Chapter 5: Chapter 5
Mingyu sedang membenahi tas—ketiga milik Jungkook—yang berisi pakaian Jeon muda saat si empunya datang mendekati Mingyu. Duduk di tempat tidur yang Mingyu belakangi saat itu.
"Kim, aku ingin bertanya."
"Apa? Tentang Wonwoo hyung-mu?"
"Iya."
Mingyu melepas pekerjaannya untuk menoleh pada Jungkook. "Kenapa? Brother Complex-mu kambuh?"
"Sialan!" Satu tendangan tiba-tiba dari Jungkook berhasil Mingyu halau dengan tangan. "Jangan mengatakan seolah-olah itu penyakit kambuhan bagiku."
"Kenyataanya seperti itu, bukan?"
"Aish!" Tendangan kedua berhenti di ambang udara. Si pelaku yang memilih membatalkannya. Jungkook kini merasa butuh Mingyu untuk menjadi informan jadi adegan penyiksaan tadi dilanjut lain kali saja. "Aku serius, Gyu."
"Baiklah. Apa yang ingin kau tanyakan?"
Jungkook mendekat, memperpendek spasinya dengan Mingyu hingga sekiranya mata mereka tidak bisa melirik ke arah lain kecuali lawan bicara. "Tapi berjanjilah, kau akan jawab jujur."
"Kita bukan anak SD." Begitu kata Mingyu saat Jungkook menyodorkan jari kelingkingnya ke hadapan Mingyu.
"Tidak mau tahu! Kau harus janji."
"Baik, aku janji."
Setelah janji kelingking tadi selesai mereka lakukan, Mingyu kembali membenahi tas ketiga kawannya itu sambil menyimak keluh kesah Jungkook yang menjadi pembuka sebelum bertanya.
"Perasaanku tidak enak belakangan ini. Won hyung sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu dariku. Setiap aku telepon dia selalu terdengar begitu lelah. Aku ingin bertanya sampai dia menjawab, tapi sepertinya tetap percuma. Dia sebenarnya kenapa ya?"
Mingyu diam. Instingnya berkata Jungkook belum selesai bicara. Salah-salah, tendangan tertunda tadi bisa dilanjut saat ini. Dan benar saja, Jungkook melanjutkan keluh kesahnya.
"Biasanya Won hyung selalu cerewet, tapi belakangan ini dia jadi lebih menerima semua kelakuanku. Dia bahkan membiarkan aku kembali. Kau tahu kenapa?"
"Kalau soal kembalinya kau, Wonwoo hyung memang sudah merencanakannya sejak lama. Tapi dia ragu. Dia takut kau justru marah."
"Kenapa begitu? Dia tahu betul aku sangat ingin bertemu dengannya, aku ingin terus disana dengannya. Sial saja karena permintaan terakhir ayah kami di surat wasiat itu aku jadi terjebak di sini." Mingyu menganguk paham. "Tapi aneh saja, Gyu. Kenapa baru sekarang? Kenapa tidak dari dulu saja. Kau tahu betul dulu aku sempat ada dimasa sulit, kenapa bukan saat itu?"
"Mungkin karena dia baru merasa berani mengambil keputusannya sekarang. Bagaimanapun, ini menyangkut masa depanmu. Adik kesayangannya."
Kali ini Jungkook yang mengangguk paham. Dia kembali mendekati—mendesak—Mingyu.
"Tapi, Gyu. Entah kenapa aku merasa sesuatu terjadi padanya. Aku tidak bisa jelaskan kenapa aku bisa berpikir seperti itu. Hanya perasaanku bilang, Won hyung sedang dalam masalah. Gilanya lagi, belakangan ini aku mulai merasa takut kehilangannya. Aku kenapa ya?"
"Makanya aku bilang penyakitmu kambuh."
Plak!
"Aw!"
"Sial kau! Aku sedang serius tahu."
Setelah menutup resleting tas di hadapannya, Mingyu menoleh pada Jungkook. Matanya menatap marah sang adik ipar. Tapi satu tangannya justru merangkul Jungkook.
"Kau hanya terlalu memikirkannya. Tidak terjadi apapun, kok. Wonwoo hyung masih seperti yang dulu kau ceritakan."
Jungkook memberi satu tonjokan di perut Mingyu. "Jangan seenaknya merangkulku!" Hardiknya. "Aku sedang tidak ingin bercanda. Selama dua puluh tahun aku hidup aku belum pernah merasa setakut ini, kalau kau mau tahu. Aku yakin terjadi sesuatu padanya. Tidak bisakah kau jujur? Aku kenal kau dengan baik, Kim. Kau itu pembohong yang buruk!"
Mingyu mendesah kesal sambil mengusap perutnya yang tadi kena bogem mentah sang kawan. Jungkook berlaku kasar itu biasa, tangan lelaki Jeon satu itu memang sangat ringan sampai setiap ada teman yang terlibat masalah dia akan ikut campur menyelesaikanya. Iya, begitu-begitu Jungkook dulunya preman di sekolah. Bahkan sampai kuliah di luar negeri sekalipun dia masih bisa mempertahankan gelar Preman Salah Alamat yang melekat padanya.
"Lalu aku harus bilang apa? Aku juga tidak tahu masalah apa yang sedang kakakmu hadapi. Aku tahu dia ada pada masa sulit sejak beberapa minggu lalu, tapi dia tidak mengatakan apapun padaku."
Keduanya terdiam.
Mingyu paham betul apa yang ada dalam pikiran kawannya ini, tapi sejak dulu Jeon Jungkook adalah satu-satunya orang yang paling sulit Mingyu jinakan. Adik laki-laki pujaan hatinya ini adalah jembatan Mingyu mendekati Wonwoo, tapi disaat bersamaan Jungkook juga adalah gerbang penghalang yang paling sulit untuk ditembus.
"Kau bisa tanyakan langsung setelah sampai nanti. Kenapa harus repot-repot bertanya padaku?"
"Karena aku tahu Won hyung akan berbohong nanti ... tapi, ya sudahlah, setidaknya sekarang aku yakin dia memang ada masalah. Thanks, Gyu."
"Apapun untukmu, kawan."
"Cih, sok baik sekali kau! Oh ya, ayo temani aku membelikan oleh-oleh."
"Oleh-oleh?"
"Iya, ayo."
—,—
CAST BUKAN PUNYAKU DAN AKU CUMA PINJEM NAMA MEREKA. IDE DAN PLOT MURNI PEMIKIRANKU. KALAU ADA KESAMAAN ITU HANYA KEBETULAN. TERINPIRASI DARI MITOS-MITOS DI INDONESIA DAN BEBERAPA KISAH NYATA.
—,—
You are My..
Romance, Drama, Supernatural, Friendship, Family, Slice of Life,
Rate T (dan mungkin bisa menjurus ke M pada beberapa scene)
Jeon Wonwoo
Kim Mingyu
Hong Jisoo
Madam Jessica (OC)
Jeon Jungkook
Kim Taehyung
SEVENTEEN MEMBER
Warning: FF orang labil. Typo. Menjurus ke OOC. BL. YAOI. SHOUNEN-AI. Kalau nggak suka bisa pergi baik-baik.
—,—
Wonwoo harus berlari menerobos beberapa kerumunan mahasiswa demi menemui seorang kawan yang membolos dua mata kuliah hari ini. Padahal dari pagi tadi Wonwoo sudah berencana untuk mengajak orang itu ikut acaranya malam nanti, tapi baru setelah makan siang Wonwoo tahu kemana makhluk bernama Hong Jisoo itu menghilang.
"Jisoo hyung!"
Jisoo menoleh dan melepas headphone yang menutup satu telinganya tadi. Gitar di pangkuannya ia turunkan demi memberi pemuda Jeon yang mendekatinya sambil terengah itu tempat duduk. Jisoo memandangnya heran, bahkan memberinya botol air mineral yang belum sempat ia minum pada Wonwoo.
"Ada apa? Kelihatannya kau buru-buru sekali."
"Hyung, kenapa kau bolos? Aku mencarimu dari tadi pagi, tahu!"
"Mencariku?" Wonwoo mengangguk dengan mulut penuh air. "Kenapa?"
Setelah menutup kembali botol air mineral tadi dan mengenbalikannya pada si empunya Wonwoo baru memberi jawaban.
"Malam ini Jungkook dan Mingyu sampai. Aku berniat membuat pesta kecil untuk menyambut mereka, tapi ... hyung, kau tahu betul apa kelemahanku, kan?"
Jisoo mengulum senyumnya, gemas melihat betapa lucunya ekspresi Wonwoo barusan. Tangannya jadi tidak bisa ditahan untuk tidak menyentuk Wonwoo. Hanya usapan gemas di pucuk Wonwoo, tapi Jisoo senang bukan main saat sadar Wonwoo tidak menolak sentuhannya itu.
"Masak, kan? Baiklah, aku bantu. Tapi itu artinya kau punya hutang lagi padaku."
Bibir tipis Wonwoo mengerucut tanda sebal, tapi dia tidak memprotesnya.
"Omong-omong, kau ajak siapa saja?" Jisoo kembali mengambil gitarnya, meneruskan apa yang tadi sedang ia lakukan.
"Hanya Jisoo hyung."
Jisoo berhenti sejenak untuk menoleh. Tapi Wonwoo justru memandangnya bingung.
"Hyung, kau yang mengaransemen lagu ini?" Jisoo mengangguk, melanjutkan petikannya pada senar gitar. "Wah~ keren. Ini untuk audisi yang kau bilang itu?"
Jisoo mengiyakannya santai. Dia bahkan mengulang lagu yang ia aransemen ulang itu dan menyanyikannya di hadapan Wonwoo hingga selesai. Sengaja membuat kawan kesayangannya itu duduk lebih lama di sana.
"Bagaimana?"
"Keren! Kau pasti lolos, hyung."
"Haha, tapi sayang aku tidak berharap untuk lolos."
"Loh, kenapa?"
Jisoo memetik gitarnya hingga terdengar alunan nada lullaby yang seolah mengalir searah dengan hembusan angin. Dia asik bermain seperti itu dan membuat Wonwoo menanti jawabannya.
"Ah~ Hyung!"
"Haha, kenapa? Menangnya tidak boleh? Aku bilang aku hanya ingin mencoba ikut audisi. Aku tidak pernah bilang ingin menjadi penyanyi atau idol."
Lagi, Wonwoo merengut sebal.
Tapi Jisoo tidak masalah, toh dia sendiri tahu Wonwoo tidak akan meninggalkannya dalam waktu dekat ini. Yang Jisoo takut adalah nanti, saat Wonwoo sudah benar-benar tahu seperti apa lingkaran yang mengelilingi hidupnya dan sang adik. Jisoo yakin betul, salah sedikit saja, ia mungkin akan kehilangan Wonwoo. Jadi selagi ada waktu, selagi Jisoo masih bisa berada di dekat Wonwoo seperti ini, Jisoo ingin Wonwoo sadar seberapa berharapnya Jisoo pada Wonwoo.
"Lagi pula ... jika aku lolos audisi, lalu menjadi artis atau idol nanti aku jadi tidak bisa dekat dengan orang yang kusayang. Aku tidak suka hal seperti itu."
Wonwoo mengangguk-angguk setuju. Dia bahkan menambahkan, "Aku juga lebih suka Jisoo hyung yang seperti ini."
"Kau menyukaiku? Sungguh?"
Anggukan pasti dari Wonwoo membuat sebuah senyum pahit terpati di wajah bersahaja laki-laki Hong itu.
"Kuharap kau akan tetap menyukaiku nanti. Tidak membenci aku dan menyesal mengenalku. Atau paling tidak—"
"Apa sih yang kau bicarakan, hyung? Aku tidak mungkin seperti itu. Tenang saja."
Wonwoo membenahi barang-barang Jisoo dan memaksa Jisoo untuk ikut masuk kelas mata kuliah terakhir mereka hari ini sebelum harus membantu Wonwoo menyiapkan pesta kecil menyambut Jungkook dan Mingyu.
—
"Taehyung hyung."
Taehyung menoleh dan mendapati Soonyoung mendekatinya.
"Mau ke perpustakaan, kan? Bareng ya?" Taehyung mengiyakan dan kembali melangkah bersama si junior itu.
"Omong-omong, hyung. Kau mengenal Jungkook adiknya Wonwoo, ya?"
"Iya. Kenapa—ah, kau tahu dari mana aku kenal Jungkook? Aku tidak ingat kalau aku pernah cerita tentang itu padamu."
"Dua hari lalu Jisoo hyung dan Wonwoo mampir ke kafe tempat aku kerja paruh waktu. Aku dengar banyak saat itu. Kau seperti pahlawannya Jungkook saja, hyung."
Taehyung terkekeh pelan. "Pahlawan apa? Kau mengejekku?"
"Tidak." Dia menggeleng. "Aku rasa kalau kau tidak meyakinkan Wonwoo, Jungkook tidak mungkin bisa kembali secepat ini. Karena Wonwoo itu benar-benar seorang pengecut jika berkaitan dengan nasib adiknya."
Taehyung tidak menampik hal itu. Nyatanya Taehyung hampir memilih pakai cara kotor untuk membuat Jungkook kembali ke Korea. Tapi untung bagi Taehyung—bagi Wonwoo juga—karena itu tidak terjadi. Jeon Wonwoo itu beruntung karena pengantinnya datang di waktu yang tepat, begitu pikir Taehyung.
"Aku juga sempat menyarankan pada Wonwoo agar membawa adiknya pulang, tapi dia menghiraukanku. Cih, bocah itu pemilih betul."
"Haha, kau seperti tidak kenal Jeon Wonwoo saja." Mereka sama-sama menapaki tangga menuju perpustakaan—yang kebetulan justru berada di lantai paling tinggi gedung kampus mereka. "Tapi, Soon. Sepertinya kau kenal betul dengan Jungkook."
"Tentu saja. Aku ada di kelas yang sama tiga tahun berturut-turut dengan si Pilih Kasih itu. Aku sudah seperti mata-mata yang mengawasi Wonwoo bagi Jungkook."
"Oh~ jadi Jungkook itu tipe yang suka ingin tahu urusan kakaknya ya?"
Anggukan antusias menjadi jawaban dari dia yang berjalan dengan Taehyung saat ini. "Baik Jungkook ataupun Wonwoo; keduanya adalah pengidap Brother Complex akut."
"Sebegitunya?"
"Nanti kalau Jungkook sudah kuliah di sini, kau bisa lihat sendiri seberapa akutnya penyakit mereka itu, hyung." Soonyoung membuka pintu perpustakaannya. "Oh ya, kau tahu dimana Wen Junhui, hyung?"
"Tadi aku bersamanya di kafetaria. Mungkin masih di sana."
"Oh. Kalau begitu aku duluan. Jihoon menungguku." Soonyoung menunjuk sosok lelaki mungil yang sibuk membaca sebuah buku tebal di satu pojok ruangan luas itu. Segaris senyum ramah ia sugukan untuk sang senior sebelum berbalik dan mendekati kekasihnya.
"Haha, dasar."
—,—
Wonwoo mengakui jika dirinya pandai membuat fast food dari beberapa jenis campuran makanan ringan. Pintar meracik agar terkesan lebih berfariasi maksudnya. Tapi untuk urusan masak makanan (yang dimaksud disini adalah makanan sungguhan. Sesuatu yang dimasak dari bahan mentah dan disulap menjadi hidangan di meja makan) Wonwoo memilih angkat tangan. Baik dirinya maupun sang adik; tidak satupun dari mereka yang bisa melakukan itu.
Pesan dari restoran keluarga. Pergi makan keluar. Menumpang makan di rumah kawan. Itu adalah pilihan yang lebih baik bagi Wonwoo, dan mungkin Jungkook.
Tapi, sejak ada Mingyu di rumahnya Wonwoo hampir tidak pernah makan di luar. Bahkan kantin kampus sekalipun sepertinya jarang ia sambangi. Dan semua itu karena Kim Mingyu. Lelaki jangkung (cerdas, tampan, mempesona) dan pintar masak, yang kini tinggal bersama dengannya.
Tapi ketika Mingyu tidak ada, membuat pesta selamat datang untuk Jungkook sendiri rasanya sedikit rumit. Maka satu-satunya pilihan Wonwoo adalah Hong Jisoo.
Sebenarnya ada Lee Seokmin yang benar-benar bisa diharapkan, tapi apa daya Wonwoo jika yang bersangkutan menolak dengan alasan ada kencan dengan mantan teman sekelasnya.
Begini-begini Wonwoo adalah orang baik. Jadi setidaknya merusak rencana kencan kawan masuk dalam daftar perilaku jahat baginya.
"Won, tolong ambilkan lada bubuk."
"Lada ya? Baik. Tunggu sebentar, hyung."
Lemari dapur Wonwoo sebenarnya tidak kosong, bahkan sebelum Mingyu datang. Tapi isi lemari-lemari itu hanya makanan instan. Beberapa bahan masakan seperti garam, gula, minyak dan kawan-kawannya tersedia di sana, tapi semua hampir tidak ada gunanya.
"Ini, hyung."
"Terima kasih, Won." Wonwoo tersenyum miris.
Dari waktu belanja sampai sekarang masakan terakhir dalam proses, dirinya hampir tidak melakukan apapun kecuali menjawab pertanyaan Jisoo (tentang ketersediaan bahan saat belanja tadi) dan membantu mengambilkan bahan (yang memang sudah ada di lemari dapurnya). Sisanya Jisoo yang mengerjakan.
"Sekarang bisa kau siapkan meja makannya?—oh, lebih baik jangan di meja makan. Di ruang keluarga sa—"
Ting-tong!
"Itu pasti mereka."
Wonwoo langsung pergi meninggalkan dapur. Buru-buru membuka pintu dan menyambut adik kesayangannya.
"Kook!"
"Won hyung!"
Satu pelukan erat menjadi sambutan selamat datang untuk sang adik. Mingyu—yang berdiri di belakang Jungkook dengan barang-barang Jeon muda itu—dan Jisoo—yang akhirnya menata sendiri makanan di meja ruang keluarga—mereka abaikan begitu saja.
Sekitar satu menit berlalu barulah kedua Jeon besaudara itu melepas pelukan rindu mereka. Tapi masih sedikit mengabaikan keberadaan Mingyu dan Jisoo keduanya berjalan menuju ruang keluarga.
"Jisoo hyung, apa kabar?" Jisoo mendapat satu pelukan akrab dari adik kesayangan Wonwoo itu. "Selama aku tidak ada, kau pasti sudah banyak membantu Wonwoo hyung. Terima kasih banyak."
"Sama-sama." Mingyu memutar bola matanya jengah. "Omong-omong bawaanmu banyak juga."
"Ah, iya." Dan akhirnya Jungkook sadar jika sejak tadi Mingyu yang akhirnya mengambil alih beberapa tas bawaannya. "Maaf, Kim. Taruh saja di sana. Kau duduklah. Jisoo hyung sudah memasak untuk menyambut kita. Lebih baik makan dulu."
Mingyu menurut saja. Mengisi satu tempat yang berhadapan dengan Wonwoo, tapi eksistensinya masih kalah jauh dengan keberadaan Jungkook disana.
Dan pesta penyambutan itu berakhir setelah duet permainan gitar Jisoo dan Wonwoo—yang mendapat hadiah gitar baru dari Jungkook. Mingyu hampir tidak punya banyak waktu dengan Wonwoo. Pengantinnya di alam goib itu terlalu sibuk dengan si adik yang baru pulang dan kadang dengan Jisoo.
—,—
"Hyung."
"Ya? Ada apa, Gyu?"
Wonwoo baru selesai mandi saat tiba-tiba Mingyu menghadangnya di dapur. Dari sorot mata si jangkung itu, Wonwoo tahu betul ada hal yang salah. Sesuatu yang salah, yang mungkin membuat Mingyu tampak marah. Dan kalau Wonwoo ingat-ingat, hal itu pasti tentang Jisoo.
"Kau sudah berjanji padaku sebelum aku berangkat menjemput Jungkook waktu itu."
"Maaf, Gyu. Tapi aku tadi benar-benar butuh bantuannya. Kau tahu betul kalau aku tidak bisa masak."
"Memangnya siapa yang minta kau memasak demi pesta penyambutan? Jungkook tidak memintanya, kan?" Wonwoo diam saja saat Mingyu mendesaknya hingga menyentuh almari dapur. "Aku benar-benar tidak suka pada orang itu, kau tahu?"
"Ya, lantas aku juga harus menjauhinya? Aku dan dia tidak punya—"
"Won hyung."
"Oh, ada apa, Kook?"
Berkat Jungkook, Wonwoo berhasil lepas dari kekangan Mingyu. Ah, sebenarnya tanpa Jungkook datangpun Wonwoo bisa menghindari Mingyu, tapi entah mengapa tadi tubuhnya lagi-lagi seperti dililit ular. Kaku. Sulit bergerak. Bahkan bernafaspun sulit. Padahal Mingyu tidak melakukan apa-apa padanya. Hanya memagangnya, mencegah Wonwoo pergi menghindarinya. Tapi efek yang timbul benar-benar diluar kuasa Wonwoo.
"Ayo tidur." Jungkook meraih tangan sang kakak untuk ikut. "Kau juga tidur sana, Kim. Perjalanan kita cukup panjang tadi. Kau harus istirahat." Begitu katanya sebelum menutup pintu. Meninggalkan Mingyu sendiri di dapur yang hanya mengandalkan cahaya dari ruang kamar Mingyu.
Sambil menahan kesal Mingyu memilih duduk di satu kursi makan. Menunggu sesuatu.
—,—
"Hyung, belakangan ini kau dekat dengan Mingyu juga ya?"
"Diakan tinggal disini, Kook. Mana bisa aku hiraukan. Lagipula dia itu temanmu. Nanti kalau dia tidak kerasan disini, kau pasti marah padaku."
Jungkook yang sudah berbaring pada satu sisi tempat tidur mereka terkekeh menatap Wonwoo yang masih asik mengusap rambut. Aroma shampo yang Wonwoo pakai sudah menyebar keseluruh bagian kamar dan Jungkook sama sekali tidak terganggu dengan itu. Dia justru ingin membuat kakaknya mandi lagi esok pagi dan bisa bangun karena aroma yang sama seperti malam ini.
Jadi saat Wonwoo membaringkan tubuh di samping Jungkook, si Jeon muda itu langsung mengurung Wonwoo di bawahnya.
"Kau baru sampai. Lebih baik istirahat."
Jungkook menyeringai kecil. Dia membuat Wonwoo merinding (dengan sensasi senang) dan geli di waktu bersamaan.
Kedua lutut Jungkook menjadi tumpuan yang mengurung pinggang Wonwoo. Tangannya tepat berada di atas bahu Wonwoo. Menjaga agar sang kakak tidak lari darinya malam ini.
"Aku baik-baik saja. Kau harusnya tahu kalau aku benar-benar merindukanmu, hyung. Dan merindukan ini."
Seringaian Jungkook melebar saat satu tangannya menyusup masuk ke balik kaos oblong yang Wonwoo kenakan. Kepalanya merendah dan berbisik. "Memangnya tubuhmu tidak merindukanku, hyung?"
Wonwoo yang niat awalnya ingin menolak akhirnya berubah pikiran karena Jungkook yang dengan begitu agresif mencium bibirnya.
Oh~ ini benar-benar bukan salah Wonwoo. Salahkan Jungkook dan sikap manja bocah itu setiap kali di dekat Wonwoo. Mana bisa Wonwoo menolak godaan adiknya tercinta.
Iya, cinta.
Adik kesayangan Wonwoo ini adalah orang yang paling Wonwoo cintai di dunia setelah kedua orang tuanya tiada. Dan arti kata cinta di sini sama dengan cinta yang biasanya orang-orang jabarkan pada pasangan mereka. Bukan sekedar cinta seorang kakak pada adiknya. Cinta Wonwoo pada Jungkook bermakna lebih, begitu pula sebaliknya.
"Kau benar-benar jahil, Kook. Aku baru mandi tadi. Tahu akan seperti ini aku tidak akan mandi."
Jungkook terkekeh pelan seraya menarik naik kaos oblong Wonwoo dan menunduk. Siap ingin menyantap tubuh sang kakak kalau saja—
Tok-tok-tok.
"Apa kalian sudah tidur?"
—suara itu tidak mengintrupsi.
Jungkook kesal. Gerakannya tertahan. Dia bingung antara ingin mengabaikan ketukan Mingyu di luar itu kemudian melanjutkan aktifitas malamnya dengan sang kakak atau membukakan pintu untuk sang sahabat.
Tok-tok-tok.
"Jungkook, Won hyung, apa kalian sudah tidur?"
Dan pilihan Jungkook jatuh pada opsi kedua.
"Belum." Dia membuka pintu. "Ada apa?" Katanya sinis (dia mencoba menutupi itu tapi gagal).
"Oh itu, aku ingin minta bantuan Won hyung mengerjakan tugasku."
"Memangnya tidak bisa besok saja?"
Mingyu terlihat sama sekali tidak terganggu dengan nada sini Jungkook padanya.
"Sebenarnya, Kook, ada tugas yang harusnya sudah aku kumpulkan pada Profesor Cho kemarin, tapi karena menjemputmu aku tidak sempat mengerjakannya. Sudah begitu aku juga masih bingung."
Sorot mata Jungkook masih sama seramnya dengan saat dia membuka pintu beberapa detik lalu.
"Ayolah, Kook. Aku hanya pinjam kakakmu sebentar."
"Tidak apa-apa ya, Kook. Mingyu kan sudah repot-repot menjemputmu juga."
Terpaksa. Jungkook mengangguk karena terpaksa setelah Wonwoo yang memintanya.
Jadi sekitar lima belas menit Jungkook hanya terbaring di tempat tidurnya sampai Wonwoo datang dan kembali berbaring di sampingnya.
"Jadi? ... kau ingin melanjut yang tadi itu atau tidak?"
Jungkook menggeleng.
"Tidaklah. Moodku benar-benar sudah rusak. Aku tidak mau terus kau sindir karena 'bermain kasar' di malam pertama aku kembali."
Wonwoo tertawa lumayan keras. Mingyu di kamarnya mungkin mendengar tawa itu.
"Terus saja tertawa."
"Maaf-maaf."
"Tapi, Hyung." Jungkook sengaja memberi jeda hingga tawa Wonwoo (yang cukup membuatnya makin naik pitam) reda dan suasana kamar kembali tenang. Menimbulkan sepercik rasa penasaran dalam diri Wonwoo. "Sebagai gantinya aku ingin kau menjawab pertanyaanku."
"Tentang apa?"
"Berjanji dulu kau akan menjawab semua pertanyaanku dengan jujur."
Wonwoo diam sejenak, menimbang-nimbang sebelum akhirnya Jungkook mendesak ia mangatakan ya.
"Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"
—,—
Di kamar lain Mingyu mengulum senyum. Raut wajahnya tampak sangat lega setelah Wonwoo membantunya mengerjakan tugas dan meninggalkan kamarnya.
"Paling tidak bukan malam ini." Gunamnya saat mematikan lampu. "Aku bisa gila jika mendengar suara-suara aneh mereka saat bercinta—ah, tidak-tidak. Aku bahkan tadi sudah hampir gila dengan semua pikiran kotor itu."
—,—
TBC
—,—
Yuhuu~ pakabar semua? Sebelumnya mau lebaran dulu (biar kata lebarannya udah lewat jauh banget) Mohon maaf lahir dan batin ya. Aku pasti punya banyak salah sama kalian sekalian para pembaca. Dan salah satunya karena terlalu ngaret. Hehe
Tapi jujur aja, karena tahun ajaran baru aku jadi rada sibuk. Ngurus MOS, daftar siswa baru. Buku perpus. Terus dokumentasi MOS juga. Untung nggak sampe ikut kemping. Jadi bisa ngebut nyelesain ini. Hehe /alesanku baguskan? Semoga bisa diterima/plak
Trims buat: SeungHan17Ever, wonnderella, Driedleaves, Daerin-ssi, Arlequeen Kim, Park Rinhyun-Uchiha, Re-Panda68, Rie Cloudsomnia (Guest), Iceu Doger, zahra9697, Firdha858, equuleusblack, lulu-shi, svtvisual, wonrepwonuke, tutihandayani, 17MissCarat, putrifitriana177, calmwonwoo (Guest), Beanienim, Baebypark, Mrs. EvilGameGyu, blackjackcrong, hamipark76, Ara94, restypw, Mbee (Guest), kookies (Guest), seira minkyu, Zizisvt (Guest), itsathenazi, Honeylili, vidy (Guest). Maaf banget ya, aku ngga bisa bales review-nya satu-satu. Tapi dichapter selanjutnya aku usahain buat bales setiap review.
1) Sejujurnya aku kepengen publis chapter ini pas ulang tahun Wonwoo kemaren. Tapi apa boleh buat, tanggal 17 itu tanggal yang sibuk buatku. Harus nyiapin tahun ajaran baru dan syukurnya masih sempet buat publis di bulan ini. Hehe, miyane~
2) Terus itu yang minta naik rate, aku udah kasih pembukaan dan tanda yaa di atas. Tapi aku masih mau belajar cara bikinnya. Tolong dimaklumi, aku pemula untuk adegan M di FF BL. Tapi kalo ada yang mau bantu, aku siap banget ngimak. :D
3) Pada kaget ya? Ada yang kaget nggak nih? Itu tuh yang Wonwoo-Jungkook. Kalau ada, aku bener-bener bahagia. Padahal udah aku spoiler dari chapter dua sampe chaper empat. Tapi kayanya nggak ada yang terusik sama istilan 'adik kesayangan'. Jadi jangan salahkan aku kalau pada kaget ya~ /kabuuuur/
4) Eh, supranaturalnya berasa ngilang ya? Nggak kok. Nggak ngilang. Karena aku motongnya pas bagian di atas itu, jadi rasanya kaya genre supranaturalnya ngilang deh. Hehe, padahal mah ngga kok.
5) Terus-terus ya~ aku lagi galau gara-gara buku Me Before You yang Wonwoo rekomendasiin itu. Malah udah nonton pilemnya juga. Pengen banget masukin beberapa adegan dari Me Before You itu ke FF ini tapi bingung siapa yang jadi Lou siapa yang jadi Will. Dan aku ngga tega juga kalo ada yang harus mati. TIDAAAAK! JANGAAAAN!
6) Sekian dulu ya dariku. Kita ketemu lagi di chapter selanjutnya nanti. Kutunggu review kalian semua. /kucinta kalian para bias/ eh salah/ maksudnya para pembaca/
7) Aku pamit—
