"Kau sudah pulang, Kaneki?" Hide bergegas duduk demi mendengar suara deritan engsel pintu rumah sakit. Menoleh dengan perkiraan walau dia tidak bisa melihat siapa yang mungkin berdiri disana. Belum lekas ada jawaban, namun tangan berbalut sarung tangan kain yang lembut menyentuh pergelangan tangannya dan meraba nadinya. Dia mendengus pelan, itu hanya perawat yang bertugas memeriksa infusnya. Dia tidak habis pikir kenapa Kaneki lama sekali. Dia tidak bisa melihat jam tangan, atau jam mana pun, dia tidak bisa mengira-ngira apakah ini malam atau siang. Kaneki belum kembali juga. Entahlah apa dia memang sudah menunggu lama atau hanya dirasa lama saja, dia sudah keburu merindukan pemuda yang tidak akan bisa dilihatnya lagi itu. Hide bertanya pada perawat yang kini sibuk entah apa dengan baki alumuniumnya, "Sekarang jam berapa?"
Perawat itu diam sebentar. Membuat Hide mulai tidak sabar dan hendak bertanya lagi, namun baru saja ia mau membuka mulutnya perempuan itu menjawab, "Jam 8 malam, Tuan."
Hide tersedak oleh kata-kata yang baru saja didengarnya. Kaneki belum juga kembali. Dia tidak tahu bahwa dia sudah menunggu selama itu. Mungkinkah terjadi sesuatu? Atau Kaneki harus lembur di Anteiku, dia tidak tahu. Dia ingin sekali menelepon Kaneki tapi dia tida dapat melihat layar ponselnya, dia tidak bisa mengetik apapun dalam keadaannya yang sekarang. Pikirannya tidak bisa tenang. Dia tidak lagi memikirkan sesuatu seperti mengkhawatirkan Kaneki, dia mulai egois memikirkan bahwa dia merindukan Kaneki.
.
The Colour You Brought Me Before
Chapter V
Tokyo Ghoul, owned by Ishida Sui
I do not own anything but the fanfic _(:3/ [)_
.
Hide x Kaneki (Shounen Ai)
Warn : Typo(s), kegajean maksimal, homoan, homoan, homoan, homoan, OOC, homoan, homoan, dan warn-warn seperti di fanfic lain
.
This is Shounen-Ai fanfiction, if you do not like the content please do not read (DLDR)
.
Thanks for coming and please, enjoy~
.
Amon menikmati jadwal kosongnya untuk berjalan-jalan, atau patroli. Setidaknya dia tidak diam di satu tempat dan bermalas-malasan, itu sangat bukan dirinya. Namun, bagaimana pun dia masih bisa menikmatinya, dengan membeli karage misalnya. Dia bisa memakan itu sambil jalan.
Selagi dia merogoh kantongnya, dia menangkap sosok tak asing. Berjalan menunduk dengan langkah gontai tak pasti. Amon baru ingin menyapa saat akhirnya orang itu menengadah dan menyadari bahwa sepasang mata memperhatikannya. Amon dengan agak kaku melambaikan tangan, "Kaneki Ken... benar?" Yang dipanggil hanya mengangguk, memaksa menyunggingkan seringai mengerikan untuk menandakan bahwa ia baik-baik saja. Amon tidak berkomentar walau dia tahu ada yang tidak beres, dia hanya menanyakan kabar Kaneki. Yang hanya dijawab oleh seringai mengerikan itu lagi, dan sepatah kata, "Lumayan." Dia berbohong. Amon meringis untuk dirinya sendiri. Dia merasa sangat tidak nyaman melihat ekspresi itu di wajah Kaneki, dia merasa memiliki keharusan untuk menenangkan Kaneki, setidaknya untuk berhenti menyalahkan dirinya sendiri atas kecelakaan yang menimpa Hide. Lihatlah, bahkan air mukanya lebih buruk daripada saat pertama kali Amon bertemu dengannya, apa Hide benar-benar tidak apa-apa? Seharusnya pemuda di hadapannya ini berwajah cerah jika demikian.
"Jadi, Amon-san... saya pergi du-"
"Anu, sebentar, Kaneki-san," Amon merentangkan tangannya menghalangi jalan Kaneki, "bisa tunggu saya sebentar? Saya kebetulan akan mengunjungi Nagachika," Amon berkata seolah tahu kemana Kaneki akan pergi. Sedang Kaneki menggaruk dagunya tidak nyaman, namun akhirnya mengangguk juga. Amon tersenyum tipis agak canggung, alisnya bertautan, buru-buru dia membayar karage nya, lantas dengan gestur kaku mengisyaratkan Kaneki untuk berjalan di sampingnya. Kaneki menurut saja, sambil tetap menunduk. Rambut gelapnya menghalangi Amin untuk meneliti ekspresi Kaneki yang tidak lagi kosong, tapi depresi, sangat depresi. Mereka berjalan bermenit-menit tanpa percakapan, Amon berkali-kali merapikan kerah jasnya, merasa bahwa dia perlu bicara namun dia tidak bisa, jadilah suasana sekitarnya terasa begitu mencekik.
Kaneki tidak peduli apa pun saat itu, saat Akon bertarung dengan suasana canggung amat sangat yang begitu tidak nyaman, Kaneki justru tetap menunduk sambil terus memikirkan hal-hal yang bahkan tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dia hampir-hampir berharap bahwa dia tak akan pernah sampai di rumah sakit, namun dia rindu Hide. Dia berjanji akan segera ke rumah sakit setelah selesai dengan urusan-urusannya, namun lihatlah, sekarang sudah malam, sudah gelap, dia tidak yakin akan sempat berbincang dengan Hide untuk sekedar mengobati perasaan bersalahnya dengan suara Hide yang terus menggema di kepala Kaneki, memanggil lembut. Metafora yang dia pikirkan tentang Hide di kepalanya adalah berlebihan, segalanya berlebihan, dia selalu meninggikan sahabat, bukan, pujaannya itu dari dasar pikirannya. Perasaan yang hampir mendekati menyembah inilah yang tidak bisa dia tahan ketika dia memikirkan Hide. Dia terlalu mencintai sosok itu, dia terlalu takut pada perasaan itu sekarang.
"Kaneki-san..?" Amon membuyarkan kusut pikirannya dan membawa paksa kesadarannya kembali pada kenyataan, pintu rumah sakit di hadapan, dan Kaneki hampir-hampir menabrak tembok saking tidak fokusnya. Amon tidak menahan tawa kecilnya, mengatakan kalau Kaneki harus lebih memperhatikan jalan. Yang dinasihati hanya menggaruk tengkuk, tersenyum geli. Amon puas memandangnya, senyum pertama yang ditunjukkannya sejak Amon melihatnya hari ini.
Mereka berdua menandatangani buku tamu di resepsionis dan bergegas ke ruangan Hide setelahnya, sama tergesa-gesanya. Wajah mereka tidak se-rileks tadi, atmosfir disekitar mereka terasa tidak menyenangkan. Aah, Kaneki lebih-lebih tidak lagi memperhatikan bahwa kini dia melangkah setengah berlari mendahului Amon yang tetap berjalan pada kecepatan konstan. Raut mukanya datar, namun tampak jelas bahwa matanya yang tajam menusuk tanpa memandang ke arah yang spesifik itu seolah hendak menangis. Tulangnya masih berderak-derak akibat kelakuannya tadi. Dia tidak peduli, matanya mencari-cari nomor kamar Hide. Amon bergegas menyusul di belakangnya ketika dia tahu bahwa mereka sudah dekat. Kaneki menemukan apa yang mereka kejar, pintu Hide. Terlihat senggang sepintas dan apakah memang biasanya seperti itu? Kaneki mengintip ke dalam, siluet Hide yang samar terlihat menghadap jendela, posisinya tertidur, namun entah dia tertidur atau tidak. Kaneki meremas jemarinya, ah, kalau saja dia langsung ke rumah sakit tadi sore. Amon melihat kekecewaan Kaneki sepintas, dia kembali merasa canggung, matanya yang gelap cemerlang mencari-chari kata-kata untuk menenangkan Kaneki, menghilangkan ekspresi menyakitkan itu dari si pemuda ringkih berambut gelap ini. Amon mengusap kepala Kaneki diluar sadarnya, menyebabkan sentakan mental pada Kaneki yang tidak menyangka bahwa Amon akan melakukan kontak fisik terlebih dahulu dan bukannya mengatakan hal-hal seperti 'tenang saja' atau 'kita masih bisa mengunjunginya kapan-kapan'. Penilaian psikologis yang ditangkap Amon juga menyebabkan dirinya kaget akan tindakannya sendiri, maksudnya, bahkan dia tidak mengenal Kaneki sampai beberapa hari yang lalu! Namun setidaknya ekspresi Kaneki tidak sekosong tadi, walau terlihat bingung, setidaknya anak itu tidak lagi tampak seperti zombie. Amon tersenyum tipis tanpa berkata-kata. Mereka tidak bicara apa pun, namun setidaknya mereka tahu mereka sepaham. Kaneki melirik kedalam jendela kecil di pintu kamar Hide sekali lagi, masih tersisa beban di sana, tidak seberat yang tadi, namun cukup mengusik Amon untuk akhirnya berkata, "Saya akan kemari lagi besok," mulainya. Kaneki menoleh, Amon menurunkan tangannya dari kepala Kaneki setelah satu tepukan pelan dan sedikit memiringkan kepala sebagai ajakan untuk segera berbalik dan keluar. Kaneki mengikutinya dan menjawab spontan sebagai impuls tak di duga, "Saya juga." Amon sekali lagi tersenyum tipis dan melangkah konstan di samping Kaneki.
.
QQQQ
.
Kaneki lupa kalau hari ini Touka menyuruhnya berangkat pagi untuk bekerja, ditambah lagi ban sepedanya bocor. Tidak ada waktu untuk membawanya ke bengkel sekarang, jadi dia berlari. Untuk dirinya yang setengah ghoul memang hal itu sebenarnya bukan masalah, namun bagaimana pun dia juga bisa merasa lelah. Rambutnya berantakan karena dia benar-benar tidak sempat untuk menyisir mereka setelah dia selesai mandi tadi, dan ya, dia memang sempat mandi setidaknya. Dalam hati dia mengutuk-ngutuk kenapa juga dia mandi tadi pagi, dia akan berkeringat lagi, bahkan kini sudah berkeringat. Kaneki berkali-kali menabrak orang dan berteriak maaf tanpa sempat menghadap dan membungkuk, diteriaki untuk hati-hati, tapi mana peduli. Dia lebih takut pada Touka, urusan hidup dan mati.
"Kaneki! Hei! Ada apa?" Suara familiar yang mengalihkan segala tekanan yang dia rasakan sejak sepagian membuat Kaneki akhirnya mampu menoleh demi sekedar melihat sosok berambut pirang tersenyum riang dan melambai padanya. Matanya sumringah seketika, balas melambai tanpa keterpaksaan, bahkan dia tersenyum lebar sekali. Hide mengayuh sepedanya lebih cepat dan berhenti tepat di samping Kaneki. Hide tersenyum sebelum memulai percakapan, "Kenapa kau buru-buru sekali?" Pertanyaan barusan langsung mengembalikan pikiran kalut yang menekannya sepagian, dia langsung menunjuk sepeda Hide, "Antar aku ke Anteiku sekarang!" Hide tidak bertanya dua kali, tidak bertele-tele. Dia segera menyuruh Kaneki naik ke sepeda dan berpegangan padanya, "Aku akan ngebut! Pegangan yang erat ya!" Hide tertawa keras sambil mengayuh sepeda itu cepat sekali, namun tidak terburu-buru. Dia menikmatinya. Tentu saja, dia membonceng pemuda favoritnya, dan tadi ia berani saja spontan berteriak pada Kaneki agar pegangan. Tubuhnya bergelenyar dan jemarinya bergetar semangat, ayolah, Hide, kau tidak boleh memperlambat lajumu. Kaneki di belakangnya benar-benar mencengkeram kaus Hide saat mereka melalui tanjakan; Hide kewalahan juga mengayuhnya. Kaneki berteriak minta maaf sesekali, Hide tidak terlalu memperhatikannya. Dia terlalu senang untuk tidak tertawa-tawa selama mengayuh, walau tahu itu memperpendek nafasnya. Dan kalau bisa, dia ingin menyentuh punggung tangan Kaneki untuk sekedar menyampaikan, "Peluk pinggangku, kau nggak akan terjatuh."
Note : SEKIAN LAMA GA UPDATE AAAAARGH *BANTING MEJA* Ok calm down- maaf saya lamaaaaaaaaa sekali nggak update yah, alasan singkatnya adalah writer's block ;( Dulu saya nulis pas lagi artblock, jadi temporarily dan beginilah hasilnya abalabal. Bahasa makin hancur, alur makin nggak jelas, dan blablabla, saya mau dobel suisaid sama mas dazai dari fendem sebelah saja babay *kabur*
--Castor Dioscuri--
