Hal yang diharapkan setiap orang saat bangun pagi adalah membuka mata dan menatap pemandangan yang tersaji di depannya dengan binar semangat, mengusap mata untuk mengusir kabut kantuk dan menikmati sinar mentari yang menyerobot masuk melalui celah jendela.

Namun sayangnya rutinitas itu tidak dapat dirasakan pemuda bersurai baby-blue, manik matanya yang masih berkabut terbalut kain hitam menghalangi arah pandangannya, jemari pucatnya meraba dalam gelap, menerka-nerka siapa manusia laknat yang tengah mengurungnya dalam hitam.

Tubuh rinkihnya dibopong selayaknya karung oleh pemuda bertubuh super jangkung, dihiraukannya rengekan dan rontaan yang dilakukan si kecil. Tubuh yang masih berbalut piama itu dihempaskan pada bangku penumpang sebuah mobil.

Jemari pucat sang pemuda bergerak berniat membuka lillitan kain hitam pada matanya, namun sayangnya sebuah lengan asing mencengkeram lengannya, mengunci gerakan sang pemuda, menahan tangan yang kini mengambang di udara.

Penculikan, ini pasti penculikan, tapi penjahat macam apa yang menyergapnya di pagi buta dan menyeretnya dari atas pembaringan empuknya menuju suatu tempat yang asing baginya.

Malas berteriak atau karena si pemuda enggan meronta lebih keras sebab cengkeraman manusia si sampingnya makin mengerat, membuat sang pemuda akhirnya patuh pada nasib yang akan dipunggutnya, dan menyerahkan hari ini pada sang pencipta takdir.

Satu manusia kembali masuk ke dalam mobil, menghimpit sang korban penculikan. Dan bersamaan dengan desah panjang sang korban, mobil berderu halus membelah jalan menuju tempat ekskusi.

.

.

.

.

.

*Protektif Overdosis : Drabble*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Warning:

Typo, OOC, AU parah, sekuel PO, Genre tidak tentu

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

B = Beach~

.

.

.

.

.

Suara burung camar bersautan di atas kepala, bunyi desir ombak berlomba-lomba menyapu pantai, bisikan pasir putih mengelitik pendengaran, aroma laut yang biru membumbung di udara, tercium segar dan membangkitkan semangat.

Langit pantai yang indah cerah berbanding terbalik dengan aura hitam pekat yang mengitari pemuda bersurai sewarna laut, piamanya dilucuti dengan kasar tergantikan dengan celana pantai selutut berwarna biru cerah, sebuah ban karet berbentuk bebek berwarna kuning melingkar dipinggangnya secara paksa, dengan alasan paling tidak logis, yang katanya benda itu adalah lucky item aquarius hari ini.

Para pelaku penculikan hanya tersenyum puas memandang maha karya di depannya, wajah datar itu bergeming, mengirim sorot penuh ancaman dan syarat akan pembunuhan karakter melalui dua bola mata besarnya. Kedua lengan disilangkan di depan dada, kening mengkerut kesal menghadapi lima sosok pemuda bersurai warna-warni yang merupakan tersangka dari penculikan paksa dan pelucutan pakaiannya.

"Aku sudah bilang kalau hari ini aku tidak ingin kemana-mana, lagi pula semalam kita semua sudah sepakat akan menghabiskan waktu di rumah saja," kalimat protes itu mengalir lancar, tak ada nada emosi tapi terselip perasaan kesal mendasari setiap kata yang dilontarkannya.

"Musim panas itu identik dengan pantai, lagipula hanya kau sendiri yang setuju menghabiskan waktu seharian di rumah, sedangkan kami tidak," pelaku yang diindikasi sebagai dalang penculikan serta pelaku yang harus bertanggung jawab atas sakit di pergelangan tangannya mengolah pembelaan. Terlihat sang pemuda bersurai scarlet itu mencoba kembali mengais keabsolutannya kembali, menekan setiap saudaranya untuk kembali menunduk hormat pada setiap titah yang dilontarkannya.

Tetsuya hanya memandang jengkel pada kakak tertuanya, pemuda bersurai scarlet itu hanya membalas tatapan menusuk si bungsu dengan seringai menawannya. Kemeja putih tak dikancing miliknya dibiarkan tertiup angin pantai, memperlihatkan perut enam kotak di sana, si bungsu makin berdecih sebal menyadari ada perbedaan massa otot yang besar, dan sontak membuat Tetsuya merasa makin kerdil.

"Karena kita sudah dipantai, bagaimana kalau kita berenang bersama –ssu," rayu sang pemuda blonde sambil menarik-narik manja lengan si bungsu, sebelah tangannya mengeratkan pegangan pada topi jerami yang dikenakan supaya tidak terbawa angin.

"Atau kalau kau tidak mau berenang, kita bisa main volly pantai," tawar sang pemuda berkullit tan, dua manik safirnya memancarkan sorot semangat yang membara, kulit coklat eksotisnya dibiarkan terpapar udara dan hanya celana renang ketat berwarna biru tua menjadi satu-satunya garmen pembalut area kebangsawananya.

Tetsuya menyentak dua lengan yang mengapitnya, melirik tajam pada dua pemuda yang masih terus membujuknya, "Aku tidak ingin berenang, ataupun main volly," tolaknya tegas, membuat sang model pundung dipojokan, bersamaan dengan decih kesal yang terang-terangan dilontarkan pemuda berkulit tan.

"Kalau Tetsuchin tidak mau berenang atau main volly, bagaimana kalau ikut aku mencicipi makanan di sini," tawaran kembali datang, kali ini dengan suara yang lebih lembut atau bisa dibilang sedikit malas menguar dari bibir sang pemuda bertinggi abnormal, telunjuknya mengarah pada beberapa stan makanan yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju pantai.

"Tidak Atsushi-nii, lebih baik aku duduk di sini saja," tolaknya halus sambil menunjuk satu set bangku pantai di sampingnya, bagaimana mungkin dia akan menolak secara kasar jika tawaran yang datang bernada halus, atau lebih tepatnya bersuara malas.

"Baik jika itu yang kau inginkan, Aku dan Seijuurou akan kembali ke villa nanodayo," kini pemuda dengan surai zamrud yang ambil suara, menyadari kening sang adik mengkerut penuh tanya, telunjuk sang penganut oha-asa itu menunjuk sebuah villa mewah di dekat pantai, "Seijuurou baru membelinya kemarin nanodayo," imbuhnya singkat.

Sebelum melenggang pergi, Seijuurou mendekati si bungsu sejenak, sebelah tangan terjulur untuk mengacak-acak surai sang adik dengan lembut, "Jangan nakal ya," godanya singkat sambil mengerlingkan mata. Dan Tetsuya pun kembali berdecih dalam hati, ingin rasanya pemuda lima belas tahun itu melempar si sulung untuk menjadi kudapan hiu di samudera.

"Tetsuya, jangan berpikir seburuk itu," celetuk Seijuurou membalikkan badannya singkat, seraya menyeringai seram. Malas membalas, si bungsu menghempaskan pantatnya pada kursi pantai di dekatnya, membiarkan semua kakaknya melenggang pergi dengan tujuan masing-masing.

.

.

.

.

.

Tetsuya memandang malas pemandangan pantai dan laut di depannya, hawa keberadaannya ditekan sampai pada batas minimum, menyembunyikan diri di balik bayangan payung pantai bercorak pelangi yang menaungi kulit pucatnya dari terik mentari musim panas.

Lima belas derajat dari pandangannya, terlihat kakak bersurai pirangnya tengah sibuk dikerubungi beberapa fans perempuan,dan menebarkan senyum lima jarinya pada para fans yang berteriak histeris, tak jauh darinya pemandangan yang tidak jauh berbeda juga terlihat jelas, kakak berkulit eksotisnya sibuk dikerubungi perempuan-perempuan bohai dengan ukuran dada yang mungkin sama dengan massa bokong miliknya.

Jika dua kakaknya kerubungi mahluk bernama perempuan yang penebar feromon dimana-mana, maka satu kakaknya yang memiliki tinggi super maksimal tengah dikerubungi ibu-ibu penjual cemilan, menyodorkan beberapa cemilan ke arah pemuda yang akan melahap semua jenis makanan yang tersaji di depannya tandas tak bersisa. Dan jika ditanya dimana dua kakak tertuanya berada, pemuda bersurai zamrud dan scarlet itu tengah sibuk bercumbu dengan secangkir teh lengakp dengan kudapannya.

Si bungsu bukannya tidak mau menghabiskan waktu dengan bermain ke pantai, siapa juga yang akan menolak pemandangan biru sejauh mata menandang, dan melihat ombak yang mengulung-gulung menghantam pantai, tidak akan ada yang bisa menolaknya. Namun masalahnya, hari ini Tetsuya sedang dalam kadar malas yang tinggi untuk keluar dari mansion nyamannya.

Sibuk mengutuki nasibnya yang dengan mudah terseret menuruti kemauan kelima kakaknya dan berakhir dengan sendirian seperti sekarang, membuat pemuda bersurai biru cerah itu tidak menyadari sesosok gadis yang berjalan mendekatinya dan berniat untuk duduk ditempatnya berbaring.

"Maaf, bangku ini sudah ada penghuninya," tegur Tetsuya lembut, namun selembut ataupun sehalus teguran itu mengalun tidak membuat sang gadis membatalkan teriakan kagetnya. Seingatnya tidak ada orang yang berbaring di satu-satunya bangku di dekat pantai, dan kenapa tiba-tiba muncul sosok pemuda manis dengan manik azure besarnya. Seketika itu teriakan yang detik sebelumnya merupakan teriakan kaget, kini teriakan melengking itu kembali terdengar dengan nada heboh yang kentara, menarik para gadis lainnya untuk menoleh ke arahnya, menarik semua mahluk berbikini untuk menghujam Tetsuya dengan binar mengoda. Dan sukses teriakan itu mengundang para gadis untuk mendekat, bagaikan semut pada makanan manis, bagaikan lebar pada nektar bunga. Lenyap sudah benteng bernama hawa keberadaan tipis yang dibangun Tetsuya untuk melindungi dirinya dari hingar bingar teriakan histeris para remaja putri.

Alarm bahaya berbunyi nyaring di kepala lima pemuda penyandang marga Akashi, dan alarm itu hanya berbunyi jika menyangkut tentang si bungsu. Manik berbeda warna mengedarkan pandangannya untuk menginvasi setiap sudut pantai, dan secara bersamaan lima pasang mata itu menemukan si bungsu berdiri kikuk di kelilingi puluhan gadis dengan bikini seksi mereka.

Dan seolah telepati adalah hal yang sangat wajar menjadi salah satu komunikasi kelima saudara itu, Seijuurou mengumumkan misi penyelamatan si bungsu, dan serentak keempat saudaranya yang lain berlari menyongsong mahluk manis yang tengah terperangkap lautan bikini, paha dan dada putih mengkilap itu, keempatnya secepat kilat harus menyelamatkan tubuh molek si bungsu dari jamahan dan remasan para gadis yang mulai menggila karena aura manis yang terpancar dari adik paling kecil mereka. Mereka sebagai kakak saja belum pernah meraba kanvas putih kulit adiknya, mana mungkin mereka rela tubuh molek itu dijajah orang asing mendahului mereka.

Seret, usir paksa, saling dorong, saling injak adalah pemandangan saat empat kakak Tetsuya mendekati TKP, gadis jaman sekarang sungguh brutal demi mendapatkan perhatian mahluk semanis Tetsuya, bahkan saat Ryota dan Daiki menguarkan aura ketampanannya untuk umpan mengalihan perhatian, mereka hanya mendapatkan nol besar. Tidak ada satu gadis pun yang menoleh ke arah mereka, bahkan saat keduanya berpose dengan sensual sambil mempertontonkan massa otot mereka yang menawan, hanya berakhir dengan keduanya bergidik dingin karena jilatan angin laut yang semakin kencang.

Mengalihan perhatian secara halus bisa dikatakan gagal total, dan dalam otak lumayan dangkal milik Daiki, cara kasar adalah solusi yang paling mujarab, lengan kekarnya mulai membelah lautan gadis itu secara frontal, makian kasar sengaja dilontarkan untuk mengkerdirkan nyali kerumunan gadis, merasa berhasil Daiki terus menerobos barikade penggemar Tetsuya, namun nampaknya keberhasilan itu harus terlontar jauh, sejauh tubuh kekar Daiki yang didorong beberapa gadis untuk mengusirnya dari lingkup area fans Tetsuya, dan memblokade bagi siapapun yang ingin mendekati Tetsuya mereka.

Seijuurou yang masih ongkang-ongkang kaki di beranda miliknya, nampak geram karena misi yang diberikan pada saudara-saudaranya tidak kunjung membuahkan hasil. Sebuah gunting merah di tangan, pemuda pemilik manik heterocrome itu melangkah mendekati kerumunan gadis dimana adik tersayangnya terperangkap di tengahnya. Aura membunuh dikuarkan lebih lekat dari sebelumnya, gunting merah diputar-putar, dan heterocrome menghujam penuh benci ke arah para tersangka.

Bergidik ngeri, nampaknya beberapa gadis menyadari bahaya yang semakin mendekat, dan mereka cukup punya otak untuk tidak menantang maut, berangsur-angsur beberapa gadis mulai mundur dari pertempuran untuk mendapatkan Tetsuya, karena merasa punggung mereka bisa berlubang kapan saja jika terus dihujami tatapan mematikan dari heterocrome di belakangnya.

Para penganggu sudah berhasil disingkirkan, tubuh ringkih itu segera dibopong kembali oleh kakak bersurai ungunya, sedangkan kakaknya yang lain mengekor di belakang. Si bungsu kembali mendesah pasrah, sambil bergumam lirih namun cukup keras untuk didengar kelimanya, "Kan, lebih baik kita berada di rumah saja."

.

.

.

.

.

Tak ingin adik bungsu imutnya menjadi bulan-bulanan gadis-gadis yang menatap lapar ke arah Tetsuya, kelima kakaknya kini sedang mangut-mangut menatap maha karya terbarunya. Di depan mereka, berdiri sesosok mahluk manis dengan rambut panjang sepunggung berwarna biru muda, dengan blouse putih tanpa lengan berenda dibagian dada, dipadu dengan rok lipit mini berwarna biru tua. Jemari sang mahluk manis berusaha menarik-narik rok mininya mencoba menutupi paha yang terpapar udara, walaupun hal itu berbuntut sia-sia karena kaki jenjangnya masih saja terasa terjilat angin membuat tubuh lebih dari lima kaki itu bergidik tidak nyaman.

Kelima pemuda itu mungkin saja terkagum-kagum dengan maha karya yang mereka hasilkan, namun masalahnya akan timbul setelah ini. Pemandangan di depannya lebih molek daripada sebelumnya. Mengikuti rencana konyol Ryota yang mengusulkan untuk membuat Tetsuya mereka crossdressing, malah membuat si bungsu terlihat berkali-kali lipat lebih manis dari penampilan sebelumnya.

Siapa yang akan tega melempar mahluk manis itu di pasaran? Yang ada bukannya Tetsuya bebas dari para gadis brutal masa kini, dia malah akan menjadi santapan empuk para pemuda atau para pedofilia, bahkan bisa saja para gadis itu rela untuk ikut memperebutkannya.

"Lebih baik kita pulang saja," putus Seijuurou akhirnya, keempat saudaranya nampak setuju saja dengan perintah si sulung yang satu ini. Apa pun yang dilakukan mereka hari ini tidak akan pernah bisa menghindarkan si bungsu dari tatapan lapar para pengunjung pantai, dan walaupun hawa keberadaannya ditekan makin minim lagi, tidak dapat menjadi jaminan bahwa Tetsuya akan sulit ditemukan.

"Aku kan sudah bilang, lebih baik kita di rumah saja," ejek Tetsuya dengan intonasi nada suaranya yang datar, dalam hati kecilnya merasa senang karena dapat menyaksikan secara langsung bagaimana wajah kakak-kakak yang sebelumnya penuh semangat dan berbinar cerah itu kini berkabut dan mendung, bagaikan sudah tidak ada mentari yang akan bersinar esok hari.

.

.

.

.

.

FIN

A/N :

Niatnya hanya bikin drabble dan berakhir panjang lagi? *cakar dinding tetangga*

Maaf jika terlalu panjang dan keluar dari konsep drabble, semoga para reader bisa memakluminya.

[Chi-chan]

Terima kasih sudah review...^^

Silangkan tertawa... tertawa itu gratis ko, tidak dipunggut biaya. XD

Bukan salah Tetsuya jika cuek, kan salah Sei sendiri, seharusnya kalau dia cuma menyelesaikan kerjaan di rumah harusnya masih bisa kan menemani adiknya sarapan, eh... meskipun Tetsuya udah bohong seperti itu masih nggak mau nonggol juga, jadi sekali-kali Sei juga harus dikasih hukuman. XD

[Megumi]

Terima kasih sudah review...^^

Wah... sayang sekali tempatnya udah penuh, kan tiap malam Tetsuya tidurnya selalu tak temenin. XD

[Gemini Yokina-chan]

Terima kasih sudah review...^^

Makasih karena sudah dibilang bagus *terharu*

Walaupun Sei nggak dapat kecup Tetsuya, aku siap mengantikannya ko. XD

Ganti nama ya? Ayo syukurannya mana setelah ganti nama... *ditabok*

Ada yang menanti epilog?

.

.

.

.

Epilog...

Pemuda bersurai baby-blue itu seperti merasakan deja vu, atau mungkin pengalamannya di pantai kemarin dengan bonus akhir dirinya harus crossdressing adalah mimpi? Tidak... kejadian kemarin dan hari ini sangat terasa nyata bagi Tetsuya, terlalu nyata untuk dianggap sebagai mimpi apalagi ilusi semata.

Sama seperti kemarin saat hendak membuka mata dan malah mendapatkan gelap, pagi ini saat Tetsuya mencoba untuk bangun tidur, gelap kembali mendominasinya, tubuh ringkihnya kembali serasa mengambang di udara saat seseorang membopong tubuh yang masih berbalut piama itu.

Lagi-lagi sama seperti kemarin saat piamanya dilucuti secara paksa dan digantikan dengan celana selutut, dengan backsound sama seperti kemarin yaitu deburan ombak dan cicitan burung camar berteriak meriah di atas kepalanya, namun bedanya hari ini tidak ada ban karet yang melingkari luar abdomennya.

Bosan dengan semua tingkah kakak-kakaknya yang sok misterius dnegan menculiknya lebih dari sekali, kain hitam yang melingkari matanya dihempaskan secara kasar, tidak peduli dengan teriak protes salah satu kakaknya yang paling berisik, menyatakan bahwa persiapan kejutannya belum rampung sempurna.

"Apa Nii-chan tidak jera? Kenapa harus mengulangi adegan yang sama," sergah si bungsu seraya menajamkan penggeliatan, menatap tajam kakak-kakaknya yang masih memasang wajah standar.

Manik azurenya menginvasi sepenjuru pantai, ada yang berbeda dengan pantai yang diinjaknya hari ini daripada kemarin. Semua bangunan yang ada dipinggir pantai masih sama seperti sebelumnya, bahkan ibu-ibu penjual makanan yang dikunjungi kakaknya kemarin masih bertengger tidak bergerak, sama seperti dalam ingatannya. Bahkan beberapa detail pantai dan tebing tak jauh dari pantai juga masih terasa sama, hanya saja...

"Kenapa pantainya sepi pengunjung Nii-chan?" tanya si bungsu menuntut penjelasan. Cuaca hari ini sangat baik jika dihabiskan untuk berlibur di pantai, semalam juga tidak ada berita yang mengatakan hari ini akan terjadi tsunami, badai atau apapun bencana yang membuat orang enggan untuk menginjakkan kakinya menuju pantai. Sepi ini terlalu mencurigakan, kosongnya pengunjung terasa tidak masuk akal. Dan si bungsu cukup tahu siapa dalang dari semua keanehan ini.

"Tentu saja pantai ini sepi nanodayo," pemuda berkaca mata yang sebelumnya hanya bersedekap perlahan mendekati si bungsu yang terlihat berdiri kaku, sambil menepuk sebelah bahu adiknya yang tegang, sang kakak pun melanjutkan kalimatnya, "—karena semalam, Seijuurou sudah membeli pantai ini beserta bangunan yang lainnya, jadi pantai ini adalah pantai pribadi milik keluarga kita, nanodayo."

Manik azure itu membelalak kaget, menoleh ke arah kiri untuk mencari gurat canda pada kakak berkaca matanya, namun hanya mendapatkan raut itu memandangnya serius. Dan kini manik matanya menatap tajam sulung yang duduk santai di atas bangku pantai, menghujam pada satu-satunya biang keladi yang dengan entengnya membeli seluruh pantai dan isinya untuk menjadi milik pribadi. Wow... ingatkan Tetsuya bahwa kakaknya adalah orang yang mengerikan, jika kemarin Tetsuya merasa cukup senang karena liburan ke pantai mereka batal sebab peristiwa yang menimpanya, kini harus dengan alasan apa si bungsu menolak jika sedang malas berjemur di bawah terik matahari pantai yang menyengat. Oh... andaikan saja Tetsuya direlakan untuk terjun ke tengah laut dan merekomendasikan dirinya sendiri untuk menjadi kudapan hiu samudra.

Namun sayangnya pikiran itu harus ditepisnya jauh-jauh, karena Tetsuya masih tidak ingin melihat salah satu hewan penghuni samudra itu punah sebelum waktunya.

End of Epilog.