Tittle : Tell Me What Is Wrong, Tell Me What Is LOve
Cast : Kim Doyoung (17)
Jung JaeHyun (17)
Lee TaeYong (18)
Chittaphon/ Ten (17)
"bila aku tak ada nanti, mungkin aku akan jadi salah satu bintang dilangit itu.."
"ayo kita pulang.." Jaehyun berucap lembut padaku tapi aku tak bergeming, mataku terus menatap makam dimana kini Ten terbaring.
Aku terus – terusan menghapus airmata yang bahkan tak menunjukan tanda ingin berhenti.
Dengan pelan aku mendekati eomma Ten yang masih menangis sambil mengelus foto Ten yang tersenyum.
"eomma tau..Ten.. pasti Tenny bahagiakan disana… tapi kenapa airmata ini tak juga berhenti" ucap eomma Ten dengan sedih, aku hanya menunduk, lalu memeluknya merasakan kesedihan yang sama yang kini kami rasakan, kutatap makam itu dengan rasa sesak didadaku.
"selamat tinggal Ten..selamat tinggal untuk selamanya..kami menyayangimu"
Aku menatap fhoto Mom dengan perasaan rindu, lalu perlahan memasukannya kedalam koperku.
Sudah 3 hari sejak Ten meninggalkan kami, rasanya masih susah membayangkan dia sudah tak ada, aku tersenyum sendiri saat mengingat bagaimana kami bertemu, saat itu aku menangis karena melihat wajahnya yang mirip dengan Mom.
Tiba – tiba sebuah ketukan terdengar dipintu kamarku, aku menoleh lalu menutup koperku dengan cepat.
"Ya.. masuklah.." jawabku pelan, pintu terbuka dan Jaehyun masuk , ia menatapku dalam diam.
"kau.. benar – benar akan pergi besok..?" tanyanya, sambil melirik koper yang ada dihadapanku, aku hanya mengangguk.
"kita sudah bukan suami istri lagi Jaehyun-ssi, susah bagiku untuk tetap disini, Paris adalah impianku, mungkin ini akan sangat menyedihkan bagiku… tapi aku harus menjalani hidupku sendiri mulai sekarang.." ujarku sambil tersenyum padanya, Jaehyun diam memperhatikanku. Entah apa yang sekarang dipikirkannya
"apa kita tak akan bertemu lagi setelah ini..?" tanyanya pelan, aku tercenung, itu mungkin saja,karena aku bahkan tak tau apa yang akan kulakukan setelah lulus kuliah nanti, dengan berat aku melangkah menuju balkon kamarku dan diam menatap pemandangan malam seoul yang gemerlapan, Jaehyun mengikutiku lalu menyandarkan tubuhnya dipagar balkon, sambil ikut memandang ke pemandangan malam di hadapan kami
"aku tak tahu.. setelah lulus kuliah.. aku akan bekerja, mungkin susah bagiku untuk kembali ke seoul, aku bahkan tak mungkin kembali menemui Dad.." desahku sedih.
"kau berkata seakan, ingin menghilangkan dirimu.."keluhnya pelan, aku tersenyum getir mendengar itu.
"Doyoung-a.. pernikahan kita.. rasanya berlalu dengan banyak mengorbankan orang lain ya…" aku menatap Jaehyun dengan pedih, setelah aku pergi mungkin hanya orang ini saja yang akan kurindukan, Jaehyun menoleh melihatku tapi aku segera memalingkan wajahku, rasanya airmata sudah mulai mengenang mataku.
"kita bertemu.. setelah itu kita berpisah.. banyak yang kita lalui ya.." lanjutnya. Aku berusaha tersenyum tapi yang ada hanya senyum menyedihkan.
"aku tak pernah berbohong padamu.. aku saat mengatakan mencintaimu.. aku tak pernah berbohong…" aku mengangkat wajahku dengan sedih.
Aku memang menuduhnya berbohong waktu dilaut, aku sungguh ingin percaya kalau Pria ini mencintaiku
"Doyoung-a,Aku benar – benar mencintaimu"
"aku mengerti.." jawabku pelan, Jaehyun menatap langit malam dengan senyum kecil.
"bahkan sampai saat Inipun.. aku hanya mencintaimu..." setetes airmata menetes dengan mulusnya dipipiku, rasanya ada yang begitu sakit saat dia mengucapkan itu, sakit sekali..
"aku tak tau setelah ini, apa bisa berhenti mencintaimu atau tidak, tapi aku akan mencoba bertahan.. dulu aku sempat ingin melepasmu karena sebuah janji yang kubuat dengan seseorang, tapi sekarang… aku sudah melunasi janji itu.."ucapnya seperti bicara pada diri sendiri, aku menunduk rasanya dadaku berdegub kencang saat itu.
"entah nanti kau akan melupakanku dan bertemu orang lain, menikah dengan orang lain..aku tak perduli.. karena mencintaimupun.. sudah cukup bagiku.."lanjutnya lagi, kali ini aku benar – benar terisak, aku tau semuanya membuatku dan dia terluka, kenapa kami bisa menjadi seperti ini.
Jaehyun mendekatiku, lalu menghapus airmataku dengan lembut, ia tersenyum manis sambil memegang kedua pipiku.
"aku benar – benar mencintaimu Doyoung-a, jadi kembalilah bila kau juga merasakan hal yang sama sepertiku..kembalilah nanti.. aku akan selalu menunggumu.."bisiknya lembut, aku menatapnya dengan sedih.
"a-aku Juga mencintaimu Jaehyun-ssi.. "balasku serak, Jaehyun tersenyum manis sekali, lalu perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajahku, aku memejamkan mataku dan merasakan ia menyentuhku.
Ia melepaskan ciumannya lalu memeluk tubuhku erat.
"malam ini bolehkah aku memilikimu setidaknya terakhir kali memilikimu.."bisiknya, aku terpaku sesaat, lalu mengangguk sedih.
"hanya malam ini, mari kita saling memiliki"
Aku menatap sekitarku dengan pandangan sedih, memperhatikan kamar yang pernah kutinggali beberapa bulan ini, lalu mataku tertumbuk pada Jaehyun yang masih tertidur diranjang, pipiku memerah seketika, bila mengingat apa yang telah kami lakukan semalam.
"padahal kita sudah bercerai, tapi kita melakukan itu.." ucapku pelan, lalu perlahan aku berjalan menuju Jaehyun yang tidur dengan lelapnya
.
Aku berjongkok disampingnya mengawasi wajahnya yang sedang tertidur, tanganku bergerak menyentuh rambutnya, dahinya, hidungnya lalu bibirnya, airmata langsung menetes dipipiku.
"terima Kasih Jaehyun-a, aku benar – benar mencintaimu… suatu saat bila kita memang berjodoh mungkin kita akan bertemu lagi.."bisikku, lalu mencium keningnya lembut, lalu berdiri dan mengambil koperku, aku berjalan menuju keluar kamar, tapi sejenak aku menghentikan langkahku dan menoleh pada Jaehyun, yang masih terlelap dalam tidurnya
."goodbye..goodbye My Love.." bisikku
"aku mencintaimu.. Jung Jaehyun..." bisikku pelan, lalu menghapus airmataku dan berjalan meninggalkan apartement itu.
Ini mungkin terakhir kalinya aku akan melihatmu...
Jaehyun pov
Aku membuka mataku perlahan, lalu duduk mengawasi semuanya, Doyoung.. dimana dia, bukannya semalam ia tidur disampingku.
Aku berjalan perlahan lalu membasuh wajahku, kuperhatikan wajahku dicermin sejenak, seperti ada yang terlupakan, yang memenuhi ingatanku saat ini adalah apa yang telah kami lakukan semalam.
Rasanya jantungku berdegub kencang mengingat hal itu, aku benar – benar memilikinya..
Tiba – tiba aku tersadar akan sesuatu, rasa takut mulai menjalari hatiku, aku berlari keluar dan mencari koper Doyoung.. sudah tak ada.. dengan panik aku mencari barang – barangnya di lemari juga tak ada.
"Tidak.." bisikku gugup, lalu dengan tangan gemetar aku menghubungi nomer Doyoung, tapi hanya untuk mengetahui kalau ia mematikannya.
"Tidak Doyoung… jangan lakukan ini padaku…" ucapku serak, lalu tanpa pikir panjang, aku mengambil jacketku dan berlari keluar.
Mengemudikan mobilku secepat yang aku bisa, aku berhenti di airport lalu berlari masuk dengan terburu - buru
"Doyoung-ah.. kau dimana.."ucapku kalut , rasanya hatiku sakit sekali saat ini, kenapa dia pergi tanpa mengatakan apapun seperti ini. Aku memperhatikan sekelilingku dengan gugup, tak ada tanda – tanda Doyoung, dimana dia..? aku segera berlari mencari Doyoung kesana kemari seperti orang gila, orang – orang yang melihatku tampak heran tapi aku tak peduli aku terus berlari sambil meneriakan nama Doyoung, berharap dia ada dibelakangku dan mengatakan
'aku kembali'.
Lalu terdengar suara pesawat lepas landas, dengan gugup aku menoleh melihat pesawat itu.
Itukah pesawat Doyoung..? tanpa sadar aku terduduk lemas, dengan rasa kecewa dihatiku, aku menoleh melihat pesawat itu lagi.
Sekarang dia benar – benar pergi…..
Doyoung pov
Aku mengambil nafas pelan, lalu segera memasuki rumah yang sudah sangat kurindukan itu. Dad duduk disalah satu kursi dengan pandangan dingin padaku.
"untuk apa kau kembali.., kau bertindak diluar perkataanku "ucap Dad dengan datar, aku tersenyum kecil.
"Dad itu keputusanku.. lagipula aku hanya ingin berpamitan.." ucapku pelan. Dad terdiam lalu ia menatapku dengan pandangan bertanya – tanya.
"Ya.. aku akan pergi, aku akan berkuliah dijurusan yang kuinginkan.."lanjutku lagi "Dad terima kasih untuk semuanya.. terima Kasih karena sudah membesarkanku seperti ini.. dan Terima kasih telah mengenalkan aku dengan Jaehyun, karena itu aku mendapatkan kebahagian.. mendapatkan setidaknya senyumanku kembali.." rasanya aku ingin menangis lagi, tapi aku harus kuat, aku tak boleh lemah saat ini.
"aku akan pergi mencari kebahagianku sendiri, kebahagian yang entah sudah berapa lama menghilang dariku" bisikku pelan, lalu berjalan dan berlutut dikaki Dad, dengan lembut kupeluk kakinya, rasanya tubuh Dad bergetar saat itu.
"aku benar – benar menyayangi Dad… hanya Dadlah yang kumiliki didunia ini..terima kasih Dad.." ucapku pelan, lalu segera berdiri dan menatap Dad yang memalingkan wajahnya tak mau melihatku, aku tersenyum sedih.
"selamat tinggal Dad, dan again Terima kasih untuk semuanya."ucapku lalu menundukan wajahku, dan berjalan pergi tapi langkahku terhenti dipintu, aku menoleh pada Dad yang sekarang sedang menunduk tak berbicara apapun juga.
"Dad.." panggilku pelan, Dad mengangkat wajahnya melihat padaku, aku mengambil nafas pelan.
"apakah pernah sekali saja Dad merasa aku sangat penting untuk Dad..?, apakah pernah sekali saja Dad tak menganggapku sebagai kesialan.. apakah pernah sekali saja Dad menganggapku bukan penyebab kecelakaan Mom.. dan apakah pernah Dad menyayangiku sekali saja…?" tanyaku dengan suara bergetar, aku berusaha menahan tangisku, Dad tak menjawab ia kembali memalingkan wajahnya, tubuhnya tampak bergetar hebat, aku menelan ludah getir melihat Dad seperti itu.
"selamat tinggal Dad.." bisikku lalu berjalan pergi.
Selamat tinggal semuanya..
8 tahun berlalu..
Aku melangkahkan kakiku keluar airport dengan langkah ringan. Aku berhenti sejenak lalu memperhatikan langit biru yang sudah lama tak kulihat, yang sudah lama kutinggalkan.
"seoul… aku kembali" ucapku pelan, lalu tersenyum riang, rasanya lama sekali. 8 tahun berlalu dengan begitu cepat.
Aku menghentikan sebuah taxi dan menuju sebuah tempat yang sudah lama ingin kudatangi.
"sudah sampai Tuan.." ucap supir taxi itu menyadarkanku dari lamunan, aku tersenyum lalu membayar ongkos taxi dan segera turun.
Aku menghela napas pelan, lalu memandang pemakaman dihadapanku, dengan perlahan aku berjalan menuju kesebuah makam. Melepaskan kacamataku lalu duduk disampingnya, dan meletakan bunga yang kubawa diatasnya, aku tersenyum melihat wajah gembira Pria di photo itu.
"Ten-a, aku kembali.." ucapku pelan..
"aku benar – benar merindukanmu.. 8 tahun sudah setelah kepergianmu… apa kau bahagia disana bersama Johnny..?" tanyaku sambil melirik sebuah makam disamping makam Ten, itu makam kekasihnya Johnny.
"Oh ya aku sudah menandatangani kontrak dengan seorang producer musik, sebentar lagi aku akan mengadakan sebuah konser diseoul, aku juga akan menetap disini.."ucapku pelan.
"pasti bahagia ya.. akupun juga bahagia sekarang..
"entahlah.. aku memang bahagia sekarang.. semua kesuksesan sudah kudapat.. tapi rasanya ada sesuatu yang hilang dari dalam lubuk hatiku.. mungkin dia sudah bahagia sekarang.. tapi hatiku tetap tertuju padanya…" aku tersenyum kecil saat mengucapkan itu.
Dengan lembut aku mengelus makam Ten.
"terima kasih ya… mulai sekarang aku akan selalu mengunjungimu…"ucapku pelan, lalu segera berdiri dan hendak melangkah pergi, tapi langkahku terhenti saat mataku menangkap sosok tubuh yang sedang berjalan kearahku, ia mengangkat wajahnya dan juga langsung menghentikan langkahnya saat matanya bertemu dengan mataku, bunga yang dipegangnya pun terjatuh begitu saja dari tangannya.
Lama kami terpaku saling menatap, tubuhku terasa bergetar hebat, rasa rindu yang sudah 8 tahun kupendam, mendesak keluar membuat dadaku terasa sakit.
Kami masih saling terpaku, aku menatap wajah yang juga sedang menatapku seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya, lalu dengan perlahan aku menunduk lalu tersenyum dan kembali mengangkat wajahku, dengan pelan aku melangkahkan kakiku begitupun orang didepanku, ia melangkahkan kakinya hingga kami sudah berdiri saling berhadapan.
Terasa hawa canggung disekitar kami, aku berusaha tersenyum semakin lebar, orang itu akhirnya tersenyum kepadaku, senyum yang sudah sangat kurindukan, senyum yang bahkan tak bisa kulupakan 1 detik pun selama 8 tahun ini.
"hey perkenalkan aku yang Jaehyun.. 25 tahun" ucapnya pelan suaranya terdengar bergetar sambil mengulurkan tangannya padaku, membuatku ingin tertawa.
"Kim Doyoung.. 26 tahun.. seorang pianis senang berjumpa denganmu.."ucapku sambil menyambut uluran tangannya.
Ia menggenggam tanganku lembut, lalu entah sejak kapan ia menarik tanganku hingga ia dapat memeluk tubuhku, erat sekali aku merasakan rasa rindu yang teramat sangat dari pelukan itu, aku tersenyum lalu balas memeluk tubuhnya menumpahkan rasa rindu yang sangat menyesakan dadaku selama ini.
"selamat datang Doyoung, selamat datang kembali.." bisiknya lembut sambil mengecup rambutku.
"ne.. aku kembali.." jawabku dengan senyum bahagia.
Tak perlu kata – kata atau penjelasan, kami sama – sama mengetahui kalau kami tak pernah berubah.. perasaan kami tak pernah berubah
Kami masih saling mencintai...
"yaa.. kau cantik sekali Doyoung-a.." aku menoleh melihat Taeyong yang sedang berdiri memperhatikanku dari belakang, aku tersenyum kecil.
"Aku laki – laki hyung..tapi terima kasih" jawabku tulus, lalu kembali melihat bayanganku dipantulan cermin.
Aku kembali tersenyum ini kedua kalinya aku mengenakan baju ini, tuxedo putih untuk pernikahanku hari ini.
"kau memang benar – benar cantik, tak salah aku memilihmu.. aku benar – benar..aww" Taeyong tak melanjutkan omongannya, Karena sebuah jitakan mendarat mulus dikepalanya.
"ya… apa yang kau lakukan Doyoung itu sudah menjadi istriku tau.. lagipula istrimu sedang melihatmu tuh dasar.." gerutu Jaehyun kesal, aku tertawa melihat mereka, Taeyong hanya Tertawa mengejek lalu berlari menuju istrinya yang belakangan ku ketahui bernama Yuta seorang atlit sepak bola yang berkebangsaan jepan, Yuta hanya tertawa tanpa rasa kasihan melihat Jaehyun yang sedan mengejar Suaminya dengan gemas.
"dasar… padahal sudah tua masih saja bersikap seperti anak kecil.." aku menoleh mendengar suara sinis itu, Mark sudah berdiri disampingku, ia menoleh padaku lalu tersenyum manis.
"Jung Doyoung..hemmm nama itu entah mengapa rasanya aneh sekali" ucapnya pelan, aku hanya tersenyum kecil, lalu melirik Pria imut disampingnya"Selamat Hyung, ini kedua kalinya kau menjadi ehm Jung Doyoung,
"inikah Anak yang sering kamu ceritakan di email itu..?" tanyaku penasaran, pipi Mark terlihat memerah, ia hanya mengangguk, lalu Anak disebelahnya segera mengangguk hormat padaku.
"hallo Doyoung Hyung, namaku lee Donghyuck, tapi Hyung bias memanggilku Haechan artinya bintang yang bersinar terang.." ucapnya bersemangat sambil tersenyum lebar, wahhh.. manis sekali
selera Mark memang tak jelek hehehe.
"hallo Haechanie.." jawabku balas tersenyum ramah, lalu melirik Mark yang tampak malu – malu saat Haechan mengelayutkan tangannya pada Mark.
"dia sering cemburu padamu Hyung, saat aku menceritakan tentangmu pasti dia jadi cemberut.." ucap Mark tiba – tiba sambil tertawa menggoda, Donghyuck langsung memukul lengan Mark malu, aku hanya tertawa kecil lalu menoleh kearah pintu masuk, senyumku langsung hilang begitu mengenali siapa yag sedang berdiri didepan pintu itu.
"Dad.." desisku pelan, Dad hanya tersenyum, lalu berjalan kearahku.
"lama tak bertemu… rasanya lama sekali.." ucapnya pelan, aku menunduk aku sangat merindukan Dad, aku tak pernah bertemu dia sejak, aku berpamitan dulu.
"terima kasih sudah datang kepernikahanku Dad" ucapku gugup, Dad kembali tersenyum.
dengan lembut, aku menatap Dad dengan rasa penasaran.".. ada yang Dad ingin katakan padamu.." ucap Dad
"Doyoung-ah..Dad akan menjawab pertanyaanmu dulu.. Dad tak pernah menganggapmu kesialan, rasanya canggung sekali bila Dad harus memanjakanmu.. Dad selalu menyayangimu.. Karena kau satu – satunya harta yang Dad punya didunia ini" airmata langsung jatuh b
egitu saja mendengar ucapan Dad, ucapan yang selalu ingin aku dengar, Dad memeluk tubuhku, dan mengelus rambutku lembut, lama sekali aku harus menunggu saat seperti ini..
"ehmmm.. maaf mengganggu." Aku menoleh pada Jaehyun yang sedang tersenyum pada kami, Dad juga tersenyum.
"tapi Appa, aku mau menculik istriku dulu ya.." ucap Jaehyun sambil menggenggam tanganku erat dan tanpa kusadari aku sudah diajak berlari pergi oleh Jaehyun menuju mobil, terdengar panggilan – panggilan terkejut yang memanggil nama kami berdua dari dalam gedung pernikahan.
Jaehyun melajukan mobilnya,sebentar – bentar dia menoleh padaku dengan senyumnya yang manis, aku balas tersenyum rasanya bahagia sekali saat ini, Jaehyun menghentikan mobilnya dan mengajakku kearah sebuah makam.
"yaa..! Ten-a.. yaa Johnny hyung.." panggil Jaehyun pelan dihadapan makam Ten dan Johnny.
"lihatlah ini istriku.. bagaimana dia cantikkan…?" Tanya Jaehyun lagi sambil menggenggam tanganku dan menunjukan jari kami yang mengenakan cincin pernikahan.. aku tersenyum malu mendengar ucapannya.
"pokoknya kalian disurga harus mendoakan kami… biar selalu bersama selamanya.." lanjut Jaehyun dengan nada memaksa.
"oya doakan juga kami punya 4 orang anak.." aku langsung melirik Jaehyun ngeri.
"aku mau 2 anak" sambarku cepat, Jaehyun mencibir.
"cih.. aku mau 4 anak, pokoknya anak yang pertama, kedua.. ketiga.. yang keempat…"
"yaaaa…!" jeritku keras, Jaehyun menatapku dengan cemberut.
"aku Cuma mau 2 jangan banyak- banyak..lagipula nama yang kau berikan pasti akan aneh sekali.." ucapku kesal.
"tidak harus 4.." jawabnya keras kepala.., aku menatapnya sadis.
"pokoknya 2 , kau pikir enak mengurus anak…, hanya 2 titik..!" ucapku sambil mejulurkan lidah dan berlari, Jaehyun menatapku kesal.
"yaaa…! JUNG DOYOUNG AWAS kAU.. pokoknya aku mau empaaatttt…!" seru Jaehyun sambil mengejarku, aku hanya mengembungkan pipiku mengejeknya sambil tertawa riang.
Apa kau bahagia sekarang Doyoung-a…? ne…MOM aku sangat bahagia…. Aku sudah dapat tawaku lagi sekarang.. aku bahagia..!
Author pov
Tanpa Doyoung dan Jaehyun sadari 2 sosok putih melayang- layang sedang mengawasi mereka.
"ya ampun mereka itu.. masa kejar – kejaran dipemakaman begitu, lagipula kenapa masih pakai baju pengantin seperti itu, jadi kotor kan.." ucap Ten sambil menggeleng – gelengkan kepalanya, Johnny hanya tertawa kecil.
"itu tanda mereka sangat bahagia, hehehe" jawabnya, Ten balas Tertawa
"lagipula kenapa harus bertengkar karena anak sich.., berapapun kan tak masalah.."gerutu Ten kecil, Johnny melirik Ten dengan senyum Nakal
"ya.. Ten-a, apa kau juga mau anak..?" tanyanya menggoda, Ten menatap Johnny sadis.
"kau ini.." sebuah jitakan mendarat di kepala Johnny
"kita ini sudah jadi malaikat tau… mana bisa.." jawab Ten kesal, Johnny hanya tertawa sambil meringis.
"yaaa sebenarnya kau maukan… ayo kita bikin…" ajak Johnny dengan pandangan siap menerkam, Ten mundur beberapa langkah melihat wajah Johnny yang mengerikan dan sudah siap menyerangnya itu…
"NO JOHNNNN..!
ME…._
THE END
A/N : akhirnya END JUGA ni FF... hooorrrrrrrrrrrrrrrrrrrayyyyyyyyyyyyyyyy.. tetap reviews ya semuanya.. oh ya ada yang mau epiloge untuk masing - masing pasangan, misalnya bagaimana jadiannya Yutae and Markhyuck atau cerita romancenya Johnten waktu masih dirumah sakit heheheh.. just tell me okay, bakal ditampung smeuanya...
Terima kasih udah selalu bersama Author di beberapa chaps ini.. dan buat yang reviews, follow and Fave terima kasih banyak maaf ga bisa balas semuanya... tapi semuanya sangat menyenangkan.. oh ya..
still
Please Dont be plagiat okay...ILUTM
