Kelapa bersurai baby-blue itu tak henti-hentinya menggeleng, sosok jangkung di depannya terus menangkupkan kedua tangannya di depan sang pemuda, sebelah mata berwarna coklat madu mengintip dan masih mendapati adik tersayangnya terus saja menggeleng tanpa lelah.
"Aku mohon bantu aku –ssu, satu kali ini saja," dua belah tangan yang sejak tadi menangkup memohon, kini mulai memijit bahu si bungsu, berharap satu tindakan kecil itu bisa meruntuhkan pendirian Tetsucchi-nya sehingga pemuda penggila vanila milk shake itu luluh dan turut dalam rencana nistanya.
"Aku tidak mau Ryota-nii, aku tidak mau melanggar jam malamku dan malah mendapat hukuman dari Sei-nii," dengan halus ditepisnya kedua jemari sang kakak yang bertengger di bahunya.
"Kita akan pulang sebelum jam malammu habis Tetsucchi, kita akan mengendap-endap keluar dan aku jamin Seicchi tidak akan menemukan kita, lagipula akhir-akhir ini Seicchi juga sering pulang malam," manik sewarna madu itu berbinar penuh harap, kedua alis matanya naik turun mencoba memikat si bungsu.
"Tapi Ryota-nii—"
Bantahan terus saja digulirkan pemuda bersurai baby-blue itu, membuat Ryota sang model harus menjalankan rencana B-nya, jika jurus rayuannya tidak mempan untuk menarik mahluk manis itu agar bersekutu dengannya maka jurus selanjutnya patut untuk dilancarkan.
"Gratis satu gelas vanila milk shake selama sebulan, bagaimana –ssu?"
Mendengar kosa kata vanila milk shake membuat dua orb azure menatap lekat manik coklat madu kakaknya, tidak ada candaan di matanya menandakan sang kakak serius dengan ucapannya.
Tapi, iming-iming gratis menenggak minuman favoritnya sangat tidak sepadan dengan bahaya yang akan dihadapinya, hukuman si sulung jauh lebih mengerikan daripada rasa manis yang dikecapnya selama sebulan dengan gratis.
Bimbang, bingung, dilema tingkat dewa. Kepala tertutup surai biru cerah itu terlihat berasap memikirkan dan mempertimbangkan setiap resiko dan keuntuangan dari sikap baiknya yang ingin membantu kakak kelimanya.
"Vanila milk shake Tetsucchi akan siap setiap pagi sebelum berangkat sekolah, bagaimana –ssu?"
Tawaran kembali hinggap, membuat putra termuda keluarga Akashi itu semakin bimbang, sedangkan sang kakak nampak makin tidak sabar menunggu jawaban yang akan diberikan adiknya.
"Dua bulan, dengan gelas jumbo di akhir pekan," jika pemuda berwajah tampan dengan surai pirangnya yang menawan itu bisa membuat tawaran, tentu Tetsuya juga punya hak untuk memberikan penawaran untuk tugas yang akan diembannya, tentu saja dengan harapan sang kakak akan keberatan dan akhirnya membatalkan semua rencananya, namun—
"Baik –ssu, gratis selama dua bulan dan gelas jumbo di setiap akhir pekan," senyum ceria tergambar jelas pada pahatan wajah sang model, sedangkan wajah putus asa menghiasi wajah pemuda satu lagi. Mengutuk diri sendiri rasanya masih belum cukup untuk menyalahkan dirinya sendiri karena tamak dan malah menerima imbas dari kalimat yang dilontarkannya. Karena tawaran sudah disepakati, mau tidak mau, rela tidak rela, Tetsuya harus bersedia diseret dalam rencana kakaknya yang lebih sering menyengsarakannya.
.
.
.
.
.
*Protektif Overdosis : Drabble*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Warning:
Typo, OOC, AU parah, sekuel PO, Genre tidak tentu
DLDR, R&R please...
Enjoy Reading Minna... ^^
.
.
.
.
.
C = Cinderella?
Cinderella + Crossdreesing = Celaka
.
.
.
.
.
Yang namanya Cinderella itu adalah putri yang harus pulang sebelum lonceng jam bergaung dua belas kali. Karena jika lebih dari tengah malam semua keajaiban yang didapatkannya dari ibu peri akan lenyap dalam kedipan mata.
Yang namanya Cinderella itu adalah putri yang kabur di tengah pesta dansa dan meninggalkan pangeran dengan sebelah sepatu kaca sebagai petunjuk untuk menemukannya.
Yang namanya Cinderella itu akan hidup bahagia di akhir kisahnya.
.
.
.
.
.
Ingin rasanya Tetsuya mengumpat, namun sayangnya belah bibirnya tidak pernah mengeluarkan kata-kata kasar, jadi umpatan itu hanya berdiam di dalam batinnya.
Ingin rasanya Tetsuya mengujam pemuda pirang yang mengumbar senyum di depannya hingga tewas bersimbah darah, namun sayangnya dia bukanlah si sulung yang selalu mengantongi senjata tajam.
Kekesalannya kini teruju pada dua hal. Kakak yang sedari tadi mengatainya manis, cantik dan senantiasa memujinya dengan jutaan kata-kata gombal serta fabrik satin berwarna putih kebiru-biruan yang melekat menutupi badannya.
Jika saja Tetsuya tidak ingat jika kini dia berdiri di tengah-tengah salah satu salon langganan kakaknya, ingin sekali sepuluh jemari lentik miliknya mengoyak kain yang membelitnya, memilih bertelanjang rasanya tidak terlalu memalukan daripada harus berjalan dengan gaun yang membalut tubuh bagian atas sampai mata kaki.
"Nii-chan, aku hanya setuju untuk menemanimu ke pesta ulang tahun senpaimu, tapi kenapa aku harus memakai gaun?"
Bibir berpoles lipsgloss berwarna pink merona itu mengerucut sebal, kening yang sudah terpoles bedak tipis berkerut terang-terangan tanda tidak suka dengan situasinya kali ini. Tak perlu banyak riasan untuk meng-makeover pemuda berwajah manis itu, hanya butuh beberapa sapuan bedak tipis, goresan tipis lipgloss digunakan hanya untuk membuat bibir yang kini sedang merengut kesal itu nampak basah dan menggoda. Bulu mata palsu juga tidak dibutuhkan karena bulu mata sang gadis coretpemudacoret sudah cukup lentik di balik dua orb azure yang membuat siapapun yang menatapnya akan terhanyut oleh warna yang sebiru lautan. Kuas blush on samar disapukan pada bawah tulang pipinya, membuat wajah minim ekspresi itu nampak merona, entah karena malu atau karena menahan amarah. Kendati ekspresi wajahnya nampak seperti korban kontipasi yang sedang cari ribut dengan orang lain, tidak menutup aura kecantikan yang menguar dari sosok pemuda yang kini sedang crossdressing atau lebih tepatnya 'dipaksa' crossdresing.
"Tetsucchi, tema pesta hari ini adalah couple, jadi jika aku datang berarti aku harus membawa serta pasangan –ssu—" jawab sang kakak tak acuh pada kabut hitam serta aura membunuh yang mengitari adik tersayangnya ini. "—lagipula kau sangat cantik –ssu, aku hampir tidak bisa mengenali dirimu. Aku yakin kau akan menjadi primadona dalam pesta hari ini."
"Kalau memang temanya couple, kenapa bukan Nii-chan saja yang memakai gaun, atau ajak saja salah satu fans Ryota-nii yang sangat banyak itu."
Geram rasanya Tetsuya menatap kakaknya yang masih berbinar saat menatapnya, jengkel pula pada berbandingan pakaian yang kini mereka kenakan. Ryota mengenakan setelan jas berwarna putih dengan kemeja kuning sebagai dalaman jasnya dan dasi berwarna kuning tua sebagai pemanis tambahan, surai pirangnya disisir rapi kebelakang, mengingatkan Tetsuya pada para pengeran di abad pertengahan. Sedangkan saat menatap cermin setinggi dua meter yang ada di belakangnya, mendadak dirinya merasa muak dengan bonus ingin muntah menyadari penampilan barunya saat ini, kendati dirinya terlihat benar-benar cantik sama seperti yang dikatakan kakaknya.
Gaun panjang berbahan satin mengkilap membungkus dada, pinggang, paha, betis hingga mata kaki. Dadanya tiba-tiba membusung dengan volume yang cukup menyakinkan bahwa dia seorang gadis. Kedua lengannya yang sedikit memiliki massa otot disembunyikan di balik rompi lengan panjang berbulu berwarna putih gading. Wig senada dengan warna surainya terpasang di kepala, di blow pada beberapa bagian dan sebuah hiasan berbentuk mawar putih tersemat di atas telinga kanannya, sedangkan seluruh rambutnya dibawa ke arah kiri melewati pundak hingga menutupi dada dan berakhir di pinggang rampingnya, bonus poni disisir ke samping kanan, untuk menutupi kening yang tak henti-hentinya berkerut sepanjang waktu.
"Tetsucchi~ jika aku yang memakai gaun, senpaiku tidak akan mengenali aku –ssu. Dan andaikan aku mengajak salah satu fansku, itu hanya akan menyakiti fans yang lain karena dianggap kakakmu ini tidak adil –ssu—"
Kelakar Ryota terdengar menyebalkan di telinga Tetsuya, jadi kakaknya lebih takut menyakiti fansnya, dan memilih menyengsarakan dirinya. Ingatkan Tetsuya untuk menghadiahi kakak tersayangnya itu dengan ignite pas kai setelah dia terbebas dari semua siksaan yang membelit tubuhnya.
"—lagipula Tetsucchi kan sudah setuju akan membantuku, jadi jalani hari ini dengan semangat ya~," sebuah cubitan gemas dari pemuda bersurai blonde mampir pada dua belah pipinya yang tersapu blush on, membuat pipi tembem itu semakin mengembung bagaikan balon.
"Sekarang sudah jam tujuh lebih –ssu, kita harus bergegas jika ingin pulang sebelum jam sepuluh malam –ssu."
Dan dengan sangat terpaksa Tetsuya menurut diseret sang kakak menuju mobil ferrari berwarna kuning yang terparkir di depan salon. Mereka memang harus segera bergegas dan pulang sebelum jam malam Tetsuya berakhir, atau mereka akan menemukan si sulung dengan gunting yang menngacung di depan hidung mereka, jika mereka pulang terlambat.
.
.
.
.
.
Sebuah ballroom hotel bintang lima disulap menjadi area pesta ulang tahun semalam, puluhan orang dengan setelan jas dan gaun terbaik berjalan beriringan. Sebelah tangan kakaknya terjulur pada Tetsuya untuk membantunya turun dari mobil mewah bermerek kuda itu. Ingin rasanya Tetsuya menepis tangan yang terjulur itu, namun untuk menghormati kakaknya yang mengajaknya ke pesta dan yang akan mentraktirnya minum vanila milk shake selama sebulan, tidak ada salahnya jika hanya malam ini saja dia berbuat baik untuk menyenangkan kakaknya yang terkenal super berisik itu.
Sebelah lengan yang terbalut rompi berbulu disematkan pada lengan kiri kakaknya, berjalan sepelan mungkin diatas flat shoes dan berhati-hati agar tidak terjatuh karena menginjak gaunnya sendiri, Tetsuya siap menantang maut.
Melirik pada pemuda jangkung yang berjalan di sampingnya, bersiap-siap akan kabur secepat kilat jika memergoki kakaknya sedang memcemooh dirinya atau menertawakan penampilannya. Namun, yang didapatkan dua azure itu adalah senyum menawan yang terkembang dari kakaknya, sebuah senyum kebanggaan karena berhasil menyeret gadis paling cantik dan akan membuat mereka berdua menjadi pusat perhatian saat pesta. Tak ingin menghancurkan euforia kakaknya, Tetsuya terus merapal mantra 'gratis vanila milk shake sebulan' untuk menjaga ekspresinya terlihat cukup menikmati pestanya, walaupun sebenarnya dia ingin segera menyelesaikan tugas konyol ini dan segera bergegas bergelung dengan selimut hangatnya di rumah.
Kasamatsu Yukio yang merupakan penyelenggara pesta sekaligus orang yang sedang berulang tahun, menyambut Tetsuya dengan ramah, setelah menghadiahi Ryota dengan tendangan ciri khasnya. Pemuda bersurai raven yang dulu menjadi kapten selama SMA itu kembali menghujami Ryota dengan tendangan dan pukulan saat memperkenalkan gadis yang diajaknya ini adalah adik lelakinya yang dipaksa crossdressing. Keduanya nampak terlibat percakapan yang intim, itu terlihat dari binar mata kedua pemuda itu yang terlihat sangat memperhatikan satu sama lain, dan tanpa sadar Tetsuya tersenyum memandangi keduanya, beruntung dia datang ke pesta hari ini, kedua azurenya menjadi saksi bagaimana binar penuh bahagia terpancar dari wajah kakak tercintanya.
.
.
.
.
.
Pesta berjalan dengan meriah, makanan dan minuman yang disajikan benar-benar mengoyang lidah, musik intrumen yang dimainkan selama acara mengalun menenangkan. Beberapa pasangan terlihat tengah berdansa, membuat Ryota menarik adiknya turut berdansa sejenak untuk menyombongkan diri karena berdansa dengan gadis paling cantik seantero ruangan.
Meriahnya acara menghanyutkan keduanya, membuat Tetsuya maupun Ryota melupakan bahwa mereka harus sudah berada di rumah sebelum pukul sepuluh malam. Nuansa romantis yang menaungi lantai dansa menghipnotis keduanya, setiap alunan musik yang masuk ke dalam gendang telinga mereka, membuat kedua semakin menikmati dansa canggung yang sudah mereka lakoni dari berpuluh-puluh menit yang lalu tanpa lelah. Tetsuya bahkan melupakan bahwa dirinya tadi datang dengan paksaan, bahkan lupa bahwa dirinya sedang kesal pada kakaknya karena memaksanya bercrossdressing. Hingga gaung sepuluh kali dari jam bandul yang ada di tengah ruangan membangunkan keduanya kembali ke alam nyata.
"Nii-chan~" guman si bungsu panik, sudah jam sepuluh malam itu berarti dirinya sudah melewati batas waktu malam yang ditetapkan si sulung.
"Tidak apa-apa –ssu, jika kita bergegas pulang, kita bisa lebih dahulu sampai di rumah sebelum Seicchi pulang dari kantor jam sebelas malam –ssu," jawab Ryota menenangkan, adrenalinnya turut terpacu, tapi di depan si bungsu, sang model remaja itu berusaha keras agar tidak membuat adiknya itu semakin panik.
"Kalau begitu aku akan ke kamar mandi sebentar untuk berganti pakaian, sedangkan Nii-chan bisa berpamitan pada senior Nii-chan," ucap Tetsuya seraya bergegas menyambar tas yang ditinggalkannya di kursi dekat meja, bahkan sebelum Ryota mencegahnya, pemuda cantik itu sudah menghilang di balik pintu Ballroom.
.
.
.
.
.
Kedua kaki Tetsuya tercekat di depan dua bilik kamar mandi, sebelah kiri adalah kamar mandi untuk laki-laki dan di sebelah kanan adalah kamar mandi perempuan. Kebimbangan membuat setiap detik semakin mengikis habis waktunya, dan dalam lima detik berikutnya Tetsuya sudah memantabkan diri untuk melangkah menuju bilik toilet bertulis 'men'. Karena dirinya tidak mau di cap sebagai hidung belang apabila setelah berganti baju Tetsuya berpapasan dengan perempuan yang masuk ke dalam toilet. Jadi rencananya adalah Lady Tetsuya akan bergegas menerobos pintu kamar mandi dan langsung masuk ke salah satu bilik, berganti pakaian secepatnya kembali menjadi Tetsuya, kemudian langsung pulang menuju rumahnya sebelum si sulung menemukannya mengendap-endap melanggar jam malam, jika dipikir-pikir rencananya cukup briliant dan memiliki kemungkinan berhasil cukup besar.
—namun jika saja Tetsuya memiliki keberuntungan yang cukup tinggi untuk membuat rencana sederhananya menjadi sukses besar.
Kedua lengan itu mendorong dengan keras pintu toilet dengan harapan dia dapat segera masuk salah satu bilik dan luput dari perhatian orang lain, namun sayangnya kesialan menghalangi jalan Tetsuya karena tanpa sengaja pintu yang di dorong mengenai wajah seorang pria semampai yang tidak dikenalnya.
Buru-buru Tetsuya membungkuk dan meminta maaf, tidak ingin pria berwajah garang itu melahapnya hidup-hidup. Bau alhokol pekat menusuk hidung, arahnya adalah dari mulut sang korban pintu yang kini berlahan-lahan mulai mendekati Tetsuya, pemuda berbalut gaun itu terpojok di sudut, tumbuh kekar pria korabannya terus merangsek mendekati dan menghimpitnya.
"Ap- Apa yang anda lakukan?" gugup jelas terdengar dari suara Tetsuya, dirinya sedang dikejar waktu, tidak ingin berlama-lama dan membuatnya makin larut pulang ke rumah.
"Hmm~ bukannya kau sedang ingin menggodaku, gadis manis? Jika seorang gadis tiba-tiba masuk ke dalam toilet laki-laki kalau bukan untuk menggoda lalu apa, hmm?"
Kedua tangan pria yang diprediksi mencapai usia kepala tiga menghalau jalan keluar Tetsuya, tangan kekarnya diletakkan di sebelah telinga kanan dan kiri Tetsuya, makin menghimpitnya di sudut toilet. Tas berisi pakaian dipeluk di depan dada, pikirannya buntu seketika, pria di depannya ini sedang mabuk, itu terlihat jelas dari raut wajahnya yang memerah dan aroma tubuhnya yang pekat bau alkohol. Satu satu cara untuk lepas dari situasi ini adalah dengan menyerang titik fatal sang pria.
DUAK
Satu tendakan cukup membuat pria yang ingin menodainya tersungkur, tanpa membuang waktu lagi, Tetsuya langsung mengambil kesempatan ini untuk kabur dari toilet. Namun sayang, ketangkasan dan kekuatan sang pria jauh lebih kuat dari bayangan Tetsuya, tendangan yang diberikannya tidak mempan sama sekali, bahkan kini lengan kekar itu sudah bisa menggapai tangan Tetsuya, dan dengan sekali hempas kini Tetsuya kembali dihimpit pada lantai di depan pintu.
"Kau tidak bisa lari dariku, gadis manis. Semakin kau ingin lari semakin aku ingin memilikimu."
Rontaan yang dilakukan Tetsuya tidak berimbas apapun pada kebebasannya, yang ada tenaganya makin melemah seiring dengan rontaan yang coba dilakukannya.
"Kau gadis kecil yang sungguh menggoda, tenang sayang... aku akan sangat berhati-hati melakukannya."
Muak rasanya Tetsuya mendengar semua kalimat yang dilontarkan pemabuk itu, dilihat dari pakaian yang dikenakannya pasti termasuk jejeran orang dengan kantong tebal. Meskipun begitu tidak layak seorang pria dari kalangan atas melakukan pelecehan terhadap anak dibawah umur seperti ini. Dan saat Tetsuya berniat untuk berteriak agar lolos dari situasi ini, lengan kekar yang sebelumnya mencekram tanganya kini membekap sehingga semua teriakan kembali teredam.
"Aku sudah mengatakan bahwa aku akan berhati-hati, tidak usah teriak atau aku akan bermain kasar."
Siapa yang harus disalahkan jika sudah seperti ini? Kakaknya yang mengajaknya ke pesta? Pemabuk yang kebetulan menemukannya di toilet pria? Atau dirinya sendiri yang lupa sehingga melanggar jam malam? Atau keputusan bodohnya yang tiba-tiba masuk toilet pria sedangkan saat itu dia mengenakan gaun?
Penyesalan-penyesalan itu tak terkatakan, hanya runtuh, leleh bersama air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Jangan menangis sayang... aku bahkan belum menyentuhmu."
Pria kurang ajar itu mendekatkan wajahnya, menjilat dengan penuh nafsu air mata Tetsuya yang makin deras mengalir. Sebelah tangan yang lain mulai mengoyak gaun panjang Tetsuya, memperlihatkan sepasang kaki jenjang mulus tanpa cacat, membuat sang pria semakin terpecut nafsu untuk segera menghujaninya dengan cumbuan nafsu.
Kedua mata Tetsuya terpejam kuat, sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, tenaga pria yang meringkusnya terlalu kuat untuk dilawannya sendiri. Dan dalam keadaan pasrah sebuah suara yang sangat dikenalnya membuatnya kembali bergantung pada sedikit keberuntungan agar bisa lolos dari situasi buruk ini.
"Apa yang kau lakukan! Lepaskan adikku brengsek!"
.
.
.
.
.
Semua terjadi begitu cepat, Ryota datang disaat paling genting, meninggalkan suara cerianya, serta penambahan survik –ssu pada akhir kalimat. Ryota menghujani pria pemabuk itu dengan tinju secara membabi buta. Dan segera bergegas menarik adiknya untuk segera kabur dari tempat laknat itu.
Keduanya terengah-engah dalam proses menyelamatan diri, gaun yang sudah terkoyak sampai betis itu juga menghambat gerak kaki Tetsuya untuk berlari, sehingga dengan terpaksa Ryota harus menyobek gaun satin itu hingga tinggal sepanjang lutut sang adik. Sudah tidak ada waktu untuk berganti pakaian, lagipula tas berisi pakaian milik Tetsuya tertinggal di toilet.
Tepat pukul sebelas keduanya sampai di lapangan parkir hotel, buru-buru masuk ke dalam kendaraan dan menghirup napas dalam-dalam. Pasangan adik kakak itu terpaku diam, debaran jantungnya berpacu cepat, setelah keduanya sama-sama sudah merasa tenang, kikik samar mulai terdengar dari dalam ferrari kuning itu. Siapa yang menyangka jika ide gila kakaknya bisa berimbas pada keselamatan dirinya.
"Sepertinya aku harus kembali ke toilet tadi Nii-chan, pakaianku tertinggal di sana, aku tidak mungkin pulang dengan pakaian seperti ini," ucap di bungsu begitu kikik keduanya sudah mereda.
"Biarkan aku saja yang mengambilnya –ssu, aku takut kalau kau yang mengambilnya om pemabuk itu akan menyerangmu kembali."
Sebuah senyum menghangatkan diberikan Ryota pada adiknya, dan ketika sang model akan melangkahkan kakinya keluar untuk mengambil baju ganti si bungsu, sebuah dering ponsel menyentakkan keduanya.
Ragu-ragu dipandanginya sang penelpon, dan manik sewarna madu itu langsung terbelalak begitu nama si sulung tercetak pada layar ponselnya.
"Hallo Sei—"
"Ryota aku tidak peduli dengan dirimu, yang jelas bawa Tetsuya pulang sekarang juga!"
Tut tut tut tut—
Sambungan terputus, bahkan sebelum Ryota mengucapkan salam pada sang penelpon, benar-benar sudah tidak bisa kembali, walaupun hanya untuk mengambil tas milik adiknya. Keduanya kesusahan menelan ludah, baritone si sulung bergaung cukup keras sampai dapat di dengar Tetsuya yang sedang duduk di samping kursi kemudi. Keduanya cukup yakin jika mereka makin mengulur waktu untuk pulang, bisa saja si sulung yang otoriter itu akan mengerahkan puluhan anak buahnya untuk menjemput, atau jika mereka beruntung kakak tertuanya sendiri yang akan menjemput secara pribadi dengan resiko salah satu dari mereka atau lebih tepatnya Ryota keesokan harinya hanya akan menjadi sejarah.
"Lebih baik kita segera pulang –ssu," ajak sang pemuda yang duduk di depan kemudi, wajah cerianya mendadak pucat pasi, hampir sama dengan wajah sang adik yang terlihat lebih pucat dari biasanya.
"Un—" jawab sang adik singkat.
'Kita tidak akan selamat malam ini,' batin keduanya seiring dengan deru halus ferrari yang membawa mereka membelah jalan menuju mansion mereka, perjalanan mereka terasa berat. Karena malam ini mereka seperti akan berjalan menuju neraka dengan Seijuurou sebagai raja iblisnya.
.
.
.
.
.
FIN
Ada yang penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya?
Seperti biasa~ selalu ada Epilog menanti di halaman terakhir...
[Chi-chan]
Terima kasih sudah review... ^^
Menjawab pertanyaan, Seijuuru kayanya sampai tujuh turunan... XD
Terima kasih sarannya, aku akan terus berusaha untuk semakin baik dalam pebulisannya. Dan semoga cerita kali ini lebih memuaskan untuk Chi-san.
[yuzuru]
Terima kasih sudah review... ^^
Ryota udah terlalu sering tebar pesona, jadi meraka mungkin udah bosen. XD
Yupz... Akashi kayanya tujuh turunan, dan mungkin saja Seijuurou akan beli gunung, jika memang ada yang memanggu Tetsuya-nya. XD
[amelda]
Terima kasih sudah review... ^^
Sei... kamu dipuji sama amelda-san lho... katanya jiwa protektifmu patut diacungi jempol.
Sei : tentu saja, karena aku selalu benar. /smrik
[akakuro seiya]
Terima kasih sudah review... ^^
Ini sudah dipanjangin, tapi ngga tahu juga cukup seru untuk Seiya-san atau tidak. Semoga saja berkenan.
[Ega Skylight]
Terima kasih sudah review... ^^
Ini sudah tak bikin crossdress lagi... lebih lama, lebih panjang. Jangan nangis lagi ya~ ^^
Semoga berkenan baca lagi...
Epilog.
Bulan bersinar terang di atas kepala, kedua calon korban kemarahan Seijuurou, hampir tengah malam sudah sampai di rumah mereka yang kali ini terasa seperti makam angker atau neraka dadakan. Suasana sepi terasa ganjil, setidaknya di hari biasa akan banyak para pelayan mereka berkeliling walaupun hari sudah larut.
KRIET...
Bahkan hanya untuk membuka pintu depan, suaranya decitannya sudah meretas bulu kuduk, membuat adrenalin terpacu dan debaran jantung melompat tidak tentu. Keduanya mengendap-endap dalam remang rumah minim cahaya. Mungkin karena sudah malam, seluruh gemerlap lampu dipadamkan untuk menghemat energi bumi.
Pasangan pedosa itu merasa cukup bersyukur dengan tidak menemukan kakaknya yang psikopat mengacungkan gunting di depan pintu rumah.
"Kenapa kalian mengendap-endap seperti pencuri hanya untuk masuk ke dalam rumah?"
Namun rasa syukur itu hanya berjalan beberapa detik, perasaan lega itu tergantikan panik saat sebuah suara syarat emosi bergaung dalam nuansa gelap yang kemudian disusul dengan jentikan jari, membuat ruang depan yang semula berselimut gelap kini dilimpahi cahaya terang berasal dari lampu gantung bersepuh emas di atas ruangan.
"Kalian berdua, ikut aku ke ruang baca!"
Kedua adiknya tersentak kaget dengan kemunculan secara tiba-tiba iblis cebol di ujung tangga spiral, dan tanpa perlawanan apalagi bantahan, keduanya dengan patuh mengekor si sulung menuju ruang baca yang berada di sayap kanan. Malam semakin larut untuk memberontak, tenaga keduanya sudah terkuras hingga kosong hanya untuk melontarkan alasan dan pembelaan diri. Apapun yang akan disuguhkan si sulung akan mereka terima, walaupun itu adalah tiang gantungan.
.
.
.
.
.
"Hmm... Sei-nii," rintih itu digumamkan, sebagai tanda protes atas posisi yang dialami si bungsu sekarang ini.
"Diam kau Tetsuya! Ini hukuman untukmu!"
Tetsuya hanya bisa meremat ujung gaunnya yang kini hanya sepanjang lutut dengan cemas, rompi berbulunya sudah tidak melekat di badannya sejak masuk ke dalam ruang baca, membuat hembusan napas panas Seijuurou langsung mengelitik lekukan lehernya. Punggung si bungsu melekat pada dada bidang si sulung, dua bantalan pantatnya duduk di atas sepasang paha yang masih berbalut celana kerja. Jika si bungsu gugup luar biasa, maka sang kakak tenang penuh seringai, lengan kanan Seijuurou masih sibuk membolak balikkan berkas di atas meja, sesekali membubuhkan tanda tangan di atas kertas penuh ketikan kata, sedangkan lengan kirinya, merengkuh pinggang sang adik agar tidak berkutik di atas pangkuannya.
"Sei-nii... sampai kapan hukumanku berakhir?"
"Sampai aku puas Tetsuya!"
Kedua azure itu membulat, berniat untuk memelototi si sulung namun urung karena disambut dengan seringai menyeramkan dari kakak tertuanya. Ryota yang menyaksikan pertunjukan di depannya hanya bisa terdiam tanpa kata, wajahnya sudah sangat memerah dan rasanya hampir meledak. Bukan, bukan karena kalimat ambigu si sulung, bukan juga karena menampilan si bungsu yang menggoda, wajahnya memerah karena darah yang terus mengalir ke kepala bersurai pirangnya. Bagaimana tidak, karena kepala sang model remaja itu kini tergantung setengah meter di atas lantai, sedangkan kaki jenjangnya di gantung dekat langit-langit, singkat kata pemuda berusia tujuh belas tahun itu di gantung terbalik, tak jauh dari sana sebuah tali diikatkan di dekat pintu masuk.
Siapa yang menyangka bahwa menjebak adik keempatnya itu semudah menjebak hewan di hutan, hanya dengan seutas tambang dan satu tarikan kecil. Hup! Si pirang sudah tergantung seperti kelelawar siap tertidur.
Dengan sengaja, jemari yang sebelumnya membolak balikkan kertas kini jatuh di atas paha sang crossdreeser, mengelus lembut paha yang terlihat mengkilap karena peluh yang terus saja membanjiri tubuhnya.
"Salah sendiri kau pulang dengan keadaan menggoda seperti ini, seingatku aku hanya punya adik laki-laki, aku tidak ingat punya adik yang pandai menggoda seperti ini," kalimat seduktif itu melunjur lancar, membuat bulu kuduk Tetsuya makin meremang.
Penampilannya memang tidak serapi seperti sebelumnya, tapi riasan, rambut palsu serta gaun selututnya masih bisa dikatakan cukup manis, dan cukup untuk membuat Seijuurou tergoda dengan kemolekan tubuh adiknya. Tak mampu memberontak, si bungsu hanya bisa mengigit bibir saat tangan sang kakak terus bergerilya di atas pahanya.
"Seicchi... kalau hukumanku sampai kapan? Aku sudah minta maaf dan benar-benar menyesal –ssu," rengekan Ryota membuat gerakan Seijuurou terhenti, heterocromenya menghujam marah pada satu-satunya pelaku yang menyeret Tetsuya sampai larut malam.
"Sampai pagi Ryota."
"Hidoi –ssu."
Tangis buaya Ryota pecah tak terkira, membuat putra pertama keluarga Akashi menutup satu telinganya agar terbebas dari polusi suara. Begitu ada kesempatan emas, Tetsuya tidak ingin melewatkannya, kungkungan lengan si sulung melonggar, buru-buru dirinya melompat dari pangkuan kakaknya, kemudian membungkuk seraya minta maaf dengan penuh sesal sebelum kakinya bergerak menjauhi kakaknya, takut jika dia telat bergerak, si sulung akan kembali menyeret dirinya. Sedikit telat merespon, Seijuurou tercengang dengan gerakan tiba-tiba si bungsu, manik heterocromenya terus mengawasi mahluk manis itu yang berjalan perlahan pada si pirang yang masih menggantung.
Seijuurou mengira, pemuda baik hati itu akan melonggarkan tali jerat kakak pirangnya, namun rupanya Tetsuya tidak melakukannya, sebelum tubuhnya menghilang di telan pintu, Tetsuya berkata di depan kakak yang dua tahun lebih tua darinya. "Ryota-nii, jangan lupa vanila milk shake gratis selama sebulan dengan gelas jumbo di akhir pekan."
End of Epilog.
