Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
"aku bersedia jadi kekasihmu" ucapku cepat. Taeyong langsung membulatkan matanya kaget mendengar ucapanku.
"Apa.?! kau menerima tawaranku..?" tanyanya meyakinkan aku mengangguk pelan walaupun dalam hatiku masih penuh keraguan.
"ya.., aku akan melupakan semua tentang dia..aku akan mencoba melupakan Jaehyun" ucapku akhirnya dengan mantap.
Taeyong masih menatapku dengan tak percaya lama kami membisu dalam pikiran masing – masing.
"baiklah, kau resmi menjadi milikku sekarang" ucap Taeyong dengan lembut, ia tersenyum manis kepadaku dan aku balas tersenyum, walaupun terasa dihatiku rasa sakit yang sangat tapi saat Taeyong berjalan kearahku lalu memelukku, aku hanya memejamkan mata didalam pelukan itu.
"kau benar tak apa..?" tanyanya lagi aku mengangguk lemah, Taeyong melepas pelukannya, lalu ia menatap wajahku dengan senyum manis yang tetap terukir diwajahnya, aku balas menatapnya matanya yang tajam terus menatapku lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya kewajahku.
Aku kembali memejamkan mataku membiarkan semuanya, sebuah kecupan hangat mendarat di keningku lalu kedua pipiku daguku dan terakhir kurasakan bibirnya menyentuh bibirku, aku memejamkan mataku semakin erat, terasa airmata menetes lembut dikedua pipiku.
Sudahlah.. mungkin ini yang terbaik.
DOYOUNG POV END
JAEHYUN POV
Aku menghentakkan kakiku berjalan terus menjauhi tempat dimana mereka berada, untuk apa Taeyong di villaku, apa Doyoung benar mengundangnya ? apa hubungan mereka ? berbagai pertanyaan meluncur mulus di pikiranku, aku menghentikan langkahku teringat bahwa seharusnya aku membawa Doyoung pulang, Mark dan Ten sudah menungguku divilla
"achhh.., aku terpaksa balik" geramku kesal, lalu membalikkan tubuhku kembali ketempat Doyoung dan Ten.
Tapi langkahku seketika terhenti mataku membesar tak percaya dengan pemandangan yang ada dihadapanku.
Taeyong sedang mencium Doyoung..
Dan aku hanya dapat terpaku ditempatku berdiri, rasanya ada monster yang meraung – raung ingin keluar dari dalam perutku melihat itu.
"kenapa...?"tanyaku berbisik pada diriku sendir, suaraku terdengar serak dan jantungku berdegub semakin kencang, rasa panas menyelimutiku dan hatiku..?
Aku menatap mereka lagi sekarang aku benar - benar tak sanggup melihat hal itu aku memutuskan berbalik dan meninggalkan mereka.
Doyoung melangkah masuk bersama dengan Taeyong tentunya, Ten yang melihat hal itu, menatapku dengan pandangan bertanya – tanya begitupun Mark yang menatap Taeyong dengan pandangan tak senang.
"Tae hyung, kenapa bisa ada disini" Tanya Ten heran, Taeyong hanya tersenyum sambil duduk disebuah kursi rotan disamping perapian.
"aku hanya ingin bertemu Doyoung, tak boleh..?" jawabnya enteng, Taeyong menatapku sekilas, aku hanya membuang muka rasa aneh saat melihat dia dan Doyoung tadi masih menyelimuti hatiku.
"apa – apaan, jawaban apa itu, bukannya Doyoung Hyung itu istrinya Jaehyun hyung mengapa kau jadi ingin bertemu dengannya..?" sela Mark dengan wajah merah padam. Aku menatap Mark kaget karena mengatakan Doyoung itu istriku, Taeyong tak tau masalah itu, itu masih tetap rahasia, aku melihat kearah pria itu dan mengerutkan keningku heran karena Taeyong balas menatapku dengan dingin.
"istri..?" ulangnya lagi dengan nada bertanya, Mark ingin menjawab lagi tapi Ten keburu menyeretnya menjauh.
"bukan.. maksudnya Doyoung itu temanku.." cetusku cepat, rasa asing kembali muncul lagi disaat menyebut bahwa Doyoung itu hanya temanku, kutatap Doyoung yang hanya diam disamping Taeyong Pria itu juga menatapku tapi dengan pandangan datar.
" lebih baik aku kekamar kau boleh menginap disini, pelayan akan mengantarmu" ucapku pelan pada Taeyong, lalu menatap kearah Doyoung.
"Doyoung ssi, lebih baik kau masuk kamar sekarang istirahatlah, wajahmu pucat" lanjutku dingin, lalu berjalan pergi, aku tak suka melihat mereka berdua bersama seperti itu.. entah mengapa.
Jaehyun Pov END
DOYOUNG pov
Aku menatap Jaehyun yang berlalu pergi lalu berjalan memasuki kamar kami dengan jantung yang tak berhenti berdetak cepat, wajahku memerah saat mengingat ciuman itu, itu adalah ciuman pertamaku, memang bukan benar – benar ciuman pertama karena pertama kalinya aku melakukannya pada Jaehyun tapi berbeda dengan kali ini, karena kami melakukannya bukan hanya kecupan seperti yang kulakukan dengan Jaehyun, tanpa sadar aku memegang bibirku lagi
rasa itu masih ada.
"sampai kapan mau berdiri seperti itu, bodoh" terdengar suara sinis menyadarkanku, segera kutatap Jaehyun yang sedang duduk diatas ranjang sambil menatapku tajam aku segera menurunkan tanganku lalu menggeleng cepat.
"kurasa bukan urusanmu, lagipula kenapa kau ada disini." Jawabku ketus
"tak boleh..? ini kamarku juga kan" jawab Jaehyun tak peduli "dan malam ini aku mau tidur diatas ranjang juga, terserah kau suka atau tidak" aku menatapnya bingung, apa maunya kali ini..? dengan berat kulangkahkan kaki hingga kesamping ranjang.
"kalo begitu lebih baik aku tidur disofa" putusku sambil menarik selimutku, tapi aku tersentak saat Jaehyun memegang tanganku kuat.
"why..? kita kan suami istri, tak apa kalau tidur satu ranjangka" ucapnya pelan, aku semakin heran mendengar hal itu sejak kapan dia seperti ini, aku hanya menggeleng lalu berbalik menuju sofa.
"apa karena Taeyong?" aku langsung menghentikan langkahku, saat mendengar nama Taeyong disebut "tentu saja Karena dia aku bodoh sekali.., apa kalian berpacaran..?" aku membalikkan tubuhku rasa gugup menyelimutiku, Jaehyun turun dari ranjang secara perlahan mendekatiku membuatku terpaksa memundurkan kakiku.
"kenapa..?" desisku heran, Jaehyun tersenyum sinis
"jadi itu benar..? kalian berpacaran, sejak kapan..? kenapa tak memberitahukanku..?" tanyanya lagi, wajahnya berubah menakutkan dia semakin berjalan mendekatiku, aku menggeleng lemah.
"aku.. Jaehyun bukan seperti itu, aku hanya mencoba.."
"Jangan Berbohong…!" aku tersentak kaget saat mendengar bentakan Jaehyun, dia sering memarahiku,, tapi kali ini sepertinya dia benar – benar marah "kau berbohong, sudah kubilang jangan dekati dia" ucapnya dengan nada kasar, aku makin memundurkan langkahku hingga bersandar kedinding, Jaehyun berdiri tepat dihadapanku dengan matanya yang mengerikan.
"aku.."aku berusaha menjawab, tapi saat melihat wajah Jaehyun, lidahku mendadak kelu
"tak usah berbohong lagi, aku tau kau berpacaran dengannya.." ucap Jaehyun dengan suara makin meninggi. "kenapa..? KAU TAU KAU ISTRIKU KAN" lanjutnya lagi, aku memandangnya takut entah mengapa dia semarah itu.
"Áku.. aku punya hak" jawabku hati – hati, wajah Jaehyun semakin memerah menahan marah.
"HAK ..? APA YANG KAU MAKSUD DENGAN HAK ADALAH BERCIUMAN DENGAN ORANG ITU" aku langsung menutup mulutku kaget, jadi dia melihat itu ? "ITU HAKMU.. KAU LUPA SIAPA DIRIMU..!"
"Aku tak lupa Jaehyun-ssi.. mengapa kau semarah itu bukankah kau dan Ten…"
"Aku dan Ten..!? Kami berpacaran, dan kalian... jangan bilang kalian benar berpacaran..!?"
"YA..! KAMI BERPACARAN" teriakku kesal Jaehyun langsung terdiam mendengar jawabanku, lama kami terdiam hingga akhirnya ia membuka mulutnya.
"mengapa kau lakukan itu" tanyanya pelan,aku menggeleng lalu beranjak ingin pergi tapi Jaehyun menahan tanganku aku menatap kearahnya yang tak balas memandangku.
"kenapa..?
"Jaehyun-sii.."
"KENAPA KAU LAKUKAN ITU" bentaknya lagi dengan marah
"Jae.."
"kenapa" aku menghela nafas lelah
"un..untuk melupakanmu" jawabku akhirnya perlahan rasa emosi kini melingkupiku
"melupakanku..?"tanyanya dengan nada heran
"Ya.."
"apa…"
"karena aku mencintaimu.."
aku tersentak kaget mendengar jawabanku sendiri, aku sama sekali tak dapat mengendalikan bibirku untuk mengucapkan itu, aku melihat Jaehyun, Pria itu terdiam mematung mendengar jawabanku, menatapku dalam diam.
"mencintaiku..?"tanyanya dengan suara yang hampir tak terdengar, aku hanya terpaku ditempat, kenapa aku mengatakannya..?, aku tak bermaksud mengatakannya aku terlalu terbawa emosi tadi.
"lupa.. lupakan, aku tak bermaksud apa – apa" jawabku cepat dan berbalik ingin pergi lagi tapi ucapan Jaehyun menghentikannku
"Tidak" desisnya pelan "tidak kau tak boleh mencintaiku.." ia mendekatiku dengan ekspresi wajah panic "tolong lupakan aku jangan membuatku seperti ini" aku terhenyak mendengar itu, bahkan untuk mencintainya saja aku tak boleh, aku berusaha menahan airmataku tapi seperti biasa itu selalu tak berhasil dan airmata mengalir sebagai pemenang mengiringi hancurnya hatiku.
"jangan mencintaiku.. kita akan bercerai pada waktunya nanti, aku tak ingin menjadi jahat, tapi jangan mencintaku" lanjutnya, menambah hancurnya hatiku, aku mulai terisak berusaha menahan semuanya, tapi tak mampu kubiarkan semuanya mengalir seperti ini, Jaehyun berjalan menghampiriku dengan pelan lalu mengangkat wajahku dengan tangannya.
"jangan menangis, aku tak akan merubah perasaanku walaupun kau seperti ini jadi lupakan aku" ucapnya pelan, lalu beranjak menuju pintu keluar tapi saat dipintu ia berhenti dan menoleh kepadaku.
"dengarkan aku Kim Doyoung…mulai saat ini aku tak akan berbaik – baik padamu lagi, aku tak akan mencoba membuatmu makin menyukaiku, aku tak mau itu.. Tolong lupakan aku" ucapnya lagi lalu seegra menghilang dibalik pintu.
Aku terduduk lemas tubuhku bergetar hebat, aku tau ini akan terjadi tak seharusnya aku mencintainya, tak seharusnya aku mengatakannya, apapun tak akan berubah kini dan aku tak dapat membalik semuanya lagi.
semuanya sudah hancur Karena kebodohanku.
Kami kembali ke seoul hari ini, sepanjang perjalanan aku hanya memilih diam tanpa mau memandang Ten maupun Jaehyun, Mark ikut bersama kami karena sebentar lagi dia akan pindah sekolah ke seoul dan tinggal bersama kami untuk sementara waktu, sedangkan Taeyong dia pulang duluan, dia mengajak ku pulang bersamanya tapi tentu saja Mark merengek melarangku, aku tak mengerti bukannya Mark membenciku dan ingin aku berpisah dari Jaehyun tapi dia selalu melarangku bahkan ia sepertinya ingin membuatku makin dekat dengan Jaehyun
Apa ini caranya menyakitiku..?
Aku melemparkan tubuhku diatas ranjang sesampainya kami, tubuhku terasa lelah kupejamkan mataku rasanya tahun ini sangat sial bagiku mengingat semua yang terjadi, aku merasa lelah hati dan juga tubuhku, aku hanya ingin istirahat dari semua kelelahan ini.
Baik antara Ten dan Jaehyun juga Mark yang sekarang turut menambah masalah bagiku, tiba – tiba sesuatu yang berat menimpa tubuh, aku membuka mataku kaget dan tersentak saat melihat Mark sedangberada diatasku, wajahnya terlihat sangat dekat dengan wajahku dengan kaget aku mendorong tubuhnya hingga menjauh dariku, Mark tertawa sinis.
"kenapa kau disini..?" jeritku kesal, anak itu hanya berjalan mendekatiku lagi lalu duduk disampingku.
"Hyung lupa ? aku akan menginap disini sampai pelayanku menjemputku, lagipula kenapa Hyung tidur dikamar ini, bukannya kamar Hyung di ruang tengah" aku tertegun, aku lupa kalau anak ini akan menginap disini dan aku ketahuan tidur berbeda kamar dengan Jaehyun, dia pasti akan curiga padaku, aku menggeleng cepat
"aku hanya ingin istirahat disini aku bermaksud merapikan tempat ini tapi aku kelelahan jadinya aku tertidur" sangkalku, Mark mengawasi wajahku lalu tersenyum.
"jadi Hyung ingin tidur bersamaku.." ucapnya sambil tak berhenti tertawa, aku menatapnya kesal lalu berlalu ingin pergi, tapi dia menahan tanganku.
"siapa Pria yang bernama Taeyong itu, dia siapamu..?" tanyanya dengan wajah yang seketika serius aku menarik tanganku hingga terlepas dari nya.
"kenapa, itu bukan urusanmu.." bentakku kesal, Mark menarik tanganku lalu ia memeluk pinggangku kasar.
"kau tak boleh selingkuh dari Jaehyun hyung, kau tak boleh menyakitinya… No.. kau tak boleh dekat dengan siapapun" ucapnya dengan nada mengancam, aku menatapnya bingung aku berusaha melepaskan lingkaran tangannya dari pinggangku tapi ternyata ia jauh lebih kuat dariku, aku menghela nafas kesal
"Apa yang mau kau lakukan..?" tanyaku tak sabar, Mark tersenyum sinis.
"kalau kau sampai selingkuh, aku akan benar – benar menghancurkanmu Hyung kau tak akan tau betapa menyakitkannya yang akan kulakukan kepadamu.. jadi jangan dekati Pria itu lagi, mengerti" aku tertegun, apa dia tak sadar seharusnya dia mengatakan itu pada Jaehyun.
"apa yang kalian lakukan" aku menoleh kearah Jaehyun yang sedang berdiri dipintu sambil melipat kedua tangannya, Mark langsung melepaskan pelukannya.
"tidak ada apa- apa iya kan, Hyung..?" ucap Mark sambil berusaha mencari pembelaan dariku, aku mengangguk kecil lalu berjalan keluar kamar tanpa mau melihat Jaehyun.
Aku terduduk di ruang tamu, kenapa Mark berkata seperti itu, mengapa dia tak bisa berhenti menggangguku.
"apa lagi yang kau lakukan" aku menoleh melihat Jaehyun yang berdiri dengan pandangan datar kepadaku
"apa yang kulakukan..?" tanyaku heran
"sampai kapan kau menjadi seperti ini, jangan menggoda Mark lagi, kau terlihat sangat murahan bila seperti itu" aku menatap Jaehyun tajam, sekarang aku terlihat murahan dimatanya..?
"jangan sembarangan berbicara, siapa yang menggoda Mark, aku tak pernah menggodanya dan dia yang memulai duluan" ketusku tajam Jaehyun tertawa mengejek.
"tidak mungkin Mark menggodamu dia tak akan melakukan itu, aku kenal siapa dia."
"jadi kau tak percaya padaku" Jaehyun tersenyum sinis
"tentu saja, jangan ganggu Mark lagi dia bukan Taeyong yang mudah kau goda, jangan bersikap seperti ini kau benar - benar membebaniku" aku menunduk rasa sakit hati menguasaiku, mengapa disini selalu aku yang salah.
"sudahlah.." desahku pelan menahan beratnya perasaan hatiku, lalu bergerak pergi meninggalkan Jaehyun seorang diri.
Aku terus menyusuri jalan setapak menahan tangis yang sebentar lagi akan keluar dari mataku.
"Mom what should I do..?" bisikku pelan, handphoneku bergetar saat kulihat layar itu.
Ten calling..
Aku mendesah pelan, lalu mengangkat panggilan itu.
"hallo….ya?...yah, kita ketemu di café biasa saja.. okay…" aku mematikan panggilan itu, lalu berjalan menuju café tempat janjianku dengan Ten.
Ten menatapku dengan wajah penuh penyesalan, aku hanya terdiam balas memandangnya.
"maaf.. aku tak bermaksud menyembunyikan ini semua darimu, aku memang berpacaran dengan Jaehyun, tapi percayalah aku mendekatimu bukan karena aku tau kau tunangannya, aku mendekatimu karena tulus ingin bersahabat denganmu, aku tak bias menolak untuk berteman denganmu walaupun harusnya aku tak melakukannya, maafkan aku Doyoung-ah" ucap Ten pelan mencoba menjelaskan semuanya padaku, aku tersenyum kecil kumainkan sendok didalam cangkirku dengan bosan.
"hanya itu, kupikir kau mengajak bertemu untuk berbicara hal yang lain" ucapku pelan, kemudian kutatap wajah Ten yang terlihat sembab, ternyata dia juga banyak menangis karena hal ini., kutatap raut wajahnya yang terlihat lelah dan entah mengapa begitu kurus dan pucat, aku iba padanya, aku sungguh kasihan padanya.
tapi bagaimana dengan diriku, adakah yang memperdulikanku..?
"aku baik – baik saja Ten, lupakan saja semuanya tetaplah bersikap seperti biasa, aku pergi dulu" ucapku sambil berdiri dari kursi yang kududuki, aku berjalan ingin pergi,tapi kuhentikan langkahku dan berbalik menatap Ten yang masih diam ditempat.
"semoga kau bahagia" bisikku pelan lalu melangkahkan kakiku keluar pintu café.
Kuambil handphoneku lalu memilih sebuah nama dikontakku dan kuletakan ditelingaku, menunggu jawaban dari orang yang kutelpon.
"hello.." ia menjawab
"Taeyong-ssi"
"Doyoung….,ada apa..?"
"aku ingin bertemu, kutunggu ditaman biasa, kau bisa..?"
"ne… tunggu aku disana okay" aku mematikan telponku lalu berjalan menuju taman tempat biasa aku menghabiskan waktuku.
Kubaringkan tubuhku disamping danau di sekitar taman itu, kupejamkan mataku mencoba menghirup udara yang ada disekelilingku.
"kau bisa kedinginan disini Bunny." Aku membuka mataku perlahan, Taeyong sudah berdiri disampingku lalu segera ia duduk disampingku.
"kenapa..?, kau menangis lagi..?" tanyanya lembut, aku hanya diam sambil mencoba duduk, Taeyong membantuku hingga aku terduduk disampingnya.
"tidak.. aku tak menangis, aku hanya ingin bertemu denganmu.." ucapku pelan, kusandarkan kepalaku kepundaknya, Taeyong membalas dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggangku.
"apa kita sudah menjalani ini secara benar..? apa kita sudah mengambil langkah yang tepat, untuk bersama seperti ini, kau taukan ini disebut dengan perselingkuhan, bagaimanapun aku sudah bersuami..?" tanyaku sambil menatap danau yang tenang itu, Taeyong mempererat lingkaran tangannya dipinggangku.
"kita harus melupakan mereka kan..?" aku mengangguk kecil "jadi inilah yang tebaik" Taeyong benar kami harus melupakan mereka.
Aku membuka pintu secara perlahan, suasananya tampak sepi lampupun tak dihidupkan, apa Jaehyun belum pulang..?, ini kan sudah jam 10 malam, apa dia bertemu Ten lagi.
"ah.. tidak.. aku sudah berjanji akan melupakannya… tidak.. tak boleh.."ucapku pelan pada diriku sendiri.
"kau sudah pulang…?" tegur sesorang membuatku menoleh kaget, kupikir tak ada orang di apartement.
"Jaehyun-ssi.." tanyaku memastikan siapa orang yang menegurku.
"ya… kau tak melihatku…" jawabnya dingin, aku memicingkan mata melihat kedalam kegelapan memastikan ada seseorang yang sedang berbicara padaku dan dapat kulihat Jaehyun sedang duduk diatas sofa membelakangiku.
"kenapa lampu tak dihidupkan dan mana Mark..?" tanyaku heran sambil hendak menghidupkan lampu tapi Jaehyun menahanku
"jangan.. biarkan saja begini.." ucapnya, aku meliriknya heran lalu berjalan kearahnya, tak biasanya dia begini bukannya dia tak suka kegelapan..?
"ada apa..?" tanyaku hati – hati sambil duduk disampingnya, dia hanya diam
"mana Mark..?" tanyaku lagi
"dia sedang bersama Appa, mungkin menginap" jawabnya datar masih dengan menunduk, aku terdiam melihatnya lalu kusandarkan tubuhku disofa, tanpa berbicara lagi.
1 menit, 3 menit hingga 7 menit ia tak juga berbicara hingga kami hanya terdiam dalam kegelapan ruangan itu.
"tak ingin berbicara denganku..?" tanyaku memecah kesunyian, kembali dia hanya menjawab dengan kebisuan.
"whatever, aku lelah aku masuk kamar dulu, jangan bergelap – gelapan begini" ucapku akhirnya aku meliriknya sekilas kemudian berdiri dan hendak berjalan ingin pergi, tapi langkahku terhenti, apa itu dipipi Jaehyun..? airmata..? apa dia menangis…?
"kenapa… ada apa denganmu.." tanyaku kaget, sambil kembali duduk Jaehyun hanya menggeleng hingga membuatku kesal melihatnya, dengan kasar kutarik tubuhnya hingga menghadap kearahku aku tercekat ia memang menangis, Ia mengangkat wajahnya dan balas menatapku lama kami terdiam saling menatap dalam kesunyian.
Hingga aku tersadar dan segera membuang wajahku berusaha menutupi kuatnya debaran jantungku dan merahnya wajahku saat mata itu menatapku.
"aku.. aku tidur dulu, kalau kau..kau tak mau cerita..aku…." ucapku gugup sambil beranjak ingin pergi, tapi Jaehyun menahanku dan menarikku hingga terjatuh kembali di sofa.
"apa yang…" ucapanku terhenti, saat merasakan itu… Jaehyun menciumku.., aku merasakan bibirnya menyentuh bibirku dengan lembut dan membuatku hanya dapat membelalakan mataku karena kaget, lama aku terdiam membiarkan dia menciumku, lama – kelamaan dia tak hanya menciumku tangannya mulai menyentuh leherku hingga aku tersadar ini tak boleh terjadi.
"lepaskan…!" bentakku, sambil mendorong tubuhnya, dia tampak kaget karena aku menolaknya aku segera bangkit dari sofa dan menatap tajam padanya, jantungku berdetak makin kencang.
"jangan... jangan mempermainkanku..!" lanjutkku tak kalah keras, Jaehyun ikut berdiri lama dia memperhatikanku sebelum membuka mulutnya.
"aku tak mempermainkanmu.., mengapa kau menolak ? bukannya kau istriku..?" tanyanya dengan suara sinis, aku menatapnya geram
"kau sendiri yang bilang kalau kau tak akan baik – baik padaku dan kau juga yang melarangku menyukaimu, kau kekasih Ten, Ingat..!"
"jangan membawa nama Ten seperti itu, dia tak ada hubungannya..!" aku tersentak saat Jaehyun malah balas membentakku.
"jadi.. kau menciumku karena kau bertengkar dengan Ten.. aku…aku bukan dia.." ucapku menahan buncahan airmata yang kembali lagi dan lagi akan menetes dipipiku, kenapa aku secengeng ini.
Jaehyun berjalan kearahku dalam kegelapan wajahnya terlihat sangat menakutkan, aku memundurkan tubuhku hingga tersandar kedinding.
"sudah kubilang jangan bawa – bawa Ten.." ucapnya, dengan sinis ia semakin mendekati dan kini ia berada tepat dihadapanku.
"benar.. aku tak boleh membawa namanya, karena kau sedang bermasalah dengannya dan sekarang kau ingin menjadikanku pelampiasanmu, begitu kan..? jangan bersikap begini padaku, kau tau aku bisa mencintaimu lebih dari ini" balasku serak, dia terdiam menatapku, aku tak tahan ingin menangis.
"aku memang tak boleh baik – baik padamu, lupakan saja.. anggap yang tadi tak pernah ada" ucapnya pelan, lalu meninggalkanku yang masih terdiam di tempat menahan emosi dan rasa sakit dihatiku yang datang bersamaan.
"aku akan melupakannya..aku akan melupakannya.." bisikku berkali – kali entah berapa kali aku menyebut kata – kata itu, dari saat berjalan kekelas, dikelas dan hingga sekarang disaat istirahat tak hentinya aku mengucapkan itu.
"bodoh.." aku menoleh, Taeyong sudah berada dibelakangku dan tersenyum kepadaku ia berjalan kearahku, lalu memeluk pinggangku, aku hanya diam membiarkannya.
"ada apa, hari ini terlihat aneh..?" tanyanya sambil tertawa kecil, aku menggeleng pelan aku tak boleh menceritakan hal itu pada Taeyong, aku tak boleh membuatnya khawatir, dia cukup baik sudah mau menjadi penghibur bagiku selama ini, walaupun dia juga terluka karena mencintai Ten.
"aku baik – baik saja… Taeyong-ssi terima kasih" jawabku sambil menyandarkan tubuhku kedadanya. "kau sudah sangat baik padaku.. disaat tak ada yang menyayangiku.."
"aku tak melakukan apapun, aku hanya ingin melupakan semuanya, akupun berterima kasih karena membantuku melupakan dia" balasnya, membuatku tersenyum kecil.
"nah sekarang panggil aku hyung…ehm baby saja dech.." pintanya dengan suara yang dibuat semanja mungkin, ia melepas pelukannya dan membalik tubuhku menghadapnya.
"ya…?" tanyaku bingung, Taeyong mengangguk – angguk sambil tersenyum memaksa..
"hyung saja ya.." jawabku malu, Taeyong terlihat sedikit kecewa tapi akhirnya dia mengangguk dan tersenyum manis padaku.
"kemajuan untukmu Bunny.." ucapnya lucu sambil mendekatkan wajahnya padaku lalu mencubit hidungku.
Aku hanya tersenyum kecil dan kembali menyandarkan tubuhku padanya
Aku hendak menuju uks sekolah karena tubuhku yang sedang lelah hari ini, tapi langkahku terhenti didepan pintu uks itu saat telingaku menangkap suara – suara dari dalam ruangan itu, suara orang – orang yang sangat kukenal.
"aku baik – baik saja.. aku mau kembali kekelas, kau tak usah khawatir seperti itu" terdengar suara Ten yang sepertinya sedang marah.
"baik – baik saja..? jangan bercanda mengapa kau pingsan dan lihat kau mimisan !, itu yang kau bilang baik – baik saja…" kali ini suara Jaehyun yang terdengar menahan marah, aku menghela nafas ingin pergi mendengar pertengkaran mereka, tapi langkahku terhenti saat mendengar ucapan Ten.
"aku tak akan mati sekarang Jaehyun-a.. jangan bertindak seperti ini.." terdengar suara Ten yang melemah, aku terdiam saat mendengar itu, apa maksudnya..?
"jangan mengucapkan hal itu sekarang, kumohon, kau tau aku masih ingin bersamamu" pinta Jaehyun pelan, lalu lama mereka terdiam dan kali ini terdengar suara isakan Ten.
"jangan tinggalkan aku Jaehyun-a bahkan disaat aku seperti ini, aku sangat mencintaimu.."
.
"aku tak akan meninggalkanmu.. tak akan pernah" aku terdiam terpaku dipintu, hingga tersadar saat beberapa siswi melewatiku sambil tertawa dengan segera aku membalikkan tubuhku.
"ada apa dengan Ten…..?"' tanyaku dalam hati, membatalkan tujuanku untuk beristirahat dan memilih pergi dengan perasaan yang tiba – tiba terasa tak enak
"Hyung kenapa kau diam saja hari ini..!" aku menoleh kaget dan langsung tersadar dari lamunanku kembali memperhatikan sup ayam yag sedari tadi kuaduk – aduk tak henti.
"bukan urusanmu kan.." jawabku ketus, aku malas berurusan dengan Mark sekarang, tapi Mark malah memeluk tubuhku dari belakang dan meletakan dagunya dipundakku, aku mendesah malas dan terus melanjutkan memasak.
"jangan ketus seperti itu…" godanya denagn suara manja.."Hyung sedang masak apa.. heemmm tampaknya enak" ucapnya pelan, aku berusaha melepas pelukannya tapi memang dia lebih kuat dariku, ia dengan mudah menahanku, apa dia sedang kehabisan obat hingga jadi seperti ini.
"lepaskan Mark kau dapat membuat Jaehyun marah lagi padaku" ucapku kesal, tapi Mark hanya tertawa lalu secepat kilat ia mencium pipiku dan berlari pergi, meninggalkanku yang terpaku ditempat sambil memegang pipiku.
"yak..ada apa lagi dengannya, apa ini caranya membalas dendam padaku, cihhh cara baru yang menyebalkan" gerutuku sambil menggeleng – gelengkan kepalaku dengan marah.
Aku sudah selesai meletakkan semua makanan dimeja saat Jaehyun berjalan menuju meja makan dan duduk diam disana, aku menatapnya yang sedang melamun, entah apa yang dipikirkannya, apa tentang Ten hari ini.
"makanlah.." ucapku menegurnya, ia menatapku lalu mulai makan, aku terus memperhatikannya, ia bahkan masih melamun sambil makan, aku menatapnya cemas tapi tak tahu harus berbuat apalagi.
"Hyungggggggg… Hyung, wah aku lapar sekali.." ucap Mark yang entah sejak kapan sudah duduk disampingku, aku mengangguk.
"ne.. makanlah.." jawabku sambil terus memperhatikan wajah Jaehyun yang lesu, sepertinya Mark juga menyadarinya.
"hyung, ada apa.. tak nafsu makan..?" tanyanya heran, Jaehyun hanya menggeleng, Mark menatapku dengan pandangan menuntut jawaban tapi aku hanya menunduk.
Aku sedang membaca buku saat sebuah pesan di handphoneku menganggu perhatianku.
aku mengambil benda itu dan membaca pesan tertulis didalamnya.
'bisakah kita bertemu, aku ingin bicara, Ten'
aku mengehela nafas pelan.
'ya.., dimana..' balasku, tak lama diapun membalas
'sekarang, dicafe biasa'
'ya.'
aku menatap layar handphoneku sejenak lalu melemparkannya kesampingku.
Aku melangkah keruang tamu dengan malas kukenakan jacket dan syal dileherku, malam ini benar – benar dingin.
"kau mau kemana…?" tanya Jaehyun sambil meminum tehnya aku menatapnya sejenak.
"bukan urusanmu…" jawabku asal lalu mengenakan sepatuku.
"menemui Taeyong lagi..?" tanyanya sinis, aku mengangkat bahuku pertanda malas menjawabnya, terserahlah apa yang akan dia pikirkan, ak melangkahkan kakiku keluar dengan hati kesal.
Aku memincit tombol lift, menunggunya naik keatas saat lift terbuka aku hendak berjalan memasukinya tapi langkahku terhenti saat sebuah tangan menarikku keras, hingga aku terseret keluar dan pintu lift kembali tertutup.
Aku menatap Jaehyun yang masih memegang tanganku ia menatapku dengan pandangan penuh amarah padaku.
Marah..? ada apa lagi ini..?
"jangan pergi.., bila hanya ingin menemui Pria itu, jangan pergi…!" aku menatapnya kaget, mengapa ia menjadi marah seperti itu.
"lepaskan aku Jaehyun-ssi, aku harus pergi" ucapku kesal, sambil menarik tanganku tapi ia menahan tanganku lebih erat lagi.
"sebenranya kau ini kenapa…? tanganku sakit Jaehyun"
"kau pikir siapa yang lebih sakit sekarang ini, kau ingin membalasku dengan pergi bersamanya…?" ucapnya keras, aku semakin heran menatapnya.
"apa maksudmu..?" tanyaku heran sekaligus gugup dengan perlakuannya.
"jangan temui dia, aku suamimu.. sekarang aku melarangmu, jadi jangan temui dia" ucapnya dengan suara makin melemah.
"aku tak mengerti, mengapa kau katakan itu.. kenapa kau melarangku.. kau bahkan tak mencintaiku.." balasku tak kalah keras, ahh… sampai kapan kami akan berkelahi seperti ini terus.
"kubilang jangan.. ya jangan.." balasnya sambil menyeretku memasuki apartement kami lalu mendorongku hingga terjatuh kesofa, Mark yang kebetulan sedang bermain game diruang tamu melihatku seperti itu menatap Jaehyun dengan heran.
"hyungg.. ada apa" tanyanya heran tapi Jaehyun tak menjawab, ia malah menarikku hingga berdiri menghadapnya.
"aku tak ingin kau menemuinya lagi mengerti" ucapnya dengan nada mengancam, aku menatapnya takut kembali airmataku menetes perlahan, kenapa dia jadi seperti ini.
"kenaoa.., kau selalu menyakitiku seperti ini.." ucapku terisak, tak memperdulikan Mark yang memandang kami dengan bingung.
"kenapa…!? kau benar – benar bertanya seperti itu..?, aku suamimu, Appa sedang sakit sekarang dan kau malah asyik bersama pacarmu itu.."bentaknya kasar, sambil mengeratkan tangannya aku meringis kesakitan.
"tidak.. aku tak ingin membahas itu, sekarang aku harus pergi, please lepaskan aku.." pintaku sambil terisak, Jaehyun menatapku semakin marah.
"Jaehyun-ssi kau menyakitiku" ucapku menahan sakit di tanganku dan juga hatiku melihat ia seperti ini.
"hyu..hyung.. kau menyakiti Doyoung Hyung" ucap Mark, Jaehyun menoleh pada Mark dengan tampang menakutkan.
"bukan urusanmu, lebih baik kau masuk sekarang kekamarmu" ucap Jaehyun kasar, lalu menoleh padaku lagi, Mark memandangku sejenak sebelum berjalan menuju kamarnya, entah mengapa wajahnya terlihat aneh seperti itu.
"lepaskan.."pintaku lagi kali ini aku benar – benar tak sanggup, airmata terus menetes dipipiku.
"aku tak akan membiarkanmu pergi, kau tau aku tak suka, jadi jangan lakukan itu" ucapnya kali ini dia menurunkan suaranya.
"kenapa.. kau cemburu..?" isakku, aku tau itu pertanyaan bodoh.
"ya,aku cemburu.." jawabnya, membuat isakku seketika terhenti digantikan rasa kagetku mendengar jawabannya, aku menatapnya tak percaya, Jaehyun balas menatapku tajam.
"aku cemburu… aku cemburu saat kau bersamanya.." ia mendekatkan wajahnya padaku, aku tetap terpaku tak percaya dengan omongannya saat ini, apa dia mabuk ? dan aku kembali tersadar saat dia menciumku lagi.
Jaehyun menyentuh bibirku lagi.. ini yang kedua kalinya semenjak ia menciumku kemarin, aku hanya tertegun dan tak kusadariku aku malah memejamkan mataku.
tiba – tiba kesadaranku muncul, aku membuka mataku kembali aku mendorongnya dan memundurkan langkahku tak percaya.
"jangan.. jangan jadikan aku pelampiasanmu, kau tak mencintaiku.. mengapa kau lakukan itu..jangan membuatku berharap padamu, aku benar – benar ingin melupakanmu" jeritku, airmataku kembali menetes, aku benar – benar tak sanggup, aku membalik tubuhku dan melangkah ingin pergi, tapi Jaehyun malah memelukku dari belakang membuatku menangis makin kencang.
"tolong.. Jaehyun-ssi…let me go.. aku tak ingin kau lebih dari ini.. aku tak ingin mengharapmu lagi.."bisikku serak, Jaehyun mengeratkan pelukannya padaku tanpa menjawabku.
"lepaskan..aku mohon Jaehyun.. kau tak boleh seperti ini, aku benar – benar harus melupakanmu" pintaku menghiba
"kalau begitu jangan lupakan aku.. jangan hapus cintamu dariku, kau tak boleh.." jawabnya pelan, aku membuka mataku kaget mendengar ucapannya.
"apa…?"
"jangan lakukan itu Doyoung"
"apa kau menyukaiku..?" tanyaku perlahan, sambil menghapus airmataku. " apa kau menyukaiku Jaehyun-ssi..?" tanyaku lagi dan dapat kurasa ia mengangguk dipundakku.
"kurasa aku.. aku menyukaimu.. yahh aku…aku menyukaimu" jawabnya, rasanya jantungku berhenti berdetak saat itu juga, mendengar jawabannya, mungkinkah..
"jadi jangan tinggalkan aku.." lanjutnya dengan suara memohon, aku tertegun, tidak.. dia tak mungkin, Ten.. ya.. bagaimana dengan Ten.
"kalau begitu, kau mau melupakan Ten untukku.." pintaku kembali mengusap pipiku perlahan. Jaehyun terdiam terasa tubuhnya menegang saat aku mengucapkan nama Ten.
"maukah kau melepaskan dia dan utuh mencintaiku" tanyaku lagi, perlahan kurasa tangannya terlepas dari pelukannya padaku, aku membalikkan tubuhku dan melihatnya, ia menatapku dengan pandangan tak percaya, perlahan – lahan ia memundurkan langkahnya.
Aku balas menatapnya dengan sedih.
"lupakan dia dan jadilah milikku" Jaehyun menatapku sedih
"maaf.. maafkan aku.. .. aku tak bisa.. aku benar – benar tak bisa.. mianhae, lupakan yang tadi" pintanya sambil membuang wajah, aku menatapnya rasa sakit hatiku semakin terasa membludak sekarang
"apa.."aku tersenyum miris menahan rasa pedih dihatiku, aku benar - benar terluka lagi, "jadi, kau menyukaiku, tapi tak bisa melepaskan Ten" tanyaku pelan, Jaehyun menatapku lagi, ada kepedihan di matanya.
"kau tak mengerti.. kau tak akan mengerti" ucapnya pelan, aku menggeleng
"tidak Jaehyun-ssi kau yang tak mengerti.. aku tak mau menangis lagi…" bisikku lalu membuka pintu dan melangkah pergi.
tak mau lagi...
TBC
DRAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA... I LIKE DRAMA HAHAHAHHAHHAHAHHAHAH
is this long enough..? jangan bilang ga panjang Ill kill you all ahahahha, hanya bercanda.. ini mungkin 4 atau 5 episode ato lebih pendek lagi bakal habis, pokoknya siap2 angst di next chapter sooo.. jangan lupa review nya yaa... kalo nyampe yang jadi target bakal update secepatnya...
kalian pasti ga bakal ngerti sikap mereka semua yang berubah - ubah dan mysterious hahahahahhahah... and Taeyong tu kayak superman ja disini ya dimanapun Doyounga ada dia tau hehehehehhe.. oya mungkin kalian bakal ngebenci Doyoung atau malah Ten di next chap kekekekkekekekkekke
kali ini AUTHOUR bakal balas review ehhehhehee, tapi maaf ya cuma review chap teaser ma chap 7 aja, maaf ya baru bisa balas sekarang
aiyoemi10 : kalo ada Johnny gimana yaaaaaa.. ahahahhaah, mereka semua agak egois disini heheh
ardnac555 : awww makasih, ditunggu reviews berikutnya
dygikel : Jaehyun maruk karena ada sesuatu hahahah.. tsundere kan biasanya taeyong ya hahahah
yamiharushita :ada Mark karena kan bakal bosan kalo cuman empat Dara aja yg di FF nie hahhah
pandagame : thanks.. bener2 ga nyadar saya hahaha
Guest : weee Rowoon hahahah banyak ya yang ngeship mereka bedua kekekkekek, tapi mungkin di lain cerita hahahaa
Rimm : itu rahasia, dan sebenarnya Doyoung juga ga mencoba ngertiin orang lain hehe, mungkin belom insaf merekanya
Guest : benar - benar cemburu
TaoRisJae " baby dont like it hahahah... Dilema kita
Guest : kalo panjang bukan teaser dong say hahahaha... iya cubitan Mark rame2 kita
smcacia : gimana yaaa.. tapi jangan sebal ma Ten banyak - banyak ya. dia punya rahasia yang belum kalian tau ahahahah
ichinisan1-3 : aww aku penganut Tae seme heheh, yutae tepatnya, iya Ten sebenarnya dilema banget
lutfiah24k : pasti tambah kesal ma Mark disini hehe
essens : hehehh tapi kasian Jae kan hohoh
ichinisan1-3 : Taeyong mang Gennie.. bisa tau aja Doyoung dimana, nah.. Jae mank ternyata suka ma dodo
ardnac555 : iyo FF jaedo tu langka bangat padaha NCT first Otp since debut kan Jaedo heheheh tapi kayaknya people yang baru masuk ke NCt malah ga ngeship mereka berdua hahah, sama kayak Markhyuck, Nomin, Johnten, HanIl and Yutae
Retnuna : benar ga ya Tae tu ga serius..?
JKSHC : sbenarnya taeDo itu Hidden otp buat ku, moga ja ga benar - benar cuma pura - pura si Tae hehe
MinJ7 : bener banget tapi sebenarnya kita bisa nyalahin mereka semua atau bahkan ga bisa nyalahin mereka kekeke
yamiharushita :Doyoung bakal bahagia atau ga ya heheh
Fredy Park : ni chap lengkapnya
dhantieee : update UP
hacheChii : duyuung hehe
yoo : muka Tae mank bikin curiga orang - orang yaa hahahhah
yesita : its okay.. iya benar Doyoung bakal tambah kurus nih kalo benaran digituin terus tapi..tapi sebenarnya itu bukan mau Ten kok
JANGAN LUPA TETAP REVIEWS ya GUYS
