Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
Aku membuka mataku perlahan, hari sudah malam, aku menatap sekelilingku ternyata aku masih di atas atap mungkin aku tak sadarkan diri tadi, aku melihat pada tubuhku sebuah jacket menyelimutiku, aku tersentak saat menatap kesamping Taeyong sedang tertidur disampingku dan aku bersandar padanya, aku terdiam ini pernah terjadi waktu itu dengan Jaehyun, akumengigit bibirku sedih setiap mengingat nama Jaehyun hatiku terasa pedih sekali. Aku menjauhkan diriku dari Taeyong lalu menyelimutinya dan berjalan menuju pintu masuk, tapi aku terhenyak saat menyadari pintu itu terkunci.
Aku berjalan menghampiri Taeyong yang masih tertidur dan duduk disampingnya, aku menundukan wajahku lemah airmata mengalir lagi dipipiku entah berapa kali aku menangis hari ini.
"kau terlalu banyak menangis" aku mengangkat wajahku dan menoleh pada Taeyong yang menatapku, rupanya dia sudah bangun. Aku menghapus airmataku, aku tak mau dia memandangku lemah.
"apa aku salah menilaimu.., dulu kupikir kau Pria polos yang lucu, aku tak menyangka kau bisa menjadi sejahat ini" aku menatapnya dalam diam, Taeyong lalu membuang pandangannya kelangit malam.
"aku juga tak mengerti.." desahku pelan, "aku hanya ingin mendapat yang sepantasnya kudapat, tanpa tau itu akan melukai Ten dan Jaehyun, aku tak bisa melihat mereka bahagia" lanjutku menahan pedihnya rasa dihatiku
"kau tau, Momku meninggal saat aku berusia 5 tahun, karena menyelamatkanku yang sedang bermain dijalan, saat itu aku hanya dapat melihat tubuhnya yang terkapar dan aku tak mengerti apapun yang terjadi.." Taeyong menatapku dengan ekspresi yang susah kutebak
"saat Mom meninggal, Dad selalu menyalahkanku atas meninggalnya Mom, menyentuhkupun dia tak mau, dia hanya ingin aku jauh darinya setiap melihatku dia menjauh, dan tak pernah tersenyum padaku, aku berusaha maklum, karena itu memang salahku tapi rasa sakit itu, bukan hanya dia yang mengalaminya, aku yag paling merasa bersalah aku yang membunuh Mom, kalau saja aku tak nekat bermain diluar, Mom tak akan meninggalkanku, saat itu aku tak dapat tertawa yang kutau hanya menangis saja, Dad orang yang paling kuinginkan ada didekatku, malah menjauh dan memandangku dengan pandangan benci" tak terasa aku menyatakan semua beban yang ada dihatiku pada Taeyong, semua yang menjadi rahasia dan selalu kupendam hingga usiaku tujuh belas tahun.
"jangan menyalahkan dirimu seperti itu.." aku menatap Taeyong dan tersenyum lemah
"itu memang salahku, aku selalu berkata aku tak apa – apa, saat Dad menjodohkan aku dan Jaehyun pun aku tak apa karena hanya itu yang dapat kulakukan, Dad hanya ingin aku jauh darinya karena setiap melihatku dia akan mengingat Mom yang terbunuh karenaku"aku menunduk membiarkan airmata menetes dipipiku "aku bahagia saat aku jatuh cinta pada Jaehyun aku hanya tak ingin dia pergi dariku, maka aku berbuat jahat seperti ingin memisahkan dia dari kekasihnya tapi aku tau itu salah mungkin memang aku yang harus menyerah"
"maafkan aku.." ucap Taeyong tiba – tiba, aku menatapnya heran
"untuk apa..?", Taeyong balas menatapku
"sudah memarahimu tanpa tau perasaanmu yang seperti itu" aku tersenyum mendengar itu
"aku tak apa, aku harusnya berterima kasih, karena kau aku tersadar kalau aku punya dua orang yang kusayangi yang harus kulindungi bukan kusakiti" Taeyong menatapku sambil tersenyum
"Taeyong-ssi"
"ya."
"jujur padaku kau menyukai Ten kan..?" Taeyong terdiam menatapku yang tersenyum padanya, lalu mengangguk dengan ragu – ragu
"tapi dia menolakku dan memilih Jaehyun"
"kau hebat bisa menerima itu semua.."
"hahaha, mungkin aku memang hebat"ucap Taeyong sambil tertawa hambar,aku menatapnya, lalu menatap tangannya yag berdarah tadi.
"tanganmu tak apa…?" Taeyong melihat tangannya, dia menggeleng
"ini hanya luka kecil saja" aku tersenyum mendengar itu, dan teringat kalau kami sedang terkunci disini.
"bagaimana kita keluar dari sini..?" tanyaku agak panik, Taeyong juga sepertinya baru tersadar.
"ahh, handphone" aku mencari handphone disaku bajuku tapi tak ada, aku menaruhnya di tas, dan itu tertinggal dikelas.
"aku ada tunggu sebentar ya.." Taeyong menjauh dariku lalu menelpon seseorang.
"sudah..Tunggu saja" aku menatap Taeyong dengan pandangan berterima kasih
30 menit kemudian terdengar pintu dibuka, aku menoleh dan Ten mengahambur masuk dengan panik menghampiriku
"kau tak apa " tanyanya canggung padaku aku melirik Taeyong yang tersenyum menatapku, lalu melihat wajah Ten yang terlihat sembab mungkin karena habis menangis aku tersenyum miris dan langsung memeluk Ten yang terlihat kaget.
"mianhae, Tenny.." Ten hanya diam membisu " aku tetap menjadi temanmu kan" lanjutku, kurasa bahu Ten bergetar menahan tangis dan dia hanya mengangguk pelan.
Aku melepas pelukan kami
"ayo pulang" ucapku lembut Ten mengangguk, Taeyong mengikuti kami dengan senyum dibibirnya tiba – tiba aku teringat sesuatu
"kalian pulang saja duluan aku harus mengambil tasku di kelas" ucapku pelan Ten menatapku khawatir
"ini sudah malam" ucapnya aku menggeleng kecil
"tak apa" lalu dengan cepat aku berlari pergi menuju kelas, dan mengambil tasku yang tertinggal, aku langsung menyambar tas itu dan mencari handphoneku didalamnya
47 panggilan tak terjawab aku melihat semua dari Jaehyun, aku tersenyum miris,
"mulai saat ini aku harus belajar melupakanmu Jaehyun" desahku pelan lalu membalik badanku dan segera aku tersentak kaget, Taeyong sudah berdiri dihadapanku.
"mengapa kau selalu membuatku terkejut Lee Taeyong ‼" pekikku kaget, Taeyong hanya tertawa
"Ten menyuruhku untuk menemanimu, dia takut ini sudah malam dan kau pulang sendirian" aku tersenyum mendengar itu handphoneku berdering lagi, tentu saja itu dari Jaehyun aku terdiam menatap nama itu.
"kenapa tak diangkat.." tanya Taeyong aku menggeleng.
"aku belum siap..aku.. hey apa yang kau lakukan.." aku tersentak kaget saat Taeyong menarik handphone itu dariku, lalu menjawab telponnya
"Hallo" aku langsung merebut handphone itu, cepat lalu mencoba berbicara pada Jaehyun
"Hallo, Jaehyun ssi" hening….
"siapa tadi..?" Tanya Jaehyun akhirnya, aku menatap Taeyong kesal.
"bukan siapa – siapa, sebentar lagi aku akan pulang"
"aku tanya siapa‼" aku tersentak mendengar Jaehyun membentakku " kau dimana" lanjutnya tak kalah keras
"aku.. aku di sekolah"
"sedang apa kau disitu dan ini sudah jam 11 malam, tunggu disitu aku akan menjemputmu" aku terdiam saat Jaehyun mematikan telponnya, aku menatap Taeyong yang menatapku penuh tanda tanya aku hanya menggeleng pelan, kami lalu menuruni tangga sekolah dan berjalan keluar gerbang.
"aku akan menunggu Jaehyun disini" Taeyong menatapku heran "kau boleh pulang duluan, terima kasih atas hari ini" Taeyong semakin menatapku.
" ada apa..?" tanyaku heran Taeyong seperti tersadar lalu menggeleng, aku melirik tangannya, tampaknya tangan itu sedikit membengkak dengan cepat raih tangannya Taeyong tampak kaget
"apa yang kau lakukan" tanyanya heran aku hanya memegang tangan itu lalu mengambil kotak obat yang selalu tersedia di tasku, membersihknnya lalu membalut luka itu, Taeyong terus memperhatikan setiap tindakan yang kulakukan.
"sudah selesai" ucapku tersenyum puas melihat hasil balutanku aku membereskan kembali kotak obatku tapi Taeyong tetap diam memperhatikan tangannya. "ada apa..?"tanyaku, Taeyong hanya tetap memilih diam, aku menggeleng heran.
"pulanglah.." suruhku " aku akan menunggu di bangku itu" lalu berlalu hendak pergi tapi tanganku tertahan oleh genggaman Taeyong, aku menatap Taeyong dengan heran, tangannya semakin erat menggengamku.
"perasaanku aneh sekali" katanya dengan nada heran sendiri aku menatapnya tak mengerti, lalu balas memegang tangannya, tiba – tiba sebuah tangan melepaskan genggaman kami berdua tangan itu langsung menarikku, aku tersentak kaget melihat Jaehyun yang memandang Taeyong dengan amarah.
"jangan menyentuhnya lagi.." ucapnya dengan nada pelan tapi terdengar mengancam, Taeyong menatap Jaehyun dengan pandangan datar, Jaehyun langsung menarikku pergi dari situ, aku terseret menggikutinya, genggaman tangannya makin menyakitiku, aku berusaha melepasnya tapi tak bisa, hingga kami berada di apartement dia masih mengenggam tangan ku dengan kuat.
"lepaskan aku Jaehyun" bentakku menahan sakit, Jaehyun melepaskan genggamannya dan menatapku dengan marah
"apa yang kau lakukan bersamanya di sekolah hingga larut malam, kan sudah kubilang jangan pernah mendekati dia lagi, dia orang yang tak pantas didekati" Jaehyun terus berbicara dengan nada yang makin meninggi, aku memegang pergelangan tanganku yang memerah, karena pegangan tangan Jaehyun.
"itu benar – benar bukan urusanmu, silahkan urusi dirimu sendiri" ucapku kesal, Jaehyun langsung memasang wajah marah lagi padaku
"jadi kau benar – benar tak mau mendengarkanku" bentaknya
"kenapa aku harus mendengarkanmu" balasku cepat
"aku suamimu, kau harus mendengarakan aku.." aku tersenyum sinis mendengar kata – katanya
"itu yang kau katakan bila ingin menguasai seseorang, kau memang suamiku Jaehyun-ssi, tapi kau tak pantas membentakku seperti itu atau melarang apapun yang akan kulakukan"
"lalu mengapa kau menciumku.." aku terpaku mengingat kejadian tadi siang, saat aku mengecupnya bibirnya dihadapan Ten.
"kenapa..?" tanya Jaehyun lagi, aku menggeleng lalu berlari menuju kamarku dan menutupnya dengan keras, memejamkan mataku untuk melupakan hari ini.
Sinar matahari menyeruak masuk melalui jendela kamarku, aku membuka mata perlahan , dan terpaksa memejamkannya lagi saat sinar matahari menyambutku dan membuatku tersilaukan.
Aku membalikan badanku perlahan, bayangan kejadian kemarin langsung menjadi sarapan pagiku, kenapa aku melakukanya, kenapa aku menciumnya.
"menciumnya.." aku langsung terduduk dan menyentuh bibirku, pipiku terasa memanas
"kenapa aku melakukannya dengan cara seperti itu" bisikku, itu adalah pertama kalinya aku mencium seorang Pria, bahkan itu adalah first kissku, tapi mengapa dengan cara seperti itu, bahkan tak ada romantisnya sama sekali, aku menciumnya hanya untuk membuat Ten cemburu, sekarang aku menyesalinya
"babo, babo geot gatha.." ucapku kesal sambil memukul kepalaku pelan berkali – kali, seharusnya itu terjadi romantic bukan seperti itu.
"haaahhh.."aku menghela nafas berat dan segera menuju kamar mandi, mencuci wajahku dan menyikat gigiku, lalu mengganti piamaku dengan baju seragam sekolah dan turun untuk membuat sarapan.
Aku segera membuat 2 gelas susu dan membuat sarapan pagi, aku menoleh melihat Jaehyun yang berjalan memasuki ruang makan, aku langsung menyambar susuku dan meminumnya sampai habis, aku belum siap untuk bertemu dia pagi ini, lalu dengan cepat kuambil tasku dan berjalan pergi tergesa – gesa melewati Jaehyun tanpa mau melihat wajahnya, tapi langkahku terhenti saat tanganku ditahan oleh Jaehyun. Aku tetap menunduk tanpa mau melihat wajahnya, aku benar – benar bertekat untuk melupakan cintaku padanya
"kita berangkat sama – sama" ucapnya pelan, aku menggeleng cepat
"kenapa…?, kau tak mau,, karena takut Taeyong melihatmu bersamaku" aku langsung menatap Jaehyun heran, kenapa lagi dia membawa – bawa Taeyong sekarang.
"bukannya pernikahan kita harus dirahasiakan, jadi tak usah memancing orang lain untuk mencari gossip tentang kita" jawabku pelan, lalu berusaha melepas tanganku, Jaehyun tetap menahan tanganku, dia menatapku dengan wajah kesal.
"itu alasanmu saja kan..?" ucapnya sinis
"ya.. benar sekali, kau tak mungkin membiarkan Ten melihat kita bersama kan.." tanganku langsung terlepas dari pegangan tangan Jaehyun, dia tampak kaget mendengar kata – kataku.
"kau sudah tau Ten adalah kekasihku..?" tanyanya kaget "jadi itu mengapa kau lakukan kegilaanmu kemarin, sengaja mau membuat Ten terluka..iya" tanyanya denga nada menahan marah, aku menatapnya berusaha tenang.
"ya..!" jawabku, Jaehyun langsung membalikan badannya dan hendak pergi, tapi aku menahan tanganya, dia menepis tanganku dengan kasar, aku tak menyerah, aku berlari menghadang nya didepan pintu sambil merentangkan tanganku.
"apa lagi..?" tanyanya dingin, aku menatap wajahnya yang memendam amarah.
"jangan beritahu Ten, aku tidak akan melakukannya lagi, aku janji, jangan beritahu Ten, kalau aku sudah tau, aku akan bersikap biasa lagi, bersikap manis lagi seperti semula, sebagai balasannya aku tak akan melukai Ten ataupun berusaha menghancurkan kalian berdua lagi dan kita tetap akan melanjutkan pernikahan kita hingga waktunya kita untuk bercerai aku tak akan pernah lagi memaksamu" ucapku panjang lebar lalu berlalu pergi, tanpa mau melihat bagaimana reaksi Jaehyun, air mata hendak menetes dipipiku, tapi aku mengadahkan wajahku melihat langit, hingga cukup menghambat airmataku keluar, entah mengapa rasa malas menyergapku, aku membelokan badanku dan berjalan pergi tak tau kemana, aku hanya ingin menjauh dari semuanya.
TBC
sorry blum sempat membalas semuanya...untuk alur yang kecepatan itu sebenarnya disengaja ehhehehehehh, author ga pernah nyadar ga da space line nya di ff ini, sbanrnya sudah dibuat tapi pas ffnya terbit malah ga da, karena author jrg baca ulang makanya ga merhatiin, next chapter bakal di usahain lebih panjang..jangan lupa reviews nya okay.. kritik yang pedas gpp kok hahhahha
