Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
"Ada apa denganmu hari ini, kau hanya diam membisu tak mau bicara sepatah katapun, makan pun tak mau, jangan membuat oranglain susah" Jaehyun berkata sambil menatapku heran seakligus kesal, aku hanya membuang muka tak mau menatapnya.
"bukanya kita ada janji akan Pasar malam hari ini, kau lupa..?"pancingnya aku menoleh menatapnya, aku sampai lupa tentang itu karena rasa sakit hati mengingat kejadian hari ini.
"tak usah aku akan pergi sendiri saja" ucapku dingin sambil melempar selimut yang tadi menutupi kakiku, Jaehyun menatapku heran.
"aku punya salah padamu..?" tanyanya pelan, aku menatapnya dengan perasaan kesal yang membuncah.
"aku tak peduli padamu" jawabku sinis, Jaehyun balas menatapku juga dengan pandangan tak mengerti, aku tau ia mulai gerah dengan sikapku
"ya sudah terserah kau" ucapnya dingin lalu berlalu meninggalkanku, menutup pintu kamarku dengan keras aku tertunduk hampir menangis lagi.
"yaa..! Doyoung-a, kim Doyoung jangan menangis lagi, bukannya kau tak mencintainya, kau hanya marah karena suamimu ternyata berpacaran dengan teman dekatmu dan merekasudah berbohong padamu untuk apa kau menangis.." isakku pada diri sendiri.
akhirnya aku memutuskan untuk ketaman hiburan seorang diri, aku mengganti pakaianku dan mengambil tas ku, lalu berjalan keluar kamar, Jaehyun sudah tak ada diruang tamu sepertinya dia ada dikamarnya, kami memang sudah memutuskan untuk berbeda kamar, hanya apabila appanya dan Dad datang kami akan satu kamar
sungguh sempurna untuk sebuah sandiwara kecil pernikahan palsu kami.
Aku melangkah keluar apartement cuaca sangat sejuk di musim semi, baru kali ini aku berjalan keluar apartement seorang diri selain kesekolah, di New York aku selalu diantar jemput maid, tapi disini, aku harus mendiri sebagai seorang yang sudah menikah hingga appa Jaehyun dan Dad ku sendiri tidak memberikan kami satu pun pelayan.
langkahku terhenti saat melewati sebuah taman bunga kecil aku tertegun lalu berjalan memasuki taman itu kutatap sekeliling dengan decak kagum
"so beautiful" ucapku senang aku menghampiri sebuah ayunan kecil dan duduk disana taman ini cukup jauh dari apartement kami, pantas saja aku tak pernah melihat sebelumnya, aku mengoyangkan ayunan itu dengan pelan, perlahan lamunanku membawaku kembali pada masalah yang tengah kuhadapi.
Aku tak bisa menyangkal betapa sakit hatiku karena mengetahui temanku berpacaran dengan suamiku, memang harusnya aku memakluminya karena Jaehyun sudah mengatakan kalau dia mempunyai seorang kekasih, tapi aku tak pernah bisa menerima orang itu yang ternyata adalah sahabatku sendiri, Orang yang selama ini kupercaya.
"apa dia mendekatiku untuk ini, karena dia tau aku tunangan pacarnya" tanyaku dalam hati, aku tak percaya orang yang kusayang berbuat seperti ini padaku, aku ingat pertama melihatnya aku membayangkan Mom yang sangat mirip dengannya dan aku tersakiti karena harus dibohongi oleh orang yang tak ingin kubenci.
aku tak tau mengapa aku begitu marah, aku tak menyukai Jaehyun, tapi aku juga tak ingin melihat dia bersama Pria lain bahkan saat aku melihatnya memeluk Ten, hal yang tak pernah dia lakukan padaku sebagai pasangan hidupnya, tentu saja aku merasa kesal.
"haaahh.. apa yang salah padaku sekarang" ucapku sambil menghela nafas berat
"pemandangan bagus" aku tersentak kaget mendengar suara itu dan melihat seorang Pria sedang jongkok dihadapanku, aku segera memperbaiki bajuku yang tampak kusust dan menatap Pria itu sebal, ia mendongakkan kepala melihatku sambil tersenyum manis, aku membelalakan mata mengenali Pria itu
"Taeyong-ssi..!"seruku kaget, Taeyong segera berdiri dan duduk diayunan di sampingku.
"kau mengenalku, hahaha susah menjadi orang tampan" ucapnya dengan narsis, aku mencibirkan bibirku "apa yang kau lakukan ditamanku"' tanyanya, aku mengerutkan kening heran
"tamanmu..?"tanyaku, Taeyong mengangguk.
"ya tamanku, ini taman keluarga kau tak melihat plang itu" aku melihat arah telunjuknya dan melihat sebuah papan yang menandakan taman itu taman pribadi, aku menunduk malu. Dan segera berdiri.
"ahh Maafkan aku, sebaiknya aku pergi " ucapku lalu berdiri hendak pergi
"hey" aku menghentikan langkahku saat Taeyong memanggilku aku menoleh untuk melihatnya "kau boleh tetap duduk kalau kau suka" ucapnya pelan, aku mengerutkan keningku heran, Taeyong hanya tersenyum manis sambil menepuk – nepuk ayunan yang tadi kududuki, aku melangkah ragu kembali duduk disampingnya.
"apa tak apa.. terima kasih" ucapku pelan, Taeyong tertawa geli mendengar itu, aku hanya menatapnya heran, Taeyong menggelengkan kepalanya sambil tetap tertawa.
"benar saja, menurut gossip kau adalah ice prince" aku menatapnya heran
"ice prince..?, siapa yang mengatakan itu ?" Taeyong menatapku lembut aku terhenyak melihat tatapannya.
"siswa – siswa dikelasku, mereka bilang ada murid baru yang luar biasa Cute tapi berhati dingin, dia Pangeran Bunny yang tak bisa tersentuh" Taeyong mendadak tertawa lagi mendengar ucapannya sendiri, aku menunduk malu, jadi itu yang orang katakan tentangku.
Tapi apa – apa an itu Bunny !? aku bukan kelinci..
"kau harus banyak bicara pada teman – teman dikelas" ucapnya saat tawanya selesai, aku hanya mengangguk.
"jadi, kenapa kau ada disini..?" aku menghela nafas berat mendengar pertanyaannya
"aku ingin ke Pasar Malam, tapi aku tersesat dan aku melihat taman ini, jadi disinilah diriku" ucapku malu Taeyong tertawa lagi, aku menatapnya sebal.
"kalau begitu, mau aku temani" tawarnya aku menatapnya dengan curiga,Taeyong memandangku geli, sepertinya apapun yang kulakukan itu lucu untuknya
"wajahmu benar – benar mirip kelinci dan aku bukan penjahat kok, aku tak akan memangsamu" lanjutnya, aku berpikir sebentar lalu mengangguk, "good kalau begitu ayo" serunya riang lalu menarik tanganku mau tak mau aku mengikutinya, aku harap aku dapat mempercayainya.
Sesampainya di pasar malam aku langsung menatap sekelilingku dengan kagum, melihat sesuatu yang tak pernah kulihat dari kecil membuatku bahagia, mataku terpaku pada penjual – penjual makanan kecil yang ada
"apa itu arum manis..?" tanyaku Taeyong melihat benda pink yang kutunjuk, lalu mengangguk
"kau mau" tawarnya aku mengangguk senang walaupun aku tak menyinggungkan senyum tapi mataku membulat besar, Taeyong tertawa melihatku lalu mengacak – acak rambutku, aku segera memperbaiki rambutku dengan kesal Taeyong langsung menarikku menghampiri penjual arum manis itu.
"Paman arum manisnya satu"Taeyong tersenyum pada penjual itu, Penjual itu menatap kami berdua dan balas tersenyum.
"kalian benar – benar cocok, cute dan tampan" puji penjual itu, Taeyong tertawa kecil sambil mengambil arum manis itu dan membayarnya
"kau dengar itu kita cocok" godanya, aku hanya berdecak malas menanggapi leluconnya.
"Kau ingin naik apa" tanyanya lagi, aku menatapnya dengan mata berbinar lalu menunjuk bianglala yang menjulang tinggi dihadapan kami, Taeyong tersenyum manis lalu mengajakku membeli karcis.
aku menatap ke bawah saat kami sudah ada di biang lala itu, menatap kagum
pemandangan seoul pada waktu sore hari Taeyong duduk diseberangku menatapku tanpa berhenti tersenyum
"kau seperti anak kecil nah…Kau seperti Bunny yang sedang bahagia" ucapnya, aku menatapnya sambil mencibir.
"ini pertama kalinya untukku tau aku senang" ucapku pelan, Taeyong mengerutkan kening
"kau mengatakan senang tapi, kulihat dari tadi kau tak pernah tertawa" aku menatapnya dalam diam, lalu melihat kearah lain
"aku tak tau sejak kapan aku berhenti tertawa," ucapku hampir seperti bisikan, wajah Taeyong langsung berubah kaget, tapi dia haya diam "kupikir batas kesenanganku sekarang hanya tersenyum, itu pun sudah cukup" lanjutku
"why..?" aku menatap Taeyong, lalu menghela nafas pelan
"akupun tak tau.., kupikir aku tak bisa melakukan itu lagi, aku bahkan lupa bagaimana caranya tertawa" ucapku tersenyum pedih, aku berusaha menahan air mata yang keluar dari pipiku, Taeyong berjalan kearahku lalu duduk disampingku.
"kau bisa menceritakan semuanya padaku" ucapnya lembut, aku hanya menatapnya, lalu menggeleng.
"aku tak apa.." aku menatap sekelilingku "aahhh, sudah waktunya turun, ayo turun" aku segera berdiri dan keluar dari pintu bianglala , Taeyong diam sejenak lalu mengikutiku.
Aku menatap langit sore yang sebentar lagi berubah menjadi malam, sejenak aku lupa masalahku karena Taeyong, aku melirik Taeyong dan tersenyum padanya.
"aku ingin pulang" ucapku pelan, Taeyong mengangguk tanpa banyak bicara mengantarku pulang sepanjang jalan Taeyong hanya diam dan aku juga hanyut dalam pikiranku sendiri, sampai tiba – tiba handphoneku berdering, kutatap layar nya terpampang nama Jaehyun, aku menghela nafas pelan lalu mengangkatnya
"Hello.."
"yaa, kim Doyoung kamu dimana sekarang..!?" terdengar suara cemas Jaehyun, aku melirik Taeyong yang hanya diam
"aku sedang dalam perjalanan pulang" jawabku
"kau dimana, aku jemput"
"aku tak apa, aku tau jalan pulang, lagipula, aku tak sendiri,"
"kau dengan siapa" tanyanya nadanya terdengar heran
"itu bukan urusanmu, aku akan pulang sebentar lagi, berhenti menanyaiku" ucapku lalu mematikan telpon itu, Taeyong menatapku yang terpaku menatap handphoneku.
"pacarmu..?" tanyanya, aku menggeleng, aku tak mungkin mengatakan itu dari Jaehyun kan, dan tak mungkin mengatakan itu dari suamiku, sedangkan pernikahan kami adalah rahasia.
"Taeyong-ssi kupikir sampai disini saja aku bisa pulang sendiri, terima kasih aku senang kau mau menemaniku hari ini" ucapku tulus sambil membungkuk, saat kami sudah berada di taman milik keluarga Taeyong, Taeyong menatapku tampa berbicara, aku membalik badanku dan berlalu pergi, aku menoleh sebentar dan Taeyong masih menatapku, aku hanya diam dan melanjutkan langkahku.
Apa yang sedang ia pikirkan
TBC
Reviewsnya ditunggu
