Warning for this chapter: Author-Insert and swearing
"Okay, Ichigo! Kau sudah siap untuk melanjutkan syutingmu untuk scene ke-32?" tanyaku pada Ichigo, yang merupakan bintang dari fanfic yang aku buat kali ini.
"Tidak bisakah kau memberikanku istirahat?" balas sang cowok berambut oranye tersebut.
"Kau sudah beristirahat banyak tahu! Sekarang aku lagi semangat untuk membuat cerita dan sebelum ide ini menghilang, jadi aku harus cepat-cepat menuliskannya. Kau tidak ingin membuat reader kita kesepian, bukan?" jawabku dengan seringaian lebar layaknya seorang author licik. Atau mungkin fujoshi licik.
"Well, your reader! Not mine!"
"Stop whining and do your job!"
"ICHIGOOOO!"
Tiba-tiba sebuah suara nyaring milik cowok berambut kecoklatan masuk ke dalam pendengaran kami. Dialah seme Ichi untuk episode kali ini. Asano Keigo. Fu... fu... fu... Dan hal yang paling menarik dari itu semua adalah raut wajah horor milik kekasihk―ah maaf, diriku masih sayang nyawa dan tidak akan memberikannya untuk para fans Ichigo di luar sana yang akan marah jika saya melanjutkan kalimat tersebut. Kembali ke cerita.
"Oi, Saichi. Don't you say that..."
"What is it my dear, Ichigo-chan?" balasku sambil tersenyum penuh dengan arti.
"Ada apa Ichigo? Kau masih belum siap untuk menjadi uke-ku kali ini? Padahal aku sudah sangat menantikan hari ini loh!" Keigo lah yang akhirnya memberitahukan kenyataan pahit pada pemeran utama tercinta kita.
"THE HELL?! NO FUCKING WAY! GO TO HELL, SAICHI!"
Oke, sebaiknya aku kabur dulu sebelum Ichigo membunuhku. Lalu akan kucari cara agar dia bisa benar-benar menjadi uke dari Keigo.
~end~
A/N (Author's Note): Hoooo... cukup cepat untuk yang kali ini? Dunno... Tapi kebetulan emang dapet ide yang menarik. Hohoho... sebelum kelupaan harus cepet dituangkan. Oke, maaf jika mengecewakan. RnR please! Saichi gak dapet sama sekali di chapter-chapter belakangan ini. Hiks...
Next chapter: Kojima Mizuiro
See ya next chapter!
