FRENEMIES

.

CHAPTER 3 : Cat

.

Disclaimer : Naruto characters belong to Kishimoto-sensei

Warning : AU, OOC, TYPOS, ETC…

# # # # #

Sai POV

"Lihat anak itu, kasihan sekali sendirian. Ayahnya kan masuk penjara-"

"Ssssh! Kita tidak boleh membicarakannya!"

"Tapi dia sendirian-"

"Apa kau tidak tahu?! Anak pembunuh kemungkinan besar akan membuat anaknya menjadi pembunuh juga!"

"Benarkah?"

Tidak. Itu tidak benar!

Aku bukan pembunuh seperti ayah! Aku pelukis, aku suka melukis! Aku tidak akan menumpahkan emosiku pada orang lain dan melukai mereka seperti ayah!

Aku berbedaaa!

Hah!

Nafasku memburu tidak beraturan. Lagi-lagi aku harus bermimpi hal yang sama setiap kali kubiarkan diriku terlelap terlalu lama. Dan aku membenci ingatan yang terbawa ke dalam mimpi.

Krrriiiingggggggg

Aku melirik jam wekerku yang baru saja berbunyi dan segera mematikannya. Kurenggangkan tubuhku beberapa detik sebelum menata tempat tidur dan mengambil pakaian di lemari. Mungkin hari ini aku akan berjalan-jalan ke suatu tempat, mencari pemandangan yang membuat rileks dan melukis disana.

Atau keributan dari para penghuni di rumah ini akan membuatku pusing. Sebenarnya, mereka tidak terlalu buruk. Aku cukup suka dengan suasana dimana kami, sebagai remaja yang sangat berbeda satu sama lain tinggal bersama.

Hanya saja, mood ku selalu memburuk setiap kali bermimpi hal yang sama berulang kali. Dan yang biasa kulakukan saat moodku buruk adalah melukis daripada berbicara dengan orang lain. Kanvas yang kosong lebih menerima apapun daripada manusia dan segala emosinya.

Kulangkahkan kakiku keluar kamar dan mematung sejenak saat mendengar suara keras dari luar pintu yang belum sempat kubuka.

"Aku yakin, dia itu mati. Bukan tidur!" kudengar suara Sasuke yang sedang berdebat

"Dengar, Uchiha!" kali ini suara Sakura menyahut. "Bangunkan dia baik-baik sebelum kalian bertengkar lagi seperti sebelumnya!"

"Kami tidak bertengkar-, Oh terserahlah!"

Dan setelahnya kudengar suara pintu ditutup dengan kasar. Lagi-lagi mereka bertengkar seperti kemarin, apa mereka tidak bisa lebih tenang sedikit?

"Oh, selamat pagi Sai!" sapa Sakura saat melihatku membuka pintu

Aku mengangguk sambil tersenyum saat melihat Sakura berdiri di depan pintu Naruto, seolah sedang melindungi penghuni di dalamnya dari Sasuke. Kemungkinan besar, Sasuke ingin membangunkan makhluk pirang itu dengan cara yang sama seperti kemarin dan Sakura yang melihatnya langsung melarang pria itu.

"Hey! Kau tidak membalas sapaanku?!" Sakura berdecak

Aku mengeryit,"Kau sudah menyapaku dan aku mengangguk."

"Katakan 'selamat pagi'! Apa kau tidak diberitahu oleh orangtuamu?"

Saat Sakura mengatakan orangtua, yang terlintas di benakku lagi-lagi tentang ayah yang ditangkap dan masuk ke penjara. Aku tidak ingat bagaimana persisnya, tapi sejak saat itu aku tidak pernah berhubungan dengan oranglain.

Tidak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum dan menipu mereka semua dengan apa yang kurasakan. Aku tidak peduli, hanya kanvas temanku satu-satunya. Aku tidak akan memperlihatkan bagaimana diriku sesungguhnya pada oranglain.

"Selamat pagi," ucapku akhirnya

Dan hanya dengan mengatakan itu, Sakura tersenyum lebar. Aku tidak mengerti dia, kenapa harus sebahagia itu hanya dengan membalas sapaan?

"NARUTOOO! BANGGUUNNN!"

Tok tok tok tok

Sakura mengetuk pintu Naruto berkali-kali dengan berteriak, persis seperti seorang ibu-ibu. Mungkin karena inilah Sasuke terganggu dan berdebat dengan Sakura tadi. Entah sudah berapa lama Sakura mengetuk pintu warna kuning itu dan entah apa yang dilakukan makhluk berisik di dalam yang sama sekali tidak terganggu oleh ketukan pintu Sakura.

Terserahlah, aku tidak peduli dan harus cepat mandi untuk menyegarkan tubuh kemudian sarapan. Aku ingin cepat-cepat mencari pemandangan untuk menorehkan cat pada kanvasku.

.

"Aku sudah bilang kan, kalau aku paling tidak bisa bangun pagi!" Naruto mengomel kemudian melahap roti bakarnya

"Kusarankan, besok beli jam weker sebanyak-banyaknya. Aku harap itu membantu," timpal Sasuke yang terdengar masih kesal

Naruto mendengus,"Aku sudah punya tiga jam weker! Aku tidak butuh lebih dari itu lagi!"

Mendengar apa yang dikatakan Naruto, emerald Sakura melebar. "Tiga?! Dan kau tidak bisa bangun oleh ketiga-tiganya? Astaga, Naruto!"

Sasuke menggelengkan kepala,"Sudah kuduga. Dia bukan tidur, tapi mati suri."

"Sialan kau!" Naruto melemparkan kulit roti bakar pada Sasuke yang cepat menghindar dan terjatuh ke lantai

Sakura yang melihat itu langsung berdiri dan menunjuk kulit roti yang terjatuh,"NARUTO! Pungut itu!"

"Eeeh?"

Aku memutar mata, tidak terlalu peduli dengan mereka. Aku harus cepat-cepat menyelesaikan sarapanku dan segera pergi dari rumah ini sampai sore. Cukup satu hari bersama mereka kemarin sudah membuatku 'terlihat', bukan?

"Omong-omong, kita semua hari ini nganggur, bukan?" tanya Sakura

Naruto yang kembali dari mengambil kulit roti, mengerucutkan bibir sambil mengaduk-aduk jus jeruknya. Aku ingin mengatakan kalau aku tidak menganggur dan ingin pergi keluar hari ini, tapi Naruto tiba-tiba memotong sebelum aku sempat mengatakan apapun.

"Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?"

Sasuke mengangkat alis,"Aku tidak ikut-"

"Lihat?! Benar-benar nerd, suka menyendiri di kamar. Apa yang kau lakukan, Nerd? Membaca buku?" cemooh Naruto pada Sasuke yang langsung dihadiahi lirikan tajam

"Aku setuju dengan Naruto," sahut Sakura. "Aku juga ingin menikmati liburan sebelum masuk sekolah dan harus berhadapan dengan buku-buku."

Dan tiba-tiba saja Sakura melirikku,"Kau tidak akan ada kegiatan lain kan?" tanyanya

Aku berhenti mengunyah rotiku dan langsung menelannya saat menyadari Sakura menanyakan kegiatanku. Entah kenapa aku punya firasat untuk tidak mengatakan apa kegiatanku hari ini.

"Hey, Sakura-chan bertanya padamu!" Naruto menudingku dengan roti bakar

Aku tersenyum,"Untuk apa aku mengatakannya padamu, jelek?"

Sreg!

Tiba-tiba Sakura mengambil piringku yang masih berisi dua roti bakar dan memberikannya pada Naruto yang tentu saja merasa senang karena mendapatkan tambahan jatah makanan. Aku menatap Sakura dengan pandangan bertanya.

"Tidak ada sarapan pagi untukmu karena menghinaku!"

Oh, dia tersinggung lagi. Padahal aku hanya ingin berusaha akrab dengan memberikan nama panggilan untuk mereka, tapi sepertinya ia tidak mengerti itu. Terserahlah, aku tidak ingin terlibat lebih dari ini.

"Kalau begitu aku mau pergi keluar," ucapku bersiap

"Kau mau kemana?" tanya Sakura yang terlihat heran

"Biarkan saja dia, Sakura-chan! Kita pergi bertiga saja-"

"Aku tidak ikut," potong Sasuke tegas

Naruto memutar mata dan menolah pada Sakura dengan tatapan berharap,"Baiklah. Kalau begitu ini akan menjadi kencanku dengan Sakura-chan!"

Sakura meringis,"Hah? Tidak, tidak! Sasuke, kau harus ikut dan Sai!" Tiba-tiba saja ujung bajuku ditarik oleh Sakura. "Kami ikut denganmu kemanapun kau pergi!"

Senyumku langsung hilang. Apa katanya?

"Ayo selesaikan makan kalian berdua dan kita harus berangkat kemanapun Sai punya rencana!" putus Sakura seenaknya

"Ck, aku bilang aku tidak-"

"Kau harus ikut!" potong Sakura menatap Sasuke. "Kau. Harus. Ikut. Atau kau memilih kamarmu menjadi sasaranku, hm?"

"Sasaran apa?" tanya Sasuke tidak mengerti

"Oh, kau tahulah. Aku selalu gatal melihat kamar rapi para cowok dan tergoda untuk-"

Sasuke melotot pada Sakura,"Jangan berani-berani melakukannya."

"Kalian… ikut denganku?" tanyaku untuk memastikan

Naruto mendengus,"Aku sih tidak mau. Tapi karena Sakura-chan sudah memutuskan… mau bagaimana lagi?"

"Dan aku diancam, kau dengar apa kata si pinky barusan?" sindir Sasuke

Rencanaku akan kacau kalau mereka ikut denganku. Percuma saja aku berusaha menenangkan diri dengan kanvas, cat lukis dan pemandangan jika ada mereka.

"Jadi? kau akan kemana hari ini, Sai?" tanya Sakura antusias

Tanpa menjawab apapun, aku segera beranjak dari meja makan dan langsung meninggalkan mereka dengan cepat. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini sebelum mereka mengikutiku. Tidak ada pilihan lain selain membawa peralatanku dan menenangkan diri.

Aku masih bisa mendengar teriakan Sakura yang memanggil namaku, tapi aku tidak peduli. Menaiki tangga, aku langsung melesat masuk ke dalam kamar dan mengambil peralatanku yang sudah kusiapkan seperti biasanya.

Karena aku sudah berencana pergi setelah sarapan, aku sudah memakai jeans hitam panjang dan kaos hitam rapi dengan topi berwarna cokelat yang sama dengan warna sepatuku.

"Hey, hey! Sai, tunggu kami!"

"Kenapa kau buru-buru sih?" keluh Naruto mengikat tali sepatunya

Sasuke yang terlihat sudah siap, melirikku yang membawa tas punggung berisi peralatan melukis dan kanvas berukuran sedang. "Kau mau melukis?" tanyanya

Seolah tidak bisa menghindar, aku mengangguk.

"Oh, bagus! Aku mau melihat bagaimana kau melukis!" sahut Sakura antusias

"Melukis?! Baaahh, membosankan sekali! Aku akan membawa sepedaku!" Naruto kembali memasuki kamarnya dan keluar dengan sepeda gunung berwarna jingga miliknya.

Aku memutar mata,"Tidak jauh dari sini aku melihat ada taman bunga. Aku mau kesana."

Kulihat mata Sakura semakin berbinar,"Kau mau melukis bunga?"

"Terserahlah, bagaimana kalau kita berangkat sekarang saja?" Sasuke terlihat tidak sabar dan berjalan lebih dulu keluar dari rumah

Setelah keluar dari rumah, kami berjalan bersama menuju taman bunga. Situasi yang tidak pernah kusangka-sangka sebelumnya karena aku ingin sendirian sambil melukis. Sekarang? Bahkan suara Naruto yang bersepeda berdampingan dengan kami dan Sakura yang tertawa karena lelucon aneh pria itu mengiringi.

Sedangkan Sasuke, pria itu sedari tadi berjalan di sampingku tampak tidak peduli dengan keadaan karena di kedua telinganya ia memasang headphone dengan suara yang lumayan keras karena samar-samar bisa kudengar suaranya.

Setelah berjalan dengan kesibukan sendiri-sendiri, akhirnya aku melihat taman bunga yang ternyata cukup ramai. Ada yang berpasangan, berolahraga dan sekedar duduk-duduk. Aku harus mencari tempat strategis untuk melukis diantara keramaian? Tidak masalah.

"Wow! Ramai juga ternyata. Apa karena libur?" seru Naruto

"Taman bunga ini cukup diminati tau!" sahut Sakura lalu menyikutku. "Jadi, dimana kau akan melukis?"

Aku tersenyum dan berusaha untuk sopan,"Bagaimana kalau kita berpisah saja disini?"

"Hah? Kenapa?!" gerutu Naruto

"Kalian akan mengangguku, aku butuh ketenangan untuk melukis," jawabku jujur

Sasuke berdecak dan melepaskan headphone miliknya,"Lihat? Tidak ada gunanya aku ikut ke tempat seperti ini! Seharusnya kalian membiarkan aku-"

"Oh ayolah, Sai!" potong Sakura tidak mempedulikan keluhan Sasuke. "Aku ingin melihat bagaimana kau melukis!"

Melihatku melukis? Aku tidak yakin mereka bertiga akan bisa membiarkanku melukis dalam ketenangan yang sekedar 'melihatku melukis'. Hanya dalam dua hari bersama mereka, aku bisa menghapal bagaimana kebiasaan saling berteriak satu sama lain dan saling menyalahkan.

"Hey, Sai!" Sakura tiba-tiba menunjuk suatu arah. "Bagaimana di sana saja? Aku yakin lukisanmu pasti akan bagus!"

Aku mengikuti arah yang ia tunjuk, tempat dimana kolam dengan bunga-bunga berwarna warni di sekelilingnya tumbuh. Ada banyak orang berfoto-foto di sana, memberi bukti jika tempat itu memang yang paling strategis di sini.

"Ayo, ayo kita ke sana!" Sakura menyeretku dan Sasuke yang terlihat pasrah bersamaan, membuat Naruto mengerucutkan bibir sambil mengayuh sepeda miliknya mengikuti kami.

Saat kami tiba di tepi kolam yang memiliki pagar kayu, hanya dalam sekejap aku sudah terpesona dengan pemandangan yang diberikan. Kuakui, untuk sebuah taman bunga dengan kolam berukuran sedang tempat ini cukup menarik perhatianku.

Dengan cekatan kukeluarkan peralatan melukis, kanvas dan penyangga kanvas kemudian duduk di rumput. Saat mengeluarkan cat, aku menyadari ada tatapan tertuju padaku yang menurutku sangat menganggu membuatku menoleh dan mendapati Sakura yang terlihat antusias memperhatikanku.

"Apa?" tanyanya tidak bersalah

"Tolong jangan melihatku seperti itu. Rasanya menganggu," ujarku

"Ck. Bisakah kau berhenti berkata kasar? Kami hanya mau melihatmu melukis," balasnya berdecak kesal

Sasuke yang kebetulan mendengarnya langsung melotot,"Siapa yang kau maksud dengan kami itu? Aku tidak tertarik kau mau melukis atau tidak!"

Sakura mengibaskan tangannya tidak peduli,"Ayo cepat melukis. Aku tidak sabar melihatnya."

Dua puluh menit kemudian.

Aku melirik Naruto yang mengerucutkan bibirnya bosan saat mengistirahatkan tanganku setelah menyelesaikan sebagian besar sketsa pemandangan. Ia pasti ingin sekali beranjak dari tempat ini, namun tidak ada yang mau menemaninya bersepeda.

Sakura sedaritadi hanya diam memperhatikanku dengan antusias, sedangkan Sasuke mendengarkan musik sambil tiduran. Mereka sama sekali tidak berisik, jadi tidak masalah bagiku yang hanya ingin menenangkan pikiran sambil melukis.

Setidaknya seperti itu yang kupikirkan.

"Hey, kenapa berhenti?" tanya Sakura. "Aku tahu kau belum selesai."

Si cerewet satu ini mulai membuka topik.

"Sudah selesai? Kau sudah selesai, kan? Iya kan, Sai?!" tanya Naruto dengan mata memohon

Sakura menepuk punggung Naruto kesal,"Diamlah, Naruto! Aku ingin melihatnya menyelesaikan lukisan ini."

Aku memutar mata,"Aku butuh ketenangan. Bisa kalian diam?"

"Kita sudah diam daritadi!" sahut Sakura terlihat mulai jengkel

"Dan tidak melakukan apapun selain menunggumu menyelesaikan lukisan itu! Aaaarggh, aku tidak tahan lagi!" timpal Naruto mengerang

"Kenapa kau tidak bermain dengan sepedamu saja kalau begitu?" sergahku tidak tahan lagi dengan rengekannya

"Naruto, kalau kau tidak tahan diam, silahkan bermain sepeda. Kami baik-baik saja disini," Sakura menyetujuiku

Naruto melotot,"Apa? Dan bermain sendirian sedangkan kalian disini? jangan bercanda! Sama sekali tidak seru!"

"Kalau begitu diam seperti temanmu itu," tunjukku pada Sasuke yang masih tiduran. Atau mungkin dia sudah benar-benar tidur.

Naruto meringis,"Ew! Aku tidak pernah berteman dengannya!"

Sasuke tiba-tiba bangun dan melepas headsetnya,"Aku juga tidak mau berteman denganmu! Berisik dan bodoh!"

"Apa kau bilang?!" sahut Naruto tersinggung

"Aku bilang kau-"

"Stop, stop!" potong Sakura melerai. "Kalian ini, dimanapun dan kapanpun selalu bertengkar! Jangan-jangan kalian suami istri yang bercerai di masa lalu?!"

Hm, Pemikiran yang menarik juga. Aku melirik Sasuke dan Naruto yang langsung memucat mendengarnya, saling memandang sebelum sama-sama membuang muka sambil menunjukkan muka seakan mereka mual mendengarnya.

"Menjijikan," gerutu Sasuke

"Ya, menjijikan sekali. Aku hampir mundah membayangkannya," ucap Naruto setuju

"Kenapa malah kau bayangkan, bodoh?" sahut Sasuke

"Itu karena-, erm… A-aku hanya-, Aaargh! Aku tidak tahu!" Naruto berdiri dan menaiki sepedanya. "Lebih baik aku jalan-jalan untuk menghilangkan bayangan menjijikan itu!"

Sasuke mengibaskan tangannya seraya Naruto mengendarai sepedanya menjauh dari kami. Aku bisa mendengar cekikikan di sampingku, yang ternyata adalah Sakura. Sepertinya gadis ini benar-benar suka melihat Sasuke dan Naruto mual satu sama lain.

"Hey, Sai!" Sakura tiba-tiba berbicara setelah berhenti cekikikan. "Bagaimana kalau kau melukisku saja? Aku yakin aku tidak jelek-jelek amat untuk dilukis!"

Apa katanya?

Sasuke mendengus,"Tidak jelek-jelek amat? Darimana kau tahu? Mungkin matamu butuh kacamata atau-, AW!"

Sebelum Sasuke menyelesaikan kalimatnya, Sakura menginjak kaki pria itu yang omong-omong, memakai sandal dan Sakura memakai sepatu. Dan dari teriakannya, aku tahu Sakura sama sekali tidak menahan tenaganya untuk menginjak kaki Sasuke.

Aku beruntung tidak mengatakan apapun.

"Brengsek! Apa yang kau lakukan, Pinky?!"

"Jangan berani kau menghinaku sebelum kau berkaca, rambut ayam!"

O-oh.

Aku tidak mau ikut-ikut dalam adu mulut mereka yang memancing perhatian di sekeliling. Tanpa memperdulikan mereka, aku segera bersiap-siap untuk menyimpan peralatanku. Namun tidak semulus yang kuinginkan, karena Sakura yang dalam keadaan marah mengambil kuas lukisku dan mencoretkannya pada muka Sasuke.

Dan wajah Sasuke kini memiliki garis silang besar di pipinya berwarna biru muda. Oh, ini baru lucu.

"Rasakan itu! Siapa yang dekil sekarang, hah?!" seru Sakura tertawa bangga

Sasuke yang tidak terima, langsung mengambil kuasku yang bersih, mencelupkannya pada salah satu cat berwarna kuning milikku yang masih di dalam bungkusannya dan mencoretkannya pada wajah Sakura tanpa ampun.

"Jangan kira aku tidak bisa melakukannya, dasar pinky! Seharusnya kau mempunyai warna lain untuk rambutmu itu!" cerca Sasuke

Sakura berniat balas dendam dengan mengambil catku yang lain, berwarna hijau yang masih belum kusentuh. Dengan cepat aku langsung menghentikannya karena yang mereka gunakan untuk bermain saat ini adalah milikku.

"Hentikan. Bisakah kalian berhenti bertingkah seperti anak-anak dan-"

"DIAM, SAI!" seru keduanya sambil mencoretkan kuas mereka yang mempunyai sisa cat ke wajahku

"Hahahahaha, Sai! Kau benar-benar berwarna sekarang!" tawa Sakura

Aku bahkan tidak ingin tahu apa maksudnya, tapi aku benar-benar tidak suka kalau aku hanya menerima perlakuan ini tanpa membalasnya. Dengan kesal, Aku mengambil kuas lainnya dan mencelupkannya pada cat lalu mencoretkannya pada wajah Sakura.

"Aaaghhh! Apa yang kau lakukan, Sai?!" teriaknya berjalan mundur

Kudengar Sasuke tertawa penuh kemenangan di sebelahku, menunjuk wajah Sakura yang kini belepotan warna kuning dan merah. Mataku melirik kuas yang dipegangnya dan aku tahu apa yang harus kulakukan padanya juga karena sudah memakai kuasku seenaknya.

"Sial! Hentikan, Sai!" teriak Sasuke yang terkejut aku mencoret wajahnya

"Kau yang harusnya berhenti menggunakan kuasku," balasku

"Katakan itu pada si pinky yang memulai duluan-, APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Sasuke panik saat Sakura menyiramnya dengan cat milikku yang diberi air

Koreksi. Bukan hanya Sasuke, namun aku juga kena.

Kini bukan hanya wajah kami yang berwarna warni, bahkan pakaian kami pun juga. Warna ungu menghiasi tubuh kami dengan sempurna, membuat orang-orang di sekeliling yang melihat kami tertawa sambil melintas.

"Hahahaha! Rasakan itu! Apa kalian mengira aku akan diam saja, hah?!" Sakura tertawa puas. "Sekarang kalian berwarna ungu! Manis sekali, hahahaha!"

"Kau! Apa kau tahu harga baju ini, hah?!" seru Sasuke

"Berapa, tuan kaya? Seribu yen? Dua ribu?"

"Sepuluh ribu yen!" sahut Sasuke yang membuat Sakura membeku

Aku menghela nafas dan melihat perlatan lukisku yang kini berantakan. Bahkan aku tidak ingin melihat cat-catku yang sudah hampir habis karena aksi kekanakan duet bodoh yang mereka lakukan tadi. Kenapa Sasuke harus mengkhawatirkan harga baju? Yang harusnya mereka berdua khawatirkan adalah harga cat milikku!

"WAAA!"

Naruto yang ternyata sudah tiba, terkejut melihat kami. Namun seperti yang kuduga, pria itu tertawa habis-habisan.

"Hahahaha! Lihat wajahmu, Sasuke! Dan kau, Sai! Apa kalian sedang bermain cat di saat aku tidak ada? Kalian jahat sekali!" cerocosnya sambil tertawa

"Aku tidak ikut bermain," bantahku

"Oh yaaaa?" Sakura melirikku dari pakaian hingga wajah. "Lalu kenapa kau belepotan cat, hm?"

Aku tersenyum penuh kesabaran,"Ini karena perbuatan kekanakanmu dan si bodoh yang satunya lagi."

Naruto menyengir ke arah Sasuke,"Hoo, Sasuke? Kau? Hahahaha!"

Sasuke yang masih memegang kuas, langsung mencoretkannya pada wajah Naruto tanpa ampun hingga pria itu berteriak seperti seorang gadis yang baru saja diperkosa, dan untuk kesekian kalinya, memancing perhatian serta tawa di sekeliling kami.

"TIDAAAAAK! Apa yang kau lakukan pada wajah tampanku?!"

"Oh, warna kuning terlihat tenggelam di wajahmu karena rambutmu sudah pirang! Mari aku coba warna biru untukmu, Naruto!" sahut Sakura yang dengan cepat mencoret wajah Naruto

"Aaaaaaggh! Sakura-chan, kau kejam!"

"Heh, tidak buruk juga!" sahut Sasuke

Aku tersenyum, di tanganku masih ada kuas berwarna merah yang masih belum habis sepenuhnya. Entah kenapa tiba-tiba saja aku tergoda untuk mencoretkannya pada wajah Naruto. Lagipula, jika kuas ini dicuci itu artinya cat nya akan menjadi sia-sia kan?

"Waaa! Kenapa kau mencoretku juga, Sai?!" gerutu Naruto bergerak menjauh

Aku tersenyum,"Kurasa kau butuh warna merah juga."

Sakura mengangkat jempol,"Itu adalah nasihat dari si pelukis terkenal! Kau harusnya bangga, Naruto!"

Dan tiba-tiba saja firasatku menjadi buruk saat Naruto melirik peralatan catku yang masih tersisa, dengan senyum di bibirnya ia dengan cepat mengambil warna hijau dan mencoretkannya di wajahku tanpa ampun.

"Rasakan itu! Rasakan itu!" tawanya puas lalu melirik Sasuke. "Kau korban selanjutnya, Ayam!"

Sasuke memasang kuda-kuda dengan kuasnya,"Jangan berani-berani mendekat atau kucoret lagi!"

Sakura kemudian berdiri di belakang Sasuke,"Tenang, Naruto! Aku akan membantumu!"

Oh, Kapan ini akan berakhir?

# # # # #

Kami pulang dalam keadaan belepotan cat, kotor, dekil dan kelelahan. Untuk kasusku, ditambah dengan kehabisan cat yang menjadi bagian paling penting dalam setiap hidupku. Mereka benar-benar menggunakannya dengan liar dan tidak berhenti sampai seorang penjaga taman mendatangi kami, menyuruh kami berhenti sebelum catku merusak alam.

Itu adalah momen paling memalukan seumur hidupku.

Aku keluar dari kamar saat mendengar teriakan si jelek Sakura yang mengatakan makan malam sudah siap. Kenapa aku menurutinya begitu saja? Karena perutku sudah menggerutu. Kami melewatkan makan siang dengan bermain di taman hingga sore.

Orang normal mana yang seharusnya menikmati pemandangan di taman dari pagi dan malah berakhir bermain cat di taman sampai sore? Oh, ya. Orang normal seperti kami.

"Dan kukatakan itu salahmu, pinky!"

"Oh, jangan meributkan hal itu lagi! Kau bahkan ikut bermain tadi!"

Aku melihat Sakura dan Sasuke kembali beradu mulut di meja makan. Bisa tidak sih mereka diam untuk sesaat saja?

"Hai, Sai!" Sakura menyapa dengan senyuman

Aku yakin itu karena dia merasa bersalah sudah menghabiskan catku.

"Dimana si bodoh?" tanya Sasuke

Aku mengangkat bahu,"Mungkin tidur."

Sakura memutar mata,"Astaga. Akan sulit membangunkannya."

Sasuke dan aku mengangguk setuju. Sakura menghela nafas dan duduk bersebrangan denganku, mengambil nasi dan makan. Saat aku baru saja memasukkan nasi ke dalam mulut, suara berisik Naruto kembali menggema.

"Lagi-lagi kalian meninggalkanku!" serunya meluncur turun dari pegangan tangga

Sakura mendengus,"Kami kira kau tidur. Dan jangan meluncur seperti itu lagi!"

Naruto menyengir, duduk di sebelahku setelah menerima nasi dari Sakura. "Thanks, Sakura-chan!"

"Hey, Sai!"

Sakura tiba-tiba memanggilku, membuatku menoleh padanya sebelum ia melemparku dengan garpu atau sesuatu di meja makan jika menolak. Dua hari waktu yang cukup untuk tahu sifat brutalnya.

"Hari ini menyenangkan. Apa kau merasa lebih baik?" tanyanya

Aku tersenyum,"Ya. Sangat baik karena kalian telah menghabiskan cat milikku."

Naruto mengangkat jempolnya dan berbicara dengan mulut yang masih penuh makanan,"Tapi kau bersenang-senang, kan?!"

Apa maksud mereka?

Aku melirik Sasuke yang sedaritadi hanya makan dalam diam, ia menyadari tatapanku dan tidak mengatakan apapun selain melanjutkan makannya. Apa yang terjadi sebenarnya?

"Ehm, Maaf soal catmu."

Dengan cepat aku mengikuti asal suara feminim itu yang jelas-jelas berasal dari Sakura. Sakura, si pemilik rumah kami yang superior dan brutal meminta maaf?

"Yah, Kami mengikutimu dan berusaha untuk membuatmu ceria, kau tahu?" Naruto menimpali, masih dengan mulut penuh makanan

Aku kembali melirik ke arah Sakura, "Apa maksudnya ini?"

Sakura meletakkan peralatan makannya dan berdehem sebelum menatap mataku. "Kau tahu, Sai. Kita sekarang harus terjebak bersama dari pagi hingga pagi lagi di rumah ini. Jadi, kalau kau ada masalah lebih baik kau katakan saja."

"Yang maksud si cerewet ini adalah," Sasuke tiba-tiba bersuara. "Dia khawatir padamu yang terlihat aneh dan palsu pagi ini."

"Hmm, mungkin hanya wanita yang bisa merasakan hal itu karena aku tidak merasakan apa-apa pagi ini," gumam Naruto

Mereka mengkhawatirkanku?

"Pokoknya!" Sakura menunjukku. "Kau tidak perlu memperlakukan kami orang lain karena kita tinggal bersama di sini. Aku tidak mau pelukis terkenal sepertimu, suatu hari nanti ditemukan bunuh diri karena stres di kamar! Mengerti?"

"Dan kau akan menjadi hantu di rumah ini, aku tidak mau tinggal di rumah berhantu meski ada Sakura-chan disini!"

"Huh, pengecut."

"Apa katamu, Sasuke?"

Aku memperhatikan mereka yang kembali beradu mulut lagi. Mereka mengkhawatirkan diriku, meski mereka hanya tahu tentangku dua hari. Bahkan aku, dengan senyuman palsuku yang bertahun-tahun kukenakan, mereka tidak tertipu.

Sepertinya… tidak terlalu buruk untuk tinggal bersama dengan mereka.

"Oh, Sai!" Sakura membuyarkan lamunanku

"Ya?"

"Jadi, soal catmu… " Sakura menyengir. "Anggap saja catmu korban untuk mengembalikan keceriaanmu, oke?"

Cat… ah, iya aku lupa.

"Lagipula, seberapa mahal sih catmu? Aku yakin tidak lebih mahal dari sepedaku yang seharga lima belas ribu yen!"

"Huh, sepedamu tidak kena cat seperti bajuku yang seharga sepuluh ribu yen."

Aku menghela nafas,"Catku pilihan khusus yang kupesan di luar negri karena memiliki mudah dicampur dan memiliki warna yang jarang pula, kira-kira aku menghabiskan lima puluh ribu yen untuk catku. Belum dengan ongkos kirimnya yang kira-kira sepuluh ribu yen, seperti harga bajumu, Sasuke."

Ketiganya langsung membeku mendengarnya.

Aku langsung tersenyum melihat reaksi mereka,"Jadi… bagaimana kalian akan membayarku? Aku akan lebih ceria lagi seperti harapan kalau kalian membayarnya."

Tiba-tiba saja Sakura, Sasuke dan Naruto berdiri dari tempatnya dan meninggalkan meja sambil berkata, "Aku sudah selesai. Terima kasih, makannya." Dan meninggalkanku di meja sendirian

Kutarik kembali kesanku yang mengatakan tidak buruk tinggal bersama mereka.

Mungkin aku harus melindungi catku mulai sekarang.

Dan saat sekolah dimulai, aku tidak mau dekat-dekat dengan mereka dalam jarak lima meter.

# # # # #

TBC

Maaf sebesar-besarnya, Risa baru bisa update sekarang

FRENEMIES mungkin tidak akan tentu untuk kapan saja update, tapi Risa jamin akan berusaha secepat mungkin untuk update.

Love and miss you all *KissHug*