"Dingin, Markeuuu~"
Park Jinyoung meringkuk kedinginan di balik selimutnya. Malam itu sedang hujan. Dan dia merindukan Mark.
Namja pirang itu sedang berada di L.A. Jauh dari Seoul.
-Flashback-
"Aku akan sangat merindukanmu, Markeuuu~"
Begitu yang Jinyoung ucapkan saat melepas kepergian Mark dua hari yang lalu. Kesedihan terlihat jelas di wajahnya, tak rela berpisah dengan kekasih tampannya itu walau hanya seminggu.
"Seminggu itu lama!" protes Jinyoung saat Mark memberitahu perihal keberangkatannya ke L.A.
Namun saat mengetahui tentang masalah yang menimpa keluarga Mark, Jinyoung pun berbesar hati menerima keputusan itu.
"Aku pergi ya~" pamit Mark, masih dengan tangan yang bertaut pada kekasihnya, seolah tak rela untuk berpisah.
"Markeuuu~ Hiks~" Jinyoung mulai terisak.
"Uljimaaa~" Mark akan selalu menenangkan. "Na kallge~"
Akhirnya kedua tautan itu terlepas. Jinyoung membiarkan pintu menutup di balik punggung Mark. Dia tidak sanggup mengantar hingga ke depan pagar. Oh, Park Jinyoung memulai dramanya!
"Hiks~ Hiks~" Tubuhnya bergetar saat menangis. Dia berjongkok untuk menenggelamkan wajahnya di antara kedua lutut. Apakah salah menangisi kepergian kekasih yang hanya selama seminggu untuk urusan keluarga ke luar negeri?
Tidak salah, Jinyoung-ah. Hanya berlebihan saja.
Tiba-tiba pintu kembali terbuka. Mark kembali melangkah masuk dan ikut berjongkok di hadapan namja cengeng itu.
"Jinyoungie~" panggil Mark lembut.
"Markeu?" Jinyoung menganggkat kepalanya dan terlihatlah wajah basahnya.
Mark menarik dagu Jinyoung pelan lalu melumat bibir kekasihnya tersebut. Jinyoung memejamkan matanya, menikmati selama mungkin ciuman perpisahan yang Mark persembahkan untuknya.
Mark menarik bibirnya menjauh, namun Jinyoung seakan belum puas dan meminta lebih. Bibirnya seperti lem yang ingin terus menempel di bibir Mark. Lengannya sudah melingkar di leher Mark, seolah merantai namja pirang itu agar tak lari dari jangkauannya.
"Markeu, aku mau ikut."
"Tidak bisa, sayang. Kau kan harus sekolah."
"Biarkan saja aku ijin sepertimu."
"Lalu kedua orang tuamu? Apa pendapat mereka nanti?"
Jinyoung mempout bibirnya kecewa. Dia sangat ingin ikut dengan Mark. Berpisah adalah hal yang paling dia benci. Walaupun itu hanya sebentar.
"Kau harus menungguku pulang. Yah?"
Jinyoung menggeleng layaknya anak kecil.
"Ayolah, Jie~" Mark memohon. Habis sudah segala cara untuk membujuk kekasihnya yang sensitif itu.
"Aku tidak mau berpisah denganmu~"
"Aku akan terus meneleponmu. Kita bisa facetime, video call, dan lain-lain! Jangan khawatir, Jie. Kita bisa selalu bertatap muka."
"Tapi sekolah akan membosankan tanpamu!"
"Kan masih ada Jackson. Bercandalah dengannya. Aku juga sudah berbicara dengannya tentang hal ini."
"Lalu bagaimana jika ada murid lain yang menggangguku?"
Mark tersenyum tipis. "Aku sudah mengancam semua murid agar tidak menyentuh kekasihku yang imut ini" Mark menyentil hidung namja kesayangannya.
Jinyoung akhirnya tersipu dan mulai lunak.
"Aku akan sangat merindukanmu, Jie" Mark mengecup kening Jinyoung dengan penuh kasih sayang.
Jika Mark sangat merindukannya, maka Jinyoung akan lebih sangat-sangat-sangat merindukannya. Melebihi apapun.
Jinyoung memeluk Mark untuk yang terakhir kalinya sebelum akhirnya melihat pria itu masuk ke dalam mobil dan mereka saling melambai.
Mobil pergi, Mark pun tak terlihat lagi. Meninggalkan Jinyoung yang meratapi nasib seorang diri. Ini pertama kalinya mereka berpisah (dalam waktu sementara).
-Flashback end-
Biasanya mereka selalu bersama. Dimana ada Mark, disitu selalu ada Jinyoung. Begitu pun sebaliknya. Namun kali ini Jinyoung harus menghadapi ujian ini seorang diri. Ya, Jinyoung merasa kalau dirinya sedang diuji .Oh, ya ampun!
Setiap hari dia berangkat ke sekolah dengan wajah muram dan tanpa semangat. Di kelas pun dia kebanyakan melamun. Saat jam istirahat, dia makan siang bersama Jackson. Namun hanya raganya yang duduk di kantin. Jiwanya entah sedang melayang kemana. Saat di toilet dia bisa tiba-tiba merasa sedih dan terisak. Dia merindukan Mark. Tak perlu diragukan lagi.
Terkadang Jinyoung menyesali keputusannya untuk merelakan Mark pergi. Seharusnya dia ikut saja dan cuek dengan perkara sekolah maupun orang tuanya. Tapi kata-kata Mark kembali mengingatkannya.
"Bukankah dengan tidak bertemu, kita bisa saling rindu dan saat kita bertemu nanti, kita bisa semakin mencintai satu sama lain?"
Aaaw~ kata-kata Mark sungguh menyentuh hati Park Jinyoung yang segera berbunga-bunga. Walaupun sebenarnya hal tersebut justru membuatnya semakin rindu.
Sudah hari kelima sejak Mark berangkat. Jinyoung selalu menandai kalender duduknya, menghitung hari kepulangan Mark.
Saat itu akhir pekan, dan Jackson yang sudah tak betah melihat kemuraman Jinyoung pun berencana mengundangnya untuk makan bersama di sebuah kedai pinggir jalan langganannya.
"Haruskah aku pergi, Markeu?" Jinyoung menanyai pendapat sekaligus meminta ijin kepada kekasihnya ketika melakukan facetime.
"Tentu saja. Jika itu Jackson yang mengajak, maka tidak apa-apa."
Jinyoung mempout bibirnya. Sebenarnya dia tidak mau pergi ke luar rumah jika tanpa Mark. Apalagi ini akhir pekan. Tapi mengurung diri terus selama empat hari juga membuatnya sumpek. Dia butuh udara segar. Kesepian membuatnya mengurung diri.
"Baiklah..." Jinyoung akhirnya menyanggupi pelan. "Cepat pulang, Markeu~" Jinyoung selalu mengucapkan kata itu di setiap akhir pembicaraannya dengan Mark.
"Ne~" Kekasihnya pun membalas patuh.
Lima belas menit kemudian, Jinyoung sudah melangkah menuju sosok Jackson yang sedang duduk membelakanginya. Di kedai itu ada beberapa orang lagi yang merupakan teman Jackson.
Udara malam hari membuat Jinyoung bergidik setiap angin menerpa kulitnya. Dia hanya mengenakan jaket denim kesukaannya. Dan dia membutuhkan Mark. Dia butuh pelukan hangat Mark.
"Jinyoung-ah~" Jackson menyodorkan satu gelas kecil berisi soju. "Kau butuh ini."
Jinyoung menatap ragu gelas dan Jackson secara bergantian.
"Tenanglah! Aku tidak akan meracunimu!" Jackson bergurau.
Jinyoung menimbang-nimbang. Soju mengandung sedikit alkohol. Tapi untuk saat ini, hanya minuman itu yang bisa menghangatkan tubuhnya.
Jackson terlihat puas saat akhirnya Jinyoung meneguk soju yang diberikannya tadi. Bisa melihat temannya itu keluar dari rumah saja sudah membuatnya lega.
Tapi perlahan, Jackson mulai cemas dengan intensitas meminum Jinyoung yang semakin bertambah. Pria itu tidak banyak bicara. Dia hanya mendengar Jackson bertukar cerita dengan yang lain. Sedangkan Jinyoung hanya diam dan terus mengisi gelasnya dengan soju.
"Yaa, Jinyoung~!" Jackson memperingatkan saat kekhawatirannya sudah tak dapat dibendung lagi. Dicegahnya Jinyoung yang sudah siap meneguk.
"Mwooo~?" Jinyoung sudah terdengar seperti orang mabuk. Matanya pun tak sesegar sebelumnya. Kepalanya terhuyung-huyung ke depan.
"Haiish~ kau mabuk!" Jackson bergumam pelan. Tapi Jinyoung bisa mendengarnya. Dan dia tersenyum.
"Hehe~ Aku mabuk? Syukurlahh~" Lihat, bicaranya saja sudah melantur.
Lalu kemudian, ketika keadaan Jinyoung semakin parah, kepalanya terasa berat dan menyebut nama Mark berulang-ulang. Dia bahkan tak sadar jika tubuhnya dibopong pulang.
"Aaakh~"
Terdengar erangan pelan dari balik selimut. Jinyoung menyembulkan kepalanya dengan wajah kusut. Rambutnya pun acak-acakan.
Kepalanya pusing. Badannya pun terasa susah digerakkan.
"Soju... sialan!" umpatnya pelan sambil memijat-mijat kepalanya.
Butuh beberapa saat sebelum Jinyoung mengumpulkan nyawanya dan rasa pusing di kepalanya berkurang. Dia turun dari ranjang dan menatap heran pintu balkonnya yang terbuka lebar.
"Hmm? Siapa yang membukanya?" gumamnya seorang diri sambil garuk-garuk kepala.
Tapi gerakannya terhenti saat melihat ke seberang, ke pintu balkon Mark yang juga terbuka lebar.
"Hmm?" Jinyoung kembali bergumam dengan kening berkerut. "Ada apa ini?" tanyanya kebingungan.
Satu.
Dua.
Tiga.
Jinyoung seketika tersadar. Matanya membuka lebar. Kakinya segera berlari keluar kamar, menuruni tangga, terburu-buru mengenakan sandal yang tak serasi, menerobos pagar, dan berlari ke rumah tetangganya.
Tanpa pikir panjang, Jinyoung segera membuka pagar, menerobos pintu rumah Mark, dan berlari menaiki tangga menuju kamar kekasihnya itu.
"Mark!" Dengan napas terengah, Jinyoung memanggil nama namja yang sangat dirindukannya. Jika tebakannya benar, kekasihnya itu harusnya sudah pulang. Tapi kamar itu kosong.
Tiba-tiba kedua mata Jinyoung ditutup oleh telapak tangan seseorang dari belakang.
"Mark?" Jinyoung kembali menebak. Dipindahkannya telapak tangan itu dari kedua matanya. Begitu menoleh ke belakang, terlihatlah Mark yang sedang berdiri di hadapannya.
"Annyeong~" Mark menampilkan senyum mautnya.
"MARK!" Jinyoung memikik riang, lalu segera memeluk bae nya itu. "Kau pulang? Kenapa tidak memberitahuku? Dasar!" Jinyoung menggigit punggung Mark di akhir makiannya.
"Aaaww!" Mark melompat menjauh. "Sakit, tahu!"
Jinyoung tersenyum sangat lebar dengn mata yang mulai berkaca-kaca. "Aku sangat merindukanmu!" Dipeluknya lagi tubuh Mark. Bahkan dia mengecup bekas gigitan di punggung Mark tadi, seolah memulihkan.
"Na ddo~" Mark membalas.
HAP!
Mark mengangkat tubuh kekasihnya itu.
Jinyoung menjauhkan diri sejenak, merengkuh wajah tampan Mark, lalu menghujaninya dengan ciuman-ciuman.
Keduanya tergelak selagi melepas rindu, seakan tak peduli waktu.
"Kau tidak keberatan menggendongku terus?" tanya Jinyoung disela-sela ciumannya.
"Never~" Mark membalas hampir seperti bisikan. Ciuman Jinyoung membuatnya kehabisan napas.
Jinyoung terus menyerang. Kecupannya sampai di leher Mark. Hidungnya mencium sebanyak mungkin aroma tubuh yang sudah lama dia rindukan.
"Turunkan aku, sayang~" pinta Jinyoung.
Namun Mark menggeleng, membuat Jinyoung kembali tergelak. "Wae? Nanti tanganmu pegal!"
"Badanmu tidak berat kok. Kau pasti tidak makan dengan teratur kan?"
Jinyoung mengangguk muram. Mark sangat mengenal dirinya. Nafsu makannya berkurang drastis semenjak ditinggal pergi Mark.
Kekasihnya itu menghela napas lelah. Sudah diperingatkan, tapi Jinyoung pasti mengabaikannya.
"Perutku menolak untuk makan banyak, Mark" Jinyoung mengadu. Bukannya dia tidak mau patuh. Tapi hidupnya benar-benar hampa tanpa Mark. "Jadi aku makan seadanya. Kadang bahkan tidak makan."
"Aigoo~ Kasihan sekali uri Nyongie~" Mark mengusap-usap pipi Jinyoung yang kadar ketembamannya mulai berkurang. "Sekarang aku sudah pulang. Kau harus makan yang teratur, ya..."
"Eung!" Jinyoung langsung mengangguk dengan wajah cerah.
Kaki Jinyoung kembali menyentuh lantai, namun Mark yang kali ini menciumnya lagi, melumat, dan bergerak maju hingga bobot tubuhnya kembali ditopang oleh lengan Mark.
Kedua ujung bibir Jinyoung bergerak naik. Hatinya begitu bahagia jika Mark sudah memperlakukannya selembut ini. "Kau begitu merindukanku, Mr. Tuan?"
"Very~"
Senyum Jinyoung semakin melebar. Tangannya mengelus rambut Mark, menekan kepala pria berambut pirang itu hingga tak tercipta lagi jarak diantara mereka.
"Eummh~ Soju?" Tiba-tiba Mark menyela.
"Hmm?" Jinyoung membuka matanya.
"Jadi soju yang membuatmu mabuk?"
Sebenarnya, ciuman Mark lah yang membuat Jinyoung di mabuk kepayang. Untuk saat ini. Tapi...
Jinyoung mengedip-ngedipkan matanya, mencerna pertanyaan Mark.
Mark menarik tubuh Jinyoung untuk berdiri tegak kembali. "Kau tidak ingat, Baby?"
"Eung... Ingat... apa?" Jinyoung bergumam samar.
Mark tersenyum tipis lalu mengusap puncak kepala Jinyoung yang sedang berusaha mengingat-ingat tentang kejadian tadi malam.
-Flashback-
"Aku mabuk, Markeuuuu~! Mark, kau ada dimanaaaa?"
Jinyoung berteriak melantur. Jackson sampai kewalahan menanganinya. Dia segera meraih ponsel dan menelepon seseorang.
"Yaa Mark, kau sudah dimana? Cepat kemari!"
Lima belas menit kemudian Mark datang.
"Hee? Markeu~?" Jinyoung yang setengah sadar menyadari kehadiran kekasihnya dan mengarahkan telunjuknya ke wajah Mark.
Dengan sigap Mark membopong tubuh Jinyoung pulang ke rumah. Ocehannya masih terdengar saat tubuhnya terhempas ke ranjang.
Jinyoung mengerang dan tubuhnya menggeliat. "Markeu, panaaass~"ucapnya sambil berusaha melepaskan jaket denimnya.
Mark yang melihatnya pun membantu melepaskan.
Namun hal tersebut malah merangsang Jinyoung yang mabuk untuk berbuat hal-hal lain. Wajah tampan Mark begitu menggoda. Jinyoung mendekati tubuh Mark, mencengkram kaosnya dan mencari-cari tempat pendaratan untuk bibirnya yang lapar.
"Markeuuu~" Jinyoung terus meracau sebelum akhirnya mencium permukaan yang kissable. Dilumatnya bibir tipis Mark dan lidahnya memaksa masuk ke rongga mulut kekasihnya tersebut. "Eunggh~" Erangan Jinyoung membuat Mark sedikit terangsang dan menyambut baik serangannya.
Tapi Mark segera mencegah tangan Jinyoung yang bergerak menuju bagian selangkangannya. Dia berusaha menjaga akal sehatnya. Saat ini Jinyoung sedang mabuk. Dia tidak boleh menanggapi perlakuan Jinyoung. "No, Jinyoungie..."
"Ah, waeee~?" Jinyoung merengek dengan mata terpejam. "Aku sedang ingin..."
Mark menggaruk pelipisnya. Sejujurnya, mendengar Jinyoung mengucapkan hal tersebut merupakan suatu anugerah. Tapi seandainya saja Jinyoung mengatakannya dalam keadaan sadar, bukan mabuk seperti ini.
"Kalau begitu kau saja yang menyentuh milikku, yaaaa~" Tak kunjung mendapat respon, sekarang Jinyoung malah memberikan akses kepada tangan Mark yang sudah diletakkannya di miliknya yang mulai menonjol.
"No, Jie..." Mark terus menolak dan memindahkan tangannya.
"Aaaarrghh~" Jinyoung mengerang pelan lalu merebahkan tubuhnya tanpa posisi jelas di antara bantal-bantal. "Aku kepanasan..." gumamnya sebelum mulai terlelap.
-Flashback end-
"Astaga!" Jinyoung membekap mulutnya sendiri. "Jadi Markeu sebenarnya sudah ada disini sejak tadi malam?"
"Yap."
"Tapi bukankah seharusnya dua hari lagi jadwalmu pulang?"
"Tadinya begitu. Tapi aku terlalu sangat merindukanmu hampir ingin mati! Jadi aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Kebetulan urusan keluargaku sudah bisa ditinggal. Hanya kedua orang tuaku yang masih ada di L.A."
Jinyoung menghela napas lega, penuh syukur. "Syukurlah kau pulang lebih cepat, Mark" Jinyoung kembali menghampiri kekasihnya dan memeluknya erat. "Aku juga sudah sangat-sangat-sangat merindukanmu!"
"Lain kali kau tidak boleh mabuk bersama orang atau pria lain, ya? Aku harus ada bersamamu. Kalau tidak, sesuatu yang buruk mungkin akan terjadi."
Jinyoung terkikik pelan menanggapi tingkah liarnya jika sudah mabuk, namun mengangguk patuh. Untung saja dia memilik kekasih seperti Mark, yang selalu bisa menguasai diri dengan baik, keren, dan nyaris sempurna.
"Jadi, rumahmu akan kosong untuk dua hari ke depan?" tanya Jinyoung.
"Hu-um. Wae?" Mark berbisik menggoda. "Kau mau menginap?"
Tapi Jinyoung malah tertawa lepas dengan wajah bersemu.
"Kenapa?" Mark bertanya heran. "Ayo,ml menginap saja ya?" godanya lagi.
"Tidak ah~" Jinyoung berusaha membelakangi Mark. Tapi kekasihnya itu sudah lebih dulu menggelitikinya. "Mark, geli!"
"Menginap, ya? Ayolah! Kau harus menginap."
"Tidak! Akh, geli, markhh~"
Mark terus menggelitiki Jinyoung tanpa ampun. Hingga akhirnya...
"Iya! Iya! Aku menginap! Hha~" Jinyoung menyerah. Dia sampai menangis karena tertawa geli akibat ulah Mark.
"YESS!" Mark bersorak penuh semangat dan menggendong Jinyoung ala bridal style, lalu merebahkan tubuh mereka di atas ranjang hingga tawa MarkJin memenuhi ruangan tersebut.
~fin~
Nb:
Jika readers membaca ff ini, berarti postingan lui berhasil.
Haiiiii~~! Lui menghilang sejenak dari FFN karena selalu gagal setiap mau posting di FFN. Karena apa? Entahlah... -_-"
Kalau semisal lui menghilang lagi, main2 k wattpad aja yaa. Disitu ada projek 2jae ft markjin *promo* hehe~^^
