SMASH BORDER EVENT
why we should join this event? Mendokusei!
Part 3, Arafune Squad
…
Arafune tidak berpikir kalau ide ini bagus, apalagi sekarang begini situasinya membuatnya ingin selalu marah. Hokari dan Hanzaki bahkan harus berjarak dengannya atau hanya bisa berkomunikasi lewat ponselnya.
"Sampai kapan kalian mau berjauhan dari aku?" tanyanya dengan raut wajah marahnya. "Duduk samping ku seperti biasa." Perintahnya. Hokari menelan ludahnya.
"Kupikir aku lebih suka disini, sungguh." Jawabnya.
"Kita ada jaga malam, malam ini pulak. Dan KENAPA HARUS DENGAN SKUAD ITU SIH! TIDAK HABIS PIKIR KENAPA KAU TIDAK BISA NAWAR HA?" Kagami Rin, merasa mau nangis setelah di bentak seperti itu.
"Jangan bentak Kagami seperti itu Arafune!" Hokari menepuk pundak Kagami pelan. "dan tolong jaga emosimu. Kau mau dengan tim siapa?"
"Siapapun bisa, asal gak orang itu." Jawabnya lantang.
"Kagami, bisa kau minta rubah jadwal atau apalah. Kita bisa mati kalau tidak mengganti ini semua." Ucap Hokari menyakinkan kalau ini benar-benar situasi darurat. Kagami menyanggupinya.
"A-akan kuusahakan." Jawab Kagami. Ia keluar ruang operasionalnya.
"Apa?" tanya Arafune masih dengan raut wajah marah yang belum berubah sedari tadi. Duduknya sungguh tak elit, ngangkang plis.
"Kupikir tidak ada gadis yang duduknya seperti itu Arafune-san." Arafune panas mendengarnya, lalu berdiri dan berjalan menuju Hanzaki.
"Menurutku, lebih baik kita tukar trigger saja gimana?" Hanzaki menurunkan gamenya, dia panik ketika tangan kaptenya merogoh kantung celananya untuk mengambil triggernya.
"T-tidak!" Dia berusaha menahan kaptenya untuk mengambil triggernya itu. Tentu saja mereka tarik menarik trigger malang itu. Tarikan tangan Arafune lebih kuat dari miliki si bungsu skuadnya. Ia berhasil mengambilnya dan berteriak senang layaknya kakak yang berhasil mengambil mainan adik kecilnya.
"Kembalikan! Itu punyaku!" Hanzaki menarik baju kaptennya kasar. "Jangan ucapkan itu kumohon!" rengeknya.
"Arafune hentikanlah. Kau seperti kakak yang menindas adik kecilnya. Lagipula kau kan kaptennya, harus menunjukkan rasa seorang kapten tidak seperti ini." Ujar Hokari bijak. Event seperti ini membuatnya harus berpikir lebih jernih tidak seperti biasanya. Arafune yang tidak setuju dengan ucapannya mendekatinya dan menginjak kakinya.
"Maksudmu.. aku harus menjadi korban gitu? Katamu aku Kapten, bukannya kau harusnya tidak membiarkan aku memakai ini kan, jawab Hokari."
"Kalau kau kapten yang baik, harusnya kau lebih berlapang dada dan menerima serta menjadi kapten yang baik untuk kami semua." Hokari mengatakan itu, walau dalam hati dia meringis kesakitan akibat tindakan Arafune.
"Arafune-san." Kagami kembali. "A-aku sudah menukar jadwal dengan tim lain. Kita berpartner dengan Kako-san." Ujar Kagami bahagia. Tentunya ucapannya tidak membuat Arafune bahagia. "Hanya skuad Kako-san yang mau bergantian malam ini. ku harap kau—" Kagami membeku melihat sorot mata iris violet itu.
"Ah, lebih buruk dari skuadnya Sasamori." Ujar Hanzaki. Ia berhasil mengambil triggernya yang di banting oleh si kapten, lalu pergi meninggalkan ruangan sebelum Arafune berubah menjadi gozilla /gak.
