Sakura uchiha stivani : Thankss *kisshug* karna ada reviewes yg ngasih ide makanya bisa bagus :D review lagi yaakk

Suket alang alang : Seru dongg :3 pure friendship sih tp romance bakalan ada nyempil juga. kan ga seru kalo ga ada romance pas masa sekolah. Fic lain ga akan dianggurin kok hehe

Mencium petir : Ow tenangg, rate m ada jatahnya sendiri kok hehe ga kebayang kalo jadi saku harus tarik urat mulu haha

Uchizuma angel : Thanksss :D review lagiii

Miss m : Gone update gantian ama fic ini kok :3

Arufi rizuki yoshida : Thankss *hugkiss* bukan hanya saku loh yg kesel kalo diikutin ceritanya :3 gone update gantian dengan fic ini yaa hehe

Agastya namikaze : Siip! Reviewnya ditunggu lagii

Resa : Cuma tiga, tapi berasa kayak sepuluh orang tuh hehe apaan tuh? Romance yak? Tenang, romance pasti ada nyempil kok hehe ditunggu reviewnya lagii

Vladimir arrie : Awalnya ga OOC, entar kalo dah baca pov masing2 pasti OOC deh *ditampol* pure friendship tp nyempil romance kok, kan ga seru kalo masa sekolah ga ada romance nya hehe mereka juga ada porsi masing-masing jadi tenang aja :3

Sami haruchi2 : Ditunggu juga reviewnyaa

00 : Moga humornya ga keliatan jayus yah hehe

Michellea : Pairnya belum dipikirin nih hehe mereka baru akan masuk sekolah jadi baru kelas satu. Iya risa juga kangen ama team7, itung2 mengenang naruto kembali setelah tamat :D panggil risa ajaa, kalo goryukanda tuh cuman tim hore numpang nama *ditampol*

Hazekeiko : Thankss *kisshug* itu baru sisi saku loh, belum sisi tiga orang lainnya hoho naru polos? Belum tau aja entar km pas dia udah berulah wkwk iya, risa takutnya entar pada ngerasa mirip tuh fic soalnya temanya sama tentang persahabatan team7. Tapi kalo banyak yg suka sih risa bakalan lanjutin dong :D oke deh, ditunggu lagi reviewnyaaaa

Wildanbondil : Thanksss hehe

Dwinakwonjiyong : Ini udah lanjutttt :3
nahdia n : Thanksss *kisshug* ditunggu reviewnya lagii

Cerrystroberry : Ini diaaa

Helsidwiyana6 : Thankss *kisshug* pair blm dipikirin sih hehe ditunggu juga reviewnya lagii

Kuro : Ini udah lanjut kok hehe Makasiii :3 soal konflik, risa usahain ngena dihati dwehh

Henilusiana39 : Udah lanjutt

Sajiai atsushi : Soal pair blm dipikiri, jadi blum tau bakalan sasusaku apa bukan hehe Iya temanya friendship team7 mirip ama arlene senpai, tapi dijamin ceritanya bakalan beda kok :D thankss udah fave!

Aiko asari : Thaankksss *kisshug* iya, bosen nih ama romance mulu jadi lari ke friendship deh XD yakin nih ga ooc, soalnya entar kalo udah tau POV masing2 bakalan OOC abis hehe chap ini juga ga kalah panjang lohh :3 thankss udah fave n foll yaw!

mii-chanchan2 : Ini udah lanjuttt hehe thanksss yaww

mira cahya1 : Heyy, semua orang pnya bakat menulis kok kalo berani berkahayal. Ayo buat fic! XD

re uchiharu chan : Thanksss *kisshug* ditunggu juga reviewnya lagiii hehehe

sgiariza : Aw makassiii uda fave n reviewww dan ini lanjutannyaaa

uchiha nura : Hehe thanksss! Iya ini normal kok, risa usahain karakternya mirip manga n mngkin akan ada sdikit adegan diambil juga dari manga. Pov Sai ga akan kalah menarik deh ama tiga lainnya *dijamin!* soal kelas, risa udah ada perkiraan mereka bakal kayak mana wkwk ditunggu lagi reviewnyaaa

ananda inayati : Hey juga! thanks loh udah review lagi wkwk harus seru dong jadi kalian ketagihan *plak!* ditunggu juga reviewnya lagiii

eci nindy : Makasii XD ga janji update kilat soalnya gantian ama gone nih. Kalo tiga2nya suka ama saku, kayaknya sih agak mustahil tuh. Soal pair juga blum dipikirin *halahh* siip deh! Risa tunggu ya reviewny lagiii

Aqua : Ini udah lanjuutt

Obg : Thanksss hehe

Deoneieeeee : Makasii hehe ini lanjut kok :D harus ngikutin ya! Entar nyesel loh *ngancem*

Erza sllalucyangkmeu : Duh, kalo pair risa blum tau nih soalnya masih fokus di friendship mereka hehe iya, risa usahain mereka jadi mirip canonnya tapi ini di dunia nyata yg beda jalan cerita. Btw, thanks sarannya! Ditunggu lagi reviewnyaa

Sakurazawa ai : Akhirnya ada buat rate t hehe kalo segiempat sih kayaknya ga ada, mereka bener2 friendship gitu. belum mikir jauh sih :3 ditunggu ya reviewnya lgiii

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPOS, DLL

# # # # #

Peraturan

Sasuke POV

BANG! BANG! BANG!

Ugh, suara apa itu?

BANG! BANG! BANG!

Kubuka paksa mataku dan pertama kali yang kulihat adalah pemandangan langit yang sepenuhnya asing. Kukedipkan mataku beberapa kali untuk mendapatkan kesadaran dan ingatanku kembali dimana Itachi menyuruhku untuk hidup mandiri.

Benar, dia mengirimkanku ke sebuah rumah asing dan hidup bersama tiga penghuni lainnya yang ternyata juga bersekolah di KHS. Berita buruknya, tiga orang lainnya benar-benar menyebalkan.

BANG! BANG! BANG!

Koreksi. Semua yang ada di rumah ini menyebalkan, termasuk suara keras itu. Suara keras apa yang membangunkanku pagi-pagi sebelum jam wekerku berbunyi?!

Kusibakkan selimut yang sedaritadi menutupi tubuhku dengan kasar dan berjalan menuju pintu, dimana suara keras itu semakin terdengar dengan jelas.

"Sialan! Suara apa it-, APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Bukannya merasa bersalah, perempuan dengan warna rambut unik di depanku malah tersenyum lebar seolah tidak bersalah. "Selamat pagi, Sasuke!"

Sakura, pemilik rumah ini membangunkan kami dengan pantat panci yang dipukul dengan spatula yang terbuat dari besi. Aku tidak yakin sudah berapa lama ia memukuli panci di tengah lorong seperti ini. Bahkan kulihat dia sudah memakai apron, seakan menunjukkan ia sudah bangun terlebih dahulu.

"Kenapa kau membangunkan dengan cara barbar seperti itu, hah?!"

Sakura mengangkat alis,"Jadi kau lebih memilih aku masuk ke dalam kamarmu dan membangunkanmu? Kau kira aku ibumu?"

"Kalau kau lupa karena ingatanmu separah nenekku, ini hari LIBUR!" semprotku penuh emosi

"Apa kau tidak bisa berterima kasih saja padaku karena sudah membangunkanmu?! Setidaknya menyapa! Apa kau tidak diajari sopan santun?!" balasnya menudingku dengan spatula besi

"Berterima kasih karena membangunkanku dengan cara barbar seperti itu? MIMPI!" tukasku kasar

Sakura membuka mulut hendak membalasku lagi, tapi suara lain menyahut lebih cepat darinya.

"Pergilah ke suatu tempat untuk melakukan pertengkaran kekasih bodoh itu. Suara kalian mengganggu pagiku," Sai muncul dari balik pintu kamarnya dengan wajah masih mengantuk

Dan apa katanya tadi? Pertengkaran keka-

"Siapa yang kekasih?!" sahut Sakura tajam. "Bangun, pemalas! Mana sopan santunmu untuk menyapaku?!"

"Ya, ya. Selamat pagi jelek dan… " Sai melirikku. "Ayam emo. Aku mau tidur lagi, jadi jangan bertengkar di depan lorong."

Ayam emo?! Brengsek.

"Siapa yang kau sebut dengan ayam emo, bocah kekurangan darah?!" semprotku

"Aku tidak akan memberimu makan pagi, Sai!" ancam Sakura yang jelas-jelas tidak berguna

Sai menguap tidak peduli,"Aku akan turun setelah ini."

Dan kemudian menutup pintunya. Lihat maksudku? Sudah kuduga kalau bukan hanya Sakura yang membuat pagiku berantakan dan kacau. Bahkan pria pucat yang selalu tersenyum dengan aneh itu juga ikut-ikutan membuat semuanya tambah hancur.

Untung saja satu pria lagi belum muncul dan kupastikan akan semakin membuat semuanya menjadi tidak karuan.

BANG! BANG! BANG!

Aku menoleh sambil menutup telinga,"Hentikan! Apa kau tidak tahu betapa mengerikannya suara itu?!"

Sakura berhenti memukul dan melirikku,"Naruto belum bangun, berarti suara ini tidak terlalu mengerikan. Kau saja yang terlalu sensitif."

"Aku tidak sensitif!" sahutku tidak terima. "Sial, biar kubangunkan pria bodoh itu dengan cara yang lebih normal! Tidak sepertimu yang seperti akan membangunkan para sapi!"

Meninggalkan Sakura, aku bergerak ke arah kamar mandi dan mengambil ember kosong yang disediakan dan kuisi dengan air dingin. Setelah penuh, tanpa membuang waktu aku segera berjalan menuju kamar Naruto yang tidak terkunci dan membukanya begitu saja.

Mataku langsung membulat melihat keadaan kamar Naruto, bahkan ember penuh berisi air yang kubawa hampir tumpah karena terkejut melihat keadaan kamar ini.

"Astaga! Kenapa Naruto tidak membereskan semua ini?!" teriak Sakura dari belakang tubuhku

Baju dimana-mana, buku berantakan dimana-mana, bahkan ada sepeda gunung di sudut ruangan! Apa-apaan dia, apa dia pikir kamar adalah gudang? Oh, masa bodoh.

Aku berjalan sambil membawa ember tanpa memperdulikan pakaian dan buku yang bertebaran di lantai dan berjalan mendekati manusia pemilik kamar ini yang masih tidur sambil tersenyum bodoh dengan perut yang terbuka karena salah satu tangannya masuk ke dalam piyama miliknya.

Heh, sebentar lagi dia tidak akan bisa tersenyum seperti itu. Sebenarnya aku tidak ingin melakukan ini, tapi aku tidak tahan dengannya yang masih saja bisa tidur di tengah suara berisik yang diakibatkan oleh Sakura. Anggap saja ini pelampiasan rasa kesalku.

"Sasuke! Apa yang akan kau lakukan?!"

"Tentu saja membangunkannya!" jawabku mengangkat ember

"Jangan! Kau akan membuatnya marah-"

BYUURRRR!

"UWWAAAAAAAAAAA! Dingin! Dinginnnn!"

Terlambat, Sakura.

Naruto langsung terbangun dan meloncat turun dari tempat tidurnya saat kusiram dengan air dingin dari ember hingga kosong. Saat ini, bukan hanya tubuhnya yang basah kuyup. Tapi ranjangnya pun sampai basah karena air yang kusiramkan.

Aku tersenyum puas,"Bangun juga kau."

Naruto langsung menatapku tajam,"APA MASALAHMU, BRENGSEK?!"

"Setidaknya caraku membangunkan tidak barbar seperti dia," tunjukku pada Sakura

"Caramu ini lebih tidak manusiawi, bodoh!" balasnya tidak terima

"Apa kau tidak bisa membangunkanku dengan cara lebih normal?!" Naruto menatapku tajam sambil membuka piyama atasannya

Aku berdecak,"Kuputuskan cara normal tidak akan bisa untukmu. Apa kau tidak mendengar Sakura yang daritadi memukul pancinya?"

Naruto mengeryit menyadari Sakura yang masih membawa panci dan spatulanya,"Sakura-chan kenapa memukul panci?"

"Lihat?" sahutku kesal. "Kau tidak mendengarnya! Kau itu mati apa tidur, hah?"

"Apa maksudmu, sialan?!" geram Naruto

"Oh, bagus. Sekarang bertambah satu lagi yang ikut dalam pertengkaran bodoh ini," sahut Sai tiba-tiba muncul

Naruto menuding Sai,"Pertengkaran bodoh apa maksudmu, hah?!"

Aku menghela nafas dan berbalik,"Sudahlah. Aku mau balik tidur."

"Tunggu!" Sakura menahanku. "Tidur? Ini sudah jam tujuh! Mandi dan turun ke bawah, sarapan sudah siap!"

Wajah Naruto langsung cerah,"Sarapan sudah siap?! Aku duluan yang mandi!"

Naruto melewatiku sambil menatap kesal dan menggumamkan makian padaku sebelum akhirnya keluar dari kamar. Dasar, bukan ini bukan itu. Apa penghuni rumah ini tidak ada yang normal?!

"Aku mau tidur mengganti jam yang hilang karena dibangunkan oleh cara barbar," ujarku keluar dari kamar Naruto

"Tapi sarapannya sudah siap!" Sakura masih ngotot

"Kau membuat apa memangnya sih?"

"Roti panggang, telur mata sapi dan sosis!"

"Simpan untuk nanti," ujarku tidak perduli dan melangkah pergi

Sebelum kututup pintu kamarku, suara Sakura kembali terdengar. Kali ini karena Sai yang lagi-lagi mengomentari masakannya meskipun belum dicicipinya. Entah pria itu memang bermasalah dengan caranya berbicara atau caranya bergaul, yang jelas otaknya pun bermasalah. Ia bahkan menyebutku ayam emo!

Memangnya salahku rambutku mencuat seperti ini? Dan apa-apaan dengan panggilan emo itu. Apa aku terlihat kelam seperti pria-pria yang selalu memakai warna hijau atau hitam? Menyebalkan sekali.

Krrriiiingggg

Kulirik jam weker milikku yang tiba-tiba berbunyi nyaring. Ternyata sudah jam delapan, waktu bangunku saat libur. Sial, andai saja Sakura membangunkanku jam segini dan bukan jam tujuh. Aku tidak perlu marah-marah seperti tadi dan melampiaskannya pada Naruto.

Kumatikan wekerku dan kuatur kembali hingga jam sembilan tepat. Satu jam sudah cukup untukku mengganti jam tidur yang hilang. Sarapan? Tidak perduli jam berapa, yang penting aku bisa makan dan memuaskan perutku.

.

"Mana sarapanku?" tanyaku seusai mandi dan turun ke meja makan namun tidak mendapatkan apapun di meja makan.

Kulihat Sakura duduk di sofa bersama Sai dan Naruto di depan tv. Meskipun begitu, hanya Sakura dan Naruto yang menonton acara tv. Sedangkan Sai hanya duduk dan fokus membaca buku tebal di tangannya.

Sakura menoleh,"Dapur. Akhirnya kau bangun juga, heh."

"Yaa, berkat seseorang yang membangunkanku dengan cara bodohnya," sindirku

"Mana yang lebih bodoh dengan menyiramku dengan air dingin?" sahut Naruto tajam

Aku memutar mata, memutuskan untuk mengabaikan Naruto dan mengambil makananku yang berada di dapur, tertutupi oleh plastik dan membawanya ke depan tv. Lebih baik makan sambil menonton daripada bengong sendirian di meja makan, bukan?

"Tunggu, kau mau makan disini?" Sakura menatapku yang membawa piring sarapan

Aku menaikkan alis,"Memangnya kenapa?"

"Makan di meja makan!" ujarnya menunjuk meja makan

Aku duduk di sebelah Sai yang fokus membaca buku, tidak memperdulikan ucapan Sakura sambil mencomot sosis panggang yang sudah dingin. Kulihat tv yang menampilkan acara membosankan, komedi. Aku tidak mengerti acara seperti itu, berbuat bodoh atau melemparkan lelucon agar orang lain tertawa.

Menjatuhkan harga diri saja.

"Sepertinya, kita perlu peraturan."

Sakura tiba-tiba mencetuskan hal yang paling tidak masuk akal. Aku langsung berhenti mengunyah dan memandang tidak percaya pada perempuan berambut merah muda itu. Dan bukan hanya aku, bahkan Naruto dan Sai juga.

"A-apa maksudmu, Sakura-chan? Peraturan? kita tidak perlu itu!" Naruto berusaha mencari alasan

Sai mengangguk setuju,"Kau seperti ibu-ibu saja, jelek."

Sakura mendengus keras,"Itu karena kalian sama sekali tidak mempunyai disiplin! Meskipun kita tinggal bersama dan tidak ada orang tua, bukan berarti kita bisa seenaknya!"

Bahu Naruto merosot kecewa,"Tapi, tapi, ini kan hanya karena kita menikmati hari libur sebelum masuk sekolah!"

"Jangan beralasan, Naruto! Aku tidak percaya padamu setelah melihatnya pagi ini. Aku sudah menyuruhmu untuk membereskan kamar semalam dan lihat tadi pagi, sama sekali tidak ada perubahan!" omel Sakura

Sai menutup bukunya,"Aku tidak akan mengikuti peraturan itu."

Sakura mengangkat alisnya tertantang,"Dan kenapa begitu?"

"Karena aku tidak mau," jawab Sai datar

"Kau harus mau karena kau tinggal disini!" sahut Sakura menunjuk Sai dengan remote di tangannya

Aku berdehem,"Peraturan apa yang kau maksud disini?"

Sakura menyandarkan punggungnya pada sofa,"Hmm… kalau dipikir-pikir, peraturan yang dibuat akan banyak sekali-"

"Sebutkan apa saja," tantangku

Aku bisa melihat Naruto yang melotot padaku dan Sai yang menatap tajam meskipun wajahnya datar, seolah menuntutku untuk diam dan tidak membiarkan Sakura semakin mempersulit situasi untuk tiga tahun ke depan.

Tapi, hey! Aku juga tinggal disini, yang berarti mulai sekarang rumah ini akan menjadi rumahku juga selama tiga tahun ke depan! Bahkan keluargaku sudah membayar mahal untuk itu! Tidak mungkin aku bisa diam saja dan kita lihat, seperti apa peraturan yang akan Sakura berikan.

"Pertama," Sakura mulai menyebutkan. "Kita semua harus bergantian belanja, memasak dan membersihkan rumah. Maksudku, mengurus rumah."

"T-tapi… aku tidak bisa memasak, Sakura-chan… " gumam Naruto lemas

"Tenang saja, aku akan menyiapkan buku resep untukmu!" Sakura menjelaskan

Naruto menunduk,"Bagaimana kalau nanti masakanku tidak enak?"

Sakura menggeleng,"Pasti enak! Kalau kau mengikuti apa yang kutulis dan melihat bahan makanan yang dibawakan oleh petugas belanja, kau pasti bisa!"

"Lalu, apa yang kedua?" tanyaku

"Bangun pagi dan sarapan jam tujuh di hari libur dan minggu. Jika sekolah dimulai, bangun setengah enam dan sarapan setelah kalian mandi," ucapnya

Sai menghela nafas,"Apakah harus?"

"Err… Sakura-chan, aku paling tidak bisa bangun pagi… " Naruto berkata takut-takut

"Oh? Sepertinya kau lebih suka caraku membangunkanmu tadi pagi, Naruto."

Naruto menggeram,"Awas saja kau berani melakukannya lagi!"

"Sasuke, Hentikan itu atau kau akan bertugas membangunkan Naruto setiap hari," tegur Sakura kemudian melirik Naruto yang terlihat terkejut. "Tentu saja dengan cara normal."

"Ini konyol. Sarapan dan bangun pagi dalam peraturan itu tidak masuk akal," cemoohku membuang muka

Sakura melemparkan bantal sofa yang sedaritadi ia peluk saat kukunyah telur mata sapi hingga hampir saja kumuntahkan keluar. Kupandangi perempuan berambut aneh itu dengan kesal.

"Kenapa kau melemparku?!"

"Dengar ya!" Sakura menunjuk satu persatu. "Aku pemilik rumah ini, aku harus menjaga kesehatan kalian! Aku yakin, kalian memiliki hidup tidak sehat yang harus kalian perbaiki!"

"Hidupku cukup sehat," timpal Sai

Sakura mengangkat alis sambil memperhatikan Sai,"Tidak mungkin. Kalau kau sehat, kau tidak akan sepucat itu!"

Aku memutar mata,"Terserahlah. Ada lagi?"

Meletakan tangan di dagunya, Sakura berpikir keras untuk mencari peraturan apa lagi yang akan ia terapkan untuk kami. Aku mulai berpikir, Sakura sudah lebih dari siap untuk menjalani rumah tangga dari gadis seumurannya manapun.

"Terakhir, untuk saat ini. Kalian boleh melakukan kegiatan apapun, asal tidak menganggu. Dan jika kalian ingin keluar, kalian harus pulang kurang dari jam makan malam!" tegasnya

Naruto mengeryit,"Jam makan malam itu… jam berapa?"

"Tujuh," jawab Sakura

"Dan bagaimana jika salah satu dari kita memiliki urusan di luar dan tidak bisa menjalani tugas yang kau berikan atau makan malam?" tanyaku

Sakura mengeluarkan sesuatu dari kantongnya,"Pernah dengar teknologi yang bernama ponsel?"

Aku melengos,"Benar juga."

"Hubungi aku atau salah satu penghuni, maka akan ada yang menggantikan tugasmu,"sambung Sakura

Naruto mengerucutkan bibir,"Kita tidak bisa bermain hingga malam?"

"Tidak," tegas Sakura dengan nada final

Sai menghela nafas,"Menyusahkan sekali."

"Oh, bagaimana jika ada teman kita ingin mengunjungi?" tanya Naruto

"Bawa ke kamarmu dan berusaha untuk tidak menganggu penghuni lainnya," jelas Sakura

Aku berdecak,"Tidak. Kita tidak boleh membawa siapapun kemari, kecuali keluarga."

Sakura, Naruto dan Sai mengeryit bersamaan sambil menatapku dengan pandangan bertanya-tanya. Oh, ayolah. Jangan katakan mereka tidak sadar apa yang kumaksud?

"Kita akan menjadi murid KHS bersama-sama dua hari lagi. Apa kalian tidak masalah jika gosip tentang kita semua tinggal seatap akan menyebar?"

Sakura mengangguk setuju,"Benar juga. Kita tidak boleh ketahuan oleh siapapun jika kita tinggal bersama."

"Atau kita akan bersama-sama dikeluarkan," sambung Sai

"Aku tidak mau itu," gumam Naruto

Aku menghela nafas puas dan melanjutkan makan,"Bagus. Kalau begitu, diputuskan kita tidak akan mengatakan pada siapapun tentang tinggal bersama dan tidak ada yang boleh membawa teman ke rumah ini."

Setidaknya, aku bisa tenang karena tidak akan ada suara-suara berisik yang bertambah jika salah satu dari teman Naruto, Sakura atau Sai datang.

"Baiklah!" Sakura tiba-tiba berdiri dengan bersemangat. "Sebagai teman untuk tinggal seatap, mari bercerita tentang diri masing-masing!"

"Ow yeaaahh!" Naruto berdiri sambil berteriak. "Aku setujuuu! Dimulai dari Sakura-chan!"

"Kenapa harus aku?!" protes Sakura

"Dimulai dari yang terjelek kemudian teridiot," sahut Sai menunjuk Sakura dan Naruto

Naruto menggeram,"Apa katamu, Sialan!?"

Sakura kembali melemparkan bantal sofa,"Tarik kata-katamu! Aku memutuskan dimulai dari yang paling pendiam diantara kita!"

Aku menghela nafas. kutarik kata-kataku tentang ketenangan, cukup dengan mereka bertiga saja aku sudah merasakan kalau ketenangan itu harus kudapatkan dengan susah payah.

"Kau, Sasuke! Ayo katakan tentang dirimu!" Sakura menunjukku

Naruto mengangguk,"Benar! Kau terlalu pendiam dan serius! Katakan sisi lainmu, ah tidak. sisi liarmu sebagai pria!"

Sai menoleh sambil tersenyum aneh,"Setuju. Dimulai dari ayam emo yang pendiam."

Brengsek.

"Tidak ada yang perlu kukatakan tentang diriku," ujarku menyelesaikan sarapan

"Ck, tidak seru!" Naruto mencibir sambil melirikku curiga. "Atau kau… jangan-jangan seorang… "

Aku mengangkat alisku,"Seorang apa?"

Naruto menoleh pada Sakura yang entah kenapa sudah menutup mulutnya,"Oh, kau seorang itu?"

Aku mulai kehabisan kesabaranku,"Seorang itu apa, hah?!" awas saja kalau mereka berpikir yang aneh-aneh tentangku

Kali ini Sakura menoleh pada Sai yang masih tersenyum dengan aneh padaku,"Kau seorang nerd aneh yang emo, benar?"

"Benar! Kau pasti tipe nerd yang aneh itu!" tuding Naruto

Sakura menggelengkan kepalanya,"Maaf Sasuke. Seharusnya aku tahu itu dan tidak memaksamu berbicara. Kau pasti lebih suka diam dan bercerita di buku daripada dengan kami, bukan?"

"Heh, Nerd yang aneh. Bukan hanya emo dan ayam," timpal Sai

Buf!

Aku melempar bantal sofa yang tadi dilempar oleh Sakura pada Naruto,"AKU BUKAN NERD, EMO ATAU AYAM ANEH!"

Apa yang mereka pikirkan sebenarnya? Kenapa mereka bisa berpikir aku nerd yang aneh? Apa aku memakai kacamata, berpakaian ketinggalan jaman dan terlalu pendiam lalu menjauhi pergaulan?

Oh, mungkin aku akui yang terakhir. Aku tidak suka keributan atau kerumunan para manusia berisik. Tapi bukan berarti aku nerd yang aneh, bukan?!

"Oh, kau bukan?" tanya Sakura masih sangsi

Naruto menggeleng,"Aku tidak percaya. Kau terlalu pendiam, terlalu suka menyendiri dan menyebalkan."

Sai mengangguk setuju,"Dan style rambutmu terlalu seperti-"

"Bagaimana dan seperti apa diriku, itu terserahku. Bukan urusan kalian," cetusku kasar

"Lihat?" Naruto menudingku. "Itu ucapan para nerd aneh-"

"DIAM, NARUTO!" potongku dengan nada final

Aku tidak tahan lagi jika harus bergabung dengan mereka. Aku memutuskan untuk pergi dari tempat itu sambil membawa piring bekas sarapan yang sudah kuhabiskan. Telingaku butuh istirahat dan otakku menuntutku untuk tidak bergabung dengan mereka untuk sementara. Tidak, kalau bisa untuk sementara meskipun aku tahu itu mustahil.

"Aaah! Kau melarikan diri!" Naruto berteriak sambil tertawa mengejek

"Biarkan saja, biasanya para nerd suka menyendiri kok," timpal Sakura tertawa

Dan yang terakhir kudengar adalah Sai yang menyahut setuju dengan mereka. Ini baru hari pertama, kenapa rasanya akan sangat menyiksa untuk menyambut tiga tahun ke depan? Bahkan sekolah belum dimulai saja aku sudah ingin cepat-cepat pergi dari sini.

Sial, ini semua gara-gara Aniki bodoh yang mendapatkan informasi tentang rumah ini entah darimana kemudian memaksaku untuk tinggal disini. Andai saja ia tahu bagaimana keanehan para penghuni rumah ini, ia pasti mengerti.

"SASUKEEEE!"

Aku bisa mendengar teriakan Naruto, pria pirang yang bersuara cempreng dan berisik itu memanggilku. Jangan harap aku mau kembali ke ruangan itu dan menerima ejekan mereka lagi mengenai rambut dan sikapku.

"Heyyy, Sasukeeee!"

Kali ini Sakura memanggilku, ikut-ikutan Naruto. Perempuan itu juga, entah dia sadar atau tidak, sifat urakan pria pirang itu sudah menular dengan cepat pada dirinya. Semoga saja Sai tidak ketularan juga, pria dengan senyum palsu dan mulut pedas itu sudah cukup membuatku tidak menyukainya.

"Sasuke! Kami memanggilmu dan kau tidak menyahut? Jangan bilang kau ngambek?!" Naruto mendatangiku yang sedang sibuk mencuci piring

Aku tidak ingin menjawabnya. Meskipun aku ingin sekali mengatakan padanya kalau aku tidak sekanak-kanakan yang ia katakan, ngambek.

"Oi, kau benar-benar ngambek soal tadi?" kali ini Naruto berjalan mendekatiku

"Aku tidak ngambek!" desisku

"Oh ayolah, kami hanya menggodamu tadi!" sambungnya tidak mendengarkanku

Aku memutar mata,"Dengar. Kalian mau mengatakan apa atau berbuat apa, itu terserah kalian. Aku butuh ketenangan."

Dan bukannya mendengarkan, Naruto malah dengan cuek merangku bahuku dengan lengannya sambil tertawa,"Ucapanmu seperti kakek-kakek! Kau harus lebih sering bergaul dengan kami yang seusiamu!"

Naruto menyeretku dari dapur kembali ke ruangan dimana Sai dan Sakura terlibat adu mulut. Kutebak, Sai pasti mengatakan sesuatu yang membuat darah Sakura langsung memanas.

"Awas kaauuuuu!" Sakura menarik lengan bajunya, seolah bersiap untuk meninju

"Jangan perlihatkan lenganmu yang gemuk itu. Tidak enak dipandang," Sai mengomentari

Sakura terlihat benar-benar kehilangan kesabaran dan melayangkan tinju ke Sai, namun pria pucat itu dengan cepat menghindari hingga tinju Sakura hanya mengenai sofa yang empuk. Melihat itu, aku dan Naruto hanya bisa berdiam diri sambil memandang amukan putri pemilik rumah yang kami tempati.

"Jangan menghindar! Biar kuberi pelajaran tentang mulutmu yang-"

"Wa, waaaa! Sakura-chan, ada apa ini?" Naruto menengahi

Sakura menoleh,"Oh. Akhirnya kau kembali membawa si emo ayam itu."

Aku berdecak,"Berhenti memanggilku seperti itu, pinky!"

"Kau ingin merasakan tinjuku?!" balasnya menunjukkan kepalan tangan

"Waaaa! Stop, stop! Seharusnya kita saling menjaga satu sama lain dan berusaha akrab, bukan?" Naruto menengahi kembali

Sai menghela nafas sambil memperbaiki posisi duduknya kembali,"Ini akan sia-sia saja."

Naruto menuding Sai,"Ini gara-gara kau! Apa yang kau katakan pada Sakura-chan, hah?!"

Aku memutar mata bosan,"Baru saja kau mengatakan untuk berusaha akrab dan lihat apa yang kau lakukan."

Menyadari sindiranku, Naruto yang tadinya emosi langsung nyengir lebar sambil menggaruk kepalanya yang aku yakin, sama sekali tidak gatal.

"Hehehe… abisnya, Sai tidak sopan dengan perempuan sih."

"Alasan," gumamku

Sakura menghela nafas,"Oh baiklah. Sasuke, kami tadi hanya bercanda. Jadi kembalilah duduk bersama kami."

Aku mengangkat alis,"Kenapa harus?"

"Karena kita akan kembali membahas dirimu!" sahut Naruto membuatku melotot

"Konyol," cemoohku bermaksud meninggalkan ruangan, tapi Naruto dengan cepat menarikku kembali untuk duduk di sofa

"Oh ayolah, Sasuke! Kita harus mengakrabkan diri sebagai sesama penghuni! Katakan apa yang perlu kami tahu tentang dirimu, agar kau tidak perlu melempar seember air dingin padaku!"

Aku mendengus,"Kau menyindirku?"

Naruto memamerkan seringaiannya,"Tentu saja tidak. Aku hanya memberi contoh."

"Mungkin lain kali aku akan mencobanya dengan air panas kalau kau tidak suka air dingin," timpal Sai

"Jangan coba-coba!" ancam Naruto

Sakura menjatuhkan diri ke sofa,"Kami menunggumu, Sasuke! Katakan tentang dirimu!"

Aku mengangkat bahu,"Kalian melihatku seperti apa, itulah aku. Selesai."

"Ya, aku tahu kau. Ayam emo yang penyendiri," Sai tersenyum palsu padaku

"Giliran kau, pria dengan senyum palsu. Ceritakan tentang dirimu!" tudingku menahan emosi

Naruto mengangguk setuju,"Benar. Kau suka sekali menghina orang, aku ingin tahu tentang dirimu dan apa yang kau pikirkan."

Melipat tangannya, Sakura tersenyum sinis pada Sai. "Aku tahu dia. Pelukis misterius yang memenangkan penghargaan se-Konoha. Tadinya aku heran kenapa tidak ada wartawan yang menggali informasi tentang dirinya. Tapi bisa kutebak, itu karena sifatnya."

Aku mengeryit,"Pelukis?"

"Pria bermulut pedas ini?" Naruto menunjuk Sai tidak percaya

"Kalian tidak percaya? Aku membacanya dari majalah," Sakura menunjukkan majalah yang kemarin ia baca

Aku dan Naruto menoleh pada Sai yang membalas dengan senyuman palsu lagi. Pria itu benar-benar tidak seperti pelukis atau seniman. Biasanya para pelukis akan berambut panjang, memiliki cara berbicara yang nyentrik.

Walaupun Sai juga nyentrik dalam hal lain, seperti caranya yang mengomentari penampilan atau orang itu sendiri.

"Kau melukis apa?" tanya Naruto antusias

Sai menatap datar, tidak berniat menjawab sama sekali.

"Hey! Aku bertanya padamu-"

"Yang jelas aku tidak melukis manusia seperti dirimu," Sai tersenyum tidak berdosa

"KAUUU!" Naruto menggeram, dengan cepat melemparkan bantal sofa yang ternyata melesat mengenaiku. "Oops, maaf Sasuke."

Sai menoleh,"Bukan salahku."

Aku mengambil nafas dalam-dalam, meremas bantal sofa yang sudah dua kali dalam satu hari ini mengenaiku. Pertama Sakura dan sekarang Naruto. Aku berharap untuk yang ketiga kalinya, Sai tidak ikut-ikutan perilaku bodoh mereka.

"Aku mau menambahkan peraturan," ucapku lambat-lambat. "Tidak ada lempar bantal ke sesama penghuni."

Sakura mendengus,"Peraturan konyol apa itu?"

"Benar, Benar! Aku sudah meminta maaf barusan, bukan? Dan aku tidak sengaja melemparnya ke arahmu yang duduk bersebelahan dengan Sai!" protes Naruto

Buff!

Aku melemparkan bantal sofa yang tadinya dilemparkan padaku ke Naruto. Senyuman penuh kepuasan terukir di wajahku saat melihat Naruto yang wajahnya sudah memerah, entah karena marah atau karena bantal yang kulempar tepat mengenai wajahnya.

"Ah, maaf. Aku mau mengembalikan bantal itu dan malah mengenai wajahmu," kilahku santai

"Bohong! Kau barusan tersenyum dengan licik, brengsek!" Naruto melemparkan kembali bantal sofa yang mengenai wajahnya

Kali ini aku menghindar, tetapi sayangnya bantal itu malah melesat melewatiku dan malah mengenai Sai yang daritadi hanya diam melihat kami. Pria itu tidak mengeluarkan ekspresi sama sekali saat bantal itu mengenai kepalanya, bahkan malah diam menatap bantal sofa yang kini di tangannya.

"Hentikan lempar-lemparan ini," Sakura berkata. "Kalian seperti anak-anak saja-"

"Bukannya kau yang mulai duluan?" Sindirku mengingat lemparan pertama untukku adalah wanita berambut merah muda itu

Sakura nyengir tidak bersalah, aku mendengus dan melirik Sai yang masih saja diam memperhatikan kami dan sudah meletakkan bantal yang menjadi senjata lempar kembali pada tempatnya, di sofa.

"Hey, Sakura-chan!" Naruto tiba-tiba membuka suara. "Jadi apa akan ada hukuman jika kita melanggar salah satu peraturan?"

Oh, ide bagus.

"Aku menyarankan ada. Terutama untuk peraturan yang barusan aku ajukan," sahutku

"Tapi kau juga ikutan melempar, Sasuke," timpal Sai

Sakura tertawa,"Hahaha! Benar, kau juga ikutan!"

Aku mengerang,"Terserahlah. Jadi, apa hukuman yang pantas?"

"Kuharap hukumannya tidak berat," gumam Naruto melirik Sakura penuh harapan

"Apa gunanya hukuman kalau tidak berat, bodoh?"

Tidak masalah apapun hukumannya karena aku tidak akan melanggar satupun dari peraturan yang sudah dibuat. Lagipula, dua hari lagi sekolah akan dimulai. Sakura, Naruto maupun Sai pasti akan melupakan peraturan konyol di rumah ini dengan kesibukan sekolah.

"Aku sudah memutuskannya!" Sakura tiba-tiba berdiri dengan semangat, sambil tersenyum licik pada kami

Ugh, firasat buruk?

"Jadi… hukuman apa yang kau pikirkan, Sakura-chan?" tanya Naruto was-was

"Hukumannya adalah menjadi pembantu selama sehari!" cetusnya dengan senyum lebar

"APAAA?!"

Naruto berteriak, jelas. Tapi aku dan Sai hanya bisa membulatkan mata kami yang berwarna sama. Dan aku yakin, dibenak kami semua menjadi pembantu untuk rumah sebesar ini walau hanya dalam sehari pasti sangat melelahkan.

Bukan hanya dengan tugas konyol yang diwajibkan, sekarang hukuman yang diberikan pun terdengar konyol untukku.

"Pembantu itu… maksudmu menjadi pesuruh?" tanya Sai

Sakura mengangguk mantap.

"Jadi, selama sehari itu harus mengerjakan tugas-tugas di rumah ini?" tanyaku

Lagi-lagi, Sakura mengangguk mantap.

"Sakura-chan… aku tidak akan sanggup!" Naruto merengek

"Karena itulah kalian tidak boleh melanggar peraturan itu!"

Aku mendengus dan berdiri,"Aku tahu cara untuk tidak melanggarnya. Jauh-jauh dari kalian semua dan menyendiri di kamar."

Sebelum berbalik, sekilas aku melihat Sakura tersenyum sambil mengangkat alisnya sambil berkata,"Tak kusangka… kau pengecut."

Aku berhenti melangkah dan menoleh,"Apa?"

"Sakura-chan?" Naruto melirik Sakura waspada

"Ini akan menjadi menarik," Sai mengomentari

Sakura berdiri dari tempatnya, berjalan mendekatiku sambil tersenyum dan menunjuk ke dadaku. Menusukkan jarinya yang memiliki kuku panjang.

"Kubilang, kau pengecut. Melarikan diri dari kami hanya karena peraturan? Ha, apa benar kau pria di balik celana panjangmu itu?"

Aku tahu perempuan ini memprovokasiku, tapi meragukan mental seorang pria? Jangan pernah lakukan itu.

"Kau sendiri?" aku menaikkan alis menatap tubuhnya. "Apa benar kau seorang wanita di balik kaosmu itu?"

Wajah Sakura memerah, ia memeluk tubuhnya dengan perasaan terlecehkan oleh kalimatku. Ini kali kedua ia kulecehkan dan aku sama sekali tidak merasa bersalah akan hal itu.

"Sasuke! Apa yang barusan kau katakan pada Sakura-chan, Hah?!"

Aku melambaikan tangan tidak perduli dan berjalan menuju tangga. Bersama mereka hanya akan membuatku terlihat konyol. Aku yakin Aniki akan merasa sangat puas tertawa jika melihatku menderita seperti ini.

"HEY, SASUKE! PERATURAN TAMBAHAN, TIDAK BOLEH ADA PELECEHAN LAGI!" Teriak Sakura saat aku menaiki tangga

"Ya, ya. Kau juga," sahutku malas. "Panggil aku jika makan siang sudah siap."

Setelahnya, aku tidak peduli dengan omelan apa yang masih diteriakkan oleh Sakura karena aku sudah berada di kamarku, mencari dimana pemutar musik dan merebahkan diri di tempat tidur. Kulirikkan onyx ku pada jam weker yang masih menandakan makan siang masih lama.

Bersama tiga orang di rumah yang sama memang melelahkan, aku berharap kami tidak akan sekelas atau kelas kami berjauhan sekalian agar tidak saling tegur sapa atau aku harus dua puluh empat jam bertemu dengan mereka.

Aku akan gila jika hal itu benar-benar terjadi.

# # # # #

TBC

Err, humornya udah terasa belum? Atau terkesan gimana gitu karna sejujurnya risa agak canggung membuat empat tokoh utama dalam satu fic. Tapi demi readers, apa sih yang ngga asal dikasih review, fave n foll? *modus*

Next chap! Kehebohan akan bertambah dua kali lipat!