"Guk,"
Dua binar mata sewarna saling tatap dalam hening.
"Guk,"
Akashi Tetsuya, yang baru saja selesai melakukan pertandingan melawan SMA Shuutoku, sedang berjongkok di depan kardus berisi anak anjing jenis Alaska Malamute, bagian atas kepalanya berwarna hitam dengan perut dan kakinya sewarna salju.
"Guk,"
Si kecil itu mengonggong sekali lagi untuk menarik perhatian pemuda di depannya, manik biru cerah yang memandang Tetsuya penuh suka cita itu membuat sang pemuda merasa tak asing dengan apa yang dilihatnya.
.
.
.
.
.
Satu ketertarikan yang kasat mata menguasi si bungsu keluarga Akashi, gonggongan kecil itu sungguh telah merengut seluruh perhatian pemuda bersurai baby-blue, manik aquamarinenya terus menatap penuh arti dua manik yang sewarna dengannya. Satu tekad sudah dibulatkan, tidak akan peduli seluruh kakaknya akan setuju atau tidak, satu doa digumamkan sepanjang perjalanan pulang, semoga lima kakak tersayangnya bersedia menerima si mungil unyu dalam gendongannya menjadi salah satu keluarga tambahan yang bisa lebih menyemarakkan kehidupan bahagianya.
"Guk."
Seolah mengerti kegamangan hati manusia yang bersedia memungutnya dari dingin dan kejam dunia, anjing berbulu tebal yang beberapa menit lalu telah dianugerai nama 'Nigou' oleh teman-teman setimnya di SMA Seirin, menggongong untuk menyemangi, dan Tetsuya yang menyadari saluran semangat dari bola bulu bernapas itu hanya tersenyum seraya mengusap bulu hitamnya lembut.
.
.
.
.
.
*Protektif Overdosis : Alphabetically*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Warning:
Typo, OOC, AU parah, sekuel PO, Genre tidak tentu
DLDR, R&R please...
Enjoy Reading Minna... ^^
.
.
.
.
.
D = Dog
.
.
.
.
.
"Tidak!"
Satu suara bergaung menyeramkan memecah keheningan malam, memenuhi sebuah ruangan dengan status super mewah di salah satu sudut mansion milik keluarga maha kaya.
"Tapi—"
Suara lainnya yang terdengar lemah mencoba mempertahankan apa yang menjadi harapannya dan semua kalimat itu harus kembali tertelan dalam kerongkongan karena sebuah suara penuh intimidasi memotong kalimat yang hanya satu kata.
"Apa kau berniat membantah perintahku, Tetsuya? Jika aku mengatakan tidak, itu artinya tidak!"
Dingin, tegas dan tanpa cela. Membuat pemuda bersurai baby blue semakin menciut di hadapan kakak sulungnya, dua manik azurenya yang mulai berkaca-kaca mencoba menjalin kotak mata dengan heterocrome yang menatapnya tajam, berharap mendapat sedikit rasa iba pada apa yang kini bergelung dalam dekapan Tetsuya, Nigou —anjing jenis Alaska Malamute berusia dua tahun, meringkuk dalam-dalam, enggan mengonggong ceria apalagi menampakkan wajahnya pada manusia besurai merah yang terus mengintimidasi majikan barunya, wajah penuh bulu Nigou makin beringsut dalam dada Tetsuya, seolah-olah si mungil itu terlalu takut menatap manusia setengah iblis yang terus bersedekap sambil memandangnya dengan tatapan horor.
"Aku mohon Nii-chan, aku tidak tega membiarkan Nigou sendirian di luar sana," Tetsuya berusaha memasang ekspresi paling sedih yang dapat dia lakukan, apapun akan dilakukannya untuk mendapatkan restu dari sang kakak yang superior untuk merawat anjing yang kini menatapnya sayu.
Oh... cobaan apa yang tengah Kami-sama berikan pada sang kepala keluarga Akashi, di depannya sang adik tengah memasang wajah sedih, membuat sang kakak harus menahan gejolak hatinya dan niat busuknya untuk segera memboyong manusia bersurai baby-blue itu ke dalam kamarnya serta mengurung adiknya selama-lamanya, jauh dari kenistaan dunia yang bisa saja menodai mahluk paling suci dihadapannya kini.
Namun, niat itu tertampikkan dengan segera, saat sebuah mahluk serupa buntelan bulu makin bergelung menyamankan diri, meringkuk dalam pelukan adiknya, mendekati dadanya sambil memandang pemuda yang kini menjadi majikannya dengan tatapan penuh arti, simpang empat sukses menghiasi kening sang superior. Sifat yanderenya kumat seketika saat pemandangan dihadapnnya tersaji gratis tanpa tendeng sensor apalagi halangan.
"Tetsuya! Buang anjing itu segera! Aku tidak ingin mahluk jelek itu berdiam di dalam rumah kita."
Terdengar samar bunyi retak hati dari arah Tetsuya, perintah kakaknya telak tanpa cela mematahkan hatinya yang selama ini terjaga baik tanpa ada yang menyakiti, terawat elok tanpa ada yang mencederai, terpelihara sangat baik karena malaikat penjaganya berjumlah lima pemuda bersurai warna-warni. Tapi kini, sang kakak tertua, kakak yang sangat dihormatinya, sangat disayanginya, malah menjadi orang pertama yang menghujamkan belati penuh racun ke dalam hatinya yang putih.
"Nii-chan... aku mohon, aku bersedia melakukan apapun, tapi jangan buang Nigou, kasihan dia. Dia dibuang, sendirian, tanpa teman, tanpa perlindungan," racau Tetuya, wajah sedihnya bukan lagi hanya basa-basi, air mata yang menumpuk juga bukan air mata buaya seperti kakak bersurai pirangnya, air yang mengenang dipelupuk mata itu seratus persen terdiri dari air mata penuh kesedihan.
Air mata nampaknya tak juga meluluhkan kebekuan hati kakak merahnya, mungkinkan hati sang kakak sekeras batu sehingga nularinya buta akan mahluk mungil yang butuh perlindungan, ataukah sang kakak mempunyai truma terhadap mahluk yang katanya adalah sahabat terbaik manusia?
Spekulasi terus berputar dalam benak si bungsu, tatapan matanya masih sayu, masih penuh pengharapan, masih penuh dengan permohonan untuk melancarkan niat sucinya yang ingin menampung si mungil.
Lengan Tetsuya terjulur, menarik ujung lengan pakaian sang kakak yang entah sejak kapan si sulung sudah memalingkan wajahnya, menghindari ratapan adiknya yang bisa saja membuatnya semakin merasa bersalah.
"Nii-chan, aku mohon..." nada sendu itu terdengar jelas melewati telinga si sulung. Sungguh, rasanya sulit mengabaikan satu-satunya adik paling manis yang dimilikinya, namun saat berbalik dan mendapati si anjing berbulu haus itu semakin menguasai pelukan adiknya, simpati yang sempat terbit kembali tenggelam tanpa peringatan.
"Tetsuya—"
"Aku mohon Nii-chan, aku akan merawat Nigou di luar rumah, jika memang Nigou tidak diperbolehkan ada di dalam rumah," potong Tetsuya. Sudah tidak peduli lagi dengan marah sang kakak karena kelancangannya yang memotong pembicaraan, bahkan jika sang kakak tetap kukuh untuk menolak permintaannya, Tetsuya sudah berniat akan memohon sepanjang malam.
Ah... andaikan saja Tetsuya tahu cara paling jitu untuk mengoda kakaknya dan supaya setiap keinginannya terpenuhi, andaikan saja Tetsuya dapat mendengar jerit cemburu tak masuk akal dari kakak sulungnya yang terkenal paling beringas, andaikan saja Tetsuya bersedia goyang pinggul di depan kakaknya, pasti keinginan paling absurd pun akan dituruti oleh kakaknya.
Tapi sayang, pikiran Tetsuya tidak senista itu. Yang ada dipikirannya adalah akan berlutut semalaman demi izin lisan untuk merawat Nigou walaupun harus bersedia menempatkan anjing temuanya itu di luar rumah. Bagi si bungsu hal tersebut jauh lebih baik daripada membiarkan Nigou mengelandang di jalanan.
Entah ikatan macam apa yang terjalin diantara keduanya, yang jelas dua manik secerah langit yang dimiliki anjing berusia dua tahun itu memancarkan rasa yang sama saat Tetsuya berada di dalam mansion mereka sendirian, terpancar rasa sedih dan kesepian yang sama seperti dirinya. Seolah-olah Tetsuya dapat bercermin tentang dirinya sendiri pada anjing berbulu hitam putih itu.
Walaupun Akashi Seijuurou terkenal sebagai manusia paling kejam, paling tidak punya hati, paling sadis dan merupakan turunan iblis raja tega, tapi jika dihadapkan pada wajah kuyu si bungsu yang sehaari-harinya berekspresi datar membuat hati terhenyak tanpa komando, rasa sebal pada buntelan bulu itu masih ada tapi terkalahkan oleh ekspresi sayu si bungsu yang seperti kehilangan cahaya hidup.
Mendesah panjang diselingi dengan mengusap lembut surai baby-blue di dekatnya, akhirnya Seijuurou memilih untuk mengindahkan harapan si bungsu, bukannya mengalah pada anjing bermuka unyu yang kini mulai memandangnya penuh tatapan haru, putra tertua Akashi itu hanya tidak ingin menyaksikan wajah sedih adiknya lebih lama lagi.
"Aku membiarkanmu merawat anjing jelek itu dengan beberapa syarat Tetsuya! Pastikan kau mematuhi semuanya atau aku tendang bola bulu itu kejalanan," walaupun terdengar kejam dan jahat, tapi pada telinga Tetsuya terdengar sejuk bagaikan angin surga, si sulung yang sebelas dua belas antara yandere dan tsundere benar-banar manis, sontak membuat si bungsu ingin segera menghamburkan diri untuk memeluk kakaknya sebagai ucapan terima kasih, tapi berhubung kedua tangannya masih sibuk mengendong Nigou, niat baik Tetsuya harus ditunda beberapa waktu.
"Arigatou Sei-nii," dan hanya ucapan terima kasih yang bisa diberikan sang adik saat ini, seulas senyum disunggingkan Tetsuya sebagai kado sebelum tidur untuk si sulung yang telah memberinya ijin walaupun dengan berat hati.
Dan malamnya Seijuurou sibuk menyusun rentetan syarat untuk menjauhkan si bola bulu dari adik tercintanya.
.
.
.
.
.
Satu ijin paling sulit dikantongi, akan mudah bagi Tetsuya untuk menarik ijin dari empat kakak yang lainnya, tapi masalahnya adalah syarat macam apa yang akan diajukan si sulung nantinya.
'Semoga bukan hal yang berat untuk dilakukan,' doa Tetsuya dalam hati.
Dan sebelum kabut kantung mengulung Tetsuya dalam lautan mimpi, seorang maid mengetuk halus pintu kamarnya, menyajikan sebuah kertas bertulis tangan rapi yang sangat dikenalnya sebagai tulisan tangan si bungsu.
Di sudut atas tertulis 'Syarat untuk Tetsuya', sontak membuat pemuda berusia lima belas tahun itu terkikik geli melihat tingkah kakaknya yang segitu niat melayangkan syarat untuknya, dengan semangat empat lima mulai dibacanya setiap rentet kata yang tertulis sangat rapi dari kakak tercintanya.
Anjing jelek dilarang memasuki rumah.
Sebelah alis Tetsuya terangkat heran, panggilan paling tidak kreatif yang pernah didengarkannya untuk ukuran memanggil seekor anjing manis berwajah unyu yang kini meringkuk menghangatkan diri di beranda luar kamar Tetsuya.
Tetsuya dilarang membawa anjing buluk ke dalam rumah.
Saat membaca poin kedua, Tetsuya terkikik karena panggilan yang disematkan sang kakak pada anjing yang ditemukannya tadi sore. Sebegitu bencikah sang kakak pada seekor anjing sehingga tak ingin menyebutkan namanya?
Hanya boleh memberikan makan di luar rumah.
Poin ketiga dirasa paling masuk akal, karena tidak ada panggilan aneh lagi yang ditulis menyertai syarat ketiga, mungkin sang kakak mulai jengah memberikan julukan aneh pada anjing yang sebenarnya bertingkah manis itu. Apa kakaknya tidak bisa melihat bagaimana manisnya Nigou yang terus bergelung dalam dekapannya, seolah ingin menyusu pada induknya saja.
Oh... Tetsuya andaikan saja engkau tahu poin penting kenapa kakakmu sangat membenci Nigou adalah karena melihat kemesraanmu pada mahluk berkaki empat itu.
Segala macam kotoran, bulu dan liur anjing tidak boleh ada di dalam rumah.
Poin empat dilewati tanpa protes, karena Tetsuya juga sependapat dengan apa yang dipikirkan kakaknya melalui syarat keempat.
RUMAH dan segala kebutuhan bagi anjing buluk harus disediakan SENDIRI secara PRIBADI oleh Tetsuya, tanpa adanya bantuan.
Wajah datar Tetsuya mendadak menjadi semakin datar, tiga kata ditulis dalam kapital menyatakan tekanan pada kata semakin terasa mengintimidasi. 'Rumah', 'Sendiri' dan 'Pribadi' tiga kata itu memiliki konteks yang bisa membuatnya gigit jari. Memberi makan dan menyediakan makan secara pribadi tentu bukan hal yang sulit, tapi menyediakan rumah untuk Nigou dengan sendiri dan pribadi pasti bukan perkara mudah. Dan sialnya karena Tetsuya sudah berjanji akan menyanggupi segala syarat yang akan diajukan sang kakak, jadi mau tidak mau, rela tidak rela, syarat kelima memang harus dilaksanakan.
Dan saat Tetsuya menolehkan kepalanya pada jendela tinggi yang tirainya dibiarkan sedikit tersibak, serta menatap Nigou yang meringkuk melawan dingin di beranda miliknya, membuat Tetsuya membulatkan tekad untuk membuat rumah nyaman bagi anjing kecilnya besok pagi.
.
.
.
.
.
Kayu, paku, palu, cat kayu. Sejak pagi buta Tetsuya sudah meminta bantuan salah satu pelayannya untuk segera menyediakan peralatan yang dibutuhkannya sebelum kakaknya bangun. Setelah menerima surat berisi surat mandat alih-alih persyaratan, semalaman Tetsuya merancang bentuk rumah anjing idamannya, dan pada sepertiga malam akhirnya Tetsuya selesai menyelesaikan desain rumah milik Nigou, dan hari ini, pada hari minggu yang cerah, Tetsuya berencana untuk mewujudkan rancang bangun ciptaannya dengan kedua tangannya sendiri dan secara pribadi berdasarkan titah sang kakak yang maha agung, yang tak akan suka jika dibantah.
Sejak selesai bersantap pagi, tanpa membuang waktu, tanpa berbasa-basi, tanpa bersikap manja seperti pada hari minggu-minggu sebelumnya, dua kaki Tetsuya segera beranjak dari ruang makan, dan bergegas melesatkan diri menuju pelataran belakang mansion mereka yang super luas, dan kini dihadapannya tersaji benda-benda yang sejujurnya bagi sang tuan muda Tetsuya terlihat sangat asing, tangan halusnya belum pernah bersinggungan dengan berkakas pertukangan selama hampir seumur hidupnya.
Tapi, toh Tetsuya sudah membulatkan tekad semalaman, tidak ada alasan baginya untuk mundur, apalagi merengek bantuan pada lima kakaknya untuk misinya menyediakan hunian nyaman bagi sang anjing perliharaan.
"Guk!"
Dan seolah mengerti kegundahan sang majikan, anjing peranakan Alaska Malamute itu mengonggong pelan untuk menyumbangkan semangatnya pada sang pemuda berwajah manis. Sebuah usapan diberikan pada Nigou sebagai penghargaan, senyum terkembang, dia tidak sendirian, karena selalu ada Nigou yang bersedia menemaninya sepanjang hari.
.
.
.
.
.
"Apa yang dilakukan Tetsuyacchi –ssu?" pemuda blonde dengan manik topaznya mengamati adik mungilnya yang kini sedang sibuk mengaduk-aduk peti kotak berisi perkakas pertukangan.
"Aku menyuruhnya membuat rumah untuk anjing temuaannya kemarin," jawab si sulung yang baru saja bergabung mengamati si bungsu dari balik jendela besar yang ada di depan beranda dekat pelataran tempat Tetsuya tengah sibuk dengan bisnisnya.
"Kau gila Seijuurou, mana mungkin Tetsu mampu untuk membuat rumah anjing, tangan halusnya itu tidak pernah melakukan pekerjaan berat," kakak Tetsuya yang berkulit tan meradang, kedua kakinya hendak beranjak keluar dari ruangan menuju pelataran belakang dengan niat membantu adik kecilnya, sebelum sebuah suara membekukan kedua telapak kakinya seolah terpasung pada lantai di bawahnya.
"Aku sudah mengatakan pada Tetsuya bahwa dia tidak boleh menerima bantuan dari siapapun, kau akan sangat menyesal jika menentangku Daiki, aku pastikan hidupmu tidak akan menyenangkan jika kau benani tidak mematuhi perintahku."
Sapuan angin dingin kasat mata membuat bulu kuduk semua remaja di dalam ruangan itu meremang, kakak tertuanya itu selalu tidak main-main dengan setiap ancaman yang dilontarkannya, andaikan saja Daiki tidak memiliki ikatan darah dengan pemuda bertinggi badan kurang dan sikapnya serupa iblis, pasti Daiki tidak segan untuk mengirim Akashi Seijuurou ke ruang hampa, biar tidak ada manusia yang menerima ancamannya lagi.
"Bukannya aku peduli nanodayo, tapi apa yang dikatakan Daiki ada benarnya. Untuk anak lemah seperti Tetsuya, akan sangat sulit mengerjakan pekerjaan berat seperti itu."
Seijuurou melirik tajam pemuda bersurai zamrud yang berdiri di dekatnya, berani-beraninya si dokter muda itu ikut membantahnya, padahal biasanya adik pertamanya itu selalu pro terhadap semua keputusan tentang Tetsuya-nya.
"Aku tidak menyangka bahwa kau juga akan ikut-ikutan menentangku Shintarou, aku kira kau akan mengerti kenapa aku bersikap demikian pada Tetsuya. Aku hanya ingin dia belajar arti tanggung jawab."
Empat pemuda bersurai warna-warni yang menemani Seijuurou mengangguk samar, tapi setelah itu beberapa diantara mereka nampak mengernyitkan alis. Mengajarkan tanggung jawab sih mengajarkan tanggung jawab, tapi tidak harus dengan menyuruh adik mereka yang super unyu untuk berkutat dengan alat perkukangan yang terkenal tajam dan berbahaya kan? Dengan kewajiban mengurus dan memberi makan seharusnya sudah cukup sebagai pembelajaran tentang tanggung jawab kan?
Mendesah hampir bersamaan, empat pemuda itu gagal faham jalan pikiran kakak sulungnya.
"Aku akan berangkat saja ke Rumah Sakit, nanodayo."
"Eh... bukannya Shintaroucchi berencana libur hari ini ya?" pemuda bermanik topaz yang sejak tadi tak henti memperhatikan si bungsu, begitu mendengar bahwa kakak keduanya yang berniat untuk libur di hari minggu mendadak ingin berangkat kerja, memunculkan jentik kecurigaan, mengusik untuk menelisik lebih jauh rencana yang mendadak diubah padahal tidak ada panggilan genting masuk pada ponsel kakaknya.
"Aku hanya tidak ingin dilaporkan pada Komnas perlindungan anak dan perempuan, karena membiarkan anak dibawah umur bermain dengan benda tajam tanpa pengawasan orang—"
"Aku mengawasinya dari sini, Shintarou," potong si sulung dengan santainya, bersandar pada kusen jendela di dekat Ryota yang menempel di jendela layaknya cicak di dinding.
Menaikkan bingkai kacamatanya untuk pengalih emosi yang meradang, ingin rasanya dr. Shintarou melempar kursi terdekat pada pemuda yang dua tahun lebih tua darinya, lelah menghadapi sang kakak yang otoriter, atau bisa disebut sebagai kembaran Hitler, Shintarou lebih memilih untuk mundur teratur dari pada terjadi pertumpahan emosi yang menguras tenaga.
Setelah kepergian Shintarou, ruangan tempat pengintaian Tetsuya kembali hening, para pemuda itu nampak hanyut mengamati adik terkecil mereka yang bergulat dengan perkakas pertukangan, kemeja digulung hingga siku, peluh menetes deras dari pelipisnya saat dua tangan halus itu memegang erat sebuah gergaji kayu dan mencoba memotong balok di depannya menjadi sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
Sesekali jemari pucat Tetsuya mengusap pucak kepala anak anjing miliknya, seiring dengan lolongan semangat yang digonggongkan Nigou sebagai penyemangat untuk sang majikan.
"Seijuuroucchi jahat sekali –ssu," racau Ryota yang masih tetap dengan posisi layaknya cicak membuat dua remaja yang berdiri tak jauh darinya menatap sang model lekat.
"Aku kasihan pada Tetsuyacchi –ssu, pasti sekarang dia sangat butuh bantuan dan kita malah tidak bisa membantunya," setitik air mata, entah itu air mata buaya atau bukan nampak terbendung pada kedua kelopak matanya, melihat adik kesayangannya berjuang sendirian menuntaskan tugas dari si sulung yang terhitung keterlaluan, lambat laut membuatnya kesal pada sang kakak.
"Diam kau Ryota! Jangan bicara terlalu keras, atau Seijuurou bisa saja menghukum kita," bisik pemuda tan yang ada di dekat Ryota, suara dibuat selirih mungkin. Tak ingin kakak merahnya yang semenjak tadi setiap bersandar pada kusen jendela bisa mendengarkan percakapan mereka.
Dalam ruangan luas itu hanya berdiam tiga pemuda yang masih sibuk mengawasi kegiatan sang adik, pemuda jangkung bersurai violet yang sedari tadi hanya diam mendengarkan semua saudaranya berdebat, tak ada di dalam ruangan itu. Seijuurou yang sudah menyadari ketidak hadiran pemuda paling tinggi itu tak mau ambil pusing, paling-paling adik keduanya itu tengah sibuk di dapur.
Panjang umur untuk Atsushi, karena baru saja dibicarakan, pemuda yang memiliki tinggi tidak umum itu melangkah masuk ruangan, dengan tangan yang penuh membawa nampan, di atas nampan terdapat beberapa cookies dan cake serta sebotol air mineral.
"Apa yang kau bawa itu Atsushi? Dan akan kau bawa kemana?" tanya si sulung begitu Atsushi melangkahkan kakinya mendekati pintu menghubung ruangan tempatnya berdiri dengan pelataran yang dihuni adiknya.
"Membawakan cemilan untuk Tetsuchin, biasanya Tetsuchin makan cemilan waktu siang," jawab sang pemuda dengan cueknya.
Kedua alis Seijuurou tertarik ke atas, sejak kapan adiknya yang penggila vanila milkshake itu suka camilan? Sejak kapan juga adik serupa raksasa itu bersedia jadi pelayan dan membawakan si bungsu kudapan? Tapi jika memang tentang Tetsuya semua bisa saja terjadi, dan dalam sejarah keluarganya hanya pada Tetsuya, Atsushi rela membagi kudapannya.
Memijit pelipisnya dengan lelah, Seijuurou dapat mencium bau konspirasi di dekatnya, karena jika Seijuurou mengizinkan Atsushi melangkah melewati pintu di dekatnya, pasti Daiki dan Ryota juga memberontak ingin mengunjungi adiknya.
"Aku akan kembali ke ruang kerjaku, pastikan kalian tidak membantu Tetsuya, tapi aku izinkan kalian memeriksa keadaannya," selesai dengan titahnya, sang pewaris Akashi itu segera beranjak dari tepatnya mengawasi si bungsu, tiga pemuda lainnya masih terpaku, otak bebal mereka masih mencoba mencerna maksud yang diucapkannya, dan bergitu tubuh mungil bersurai merah telah hilang tertelan pintu kayu, ketiga pemuda itu saling dorong, saling sikut, saling umpat ingin menjadi orang pertama yang melihat keadaan adiknya dari dekat.
.
.
.
.
.
Di depan jendela tinggi dalam ruang kerjanya, Seijuurou jauh lebih leluasa memandang adiknya, mengawasi bagaimana wajah datar adiknya terlihat terkejut saat mendapat kunjungan dari tiga kakaknya, mengamati bagaimana senyum terulas dari bibir adiknya yang terhibur karena Daiki yang lari tunggang langgang saat dikejar Nigou, menikmati bagaimana keempat adiknya benar-benar mematuhi perintahnya, —tidak membantu Tetsuya, ketiga adiknya hanya duduk di dekat si bungsu, menyemangi dengan cara mereka sendiri. Ryota terus berteriak dan berjingkrak menyemangati, Daiki yang terus-terusan dikejar Nigou sehingga membuat Tetsuya terhibur, dan Atsushi yang akan menyodorkan botol air mineralnya jika si bungsu terlihat kelelahan.
Walau jujur Seijuurou masih belum menerima keberadaan mahluk lucu penuh bulu itu, tapi melihat bagaimana keseriusan sang adik menyediakan hunian untuk mahluk kecil itu sedikit banyak membuat Seijuurou terenyuh, walau Seijuurou masih tidak menyukai tingkah anjing kecil itu yang seolah menyatakan perang untuk memperebutkan Tetsuya, tapi Seijuurou masih punya banyak cara untuk memenangkan adik manisnya, dan lagi anjing kacil itu tidak memiliki kesempatan untuk bermanja pada Tetsuya di dalam rumah. Dan seiring dengan pemikiran itu, seringgai Seijuurou makin terlihat mengerikan.
.
.
.
.
.
Detik-detik sudah beranjak berganti menjadi jam, dan kini setelah beberapa waktu berlalu, Tetsuya telah sukses menyelesaikan tugas dari kakak tertuanya, sebuah rumah anjing mungil berdiri di depannya, walau tidak sesuai dengan bayangannya, tapi Tetsuya cukup merasa puas, apalagi Nigou sedari tadi terus mengonggong dengan hebohnya, ekornya terus saja bergerak dengan semangat, seolah ingin segera menempati rumah mungilnya yang seharian ini dikerjakan oleh sang majikan.
Bangunan dari kayu yang dibalut cat berwarna putih gading dengan atap sewarna langit berdiri tegak di depan Tetsuya, kedua tangan mungilnya mampu menyelesaikan rumah setinggi pinggang orang dewasa itu setelah lebih dari sepuluh jam bergelut dengan kayu, paku, palu, gergaji dan cat, melupakan makan siang dan bahkan hampir melupakan makan malam. Namun yang jelas rasa puas menyelimuti benak Tetsuya, rasa bangga menyeruak tak tertahankan.
"Selamat Tetsuyacchi! Kau berhasil –ssu!" seru sang kakak bersurai pirang, kedua lengannya direnggangkan lebar-lebar dan membungkus si bungsu dalam pelukan beruangnya.
"Kau berhasil Tetsu!" sang kakak berkulit tan mengacak surai baby-bluenya lembut, seraya tersenyum penuh rasa bangga.
"Selamat Tetsuchin! Tetsuchin berhasil membuat rumah anjing yang nyaman."
Chu~
Mengambil kesempatan dalam kesempitan, saat Tetsuya yang lengah karena masih dalam dekapan Ryota, sebuah kecupan ringan dilayangkan Atsushi pada pipi si bungsu, sontak membuat dua pemuda lainnya berteriak tidak terima, geram pada mahluk setengah titan yang tanpa sungkan mengecup pipi adiknya.
Kedua remaja yang sedang dirudung cemburu terhadap kakaknya, kompak mengejar sang kakak yang hobi makan, kejar-kejaran semakin semarak karena kehadiran Nigou yang turut mengejar Daiki, membuat pemuda tan berlari semakin kencang hingga tidak memperhatikan apa yang ada dihadapnnya, membuat tubuh kekarnya harus rela menubruk sang adik yang berlari di depannya, sedangkan Ryota yang tanpa persiapan akhirnya jatuh tertindih Daiki. Tapi sebelum terjatuh, jemari Ryota terlebih dahulu menarik ujung celana yang dikenakan Atsushi, membuat pemuda pemilik manik violet itu tersungkur, Nigou yang berada di dekat mereka hanya bisa menyalak senang melihat pemuda warna-warni kini dalam mode tintih menindih, saling tumpuk menumpuk.
Melihat kelakukan ketiga kakaknya yang kocak luar biasa, mau tak mau membuat senyum Tetsuya makin melebar, tepat pada jam sembilan arah pandangan Tetsuya, pemuda yang menjadi pusat dunia kelima kakaknya itu menyadari sebuah siluet manusia berdiam di depan jendela lantai dua yang merupakan ruang kerja si sulung. Ya... ikatan yang kuat antar saudara membuat Tetsuya sadar bahwa sedari pagi si sulung terus mengawasi pergerakannya, meninggalkan pekerjaannya, melupakan jam makan siang, bahkan rela berdiri seharian memperhatikannya.
Menghadap lurus pada jendela dimana sang sosok masih setia menatap ke arahnya, senyum paling manis diulas Tetsuya sebagai rasa terima kasih yang belum terucap, sebagai rasa syukur karena telah diberi kesempatan bersama dengan semua kakaknya yang sangat menyayanginya, membungkuk singkat, sebelum kedua kaki kecil itu berlari menyongsong tiga remaja yang masih saling tindih menindih dan tanpa rasa bersalah, tubuh mungil itu ikut melompat ke atas tumpukan manusia, turut larut bersama ketiga kakaknya yang tergelung di atas rerumputan lembut, saling berbagi tawa, berbagi ceria, berbagi bahagia bersama.
.
.
.
.
.
FIN
A/N :
Haloo~ ketemu lagi dengan saya... #lambai tangan
Sebelumnya saya minta maaf, karena telah gagal menyajikan Protektif Overdosis ini dalam bentuk drabble, jadi karena ketidak mampuan saya itulah dengan terpaksa judulnya saya ganti menjadi Protektif Overdosis : Alphabetically.
Dan jika para reader menemukan para Chara terlalu OOC, saya mohon maaf sebesar-besarnya, semua terjadi karena tuntutan cerita.
Bersamaan dengan publis chepter kali ini, saya juga ingin mengabarkan pada para reader tentang kehiatusan saya. Mulai besok tanggal 01 september 2014 sampai waktu yang belum ditentukan, dengan berat hati saya mengabarkan bahwa saya dalam fase HIATUS. Maaf untuk reader yang menantikan kelanjutan fanfic ini atau fanfic yang lainnya.
Waktunya balas review...
[Ryukanubias]
Makasih sudah review... ^^
Makasih juga semangatnya, ini sudah diupdate chapter baru semoga terhibur. ^^
BTW Ryuka ma Anubias ini kembar ya?
[Chi-chan]
Makasih sudah review... ^^
Lumayan lah, ada yang bilang Ryouta keren, walaupun Cuma Chi-san aja yang bilang dia keren. Hehe
Sei memang rajanya modus, hidupnya hampa jika tidak modusin Tetsuya. XD
[Megumi]
Makasih sudah review... ^^
Ryouta memang chara yang paling pas untuk disiksa di sini, bukan karena saya tidak suka sama Ryouta, karena saya demen sama Ryouta makanya dia sering jadi sasaran kekejaman Sei, karena menurut saya manusia model Ryouta itu kuat.
Serem ah dipangku ma Sei, ntar yang gamuk banyak banget. XD
[ykaoru32]
Makasih sudah review... ^^
Nggak mungkin aku tega bikin adegan Tetsu yang dirape om-om nggak jelas, jadi stop sampai di situ saja peran si om-om, biarkan Sei yang melanjutkan adegan rape-rapenya. /salah/
Maaf chapter ini tidak tersedia Epilog...
.
.
.
Tapi...
.
.
.
Bohong...
epilognya nyempil dibawah. Selamat menikmati. ^^
Epilog...
Penat menjalar hingga sampai ke tulang, andaikan saja Tetsuya terlahir menjadi pemuda yang hobi mengeluh, pasti keluhanya sudah sepanjang sungai amazon di belahan negara lainnya sana, tapi semua penat itu hanya bisa dia rasakan sendiri.
Tubuh ringkih itu tergolek lemah di atas kain satin putih pembungkus ranjang besarnya, rasanya seluruh sendinya melepuh dalam lelah, peluh sudah tak terhitung lagi sebanyak apa yang mengalir alih-alih menetes, dan sepuluh jemarinya yang pagi tadi masih lentik nan indah kini penuh goresan benda tajam, melintang dari ujung ibu jari, ada juga robekan kecil yang berhias di sekelilingnya, salahkan saja ketidak mampuannya bergelut dengan benda-benda yang selama ini belum pernah dia kenal.
Menyerahkan diri pada rasa penat dan lelah, kedua menik azure terpejam tenang, tak mengindahkan seruan yang terdengar dari arah pintu kamarnya, seruan dari salah satu maid yang bertugas untuk memanggilnya agar segera bergabung dengan para tuan muda lainnya untuk santap malam.
Terlalu lelah, terlalu banyak tenaga yang dia kuras hari ini, terlalu berat kedua manik azurenya untuk mempertahankan kesadaran, diambang kesadaran yang kiranya makin melemah, sayup-sayup Tetsuya mendengar pintu kamarnya didorong pelan, dan langkah kaki manusia menghentak halus mendekati tempat pembaringannya.
.
.
.
.
.
"Ya ampun! Apa yang dilakukan Seijuurou, kenapa penampilan Tetsuya terlihat seperti budak jaman penjajahan nanodayo," gumam pemuda bersurai lumut saat mendapati sang adik terlelap dengan pakaian lusuh penuh debu kayu, penuh coretan minyak dan penuh goresan halus di sekitar lengan dan jemarinya.
Sang pemuda yang seharian mengurung diri dalam ruangannya di Rumah Sakit tempatnya berdinas, tanpa ada niat untuk sekedar memeriksa pasien-pasiennya karena pikirannya sungguh tersita membayangkan sang adik yang tengah berada di tangan kakak oteoriternya.
Desah panjang memenuhi ruangan sunyi itu, sebelum sang dokter muda merendahkan badannya agar setara dengan Tetsuya yang sedang terlelap dengan kedua kakinya masih mengantung di ujung ranjang.
Dengan sangat pelan dan penuh kehati-hatian, kedua jemari penuh luka diangkat Shintarou, membuka kotak obat yang sengaja dibawanya dan kini mengeluarkan sejumput kapas penuh cairan antiseptik, penuh perhatian dan kasih sayang sang kakak mulai menyapukan kapas pada luka-luka yang layaknya harus dibersihkan, desah tertahan dari sang pasien sempat membuat gerakan lincah sang dokter terhenti sejenak, takut membangunkan si bungsu yang sepertinya sudah terlelap, kini gerakannya semakin lembut dari sebelumnya.
"Baka! Seharusnya jangan selalu menuruti perintahnya, kau kan bisa menyuruh salah satu pelayan kita untuk membuatkan rumah anjingmu," omel sang kakak yang tentunya hanya terjawab oleh sunyi.
"Kau terlalu patuh pada Seijuurou, tidak heran kalau dia selalu menindasmu, nanodayo."
Susahnya menjadi pengidap tsundere akut, sulit rasanya menyatakan simpati di depan yang bersangkutan, semuanya hanya bisa tersimpan dalam hati, tersimpan dalam lubuk hati yang sulit terjamah orang lain.
Selesai dengan cairan antiseptiknya, kini kasa panjang mulai dibalutkan dengan rapi untuk menutupi setiap goresan luka, melindungi luka dari serbuan debu yang bisa mengakibatkan inveksi, yang bisa saja membuat lukanya semakin sulit sembuh.
"Kata Kaa-san ini bisa membantu menyembuhkan luka," lirih Shintarou sebelum mendaratkan kecupan ke setiap luka yang kini terbalut rapi, mulai dari ibu jari, telunjuk, jari tengah, jari manis dan—
"Shintarou! Apa yang sedang kau lakukan?!"
Dan suara baritone mengelegar kejam dari arah pintu yang beberapa waktu tadi menjadi satu-satunya jalan yang membawanya menuju sang adik yang terbaring lemah. Di sana, di ambang pintu, berdiri dengan gesture angkuh nan marah, manik heterocromenya menghunus tajam zamrud yang terbelalak kaget.
'Sial!' umpat sang dokter muda dalam hati.
"Apa yang sedang kau lakukan Shintarou?"
Penekanan yang dilakukan pemuda yang kini berjalan mendekatinya membuat Shintarou mendecih samar, dengan gesture gugup dan kaku, pemuda bersurai lumut itu berdiri dari tempatnya bersimpuh, menghadang pemuda yang lebih pendek darinya agar tidak menganggu adiknya yang tengah terlelap.
"Aku tidak melakukan apapun nanodayo, hanya melakukan tugas sebagai orang yang harus menjaga kesehatan keluarga ini," jawab pemuda dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin, memutupi rasa gugupnya yang luar biasa.
"Tapi yang aku lihat kau sedang mencuri kesempatan dengan mencium adikmu yang sedang tidur, apa aku salah?" tuduh sang pemuda bersurai merah pada pemuda yang beberapa sentimeter lebih tinggi darinya.
"Aku hanya melakukan pengobatan seperti yang Kaa-san ajarkan padaku, nanodayo."
Mengalihkan pandangan, mencoba membenarkan letak kacamatanya yang tidak bergeser sedikitpun, dan semu merah tipis, sudah cukup menjadi bukti bagi Seijuurou bahwa adik pertamanya ini sedang gugup dan hanya mencari pembelaan dari sikap yang baru saja dia temukan.
"Sudahlah! Tugasku sudah selesai di sini, lebih baik aku bergegas menuju ruang makan, daripada aku harus berdebat denganmu, nanodayo."
Seusai berucap, pemuda empat mata itu bergegas meninggalkan kakaknya yang masih menyeringai menyeramkan, sungguh rasanya lebih baik menyingkir dengan radius lima ratus meret dari kakaknya yang menyeringai seperti itu.
Dan sedikit sesal memenuhi relung hati Shintarou. 'Seharusnya aku melakukan dengan cepat, heran kenapa Seijuurou bisa datang sangat tepat waktu?" batin Shintarou selama berjalannya menuju ruang makan.
.
.
.
.
.
Inpeksi hasil pekerjaan Shintarou adalah alasan jika ada yang bertanya kenapa dia ingin mengunjungi adiknya, padahal niat sebenarnya adalah tidak ingin membiarkan adik tertuanya itu bersama si bungsu.
Dan tepat sesuai dengan prediksinya, sang adik terlampau terbuai dalam dekapan mimpi sehingga tidak menyadari kalau ada salah satu kakaknya yang menyusup ke kamarnya.
Luka yang sudah berbalut rapi membuat tidur Tetsuya semakin nyenyak, lengket badan karena keringat pun terabaikan itu menjadi bukti bahwa pemuda yang kini bernapas teratur itu sungguh sangat kelelahan.
"Kerja bagus Tetsuya! Aku bangga padamu," pujian itu mengalir lancar dari bibir si sulung yang jarang memakai kata pujian, tapi jujur melihat kerja keras adiknya hari ini membuat sang kakak sungguh bangga.
Lenguhan halus dari Tetsuya membuat Seijuurou menumpahkan seluruh perhatiannya pada si bungsu, peluh yang menempel pada dahinya pasti membuat tidur Tetsuya terganggu, dan tanpa menunggu komando dari siapapun, jemari besar Seijuurou mengusap peluh yang menghalangi adiknya yang meneguk nyaman dalam mimpi, dan sebuah kecupan penuh sayang pada kening Tetsuya diberikan sebagai bonus pengantar tidur.
Chu~
Seulas senyum dikulum Tetsuya tanpa sadar, membuat sang kakak semakin terpesona pada wajah adiknya yang bak malaikat, sebuah ide nista menyeruak tanpa tanda, saat heterocrome Seijuurou menatap belah bibir merah Tetsuya, keinginan untuk mengecup ringan bibir perjaka itu membuncah tak tertahankan.
Dengan sangat perlahan, jarak sedikit demi sedikit semakin terhapus, dan dalam beberapa milimeter lagi dua belah bibir itu akan segera menyatu satu sama lain, sebelum—
"Tetsuya—"
Pemuda bersurai baby-blue itu membalikkan badannya ke samping tepat saat sang kakak akan mengecup bibirnya, sehingga target bibir si bungsu gagal total tergantikan sapuan baby-blue yang jelas menampar bibir Seijuurou.
End of epilog...
