"Ichigo, maafkan aku!" seru seorang pria berambut putih panjang dengan wajahnya yang pucat. Juushirou Ukitake.
"Untuk apa?" Cowok yang dipanggil Ichigo menyahut sambil tetap berkonsentrasi dengan masakan di depannya.
"Karena sudah menjadi kekasihmu," jawabnya lemah.
"Hah?!" Ichigo spontan berteriak dan hampir melempar spatula yang ada di tangannya.
"Eh, ah! Maafkan aku, Ichigo! Aku tahu aku sal-!"
"Stop saying that, Juushirou!" potong Ichigo menatap sang pria pucat sepenuhnya.
"Maafkan ak-!"
"I said stop!"
Juushirou terdiam sambil menundukkan kepalanya.
Sang orange-head menghembuskan nafasnya lalu mendekati Ukitake dan memeluknya. "I love you just fine. So, please don't ever apologise again, okay?"
"Okay," sahut Ukitake sambil tersenyum dan memeluk Ichigo.
Mereka terdiam cukup lama dalam posisi tersebut lalu pria berambut putih itu kembali berbicara, "Maaf telah membuatmu jatuh cinta denganku,"
Twitch. Twitch. Twitch.
Kerutan di dahi Ichigo bertambah. Dirinya melepaskan pelukan tersebut dan menatap Juushirou tepat di matanya. Kata-kata 'mutiara' sudah di ujung tanduk untuk dikeluarkan oleh pemuda berambut orange tersebut. Tapi ketika melihat wajah innocent milik sang pria berambut putih tersebut. Ichigo langsung mati gaya.
Akhirnya dia berucap sambil menghembuskan nafas sangat keras. "Tidak apa-apa, Juushirou. Tetap jadilah dirimu apa adanya," ucapnya sambil mengelus kepala Juushirou.
"Sungguh, Ichigo?" Wajah Juushirou berbinar.
Ichigo hanya menganggukkan kepala lemah sambil bersuara dalam hati, 'Mulai sekarang aku harus mulai benar-benar melatih mengatasi kesabaranku.'
~end~
A/N: Gomen! I have gone through a lot in my real world and I'm having on the job training. Dan sepertinya yang ini agak geje. Yah, sekian aja dulu. Bye-bye and leave a review, nee?
See u in the next chapter!
P.S.: Whom should I write for next chapter?
