Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
Angst gagall.. ga dapat Mood mo buat chap sedih hahhahah
Jaehyun POV
Aku berjalan keluar kamar mandi dengan langkah gontai, rasa lelah terasa membebani tubuhku semalam aku sama sekali tak dapat memejamkan mata, aku sudah memberikan surat cerai pada Doyoung, rasanya saat memberikan itu aku kembali seperti saat aku harus menghadapi masa kecilku dahulu, saat aku harus menderita rasa sakit yang berkepanjangan, saat aku berada dalam keadaan antara akan hidup atau akan mati.
"kumohon padamu Jae, apapun yang terjadi jagalah Ten untukku.." entah berapa lama kata – kata itu terpatri dipikiranku, tak bisa sehari saja aku menghapusnya membuatku merasa sesak dan sakit hati, engan pelan aku menghadapkan tubuhku kecermin didepanku, kutatap tubuhku di pantulan cermin itu.
"hyung.. luka ini masih ada.. dan tak akan pernah hilang" bisikku lemah, melihat bekas luka kecil didadaku, didalam tubuh ini ada jantung orang yang paling menyayangi Ten, yang memintaku untuk menjaga kekasihnya dan tak pernah melukainya.
"aku sudah menjaga janji kita hyung.. rasanya waktu cepat berlalu..aku pernah membohongi diriku sendiri.. mengatakan kalau aku mencintai Ten dan diriku menyakini itu.. tapi setelah aku bertemu seseorang, aku baru tau.. bagaimana rasanya jatuh cinta sebenarnya..tapi semua sudah menjadi sangat terlambat.." aku menghela napas pelan dan segera mengenakan baju seragamku.
"aku sudah terjatuh makin dalam"
Kembali aku menghela napas, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang makan, sarapan sudah tersedia, tapi Doyoung tak tampak dimanapun, ia pasti sudah berangkat sekarang.
Aku segera menenggak susu dengan cepat dan berbalik ingin pergi, tapi langkahku terhenti saat melihat sebuah Amplop yang terletak diatasmeja makan, dengan cepat aku meraih map itu dan membukanya
Itu adalah surat cerai kami.
Rasanya ada ribuan pisau yang menghujam jantungku begitu saja saat melihat tanda tangan Doyoung di kertas itu, tanganku bergetar hebat dan rasanya aku ingin sekali menangis lagi.
Dengan ini kami resmi bercerai.
Dadaku terasa sesak sekali memikirkan ini, aku menggenggam Amplop it dengan kuat menahan perihnya di dadaku, dengan lunglai aku berjalan keluar apartement.
"Selamat.." teriak semua orang dengan bersemangat, aku hanya tersenyum melihat mereka. Kami semua lulus dengan hasil yang memuaskan.
"Selamat Jaehyun-ssi" aku menoleh melihat Taeyong sudah berdiri disampingku sedang memandang papan kelulusan.
"Ya.. kau juga selamat atas kelulusanmu.."jawabku sambil tersenyum.
"ya.. dan seperti biasa namamu selalu menjadi yang pertama ya.. selamat Mr. perfect.. kau makan apa sih hingga menjadi sepintar ini,sungguh menyebalkan.." decak Taeyong sambil tertawa, aku balas tertawa mendengarnya lalu kembali memandang papan itu, Ten peringkat kedua kami memang selalu bersaing dari dulu hingga sekarang dan Doyoung peringkatnya jatuh sekali dari pertama kali ia memasuki sekolah ini, aku merasa bersalah apa itu karena semua kejadian ini.
"selamat untuk kalian berdua" kami menoleh dan melihat Ten dan juga Doyoung yang datang menghampiri kami, aku melirik Doyoung yang hanya tersenyum, dia bukan istriku lagi rasanya ada yang begitu menyakitkan didalam hatiku bila mengingat itu.
"bagaimana kalau nanti malam kita berpesta.." usul Taeyong dengan gembira, Ten langsung mengangguk setuju.
"Ya.. bagus sekali mau dimana..?"tanyanya bersemangat.
"laut.. kita kepantai malam ini.. kita pesta kembang api.."usul Taeyong lagi.
"NO.. Ten, kau tak boleh kena udara sedingin itu"ucapku pelan, Ten langsung mengembungkan pipinya kesal.
Kembali kulirik Doyoung yang tetap diam dengan senyumnya itu, ia balas menatapku sejenak, lalu mengalihkan pandangannya kelain tempat.
"tak apa, kita kelaut saja ya… ya.. aku mohon..Jaehyun-a, ini kan terakhir bagi kita yayyaya.." pinta Ten sambil mengguncang lenganku, aku menatapnya khawatir udara laut tak baik baginya, waktu kejadian Doyoung dulu saja, dia harus masuk rumah sakit selama 4 hari.
"tapi..!"
"tak ada tapi-tapian, kan kalian semua bersamaku.." potong Ten cepat, aku menatap wajahnya yang tampak pucat, lalu melirik wajah Taeyong yang seperti orang berharap banyak itu dan terakhir ke Doyoung yang malah mengangkat bahu.
"baiklah.."putusku terpaksa, Taeyong dan Ten langsung bersorak sambil ber-highfive ria, aku kembali melirik Doyoung yang tersenyum manis kepadaku.
Aku menatapnya lama, menyalurkan perasaanku lewat tatapan mata lalu balas tersenyum padanya.
Aku membuka pintu apartement kami dengan perasaan tak menentu ini pertama kalinya, aku dan Doyoung pulang sekolah bersama.
"kita.. apa perlu bicara sebentar..?" tanya Doyoung pelan, aku menghentikan langkahku dan menatapnya.
"ya.. kita perlu bicara.." jawabku lalu berjalan mendahuluinya menuju sofa, Doyoung mengikutiku dan ikut duduk disampingku, lama kami terdiam.
Apa yang sekarang dipikirkannya.
"surat cerai itu sudah kau serahkan.." tanyanya lembut, aku hanya mengangguk kaku, ia kembali tersenyum.
"kita resmi bercerai sekarang.. rasanya sedih sekali" ucap Doyoung pelan, aku menatapnya dengan pedih, ia balas menatapku.
"setelah ini aku akan melanjutkan kuliah di Paris, aku akan mengambil kuliah dijurusan musik, Sudah lama sekali aku ingin melakukan itu" ucapnya sambil menerawang, aku mengerutkan kening, aku baru tau itu.
"P-Paris..?" tanyaku tak bisa menyembunyikan rasa kecewaku, Doyoung mengangguk sambil menyandarkan tubuhnya.
"ya.. aku suka bermain piano.. apa kau tak tau..?, hemmm tentu saja, Dad saja tak tau, bagaimana kau tau.." ucapnya pelan, aku menatapnya tak percaya.
"kau akan pergi.. meninggalkanku..?" tanyaku gugup tanpa sadar aku malah mengucapkan kalimat itu, Doyoung terdiam, ia menatapku sejenak lalu mengalihkan pandangannya.
"kita sudah bercerai, aku tak mungkin tinggal bersamamu lagi.." jawabnya pelan, aku menunduk mendengar itu.
"apa kau akan kembali ke seoul.." tanyaku berusaha menyembunyikan rasa sedih dihatiku.
"aku tak tau…" jawabnya singkat, lalu menatapku lagi
.
"sudahlah, kita harus bersiap – siap nanti malam ada pestakan ? anggap saja itu pesta perpisahan.." ucapnya sambil tersenyum lalu beranjak masuk kekamarnya.
"kenapa tersenyum seperti itu.. apa kau tak tau itu membuatku sangat sakit" bisikku lemah, apa setelah ini aku tak akan berjumpa dia lagi..?, kenapa rasa sesak didadaku bertambah lagi sekarang.
Apa semua akan berakhir seperti ini.. aku benar – benar tak tau lagi.
Doyoung pov
"yaaa…! Jangan melamun saja…" aku tersentak saat Ten mengguncang pundakku.
"kau mau kembang api yang mana, yang bentuknya cacing juga ada..?' Tanya Taeyong sambil menghidupkan kembang api dengan riangnya, Ten menghampirinya lalu ikut – ikutan menghidupkan kembang api, aku melirik Jaehyun yang sedang tersenyum menatap mereka.
Tiba – tiba Taeyong berlari kearah laut lalu menyiramkan air pada Jaehyun, Jaehyun mengeram kesal, lalu mengejar Taeyong yang berlari sepanjang pantai.
"mereka terlihat akrab ya.."ucap Ten lalu duduk disampingku, aku tersenyum dan menatap Taeyong yang sekarang sedang berguling dipasir karena tertangkap Jaehyun.
"terima kasih untuk semuanya..." ucap Ten lagi, aku menoleh padanya wajahnya tampak pucat dan bibirnya tampak sedikit bergetar.
"kau tak apa..?" tanyaku khawatir, Ten hanya mengangguk lalu menatap langit malam yang penuh bintang.
"bila aku tak ada nanti, mungkin aku akan jadi salah satu bintang dilangit itu.."ucapnya pelan, aku menatapnya sedih.
"jangan berkata seperti itu, kau masih punya banyak waktu.. jangan mengatakan hal itu.."balasku semakin khawatir, tubuh Ten tampak bergetar, ia terlihat sangat kedinginan.
Aku segera melepas jaket yang kukenakan dan menyelimuti tubuh Ten, ia hanya tersenyum.
"banyak waktu yang tersisa..?"bisiknya pelan, aku menyentuh kening Ten terasa panas sekali.
"Ten, kita kembali saja ya, kita sudah cukup bersenang – senang malam ini.. kau tampak tak sehat" tanyaku dengan kuatir, tapi Ten hanya menggeleng keras.
"tidak.. aku hanya sedikit merasa lelah..dan Doyoung Please… aku hanya ingin bersama kalian sekarang.." jawabnya keras kepala, lalu membaringkan tubuhnya diatas dipasir, sejenak aku melirik Jaehyun dan Taeyong yang masih saling kejar mengejar dengan riangnya, aku menghela napas pelan lalu ikut berbaring disebelah Ten.
"rasanya sakit sekali saat kau menyuruhku untuk mati.." aku melirik Ten yang tertawa kecil.
"Tan-ah.. Maafkan aku.. aku jahat sekali saat itu" bisikku serak rasa sesal kembali mengerubungi hatiku, Ten menggeleng kecil.
"its okay Do… aku mengerti… sejujurnya aku sangat bahagia sekarang.. kita berteman lagi, Taeyong dan Jaehyun juga mulai akrab, rasanya lengkap sudah" ucapnya sambil tersenyum, aku menelan ludah getir.
"aku bahagia… benar – benar bahagia… terima kasih sudah mau bersahabat denganku.. terima kasih.." bisiknya pelan, aku tak kuasa lagi menahan airmata yang mengenang dipelupuk mataku. rasanya sakit sekali melihat dia mengatakan itu.
"aku benar – benar menyayangimu.. Doyoung-a, kalau aku bertemu Johnny nanti.. aku akan bercerita tentangmu padanya, tentang Jaehyun dan Taeyong hyung, pasti dia akan senang mendengarnya.." Aku menutup mulutku tubuhku bergetar, menahan suara isakanku yang memaksa keluar.
Ten menatap langit dengan senyum yang tak hilang dari wajahnya, ia semakin pucat saat aku melihatnya.
"bertemu.. mencintai.. bersama.. dan berpisah.. semua selalu terjadi dalam kehidupan manusia.. tak ada yang dapat menghindarinya.. dan aku benar – benar bahagia bertemu kalian" ucap Ten dengan suara lemah, aku memalingkan wajahku tak ingin melihatnya, airmata terus menetes dipipiku.
"kalau aku ingin mengucapkan semuanya… terima kasih dan selamat tinggal, itu yang dapat kuucapkan.." tubuhku semakin tergoncang Menahan isakan yang akan keluar, aku terus menutup mulutku agar suara tangisku tak terdengar.
"entah mengapa.. aku jadi sangat mengantuk.." bisik Ten pelan, aku menoleh padanya ia memejamkan matanya sambil tersenyum manis walaupun dapat kulihat setetes airmata menetes dipipinya.
Aku menatapnya dengan pedih, lalu mendudukan tubuhku kembali dengan pelan, aku menghapus airmataku, aku menoleh melihat Ten yang tertidur diatas pasir.
"aku menyayangimu Ten-a aku tak bohong aku benar – benar menyayangimu.. maafkanlah aku yang selalu egois selama ini, maafkan aku yang menyakiti perasaanmu.. dan terima kasih atas semuanya.."bisikku pelan, Ten tetap tersenyum wajahnya terlihat tenang sekali.
"yaa…. Kalian mau bergabung..?" seru Jaehyun pada kami, ia dan Taeyong sedang bermain air laut sekarang.
"tidak… aku akan menemani Ten saja.." jawabku, mereka berdua hanya mengangguk lalu mulai bermain lagi, aku menoleh pada Ten lalu menatap langit dengan senyum tersungging dibibirku.
"Ten.. kau tau, aku dulu merasa sangat menderita.. tapi tak lagi sekarang… aku bahagia.. kalian semua yang membuatku bahagia..jadil.. kumohon teruslah hidup dan menjadi sahabatku.."ucapku pelan, airmata kembali menetes.
"tetaplah hidup dan buatlah keajaiban sekali lagi.. tetaplah bersama kami.. aku mohon padamu"
"semua yang terjadi bagai mimpi untukku, semua berlalu dengan begitu cepat.. aku tak menyangka, aku akan menjadi lebih kuat seperti ini dan itu semua karena dukungan kalian,kau, Jaehyun dan Taeyong.. terima kasih" bisikku sambil tersenyum, lalu kembali menoleh pada Ten, ia tetap terpejam aku segera memperbaiki jaketku yang menyelimutinya, wajahnya pucat sekali.
Saat itu aku menyadari sesuatu…
mataku terbuka lebar, detak jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, dengan gemetar tanganku menyentuh pipi Ten, berharap yang kupikirkan sekarang tak benar.
"hey..Ten.. Ten-a" panggilku dengan suara serak, tenggorokanku terasa sakit sekali.
"Ten….. Ten.. bangunlah.."panggilku lagi,dadaku terasa begitu sesak dan tubuhku terguncang hebat.
"tidak…kumohon TEN….bangun….cepat Bangun!" jeritku keras sambil mengguncang tubuh Ten, tapi ia tak kunjung membuka matanya, airmata terus mengalir dipipiku dan aku terus menguncang tubuhnya, mencoba membangunkannya
"jangan tidur lagi.. aku mohon. Bangunlah..Please.. bangun.." isakku keras, sepertinya Taeyong dan Jaehyun mendengar jeritanku, mereka menghampiri kami dengan cepat.
"Doyoung ada apa..mengapa kau.."ucapan Jaehyun terhenti saat melihat tubuh Ten yang teta diam didalam pelukanku dan aku yang terus menangis keras mendekap tubuh Ten dengan erat.. aku menoleh pada mereka dengan tatapan hancur, tubuhku bergetar airmata membuat pandangan dan pikiranku kabur.
Jaehyun jatuh berlutut dengan tubuh lemas sambil menatap tubuh Ten dengan pandangan kosong.
Sedangkan Taeyong hanya mematung ditempat tanpa tau harus berbuat apa.
Aku terus menangis sambil memeluk erat tubuh Ten yang sudah tak bernafas,
hanya senyuman yang kini tersisa diwajah itu.
"bila aku tak ada nanti, mungkin aku akan jadi salah satu bintang dilangit itu.."
Tbc
A/n :yaaaaaaaaaaaaaaaaayyyyyyyyyyyyyyyy next adalah chap terakhir..
Maybe hahahah.. jangan lupa reviews dan sekali lagi saya mohon jangan hanya 'Next atau lanjut' sebagai reviews karena kalian menginginkan saya update tapi sepertinya maaf kalian kurang menghargai kerja saya kalau mereview seperti itu.. kadang motivasi saya untuk melanjutkan hilang bila menemukan review seperti itu.. mungkin setelah FF ini selesai saya bakal menghapus FF ini karena ada sesuatu dan lain hal.. tapi saya tetap mengusahakan memeberikan yang terbaik untuk next chap
..BTw Haechan is loveable.. kita harus support baby chan..dia bias ku setelah Doyoung walaupun aku suka semua di NCT tapi Haechan have special place in my heart, apapun yang ia lakukan kita harus tetap bersama dia selama itu ga menyakitkan orang lain atau Haechan sendiri.. Lee DongHyuck I LOVE UU
