NEW YEAR'S EVE
-INVITATION-
Jinyoung kembali membaca pesan singkat dari Mark yang berisi undangan pesta tahun baru di rumahnya. Jinyoung ingin pergi. Karena merayakan pergantian tahun seorang diri di rumah pun sangat menyedihkan. Kedua orang tuanya sedang berangkat ke luar kota untuk urusan kerja. Dengan berat hati Jinyoung menerima itu semua. Lalu Mark yang akan menghiburnya dengan mengajaknya ikut berpesta bersama menikmati pergantian tahun. Jinyoung sangat antusias menanti hal tersebut.
Tapi hingga pukul sembilan, dirinya belum beranjak dari kamar. Masih terduduk di tepi ranjang. Entah apa yang membuatnya ragu. Seperti ada yang sedang dipikirkannya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dari Mark.
"Mwohae? Kenapa belum datang?" Sesuai dugaan, pacarnya itu pasti sudah menunggu dengan tak sabar. "Apa perlu kujemput?"
"Tidak, tidak, tidak! Tidak perlu!" Jinyoung segera menolak. Dia tidak ingin Mark yang sedang menjadi tuan rumah pesta repot-repot pergi hanya untuk menjemputnya. Lagipula mereka bertetangga.
"Kalau begitu kemarilah. Disini sangat membosankan tanpa kehadiranmu." Mark menggombal. Namun Jinyoung tersipu dan tak mampu menyembunyikan senyumnya.
"Baiklah. Sekarang aku kesana," ucap Jinyoung sebelum pembicaraan mereka berakhir.
Dia menghembuskan napasnya dan menatap ke sekeliling kamar yang berantakan oleh pakaian-pakaiannya yang berserakan di lantai. Hal yang menyebabkan Jinyoung tak kunjung pergi ke rumah Mark adalah karena sibuk memilih kostum. Dia ingin mengenakan pakaian sederhana saja. Tapi penampilannya akan kalah dengan tamu-tamu undangan Mark yang pasti berpenampilan menarik. Lalu jika dia memutuskan untuk mengenakan pakaian mewah, nanti akan terkesan formal. Oh Tuhan! Jinyoung dilema hanya karena kostum!
Pria itu bahkan terkekeh, menyadari kekonyolannya sendiri. Lalu tiba-tiba pesan dari Mark muncul di ponselnya.
"Dengan pakaian apapun kau akan selalu terlihat istimewa di mataku."
MarkJin seakan memilik ikatan ~ Mark hampir saja berhasil membuat Jinyoung tak bernapas untuk sepersekian detik hanya karena gombalannya yang terdengar romantis. Pacar mana yang tidak merasa tersanjung diperlakukan seperti itu. Ah, rasanya Jinyoung sudah tak sabar ingin segera bertemu Mark.
Tanpa pikir panjang lagi, Jinyoung berdiri dan melangkah dengan yakin menuju rumah Mark.
"Kau terlambat." Mark sudah menunggunya di depan pagar rumahnya saat melihat Jinyoung berjalan menghampirinya.
"Masih jam sembilan kok." Jinyoung berkelit sambil melirik jam tangannya.
"Tetap saja kau terlambat" balas Mark sambil membuka pagar dan mempersilahkan Jinyoung untuk masuk. Kemudian ditatapnya penampilan pacarnya itu dari atas kepala hingga ujung kaki.
"Bagai... mana?" Jinyoung bertanya ragu. Semburat merah muda terlihat di pipinya.
"Aku menyukainya." Mark menjawab dan segera menarik lengan Jinyoung yang sudah tersenyum puas untuk segera masuk ke dalam rumah.
Ternyata tamu yang datang tidaklah seramai perkiraan Jinyoung. Tapi masih tergolong cukup banyak. Mungkin ada sekitar sepuluh orang yang menghadirinya.
Mark mengajak Jinyoung menuju dapur, tempat Mama Tuan sedang sibuk menyiapkan minuman.
"Ji Nyoungie~!" Mama Tuan memekik kegirangan.
"Annyeonghaseo, bi" balas Jinyoung sembari menunduk ramah.
"Ayo kita ke taman belakang!" Mama Tuan merebut lengan Jinyoung dari tangan Mark dan bergegas menariknya ke taman belakang rumah Mark yang cukup luas.
"Hei, Mark!"
"Oh, hei!"
Jinyoung mendengar samar seseorang memanggil nama Mark. Mungkin tamu. Lalu akhirnya MarkJin kembali terpisah. Jinyoung ikut bersama Mama Tuan, sedangkan Mark sudah berkompak ria dengan tamunya tersebut. Sekilas seperti pria bule, entahlah Jinyoung tak begitu memperhatikan lagi.
Di taman belakang juga ada beberapa tamu yang mungkin saja kerabat kedua orang tua Mark.
"Hai, Jin!" sapa Papa Tuan yang bertugas mengawasi barbecue mereka.
"Halo, Paman!" Jinyoung kembali menunduk hormat.
"Kau terlambat" Ucapan Papa Tuan persis seperti anaknya. "Kemarilah!"
Jinyoung mendekat ke arah panggangan. Di atas bara api sudah ada jagung, sosis, dan beberapa potong ayam. Jinyoung mulai tergiur dan menjilat bibirnya.
"Ji Nyongie, makan yang banyak, ya!" Mama Tuan menyodorkan sepiring sosis bakar dan ayam bakar. "Ibumu menitipkanmu kepada Bibi. Jadi kau tidak boleh menolaknya!" lanjut Mama Tuan sambil tertawa kecil.
Jinyoung dan Papa Tuan yang mendengarnya pun ikut terkekeh.
"Selamat makan!" Jinyoung berseru riang sebelum menyantap si sosis bakar. "Ough, benar-benar lezat!" batinnya dalam hati. "Enak sekali, bi!"
"Enak kan? Kalau begitu tambah lagi, ya!" ucap Mama Tuan.
"Ne~" Jinyoung bergumam patuh. Dia sangat bersyukur masih memiliki tetangga seperti keluarga Mark. Apalagi di saat-saat seperti ini kedua orang tuanya sedang tidak ada di dekatnya. Untung saja dia masih memiliki Papa dan Mama Tuan yang sudah dianggapnya seperti kedua orang tuanya sendiri. Dan juga Mark yang...
"Mwohae?"
Yang dipikirkan baru saja muncul sambil melingkarkan kedua lengannya dari belakang di pinggang Jinyoung.
"Makan" jawab Jinyoung singkat.
"Enak?" Mark bergumam di telinga Jinyoung. Orang lain yang melihat mungkin berpikir kalau dia mencium pipi pacarnya itu.
"Enak. Kau mau?"
Mark mengangguk, maka Jinyoung menyodorkan setusuk sosis bakar yang langsung masuk ke mulut Mark. Sekarang, orang lain pasti akan iri melihat kemesraan mereka berdua.
Puas menyantap barbecue, Mama dan Papa Tuan mengajak para tamu untuk berkumpul di dalam rumah. Beberapa ada yang bermain kartu di ruang tamu, bergosip di pantry, dan sisanya bersenda gurau di ruang tengah. MarkJin salah satunya.
Sudah pukul sebelas, mereka tinggal menunggu waktu hingga pergantian tahun dan mereka akan bermain kembang api di halaman belakang.
Di sela-sela itulah, Mark tiba-tiba disodorkan segelas minuman berwarna merah tua oleh tamu lainnya. Jinyoung baru menyadarinya saat melihat Mark sudah meminum habis isi gelas tersebut. Seketika itu juga tamu lainnya bersorak.
Setelah itu giliran Jinyoung yang ditantang untuk meminum isi gelas yang juga sudah disodorkan kepadanya. Dari aromanya, mungkin saja minuman tersebut adalah wine. Belum sempat menyicip, Mark lebih dulu merebut gelas dari genggamannya lalu meminum habis isinya. Ruang tengah kembali ricuh dengan suara sorakan dan juga gumaman menggoda bahkan tepuk tangan akibat aksi Mark tadi yang terkesan sangat manly.
"Lagi! Lagi! Lagi!" Sekarang mereka malah menyoraki Mark untuk melakukan putaran ketiga. Seseorang bahkan menuangkan cairan merah tua tersebut dari botol ke gelas kosong yang ada di hadapan Mark.
Jinyoung mulai terlihat cemas dan ingin memperingatkan atau bahkan mencegah. Tapi demi para tamunya Mark menyanggupi permintaan tersebut.
Rupanya mereka terhibur dan terus mencekoki Mark hingga gelas kelima, akhirnya dia menyerah.
"Gwenchana?" Jinyoung terlihat khawatir dengan kondisi Mark. Tapi pacarnya itu menjawab 'tidak apa-apa' dengan wajah gembira. Jinyoung pun lega mendengarnya.
Namun ketika Jinyoung hendak kencing, dia berpas-pasan dengan Mark yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Markie?" tanya Jinyoung heran saat melihat Mark berjalan sempoyongan dengan kepala tertunduk.
"Hmm?" Mark mendongak dan terlihatlah wajahnya yang memerah seperti orang demam.
"Yaa, kau kenapa?" Jinyoung merengkuh wajah Mark dengan kedua tangannya.
"Kepalaku..." jawab Mark sambil memegang keningnya.
"Kepalamu kenapa?" Jinyoung mulai panik. Mungkinkah ini pengaruh dari wine yang diminumnya tadi?
"Panas..." Mark terus bergumam tak jelas.
Akhirnya Jinyoung pun memutuskan untuk membopong tubuh Mark naik ke kamarnya. Mungkin saja dengan berbaring sejenak, kondisi pacarnya itu bisa sedikit membaik.
Dengan susah payah Jinyoung tiba di kamar Mark.
"Markie~" Jinyoung kembali berusaha menyadarkan Mark yang matanya terpejam.
"Eeurgh~ Panas~" Mark bergumam sembari membuka resleting dan melepaskan jaketnya. Kini Mark hanya mengenakan kaos tanpa lengan hingga terlihatlah lengan kekarnya yang membuat Jinyoung menatapnya dengan penuh minat.
Tangan Mark menggapai wajah kekasihnya. Dielus-elusnya pipi tembam Jinyoung. Lalu sedetik kemudian Mark mendaratkan bibirnya di bibir kesukaannya itu-bibir Jinyoung.
Mark bergerak sempoyonan hingga membuat tubuh Jinyoung sedikit terhuyung, namun Mark menangkapnya dan mendorongnya pelan menuju ranjang.
"Markie!" Jinyoung memekik pelan. Pikirannya kacau. Dalam keadaan mabuk seperti ini Jinyoung tidak tahu bagaimana perubahan sikap Mark. Apakah Mark sedang ingin berbuat sesuatu kepadanya?
Mark berhasil membuat Jinyoung terjerembab di atas ranjang. "Mark, NO!" Jinyoung menolak tegas, berusaha melindungi tubuhnya jika saja Mark memaksa untuk melepaskan pakaiannya.
Tapi Mark malah menjatuhkan dirinya di atas ranjang, lalu berbaring dengan paha Jinyoung sebagai bantalnya.
"Biarkan... aku tidur... sejenak..." gumam Mark dengan mata terpejam dan kening berkerut.
Jinyoung hanya bisa membeku mendengarnya. Bayangan negatif tentang Mark yang akan memangsanya (?) dalam keadaan mabuk pun buyar seketika. Nyatanya, Mark tidak melakukan apa-apa. Kekasihnya itu hanya ingin tidur di pangkuannya. Itu saja! Tidak lebih! Jinyoung bahkan malu dengan pikiran kotornya sendiri.
Dibelainya lembut rambut pirang Mark. Ditatapnya kening berkerut itu. Pasti rasa pusingnya sangat menyakitkan, batin Jinyoung. Perlahan, dipijitnya kepala Mark. Siapa tahu bisa meringankan rasa sakitnya.
Lambat laun, kerutan di kening Mark sudah hilang dan tidurnya pun terlihat pulas. Bahkan sedikit mendengur, hingga membuat Jinyoung dapat tersenyum lega.
Ini pertama kalinya Jinyoung menghadapi Mark yang sedang mabuk. Dan ternyata kekasihnya itu bukan seperti pria lain yang jika sedang mabuk akan melakukan hal semena-mena. Mark bisa mengontrol dirinya dengan sangat baik. Dia berbeda dari pria-pria lainnya. Jinyoung semakin jatuh cinta pada kekasihnya yang selalu terlihat keren itu. Bahkan mungkin malam ini dia berencana menginap. Jinyoung menjamin dirinya aman bersama Mark.
Tiba-tiba terdengar sesuatu yang melesat di udara dan berakhir dengan suara 'BOOM'. Jinyoung melihat seberkas cahaya dari balik jendela kamar Mark. Apa pesta kembang api telah dimulai?
Benar saja. Jam sudah hampir menuju pukul dua belas. Jinyoung tidak ingin melewatkannya. Lalu bagaimana dengan Mark yang masih tertidur pulas?
"Mark~ Markie~" Jinyoung berusaha membangungkan kekasihnya tersebut.
Mark menggeliat dan mengerang pelan.
"Pesta kembang apinya sudah dimulai" bisik Jinyoung.
"Hmm? Benarkah?" Rupanya Mark mendengar. Matanya segera membuka lebar dan bertemu tatap dengan Jinyoung yang terlihat sedang mengamatinya.
"Masih pusing?"
Mark menggeleng dan tersenyum tipis. Wajahnya memang terlihat jauh lebih segar. Jinyoung benar-benar kagum dengan sosok namja yang membuatnya jatuh hati tersebut.
"Ayo kita lihat kembang api!" Jinyoung mengajak Mark menuju balkon dan terlihatlah semburat merah-hijau-kuning-ungu yang menghiasi langit malam itu.
"Tiga... Dua... Satu!" Seruan para tamu terdengar sampai ke telinga MarkJin.
"HAPPY NEW YEAR!"
Suara terompet menyeruak setelah sorakan nyaring tersebut.
Mark melihat jam yang kedua jarumnya mengarah ke angka yang sama. Tanda bahwa tahun 2016 telah berlalu dan berganti menjadi tahu 2017.
"Happy New Year,Jie."
"Happy New Year,Mark."
MarkJin kini saling bertatapan. Dan entah siapa yang memulai duluan, keduanya kini sudah kembali berciuman.
~fin~
HAPPY NEW YEARRR~!
Selamat tahun baru readers! Semoga tahun 2017 lebih baik dari tahun sebelumnya ya...
Oke! Setelah libur panjang,Nataluigi kembali bawa FF sweetnya MarkJin ga bosen ya sweet ini juga FF selingan karena masih dalam suasana taon baruan hehehe. Ngeditnya pun kilat, jadi mungkin banyak typo betebaran.
Hmm... Setelah liburan juga,ide Author makin banyak masih bingung mau posting FF Sweet-NC (plis,genre ini udah terlalu mainstream) atau Hurt-NC (wohoo ini genre asing ya kkk~).Hayooo...Mohon votenya ya di kolom review^^
NB: Author ngebayangin kostum Jinyoung itu sama kayak yang dia pakai waktu di Got2Day 2016 bareng kemeja lengan panjang warna biru denim itu lho kkk~ *ga penting*abaikan
