Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve

Cast : Kim Doyoung (17)

Jung JaeHyun (17)

Lee TaeYong (18)

Chittaphon/ Ten (17)


Jaehyun POV

Aku masih mematung di tempat aku berdiri sedari tadi berbagai pikiran mengusahaiku, apa maksud Doyoung akan menghentikan semuanya, apa maksudnya..?, apa dia menyukaiku..? tidak dia tak mungkin menyukaiku, dia hanya Pria berbahaya yang suka menyakiti perasaan orang, aku tak percaya dia menyakiti Ten seperti itu kupikir dia tak mungkin melakukannya.

melangkah gontai menuju sekolah rasanya aku tak siap untuk melihat wajah Doyoung hari ini apalagi dia duduk disebelahku aku menghela nafas berat, bersiap untuk bertatap muka lagi dengannya, tapi aku terpaku melihat meja Doyoung yang kosong, anak itu tak tampak dmanapun

kemana dia ..? bukankah tadi dia berangkat mendahuluiku.. sudahlah biarkan saja.

Tapi ternyata aku tak dapat membohongi diriku sendiri kegelisahan mulai menyergapku sepanjang pelajaran hingga istirahat Doyoung sama sekali tak menampakkan dirinya, dimana sebenarnya anak itu dan mengapa ia selalu membuat orang lain merasa cemas

"haah cemas.. tidak aku tak cemas" ucapku sambil berbicara pada diri sendiri aku melangkah malas menuju toilet, tapi langkahku terhenti dipintu masuk saat mendengar pembicaraan didalam

"yah.. aku pikir memang Doyoung sangat cute, wajahnya itu benar – benar mengemaskan, seperti anak kelinci yang kehilangan induknya hahahah" terdengar suara anak laki – laki dari dalam.

"benar sekali aku sudah berapa kali mengungkapkan perasaanku padanya, tapi dia hanya tersenyum sambil meminta maaf, untung dia cute jadi aku memaafkannya karena sudah menolakku" balas salah satu siswa

"itu benar sekali aku juga mencoba mendekatinya semampuku, tapi dia selalu menghindar haah.. dan kau lihat bagaimana cocoknya Taeyong dan Doyoung, merekas sungguh membuat iri saja, dan kudengar mereka pernah menghabiskan malam di atap sekolah kita hanya berdua saja, aku sungguh iri" jawab suara satunya lagi

"benar aku juga mendengarnya, tapi aku juga dengar gosip lainnya kalau Jaehyun dan ia tinggal satu rumah"

" tapi mereka tak cocok, kau tau Jaehyun memang popular sekali tapi ia sungguh tak cocok dengan Doyoung, lagipula Jaehyun itu dingin sekali ia menakutkan.." aku mengepalkan tangan kesal lalu melangkahkan masuk kedalam toilet, tiga siswa itu tampak kaget

"ohh..Jaehyun-ssi" aku hanya diam menatap mereka dan mereka memilih untuk segera keluar, aku menatap cermin dengan kesal.

"memang salahku punya wajah seperti ini" geramku "cocok bagaimana dengan Taeyong, Bunny itu sama sekali tak cocok dengan Taeyong" omelku aku segera membasuh wajahku dan berlalu pergi.


"apa kau baik – baik saja.." aku menoleh pada Ten yang sedang menatapku khawatir "kau sakit jae.." lanjutnya, aku hanya menggeleng dan berusaha tersenyum manis, aku tak boleh membuat Ten khawatir dan terus memikirkanku seperti ini.

"aku baik – baik saja, aku hanya banyak pikiran belakangan ini, biasa tentang Appa.." Ten hanya mengangguk, aku tersenyum dan menariknya masuk kedalam pelukanku, membelai lembut rambutnya

"apa kau sudah makan..?" Ten menggeleng, membuat ku mengerutkan kening dengan kuatir, aku perlahan menggengam tangan Ten

"kenapa belum ? kau bisa sakit dan aku tak mau kau sakit lagi, apa kau sudah minum obatmu" tanyaku lagi, Ten mengangguk kecil, aku melepaskan ia dari pelukanku dan menangkup kedua pipinya yang semakin hari semakin kurus, aku menghela nafas berat saat melihat semburat kelelahan di wajahnya, memang salahku membuat Pria yang kusayangi seperti ini seandainya aku dapat menolak usul Appa, aku pasti melakukannya, tapi kesehatan Appa selalu membuatku tak kuasa menolak permintaan Appa, aku tak tau berapa kali Appa masuk keluar Rumah sakit dan aku sangat khawatir jantungnya sangat lemah untuk menghadapi penolakan.

"kita makan bersama" usul Ten aku tersenyum lalu membelai rambutnya lagi

"tentu saja"


Doyoung PoV

Aku menghentikan langkahku dan memperhatikan sekelilingku..great.. sekarang aku berada dimana ? karena berjalan dengan banyak pikiran aku sampai lupa kemana lagi tujuanku disini sepi hanya ada danau kecil dan pohon - pohon rindang, tapi sejujurnya aku suka dengan suasana yang seperti itu

aku mendudukan diriku ditepi danau melihat Angsa – angsa yang dengan riangnya berjalan bergerombol tak terasa aku tersenyum sendiri kulempar batu – batu kerikil kedanau dan tampaknya Angsa – angsa itu kesal kepadaku karena mengganggu mereka dan akhirnya memilih pergi dari situ, aku menghela nafas berat lalu membaringkan tubuhku dirumput yang hijau dan dipotong rapi itu, angin yang sepoi – sepoi membelai wajahku hingga aku terlelap.

Rasanya cukup lama aku tertidur dan saat aku membuka mata perlahan – lahan.

"kau memang suka tidur disembarang tepat" aku tersentak dan menoleh cepat mataku membesar saat mendapati Taeyong sedang berbaring disampingku, ia tertawa kecil dan memposisikan tubuhnya menghadapa padaku, ia tersenyum yang dibuat semanis mungkin, aku langsung terduduk dan menatap Taeyong kesal.

"kau..Kau selalu membuat aku kaget‼" jeritku kesal, Taeyong malah tertawa makin keras, ia ikut – ikutan duduk disampingku.

"kau imut sekali saat tidur ya.." aku terhenyak mendengar godaannya, aku mencibirkan bibirku, tapi pipiku terasa panas karena malu

"wah sekarang wajahmu memerah hahaaha lucu sekali, kau benar – benar terlihat seperti Bunny" Taeyong mulai menggodaku membuat aku bertambah kesal menatapnya dan langsung memukul tangannya berkali - kali, Taeyong hanya tertawa tapi saat aku ingin memukulnya untuk yang kesekian kalinya ia menahan tanganku, aku terpaku menatapnya ternyata Taeyong juga sedang menatapku, perlahan – lahan senyumnya yang tadi menghilang berganti dengan tatapan serius, aku pun hanya diam menatap wajah tampan nya yang tiba – tiba mendekat dan semakin mendekat, tinggal beberapa centi lagi bibir kami akan bersentuhan aku tiba – tiba tersadar, dan langsung memalingkan wajahku hingga bibir Taeyong hanya menyentuh pipiku.

Taeyong langsung memalingkan wajahnya dan kami langsung diam membisu, aku hanya menunduk tak tau apa yang harus kulakukan, lama kami terdiam seperti itu hingga kuputuskan untuk berbicara dahulu.

"maafkan aku.." ucapku pelan Taeyong hanya terdiam "tapi Taeyong-ssi kau tak bisa seperti ini, aku bukan Ten aku tak bisa menjadi pelampiasanmu dan aku.. aku tak bisa menjadikanmu pelampiasan terhadap cinta bertepuk sebelah tanganku kita tak bisa seperti itu" Taeyong masih diam mendengar perkataanku dia menundukan wajahnya dengan kaku.

Kami terdiam lagi

"bagaimana kalau kita pacaran.." aku menangkat wajahku kaget, Taeyong balas menatapku tanpa ekspresi "kita sama – sama menyukai seseorang yang tak mungkin menyukai kita, dan kita tak ingin menghancurkan mereka kan, bagaimana kita pacaran untuk melupakan mereka.." aku menatap Taeyong tak percaya apa dia sedang bercanda sekarang.

"aku.."

"kau tak perlu menjawabnya sekarang, aku tau kau sudah punya suami tapi kau akan bercerai dengannya kan ? dan aku juga harus melupakan Ten secepat yang aku bisa aku merasa nyaman bersamamu itu mengapa aku yakin memilihmu " lanjutnya memotong omonganku, aku mengalihakan pandanganku kearah air danau, dia benar akupun merasa sangat nyaman berada didekatnya, taeyong orang yang pertama kali ku percaya untuk mengungkapkan semua rahasiaku kenapa aku tak mencoba?

tapi..

Apa aku bisa semudah itu melupakan Jaehyun status ku masih sebagai suaminya, walaupun, Jaehyun sudah memiliki kekasih aku tak mungkin semudah itu melupakannya, aku menoleh pada Taeyong yang sedang memandang danau.

"jawablah kapanpun kau siap sekarang ayo kita pulang ini sudah sore" ucap Taeyong dan ia langsung menarikku berdiri.

Ia mengantarku pulang dengan terus menggenggam tanganku dan aku hanya diam saja, entah mengapa aku bisa tak menolak genggaman tangannya itu kami terus berjalan bergandengan tangan hingga didepan gedung apartement.

"disini apartementmu..?" tanyanya, aku hanya mengangguk Taeyong memperhatikan gedung itu dan tersenyum.

"menarik" gumamnya, aku menatapnya risih dia belum melepas tangannya dariku

"kau tinggal bersama Jaehyun..?" tanyanya lagi, kembali aku mengangguk "tidur dalam satu kamar..?" aku menatapnya heran tapi akhirnya aku menggeleng kecil, Taeyong tersenyum kecil, ia menghadap kearahku tetap dengan menggengam tanganku

"ya sudah, aku cukup mengantarmu sampai sini jangan lupa makan malam dan tolong pertimbangkan usulanku tadi" aku hanya mengangguk, Taeyong berjalan mendekatiku, lalu mencium keningku dengan lembut dan kembali aku tak dapat menolak dan hanya dapat memejamkan mataku pasrah.

"selamat sore.. ahhh.. kupikir ini sudah malam, selamat malam Doyoung-ah" ucapnya akhirnya, ia melepas genggaman tangannya lalu melambai padaku dan berlalu pergi, aku masih terpaku menatap punggung Taeyong yang makin menjauh hingga Pria itu menghilang.

Sejenak aku berpikir kadang aku terpesona melihatnya hingga aku tak dapat menolaknya, aku menggeleng cepat menyadarkan diriku lalu berjalan memasuki gedung apartement dan masuk ke lift menuju lantai 7 tempat tinggal kami.

Aku membuka pintu perlahan dan seperti biasa Jaehyun sudah duduk di ruang tamu sambil menonton TV membelakangiku, aku berjalan masuk hendak langsung menuju kekamarku, tapi suara Jaehyun menghentikanku.

"kau tak tau bagaimana mengucapkan salam lagi begitu masuk rumah ya" tanyanya sinis aku mengigit bibirku pelan.

"maafkan aku" jawabku lalu beranjak ingin pergi, tapi Jaehyun secepatnya berdiri dan menahanku"aku lelah Jaehyun.."ucapku mulai kesal

"kau lelah.? memangnya kau darimana.. dari sekolah..?, apa kau punya ilmu menghilang sehingga aku tak melihatmu..?" tanyanya dengan nada menyindir, aku hanya terdiam

"sepertinya kau senang sekali bersama Taeyong ya..?' tanyanya, aku menatapnya heran darimana dia tau "hingga bergandeng tangan dan cium kening segala sebelum berpisah, romantis sekali" katanya mengejek, ahh.. ternyata dia melihat kami berdua

"ya, aku senang, puas..!" jawabku ketus lalu berusaha melewatinya, tapi Jaehyun malah mendorong tubuhku hingga menabrak dinding, Ia menahanku dengan kedua tangan menekan pundakku

"kau tak pernah dapat dinasehati ya‼" bentaknya marah dan aku hanya meringis menahan sakit

"yaa..! Jaehyun kau menyakitiku.."jeritku marah mencoba melepas tangannya dari pundakku, tapi dia menekan pundakku makin keras

"dengar aku tak peduli sama sekali padamu dan apapun yang kau lakukan aku tak peduli, dan ini jawaban pernyataanmu tadi pagi, Baguslah.. tolong menjauh dariku dan jangan mengganggu aku dan Ten lagi, jangan mengurusiku dan aku tak akan mengurusimu lagi mengerti mulai sekarang kita urus kepentingan kita sendiri" ucapnya dengan nada yang terus menerus meninggi, dan harus kuakui hatiku sakit sekali mendengar perkataannya

"baiklah.." balasku dengan airmata yang sudah tumpah dipipiku "kita tak usah saling mencampuri, aku pergi dengan siapa, aku pulang jam berapa, bahkan kalau perlu kita tak perlu bicara lagi, cukup berpura – pura hanya didepan orangtua kita..!"balasku membentaknya, mendorongnya sekuat tenaga lalu berlari masuk kubanting pintu kamarku dengan keras, dan lagsung membaringkan tubuhku diranjang, aku menutup wajahku pada bantal dan menangis sekeras mungkin, bukankah tak ada yang mendengar hanya bantal ini saja.

Brakkk..

aku mendengar bunyi pintu dibanting, pasti Jaehyun pergi lagi entah kemana dan aku hanya membiarkan diriku terus terlarut dalam kesedihankuku sendiri.


Aku terperangkap dalam khayalan yang tidak kunjung habisnya..

Aku bermimpi tentang sesuatu yang mungkin ia atau tidak akan kuraih nantinya…

Aku ingin menangis tapi untuk apa…?

Aku Cuma merasa sepi…

Aku tak mengerti hampa hati ini..

Tuhan bila kau masih ada untukku, jangan tinggalkan aku

Karena bila engkau tinggalkanku..

Aku akan makin terpuruk dalam kehancuran…..

Aku menghela nafas panjang, menatap air danau yang tenang dihadapanku, kubiarkan angin berhembus memainkan rambutku mataku menatap kedalam air danau, mencoba berkaca pada air melihat apakah aku ada disitu, tentu saja aku ada, tetapi sosok yang kulihat adalah bagian dari diriku yang menyedihkan, yang balas menatapku dengan pandangan kosong, seakan ia tak ada lagi didunia ini.

"Mom I miss you so much.." bisikku lemah, aku tak tau sekarang airmata bahkan sudah kering untuk menangis lagi dan aku sudah lelah, semua yang kualami semua pertengkaran ini, membuatku ingin menghilang walau sejenak dari kehidupan sepertinya sudah saatnya aku membenahi semuanya, cintaku, perasaanku pada Pria itu, aku tak bisa begini terus dan aku harus melupakannya jauh dari pikiranku, bagaimanapun caranya itu.

"kau disini aku mencarimu" aku menoleh melihat sang penyapa, Ten tersenyum manis padaku. Aku balas tersenyum, dengan pelan ia berjalan kearahku dan duduk disampingku.

"darimana kau tau aku disini..?" tanyaku sambil menatap langit biru, berusaha menghilangkan bayangan Jaehyun ketika menatap wajah Ten.

"dari Taeyong hyung, ia bilang kau suka berada disini," aku tersenyum, Taeyong selalu tau aku berada dimana, "tampaknya Taeyong menyukaimu.." aku menatap Ten yang juga sedang menatapku

"I dont know.., kami hanya berteman, dan aku cukup percaya padanya, lagipula apa kau tak tau Taeyong menyukaimu.." jawabku sambil balas bertanya, Ten tertawa miris

"aku menyukai seseorang, Taeyong sudah kuanggap seperti Hyungku saja dan tak lebih dari itu" aku terdiam mendengar itu, jadi dia belum tau kalau aku sudah mengetahui hubungannya dengan Jaehyun, baguslah.

"bagaimana denganmu, apa kau sudah mulai menyukai Jaehyun, bukannya kau menciumnya waktu itu" wajahku seketika memerah mendengar pertanyaannya, cium.. ahh aku teringat lagi, aku segera menggeleng menolaknya.

"tentu saja tidak.." ucapku berbohong, aku tak mau Ten menjadi sakit hati karena itu, "waktu itu aku hanya terbawa perasaan, tapi aku tak menyukainya" lanjutku, kutatap wajah Ten dan ia tampak lega mendengar itu.

"kupikir kau menyukainya.." desahnya ringan, aku tersenyum lemah

"aku akan menyukai seseorang nantinya" bisikku pelan " dan apa kau akan mengenalkanku pada kekasihmu..?" tanyaku, membuat Ten terlihat sedikit gugup

"aku belum siap sekarang" jawabnya, aku mencoba untuk tetap tersenyum

"semoga kau bahagia dengannya" suaraku terdengar agak serak, wajah Ten seperti membayangkan sesuatu lalu ia tersenyum.

"semoga.."


Aku menyelesaikan masakan terakhirku dan meletakkannya diatas meja, Jaehyun hanya diam melihat apa yang kulakukan, setelah selesai aku berjalan pergi menuju kamarku, sudah seminggu kami selalu seperti ini, selesai masak aku segera menuju kamar setelah dia makan, aku akan keluar kamar untuk makan, kami sama sekali tak bicara sejak pertengkaran waktu itu.

Ting tong..

Aku mendengar bel berbunyi ada tamu pikirku siapa yang datang saat malam begini.

"Doyoung dimana..?" aku tersentak mendengar suara itu dan bergegas keluar, Appa Jaehyun menatapku heran karena aku baru keluar dari kamarku.

"kalian tidak tidur sekamar..?" tanyanya, Jaehyun cepat – cepat menggeleng, lalu berjalan dan merangkul pundakku berusaha memamerkan kemesraan kami pada Appanya.

"tidak Appa, Doyoung hanya hendak membersihkan kamar itu, iya kan youngie..?" tanyanya sambil menatapku, aku balas menatapnya, mengerutkan kening dengan nama panggilan yang baru saja ia sebutkan tapi aku hanya diam saja, aku melihat ia mengedipkan mata membuatku terpaksa berbohong.

"benar Appa, aku takut kamar itu akan kotor kalau tidak dibersihkan sesering mungkin.." ucapku pelan Appa Jaehyun hanya tertawa.

"kalian mesra sekali.., oh ya Appa pikir seminggu lagi kalian akan libur sekolah untuk musim dingin kan..?" tanyanya dan kami hanya mengangguk bersamaan

"bagaimana kalau kalian ke villa Appa di Jeju..? menginaplah disana"

" Apa ?" seru kami berdua kaget, menginap..?

"ya, kenapa kalian terlihat kaget sekali, kalian kan belum bulan madu, bagaimana apakah kalian bisa berlibur disana" aku langsung menatap Jaehyun dengan pandangan bingung, Jaehyun hanya diam tercenung lalu dia mengangguk kecil.

"Y-ya.. Appa." Tiba – tiba dihatiku timbul rasa cemas tentang yang akan terjadi nantinya.


"Apa!?, bulan madu.!" aku langsung mendekap mulut Taeyong lalu mengangguk pelan, Taeyong melepas tanganku dari mulutnya "tapi kalian kan…" kembali aku mengangguk dengan pandangan khwatir

"benar sekali, aku harus bagaimanaTaeyong" tanyaku, Taeyong hanya menggaruk – garuk kepalanya yang tak gatal.

"Apa aku mengajak Ten saja.." tanyaku, Taeyong menghentikan gerakan tangannya dan menatapku.

"kau tak apa kalau seperti itu kau akan tambah sakit hati melihat mereka berdua" aku menggeleng sambil tersenyum

"aku tak apa, aku akan mencoba bertahan dan aku tak mau Ten sedih lagi bila tau Jaehyun dan aku akan pergi bersama" jawabku, Taeyong menatapku lalu mencubit pipiku dengan gemas

"dasar Bunny.." ucapnya sambil tertawa kecil.

"mesra sekali.." kami berdua menoleh saat mendengar seseorang menegur kami dengan nada sinis, aku tergagap saat melihat Jaehyun yang berdiri dengan wajah dingin dan terburu – buru melepas cubitan Taeyong dari pipiku tapi Taeyong malah beralih merangkul pundakku.

"hahaha kau baru tau kami mesra, semua anak disekolah ini tau hahahahah" balas Taeyong enteng dengan tawa yang dibuat - buat, aku membelalakan mataku pada Taeyong tapi Taeyong malah tersenyum manis padaku.

"yah, kalian memang cocok" ucap Jaehyun ketus sambil melirikku dengan pandangan mata menusuknya.

"oh, seperti itu ya, oh my God, aku lupa aku ada janji dengan Yuta" ucap Taeyong tiba – tiba, ia melirik kearahku lalu mengacak – acak rambutku.

"Hyungie pergi dulu ya Bunny" lanjutnya dengan senyum yang makin dibuat semanis mungkin, aku hanya mengangguk lalu membiarkannya pergi, Jaehyun menatap punggung Taeyong hingga Pria itu menghilang, lalu membalikkan Tubuhnya menghadapku

"Bunny..?" sindirnya sambil mengerutkan kening, " bagus sekali.." aku tetap diam, Jaehyun berjalan kearahku lalu berjongkok didepanku

"kau akan mengajak Ten..?" tanyanya dingin dan aku hany mengangguk "kenapa..?" tanyanya lagi, aku menatapnya yang juga sedang memperhatikanku.

"itu kan yang kau inginkan.." ucapku gugup, Jaehyun mendekatkan wajahnya sangat dekat ke wajahku,, aku menunduk makin gugup, tapi ia mengangkat daguku untuk tetap melihat kearahnya, dia makin mendekatkan wajahnya hingga nafasnya terasa berhembus hangat diwajahku, aku langsung memejamkan mata karena tak sanggup membalas pandangannya

Chuup,,

aku membuka mataku dan membeku seketika merasakan kecupan lembut dipipiku, aku menatap Jaehyun yang sudah menjauh.

"terima kasih.." katanya sambil tersenyum "untuk mau mengajak Ten" lanjutnya, lalu berlalu pergi dengan meninggalkan aku yag masih terpaku sambil memegang pipiku, rasanya jantungku berdetak sangat kencang seperti ingin meledak.

Aku menggelengkan wajahku menyadarkan diriku sendiri

"NO.. ia berterimakasih karena Ten, ia tak mungkin jadi baik seperti itu kalau bukan karena Ten.." aku menghela nafas sedih seketika menyadari semuanya.

ia tak boleh berbuat seperti itu lagi, tidak disaat aku sedang belajar melupakannya


Aku menatap setiap sudut villa mewah itu dengan mulut hampir terbuka, begitu juga Ten yang tak henti - hentinya berlari kesana sini ia menghampiri berbagai patung dan lampu - lampu yang menghiasi jalan masuk villa dan tentu saja salju yang menutupi taman itu menambah indahnya, pemandangan alami di villa itu.

"ya..ya.. kalian berdua tak pernah melihat villa seperti ini..?" Tanya Jaehyun sambil berdecak heran melihat kelakuan kami berdua, pandangan Jaehyun langsung tertuju padaku "Doyoung, rumahmu bahkan lebih besar dari ini, kenapa seperti itu sih" aku langsung mengatupkan bibirku kesal

"ya..‼" ucapku dengan suara keras, "sangat berbeda, desainnya sangat berbeda stupid…" lanjutku sambil berkacak pinggang, Jaehyun langsung membesarkan matanya kesal

"apa !?,STUPID..!?, siapa yang kau panggil Stupid haahh.." balasnya sambil menekankan kata Stupid dengan sadisnya, aku mencibirkan bibirku dan menyadari tatapan Ten yang menuju kearahku, aku langsung melirik kearahnya dan tentu saja ia langsung memalingkan wajahnya, pura – pura tak tau.

"sudahlah aku malas bertengkar dan kita baru sampai ini sudah malam,lagipula diluar sangat dingin ayo segera masuk" ucap Jaehyun pelan seperti mengalah padaku, aku tersenyum penuh kemenangan lalu menarik tangan Ten masuk kedalam villa milik keluarga Jaehyun, ini pertama kalinya aku berlibur bersama Jaehyun walaupun tidak berdua saja, karena aku memutuskan untuk mengajak Ten, yang seharusnya lebih pantas berada di posisiku sekarang, haah.. mengingat itu membuatku sakit hati.

"selamat datang tuan muda.." kami bertiga langsung menoleh kearah sumber suara, seorang pelayan tua bersama seorang anak laki laki kira – kira berusia 15 tahunan berdiri dibelakang kami, Jaehyun membesarkan matanya kaget melihat dua orang itu, enggg kupikir hanya satu orang saja dengan sigap Jaehyun berlari memeluk anak itu, aku dan Ten hanya terbengong – bengong saja melihat Jaehyun yang seperti itu.

"ah, hyung geumanhae" ucap anak itu kesal, karena Jaehyun tak juga melepas pelukannya

"sudah empat tahun hyung tak melihatmu, kau sudah besar rupanya.."ucap Jaehyun girang sambil melepas pelukannya dan mengacak – acak rambut anak itu.

"aku tak sekecil dulu" jawab anak itu ketus, lalu melirik kearah aku dan Ten, sedangkan kami masih terpaku menatap kedua pria itu, tentu saja aku tak pernah melihat Jaehyun seperti itu, anak itu berjalan kearahku dan Ten lalu menatap kami bergantian dan tiba – tiba ia memelukku erat

"Doyoung Hyung,senang berjumpa denganmu, aku selalu ingin bertemu denganmu" ucapnya sambil mencium pipiku, aku hanya terpaku karena tak biasa diperlakukan seperti itu, Jaehyun langsung menarik jacket anak itu.

"ya, kenalkan dirimu dulu" ucap Jaehyun padanya yang hanya menyengir, Jaehyun langsung memandangku yang masih terpaku dengan dahi berkerut "Doyoung sampai kapan kau akan membeku seperti itu" aku segera tersadar dan menatap anak tadi dengan takut, kurapatkan tubuhku pada Ten yang juga masih diam menatap anak aneh tadi .

"sorry Hyung, namaku Mark dan aku dari Canada, aku sepupu Jaehyun hyung satu - satunya, so nice to meet you all" Pria itu menyalami tangan Ten, lalu memelukku sekali lagi tapi segera ditarik Jaehyun.

"jangan ganjen Mark" Ten hanya tertawa melihat Jaehyun yang sedang menarik Mark,

"ehmm.." kami semua segera menoleh, dan terpaku melihat sang pelayan yang memasang wajah luar biasa tenang.

"ah maaf paman" ucap Jaehyun segera pelayan itu hanay menggeleng.

"tak apa tuan muda, mari saya antar tuan muda dan yang lain kekamar masing – masing, tuan Muda Mark juga baru sampai disini tadi pagi" ucap pelayan itu sambil mengantar kami kekamar masing-masing dan tentu saja aku dan Jaehyun mendapat kamar yang sama.


"kau tidur di ranjang saja aku di sofa" Jaehyun berucap dingin saat kami hanya berdua saja dikamar aku menghela nafas kesal.

"tak perlu biar aku saja, kau selalu merepotkan kalau kau tidur disofa, ingat saat kau tidur di sofa malam pernikahan kita kau langsung demam kan setelah itu, karena tak tidur semalaman, biar aku saja yang tidur disofa" cetusku, sambil menarik selimut dan bantal lalu segera berbaring disofa dan menutup tubuhku dengan selimut, aku mendengar Jaehyun menghela nafas kesal, tapi aku tak peduli.

"kau tidur di ranjang saja"ucapnya sambil menarik selimutku hingga tersingkap lebar, aku menatapnya marah.

"yaa..!" bentakku Jaehyun menarikku hingga berdiri, tapi aku segera melepaskan tangannya dengan kesal. "jangan menarikku", Jaehyun melepas tangannya, lalu menunjuk ranjang dengan dagunya.

"What..!?"tanyaku kesal melihat Pria itu yang makin bertingkah aneh, Jaehyun balas menatapku.

"tidur disana..!" aku mencibir mendengar perintahnya.

"tak mau, kau tak bisa memaksaku semaumu.." bentakku, Jaehyun memandangku marah lalu mengganti pandangannya dengan memohon.

"aku lelahharus bertengkar malam – malam begini, kita baru saja sampai dan kau sudah mencari masalah kenapa kau tak mau menurut, aku tak mau kau sakit lagi" ucapnya terdengar lelah, aku memalingkan wajah dengan kesal.

"aku baik – baik saja dan kau yang mudah sakit jadi kau yang tidur diranjang" ucapku lalu menarik selimutku lagi hingga menutupi seluruh tubuhku, mataku terasa panas entah mengapa rasanya aku ingin menangis mendengar kata – katanya, aku tak suka dia memperhatikan aku seperti ini aku benar – benar tak suka.

Kudengar Jaehyun kembali menghela nafas berat, lalu membuka pintu dan pergi, aku menyingkap selimutku dan segera duduk .

"kemana dia tengah malam begini dan di cuaca sedingin ini..?"tanyaku dalam hati, aku segera memakai sandal dan berjalan keluar mencari Jaehyun, ia tak ada dilorong maupun didekat perapian dan kamar tamu lalu kemana dia, keluar..?, tak mungkin dia benci udara dingin, lalu kemana dia..?, aku berjalan menyusuri kamar – kamar di villa itu, hingga kakiku terhenti didepan kamar Ten.

"Tenny sedang apa, apa sudah tidur aku ingin bertamu" ucapku pelan, aku hendak mengetuk pintunya ketika kudengar suara Jaehyun yang berasal dari dalam.

"terima kasih, kau sudah mau ikut kesini"

"ah..itu karena Doyoungie..,apa dia sudah tidur..?" Tanya Ten pelan

"maybe, dia sepertinya belum tidur aku lelah menangani anak itu, dia seperti bayi saja sekarang" aku terhenyak, jadi dia lelah mengurusiku, why.. aku tak pernah merepotkan dia kan..?

"kau harus sabar, kasihan dia kalau kau marah terus padanya"

"sepertinya menguping itu asyik Hyung" aku tersentak kaget saat tiba – tiba ada yang berbisik ditelingaku, aku segera menoleh dan mendapat Mark sedang tersenyum manis kepadaku, aku segera menarik anak itu menjauh dari situ menuju perapian, dan menariknya duduk disebelahku, anak itu hanya mengikutinya saja

"ya..! ini rahasia, mengerti, Secret Secret" tegasku, Mark hanya tertawa kecil lalu ia menyandarkan tubuhnya di sofa dan kembali melihat kearahku

"kenapa..? tak salahkan menguping suami sendiri" ucapnya pelan, lalu ia segera mendekatkan wajahnya kearahku, hingga membuat aku memundurkan wajahku kaget dengan kelakuannya "Hyung.., apakah Jaehyun hyung sedang berselingkuh sekarang..?"tanyanya polos, aku terpaku mendengar itu, selingkuh.. tentu saja tidak.

"No.. kau masih kecil jangan bertanya yang bukan – bukan.." jawabku cepat, Mark semakin mendekat kan wajahnya kearahku, hingga aku harus merapat hingga ke ujung sofa

"Hyung, aku bukan anak kecil, aku tau apa itu menikah dan apa itu selingkuh" balasnya dengan wajah serius, aku makin memundurkan Tubuhku dan hampir saja terjatuh, kalau tak ditahan oleh Mark.

"ck.. Hyung, benar – benar deh, aku tau Hyung menikah dengan hyung bukan karena cinta kan.." ucapnya tiba – tiba sambil memperbaiki duduknya, aku menatapnya heran

"dan Pria itu adalah kekasih Jae Hyung kan" aku semakin menatapnya tak mengerti, Mark menatapku lalu tertawa meremehkan

"Hyung sudah menghancurkan hyung, aku tak bisa melihat hal itu terjadi pada hyungku, aku membenci Hyung.." aku menatapnya tanpa dapat berkata – kata.

"aku kembali dari canada hanya untuk hyungku dan bertemu denganmu Hyung, kau tau Hyung, mulai saat ini secara perlahan aku yang akan menghancurkanmu" ucapnya dengan senyum tanpa dosa namun penuh nada sinis, aku masih diam terpaku aku tak menyangka, Mark membenciku, bukankah dia sangat baik padaku tadinya, Mark menatapku dengan senyum menghinanya

"kenapa Hyung kau takut..?, tenang saja aku tak akan melukaimu secara cepat kok, aku hanya akan menghancurkanmu, pelan – pelan jadi bagaimana kalau kita mulai saja besok" lanjutnya lagi, lalu berdiri dan menghampiriku yang masih diam terpaku ditempatku.

"dan apakah kau tau Ten Hyung lebih cocok dengan Jaehyun hyung, takkah kau sadari itu, dasar pengganggu" ucapnya sambil tersenyum menghinaku lalu meninggalkanku yang masih terpaku disofa tanpa dapat berbicara lagi, mataku terasa panas.

"pengganggu.."desisku pelan, aku penggangu, ya aku memang penggangu, penggangu hubungan orang, tenggorokanku terasa sakit dan kering, aku tak boleh menangis, aku tak boleh, membiarkan diriku menangis lagi, tak boleh.

Tapi kembali aku tak kuasa airmata sudah menetes pelan dikedua pipiku, memaksaku untuk jujur tentang semua kepedihan ini..


Aku membuka mataku perlahan, Tubuhku terasa sangat berat mungkin karena aku tak dapat tidur semalam, aku mengerjap – erjapkan mataku saat menyadari aku bukan berada di sofa tapi diatas ranjang, siapa yang memindahkanku, aku menoleh kekanan lalu kekiri dan membelalakan mata kaget saat melihat seraut wajah yang sedang tertidur sambil menghadap kearahku dan wajahnya itu dekat sekali, aku berusaha tersadar dan mencoba mengingat semuanya, kenapa Mark tertidur disampingku..?

Mark mengeliat sejenak, lalu perlahan – lahan membuka matanya, ia menatapku yang masih kaku ditempatku tanpa mengerti apa yang terjadi, anak itu tersenyum manis lalu mengecup pipiku sekilas membuat aku makin menjadi semakin bingung dengan apa yang terjadi saat itu.

"pagi, Hyung,bagaimana tidurmu..?" tanyanya lalu menepuk pipiku pelan, aku segera tersadar dari lamunanku lalu bangun dan turun dari tempat tidur secepat yang aku bisa, Mark hanya tersenyum melihatku.

"K-kau…, kenapa aku disini..?" tanyaku masih dengan keadaan bingung luar biasa, Mark makin tertawa geli melihatku.

"Hyung, hahaha, kau ini lucu sekali, apa kau lupa perkataanku tadi malam" jawabnya pelan ,lalu mengikutiku turun dari ranjang dan berjalan kearahku, ia memajukan wajahnya dekat sekali padaku.

"aku akan membuatmu hancur, kau akan jelek sekali dimata Jaehyun hyung, saat ia melihat kita" lanjutnya membuatku merasa merinding melihat senyum itu, tak kusangka dibalik wajah imutnya, sifatnya sangat jahat, aku segera mendorong tubuh Mark pelan, menjauhkan dia dari wajahku.

Brakkkk..

Kami berdua menoleh dan melihat Jaehyun dan Ten yang sudah berdiri dipintu masuk memandangi kami, Jaehyun berjalan kearahku lalu menarik tanganku dan membawaku keluar, aku hanya meringis, dia selalu menyakitiku seperti ini, Jaehyun mendorongku masuk kedalam kamar lalu menutupnya keras, aku melepas pegangan tangannya dan menghempaskan tubuhku di sofa

"apa lagi yang kau lakukan..?" tanyanya tajam, aku hanya diam membisu, aku juga tak tau apa yang telah kulakukan, aku terbangun dikamar yang bukan milik kami berdua bersama seorang Pria yang bukan suamiku, walaupun ia masih anak kecil tapi tetap saja aku seperti habis berselingkuh saja

Jaehyun menghela nafas kesal.

"mandilah, kita turun sarapan.." ketusnya pelan, aku hanya mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi dengan lunglai, apa yang kulakukan tadi bukankah aku dapat membela diri kalau aku tak berselingkuh, tapi aku hanya diam saja, seperti aku mengakui itu.

Selesai mandi kami segera turun untuk sarapan, Mark dan Ten sudah menunggu diruang makan, Mark tersenyum manis kepadaku, aku hanya mengangguk padanya, apa lagi yang dia rencanakan sekarang.

"Hyung duduk disebelahku" perintahnya sesukanya, aku menatap Jaehyun yang memasang wajah datar lalu duduk disamping Ten yang tentu saja menyambutnya dengan senyum manisnya.

Aku masih diam, saat tiba – tiba Mark menarikku hingga duduk disampingnya.

"malam tadi Menyenangkan Hyung, gomawo" ucapnya sambil berbisik padaku, tapi aku tau Jaehyun dan Ten dapat mendengarnya, mereka menatap kami dengan pandangan aneh, Jaehyun membuang mukanya, ia tampak kesal, Tapi kesal kenapa..? nah.. aku tak peduli lagi.

Kami sarapan dengan suasana yang sangat sunyi, hingga kembali Mark lah yang memecahkan kesunyian itu.

"engg.. hyung, bagaimana kalau kita bermain diluar habis makan, kita main salju bagaimana..?" tanyanya bersemangat, Jaehyun langsung tersenyum kecut, bukannya dia tak suka dingin.

"nee, Ten Hyung dan Doyoungie Hyung juga ikut" lanjutnya lagi, aku hanya mengangguk kecil, berbeda dengan Ten yang tertawa melihat anak itu, mungkin dia pikir Mark sangat itu imut, haaah padahal aslinya...

"YAAA… jangan melempar kepadaku " jerit Ten saat Mark melempar salju kepadanya, Mark hanya tertawa, sedangkan Jaehyun hanya diam sambil mengigil kedinginan dibalik jacket tebalnya, dan aku, aku memilih untuk duduk dibangku yang tertutup salju.

"Hyung ayo main.." ajak Mark sambil menarik tanganku "kita buat boneka salju" aku hanya mengikuti apapun yang diinginkannya tanpa banyak bicara.

"ya.. Jaehyun jangan melamun.." ucap Ten dengan suara keras lalu melempar salju kearah Jaehyun, Jaehyun menggeram gemas lalu berlari mengejar Ten, aku hanya menatap mereka dengan pandangan iri.

"kau cemburu..?" Tanya Mark pelan, aku menatapnya kaget, dia tau perasan ku, ini tak baik. aku menggeleng pelan, lalu menoleh kearah Jaehyun dan Ten lagi,

Tapi sepi.. mereka tak ada dimanapun, padahal tadi mereka masih disana aku menoleh kekiri dan kanan berusaha mencari mereka, tapi tak ada siapa - siapa, dengan cepat aku berjalan berusaha menemukan mereka, aku takut terjadi apa - apa pada mereka, tapi langkahku terhenti saat kulihat Jaehyun dan Ten berdiri di salah satu pohon, Jaehyun tampak memperbaiki Jacket Ten, aku ingin memanggil tapi tenggorokan tercekat, saat Ten mendekatkan wajahnya pada Jaehyun dan mencium Pria itu, aku terdiam mataku terasa panas dan tenggorokan sakit menahan tangis,

aku masih terpaku saat sebuah tangan menarik kepalaku hingga menghadapnya, aku melihat Mark menarikku lalu memelukku menenggelamkan wajahku dipelukannya.

Saat itu aku benar – benar tak dapat menahan tangisku, aku terisak dipelukan Mark yang hanya diam saja, aku bahkan tak percaya mengapa Mark jadi seperti ini, bukannya dia ingin berbuat jahat padaku, sekarang aku bingung sebenarnya dia ini baik atau sebaliknya padaku.

"Do..Doyoung" aku mendengar suara tercekat Ten memanggil namaku, sepertinya mereka mengetahui apa yang tengah kulihat tadi, aku tetap menangis dipelukan Mark dan Ten berlari mendekatiku, ia memegang tanganku berusaha menjelaskan, tapi aku menepis tangannya dan melepaskas pelukan Mark lalu berlari pergi, Ten mengejarku sambil mememohon aku untuk berhenti, aku tak peduli aku berusaha untuk terus berlari, tapi ia menarik tanganku kami berhenti di bawah sebuah pohon yang tertutup salju.

"maafkan aku.. tapi dengarkan aku" ucapnya, nafasnya tampak ngos – ngosan karena mengejarku, aku menatapnya marah, entah mengapa aku tak dapat menahan lagi perasaanku padahal aku tau aku tak seharusnya seperti ini, aku sudah tau semua tapi tetap saja aku tak bisa menahan perasaanku dan tanganku melayang ke pipi Ten yang langsung terdiam saat itu juga.

"kau jahat sekali mengapa membohongiku" tidak aku sudah tau semuanya "aku menganggapmu sahabatku Ten-ssi" bentakku keras, mataku terasa kabur karena air mata sedangkan Ten masih terdiam sambil memegang pipinya, Jaehyun dan Mark hanya dapat diam memandang kami, aku membalikkan tubuhku dan berlari keluar gerbang villa itu, tapi tangan Ten kembali menahanku, aku melihat dia sudah menangis.

"maaf.. Maafkan aku.." ucapnya berkali – kali aku terus berjalan dan berusaha menepis tangannya kasar hingga..

"DOYOUNG TEN AWAS…!"

"HYUNG…!" aku tersentak mendengar jeritan Jaehyun dan Mark yang memanggil kami bersamaan, lalu menoleh kearah sebuah mobil yang melaju kencang menuju aku dan Ten, aku terdiam terpaku begitu juga Ten, mobil itu semakin dekat dan aku hanya dapat memejamkan mataku, aku sudah pasrah saat ini, tapi seseorang menarik tubuhku hingga jatuh ketumpukan salju dan mobil itu lewat didepan kami 5 detik setelah aku terjatuh.

aku menatap Ten yang masih terdiam terpaku dan Jaehyun yang memegang tangannya, Jaehyun langsung memeluk Ten dengan wajah ketakutan, aku melihat sang penolongku, ternyata Mark yang menarikku, aku melihat kearah Jaehyun lagi dan airmataku kembali mengalir deras dipipiku, dia lebih mengutamakan menyelamatkan Ten daripadaku, dia menarik tangan Ten dan bukan tanganku, aku memang tak ada artinya untuknya, aku bukan apa – apa baginya, aku langsung berdiri dan berlari pergi .

cukup sudah..

betapa bodohnya aku..


TBC

A/N sorry belum bisa ngebalas semua reviews, dan cuman mau jelasin, kalau Jaehyun belum tau kalau Taeyong sudah tau dia sama Do nikah, makanya dia sempat bilang kalau Do ga mau tae tau, dan maafk cuman mau mengatakan ini bakal happy ending dengan dibubuhi bumbu sad ending dan ada character yang bakal...

SUDAH PANJANG KAN HAHHAHAHHA

Reviews nya selalu ditunggu, oy aku sering update FF ini karena, ini yang bakal kuselesaikan pertama kali

untuk yang minta JHonny ma Ten.. hemmmm..

dan perkenalkan our Canada Boy Mark Lee.. heheheh

mungkin sifat mereka disini sering berubah - ubah terutama doyoung dan Jaehyun, tapi itu karena semua character (Je,Do dan ten) ada mysteri masing2...

once again jangan lupa reviewsnya yan