Kegaduhan itu tidak biasanya terjadi, semua maid nampak lebih sibuk daripada biasanya, mansion mewah itu dibersihkan secara keseluruhan, bunga-bunga penghias diganti dengan petikan bunga segar di pagi hari, koki-koki kerja rodi tanpa henti, bahkan salah satu putra keluarga Akashi turut tangan untuk membantu menyelesaikan menu yang hampir selesai, sulung keluarga Akashi yang tidak mengenal salah, kalah juga penganut faham sempurna tidak akan bisa mentolerin kesalahan apapun yang terjadi, terlebih untuk atau khusus hari ini, segalanya harus siap sebelum siang, dan harus tanpa cacat cela dan kesalahan. Tapi siapa juga yang akan menduka jika segala sesuatu yang disiapkan dengan hati-hati dan sempurna malah berbalik menjadi bencana.
.
.
.
.
.
*Protektif Overdosis : Alphabetically*
Disclaimer:
Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi
Story by Aoi-Umay
Warning:
Typo, OOC, AU parah, sekuel PO, Genre tidak tentu
Cenderung AkaKuro
HAAPPY AKAKURO WEEK !
DLDR, R&R please...
Enjoy Reading Minna... ^^
.
.
.
.
.
E = Enemy
.
.
.
.
.
Akashi Tetsuya tidak tahu harus mengumamkan apa, atau lebih tepatnya harus memaki seperti apa, beberapa kali tubuh ringkihnya harus gesit menghindari para maid juga butler yang berjalan dengan brutal di sepanjang lorong menuju ruang makan, pagi itu keadaan rumahnya total berubah, seolah akan ada acara penting yang sebentar lagi digelar, semua orang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan masing-masing. Bahkan karena saking sibuknya tidak ada yang ingat bahwa sekarang waktunya santap pagi.
Meja makan mewah itu hanya dihadiri beberapa orang dari yang seharusnya ada, hanya ada tiga dari lima kakaknya yang sudah rapi duduk menanti menu sarapan disajikan. Duduk diujung terdekat dari pintu adalah Akashi Ryota sedang menyilang kaki sambil larut dalam tabloit yang memuat biodatanya, di sebelahnya duduk kakak keempat, Akashi Daiki yang tersenyum sendiri saat memandangi smartphonenya, Tetsuya mulai curiga mungkin majalah porno kakaknya sudah berpindah menjadi majalah elektronik, mimik wajahnya itu sangat mencurigakan.
Duduk dua kursi setelahnya adalah putra kedua keluarga Akashi, tsundere pengganut Oha Asa itu sedang sibuk menekuni kata demi kata yang tercetak dalam surat kabar harian, semuanya nampak terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing sehingga tidak menyadari dorongan pintu yang membawa masuk si bungu, merasa perlu untuk menarik perhatian pada kehadirannya yang kadang kasat mata, Tetsuya segaja membanting pintu sekuat yang dia mampu, seulas senyum diberikan saat semua mata kini tertuju padanya.
"Selamat pagi niichan..."
Sapa itu datar luar biasa, hanya formalitas basa-basi, sekedar pengalihan dari pintu yang segaja dia banting, malas dirinya jika dikata PMS karena ngamuk pagi-pagi buta.
"Apa yang sedang terjadi nii-chan? Tidak biasanya rumah kita segaduh ini,"
Surai blonde menoleh, dua manik madunya terbelalak mendengar pertanyaan si unyu biru yang satu ini.
"Tetsuyacchi tidak tahu ya ssu—, hari ini kita akan kedatangan tamu,"
"Salah—, yang benar Seijuurou yang akan kedatangan tamu, nanodayo." Shintarou menyela, koran paginya sudah dilipat rapi di atas meja, menanti sarapan yang tidak kunjung datang.
"Siapa yang berani mengunjungi Seijuurou, paling-paling tamu yang memiliki urusan dengan perusahaan," cetus Daiki, yang langsung mendapat tatapan tajam dari Shintarou.
Hanya dia satu-satunya yang tahu siapa yang akan bertandang, kenapa rumahnya yang damai tentram merubah menjadi gaduh layaknya pasar, dan dirinya juga tahu kenapa si sulung tidak juga turun untuk menantikan sarapan bersama saudara-saudaranya.
"Memang siapa yang akan datang Shintarou-nii?" Tetsuya mencoba bertanya, antara ingin tahu sekaligus penasaran, kedua tungkainya ingin segera berlari menerjang kamar si sulung jika dia tidak juga mendapat jawaban.
"Temannya, Seijuurou akan dapat kunjungan dari teman semasa SMA nya, nanodayo"
"Teman atau pacar ssu—, jika hanya teman tidak mungkin persiapannya akan semerepotkan ini,"
Dan spekulasi itu mencuat begitu saja, meluncur lancar dari belah bibir sang model blonde, tanpa tahu ada aura hitam mencekam dibalik tubuh munggil si bungsu. Kabar itu terlalu mengejutkan untuk masuk dalam telinganya pagi itu, tidak ada persiapan apapun yang dilakukan untuk mendengar berita paling mengemparkan, pacar... adalah satu kosa kata paling sakral masuk dalam pendengarannya, pacar seharusnya adalah orang yang dipilih secara selektif, obyektif, dan bahkan perlu jika harus melangkahi izin darinya. Dan tanpa ada pemberitahuan apapun, tanpa ada konfirmasi apapun kakak kesayangan satu itu mengundang datang ke rumahnya pada hari minggu. Menurut Tetsuya yang sedang gelap mata, itu pertanda perang.
.
.
.
.
.
Tidak ada niat untuk menyantap sarapan yang datang terlambat, Tetsuya lebih memilih keluar dari ruang makan daripada turut larut dalam perbincangan tentang siapa yang akan menjadi tamu istimewa sang kakak tertua, masa bodoh dengan semuanya, dia hanya ingin menenangkan diri dari guncangan kabar paling mengenjutkan yang dilempar layaknya bom atom di pagi hari.
Niat bersantai di gazebo taman samping mansionnya urung terlaksana karena bunyi bel pintu yang mengejutkan, tidak ada maid ataupun pelayan yang ada di dekat pintu membuat Tetsuya harus iklas membukakan pintu bagi siapapun yang datang berkunjung, dan rintih do'a Tetsuya saat itu tidak juga di dengar siapapun, karena harapan jika orang yang ada dibalik pintu bukan teman kakaknya tidak pernah terkabul.
Tangannya berkeringat tanpa alasan yang jelas, gugup itu menyergap tanpa pemberitahuan, keringat dingin menggenangi pelipis tanpa sebab, kendati wajah itu masih manis dan datar seperti sebelumnya. Pintu dikuak menghasilkan bunyi yang dramatis di telinga Tetsuya, sosok yang berdiri di depannya nampak cukup terkejut dengan kehadirannya, dan si bungsu sudah terlalu terbiasa dengan tatapan terkejut serupa itu.
"Kau sudah datang Mayuzumi, aku berniat akan menjemputmu di bandara. Tetsuya apa yang kau lakukan, biarkan tamu kita masuk, jangan menghalangi jalannya,"
Tetsuya hanya menoleh untuk menanggapi perintah si sulung yang kini menjulang di tangga tertinggi sambil menggulung lengan kemejanya sampai sebetas siku, celana panjang hitam membalut tunggkainya membuat setelan non formal itu nampak casual bagi siapapun yang memandangnya, dan Tetsuya hanya mendengus kesal dengan lirih dan hampir kasat mata.
Berpandangan beberapa detik dan pemuda bersurai baby blue itu harus rela mundul setelah beberapa waktu yang lalu menjadi penghadang bagi tamu sang kakak, membiarkan pemuda bersurai kelabu dengan sorot mata yang sendu itu melangkah memasuki mansion mereka yang sudah dibersihkan dari pagi buta. Ada setitik rasa iri yang menghujam perih menusuk hatinya yang bersih saat melihat bagaimana dua sahabat lama itu saling berpeluk melepas rindu, ada rasa kesal pada sang kakak karena mengecapnya sebagai penghalang pintu yang memisahkan pertemuan mereka, ada geliak tak nyaman dalam benaknya saat melihat dua pasang mata itu saling intens menatap penuh puji satu dan yang lainnya, ada sesuatu yang sulit disampaikan, sesuatu yang tabu jika diucapkan, sesuatu yang ingin diteriakkan, rasa kehilangan itu nyata mengelayuti dirinya, walaupun wujud sang kakak masih terlihat jelas, tapi hatinya telah hampa tertutup sepi yang entah kenapa rasanya sungguh menyiksa.
"Tetsuya, tolong jangan masuk ke dalam kamar dan ruang kerjaku hari ini, aku ingin menjamu senpaiku khusus hari ini,"
Perintah itu mengelegar ganas dalam telinganya, sepenggal kalimat itu bagaikan bom atom yang sukses dilemparkan padanya, menghancurkan hatinya, membinasakan jiwanya, meluluh lantahkan semua pijakan yang diinjaknya, manik azure itu kosong menatap ke depan, maniknya tidak lagi memancarkan cahaya yang sama, ada merah menyala dalam dadanya, merah yang membakarnya dalam rasa benci yang kentara, dan dendam itu mencuat tidak terkira, musuh telah terdaftar tanpa pernyataan, musuh sudah dicap sebelah pihak oleh malaikat yang kerasukan syetan dendam, satu sunnggingan senyum persekian detik itu mencekam, mengawali bencana yang disusunnya, satu tarikan napas dilakukan untuk mengembalikan perwujutan malaikatnya, satu senyum ramah diumbar pada dua manusia di depannya.
"Iya nii-chan,"
Dan nyatanya janji itu tidak berniat dilaksanakannya.
.
.
.
.
.
Tetsuya kembali ke ruang makan dengan perasaan kalut yang tersembunyi rapi dalam hatinya, tidak ada satu orang pun yang menyadari pada raut kesal dalam wajah putih polosnya, tidak ada yang menyadari, hanya sang kakak kedualah yang mencium adanya tanda-tanda yang aneh pada si bungsu kesayangan.
"Ada apa Tetsuya? Apa tamu Seijuurou sudah datang, nanodayo?"
Yang ditanya hanya mengangguk sebagai jawaban, segelas susu diteguk untuk menengkan pikiran yang berkecamuk, bisikan-bisikan jahat mengompori otaknya untuk segera menendang keluar manusia abu-abu itu, menyeretnya menjauh, melemparnya ke agkasa jika perlu.
"Aku harus segera menyiapkan teh kalau begitu," sang kakak kedua, manusia hampir dua meter yang menjadi ketua panitia dalam urusan menjamu tamu hari itu bergegas berdiri dari tempat duduk, keabsenannya selama pagi mungkin karena untuk menyiapkan segala sesuatu berjalan sempurna hari ini.
"Aku akan ikut membantu,"
Selesai menandaskan segelas susu, Tetsuya segera bergegas mengekor sang kakak kedua, dia harus turun tangan dan memastikan sendiri segala sesuatunya tidak berjalan dengan sempurna.
"Aku bisa dimarahi Sei-chin kalau membuat Tetsu-chin kerja keras, aku tidak mau dia marah karena membuat Tetsu-chin kelelahan,"
"Aku benar-benar ingin membantu, jika masalah Sei-nii, jangan biarkan dia tahu kalau hari ini aku membantu,"
Beruntung sang kakak yang satu ini tidak terlalu banyak tanya, akan susah jadinya kalau niat busuknya tercium saudara yang lain, akan semakin runyam jika semua kakaknya tahu kalau di tengah menyusun rencana busuk, dan akan sangat berbahaya dia si sulung sampai tahu, kalau kekacauan yang akan terjadi adalah buah dari pikirannya sendiri.
"Biarkan aku yang menuangkan gula Atsushi-nii," tanpa curiga, putra kedua keluarga Akashi itu mengulurkan senampan teh beserta gulanya pada si bungsu, dan Tetsuya menyambutnya dengan kuluman senyum penuh arti.
"Yang sebelah kiri punya Sei-nii kan nii-chan?"
Atsushi hanya mengagguk sebagai jawaban karena dirinya tengah sibuk menata kue di atas nampan yang lainnya.
Bukan tanpa sengaja, tapi dengan kesadaran yang luar biasa, Tetsuya menambahkan garam banyak-banyak pada cangkir sebelah kiri dan gula yang berlebihan pada sebelah kanan, berdoa semoga sang tamu pulang membawa pulang penyakit diabetes akut.
Tetsuya enggan jika harus mengantarkan teh ke dalam ruang baca sang kakak, tidak membagi alasan yang sebenarnya pada sang kakak kedua, membuatnya harus bisa membujuk kakak yang lain agar bersedia mengantarkan teh penuh jebakan pada tamu dan kakak tercinta, dan sang model blonde masuk dalam jebakan, iming-iming bertemu dengan tamu yang jarang diundang menjadikan daya tarik tersendiri bagi sang model remaja, dengan suka rela Ryota membawakan teh dan kue bersama Atsushi.
Tetsuya cemas menunggu kedua kakaknya keluar dari ruang baca si sulung, ingin mengetahui bagaimana hasil dan reaksi yang diberikan si sulung pada teh racikannya, tak lama berselang, cemas itu terganti dengan kerut dahi karena tidak ada tanda-tanda kedua kakaknya tersemprot amarah.
"Teman Seijuurou-cchi sangat tampan ssu, dia sangat mirip denganmu Tetsu-cchi, dia memiliki hawa keberadaan yang tipis juga ekspresi yang datar sepertimu, bahkan Seijuurou-cchi juga bilang kalau Mayuzumi-cchi memiliki hobi yang sama denganmu –ssu,"
Semakin Ryota berceloteh, semakin enggan Tetsuya mendengarnya, mirip seperti dirinya, apa bagusnya memiliki teman yang hawa keberadaannya tipis dan maniak baca, Tetsuya hanya ingin mengetahui hasilnya, ingin tahu bagaimana wajah sang kakak yang marah karena garam tak terhitung yang mengendap dalam minumannya.
Dan saat Atsushi keluar membawa lengkap satu nampan berisi teh dan pocinya yang belum diminum setegukpun, Tetsuya sadar jika rencana pertamanya gagal dengan sempurna.
.
.
.
.
.
Tetsuya belum kehabisan amunisi, satu kegagalan tidak akan dibiarkannya menghancurkan rencana yang lain, tidak heran dengan kemampuan si sulung yang di atas rata-rata akan sanggup menerka ide sedangkal itu, dan salahnya sendiri yang tidak bisa menyiapkan hidangan kejutan, untuk menghadapi si sulung yang bisa membaca pergerakannya dia harus memiliki dua langkah di depan.
Melewatkan sarapan dan membirkan perutnya mengkerut lapar, Tetsuya memilih untuk terus berpikir untuk kelanjutan misi rahasianya. Dan satu ide mencuat liar, mengalir lancar, membumbungkan ide cemerlang. Dan Tetsuya tidak sabar untuk melaksanakannya, secepatnya.
Rancangan untuk kegiatan Seijuurou selanjutnya adalah membawa sang tamu berkeliling taman yang ada di kediaman mereka, bunga mawar beraneka warna menyebar seantero halaman, bunga mawar ditanam serupa warna surai putra keluarga Akashi, di bawah balkon kamar Seijuurou terbentang mawar merah yang menunjukkan rasa hormat, cinta dan keindahan. Di sisi yang lain di bawah kamar Shintarou tumbuh subur mawar berwarna hijau yang melambangkan keharmonisan, kesuburan dan kesejahteraan. Pada penjuru arah yang lain terawat indah mawar ungu tepat di depan jendela kamar putra ketiga, ungu yang sama seperti warna rambut Atsushi ini bertujuan untuk menunjukkan suasana keangungan dan kemegahan. Di sampingnya terdapat hamparan mawar biru tua yang berarti kekaguman, dan kamar Daiki terletak di depannya. Tidak jauh dari kamar Daiki, adalah kamar Ryota, di depan kamarnya terdapat puluhan mawar kuning tumbuh indah, mawar kuning yang seperti sikapnya karena melambangkan keceriaan, kekeluargaan dan kegembiraan. Dan setelah mawar merah, hijau, ungu, biru tua, dan kuning berjajar indah yang terakhir adalah lautan bunga di depan kamar di bungsu, diapit antara mawar merah dan kuning, mawar biru langit yang indah terawat rapi, mawar biru langit yang sama seperti rambut si bungsu, yang memiliki arti rasa cinta pada pandangan pertama karena warna biru muda nampak seperti sebuah rasa cinta yang baru saja muncul kepada seseorang.
Pemandangan yang tersaji di bawah balkon kamar Tetsuya sangat menyesakkan untuk disaksikan, dadanya terasa terhimpit puluhan batu, sesak dan menyakitkan. Bersembunyi dalam kibaran tirai dan menyandarkan sebelah tubuhnya pada jendela sambil melihat sang kakak tertawa bersama pemuda yang hanya melempar senyum sekenanya, membuat Tetsuya ingin melesakkan tubuhnya dalam himpitan bumi dan hilang bersama dalam lapisan bumi dan tidak lagi ada yang menemukan. Ketukan pintu membuyarkan lamunan Tetsuya, membuatnya harus rela meninggalkan posisinya bersembunyi untuk melihat siapa yang ada dibalik pintunya, semoga saja salah satu pelayan yang ditunggunya datang.
Prediksinya memang kadang tidak kalah dengan sang kakak tertua, harapan itu nyata karena yang mengetuk pintu adalah pelayan yang memang dipanggilnya beberapa waktu yang lalu, misi selanjutnya memang harus segera dilaksanakan, karena telat sedikit saja, bisa jadi jadwal sang kakak sudah berubah dan membuat rencana yang disusunnya menjadi sia-sia belaka.
"Ada yang bisa saya bantu Tetsuya-sama?"
Pelayan itu membungkuk rendah, sudah menjadi kewajiban jika kesopanan adalah salah satu hal yang harus diterapkan dalam melayani para pengeran yang mendiami mansion Akashi.
"Sepertinya saluran air di kamar mandiku sedang mampet, air terus menggenang sepanjang pagi, aku ingin mandi, tolong segera dibereskan Tanaka-san,"
Yang dipanggil menyahut dengan senyum dan segera melesat masuk dalam kamar mandi sang tuan muda, kamar mandi besar dengan satu bak mandi mewah di tengahnya itu memang terlihat dalam kondisi yang mengkhawatirkan, air menggenang hampir meluber ke luar kamar mandi, keran yang mengalirkan air juga macet tidak bisa dihentikan walaupun dengan sekuat tenaga, dan saluran pembuangan juga tidak sedang bekerja dengan semestinya.
"Airnya harus dibuang dulu tuan muda, baru kita bisa memperbaiki keran dan saluran pembuangannya,"
Tetsuya hanya menggangguk saat sang pelayan meminta persetujuan, segera setelahnya sang pelayan bergegas mengambil alat pemebersihan, dan juga meminta beberapa bala bantuan dari teman seprofesi.
Satu ember penuh dengan air diangkat oleh sang pelayan, berniat akan dibuang melalui pembuangan dari kloset, tapi buru-buru Tetsuya menghentikannya.
"Jangan dibuang di sana, aku takut pembuangannya juga sedang bermasalah, buang saja di luar jendela, sekalian untuk menyiram mawar di bawahnya,"
Perintah itu terdengar seperti usulan yang menjanjikan, yang memberikan solusi tanpa menghambat pekerjaan yang sedang dilakukan, seorang pelayan junior menuruti tanpa kembali bertanya, apalagi repot untuk memandang ke bawahnya.
Tetsuya mengamati detik-detik itu dengan teliti, jika saja ada yang menyadarinya pasti akan menemukan setitik senyum kemenangan dalam raut datarnya, karena tidak ada satupun dari dua orang yang sedang bercengkrama itu menyadari kedatangan mara bahaya, atau setidaknya itulah yang diharapkan dan dipikirkan oleh Tetsuya, karena nyatanya selang beberapa detik sebelum air yang akan menguyur kepala Mayuzumi itu malah berakhir hanya membasahi sebelah lengan dan bahunya, sebab persekian detik sebelum air itu terjun bebas, Akashi menyadari dan segera menarik Mayuzumi mendekat ke arahnya.
Tidak ada raut kesal terlintas, tidak juga ada kemarahan yang terpancar dari mimik wajah sang tamu, dan untuk ketidak nyamanannya itu, Akashi menawarinya untuk mengganti pakaian basah yang dikenakannya dengan pakaian kering miliknya, sang tamu hanya menyambut dengan senyuman tipis undangan masuk ke dalam kamar pribadi sang tuan rumah.
Beberapa meter di atasnya, Tetsuya hanya memandang datar dua sahabat yang saling berjalan beriringan, mengabaikan sang pelayan junior yang merasa sangat bersalah, Tetsuya merutuki ketidak becusannya menghadapi sang kakak sang selalu hebat dalam membaca tindakannya, haruskah dia menyerah? Tidak... seorang Akashi sejati tidak bisa menyerah begitu saja karena satu atau dua rencana yang gagal, sebaliknya harus ada rencana yang jauh lebih matang untuk memenangkan pertempuran.
Meninggalkan kamar miliknya yang kini sedang diperbaiki oleh beberapa pelayan, Tetsuya dengan pikiran kacaunya melangkah mengikuti langkah dua sahabat itu, keduanya masuk ke dalam kamar pribadi sang kakak, padahal tidak ada seorang pun kecuali dia yang diizinkan memasuki kamar itu, tidak juga saudara-saudaranya yang lain, pelayan apalagi tamu undangan, beberapa detik sebelum pintu kamar itu di tutup dari dalam, azure itu beradu pandang dengan dua manik tajam sang kakak, tidak ada amarah di sana, tidak ada emosi yang terlihat, hanya ada sebersit kekecewaan mengudara, dan itu nyata menghujam ulu hati terdalam, Tetsuya mendadak tidak mampu bernapas, tiba-tiba saja nyawanya terasa terlepas, dan rasanya seluruh pijakan yang ada di bawahnya terasa hilang dan membuatnya terhempas.
Pintu ditutup pelan, memisahkan dirinya dengan sang kakak yang berada di dalam, kendati hanya terhalang pintu, entah kenapa rasanya sudah terdapat jarak yang kasat mata yang memisahkan mereka, hanya karena tamu yang merupakan orang asing, dalam sekejap dirinya terasa diasingkan. Kemarin bersenda gulau adalah hal yang lumrah terjadi, masuk dalam kamar sang kakak adalah rutinitas yang tidak bisa dipungkiri, dan sekarang hanya sekedar menyapa rasanya seperti bunuh diri.
Menyimpan dendam itu sendiri, Tetsuya mengabaikan nurani, menengelamkan diri dalam kebencian, memutuskan untuk terus merusak hubungan yang dijalani sang kakak, kakinya melangkah mengambil sebotol obat pencahar dari lemari obat, bergegas berlari menuju dapur untuk mengosongkan seluruh isi botol pada apapun yang akan disajikan kakak ketiganya pada sang tamu, ataupun jika perlu pada makanan yang akan disantap sang kakak. Tidak memperdulikan apapun yang akan ditanggungnya, rasa bersalah yang akan datang di kemudian hari, dan apa yang akan terjadi jika perbuatannya terbongkar, semua pikiran itu ditampik jauh-jauh, karena rasa kecewa yang menacuni dirinya begitu besar mengalahkan segalanya.
Jamuan makan siang sudah mencapai tahap akhir, beberapa menu kegemaran sang kakak tersaji lengkap, tidak menyiapkan sedikitpun tempat untuk minuman faforitnya, Tetsuya yang belum menyantap makanan sejak pagi tidak juga merasa tergugah dengan hidangan yang berjejer di atas meja dapur, lapar itu terlupakan, atau lebih tepatnya tidak dirasakan karena ada rasa yang jauh lebih dalam mendominasi hanya sekedar dari rasa lapar.
"Apa Tetsu-chin membutuhkan sesuatu?"
Sapaan itu mengalihkan perhatiannya, sang kakak bersurai lavender berdiri menjulang di belakangnya, tidak nampak curiga hanya sedikit penasaran.
"Aku hanya ingin membantu Atsushi-nii, mumpung aku sedang tidak ada pekerjaan yang harus dilakukan,"
Tawaran itu disambut anggukan, dan keduanya memulai kerja sama dalam riang jika dilihat dari dari pihak Atsushi, sedangkan penuh kesal jika dari pihak Tetsuya.
.
.
.
.
.
Sajian makan siang tersedia lengkap di atas meja makan, spesial karena tertabur bubuk pencahar super milik Tetsuya, sang tamu dan tuan rumah turun dari kamar, menuruni anak tangga langsung menuju ruang makan, Tetsuya yang menyadari pertama kali, namun enggan mengapa apalagi membuka kata, hatinya masih terjangkiti rasa sakit malas untuk bersikap sok sahabat.
Kemeja basah milik Mayuzumi sudah ditukar dengan kemeja paling besar yang dimiliki Seijuurou, walaupun terlihat tidak nyaman tapi tidak ada pilihan lain selain mengenakannya, Tetsuya yang menyadari hal itu karena tertinggal wangi khas sang kakak saat Mayuzumi melewatinya, geram itu kembali memunjah tak tertahankan, amarah yang sebelumnya belum reda kini tersiram emosi yang makin menjalar dan mengganas. Sikap semua kakak-kakaknya yang ramah pada sang tamu membuatnya menjadi satu-satunya orang yang jahat, malas menyaksikan terlalu lama drama yang terjadi, Tetsuya memutuskan untuk meninggalkan ruang makan tanpa sepengatahuan yang lainnya.
Langkahnya teratur, terhitung dan terukur, dia tidak ingin terlihat terburu-buru, tapi juga sebenarnya sedang diburu waktu, ruang cuci terdapat di ujung mansion dekat dengan dapur, tujuannya adalah di sana, dimana tempat yang diyakininya sebagai lokasi untuk mengeringkan baju Mayuzumi yang sedikit basah, banyak hal yang bisa dilakukannya, mengotorinya dengan noda, membuatnya basah kembali atau yang paling kejam adalah merobeknya sekalian.
Pikiran penuh kriminalitas terus mengoncang otaknya, sehingga tanpa dia sadari pintu menuju ruang cuci sudah ada dihadapannya, tidak ada maid yang sedang bertugas karena pemuda bersurai baby blue itu yakin semua maid dan pelayan sedang bertugas melayani semua orang yang ada di ruang makan, kelenggangan itu membuatnya leluasa membuka dan menjalankan aksinya tanpa harus berbohong pada orang yang ditemuinya.
Ruangan itu tidak terlalu besar, hanya terdapat beberapa mesin cuci, ruang seketika dan ruang untuk mengeringkan. Tetsuya langsung menuju ruangan dimana kemeja Mayuzumi dikeringkan, dan saat mendapi kemeja itu hampir kering niat buruknya teredam oleh satu pemikiran sehat yang tiba-tiba datang mencegahnya berniat jahat.
Sebelah tangannya hanya bisa meremas ujung lengan kemeja itu dengan kesal, karena jika sang kakak menyadari bahwa ada yang menyabotase kemeja tamunya itu, bisa sangat dipastikan Mayuzumi tidak akan segera angkat kaki dari kediamannya, jika dia tahu bahwa baju satu-satunya yang dia kenakan tidak bisa dipakainya saat pulang pasti dia akan membawa kemeja sang kakak turut pulang, dan akan ada hari dimana dia beralasan untuk mengembalikannya. Hati kecilnya tidak pernah menginginkan hal itu terjadi, apapun yang menyangkut kembalinya sang tamu adalah hal yang harus dihindari, dan bagaimanapun caranya dia tidak akan membiarkan sang kakak menawarinya bermalam, walapun hanya semalam saja.
Sadar bahwa dia tidak dapat berbuat apa-apa pada kemeja sang tamu, membuat Tetsuya memutuskan untuk kembali dari pada dirinya harus bermuram durja menatap kemeja sang musuh, sayangnya hal buruk menimpanya, pintu yang sebelumnya membawa masuk kini mendadak macet bahkan sulit terbuka, apalagi dirinya yang memang belum mendapat asupan nutrisi sepanjang pagi, hanya untuk mendobrak pintu saja rasanya sudah sudah dan tidak mampu, meraba kedua kantong celana, sayang Tetsuya malah meninggalkan ponselnya di dalam kamar, berteriak minta pertolongan namun nihil karena tidak ada satu orangpun yang akan mendengar. Dengan mengumpulkan segenap kekuatan Tetsuya kembali mendobrak pintu keras itu dengan sebelah bahunya, satu kali tumbrukan tidak membuahkan hasil, kedua kalinya pintu itu tetap bergeming, ketiga kalinya bahu sang pangeran baby blue malah terasa nyeri. Tidak berhasil dengan dobrakan, teriakan menjadi lanjutan rencana, Tetsuya berusaha agar suaranya mampu terdengar, agar siapapun yang berada di dekat ruangan itu bisa menyadari keberadaannya, berdoa semoga dinding-dinding tebal itu bisa menghantarkan suara pada siapapun yang mencarinya, dan batinnya turut berteriak memanggil semua saudaranya, termasuk sang kakak pertama yang hanya menjadi kekecewaan karena sampai batas kekuatannya yang terakhir panggilan itu tidak juga mendapat sahutan.
Napasnya hampir tercekat karena terlalu lama berteriak, dehidrasi mengancam kesehatannya, dan ruangan penggap itu menuntut kesadarannya makin menghilang. Dia tidak tahu selama apa dirinya berteriak, berapa lama detik berjalan meninggalkannya, tidak juga sadar jika terik siang berubah menjadi sejuk sore, gedoran pada pintu mulai melemah, teriakannya serupa bisikan, tapi dia masih belum menyerah, tidak adakah yang menyadari ketidak hadirannya, walaupun hawa keberadaan tipis itu kadang serupa keberuntungan, tapi dalam keadaan seperti ini hanya membawa kemalangan belaka, karena tidak akan ada yang menyadari dirinya menghilang.
Kesendirian ini membuanya teringat pada kilasan peristiwa beberapa tahun silam, hari dimana kesendirian menghantuinya diusia yang masih belia, tidak ada kasih sang ibu dan baru saja kehilangan kehangatan sang ayah, sang kakak tertua juga masih enggan berakrab dengannya, ingatannya kembali bergulir pada malam dimana Tetsuya menangis tersedu di bawah kaki seorang pria yang disangkanya adalah sang ayah, namun beberapa tahun kemudian dia sadar jika yang saat itu duduk di ruang kerja sang ayah pada hari itu bukan mendiang ayahnya melainkan sang kakak yang kini sedang sibuk dengan tamu kesayangannya, tanpa memperdulikan dirinya yang terkurung, tidak juga mencarinya karena mungkin kehadirannya kini tidak lagi berarti apapun, atau mungkin karena terlalu sibuk menjamu jadi dirinya terlupakan, tergantikan dengan yang baru.
Derap langkah itu terdengar mendekat, pada sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Tetsuya masih bisa menyadari jika ada yang mendekati ruang dimana dia terkurung, semoga saja siapaun yang datang bisa membawanya menuju kebebasan. Kenop pintu diputar, Tetsuya bergeser dari tempatnya berdiri, tidak ingin membuat gaduh dia hanya ingin bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Kenop pintu berhenti diputar, sang pendatang sadar bahwa pintunya memang macet dan perlu sedikit kekerasan, sedikit dorongan dan dobrakan berhasil membuat pintu itu membuka, dan kedua pihak sama-sama terkejut.
"Tetsuya-sama, anda berada di sini? Kami semua sangat khawatir, semua sedang binggung mencari anda, saya akan segera kembali, saya akan mengabarkan kepada yang lain bahwa anda ada di sini,"
Tetsuya hanya tercekat, kaget karena pelayan yang tadi dipanggilnya untuk membersihkan kamarnya dari genangan air malah menemani musuhnya ke dalam ruang suci, dan membebaskannya, kebetulan yang sangat tidak adil menurutnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau bersembunyi di sini?"
Tinggal Mayuzumi seorang di sana, pelayan yang semula ingin mengantarkannya untuk mengambil kembali kemeja yang basah, kini malah ditinggal pergi bersama si bungsu yang membuat kegaduhan dengan menghilang dan membuatnya memaksa mengakhiri kunjungan karena seluruh penghuni rumah nampak kalut karena keabsenan satu anggota keluarga kesayangan.
"Aku terkurung dan tidak bisa keluar Mayuzumi-san,"
"Benarkah, kukira memang itu adalah rencanamu untuk mengusirku pulang, jika memang benar kau harusnya senang karena rencanamu berhasil,"
Manik azure itu menatap manik kelabu di depannya, tidak ada sorot mengolok-olok, apalagi meremehkan, manik itu mengingatkannya pada seseorang, atau jika saja dia mau menyadari sorot itu serupa manik azurenya. Datar tapi menyimpan banyak rahasia, menyembunyikan banyak ekspresi dan hanya menampilkan polos yang datar.
"Kau harusnya bersyukur memiliki keluarga yang sangat menyayangimu, kau tidak perlu mengemis perhatian pada mereka, karena pada nyatanya semua perhatian itu selalu tertuju padamu,"
Memutuskan tali pandang, Tetsuya sedikit terheyak hatinya saat mendengar penuturan Mayuzumi, kilas peristiwa yang selama ini terjadi berputar cepat dalam otaknya, kalau dia mau sedikit saja menyadari arti hadirnya, tentu saja tidak butuh banyak tenaga untuk membuat semua kakaknya yang selama ini selalu menyayanginya menaruh perhatian padanya, dan semua hal yang hari ini dilakukannya terasa sia-sia.
"Aku harap kunjunganku yang selanjutnya lebih baik dari hari ini, aku bosan mendengar Seijuurou hanya bercerita tentangmu,"
Sibuk dengan pemikirannya sendiri membuat Tetsuya tidak fokus pada apa yang dikatakan Mayuzumi yang melangkah menjauhinya untuk mengambil kemeja yang digantung di ujung ruangan.
"Maaf... apa Mayuzumi-san mengatakan sesuatu?"
Senyum itu terkembang samar, Mayuzumi sedikit lega karena apa yang dikatakannya tidak didengar, membuatnya tidak harus menjawab pertanyaan lain jika kalimat itu diulang kembali dan membuat saingan satunya ini merasa kembali menang, dia tidak ingin hal semacam itu terjadi.
"Aku hanya bilang, lebih baik kau segera menemui semua kakakmu, mereka sangat cemas karena ketidak hadiranmu,"
Tidak lagi menaruh curiga sedikitpun, Tetsuya tersenyum ramah pada sang tamu atau mulai sekarang dia akan menyebutnya sebagai mantan saingan, karena dia sadar apapun yang akan dilakukan siapapun orang baru yang akan datang, kehadirannya tidak akan pernah tergantikan, karena dia adalah Akashi Tetsuya, bungsu Akashi, dan kesayangan semua Akashi.
Segera Tetsuya berjalan keluar dari ruangan yang sempat mengurungnya, membiarkan Mayuzumi menyelesaikan urusannya, tanpa disadarinya dua manik Mayuzumi tidak pernah lepas memperhatikannya setelah serangan senyum ramah Tetsuya, hati pemuda bersurai kelabu itu sedikit berdesir menyadari bahwa Akashi Tetsuya memang memiliki bakat alami untuk selalu dicintai dan disayangi.
.
.
.
.
.
Belum sampai Tetsuya melintasi lorong untuk menuju ruang makan, beberapa saudaranya tengah berlari menyongsong dirinya, terlihat Ryota yang berlari paling kencang dari pada yang lain, dan disusul beberapa saudara yang lain.
"Dari mana saja dirimu –ssu, kami semua mencari Tetsuya-cchi tapi tidak berhasil menemukanmu,"
Sang model menangis sendu sambil memeluk adik satu-satunya itu, peluknya makin mengerat karena tidak ingin adiknya yang unyu itu kembali lepas dan menghilang. Satu usapan pada surai baby bluenya diterima dari sang kakak keempat, Daiki tidak bisa memeluk Tetsuya karena memang terhalang tubuh Ryota yang seolah menenggelamkan tubuh Tetsuya dalam pelukannya.
"Kau membuat kami semua khawatir, Tetsu."
Lirih permintaan maaf menjadi jawaban yang hanya bisa didengar oleh Daiki dan Ryota, keduanya hanya tersenyum menyadari bahwa tidak ada yang lebih melegakan daripada melihat adik termuda mereka terawasi dalam jangkauan mereka.
"Tetsuchin kemana saja, aku sudah membuatkan susu vanila kesukaan Tetsuchin dan sekarang sudah dingin,"
Kedatangan sang kakak ketiga membuat Ryota harus merelakan pelukannya terlepas untuk digantikan pelukan singkat dari kakak bertubuh besarnya,
"Aku akan meminumnya Atsushi-nii," dan anggukan menjadi jawaban Atsushi.
"Dari mana saja kau Tetsuya, apa kau tidak tahu kalau kami semua kebingungan mencari keberadaanmu, nanodayo."
Dokter Shintarou menyilang tangan di depan dada, gantungan kodok melingkari salah satu jemarinya, berlagak sok garang padahal niatnya ingin ikut memeluk seperti yang lain.
"Aku terkunci di dalam ruang cuci Shintarou-nii, dan karena pintunya macet aku tidak bisa keluar,"
"Memang apa yang kau lakukan di dalam sana, nanodayo?"
Tersudut, Tetsuya belum mempersiapkan jawaban untuk menjawab pertanyaan ini, dia tidak mempersiapkan diri untuk segera berbohong, dan yang dilakukannya hanya menjawab tanya kekadarnya.
"Aku hanya ingin mengambil bajuku yang baru saja dicuci,"
Dan batinnya terus saja berdoa agar jawaban itu tidak memancing pertanyaan yang lain, beruntung sebelum ada tanya yang kembali muncul kepermukaan, sang kakak tertua hadir ditengah mereka semua, auranya tajam mencekam, raut wajahnya tegang tidak bersahabat, keempat saudara yang sedang mengerumuni si bungsu hanya bisa bergeser minggir tanpa perintah.
Tidak ada tanya, tidak juga ada pelukan hangat, hanya ada hujaman tajam dari dua manik beda warna sang kakak, dan tanya yang selanjutnya didengarnya bagaikan badai petir menghujam hatinya.
"Dimana Mayuzumi?"
Wajah datar itu sekilas nampak terkejut, tidak ada ragu dalam getar nada tanya sang kakak, tidak ada sebersit rasa khawatir karena dirinya yang beberapa jam ini menghilang, tidak juga ada sesal karena malah mengkhawatirkan sang tamu daripada dirinya, faham bahwa sang kakak tidak pernah suka jika pertanyaannya tidak dijawab, dengan suara yang bergetar, Tetsuya berusaha menjawab dengan sikap yang sok tegar.
"Mayuzumi-san ada di dalam ruang cuci, sedang mengambil kemejanya,"
Getir itu masih tersisa dalam mulutnya, walau nyatanya tidak pernah ada makanan pahit yang menyapanya, tapi memberitahukan keberadaan Mayuzumi membuat Tetsuya merasa seruluh dunianya berjungkir balik pada arah yang salah.
"Atsushi, siapkan makanan. Tetsuya belum makan sejak pagi."
Selepas mengucap perintah, Seijuurou melangkah melewati Tetsuya, sedangkan Tetsuya memejamkan matanya erat, susah sekali menerima jika dirinya telah tergantikan dengan kehadiran Mayuzumi yang belum lama bersamanya, niat untuk berbaik pada teman sang kakak mendadak menghilang, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun karena nyatanya dirinya sudah ditinggalkan, sudah tergantikan dan mungkin tidak lagi dibutuhkan.
"Selesai makan, segera naik ke kamarku,"
Kalimat itu tidak bernada perintah, tidak terdengar seperti ancaman, terdengar seperti permohonan, dan Tetsuya segera membuka matanya dan berpaling untuk melihat kepergian sang kakak menjemput tamunya yang berjalan ke arah mereka semua. Mendengar titah sang kakak tertua, empat saudara yang lain segera menggiring si bungsu ke tempat makan, menyuruhnya duduk dan menyajikan semua makanan yang biasanya disukai si baby blue.
.
.
.
.
.
Sore menyingsing menjadi gelap malam, Tetsuya tertawan bersama keempat kakaknya yang terus saja memaksanya untuk menghabiskan semua makanan yang tersedia, sarapan dan makan siangnya disatukan menjadi makan malam, selesai makanpun Tetsuya tidak juga mendapat kebebasan, semuanya seolah sedang menjaganya, takut kehilangan, takut Tetsuya kembali bersembunyi. Nyatanya dirinya bukannya tidak menyukai situasi seperti sekarang, situasi yang sangat hangat dan penuh canda tawa, tapi sayangnya dia ada janji dengan seseorang, janji dengan kakak tertuanya yang tidak nampak sejak sang tamu meninggalkan kediaman mereka.
Dan selepas malam menjelang jam tidur, setelah keempat kakaknya kembali ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat setelah memaksanya untuk segera tidur, Tetsuya menyelinap dari kamarnya untuk memenuhi undangan Seijuurou.
Ketukan pelan diberikan sebagai tanda kehadiran, dan sahutan dari dalam rungan membuat Tetsuya terserang gugup dadakan, dirinya sangat berharap jika kunjungan malamnya tidak menjadi kenyataan, sangat berharap kakaknya sudah terbaring nyenyak di atas kasur mewahnya, namun sayangnya kenyataan berbanding terbalik dengan bayangan.
Tidak juga ada yang menyelinap masuk, Seijuurou memilih untuk membuka sendiri pintu kamarnya, dan mendapati sosok yang sangat ingin ditemuinya sedang mematung diri di depan pintu.
"Masuk,"
Dan Tetsuya hanya bisa mematuhi tanpa bisa membantah, karena nyatanya dia memang berniat untuk bertemu langsung dengan sang kakak yang seharian ini sukses memorakporandakan hatinya. Pintu dibiarkan terbuka, sadar jika atmostif yang kini terjalin tidak sesehat yang semestinya, keduanya menguarkan aura yang sama-sama tidak bersahabat, keduanya sama-sama memiliki segudang pertanyaan yang siap diledakkan kapan saja.
"Aku memintamu ke sini tidak hanya untuk diam saja Tetsuya, apa kau tidak ingin menjelaskan apapun padaku?"
Merasa tersinggung, menurutnya sang kakaklah yang berhutang penjelasan padanya, kenapa malah dirinya yang ditodong untuk sebuah penjelasan.
"Penjelasan apa yang Sei-nii inginkan? Aku tidak mengerti apa yang Sei-nii maksudkan."
Seijuurou sudah lebih dari sekedar tahu kegiatan yang seharian ini dilakukan Tetsuya, dia hanya ingin mendengar penjelasan dari tersangka tunggal dari semua keanehan yang terjadi hari ini. Menyilangkan kaki dan mengambil duduk ternyaman di atas sofa di dekat ranjang, Seijuurou hanya mengamati ekspresi datar sang adik seraya menenggelamkan diri dalam dua azure yang memandangnya, membaca setiap sorotan yang bisa berubah walaupun kasat mata, tapi Seijuurou mampu melacak semua itu, dia membutuhkan semua itu, dia sangat ingin mengetahui bagaimana reaksi yang bisa diberikan padanya.
"Bukankah harusnya Sei-nii yang berhutang penjelasan padaku?"
"Aku akan memberikan penjelasan jika Tetsuya mau mengaku tentang niat Tetsuya melakukan serangkaian hal aneh hari ini,"
"Aku tidak melakukan hal aneh nii-chan,"
"Haruskan aku memaksamu berbicara dengan cara yang lebih kasar? Atau Tetsuya lebih suka aku sendiri yang membongkar semua kejahatanmu hari ini?"
Ancaman itu tidak meruntuhkan pertahanannya, dia terlampau sakit hati, dan gertakan itu tidak cukup kuat untuk menggembalikan hatinya yang sudah hancur remuk.
"Tetsuya akan aku hukum sampai mau berbicara jujur padaku,"
Tidak setuju dengan sikap kakaknya yang secara terang-terangan melakukan tindak pemaksaan, Tetsuya tentu saja tidak sudi menerima hukuman secara sepihak yang menurutnya sangat tidak adil.
"Aku tidak mau dihukum, kenapa aku harus dihukum, aku tidak melakukan kesalahan apapun, Sei-nii yang seharusnya menerima hukuman dariku, karena Sei-nii yang bersalah,"
Amarah itu tersalur dari nada suaranya yang sedikit meninggi, tidak tersirat melalui wajahnya yang masih saja terlihat datar.
"Aku tidak mengizinkan Tetsuya keluar dari kamar ini sampai mau mengaku,"
"Kenapa aku harus menuruti semua keinginan Sei-nii, walaupun Sei-nii sudah membuatku—"
Tidak sanggup untuk melanjutkan kata, Tetsuya memilih untuk menggantung kalimatnya, daripada dirinya harus melihat seringgai kakaknya makin melebar.
"Aku akan kembali ke kamarku,"
Dirinya sudah terlalu lelah untuk sekedar menghadapi sikap kakaknya yang terlihat tidak jelas, lelah dengan semua sakit hati yang menghujam, lelah dengan semua kenyataan bahwa kakaknya mungkin sebertar lagi akan menggantikan hadirnya.
Tubuhnya mulai berbalik, tungkainya lambat melangkah menuju pintu di belakangnya.
"Aku tidak pernah meminta Tetsuya untuk melakukan sesuatu yang berat, aku hanya ingin Tetsuya mengakui tentang semuanya, tentang perasaan yang sebenarnya, juga tentang alasan kenapa hari ini sikap Tetsuya berbeda—,"
Langkahnya sempat terhenti, Tetsuya sadar jika kalimat yang akan diucapkan si sulung belum selesai, masih terdapat lanjutannya, entah lanjutan yang baik atau buruk.
"Tapi jika Tetsuya bersikeras ingin meninggalkan kamar ini tanpa memberikan penjelasan, silahkan keluar tapi jangan pernah berharap bisa kembali masuk ke dalam kamar ini—,"
Nafasnya mendadak tercuri habis, tungkainya terasa lemah mendadak karena rentetan kalimat yang menghujam tajam itu, nadanya lembut mengalun tapi menyakitkan, tidak serupa marah tapi penuh tekanan emosi, tidak terkesan mengusir tapi juga disaat yang sama terasa tidak ingin mempertahankan, Tetsuya ingin sekali menulikan pendengaran untuk satu kata pemungkas berikutnya, ingin sekali kesadarannya turut hilang agar kata itu tidak masuk mencemari nuraninya.
"jangan pernah berharap bisa kembali masuk ke dalam kamar ini, selamanya."
Duri itu nyata bersembunyi dalam kata, berhasil menghujam dan membinasakan hatinya hingga hilang, Tetsuya tidak pernah menyangka jika kalimat itu yang akan menjadi akhir perbincangan, pintu yang menghubungkannya dengan dunia luar hanya tinggal dua langkah lagi, tapi kalimat yang baru saja didengar memberikan efek yang sangat tidak terduga, kedua tungkainya gagal untuk diajak berkerja sama, membuatnya membatu beberapa detik sebelum akhirnya sanggup melangkah kembali.
Kenop pintu sudah dalam genggamannya, jika dia melangkah satu langkah lagi maka hubungan dengan kakaknya akan kembali memburuk seperti saat dirinya masih balita, dan sebagian hatinya tidak pernah mengiginkan hal itu, Akashi Seijuurou adalah poros hidupnya, tanpa kehadirannya dia tidak tahu akan mampu menatap dunia atau tidak, seluruh hidupnya berputar pada sang kakak sejak kedua orang tuanya meninggal, dan kehadiran Seijuurou yang selalu melindunginya membuatnya memiliki tujuan hidup yang lebih bermakna.
Tapi disatu sisi Tetsuya juga tidak ingin mengatakan secara gamblang apa yang sedang terjadi, apa yang tengah berkecamuk dalam hatinya, apa yang membuatnya resah, apa yang membuatnya gelisah, dan berada dalam kamar sang kakak hanya membuatnya merasa seperti seorang narapidana yang diharapkan pada introgasi tidak bernurani.
Kegelisahan itu terus berseteru dalam batinnya, ingin rasanya segera berlari namun nyatanya ucapan absolut sang kakak membuatnya tidak bernyali, semua pilihan ada ditangannya, sedangkan Seijuurou masih tenang menunggu babak selanjutnya di atas sofa nyamannya, melihat adik bungsunya mematung di depan pintu membuat senyumnya sedikit terkembang.
Akashi Seijuurou sudah memprediksi semua peritiwa yang mungkin akan terjadi sejak dirinya memiliki rencana mengundang kakak kelasnya semasa SMA, semua rekasi Tetsuya dan juga banyak kejahilan yang si bungsu lakukan tidak pernah luput dari perkiraannya. Dari semula Seijuurou sudah mengira bahwa teh paginya pasti sudah disabotasi oleh si bungsu, dan Seijuurou sebisa mungkin menghalangi tamunya untuk menghindari meminum teh yang disuguhkan padanya.
Adegan penyiraman itu juga sudah diketahui Seijuurou, karena sebelum berhenti di bawah kamar Tetsuya, Seijuurou terus memperhatikan si bungsu yang lekat menatap dirinya dan Mayuzumi yang tengah berjalan menyisir taman mawar, sorot matanya mengungkapkan kesedihan, dan hal itu yang selalu diperhatikan oleh Seijuurou.
Menurutnya Tetsuya terlalu nyaman berdiam dalam zona aman karena merasa tidak memiliki saingan, dan kehadiran Mayuzumi berhasil merobohkan zona aman yang dibanggunnya sendiri, Tetsuya harus mulai sadar bahawa di luar sana sang kakak bisa saja dimiliki orang lain karena dirinya yang tidak juga proaktif mengungkap kebenaran hatinya.
Dan nampaknya Tuhan tidak bisa terima begitu saja jika mahluk polosnya dipermainkan, karma menghukum Seiujuurou dengan kejam, Tetsuya yang menghilang sebelum makan siang adalah celah dari perkiraannya, Seijuurou tidak pernah menyangka jika terdapat kemungkinan itu terjadi dalam rencana yang tersusun rapi, panik menyerang saat tidak ada yang bisa menemukannya, setiap ruangan diterobos masuk, setiap celah dicari, setiap kamera pengintai diselidiki, semua dipaksa meninggalkan makan siang selama si bungsu belum terlihat, bahkan keberadaan Mayuzumi pun turut tidak dipedulikan.
Kabar mengejutkan datang menjelang malam, kelegaan itu menguapkan kekhawatiran hingga ke awan, ingin rasanya Seijuurou langsung berlari pergi untuk memeluk si bungsu kesayangan, namun dirinya juga merasa berhak untuk menghukum si bungsu karena tindakannya yang sanggup membuat seorang Akashi Seijuurou kalang kabut. Dan dari segenap rasa ingin mendominasi yang Seijuurou miliki, hanya nada dingin yang bisa diberikan sebagai hukuman awal bagi Akashi Tetsuya.
Gertakan yang diucapkan memang sadar dia ucapkan, bukan hanya sekenar untuk menghalangi Tetsuya keluar dari kamar, tapi juga ingin menawannya seumur hidup. Pilihan itu juga memiliki resiko berat dari pihaknya, jika berhasil maka Tetsuya akan terus menjadi miliknya, tapi jika tidak berhasil maka kehampaan pasti akan membunuhnya secara perlahan, karena bagi Seijuurou hadir Tetsuya adalah terang yang membuatnya merasa hidup, kepolosan Tetsuya membuat Seijuurou memiliki alasan terus melindungi, dan kesepian yang dialami Tetsuya membuat Seijuurou sadar jika dirinya harus bisa selalu menyayangi.
Detik penentuan itu terasa berjalan terlampau lambat, keduanya dicekam rasa gelisah yang sama, satu tarikan napas dilakukan, dan Tetsuya berharap keputusannya adalah keputusan yang terbaik, dan saat pintu itu ditutupnya dari dalam dia menyadari bahwa keputusannya itu adalah yang terbaik, karena seberkas senyum itu nampak dari belah bibir kakak tertuanya.
.
.
.
.
.
FIN
A/N :
Hai minna... maaf telah meninggalkan ffn ini begitu lama, sangat lama bahkan sampai aku sendiri hampir lupa pernah menulis cerita ini, setelah lebih dari tiga tahun aku hiatus, ini adalah kali pertama aku menulis kembali, bertepatan dengan AkaKuro week aku menyatakan kebangkitan Aoi-Umay kembali, semoga aku masih mampu produktif seperti waktu yang sebelumnya.
Ucapan terima kasih aku berikan pada seseorang yang sukses menyeretku kembali, Kiaraa-neechan terima kasih berkat dirimu aku bisa menyelesaikan semua ini tepat waktu. Terima kasih juga kepada semua reader yang mungkin masih menantikan kelanjutannya, maaf tidak bisa membalas satu persatu karena keterbatasan waktu dan tempat.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Kesabaran itu selalu berbuah manis... selamat menikmati epilog minna... ^^
Epilog...
Pintu itu telah ditutup dari dalam, Tetsuya menghindari seringai sang kakak dan memilih segera memanjat ranjang, membiarkan selimut tebal sang kakak menyembunyikan seluruh tubuhnya. Lama berselang dan tidak juga mendapatkan serangan dadakan ataupun gerakan dari sang kakak, membuat Tetsuya terserang rasa penasaran dan memberanikan diri mengintip dari balik selimut, di sana pemuda bersurai baby blue itu menemukan sang kakak yang sedang duduk di ujung ranjang sambil terus memperhatikan tanpa membuat satu pergerakan apapun.
"Apa yang Sei-nii lakukan? Ini sudah larut, sudah waktunya tidur,"
Seijuurou mengindahkan perintah sang adik, bergegas Seijuurou merangkak mendekati si baby blue, merebahkan tubuhnya di samping sang adik seraya sebelah tangan memeluk erat perut rata si bungsu.
Satu kecupan mendarat pada ceruk leher, menghantarkan sensasi geli pada tubuh putih pucat Tetsuya, merasa tidak nyaman Tetsuya berusaha melepaskan diri dengan meronta, namun nyatanya gerakannya malah membuat pelukan semakin mengerat.
"Apa Tetsuya sudah siap?"
Tanya Seijuurou seduktif, hembusan napas itu membuat telinga Tetsuya sukses memerah.
"Si— siap untuk apa Sei-nii?"
Gugup itu berbaur menjadi satu dengan degupan yang mengalun semakin keras.
"Siap untuk membuat pengakuan, memangnya Tetsuya mengharapkan apa?"
Banyak hal yang diharapkannya, mulai hal yang biasa sampai yang paling tabu sekalipun, tidak terima dengan sikap kakaknya yang terus mengecupi leher jenjangnya, Tetsuya kembali pada mode keras kepalanya.
"Aku tidak akan membuat pengakuan apapun,"
Dan jawaban itulah yang ditunggu Seijuurou, kerana semakin Tetsuya bebal keras kepala, maka semakin liar dia akan menjamah.
"Baiklah jika itu mau Tetsuya, aku akan memulai hukuman Tetsuya sekarang, aku tidak akan berhenti sampai Tetsuya mau mengaku,"
Wajah pucat itu semakin memerah, antara ingin tapi tidak mau, ingin membiarkan sekaligus berusaha menolak, daripada dirinya meledak karena degupan jantung yang semakin menggila, terpaksa Tetsuya membiarkan dirinya mengaku, daripada besok dia harus bingung menjawab orang-orang jika ditanya darimana ruam merah yang terdapat disekujur lehernya itu.
"Aku akan mengaku Sei-nii, jadi tolong lepaskan aku,"
Pada detik yang sama, sapuan basah itu dilepaskan, tubuh yang membelakanginya dibalik menghadap dirinya.
"Aku hanya memasukkan gula dan garam secara berlebihan pada teh yang akan disajikan, menyuruh pelayan membuang air ke luar kamar, dan yang terakhir menabur obat pencahar pada menu makan siang,"
"Hanya itu saja? Lalu aksimu menghilang, termasuk dalam rencana?"
"Tidak, itu kecelakaan, aku berniat melakukan sesuatu pada kemeja Mayuzumi-san, dan berakhir terjebak di dalam sana,"
Introgasi terus dilanjutkan, tersangka yang unyu menjawab dengan malu-malu.
"Apa yang Tetsuya lakukan pada kemeja Mayuzumi?"
"Aku tidak jadi melakukan apapun Sei-nii, karena aku sadar jika aku merusak kemeja Mayuzumi-san, dia akan memiliki alasan untuk kembali ke sini, atau yang lebih buruk lagi malam ini bisa saja dia menginap di sini. Dan aku tidak ingin itu terjadi,"
Seijuurou sedang berusaha sekuat yang dia mampu untuk tidak segera menyerang adik bungsunya itu, jawabannya polos sekaligus mengoda, bibir merahnya bergerak malu-malu mengundang untuk dibuat semakin memerah.
"Kenapa Tetsuya bisa sangat membenci Mayuzumi?"
"Aku tidak membencinya, aku hanya tidak suka kedatangannya yang mendadak, tidak suka karena dia dijamu dengan begitu sempurna, tidak terima karena dia membuat Sei-nii membuangku,"
Pemikiran macam apa yang mengendap dalam pemikiran adiknya, hal semacam itu tidak akan pernah terjadi, membuangnya? Andaikan saja Tetsuya tahu jika setiap topik yang sejak pagi tadi dibicarakan adalah tentangnya, hanya tentang Akashi Tetsuya seorang.
"Pemikiran macam apa itu Tetsuya? Beraninya Tetsuya menilai kakakmu serendah itu,"
Azure itu menatap nanar pemuda dihadapannya, tidak ingin memperkeruh keadaan yang mulai membaik, Tetsuya segera meralat penuturannya.
"Pemikiran itu ada karena sejak Mayuzumi-san datang, Sei-nii sudah tidak memperdulikan Tetsuya lagi,"
Surai baby blue diusap lembut, menyalurkan hangat yang kini merayap meredakan panas dalam dadanya, tatapan teduh kepala keluarga Akashi itu menyadarkan Tetsuya bahwa pemikiran yang mencuat tadi adalah pemikiran konyol, karena disadari atau tidak dua manik beda warna itu telah mencaritakan lebih banyak dari yang seharusnya dikatakan, di sana tersimpan sayang yang terlampau besar pada si bungsu, kasih yang luar biasa sempurna melebihi yang lainnya, dan cinta yang lebih tulus daripada siapapun.
"Maafkan aku Sei-nii, lain kali aku tidak akan meragukan kasih sayang Sei-nii lagi,"
Satu kecupan didaratkan Tetsuya pada sebelah pipi sang kakak, serangan dadakan itu membuat seringai Seijuurou makin melebar.
"Jadi semua sikap aneh Tetsuya hari ini hanya karena cemburu pada teman Sei-nii?"
"Tidak seperti itu, Tetsuya hanya tidak suka ada tamu yang tidak Tetsuya kenal diundang tanpa pemberitahuan, apalagi tamu itu dibiarkan masuk ke dalam kamar ini,"
"Baik jika memang seperti itu, aku tidak akan mengundang Mayuzumi lagi,"
"Kenapa seperti itu? Aku sudah mengenal Mayuzumi-san, selama Sei-nii tidak membiarkan Mayuzumi-san masuk ke dalam kamar ini, Tetsuya tidak akan membuat masalah jika Mayuzumi-san diundang lagi,"
"Tidak... aku tidak akan pernah mengundangnya lagi,"
"Kenapa Sei-nii? Bukankah Mayuzumi-san adalah senpai Sei-nii selama sekolah, Tetsuya janji tidak akan nakal,"
Dua azure itu memandang penuh kesungguhan, tetapi bukan itu masalahnya.
"Aku tidak ingin menambah saingan baru, tidak akan aku biarkan dia menginjakkan kakinya ke rumah kita lagi Tetsuya, karena dia sudah menyatakan perang,"
"Memang apa yang Mayuzumi-san lakukan Sei-nii,"
"Sebelum pulang tadi, dia menyatakan bahwa dia mulai menyukai Tetsuya,"
Karma kedua bagi Seijuurou, berniat memanasi si bungsu dengan kehadiran Mayuzumi, kini semua berbalik, malah posisinya yang terancam disingkirkan.
"Kalau memang seperti itu lebih baik besok undang Mayuzumi-san lagi saja Sei-nii, biarakan saja aku yang menjamunya. Jika memang Mayuzumi-san ingin dekat dengan Tetsuya,"
"Apa yang sedang Tetsuya rencanakan?"
Hidung mancung itu dicubit pelan, sang korban hanya mengaduh seraya mengusap ujung hidungnya yang memerah.
"Aku hanya ingin tahu, tindak kriminal apa yang akan Sei-nii lakukan pada Mayuzumi-san jika hal itu terjadi,"
Candaan itu diakhiri Tetsuya dengan membalikkan badan, membelakangi sang kakak yang malah tersenyum lebar. Leher jenjang bebas terbuka menggoda untuk segera dijamah, napas hangat sengaja dihembuskan lembut pada telinga Tetsuya, dan si bungsu hanya bisa bergidik geli, menyadari bahwa dirinya baru saja menekan tombol mesum sang kakak.
"Aku tidak akan berbuat apapun pada Mayuzumi jika hal itu terjadi, tidak akan ada untungnya bagiku sekalipun itu adalah menyelakai senpaiku sendiri,"
Jilatan yang dilakukan semakin intens, Tetsuya hanya bisa berpeluk pada guling yang didekapnya sebagai pertahanan terakhir.
"Masih berniat untuk membuatku kesal Tetsuya? Jika iya dengan senang hati aku akan menaikkan hukuman Tetsuya menjadi beberapa lipat lebih tinggi dari yang seharusnya,"
Jilatan merambat naik menuju telinga si bungsu, bebrapa kali Tetsuya harus mengeliat untuk menghindari tarian lidah sang kakak.
"Tetsuya sudah siap dengan resikonya?"
Merasa tidak akan sanggup menerima serangan lanjutan, Tetsuya memberontak melepaskan diri, kedua telapak tangannya digunakan untuk menutupi area leher agar tidak terpapar bebas, berbalik untuk menatap sang kakak dengan napas memburu, perlahan Tetsuya mengucapkan selamat tidur dan kembali mengulung tubuhnya di dalam selimut sang kakak. Di luar sana Tetsuya mendengar derai tawa sang kakak pecah, sedangkan di dalamnya degup jantungnya sedang berlompatan tidak menentu serta napasnya yang naik turun tanpa sebab.
"Katakan pada Sei-nii, jika Tetsuya sudah siap. Sei-nii akan sabar menantikannya. Selamat malam Tetsuya,"
Kecupan pada dahi Tetsuya yang terhalang selimut adalah hadiah Seijuurou pada Tetsuya sebelum tidur, semlaman keduanya terus saling berbagi hangat, saling memeluk satu sama lain, saling memiliki tanpa penghalang, saling berbagi kasih dalam setiap sentuhan yang diberikan dan diterima, membiarkan dunia menertawakan tindak keduanya, menulikan dari dunia yang mungkin akan menghujatnya suatu hari nanti, karena saat ini dunia keduanya berada dalam hembusan napas satu sama lain.
End of epilog...
