo. Memberi si pemilik surai rasa nyaman.
"Won, kau yakin tidak ingin menerima tawaranku waktu itu? Aku sengaja memanggilmu dan bertemu di sini karena aku mencemaskan kalian."
Wonwoo menunduk. "Aku takut, Madam."
"Takut apa?"
"Mengetahui apa yang biasanya tidak bisa kuketahui. Aku takut akan hal seperti itu."
"Tapi kau butuh untuk tahu sebelum mereka merusak hidupmu dan adik kesayanganmu."
Wonwoo mengangguk dan semakin memperdalam tundukan kepalanya. "Tetap saja. Memikirkannya saja aku sudah takut. Terlalu banyak hal yang aku rasa aku tahu itu buruk tapi selalu aku tentang faktanya demi kenyamananku selama ini. Terlalu banyak."
"Apa itu artinya kau sudah mulai mencurigai orang-orang di sekitarmu?"
Wonwoo mengiyakan.
"Aku sudah mencurigai seseorang yang mungkin sudah menikahiku itu. Lalu yang sudah menikahi Jungkook, dan teman yang Madam bilang memata-mataiku."
"Lalu kenapa?"
"Mencurigai dan mengetahui faktanya itu berbeda. Rasanya akan lebih sakit saat aku tahu. Jadi walau lelah terus mencurigai, aku lebih suka seperti ini."
Madam Jessica memeluknya. Memberi kehangatan yang entah mengapa seperti sangat Wonwoo rindukan. "Aku hanya akan memberimu pilihan dan sedikit bantuan. Apapun keputusannya kau yang berhak memilih. Karena nanti kau juga yang akan menjalaninya. Dan tolong pikirkan adik kesayanganmu itu."
"Aku tahu. Terima kasih, Madam."
"Um. Sekarang aku harus pergi."
Wonwoo mengangkat kepalanya. Menahan tangan kecil dari wanita cantik berhati baik itu. "Tunggu sebentar, Madam." Dimintanya wanita itu mengisi tempat di sampingnya lagi. "Bisa jelaskan apa yang terjadi sekarang? Kenapa bisa kita bertemu disini? Lalu mana pengantinku itu?"
Sambil mengulum senyum Madam Jessica menjawabnya. "Kita sedang melakukan apa yang orang-orang bilang sebagai Out of Body Experience. Kita bertemu di alam lain atau dimensi lain yang kita sebut alam goib. Kau mungkin bingung bagaimana bisa sampai di sini, tapi tadi aku sempat memanggilmu dan memintamu datang menemuiku. Itu artinya kau memang punya kepekaan terhadap hal-hal seperti ini.
"Dan lagi pula, ini bukan hal aneh. Sudah banyak orang yang bisa melakukan ini, tapi mungkin tidak banyak yang bisa menentukan mau kemana mereka."
"Lalu caraku kembali?"
"Pikirkan saja kau ingin kembali, dengan sendirinya kau akan kembali."
"Sungguh?"
"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu. Pengantinmu itu sepertinya mulai curiga, tameng yang aku buat untuk pertemuan kita ini sepertinya mulai dia rusak."
"Oh, baiklah. Lain kali bisa kita lakukan ini lagi?"
"Bisa saja. Tapi akan lebih baik jika kita bertemu di dunia nyata. Aku pergi, Won. Jaga diri dan pikirkan baik-baik saranku."
—;—
Wonwoo terbangun karena suara dering ponselnya. Nama Kim Mingyu tertera di layarnya dan membuat Wonwoo mau tidak mau mengangkat panggilan itu.
"Baru bangun, hyung?" Wonwoo bergumam mengiyakan. "Siang sekali? Disana sudah jam sepuluh, kan?" Lagi, Wonwoo bergumam mengiyakannya setelah melihat jam di dinding kamarnya.
"Aku mau mengabarkan kalau aku sudah sampai ... hyung, kau baik-baik saja, kan?"
"Aku baik, kok. Kenapa?"
"Tidak. Hanya perasaaku tidak enak saja." Wonwoo diam menantikan kalimat selanjutnya. "Hyung, kau tidak pergi kemana-manakan malam ini?"
"Tidak."
"Oh, baguslah. Suaramu terdengar serak, kau kecapekan?"
"Mungkin."
Dalam diamnya Wonwoo mengingat-ingat apa yang semalam terjadi. Dan tanpa susah payah seluruh percakapan ia bersama Madam Jessica muncul di kepalanya. Wonwoo mengingat semuanya sejelas ia dapat mengingat apa saja yang terjadi kemarin antara dirinya dan Kim Mingyu.
Berarti yang semalam bukan mimpi.
"Hyung."
"Apa?"
"Tolong tepati janjimu."
Janji? Oh, untuk tidak dekat-dekat Jisoo hyung?
"Iya. Akan aku tepati. Jadi cepat kembali."
"Hyung."
"Apa lagi?"
"...tidak. Ya sudah, aku sudah dapat taksi. Nanti kalau sudah bertemu Jungkook, akan aku hubungi lagi."
"Um. Hati-hati."
—;—
TBC
—;—
Park Rinhyun-Uchiha: tunggu aja lanjutannya, nanti juga kamu tahu siapa yang nikahin Kookie dan gimana keputusannya Wonu. zahra9697: itu yang di atas adegannya udah cukup manis apa belom? Zahra492: aku juga penasaran, kok. Ditunggu aja nanti, hehe. putrifitriana177: haha, cara batalin puasa yang unik tuh, tapi aku nggak mau ikutan ah. Jooheonie Noona: nggak, kok, kak. Jisoo mah baik. Aku juga JiWon shipper, jauh sebelum aku suka Meanie. Cause Jisoo and Wonu is my precious bias. Arlequeen Kim: haha, oke kode kerasnya aku terima. Greget boleh, kok. Tapi jangan sampe ngegigit ya /plak. tutihandayani: ih, kakak mah kalo nebak suka bener. Hahay, Wonu mah gitu kak, suka bimbang dulu. kookies (Guest): Iya, aku juga kesian ama Kookie yang cuma suara doang nongolnya, makanya tuh aku suruh Aming jemput. Eh, aku sempet bingung baca Mphi tau, ternyata itu si V. Okeh, kenapa semuanya udah ketebak sama kamu? Duh. BYDSSTYN: aku juga ngakak waktu nulis. Anti-Mingyu itu apa banget, kan? Aku bukan anak psikologi kok, cuma suka mempelajari aja. Kalo berapa chapter aku juga belom tau. Ditunggu aja nanti sampe aku bisa nerawang kek Madam Jessica. Hehe, untuk pertanyaan yang lain silahkan menebak. Rie Chocolatos (Guest): iya, kak. Kan genrenya supranatural, jadi kudu banyak temennya Ki Kusumo disini. Haha, buatku Kyu udah pantes kok jadi bapaknya Wonwoo. Bapak tiri beda sepuluh taun gitu. Okeh, aku udah nge-clue tuh di atas buat naekin ratenya tunggu sampe lebaran ya, aku nggak akan PHP :D SeungHan17Ever: Manse! Aku juga seneng banget kalo ada yang suka. Eh itu beneran? Kampungnya dimana? Di tempatku ada kasus kaya gitu juga, loh. Kalo di real life aku pengennya dinikahin Wonu aja, lah. /plak hamipark76: okeh, udah aku lanjut nih. Kalo udah dapet pencerahan ya syukur deh. Hehe. wonrepwonuke: oh, aku terharu. Makasih pesan terakhirnya kak. Kakak juga yang sehat ya~ tuh, aku udah ngasih clue kok bakal naek rate nanti, hehe. lulu-shi: iya, kak. Wonu sama Jungkook punya turunan dari ibunya. Buat penjelasannya simak di bawah aja, kak. Hehe. 17MissCarat: oh ya, aku pernah denger pintu dunia lain yang kaya gitu. Yang laya di film-film ya? Dan begitulah Mingyu, suka pilih kasih. Hahay. ketiiiliem: syukur deh kalo udah ngeh. Oke aku lanjut ini~ Re-Panda68: duh, kakak tau banyak ya? Anak psikologi ya? Hehe. itsathenazi: okey, kita anggap yang kemaren tuh fantasi. Eh, kakak sadar ya aku maen Duo Jeon dan Duo Kim. Haha, akhirnya ada yang sadar. Okeh, aku tunggu review kakak di next chapnya. Dan tentang SeBaek, AKU SENENG BANGET TAU KAKAK SUKA MEREKA JUGA. JADI PUNYA TEMEN YANG SAMA-SAMA SUKA MEREKA. Firdha858: duh, kenapa tebakannya bener? Njirr, kakak juga keren. Oke ini aku udah next. svtvisual: aku juga bingung mao bilang apa. Semoga chap ini ngebantu kakak kenal setiap karakternya ya. wonnderella: nggak papa, kak. Aku juga rajin ninggalin typo kok. Kita sama jadinya /plak. restypw: aku juga banyak baper kemaren. Bonekanya bikin kepengen ya? Aku pen beli jadinya. Iya, say. Itu TaeTae emang supranaturalis. Daerin-ssi: oke. Aku siapin ring buat duel mereka dulu, kak. Hehe /plak. NichanJung: iya, kak. Mereka sama-sama maen curang tapi nggak mau dibilang curang. Ngga kaya TaeTae yang diem tapi menghanyutkan. Penjelasan lengkapnya di bawah ya, kak. septhaca: ati-ati, kak. Kalo senyum-senyum di tempat sepi aja. Biar nggak ada yang liat. Hahay. Iya seru kan? Mereka mah, dari dulu kalo ngerebutin Wonu pasti seru. Baebypark: laen kali bacanya jangan tengah malem deh, aku yang bikin aja beraninya subuhan, hehe. Nggak, kok, Jisoo nggak jahat. Akupun tak tega bikin dia jadi jahat. Rate M tunggu sampe lebaran ya? Aku mau menghormati yang puasa. Aku usahain untuk lebih panjang, kok. Nih aku udah update. Hehe
Buat yang nunggin ini FF aku sampaikan terima kasih banget. Buat yang Fav-Fol terima kasih juga. Buat My Lovely Reviewers juga terima kasih banget! Aku bahagia karena ada kalian. /lebay deh/ eh, buat yang menjalankan ibadah puasa selamat menjalankan dan semoga dapat lebih banyak berkah di bulan yang suci ini. BTW, aku seneng banget akhirnya yang review sampe udah sampe angka seratus. Sankyu~
1) Pertama aku mau jawab pertanyaan Kak Lulu-shi yang nanya nikah di alam goib itu bisa cerai atau nggak. Setelah aku tanya-tanya sama beberapa sumber ternyata bisa. Karena kasus di dunia nyata pernikahan alam goib berarti pernikahan manusia dan jin, makanya ada istilah cerai juga. Tapi cerainya itu nggak harus ke pengadilan, kok. Hehe, katanya cukup dengan buat perjanjian denga si jin kalau kitanya mau putuh hubungan sama dia. Kebanyakan sih cerai itu karena si manusia mau nikah di dunia nyatanya. Jadi si jin memahami. Tapi kalo dalam kasus Mingyu-Wonu dan V-Kook aku bakal bikin cara cerai yang beda nanti /spoiler nih/silahkan nebak yang mana yang bakal cerai/
2) Sudah pada taukan ya kalau V yang nikahin Jungkook? Tuh, di atas udah jelas banget Jun ngomong ama siapa. Terus karena udah pada bisa nebak kalau Jun itu mata-matanya TaeTae jadi aku keluarin aja sekalian spoiler tentang dia. Hehe
3) Terus buat kak NichanJung yang tanya apa kalo mata batin Wonu dibuka dia bisa tau yang memantrainya. Jawabnya, iya. Setelah aku tanya-tanya, ternyata membuka mata batin itu fungsinya nggak cuma buat bisa liat Mba Kunti dan kawan-kawan aja. Kepekaan kita pada hal-hal supranatural dan spritual bisa bertambah. Makanya di chapter kemaren aku buat Madam Jessica bilang Wonu mungkin bisa denger suara hati orang lain. Karena membuka mata batin juga bisa bikin kita lebih sadar saat ada orang yang mau berbuat jahat ke kita, apalagi jahatnya itu pake bantuan jin.
4) Tentang Out of Body Experiece alias OBE alias Astral Projection, itu sebenernya bukan hal baru lagi. Kalian pasti tahu, soalnya cara ini sudah sering diadaptasi ke film, buku, manga, anime dll. Dan sebenernya OBE ini bukan lagi masuk kegiatan supranatural, karena setiap orang bisa ngelakuinnya dengan self hipnotis. Caranya juga udah banyak yang ngasih tahu, silahkan browsing aja. Tapi seperti yang Madam Jessica bilang di atas, walau semua orang bisa ngelakuin—asal syarat melakukannya terpenuhi—tapi tetep nggak semua orang bisa nentuin mau kemana dan diwaktu kapan kita mau menjelajahi dimensi lain itu.
5) Lalu-lalu, DEMI APA MV MONSTER EXO ITU BIKIN PENGEN MENGUMPAT! PADAHAL PUASA. Liriknya juga, Im kripik in your heart babe~ Aku sampe nggak berani nonton MV-nya pas siang-siang, takut batal. Baekhyun menggoda banget, apalagi pas di stage Lucky One, YaLuhan itu orang satu minta dikarungin kayanya. Terus-terus, katanya Juli nanti Sebong bakal kambek repacked album! SESEORANG BUNUH AKU SEKARANG! AKU NGGAK KUAT! Sebong bisa banget, nggak mau ketemu sama EXO. Padahal aku ngimpiin kapan Sehun sama Wonu ketemuaan terus poto bareng!
6) Okeh, cukup sudah fangirling-nya. Ternyata banyak yang ngerasain apa yang aku rasain kemaren. Kita sehati /kirim lope-lope/
7) Sekian dulu dariku. Ditunggu reviewnya ya~
Aku pamit—
