Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
Doyoung POV
Aku menatap sekeliling ku dengan gugup kami sedang berada disebuah restoran mewah menunggu untuk bertemu Jaehyun Appa.
"hello.." sapa seorang Pria paruh baya, Jaehyun segera berdiri dari duduknya dan segera memeluk Pria itu, Aku hanya terdiam saat melihat mereka, Pria itu meihat kearahku dengan sebuah senyum mengembang dipipinya, Jaehyun membantu Pria itu duduk dihadapan kami lalu Jaehyun kembali duduk disampingku.
Aku memperhatikan Pria itu dalam diam, ia walau terlihat kurus dan garis usia menutupi wajahnya masih terlihat tampan dan ia sangat miripi dengan Jaehyun.
"kau Doyoung?" tanyan pelan, aku segera membungkuk dan menjawab dengan gugup
"benar Paman, namaku Doyoung s-senang berjumpa dengan anda Paman" aku mendengar Jaehyun Appa tertawa kecil.
"tak kusangka kau yang sudah tinggal di New york sejak lahir dapat berbahasa dengan sopan, lagipula Doyoung-ah jangan memanggilku Paman panggil saja Appa sama seperti Jaehyun, bukankah kau akan segera menikah dengan my Jae" ucap Jaehyun Appa lembut, aku hanya mengangguk kecil lalu melirik Jaehyun yang tersenyum kalem menanggapi ucapan Appanya, tak tau apa yang sebenarnya dia pikirkan.
"bagaimana rasanya sekolah disini, menyenangkan..?"
"iya Pa..- A-Appa.." aku menjawab pelan.
"Doyoung agak payah Appa selama dikelas dia hanya diam saja padahal banyak sekali teman – teman yang ingin berteman dengannya" entah darimana Jaehyun punya ide untuk berbicara seperti itu, Aku mengigit bibir agak kesal.
"kau harus banyak bergaul Doyoung-ah..ups lebih baik kita makan dulu, nanti kalian harus menginap dirumah Appa saja y,malam ini, Appa mau berbicara banyak dengn kalian" Appa Jaehyun menatap kami, aku menoleh padaJaehyun dan yang ditatap sepertinya sedang melihatku juga.
"baik Appa" jawabnya akhirnya.
Aku menutup buku yg sedari tadi kuhadapi, akhirnya bel istirahat berbunyi juga
"kau mau makan apa..?" Tanya Jaehyun padaku, aku menggeleng lalu mengangkat bekal makanan yang kubuat tadi pagi, Jaehyun menatap bekal itu dengan cara membesar – besarkan matanya
"yaa.. kau membuat bekal untuk dirimu sendiri" geramnya, aku menatapnya
"kupikir kau tak mau" jawabku pelan, Jaehyun mencibirkan bibirnya,
"kalau begitu ayo makan diatap sama – sama" ajaknya lalu menarik tanganku, aku hanya mengikutinya dengan terseret – seret, jantungku berdebar kencang karena ini pertama kalinya, seorang yang bukan Dad atau maids memegang tanganku, bahkan Dad hanya memegangku saat aku masih sangat kecil, aku langsung merasa wajahku memerah karena malu
"Nah.. kita makan disini saja" Jaehyun menarikku duduk saat kami tiba diatap sekolah, aku hanya menuruti dan memperhatikan Jaehyun membuka bekalku dan memakannya tanpa kusuruh.
"wahh enak, ternyata kau pintar memasak" kata Jaehyun dengan mulut penuh, aku menunduk malu mendengar pujiannya. "Makanlah" suruhnya ketika melihatku hanya diam saja.
Akhirnya aku menghabiskan istirahat itu dengan makan siang bersama dengan Jaehyun dan entah mengapa hatiku mulai terasa nyaman bersamanya dan tak jarang jantungku berdegub Lebih cepat saat melihat senyumnya yang selalu membentuk lesung pipi manis dipipinya.
"besok kau harus membuat makan siang untukku, kalau bisa sih makan malam juga, sarapan setiap hari.. Jujur Doyoung-ah aku tak pernah makan makanan buatan rumah selama ini" ucapnya saat makanan kami sudah habis, aku menatapnya bingung, tapi hanya mengiyakan karena sejujurnya aku sangat suka memasak karena itu adalah kegiatan yang selalu kulakukan bersama Mom.
"kau setuju" tanyanya aku mengangguk, Jaehyun tertawa lalu mengacak – acak rambutku aku langsung tertegun diperlakukannya seperti itu, tiba – tiba terdengar dering handphone, aku menatap Jaehyun yang terpaku menatap nama yang tertera di layarnya, dengan segera dia melangkah menjauh sambil mengangkat telpon itu, aku hanya menatapnya tanpa tau harus berbuat apa.
Jaehyun menghampiriku dengan tergesa – gesa
"Doyoung-ah aku harus segera pergi, ini pacarku, kau kembalilah kekelas ok, makasih atas makan siangnya" ucapnya lalu berlalu pergi dengan tergesa-gesa, aku menatapnya pergi, ntah kenapa hatiku terasa hampa saat dia tak ada, sesaat aku lupa bahwa dia sudah punya kekasih dan menikmati waktu saat bersamanya, aku menggelengkan kepalaku mencoba menyadarkan diriku sendiri
"babo.."desahku pelan, hari ini Ten tak menemuiku, entah mengapa, biasanya dia selalu mendatangiku saat seperti ini, aku menghela napas dengan pelan, lalu memutuskan untuk kembali kekelas saja.
Saat malam menjelang yang ada hanya kehampaan..
Aku menetap sederet kata – kata yang baru kutulis dibuku diary milikku, hatiku terasa hampa saat ini, aku merindukan Mom yang selalu berada disisiku dulu, aku mendengar pintu kamarku diketuk dan dengan malas aku membuka pintu dan menemukan Jaehyun yang menatapku dengan wajah pucat.
"ada apa..?" tanyaku kuawatir, Jaehyun tak menjawab dia hanya diam sambil menarik tanganku keruang tengah lalu mendudukanku disampingnya. Aku menatapnya penasaran.
"ada apa..?" tanyaku lagi
"ini gawat.." ucap Jaehyun membuatku tambah heran
"apa maksudmu" tanyaku ikut panik
"kau dan aku akan menikah minggu depan" aku terlonjak kaget
"Apa..! tak mungkin, bukannya kita akan menikah saat kita sudah lulus sekolah, kita masih kelas 3" ucapku kaget, Jaehyun mengangguk
"Appa dalam keadaan tak sehat, dia baru masuk rumah sakit lagi, dia takut dia akan meninggal makanya dia ingin mempercepat pernikanan kita" ucapnya putus asa, aku menatapnya tanpa tau harus berbuat apa
"bagaimana ini.." desah Jaehyun menatapku
"aku harus mengatakan apa pada pacarku" lanjutnya, ntah mengapa saat aku mendengar hal itu, hatiku terasa sakit, dia lebih menghwatirkan Kekasihnya, tentu saja, aku bukan apa-apa baginya.
"aku.. aku tak tau harus berbuat apa, aku ..Im sorry" ucapku dengan suara tercekat lalu berlari kekamar.
Aku menatap foto Mom dengan pedih, airmata menetes lagi dipipiku untuk kesekian kalinya.
"Mom, Apa yang harus aku lakukan..?" aku harus menikah dengannya secepat mungkin dia yang bahkan tak mencintaiku..
Aku menghela nafas pelan menatap diriku didalam cermin, aku yang sedang menggenakan tuxedo berwarna putih dengan wajah yang sama sekali tak menunjukan kebahagian seperti, mempelai seharusnya.
"kau sudah siap..?" aku menoleh menatap Ten yang sedang berdiri dihadapanku, wajahnya tampak pucat seperti habis menangis.
"kau tak apa..?" tanyaku heran, Ten hanya menggeleng, dia tersenyum padaku, tapi aku dapat melihat mendung kesedihan menggelayut dimatanya.
"aku tak apa, ayo Appamu sudah menunggu diluar" jawbnya, aku mengangguk lalu mengikuti Ten keluar dari kamar rias. Dad sedang menungguku aku menatap Dad dengan sedih, tapi wajahnya hanya datar tanpa ekspresi, seperti biasanya, Dad mengandeng lenganku dan mengajakku memasuki gereja tempat pernikahan kami, dengan pelan kami berjalan menuju altar dimana seorang pendeta dan Jaehyun yang mengenakan Tuxedo Hitam sudah menunggu kami, pandangan orang – orang membuat badanku terasa bergetar gugup mengahadapi kenyataan yang telah terjadi padaku sekarang.
Dad melepas tanganku saat aku sudah berdiri disamping Jaehyun, aku menatap Jaehyun yang berdiri diam mematung.
"baiklah kita mulai saja pernikahan ini" ucap pendeta itu, dadaku berdebar kencang karena gugup
"saudara Jung Jaehyun maukah kau menerima saudara Kim Doyoung menjadi Pasanganmu dan mencintainya seumur hidupmu dalam suka maupun duka" pendeta itu mulai mengajukan sumpah pernikahan pada Jaehyun, aku melirik Jaehyun, dapat kulihat tubuhnya bergetar, aku tau dia pasti sangat tersiksa saat ini
"Ya.. aku bersedia" jawabnya pelan, aku menatapnya dengan sedih.
"saudara Kim Doyoung maukah kau menerima saudara Jung Jaehyun sebagai Pasanganmu dan mencintainya seumur hidupmu dalam suka maupun duka" aku terdiam, kulirik Dad yang sedang duduk disamping Jaehyun Appa yang menatapku dengan penuh harap, lalu mataku tak sengaja menatap Ten yang sedang menunduk, dia menangis lagi..?, entah ada apa dengannya, aku kembali menatap pendeta itu yang heran melihat aku belum menjawabnya.
"Saudara Doyoung..?"
"y-ya.. aku bersedia" jawabku akhirnya, semua orang langsung bertepuk tangan, aku menghela nafas berat.
"baiklah sekarang waktunya untuk tukar cincin, bagi kedua mempelai silahkan berhadapan" dengan pelan kuhadapkan diriku kepada Jaehyun, Pria itu hanya menunduk. Lalu kami diberikan sepasang cincin, Jaehyun memakaikannya padaku dengan tangan gemetar, begitupun aku, hanya rasa sedih yang ada dihati kami saat ini.
"sekarang saudara Jung Jaehyun kau boleh mencium mempelaimu" aku menatap Jaehyun khawatir begitupun Jaehyun, tapi dia segera mendekatkan wajahnya kepadaku dan mencium keningku, aku langsung memejamkan mataku airmata langsung menetes begitu saja dipipiku, orang – orang bertepuk tangan lagi, mungkin mereka berpikir kami sangat bahagia hingga aku menangis terharu, yang tak mereka tau adalah airmata ini adalah airmata kesedihan.
TBC
reviews everyone, karena Kalau FF ini kurang menarik mungkin bakal diirarik dari peredaran
