"Akhir-akhir ini aku agak sibuk, maaf ya..," Hide membenarkan posisi topinya yang miring. Dia melemparkan lirikan pada Kaneki, tidak berharap Kaneki akan melirik balik, dia hanya ingin memperhatikan Kaneki. Memperhatikannya selama yang dia bisa. Terlalu melodramatis memang, tapi itulah yang diinginkan Hide. Walau sejatinya dia sendiri sering menyuruh Kaneki mencari teman lain atau teman kencan, hatinya berontak, malah seolah melarang Kaneki mendapatkan tempat bersandar lain selain dirinya.

Pria kesepian yang ada di sebelahnya kini hanya menunduk, kebiasaannya sejak dulu untuk menghindari kontak dengan apa pun — kecuali Tuan Aspal tentunya. Hide mengacak rambut Kaneki yang sudah agak berantakan karena seharian bekerja, "Nggak kangen aku, hm?"

Kaneki cepat-cepat mendongak dan menyingkirkan tangan Hide dengan salah tingkah, dia menggeleng sebagai respon paling spontan. Impuls nya mendorong darah naik ke wajah sehingga pipinya merah menghangat, "Kangen apanya hah?"

Hide tersenyum, manis sekali, kata itu hampir terlontar dari mulutnya sampai dia sadar bahwa hal itu tidak mungkin dia katakan. Maksudnya, ayolah, apa Kaneki akan mengerti hal itu? Jadi Hide hanya bisa melontarkan ejekan-ejekan normal. Ejekan yang biasa jadi bahan candaannya.

.

The Colour You Brought Me Before

Chapter III

Tokyo Ghoul, owned by Ishida Sui

I do not own anything but the fanfic _(:3/ [)_

.

Hide x Kaneki (Shounen Ai)

Warn : Typo(s), kegajean maksimal, homoan, homoan, homoan, homoan, OOC, homoan, homoan, dan warn-warn seperti di fanfic lain

.

This is Shounen-Ai fanfiction, if you do not like the content please do not read (DLDR)

.

Thanks for coming and please, enjoy~

.

Kaneki meletakkan kepalanya di pinggir tempat tidur bersprai putih itu. Dia belum lega. Tangannya erat menggenggam tangan Hide, dalam hati berharap Hide tidak pura-pura tidur untuk melihat ekspresinya yang memalukan saat ini. Nafasnya makin berat, matanya yang tidak terhalang eyepatch menelusuri wajah Hide yang tampak tenang. Sangat tenang, Hide tidak pernah sediam ini sepanjang dia mengenalnya. Wajah diamnya tidak kalah dengan wajahnya yang tersenyum lebar setiap harinya, dia masih tampan, sangat tampan. Otak Kaneki kembali melebih-lebihkan sosok Hide dalam sudut pandangnya. Seperti sosok pangeran pirang tampan dengan kuda putihnya, sosok yang diinginkan dan dicintai. Wajah Kaneki memerah sendiri pada akhirnya, dia tidak bisa memikirkan Hide lama-lama, atau perasaan itu akan semakin tidak terkendali.

Maksudnya, ayolah, apakah Hide akan mengerti hal itu?

"Belum sadar juga?"

Suara Amon mengejutkan Kaneki yang kini buru-buru menegakkan badan dan melepas tangan Hide yang tadi diusap-usapnya. Kaneki agaknya meringis kecil, apa yang barusan kulakukan... Amon tampaknya tidak terlalu peduli. Dia meletakkan sebuah kotak plastik di atas meja rumah sakit, "Ini makan malam... Sudah sore di luar, dan akan ada patroli malam ini, jadi aku tidak bisa disini lama-lama."

Kaneki menegangkan rahang, "Tidak masalah, terima kasih banyak telah membantu kami, Amon-san," Kaneki membungkuk sedikit. Dia benar-benar merepotkan seorang investigator, bahkan sampai dibelikan makan malam.

Amon hanya tersenyum salah tingkah, "Tidak masalah sih, lagipula Hide juga temanku," katanya. Dia mengangkat sebelah tangan untuk melihat jam beberapa detik berikutnya, dan pamit pada Kaneki. Bilang bahwa Hide akan baik-baik saja. Lantas berlalu meninggalkan ruangan.

"Ah! Maaf- apa aku menabrakmu?" Tampaknya ada keributan kecil di luar ruangan.

"Bukan masalah, ahaha," tawa aneh Amon terdengar. Tidak akan ada yang mau cari ribut dengan investigator, jadi mungkin keributan tadi batal.

Kaneki masih memasang telinga walau tangannya kini mengusap-usap pipi Hide. Ingin membangunkan, tapi tidak mau mengganggu air mukanya yang tenang, toh, kalau dibangunkan juga belum tentu bangun.

"Hide baik-baik saja?"

"Eh?" Kaneki menangkap sosok Touka yang menenteng kantung supermarket di tangannya, gadis itu lantas mendekat dan meletakkan apa yang dibawanya di atas meja. Kaneki hanya mengangguk sebagai jawaban, ragu. Touka melihatnya tapi dia membiarkannya, toh, bukan urusannya juga. Dia hanya bilang untuk jaga Hide baik-baik, dan mengampaikan salam dari Anteiku — yang sayangnya tidak bisa memberi izin khusus beberapa hari sampai Hide sembuh, pasti akan lama sekali sampai diperbolehkan pulang. Kaneki mengangguk lagi. Touka pergi saat menyadari tidak ada gunanya lagi dia di sini, berlalu dengan lambaian yang diabaikan.

Kaneki kembali memandangi Hide. Matanya nanar bergerak, harap-harap cemas agar Hide segera sadar, berharap tidak ada yang salah. Apa yang akan dilakukannya jika Hide tidak selamat? Jika Hide tidak bangun? Dokter bilang dia baik-baik saja. Tapi apalah vonis dokter kalau tiba-tiba kerusakan di kepala Hide makin parah tiap menitnya, mematikan jaringan saraf secara permanen. Dan Hide lumpuh, tidak bisa apa-apa. Atau malah Hide..

"Ken..."

Kaneki tersentak. Membeku beberapa saat sebelum akhirnya memegang pipi Hide — yang mana tidak bisa ditahannya. Kaneki bergetar, begitu pun tangannya. Kaget, tapi senang juga. Matanya yang sejak tadi kering perih tanpa bisa menangis kini mengeluarkan air mata sepuasnya. Hide berkedip. Berkedip lagi, tidak tersenyum namun dia bangun. Kaneki tidak bisa menahan isakannya, "Kau bangun! Astaga lihatlah, kau baik-baik saja, Hide!"

Hide masih tidak tersenyum. Matanya kini terbuka sepenuhnya, tapi tidak menatap Kaneki. Tidak menatap apa pun. Tidak ada yang terpantul disana, tidak ada apa pun, kosong. Jantung Kaneki kembali berderu. Tangannya yang memegang pipi Hide kini kembali bergetar dingin, takut sekali. Apa yang terjadi? Apa Hide tidak bisa merasakan sentuhannya? Hide tidak kenal siapa dirinya

"Kaneki..."

"Hide.. aku di sini, lho... Hide, kau baik-baik saja kan..?" Kaneki berbisik parau dekat sekali di telinga Hide agar Hide mampu mendengarnya. Dia masih takut. Apakah reaksinya tadi berlebihan? Entahlah. Astaga, apakah hentakan yang dia sebabkan tadi malah membuat saraf Hide rusak? Entahlah.

Hide menegak ludah. Tubuhnya mendadak berguncang. Tangannya meraba-raba, menyentuh tangan Kaneki terlambat dari perkiraan. Dia menoleh namun menatap vas di meja, tidak menatap Kaneki. Matanya bergerak-gerak, berputar, mencari. Tangannya berhasil meraih tangan Kaneki, namun matanya tidak dapat melihat siapa pun. Kaneki makin ketakutan, terisak sekali lagi sambil menarik tangan Hide pelan, "Hide! Kau baik-baik saja kan?"

"Kaneki... Aku tidak bisa melihatmu..."

"...Hah?" Kaneki menarik tangan Hide lebih kuat. Apa? Apa tadi katanya? Katakan lagi! Katakan lagi! Tidak, jangan... jangan katakan..."Kaneki, aku kenapa?"

To Be Continued

Note AKHIRNYA PART 3 KELAR *tiup terompet* /halah. Maafkan saya chapter saya pendek-pendek, maaf juga update nya moloor sekali *bows*Terimakasih juga untuk Air Jernih-san /eh/ maksud saya, Dominic Clearwater-san yang sudah setia kasih review, saya terharu sekali *uhuk* dan tentang Amon x Kaneki... itu sebenarnya tidak pernah terpikir heuheuheu tapi tapi tapi BOLEH JUGA *buru-buru ubah kerangka* /tydacJadi Hide tyda saya matikan ehe-.Dan masih akan saya lanjutkan~ Terimakasih bagi siapa pun yang suda baca fic abal ini *bows thousand times* terutama buat Air Jernih-san /aduh taboq saja saya/ see ya~ —CastorDioscuri