Hide mengusap rambut Kaneki, meliriknya sedikit dan menghembuskan nafas pelan. Nyenyak sekali. Padahal rencanannya mereka akan duduk di sini sampai hujan reda, tapi sepertinya hujan tidak juga mengizinkan mereka pulang. Entah ingin menghujat atau berterimakasih. Kalau hujan tidak berlanjut, maka Hide tidak akan mendapatkan kesempatan langka ini.

Lihatlah, pemuda berambut gelap favoritnya kini terlelap damai bertumpu tangan di atas meja kayu berbau pernis campus eboni. Bau yang menenangkan, tidak heran, karena bangunan yang rencananya akan dijadikan gereja ini belum lama dibangun, furniturnya juga baru datang minggu lalu. Para pekerja tidak ada di sini, entah kenapa, tapi bagus bukan? Maksudnya, Hide bisa memuaskan diri berdua saja dengan Kaneki di sini. Hide bisa mengusap dan sedikit mengendus rambut Kaneki dalam keadaan seperti ini. Dia merasa berdosa karena harus melakukan ini di gereja — tanpa sepengetahuan Kaneki pula. Tapi apalah yang bisa menahan dirinya, Kaneki adalah apa yang sangat diinginkannya selama ini, masa iya kesempatan ini dilewatkannya begitu saja?

Hide mendekat dan menempelkan pipinya yang dingin ke pipi Kaneki, yang terasa sangat hangat. Apa bibirnya juga sehangat ini? Hide menggaruk hidungnya untuk menutupi wajahnya yang sedikit memerah, dia tersenyum sendiri pada gagasan yang baru saja dipikirkannya. Dia tidak mau memasang ekspektasi terlalu tinggi, namun perasaannya terhadap Kaneki memaksanya seperti itu. Memaksa Hide membayangkan betapa lembut dan hangatnya bibir Kaneki jika bibirnya berhasil mendarat di sana. Betapa manis wajah Kaneki saat memerah setelah Hide menciumnya. Betapa manis Kaneki saat menunduk dan menggaruk tengkuknya karena salah tingkah. Dia sangat menyukai apa pun yang ada pada Kaneki, dia sangat mencintainya.

.

The Colour You Brought Me Before

Chapter III

Tokyo Ghoul, owned by Ishida Sui

I do not own anything but the fanfic _(:3/ [)_

.

Hide x Kaneki (Shounen Ai)

Warn : Typo(s), kegajean maksimal, homoan, homoan, homoan, homoan, OOC, homoan, homoan, dan warn-warn seperti di fanfic lain

.

This is Shounen-Ai fanfiction, if you do not like the content please do not read (DLDR)

.

Thanks for coming and please, enjoy~

.

Kaneki baru pulang dari Anteiku. Kali ini dia tidak langsung ke rumah sakit. Walau Hide tadi bilang ingin segera bertemu dengannya sepulang kerja, Kaneki belum bisa ke sana sekarang. Dia harus menenangkan perasaannya lebih dulu. Dia harus menstabilkan pikirannya lebih dulu.

Kaneki merebahkan diri ke ranjangnya. Menghela nafas kencang-kencang dan terisak tanpa peringatan. Dia menjambak poninya sendiri, memejamkan mata kuat-kuat sampai kepalanya pusing. Giginya gemeretak karena terlalu ditekan, dia terisak semakin keras. Perasaannya tidak bisa membaik saat ini, pikirannya kalut. Walau pun Amon dan Touka berkali-kali bilang padanya bahwa Hide baik-baik saja. Tapi dia selalu menyalahkan dirinya soal ini semua, tidak ada yang baik-baik saja dari awal.

Matanya ditekan-tekan agar berhenti mengeluarkan air mata, ah, hatinya sakit sekali. Nafasnya sesak, dia ingin membanting kepalanya ke lantai agar seluruh badannya mengalami rasa sakit yang seimbang. Fantasinya masih melayang pada sosok Hide yang menoleh keluar jendela tanpa menatap apa-apa di sana. Hide tidak menangis, Hide tidak menampakkan wajah sedih di depan Kaneki. Tapi itu membuat Kaneki merasa lebih buruk, Hide memalsukan sakit hatinya agar Kaneki tidak cemas. Padahal, toh, kalau ekspresi cemas Kaneki tampak, Hide takkan bisa melihatnya. Hide tidak akan bisa mengintip dari celah uap americanno yang mengepul-ngepul diatas cangkir. Hide tidak akan lagi berbinar ketika mereka akhirnya bisa bertemu setelah sepekan penuh dipadati pekerjaan. Hide tidak akan lagi mampu memilah dokumen mana yang akan dia serahkan sebagai laporan dan yang mana yang harus diselidik ulang. Hide tidak akan bisa bekerja lagi. Ini salahku. Kaneki menghantamkan kepalanya ke pinggiran ranjang. Membuat dahinya berdenyut, sakit, tentu saja. Kaneki masih terisak, namun air matanya kini menolak keluar. Hanya menyisakan jejak basah-kering yang malah membuat kelopak mata Kaneki terasa panas.

Kaneki kembali menghantamkan kepalanya di pinggiran ranjang. Dahinya berdenyut memerag dan kini bengkak. Dia meringis, belum setimpal dengan apa yang terjadi pada Hide. Bayang-bayang Hide yang tersenyum kaku sambil menyentuh ujung matanya sesekali terbesit di kepala Kaneki. Hide yang tadi pagi tersiram oleh cahaya fajar, tampan sekali, walau kini Hide tidak lagi dapat menyaksikan fajar. Atau pun senja. Atau gugusan bintang yang dulu Kaneki ajarkan. Atau apa pun. Semuanya sama di pandangan Hide, gelap, hitam, malam. Tidak ada apa-apa disana, hampa. Kaneki memukul dadanya. Dia membayangkan betapa sepi di sana, di dunia tempat Hide memandang. Tidak ada siapa-siapa, hanya suara. Hanya sentuhan. Namun dia tidak akan pernah tahu, walau ketika Kaneki meneteskan air mata di hadapannya pun, Hide tidak akan cepat sadar untuk mengusap itu seperti biasanya.

Lengan Kaneki gemetar. Dia berhasil meraih pisau terdekat. Pisau itu, dulu tidak berhasil melukai dirinya. Sudah agak berkarat karena terkena air dan panas belakangan ini. Hanya ini yang terlintas di benak Kaneki. Untuk merasakan kesakitan yang sama dengan pemuda kesayangannya. Yang walau pun pemuda itu tidak akan pernah tahu betapa Kaneki menyukainya. Mencintainya.

Mereka berdua tidak akan pernah tahu...

"Aahh... Hide.." Kaneki menarik nafasnya, menghilangkan rasa sesak di dadanya agar dia berhenti gemetaran. Hide dalam pikirannya tidak mau pergi, menambah sensasi sesak yang seolah melarang Kaneki melakukan apa yang hendak dia lakukan. Keraguan ini tidak bisa hilang sendirinya kalau tidak diatasi. Kalau tidak bisa dilakukan secara perlahan maka lakukanlah secepat mungkin. Kaneki menggigit bibir bawahnya, mengatupkan rahang sehingga bibirnya berdarah. Tangannya mulai bergerak liar kesana kemari mendaratkan ujung pisau berkarat sekuat tenaga di kulitnya. Satu...Dua...Lima... KRAK! Pisau itu benar-benar tidak bisa melawan kulit Kaneki. Hanya menimbulkan luka-luka gesek, berdarah, perih, namun belum cukup. Kaneki memasuki kakuja atas gagasan gilanya.

Dia menyambar-nyambarkan quinque nya ke tubuhnya sendiri. Menghujami tubuhnya sendiri dan terus menambah kekuatan pada setiap tusukan. Matanya melotot karena sakit. Kaneki masih terisak. Makin terisak. Fantasinya masih liar meminta lebih, kalau bisa dia ingin bunuh diri, dia tidak bisa merepotkan Hide lebih dari ini. Depresi kuat menampar otaknya. Kewarasannya menguap dan memanggil gagasan gila lain untuk menghukum dirinya sendiri. Sampai dia lelah dan terjatuh. Terengah. Kenapa aku masih hidup? Sakit sekali...

.

QQQ

.

Hide mengusap kelopak mata Kaneki yang tertutup. Bulu mata Kaneki tidak panjang, namun Hide tetap suka melihatnya. Entah apa yang bagus dari pemuda kutu buku pekerja cafe ini, yang jelas Hide sangat menggilainya. Sangat menggilai apa pun yang terpampang di wajah polosnya. Apa pun yang dilakukannya adalah kenangan, tidak ada yang pantas dilupakan — walau Hide sendiri tidak begitu baik mengingat sesuatu. Ah ya, Hide masih menggilainya sampai detik ini. Sampai muncul gagasan gila yang mendadak melintas di fantasinya.

Hide menegak ludah. Tidak mungkin sih... Tapi entah kenapa setan dalam dirinya mengoar, apakah gereja ini tidak melarang para setan masuk? Hide makin gugup, sekaligus percaya diri dalam waktu yang sama. Kesempatan ini sangat langka. Terlalu langka. Dalam beberapa kesempatan Kaneki tertidur di tempat umum seperti di bus atau kedai ramen. Namun sekarang dia tertidur di sebuah bangunan baru, hanya berdua dengan Hide. Apa pun yang melintas di benak Hide adalah gairahnya pada Kaneki. Tapi, kapan lagi? Apa aku akan sempat melakukannya saat dia bangun?

Hide kembali menghela nafas, sepertinya tidak tergoyahkan lagi. Ibu jarinya mengusap bibir Kaneki yang luar biasa lembut itu — memompa gairahnya. Dan dalam satu gerakan cepat, Hide menempelkan bibirnya di sana.

To Be Continued

NOTE

CHAPTER 4 SELESAI AAA! /ditampol. Yaaah makin pendek makin pendek yha;;;;;; tapi akan saya usahakan buat update sekilat mungkin. Ini sudah kilat belum eh? /belum y hmmm/. Dan halo lagi, Air Jerni- eh.. Clearwater-san~ Terimakasih sudah mau habisin waktu berharga Anda buat mampir dan nulis review sepanjang itu *sobs* iyaahahaha, harusnya nikah aja mereka ini :( kenapa juga pada ga peka /yg buat elu thor/ Maaf sekali Hide harus buta, karena dia memang sudah buta :( Dibutakan oleh cinta /bahasa saya anjyr/ terimakasih lagi aaa, saya rasa saya kalo update rada molor molor gitu- tapi syukurlah kalau ternyata tidak ehehehee, terimakasih untuk yang ke — 1... 2...— ketiga kalinya, untuk semua yang sudah mau mampir dan baca terimakasih sekali! *bows* see ya next time~!

— Castor Dioscuri