Langkahnya gontai, ragu, gusar, atau apalah. Matanya melirik ke samping berkali-kali, ke belakang sesekali. Dia menggaruk punggung lehernya tanda tak nyaman. Decakan kecil juga terlontar, bukan Kaneki yang biasanya.

Bahwa rambut hitamnya sore ini acak-acakan. Tidak sempat meraih Dear Kafka yang seharusnya bisa menghibur disaat seperti ini. Dia hanya berjalan mondar-mandir, berusaha tidak memikirkan apa-apa namun justru semakin kepikiran. Dia cemas.

.

The Colour You Brought Me

Tokyo Ghoul, owned by Ishida Sui

I do not own anything but the fanfic _(:3/ [)_

.

Hide x Kaneki (Shounen Ai)

Warn : Typo(s), kegajean maksimal, homoan, homoan, homoan, homoan, OOC, homoan, homoan, dan warn-warn seperti di fanfic lain

.

This is Shounen-Ai fanfiction, if you do not like the content please do not read (DLDR)

.

Thanks for coming and please, enjoy~

.

Dia menunggu sahabatnya, sudah satu jam lebih. Tidak, Kaneki bukan orang yang mudah kesal. Jadi kesimpulannya, dia hanya cemas. Dia khawatir. Apakah Hide kecelakaan di tengah jalan? Apakah Hide ada urusan tiba-tiba? Apa Hide... dimangsa-? Kaneki memukul kepalanya, mengaduh, sakit. Jelas saja, siapa yang tidak sakit kalau kepalanya dipukul. Kaneki membuang jauh-jauh prasangkanya walau sebenarnya tidak benar-benar bisa dibuang.

Matanya kembali melirik kesana kemari. Rambutnya yang sudah acak-acakan semakin diacak. Dia mendengus, berdecak, bertanya-tanya, ingin berteriak—namun takut disangka gila.

"Kaneki?"

Sampai sebuah suara mengembalikan kewarasannya, Kaneki menoleh buru-buru. Touka berdiri disana membawa kantung kertas dari supermarket. Kaneki buru-buru melepas tautan alisnya yang berkerut dan memasang senyum terbaik (walau aneh) pada wajahnya. Menggaruk tengkuk sebentar dan menjawab Touka sambil cengegesan, "Touka-san... Ah, kebetulan ya bisa bertemu.."

Touka tidak menjawab lagi. Dia menatap kosong pada jari-jari Kaneki yang bertautan dan saling meremas. Gadis berambut ungu gelap itu lantas bergumam, "Tumben sekali tidak bawa buku."

"Eh, apa?" Kaneki mendengar sedikit gumaman Touka. Touka menggeleng cepat. Bahkan dia tidak perlu bertanya sedang apa Kaneki mondar-mandir di pojokan taman. Dilihat dari gestur dan wajahnya yang memanas saja Touka sudah bisa menyimpulkan, dia menunggu Hide — dalam waktu yang tidak sebentar. Touka hanya berbalik lantas menepuk bahu Kaneki, tidak berkata apapun. Hanya seperti meninggalkan keberkatan pada pemuda itu. Kaneki makin cemas sekarang, Hide belum datang juga, bahkan sampai Touka pergi.

Namun tak selang beberapa menit, Hide menampakan batang hidungnya. Manik gelap Kaneki membulat hangat, lega, akhirnya dia melihat lambaian Hide dari seberang jalan. Kaneki baru hendak balas melambai, sebelum matanya menangkap kilatan cahaya lampu lalu lintas pejalan kaki yang entah bagaimana kini berubah merah. Hide masih berlari disana. Kaneki memekik, tangannya gemetar, ikut berlari ke jalan saat Hide menginjakkan kakinya pada aspal jalanan.

Tidak, tidak sempat.

Kaneki terbanting ke belakang oleh tekanan dari van hitam yang melaju sembrono. Mendorong Kaneki sampai ke pojok jalan dan menghantam Hide. Kaneki buru-buru mendekati tubuh sahabatnya yang ternoda darah dari bagian pelipisnya. Aduh, tidakkah orang lain melihat. Hanya beberapa orang yang berlalu melewati mereka, bersimpati, namun memilih untuk lanjut jalan.

Namun seorang pria tinggi besar berwajah tegas dengan rahang terkatup menghampiri mereka. Tidak bertanya, lengan berototnya mengangkat tubuh Hide. Matanya kesana kemari melihat kalau-kalau ada bantuan, "Panggil ambulans, temanmu kehilangan banyak darah, " perintahnya pada Kaneki. Kaneki gelagapan merogoh saku dengan tangannya yang masih berlumur darah, meraih ponsel dan menelepon ambulans. Pemuda berambut hitam itu shock setengah mati. Dadanya menderu, apa Hide baik-baik saja? Apa Hide akan selamat? Apa Hide masih bisa ditolong? Dadanya semakin kacau, pikirannya kalut. Dia mulai menggumam tidak jelas. Sedangkan pria tinggi tadi sibuk mengikatkan saputangan entah dari mana pada kepala Hide untuk menghentikan pendarahan sementara.

"Namamu?" Tanya lelaki itu.

"Kane..ki..." Kaneki masih setengah sadar saat menjawabnya. Degupan di dadanya membuat sesak, dia lebih, lebih dari cemas untuk bicara.

"Aku Amon, Amon Koutaro, kebetulan sedang patroli di daerah sini..." Pria tinggi itu tampaknya bercerita. Entahlah, Kaneki tidak dengar. Dia sibuk menenangkan perasaannya yang berkecamuk mencabik pikiran yang sudah kalut jadi semakin kusut. Dan sirine akhirnya terdengar. Bagai mendengar nyanyian malaikat surga, Kaneki memekik, cepatlah. Hide butuh pertolongan segera. Ayolah, ayolah!

Dan ambulans itu melesat, ngebut. Orang yang melihat itu akan berpikiran, pasti orang yang ada dalam ambulans itu akan mati begitu tiba di rumah sakit. Yah, asumsi yang ditimbulkan ketika kau membayangkan orang sekarat di angkut ambulans super ngebut, kalau terlalu banyak terguncang maka resiko kematian semakin besar. Bukan berarti Hide akan mati, itu hanya asumsi. Hide akan selamat, atau begitulah pikit Kaneki.

To Be Continued

Catatan kaki : Fanfiction pertama saya yang barusan magang di web ini. Yah, pendek sekali untuk ukuran satu chapter, jadi mungkin tidak ada yang tertarik dengan kelanjutannya.Spoiler Alert!Saya ingin membuat Ken depresi disini. Namun bukan karena dirinya yang menjadi ghoul setelah mengencani perempuan cantik. Tapi lebih karena sahabatnya, saya ingin Kaneki merasakan desperate karena Hide. Jadi kemungkinan Hide akan saya matikan lebih besar daripada membiarkannya selamat dan hidup. Jadi yah, terimakasih sudah mampir *bows*-CastorDioscuri