Gadis bermata gelap itu menatap dua pemuda yang berbincang akrab di meja seberang kasir, paling dekat dengan pintu masuk ke Anteiku. Dia menuliskan pesanan dan berdalih ke cangkir-cangkir keramik di gantungan etalase, meracik satu-persatu kopi pesanan. Namun matanya sesekali tetap melirik mereka berdua. Bukan heran, bukan penasaran, tapi marah.

.

The Colour You Brought Me Before

Chapter II

Tokyo Ghoul, owned by Ishida Sui

I do not own anything but the fanfic _(:3/ [)_

.

Hide x Kaneki (Shounen Ai)

Warn : Typo(s), kegajean maksimal, homoan, homoan, homoan, homoan, OOC, homoan, homoan, dan warn-warn seperti di fanfic lain

.

This is Shounen-Ai fanfiction, if you do not like the content please do not read (DLDR)

.

Thanks for coming and please, enjoy~

.

Kaneki diberi istirahat satu jam hanya karena kawannya, Hide, berkunjung. Touka sudah bilang pada Kaneki untuk tidak terlalu sering berbincang di cafe mereka lagi, "Bahaya, dia bekerja untuk para merpati." Kaneki tahu itu. Namun bagaimana ya, mereka jarang sekali bertemu belakangan ini. Nasihat Touka hanya dipajang di pojok, paling pojok pikirannya. Diingat, namun tidak diindahkan.

Hide membawakan Kaneki burger dari toko yang baru buka di dekat kantor para investogator. Kaneki meringis, mau tidak mau dia harus memakannya. Walau muak, mual. Mulutnya seperti dipenuhi oleh sampah bekas muntah atau kotoran binatang, entahlah, namun Hide membawakannya kali ini.

"Kau tidak suka burgernya, Kaneki? Seingatku kau tidak alergi daging sapi, lho.." Hide menatap cemas dari balik gelas americanno-nya.

Kaneki menggeleng. Dia tersenyum dan menelan burger rasa kotoran kuda itu bulat-bulat tanpa mengunyahnya lama-lama — atau dia akan menyiksa indra pengecapnya sendiri. Jari Kaneki meremas-remas ujung kemeja kerjanya di bawah meja, berusaha menahan muntah dan rasa jijik yang mengoar di tenggorokan. Hide bukannya tidak memperhatikan, dia masih mengintip dari balik kepulan asap.

Mencemaskan Kaneki bukan hal yang berguna. Apapun yang kau tanyakan; masalah yang menimpanyakah, atau apakah dia sedang sakit, dia hanya akan tersenyum kaku dan menyatakan bahwa dia baik-baik saja. Bukan tipe orang yang Hide sukai namun Hide tetap menyukainya.

"Aaah lihat wajahmu itu," Hide tidak tahan untuk mengoceh, "wajah memelas. Seperti orang yang sekarat, ya ampun, Kaneki, kau harus cari teman lain selain aku!"

"Orang seperti dia mana bisa," guman Touka yang sedang mengantarkan kopi ke meja di seberang mereka. Kaneki mendelik, dibalas sengatan mata Touka yang jelas lebih mengerikan daripada miliknya — atau milik siapa pun. Kaneki meringis, "Jangan salahkan aku soal itu-"

"Aku hanya tidak suka melihat wajahmu kalau kesepian begitu, jelek," Hide meniup gelasnya. Membuat uap dari kopi menebal dan merebak. Menyebarkan wangi americanno yang walau tidak seberapa wangi dibanding robusta. Kaneki menunduk, agaknya salah tingkah, "Enak saja," hanya itu responnya. Touka memutar mata, menghentak kakinya dengan tenaga berlebih saat menjauh dari meja mereka. Isyarat untuk Kaneki agar tidak lama-lama bermalas-malasan untuk mengobrol dengan Hide sementara yang lainnya bekerja. Namun Kaneki tetap acuh, ayolah, dia tidak punya banyak waktu untuk berbincang dengan Hide seperti ini. Memaksa Hide untuk membaca karya Takatsuki Sen sudah menjadi ritual yang wajib tiap mereka memulai percakapan. Atau gosip Hide tentang adanya senior cantik di kantor investigator, kalau tidak salah namanya Mado Akira. Kaneki tidak kenal siapa dia, tapi sepertinya dia familiar dengan marga Mado ini.

Namun mau sesering apapun mereka berusaha meluangkan waktu untuk sekedar bercakap atau berjalan di taman bersama, Kaneki masih belum pernah mengangkat topik tentang apa yang menarik minatnya sebelumnya. Ghoul. Dia tidak pernah lagi bertanya pada Hide kira-kira bentuk ghoul itu seperti apa. Tidak pernah lagi berdiskusi tentang patroli para merpati yang semakin ketat di Distrik 10. Walau Kaneki tahu sekali, Hide pasti semangat membahas tentang makhluk yang menjadi target buruan kantornya itu. Namun satu yang ditakutkan Kaneki, Hide akan sadar bahwa Kaneki adalah salah satu dari mereka, salah satu dari target yang seharusnya dibunuhnya. Kaneki bergidik.

Mata Hide membulat berbinar saat menceritakan pada Kaneki tentang pelajaran yang disajikan oleh seseorang bernama Takizawa.

"Bosan sih dengan teorinya, namun sekali kau bertanya, jawabannya memuaskan sekali! Seolah dia tahu apa saja!" Atau begitulah katanya. Kaneki menanggapi satu dua. Bertanya, kenapa Hide semangat sekali saat kuliah namun tidak mau membaca karangan Takatsuki, padahal biasanya kuliah jauh lebih membosankan. Hide tidak menjawab, dia malah mengejek Kaneki tentang kecilnya kemungkinan baginya untuk dapat pacar kalau hobinya begitu tertutup.

Pacar? Kaneki tidak lagu mau memikirkannya. Kencan pertama kali seumur hidupnya sudah dijungkirbalikkan, bukan menyenangkan namun menakutkan. Dia ingin menyalahkan siapa? Kamishiro Rize? Atau dirinya sendiri karena tidak mampu menghindar? Atau karena dia sudah tergoda sejak pandangan pertama? Terlalu lugukah dia? Atau atau yang lain? Sekarang Kaneki tampak antipati sekali dengan perempuan. Touka dan Hinami pengecualian, Kaneki terbiasa berada di sekitar mereka.

"Ehem-", Touka dari seberang, melambai, berdeham. Menunjuk jarum jam yang berdetak tidak peduli. Tidak peduli bahwa Kaneki masih ingin berbincang dengan si pirang itu. Tapi menyelamatkan Kaneki dari deruan jantung yang liar memaksa keluar dari rusuknya. Kaneki menggaruk tengkuknya dan bergerak-gerak tidak nyaman, "Yah, lihat? Aku harus kembali bekerja..."

"Lanjutkan," Hide mengacuhkan Kaneki. Bukan respon yang diinginkan Kaneki, jadi pemuda berambut gelap itu kembali menegaskan, "Aku kembali bekerja, Hide, tidak kembali ke pekerjaanmu juga?"

"Jadwalku kosong, atau tidak, sebenarnya aku meminta cuti sampai besok. Kau tahu? Belum ambil cuti selama setahun, aku cukul tangguh, heh?"

"Ya?" Kaneki beranjak dari kursinya dan melipat tangan didepan dadanya. Matanya menyelidik Hide. Secara isyarat — atau dia pikir itu telepati — menyuruh Hide cepat menyeruput americanno-nya dan memberi penjelasan lebih detail. Karena, lihatlah, biasanya Hide yang duluan mengakhiri percakapan dan buru-buru berlari ke kantor, tidak boleh terlambat katanya. Tapi kali ini, Hide seolah memaksa tinggal.

"Ayo cepat kerja saja, Kaneki! Kita bisa pulang bersama nanti!" Hide meniup-niup kepulan uap dari americanno yang ternyata tidak kunjung mendingin walau sudah sekian menit lamanya. Kaneki menggaruk tengkuk lagi, ah, manis. Kata-kata Hide terngiang di kepalanya dan menggema menjadi sebuah frekuensi tetap yang tertancap permanen disana. Kaneki bergerak menjauh, wajahnya menunduk, menahan senyum. Kenapa dia terlalu gembira? Jangan dipikirkan. Kaneki menepuk dahi, selesaikan pekerjaan, dia akan pulang bersama Hide nanti.

Dan selama meracik kopi, wajah Kaneki ikut menghangat. Karena uap kopi yang menerpa wajahnya. Yah, itu salah satu faktor, satu lagi karena yang tadi. Wajahnya menghangat, merona, seperti gadis kecil yang mendapat hadiah boneka lembut di hari Natal-nya. Senang sekali. Mendadak dunia yang dia lihat di depannya tidak secoklat biasanya, tidak sepekat kopi. Semuanya terlihat berwarna. Seolah sekotak Winsor and Newton ditumpahkan dengan indah entah dari mana. Tidak dengan sembarangan, namun dengan sentuhan seniman, secara profesional dipadukan dan ditorehkan. Warna yang membuat siapa saja yang melihatnya tidak dapat menahan senyum.

Kaneki tidak bisa menahan senyum.

.

QQQQ

.

Amon memukul pelan pundak kirinya, pegal, Hide berat juga rupanya. Mata gelapnya menembus ke balik kaca di pintu yang membatasi jarak antara dunia orang hidup dan dunia orang sekarat. Mendengus. Suster tidak akan membiarkan siapapun masuk dalam waktu dekat. Matanya berpindah, pada sosok yang tertunduk mengerutukkan giginya dan bergumam tidak jelas. Kaneki, tadi dia menyebutkan namanya seperti itu.

"Dia akan baik-baik sa-"

"Tidak," Kaneki menggeleng. Amon bahkan belum mengeluarkan kalimat penenang yang harusnya ampuh. Tapi Amon memilih diam. Bibir Kaneki bergetar hendak mengatakan sesuatu. Matanya berair namun tidak ada yang menetes dari sana. Bahunya berguncang tidak terkendali, seperti menggigil, namun lebih mengerikan. Kaneki makin menunduk dan bergumam agak keras, "Dari awal semuanya tidak baik-baik saja."

Amon menggaruk tengkuk, bagaimana ya. Dia ingin menenangkan Kaneki namun tidak bisa. Kata-katanya mendadak tertelan entah bagaimana, tenggelam di kerongkongannya dan tidak mau dipaksa keluar. Mungkin memang waktunya tidak tepat. Atau orangnya tidak tepat. Kaneki terlalu banyak mengalami hal seperti ini, terlalu banyak, Amon tidak tahu, namun perasaan itu kentara. Mata Kaneki yang basah tidak terlihat cemerlang oleh air mata, justru makin gelap dan suram.

Amon dikagetkan dengan suster yang membuka pintu tiba-tiba — saat ia sedang bersandar disana, menyebabkan dorongan refleks menghindar yang justru membuat Amon terpental pelan ke depan. Suster tadi membungkuk, dia keluar lebih cepat dari perkiraan Amon. Kaneki buru-buru beranjak, wajahnya tengadah, takut betul kalau-kalau suster itu mengatakan hal-hal yang mengerikan. Namun yang dilihatnya disana adalah senyum lega, "Tuan Hideyoshi memang sulit ditangani, beberapa lukanya memang dalam dan kerusakan di tengkorang kepala tadi agak parah... namun jangan khawatir, dia baik-baik saja," suster tersebut menepuk pundak Kaneki.

Namun selang beberapa detik, Kaneki batal berlutut lega. Wajah dokter yang keluar setelah suster tadi tampak lebih berat. Kaneki tidak suka ini. Bahwa harus ada berita buruk yang menemani berita baik, dia membencinya. Dokter tadi melepas kacamatanya, "Tapi kami tidak bisa pastikan kalau Tuan Hideyoshi tidak mengalami kerusakan pada sistem jaringan otaknya." Begitu saja. Dokter tadi lantas menapakkan sepatunya dan berlalu sambik meluruskan lengan.

Kaneki menggigit kukunya, "Hah...?" Matanya nanar. Ketakutannya tidak sepenuhnya hilang. Aku... harus apa?

Note : Halo lagi- Ganyangka ada yang baca hehe /ditabok. Chapter kali ini agak lambat update nya karena agak panjang walau nggak panjang-panjang banget *pundung* Saya minta maaf bagi siapa saja yang menunggu update ngaret saya ini — kalau ada yang nunggu.Terimakasih buat Dominic Clearwarer