Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve

Cast : Kim Doyoung (17)

Jung JaeHyun (17)

Lee TaeYong (18)

Chittaphon/ Ten (17)


Warning angst yang Bukan Angst.. heheheeheh


Doyoung POV

Aku menatap tajam Ten yang sekarang duduk dihadapanku, aku membawanya ke café biasa tempat kami bertemusaat ia mengucapkan kata – kata tadi.

"Aku sudah putus dengan Jaehyun.."

cih apa dia sedang bercanda sekarang.

Aku terus memeperhatikannya yang sedang mengaduk – aduk milk tea'nya dengan bosan.

"apa maksudmu tadi..?" tanyaku memecahkan kesunyian yang sedari tadi kami ciptakan, Ten menghentikan gerakan tangannya dan memandangku dengan tatapan datar, wajahnya terlihat sangat pucat dan lelah, tampaknya dia sangat kurus sekarang.

"ya.. kami sudah putus.." ucapnya pelan sambil menghela nafas lemah, ia menatap keluar café, dari balik kaca memandang orang – orang yang sedang lalu lalang diluar dengan kesibukan mereka masing – masing.

"sudah lama sekali.." lanjutnya seolah berbicara dengan diri sendiri, aku mengernyitkan kening heran, apa maksudnya sudah lama apa setelah kejadian dilaut waktu itu, tapi kenapa Jaehyun tak pernah menunjukan kalau mereka sudah putus, bukannya mereka selalu bersama disekolah malah terlihat makin dekat.

"lama..?" tanyaku heran, Ten kembali menatapku, pandangannya terlihat kosong Ia mengangguk pelan.

"ya.. lama sekali, apa kau ingat saat aku memohon padamu dan mengatakan tentang penyakitku, saat aku meminta kau melepaskan Jaehyun untukku itu adalah hari kedua Jaehyun memutuskan untuk berpisah dariku" aku terpaku tak percaya, jadi saat itu, saat dimana Jaehyun berani menciumku untuk pertama kalinya, jadi saat itu, saat dimana dia mengungkapkan dia mencintaiku, itu disaat dia sudah berpisah dengan Ten..?

"kau tau.. dia mengatakannya seperti ini 'Ten-a, aku sangat menyayangimu, tapi.. aku tak bisa membohongi perasaanku, aku mencintai Doyoung, aku tak mau membuat dia menangis lebih dari ini, jadi mari berpisah', " Ten menghentikan ucapannya dan menundukan wajah, airmata menetes dipipiku, jadi benar Jaehyun mencintaiku, dia tak berbohong.

"aku marah sekali saat itu, aku marah sekali.. karena dia lebih memilihmu, tapi dia juga bilang, walaupun sudah berpisah dia akan tetap menjagaku, tetap disampingku.. tapi.. aku tau, itu semua karena janji yang sudah dia tanggung..bukan karena dia benar – benar ingin bersamaku.." aku menatap Ten yang sudah ikut meneteskan airmata sekarang.

"jan..janji..?" tanyaku pelan, airmata ini tak kunjung berhenti menetes dipipiku. Ten tersenyum lembut padaku, walaupun aku tau dia sangat terluka saat ini, senyum itu tampak sangat dipaksakan.

"ya, janji.., dia berhutang pada seseorang hingga dia tetap menjaga janjinya untuk selalu bersamaku, akan menjagaku sampai aku atau dia sudah tak ada lagi didunia ini, janji itu yang membuat dia harus jadi seperti ini.." aku menatap Ten yang tak sekedar meneteskan airmata lagi, sekarang dia benar – benar terisak.

"janji apa.." tanyaku dengan suara bergetar, Ten kembali tersenyum pedih.

"kau tau Doyoung-a disetiap detak jantung yang mengisi hari – hari Jaehyun yang membuatku tak ingin berpisah atau lepas darinya, setiap detakan itu.." Ten tak kuasa menumpahkan tangisannya, aku tau semua orang di café sedang menatap kami dengan heran, tapi aku tak peduli.

"a..apa, yang… apa yang terjadi.." tanyaku sekarang tak hanya Tubuhku yang bergetar,pandanganku pun sudah terasa kabur.

"jantung itu… jantung itu milik kekasihku yang sebenarnya.., jantung Jaehyun sekarang adalah jantung kekasih pertamaku" aku menutup mulutku karena kaget, dengan pandangan tak percaya aku menatap Ten, ia balas menatapku.

"kekasih pertamaku..memberikan jantung nya pada Jaehyun.. " kali ini aku benar – benar terkejut saat mendengar itu.

"aku ingin menceritakan semua, mari ikut denganku" ucap Ten lemah sambil memegang tanganku, aku mengikutinya meninggalkan café, kami berjalan tanpa bicara sedikitpun sibuk dengan pikiran kami masing – masing.

"kita sampai" aku menatap sekelilingku, ini kan pemakaman, untuk apa dia membawa kukesini, Ten berjalan menuju sebuah makam yang terawat tampaknya seseorang selalu datang kesini hingga makam itu tak seperti makam lain disekitarnya, aku mengikutinya dengan langkah bergetar jantungku berdegub saat melihat sebuah nama dibatu nisan itu

"Johnny Seo.. itu namanya, dia tampan kan.." bisik Ten dalam senyum kepedihannya, aku hanya diam menatap foto Pria di makam itu.

"kami.. kami bertemu saat aku masih sering bolak – balik masuk rumah sakit dulu, dia juga menderita leukimia seperti aku, kupikir karena kami senasib, makanya kami saling berbagi dan tak lama kami saling jatuh cinta, saat itu adalah saat yang membahagiakan bagiku" Ten kembali tersenyum, matanya menerawang saat menatap photo Jhonny.

"suatu hari Johnny dipersilahkan pulang oleh dokter, kami pikir itu berarti dia sudah sembuh jadi kami berjanji bertemu di danau dekat rumah sakit, tapi..tapi Johnny tak pernah datang… " Ten menghentikan ucapannya sejenak, ia duduk di sebelah makam itu, membersihkan beberapa daun kering yang baru jatuh disekitar makam itu, aku hanya dapat melihatnya.

"1 jam 2 jam ia terlambat hingga berhari – hari dia tak kunjung menemuiku, aku kecewa.. sungguh aku kecewa.. aku terus menunggu tapi dia tak juga menemuiku, hingga 1 tahun penantianku, tak ada hari tanpa aku tak menunggunya didanau itu, kondisiku semakin buruk, dokter juga mengatakan usiaku tinggal sebentar saja." Aku melihat Ten tersenyum kecil saat itu.

"suatu hari aku sedang menangis karena menunggu dia yang tak kunjung menemuiku, kupikir apakah dia sudah tak mau berpacaran denganku yang penyakitan ini atau bagaimana..dia kan sudah sembuh.. jadi.. untuk apa dia berpacaran dengan anak penyakitan sepertiku.. apalagi kami masih sangat muda saat itu, Cinta baginya pasti hanya permainan sebaliknya aku sudah benar - benar jatuh cinta padanya, tak kan mudah melupakannya hingga membuatku begitu terpuruk saat itulah aku bertemu Jaehyun, saat pertama kali aku bertemu dia.." Ten memandang langit biru dengan pandangan menerawang.

"dia mulai mengisi hidupku, membantuku melupakan Johnny walau ku akui aku tak kan pernah bisa melupakannya.. tapi aku tetap mencoba meraih kebahagiaanku , walaupun tak bisa melupakan Johnny, tapi aku mulai merasa bahagia bersama Jaehyun, ia seperti adik kecil yang manis yang selalu menyenangkan hatiku, bahkan usiakupun dengan ajaibnya menjadi lebih lama dari diagnose dokter. Tapi aku selalu bertanya – tanya, kemana Johnny.. kemana dia.. apa benar dia melupakanku..aku tetap berharap ia akan kembali padaku" Ten menggeleng , ia tersenyum kecil memandang foto Johnny, airmata menetes perlahan dipipinya.

"suatu hari aku tak sengaja, mendengar Jaehyun mengucapkan nama Johnny, aku penasaran kupikir mungkin dia tau tentang Johnny, jadi saat pulang sekolah, aku membuntutinya..setidaknya aku dapat melihat Johnny sebentar saja, apa dia bahagia, apa dia sehat, apa yang sedang dilakukannya..?" Ten menghela nafas berat, isak tangis perlahan terdengar lagi

"tapi apa yang kudapat, Jaehyun malah menuju sebuah pemakaman…" ia kembali berhenti untuk mengambil nafas, lalu menatapku.

"kau tau rasa penasaranku terjawab sudah… ternyata tujuan Jaehyun pulang saat itu adalah untuk mengunjungi sebuah makam, saat Jaehyun sudah pulang dari aku mendekati makam itu perlahan.. dan disitulah ada penjelasan, mengapa Johnny tak kunjung menemuiku, kenapa dia takpernah menepati janji kami.. karena…" kembali Ten berhenti, aku menatapnya dengan iba lalu ikut berjongkok disampingnya dengan ragu aku merengkuhnya kedalam pelukanku, membuat Ten terisak didalam pelukanku.

"karena.. dia sudah meninggal.. 3 hari setelah dia dibawa pulang… dia meninggal dihari dia berjanji akan menemuiku didanau itu… dokter.. ternyata sudah menyerah pada penyakitnya..ia berbohong mengatakan kalau ia baik - baik saja, dokter berbohong saat mengatakan kalau ia akan sehat dan dapat bermain seperti anak lainnya.. mereka semua berbohong padaku" kali ini, kembali aku meneteskan airmata, ternyata Ten sangat terluka seperti ini, aku merasa sangat bersalah saat itu, rasanya dadaku sangat sesak, mendengar semuanya.

"dan.. yang paling membuatku terkejut.. Jaehyun.. Jaehyun ternyata adalah salah satu anak yang juga dirawat dirumah sakit kami, dia menderita kelainan jantung dan harus mendapatkan donor jantung untuknya secepatnya, saat itu, dia mengenal Johnny.. mereka menjadi sahabat dekat, dan aku tak pernah mengenal Jaehyun sebelumnya.. disaat terakhirnya Johnny meminta Jaehyun untuk berjanji, dia akan menggantikannya menjagaku karena ternyata ia sangat mencintaiku.. dan Jaehyun menyanggupi itu, setelah Johnny meninggal Jaehyun mendapatkan seorang donor jantung, Jhonny yang memberikan jantung itu padanya, hingga dia bisa sehat seperti sekarang ini…." Aku menahan diriku yang ingin menangis keras menumpahkan semuanya, jadi itu mengapa Jaehyun begitu keukeuh pada janjinya.. jadi itu semua karena hal itu, aku tak pernah menyangka Jaehyun pernah sakit separah itu.

"kenapa.. dia tak menemuiku secepatnya.. kenapa dia tak mengatakan tentang meninggalnya Johnny.."Ten Tersenyum pedih "itu karena Johnny lebih memilih untuk tidak diingat, daripada menambah rasa sakitku, dia lebih memilih aku membencinya.. 1 tahun adalah waktu pemulihan Jaehyun dengan jantung barunya.. hingga dia benar – benar dapat menemuiku dan menepati janjinya.."

"Kenapa… kenapa kau baru mengatakannya sekarang.." tanyaku sedih, Ten melepas pelukan kami, lalu menatapku lembut, ia menghapus airmatanya dan tersenyum padaku.

"karena Jaehyun melarangku.. aku menerima itu semua, awalnya aku marah pada Jaehyun karena membohongiku.. sangat marah, tapi akhirnya aku dapat menerima semuanya, kami resmi pacaran setelah itu, hari – hari berlalu Menyenangkan walau ku akui, kami tak pernah saling mencintai.. nah.. kami memang saling mencintai tapi hanya sebagai saudara, setidaknya saat memeluknya aku masih bisa merasakan detak jantung Johnny aku masih bisa merasakan Johnny ada didekatku.. hingga… kau datang dan dia menikah denganmu, aku marah.. aku memaksanya berjanji karena aku tak mau berpisah darinya, Jantung Johnny ada padanya dan itu satu - satunya hartaku yang berharga, dan ia berjanji bila ayahnya sembuh ia akan bercerai denganmu, ia terima itu.. karena dia berpikir tak mungkin jatuh cinta padamu, tapi ternyata semua salah.. dia jatuh cinta padamu dan aku sangat egois saat itu" aku melihat wajah Ten yang terus tersenyum walau airmata masih terus membasahi pipinya, aku langsung menundukan wajahku, aku selalu berpikir aku adalah korban dari semua ini, tapi ternyata yang paling menderita adalah mereka berdua.

"haaahhhh… akhirnya lega menceritakan ini semua padamu.." ucap Ten sambil menghapus airmatanya lalu berdiri dan merentangkan tangannya, ia tersenyum riang lalu kembali menoleh padaku.

"Doyoung-a, bolehkah kita berteman lagi...dan yang paling penting bolehkah kau tak menyerah.. kejarlah cintamu.. aku sudah melepasnya.. sampai saat ini aku masih menyimpan nama Johnny dihatiku jadi raihlah cintamu karena aku juga akan meraih cintaku, saat aku tak ada nanti aku yakin Johnny lah yang akan menyambutku" aku menatapnya sedih, lalu ikut berdiri menatap Ten yang terus tersenyum dan memejamkan mata menatap langit biru.

"Ten-a..maafkan aku." bisikku pelan, ia pasti tak mendengarnya, aku terus menatapnya saat aku menyadari ekspresi Ten berubah menjadi kesakitan, ia terduduk lemas mengerang sambil memegang kepalanya, aku berlari memeluknya, ia tampak tersiksa.

"Ten, kau baik - baik saja, bertahanlah kita akan kerumah sakit" Ucapku panik Ten hanya mengangguk, aku langsung membantunya berdiri dan mencari taksi untuk membawanya kerumah sakit.


"dia sudah tidur.. tadi berbahaya sekali, kalau sampai terlambat, saya tak dapat membayangkannya" ucap dokter, sambil meninggalkan kami, aku menatap wajah Ten yang tertidur, dengan lemas aku duduk disampingnya, kugenggam tangannya, rasa bersalah makin memenuhi hatiku.

"LEBIH BAIK KAU MATI SAJA"

ucapan itu terngiang – ngiang ditelingaku, kenapa aku sejahat itu.

"Ten…!" aku menoleh saat melihat Jaehyun yang masuk dengan wajah khawatir ia tertegun saat menyadari kehadiranku, lalu menatap Ten yang sedang tertidur.

"dia baik-baik saja" ucapku sambil tersenyum, Jaehyun diam ia terus – terusan menatapku dengan pandangannya yang membuatku tersiksa.

"apa..apa yang terjadi..?" tanyanya dengan canggung, aku menggeleng kecil.

"tak ada.. kami hanya saling berteman lagi sekarang." Jawabku pendek, lalu menatap Ten yang tampak damai saat tidur, lama kami terdiam dan Jaehyun memilih untuk duduk disampingku.

" aku sangat senang... kau mau bicara padaku.." aku hanya menggeleng mendengar ucapan Jaehyun, aku tersenyum kecil, tapi tak ingin menatapnya.

"maafkan aku.." lanjutnya aku ingin menangis saat itu, tapi aku menahannya.

"its okay.. aku yang salah, jadi mulai sekarang mari perbaiki hubungan kita" jawabku lembut, Jaehyun menunduk terdiam.

Aku menarik nafas panjang lalu berdiri dan menatap Jaehyun, ia balas menatapku dengan gemetar tanganku menyentuh wajahnya, Jaehyun terdiam lalu ia mengangkat tangannya dan menutupi tanganku yang memegang pipinya dengan tangannya.

Aku ingin menangis, tapi aku berhasil menahannya

"Jaehyun.. Jung Jaehyun..aku sudah memutuskan " panggilku lembut, ia menatap mataku dalam, membuatku ingin bertahan untuk tidak mengucapkan sesuatu yang telah kupikirkan sedari tadi.

"katakanlah"

aku setuju dengan apa yang kau inginkan dulu...Jaehyun-ah ayo bercerai.." ucapku dengan suara yang susah payah kuucapkan, Jaehyun tetap membisu ia terus menatapku, seolah mendalami apa yang sedang kupikirkan.

"mari bercerai.. " bisikku lagi, Jaehyun masih diam, aku mati – matian menahan rasa ingin menangis, dapat kurasa tangan Jaehyun bergetar ia memegang tanganku yang tadi digenggamnya, lalu dengan sekali tarikan aku sudah berada dipelukannya.

"ya.." bisiknya, lalu ia mencium rambutku "ya.. mari bercerai"

Setetes airmata jatuh dipipiku, tapi aku hanya tersenyum walau terasa menyakitkan.

"ya mari berpisah.."


"mari putus "

Taeyong menatapku kaget, mendengar ucapan yang baru saja kuucapkan, minuman yang tadi dipegangnya terjatuh begitu saja, Kami sedang berada ditaman milik keluarganya saat ini.

"a..apa.. maksudmu, jangan bercanda, bukannya itu tak lucu" jawabnya lalu tertawa kecil, tawa yang dipaksakan ia kembali mengoyangkan ayunan yang sedari tadi didudukinya, aku diam saja dan menatapnya datar.

"mari kita putus tae, aku benar – benar tak bercanda, kita sudahi saja semuanya.. aku lelah dan aku tak ingin menyiksa kita berdua lagi.." ucapku pelan, Taeyong terdiam menatapku, ia menelan ludah lalu membuang wajahnya kesamping.

"karena Jaehyunkah itu..?" tanyanya pelan, aku menggeleng, ia menoleh dan menatapku tajam.

"lalu..?.."

"aku akan pergi jauh, setelah lulus aku akan meninggalkan seoul, aku akan melanjutkan kuliahku ke Paris, aku ingin mengejar impianku di sana" ucapku pelan, Taeyong kembali terdiam.

Lalu perlahan, ia berdiri menghadapku, yang memang sedari tadi hanya berdiri dihadapannya.

"kenapa.. apa kau tak tau perasaanku padamu..?" tanyanya kecil, aku diam memandangnya.

"aku tak ingin putus.." ucapnya lagi, aku menatapnya heran.

"tapi.."

"tak ada tapi – tapian, aku tak ingin putus, kau tak bisa sesukamu seperti ini" ucapnya keras, aku menghela napas.

"tapi kita tak saling mencintaikan.. aku harus mengakhiri semuanya.. kita harus berakhir, aku menyayangimu, sangat menyayangimu, tapi itu tak lebih dari rasa sayang seorang adik pada kakaknya.." jawabku datar, Taeyong menatapku tak percaya, ia menggeleng keras.

"tidak.. kau tau betapa selama ini aku berusaha membuat kau nyaman disampingku, bahkan aku berhasil membuat kau tertawa walau hanya sejenak, tapi itu tak bergunakah..? sekarang kau ingin meninggalkanku, aku terluka bila seperti ini.. aku terluka melihat kau mencintai Jaehyun.. " ucapnya dengan nada seperti menahan marah, aku diam dan hanya dapat menunduk.

"maafkan aku Taeyong.." ucapku pelan, lalu berbalik ingin pergi.

"YAA…! AKU MENCINTAIMU DOYOUNG-A…!" aku menghentikan langkahku dan diam terpaku, mataku membesar karena kaget dan jantungku berdetak kencang, aku tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

"aku.. aku mencintaimu… tak'kah kau sadari itu, semuanya, semua perhatianku…apa tak kau sadari, apa tak kaulihat aku yang seperti ini mencintaimu..aku benci bila mengingat namamu sekarang adalah Jung Doyoung.. aku benci kau menangis karena orang lain… aku benci..aku bahkan membiarkan Jae membenciku hanya karena aku dekat denganmu" aku tetap diam membisu, rasanya nafasku tercekat hingga membuatku sedikit terengah – engah.

Sebuah tangan merangkul tubuhku dari belakang membuatku kaku.

"jangan pergi kumohon.. jangan membuatku tak dapat melihat dimana dirimu berada, aku tak mau melihat langit yang berbeda dnegan langit yang kau lihat, aku tak mau menhirup udara yang ebrebda darimu..kumohon Doyoung-ah... jangan tinggalkan aku.." aku merasa setetes air membasahi tanganku, aku terdiam lalu dengan perlahan aku berbalik, ternyata Pria didepanku ini sedang meneteskan airmatanya, dan itu semua karenaku, Pria yang sudah berbaik hati menjaga dan melindungiku, memelukku selama ini, menenangkan aku saat aku menangis kenapa sekarang aku yang menyakitinya, apakah ini yang dirasakan Ten saat Jaehyun melepasnya.

Dengan perlahan kuhapus airmatanya, ia langsung memegang tanganku dan menciumnya, aku melihat itu semua dengan hati teriris, kenapa aku membuatnya jadi seperti ini.

"aku.. benar - benar minta maaf.. aku selalu membuat semua orang menangis, tapi percayalah setelah aku kembali nanti.. kau akan dapat melihat wajahku yang bahagia, aku hanya akan pergi mencari kehidupan, aku hanya mencari kebahagian Tae-ah, hanya kebahagian" bisikku lembut, airmata menetes dipipiku, Taeyong menatapku dengan pandangan yang membuatku ingin memeluknya, menenangkannya dan memohonnya untuk tak menangis.

"izinkan aku untuk mencari kebahagian" lanjutku, Taeyong terus menatapku lalu tak lama ia menunduk.

"jadi, aku akan merelakanmu..?" tanyanya, aku kembali terdiam, Taeyong balas menghapus airmataku.

"kalau begitu, kembalilah nanti kembalilah dengan tawa bahagia, setelah itu, jangan pernah menangis karena apapun lagi, jangan.., aku rela, bila kita akhiri ini, asal berjanjilah padaku kau akan kembali membawa kebahagian.. janjilah kau akan kembali pada kami" ucapnya lembut kali ini sambil tersenyum, aku menatapnya dengan rasa lega dihatiku.

"aku berjanji…" ucapku pelan, Taeyong kembali terdiam, ia menatapku ragu sebelum kembali membuka mulutnya

"tapi ada yg ingin kutanyakan padamu.." aku hanya mengangguk

"Apa itu..?"

"setidaknya selama kita pacaran, apakah ada sekali hatimu hanya untukku apakah pernah kau menyukaiku..?" tanyanya lembut, aku tercenung mendengar pertanyaannya, lama kami terdiam hingga aku tersenyum lembut kepadanya.

"aku tak mungkin berpacaran dengan orang tak kusukai…, walaupun sebentar, kupikir aku pernah sangat menyayangimu, tidak sampai sekarang kau adalah orang yang akan tetap kusayangi" ucapku pelan, ya itu jawaban yang tulus dari hatiku, itu jawabanku.


"Dad aku akan bercerai"

"APA…!" aku tersenyum mendengar suara kaget Dad dari seberang.

"Yes Dad, aku akan bercerai, besok hari kelulusanku, saat itu juga aku akan bercerai.. Jaehyun sudah setuju.."

"tapi.."

"Maafkan aku Dad, tapi ini adalah keputusanku" ucapku tegas lalu mematikan telponku.

Aku menghela nafas berat, rasa sesak didadaku terasa sangat menyesakan dan perutku rasanya terasa sakit, kenapa setiap kali aku merasa stress seperti ini tubuhku menjadi begitu terasa sakit

"Mom.. entah berapa kali aku terjatuh pada kesalahan yang kubuat sendiri.., membuat semua orang menderita.. tapi.. sekarang aku akan mengganti itu semua.." ucapku pelan menahan rasa sakit yang begitu mendera, sambil menerawang keluar dari balkon kamarku, menatap pemandangan malam seoul yang akan kutinggalkan sebentar lagi.

"setelah perceraian ini.. aku akan meraih kebahagianku.. kebahagian yang pernah hilang dariku.." bisikku, sambil melihat kembali surat yang sedari tadi kupegang

SURAT CERAI

Aku tersenyum sedih melihat tanda tangan Jaehyun yang sudah tertera disitu, saat aku menandatangani surat ini kami akan resmi bercerai.

Saat itu terjadi, aku akan berjuang kembali sendiri, mencari kebahagian untukku.

Besok pengumuman kelulusan kami, rasanya waktu berlalu dengan cepat sekali, ada senyum dan airmata yang mengiringinya.

Setelah ini aku berharap tak akan ada lagi airmata untuk kami semua..


Tbc

A/n :di chap ini ga da angst nya hahahah.. next chap bakal balik lagi ke angst.. and Yasssss Im JOHNTEN shipper yayayyayayyaya.. Honestly sebenarnya aku Yutae, Dojae, MarkHyuck, Noren, Nomin, Hanil and Johnten shipper heheheh.. soo ga mungkin bakal misahin Ten ma Johnny, abang John biar udah dead di cerita ini tapi tetap greget hahahahha.. next chap siap2 tissue..setidaknya untuk gw hahahha, nah.. sbenarnya Jae tu benci ma Tae karena dia cemburu ma Tae bukan karna ada apa - ap dan ia Tae mank beneran cinta ma Dodo.. cuman yah bertepuk sebelah tangan lagi kayak waktu dia ma Ten.. kasian kasian hohoho

JANGAN LUPA REVIEWSNYA.. bakal di update kalo review ampe 160 reviews..Bye