Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
Aku membuka pintu apartement secara perlahan dan mataku seketika berhenti ke sosok Jaehyun yang duduk di ruang tamu dengan wajah tanpa ekspresi saat ia melihatku ia segera berjalan menghampiriku
" kau darimana saja" tanyanya, aku menatap Jaehyun dengan malas.
"aku lelah" jawabku lalu melepas sepatuku dan berjalan menuju kamarku, Jaehyun menyusulku memasuki kamarku
"aku bertanya padamu, kau darimana saja, tadi pergi dengan siapa..?" Tanyanya lagi nadanya mulai naik yang menjelaskan kalau ia mulai kesal padaku, aku hanya mengangkat bahuku.
"Doyoung.."
"kupikir itu bukan urusanmu yang penting aku pulang dengan selamatkan" raut wajah Jaehyun berubah keras mendengar jawabanku
'"bukan urusanku hah..!" bentaknya aku menatapnya kaget, " tentu saja kau yang tak mengerti apapun akan berpikir seperti itu, aku yang bertanggung jawab atasmu, apa yang akan kukatakan pada appaku dan appamu bila terjadi apa-apa padamu" lanjutnya masih dengan nada tinggi, aku seketika merasa kecil dan menatapnya dengan takut, aku baru kali ini melihatnya marah, itu menakutkan
aku menunduk diam.
"jadi kau pergi dengan siapa..?" tanyanya kasar, aku makin menunduk takut.
"lee.. Taeyong" jawabku terbata – bata, Jaehyun terdiam mendengar nama itu
" jangan salah paham padaku aku sesungguhnya tak begitu peduli padamu, tapi kusarankan jangan mendekati Taeyong lagi, dia bukan Pria baik- baik apa kau mengerti" Jaehyun menatapku sinis lalu segera berlalu pergi meninggalkanku yang hanya terdiam menahan airmataku yang mengancam akan jatuh lagi.
Tiba – tiba sebuah syal putih jatuh kepangkuanku aku menatap syal itu bingung dan mengangkat wajahku melihat Jaehyun yang ternyata sudah berdiri lagi disampingku sambil berkacak pinggang.
"dan itu hadiahmu, terserah kau mau membuangnya atau menyimpannya, aku tak peduli" lanjutnya dingin lalu kembali berlalu pergi, aku terpaku sesaat menatap punggung Jaehyun, lalu pandanganku beralih pada syal putih dipangkuanku perlahan kugenggam syal itu dan seketika rasa sesak memenuhi hatiku.
"tak boleh menangis karena dia.. tak boleh" aku mencoba memantrai diriku sendiri, tapi aku gagal, airmata sudah jatuh dipipiku.
"yah..! Doyoung-ah sampai kapan kau akan mendiamkan aku seperti ini" Ten berkata kesal, ia menahan langkahku yang hendak menuju ke perpustakaan, aku hanya diam saja " aku benar – benar tak mengerti apa sebenarnya salahku" aku menatap Ten dengan lelah, rasa panas ditubuhku kemarin muncul lagi dan itu entah mengapa.
"kau tak salah apa – apa, aku hanya ingin sendiri" ucapku badanku terasa semakin panas, Ten menatapku curiga.
"kau tak apa..?" tanyanya kuawatir ia memegang tanganku tapi aku menepisnya dan berjalan pergi, aku menyandarkan tubuhku didinding saat tak ada yang melihatku perutku terasa sakit sekali, aku menghela nafas berat rasa sakit itu seperti menerkamku hingga membuatku terduduk lemah ku sentuh perutku berharap rasa sakit itu menghilang tapi malah itu terasa makin menyakitkan.
"Mom" bisikku pelan aku tak kuasa menahan tangis lagi rasa sakit itu makin membuat aku melemah.
Mengapa aku begitu cengeng.. sedangkan aku seorang pria tapi mengapa aku selemah ini
"hey kau tak apa..? Doyoung kau tak apa ?" aku berusaha membuka mataku melihat orang yang memegang pipiku tapi aku tak melihat apa – apa, "Doyoung, ayo ke UKS" ucap orang itu, aku mendengar dan mengenal suara orang itu.
"Jaehyun" ucapku pelan dan tanpa sadar aku memeluk Pria itu dan setelah itu aku tak ingat apapun lagi.
Aku membuka mataku perlahan, memperhatikan sekelilingku dan sadar aku sedang berada di UKS aku menghela nafas berat dan mataku menangkap sosok Jaehyun yang sedang tertidur disampingku aku memperhatikannya sejenak lalu tersadar saat melihat tangannya sedang menggenggam tanganku, jantungku langsung berdegub tak karuan terasa sangat hangat saat tangan itu menyentuhku dan tanpa sadar tanganku menyentuh rambutnya membuat Jaehyun mengeliat dan aku langsung melepas tanganku dan berpura – pura tidur lagi.
"huamm..haah aku malah tertidur" ucapnya pelan, sepertinya dia sedang menatapku saat ini, tangannya yang hangat menyentuh pipiku dan menepuk – nepuknya pelan "Doyoung.. Doyoung" aku tetap berusaha memejamkan mataku tiba – tiba terdengar suara ketukan pintu dan seseorang masuk aku tak tau siapa.
".Baby." tiba – tiba dadaku terasa ditusuk saat mengenali itu adalah suara Ten
"ssttt.." Jaehyun langsung menyuruhnya diam
"kita harus bicara sekarang" pintanya, kudengar Jaehyun menghela nafas pelan lalu beranjak dari sisiku dan terdengar suara pintu dibuka lalu ditutup lagi aku membuka mataku perlahan lalu mendudukan diriku kupegang pipiku yang memanas sentuhan tangan Jaehyun masih terasa dipipiku membuat jantungku berdebar tak karuan, aku memegang dadaku sekarang rasa sakit diperutku menghilang berganti rasa panas didadaku.
"ada apa ini." Kataku lalu memegang dadaku yang berdetak tak karuan "apa aku jatuh cinta padanya..?" tanyaku tiba – tiba pada diri sendiri, lalu dengan cepat aku menggeleng.
"No.., dia milik Ten" ucapku mencoba tersadar tapi dadaku tetap menunjukan sesuatu yang bergemuruh hanya untuk Jaehyun.
"kau sudah sadar" aku menoleh melihat Jaehyun yang memandangku dengan senyum manisnya jantungku semakin berdetak kuat "wajahmu merah sekali apa masih demam..?" tanyanya kuatir lalu berjalan memegang keningku aku langsung menepis tangan itu membuat Jaehyun menatapku heran.
"ada apa..?"tanyanya pelan, aku hanya menggeleng
"mau pulang sekarang..?"tanyanya lagi, lalu aku mengangguk kecil, Jaehyun tersenyum, dia mencoba membantuku turun dari ranjang tapi aku malah mendorongnya.
"kau kenapa sih..?"tanyanya heran, aku menggeleng lagi karena aku tak mau dia tau kalau setiap dia menyentuhku tubuhku langsung terasa panas.
Jaehyun menatapku lagi tak mengerti lalu membiarkan aku melangkah turun sendiri, aku berjalan menuju pintu dengan tertatih tiba – tiba badanku terasa melemah dan hendak jatuh tapi Jaehyun secepatnya menahanku hingga kini aku sudah bersandar didadanya, wajahku langsung memanas karena itu, aku mencoba melepaskan tubuhku tapi Jaehyun malah menahanku.
kami terdiam aku tak tau apa yang terjadi padaku saat dia dengan lembut merengkuhku dari belakang tiba – tiba pintu terbuka dan orang yang sangat tak ingin kulihat masuk, tapi ia terpaku menatap kami berdua Jaehyun langsung melepas pelukannya padaku aku menatap Ten yang masih diam sambil menatap kami lalu kulirik Jaehyun yang sedang menatap Ten dengan tampang seperti seseorang yang sudah melakukan dosa besar saja, aku menghela nafas jengkel lalu berjalan dengan lunglai keluar, Ten dan Jaehyun mengikutiku dari belakang.
"kau tak apa..?" Tanya Ten padaku membuat aku menatapnya kesal.
"bukan urusanmu" jawabku Ten terdiam lalu aku melihat dia melirik Jaehyun dengan sedih.
Sesampainya dirumah aku langsung berbaring dikamarku, Ten duduk disamping ranjangku dan menatapku dengan sedih. Aku membalik badanku tak ingin melihatnya, lalu dengan menunduk dia berjalan keluar, aku tau aku sudah egois tapi aku tak bisa berbohong lagi sekarang aku memang mulai menyukai Jaehyun.
Jaehyun menatapku heran saat aku menyapanya pagi itu
"ada apa kau sudah menjadi biasa lagi sekarang..?" tanyanya heran aku tersenyum kecil
"tak boleh..?, ini bekal untuk mu,hari ini kita makan sama – sama diatap ya" Jaehyun menerima bekal itu lalu menatap aku yang berangkat sekolah lebih dulu darinya.
aku melangkahkan kakiku riang memasuki kelas kulihat tatapan semua orang menatapku heran, aku hanya tersenyum menyapa mereka Jaehyun masuk kelas lalu duduk disampingku aku langsung tersenyum semanis mungkin padanya kembali Jaehyun menatapku heran.
"kau habis minum obat apa tadi pagi..?"tanyanya, aku hanya mengangkat pundakku dengan senyum masih dibibirku, sepanjang pelajaran aku tak hentinya memandang Jaehyun, hingga ia nampak jengah sendiri.
Saat bel istirahat berbunyi, aku langsung menyambar tangannya dan mengajaknya keatap untuk makan siang bersama, Jaehyun terus menatapku seakan bertanya apa yang sedang kulakukan lagi sekarang.
"Hyunie.." ucapku pelan Jaehyun menatapku aneh saat memanggil namanya dengan panggilan itu "aku harus membiasakan memanggilmu seperti itu kan" ucapku Jaehyun hanya diam melihat tingkahku tapi aku tak peduli
"kalian berdua tampak senang sekali" sapa seseorang, aku menoleh dan mendapati Ten menatap kami dengan tampang datar aku melirik Jaehyun sekilas dan langsung mendapat ide yang menurutku sangat bagus
"Tenny bergabunglah" pintaku Jaehyun menatapku kaget tapi sekali lahi aku tak peduli,Ten perlahan duduk disampingku dengan ragu
"ayo makan bersama"aku tersenyum pada Ten yang hanya dapat mengangguk, kulirik Jaehyun yang menatap Ten dengan canggung.
"kalian berdua kenapa hanya diam saja.." tanyaku dengan senyum.
"Hyunie makanlah" ucapku berusaha selembut dan semesra mungkin pada Jaehyun tanganku terangkat untuk menyuap makanan kedalam mulutnya dan Jaehyun menerima itu walaupun sejenak ia terlihat ragu aku menatap Ten yang hanya menunduk dan tersenyum puas.
"oya, Ten bukannya kau punya kekasih juga, sampai saat ini kau belum mengenalkannya padaku, aku kira kita sahabat" aku berkata dengan wajah yang kubuat – buat agar terlihat sedih, Ten dan Jaehyun saling menatap dengan terkejut dan aku tersenyum sinis saat meilhat mereka seperti itu "bagaimana kalau kita adakan double date pasti mengasyikan" usulku lagi wajah Ten langsung berubah pucat begitupun Jaehyun.
"aku.." Ten terlihat kaku saat menjawab itu Jaehyun memegang tanganku pelan,
"sudahlah, hentikan saja Doyoung ada apa denganmu hari ini," tanyanya aku tersenyum sinis.
"kenapa…? apa aku tak boleh bermanja dengan suamiku, iya kan Ten..?"tanyaku memancing reaksi Ten, Ten terdiam cukup lama dengan senyum kecil aku perlahan bergerak mendekat Jaehyun dan langsung mengecup bibir Jaehyun dihadapan Ten, Jaehyun terlihat sangat terkejut dengan apa yang kulakukan dan Ten hanya terpaku di tempatnya menatap kami berdua dan beberapa saat kemudian air mata langsung berlinang dipipinya dan ia memilih segera berlari pergi Jaehyun yang melihat itu langsung mendorongku dan ingin mengejarnya tapi langsung saja kuhentikan langkahnya.
"kau mau kemana Hyunie..?" tanyaku sambil memegang erat tangannya Jaehyun menatapku, matanya tersirat kemarahan padaku.
"kau sudah keterlaluan.."
"keterlaluan..? memangnya apa yang aku lakukan..?" ucapku tanpa dosa Jaehyun melepas tanganku dengan kasar lalu berlari pergi tentu saja untuk menyusul Ten, aku menatap itu dengan kesal dan juga sedih
dia memang tak pernah menginginkanku.
"kau benar – benar keterlaluan" aku tersentak dan menoleh, mataku membesar saat meihat Taeyong yang entah kapan sudah ada disamping ku, ia menatapku dengan tajam, jadi dia dengar semuanya termasuk apa yang kukatakan tentang suami.
Aku menatapnya heran
"kau.. ,sudah berapa lama kau dengarkan kami..?" Taeyong tak menjawab, dia langsung menarik tanganku hingga membuatku berdiri aku meringis kesakitan.
"hey kau menyakitiku.." Taeyong sepertinya tak peduli ia malah mendorongku hingga tersandar di dinding, wajahnya sangat menakutkan.
"kau.. jangan coba – coba menyakiti Ten atau aku akan sangat membencimu, dan asal kau tau, siapapun yang menyakiti Ten akan menjadi musuh ku." Bentaknya kasar, aku berusaha mendorongnya tapi tak bisa, padahal aku lebih tinggi darinya tapi tampaknya aku lemah melawannya.
"kau mengancamku…!?, kau pikir dia saja yang menderita ? mengapa semua orang selalu membela dia..!" jeritku marah airmata mulai menetes dipipiku emosiku tak terbendung lagi.
"dan kau tau apa tentang aku, hingga kau berani mengancamku.."
BRUKKK
Aku tersentak saat Taeyong memukul dinding disebelahku dengan keras, kulihat tangannya mengeluarkan darah dan itu membuat aku mulai merasa ketakutan
"kau yang jahat.." bentaknya lagi.. "kau yang datang begitu saja dan merebut Jaehyun dari Ten, lalu menikah dengan Pria itu tanpa memikirkan perasaan Ten" aku terdiam saat mendengarkan itu, kutatap wajahnya yang begitu dekat denganku wajahnya memerah menahan marah.
"aku tak melakukannya.. itu bukan mauku," isakku "kau..kau tak tau bagaimana perasaanku mendapati rahasia antara suamiku dan temanku, kau tak tau betapa aku selalu menangis saat menyadari perasaanku sudah jatuh pada Jaehyun dan tak dapat mengalihkan dia dari Ten"
Taeyong menatapku dengan sinis.
"terus saja kau bermain sebagai victim disini, dan asal kau tau itu bukan salah Ten .." aku menatapnya dengan pandangan kabur karena air mata perutku terasa sakit lagi, aku memegang perutku menahan rasa sakitnya.
"apa yang kau katakan, aku bertanya padamu bagaimana perasaanmu melihat suamimu tiap malam mengunjungi Pria lain, bagaimana perasaanmu, bila kau menikah dan tak pernah menyentuh suamimu" suaraku terdengar serak dan tenggorokanku terasa sangat sakit.
Taeyong menatapku tetap dengan pandangan mencela.
"lalu bagaimana rasanya merebut milik orang lain dan membuatnya harus berbohong,,karena takut temannya yang disayangi akan sakit hati mengetahui siapa dia sebenarnya dan membiarkan Prianya bermesraan bahkan berciuman dengan Pria lain dihadapannya, kau tak tau rasanya kan.." ucap Taeyong dengan suara yang makin meninggi, aku langsung terduduk lemas, perutku terasa sangat sakit, nafaskupun terasa sesak, Taeyong melihatku dengan heran
"hey kau kenapa..?" kali ini nada suaranya berubah aku tak bisa menjawab hanya diam memegang perutku Taeyong memegang tanganku dan hendak membawaku pergi tapi aku menahannya.
"aku tak apa, kau pergi saja" ucapku lemah
"apa maksudmu, kau harus ke UKS" jawabnya aku menggeleng.
"pergi saja.." ucapku lagi tapi Taeyong memaksa menarik tangangku bangun, aku mendorongnya dengan kasar.
"aku tak perlu bantuanmu, pergi..‼" jeritku marah, Taeyong menatapku lalu mundur dan membiarkan aku sendirian, aku menyandarkan tubuhku kedinding rasa sakitnya makin menjadi.
"Mom… apa yang harus kulakukan sekarang, kenapa aku harus mendapatkan semua ini hingga lupa pada diriku sendiri," aku memejamkan mata lemah.
TBC
Reviews
please readers kalo review tolong jangan cuma "next atau lanjut" karena itubukan review, aku mohon kritik dan saran karena itu yang memotivasikan authour untuk terus nulis thanks
