PRESENT
.
.
.
River Flows in You
.
.
.
CAST
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Do Kyungsoo
Aracelli
Arlo
Wu Yifan
.
.
.
M
.
.
.
Chanbaek / ChanSoo (Slight) / KrisBaek (Slight) / (GS)
Huyy.. Ketemu lagi di chapt. 2, Wah gak nyangka kalau bakal dapet feedback yang sedemikian baiknya. Makasih udah boleh ngelanjutin fanfic ini.
Sebagai balasan atas feedback kalian aku bakalan kasih bonus satu chapter lagi dan tokoh baru dalam cerita ini.
Semoga kalian suka. Oh iya balasan reviewnya ada di bawah fanfic ya.
.
.
.
.
"Only fools fall for you"
Baekhyun berlari sekencang mungkin, saat ini Toilet adalah tempat tujuan mahasiswi sastra inggris itu. Ia butuh air dan kucuran air keras yang mampu menyamarkan suara tangisannya.
BRAK
Wanita itu membuka asal pintu toilet. Syukurlah, ia sedikit bernafas lega karena disana tidak ada orang kecuali petugas kebersihan.
"Ini..." Baekhyun memberikan sedikit uang. "Pergilah, aku ingin pakai toiletnya sebentar. Seorang diri."
Sang petugas kebersihan itu keluar tanpa menjawab apapun, siapa saja yang melihat Baekhyun saat ini sudah bisa menebak suasana hatinya.
BLAM
Baekhyun memutar keran, membiarkan air keluar sangat keras dari keran tersebut.
"Hixs... Hixs.."
"Bodoh! Kau sungguh bodoh Byun Baekhyun!"
"Bagaimana bisa kau terlena pada pria yang jelas-jelas masih mencintai mendiang istrinya."
"Seharusnya ini tidak terjadi, harusnya kau tetap berada ditujuan awalmu, yaitu fokus pada kuliahmu, Baek."
"Hixs.. Hixs.."
"Aku benciiiii argghhhh!"
Baekhyun menjatuhkan dirinya dan bersandar di dinding. Membiarkan semua rasa sesaknya meluap diudara
melalui tangisannya.
Demi mendapatkan maaf dari sang mertua, malam ini Chanyeol pulang lebih awal dan menyerahkan kedainya pada Kim Jongdae.
Pria itu membawa dua bungkus mie goreng cina yang ia minta buatkan pada Jongdae tadi, ini masih pukul 7 malam jadi pasti Ny. Do belum makan malam.
"Aku pulangggggg."
Seperti tidak percaya mendengar suara itu. Aracelli dan Arlo yang sedang asik bermain Lego di temani Ny. Do pun berlarian ke ruang tamu untuk menyambut sang ayah.
"Ayahhhh..." Teriak Aracelli sambil disusul Arlo dibelakangnya.
"Uhh sayang ayah sudah bisa berlari sekarang ya." Ujar Chanyeol, kemudian menangkap keduanya. Ia menggendong mereka, yang satu disebalah kanan yang satu disebelah kiri. Benar-benar Hot daddy.
"Ayah, hari ini Arlo sangat nakal. Ia mencoreti buku matematika ku." Chanyeol mencoba mendengarkan pengaduan dari sang putri.
"Benarkah? Yaampun.. Arlo jangan seperti itu ya."
Chanyeol pura-pura menegur anak bungsunya padahal ia tau putranya tidak mengerti apa yang dimaksudkannya.
"Mana Gema?"
TAP
TAP
Suara langkah dari ruang Tv ke arah mereka. Chanyeol dan anak-anak sedang berada di meja makan, menyiapkan mie goreng cina yang tadi ia bawa.
"Bu, ayo kita makan bersama. Aku membawakan makanan kesukaanmu." Ujar Chanyeol
Arlo dan Aracelli sudah mengambil posisi di kursi meja makan dengan sangat tertib.
Aracelli memakaikan celemek pada sang adik, agar bajunya tidak terkena tumpahan makanan nanti saat ia sedang makan.
"Apa ibu tidak salah liat?" Sindir ibunya.
"Apa aku menuangkan mie nya terlalu banyak?" Chanyeol sebenarnya tau maksud mertuanya, tapi ia berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Bukan soal mie nya Chan! Tapi soal wanita itu."
Chanyeol menghentikan kegiatannya sejenak. Ia mengelus lembut kepala anak-anak secara bergantian.
"Bu, bisakah kita tidak membahasnya dulu? Disini banyak anak-anak. Apa ibu tidak melihat Aracelli cukup ketakutan melihat perdebatan kita waktu itu? Aku tidak ingin anak-anakku psikisnya terganggu."
Chanyeol menyuapi Arlo dengan pelan-pelan takut anaknya tersedak. Sementara Ny. Do akhirnya pergi meninggalkan ruang makan dengan perasaan kesalnya.
Chanyeol menghampiri ibu mertuanya yang sedang duduk di kursi halaman belakang seorang diri. Pria itu membawa secangkir teh hangat.
"Aku kesini untuk meminta maaf padamu, bu. Akhir-akhir ini banyak sekali ketegangan di antara kita hanya karena kehadiran Baekhyun."
"..."
"Ibu tidak perlu mencemaskan perasaanku terhadap wanita itu. Hentikan ketegangan ini, dan mulailah bersikap hangat padanya. Apa ibu tidak melihat kebaikannya pada anak-anak? Bukankah itu baik?"
Ny. Do menghela nafas panjang, ia sadar bahwa kekerasan dan keegoisan hatinya secara tak langsung membuat kehidupan menantu serta cucu-cucunya menjadi serba salah. Benar yang dikatakan Chanyeol, cucunya membutuhkan sosok teman yang bisa mengisi kekosongan yang ada.
Menyadari dirinya sudah semakin menua, Ny. Do kadang merasa kewalahan ketika harus menjaga mereka seharian penuh. Wanita itu sangat menyayangi cucunya, ia hanya merasa khawatir jika menantunya sudah mendapatkan pendamping baru, ia akan semakin jauh dari cucu-cucunya.
Di usia senja ini, hanya Aracelli dan Arlo yang bisa menghiburnya dikala Ny. Do merindukan sang putri yang kini telah tiada. Tn. Do sudah lama meninggal, dirumah sebesar itu Ny. Do hanya bertemankan beberapa pelayan saja. Syukur-syukur sekarang ada kedua malaikat itu. Jadi ia tidak merasa kesepian lagi.
"Ibu ingin tidur bersama cucu-cucu ibu. Kau pulang saja. Biarkan mereka disini."
Hanya itu yang bisa dikatakan oleh Ny. Do, ia tidak menggubris Chanyeol soal Baekhyun. Rasanya masih terlalu sulit untuk menerima keberadaan wanita itu. Feeling seorang ibu sedang berperan saat ini, ia merasa akan terjadi sesuatu antara Chanyeol dengan Baekhyun. Ya.. Lagi-lagi ia serahkan semua pada tuhan.
"Bagaimana? Apa semua bisa teratasi?"
Chanyeol terkejut mendapati Do Kyungsoo yang duduk di sebelahnya.
"Entahlah, aku bingung bagaimana cara membuat ibumu melunak." Sahut Chanyeol di sela-sela mengemudinya.
"Sudahlah, lambat laun ibu akan mengerti."
Chanyeol mengangguk. Kemudian ia meraih tangan sang istri dan sesekali mengusapnya.
"Maafkan aku soal tadi malam, Kyung."
Kyungsoo tersenyum, sepertinya ia tidak marah.
"Wanita itu.. Sepertinya sangat kecewa padaku mungkin ia tidak akan menemuiku dan anak-anak lagi." Tambahnya.
"Jadi, apa kau merasakan sesuatu setelah melakukannya dengan Nn. Byun?" Tanya Kyungsoo membuat Chanyeol termenung sejenak. Dan jawabannya masih sama, yaitu..
"Tidak."
"Apa yang membuatmu tidak menyukainya,Chan?"
Sepintas bayangan Baekhyun muncul di ingatannya. Wanita sipit yang mempunyai sifat Sanguins. Baekhyun memang baiktapi ia tidak memiliki sifat keibuan dan sepertinya wanita itu sangat jauh berbeda dengan istrinya. Bagaimana bisa Chanyeol hidup bersama wanita seperti Baekhyun, mengingat ia adalah duda beranak dua. Pria itu membutuhkan wanita yang sudah siap mental. Do Kyungsoo bisa membaca pikiran suaminya. Ia terkekeh kecil membuat Chanyeol kebingungan.
"Apa yang lucu?"
"Pikiranmu!"
"Hei, sejak kapan kau bisa membaca pikiranku. Apa itu anugerah dari Tuhan yang baru-baru ini diberikan kepadamu?"
"Dengar Chan, seorang wanita pada dasarnya sama. Aku juga dulu seperti itu, manja dan tidak memiliki sifat keibuan. Tapi seiring waktu berjalan, semua itu akan terbentuk sesuai dengan kondisi yang ada."
"..."
"Jadi mulailah membuka hatimu. Biarkan Nn. Byun masuk ke dalam sana." Do Kyungsoo menunjuk-nunjuk dada bidang milik Chanyeol.
"Lalu bagaimana dengan ibumu?"
"Percayalah semua akan baik-baik saja selama kau tulus menjalaninya."
Chanyeol menatap istrinya.
"Akan aku pikirkan." Jawabnya singkat.
Baekhyun saat ini sedang berkutat dengan tugasnya di depan Laptop. Kacamata baca setia terpasang didepan mata sipit itu.
Pikirannya tidak fokus, selalu saja tertuju pada kejadian tadi siang. Ia beranjak dari duduknya meninggalkan segalanya di atas meja belajarnya itu.
Berdiri di ambang pintu yang menyambungkan dapur ke arah Balkon. Ia bersedekap menatap langit yang sinar bintangnya tidak terlalu terang. Menggambarkan suasana hatinya.
Disela-sela kemalasannya dalam mengerjakan tugas, ia memikirkan masa-masa menyenangkannya bersama kedua anak pria yang sudah menyakitinya itu.
Drrtttt
Drrtttt
Ponselnya bergetar. Baekhyun mengeluarkan ponselnya dari saku bathrope yang sedang ia kenakan.
"Yeoboseoyo.."
"Baekkie!" Pekik dari seberang sana.
"Ibuuuuu..."
"Ah anakku, ibu sangat merindukanmu. Kenapa kau tidak pernah menghubungi kami disini,nak?"
Baekhyun menepuk dahinya keras-keras. Kesibukannya di Seattle membuatnya lupa untuk menghubungi keluarganya disana.
"Ibuuu.. Aku merindukan kalian." Lirih Baekhyun, padahal dipikirannya tergambar wajah Park Chanyeol.
"Dengar nak, ibu sudah meminta izin pada ayah..."
"Soal apa?"
"Yak! Kebiasaan burukmu selalu saja memotong pembicaraan orang lain."
"Begini.. Ibu akan menyusulmu ke Seattle."
"Apa?" Baekhyun terkejut. Lengkingan suaranya membuat gendang telinga Ny. Byun hampir pecah.
"Kenapa? Apa kau tidak suka?"
"B-bukan begitu bu.. Tapi, aku rasa ibu tidak perlu menyusulku kesini. Korea - Seattle itu jauh bu. Bagaimana jika tunggu hingga kuliah ku libur, aku akan pulang ke Korea."
"Yak Baekkie! Kau tidak perlu mengkhawatirkan ibu seolah-olah aku ini anak kecil yang baru melakukan perjalanan jauh."
"..."
"Lagipula ibu tidak sendirian."
"Lalu ibu ingin pergi kesini dengan siapa?"
"Wu Yifan!"
DEG
Lagi-lagi pria itu. Sampai sekarang Baekhyun tidak mengerti dengan sang ibu yang tak lelah-lelahnya menjodohkan pria yang bernama Wu Yifan itu dengannya.
Baekhyun sudah pernah berkencan dengannya, tapi ia tidak merasa ada kecocokan dengan pria yang berprofesi sebagai IT di perusahaan milik ayah Baekhyun.
Alasannya selalu sama, Ny. Byun ingin Baekhyun mendapatkan pria yang sama-sama memiliki otak cerdas dan tentunya berpendidikan tinggi. Karena dengan dua unsur tersebut secara otomatis kesuksesan akan menunggu didepan mata.
"Kenapa kau diam?" Ny. Byun memastikan.
"Bu... Kenapa harus bersamanya?" Rengek Baekhyun.
"Sudahlah, berikan saja alamatmu dan tunggu kedatangan kami. Ibu tutup dulu telponnya ya."
PIP
Baekhyun mendengus tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia begitu malas jika harus bertemu lagi dengan si kutu buku Wu Yifan itu.
Selain karena kuliahnya. Ternyata kepergian Baekhyun ke Seattle juga karena ingin menghindari pria berusia 30 tahun itu. Pria dengan kacamata tebal yang menghabiskan waktunya di depan komputer. Sungguh membosankan.
"Ayah, sudah seminggu Baekhyun Eonnie tidak datang ke kedai. Apa ayah tau dimana ia sekarang?"
Aracelli bertanya pada ayahnya yang sedang sibuk mengelap meja kedai yang terkena tumpahan kopi karena pengunjung sebelumnya.
"Mungkin ia sedang sibuk dengan kuliahnya." Jawab Chanyeol datar.
"Ayahhh..." Aracelli menarik apron Chanyeol. "Antarkan aku ke rumah Baekhyun Eonnie, aku sangat merindukannya."
Chanyeol menghentikan kegiatannya. Ia melirik ke sang anak yang memasang wajah semelas mungkin.
"Ayah sedang sibuk sayang. Lain waktu saja."
Aracelli mendengus sebal. Ia benci jika keinginan sederhananya tidak dipenuhi oleh ayahnya. Padahal apa susahnya hanya mengantar ke rumah wanita yang belakangan ini sering hadir ke dalam mimpinya.
Gadis kecil itu menghentakkan kakinya ke arah meja kasir. Tanpa Chanyeol ketahui, Aracelli menggeratak laci pribadi miliknya yang saat itu tidak terkunci. Ia mencari ponsel milik ayahnya, dan menemukan sebuah kontak bernama Byun Baekhyun.
Baekhyun yang sedang didalam kelas tidak mengetahui ada yang menghubunginya. Ponselnya diletakkan didalam tas karena sang dosen sedang menjelaskan.
Lima kali Aracelli menghubungi Baekhyun tapi tidak ada jawaban. Ia mengerucutkan bibirnya, merasa ada yang aneh di antara ayah dan eonninya itu.
"Kau menghubungi siapa,hem?" Ponsel itu diambil alih oleh Chanyeol dan melihat ternyata anaknya telah menghubungi Baekhyun.
"Tidak diangkat." Batinnya.
Ia melirik ke arah anaknya yang sedikit kecewa. Tiba-tiba Kim Jongdae keluar dari dapur membawakan strawberry milkshake untuk Aracelli.
"Wahh paman, terima kasih sudah membuatkan ini." Senyum kembali berkembang di bibir Aracelli.
Kim Jongdae mengedipkan sebelah matanya yang mengisyaratkan, kita berhasil, sobat.
Ternyata sejak tadi Kim Jongdae memperhatikan Aracelli dari mulai anak itu merengek hingga diam-diam menggeratak laci milik Chanyeol.
Barista asal Korea itu menggendong Aracelli yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri ke arah kursi yang masih kosong. Mengajaknya berbincang-bincang seputar serial kartun.
Chanyeol tersenyum melihat itu. Kemudian matanya kembali tertuju layar ponselnya dan menghela nafasnya panjang-panjang.
Baekhyun memutuskan untuk langsung pulang ke flatnya. Biasanya, sepulang kuliah wanita itu menyempatkan diri ke Kedai Chanyeol dan bermain dengan si cantik Aracelli.
Langkahnya sedikit gontai, karena ia merasa lapar dan juga mengantuk. Mata kuliah hari ini benar-benar membosankan. Jika di hitung, mungkin sudah ribuan kali ia menguap didalam kelas.
Sampailah ia di depan bangunan flatnya. Saat ia ingin masuk, tiba-tiba..
"Eonnie..."
GREP
Mata sipit itu membola, saat ia mendapati gadis kecil yang beraroma vanilla itu memeluk tubuhnya dari belakang.
"Aracelli..." Panggil Baekhyun. Ia segera melihat kesana kemari, memastikan gadis cantik itu datang bersama siapa.
"Kau sendirian? Mana Gema? Mana... Ayahmu?" Intonasi Baekhyun melemah di akhir kalimat.
"Aku diam-diam kesini, hanya untuk menemuimu, eonnie. Aku merindukanmu." Anak itu merapatkan pelukannya.
Baekhyun tersenyum, ia mengusap rambut halus Aracelli.
"Oh ya, tapi bagaimana caranya kau bisa sampai kesini?"
"Hehehehe..." Aracelli terkekeh kecil.
"Kemarilah." Timpalnya.
Baekhyun berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Aracelli kemudian anak itu mendekatkan mulutnya ke telinga Baekhyun.
"Aku mengambil sedikit uang ayah dan kemudian naik taxi saat ayah sedang sibuk di dapur bersama paman Jongdae." Bisik Aracelli.
"Astagaaa! Itu sungguh tidak baik Aracelli. Aku yakin saat ini ayahmu pasti sedang khawatir. Ayo aku antar kau pulang."
Aracelli menahan dirinya agar tidak terbawa oleh tarikan Baekhyun.
"Tapi aku mau disini bersama Eonnie." Rengek anak itu.
"Aku mengerti sayang. Tapi pasti nanti ayahmu akan marah jika tau kau ada disini."
"Kenapa harus marah? Bukankah, ayah juga berteman denganmu? Bahkan kita sudah pernah menginap di Kedai bersama."
DEG
"T-tapiiii..."
"Eonnie, kemarin aku bermimpi kau dan ibuku sangat akrab. Bahkan kalian mengantarku ke sekolah bersama-sama." Lirih Aracelli membuat Baekhyun terenyuh.
"Tapi kemudian aku terbangun, dan tidak mendapati keduanya disampingku. Aku merasa sedih dan takut kau akan meninggalkanku seperti yang sudah ibu lakukan."
DEG
Baekhyun langsung memeluk Aracelli dengan sangat erat. Air matanya hampir tumpah, tapi sekuat tenaga ia menahannya. Karena... Ia sadar diri akan posisinya, Bahkan Park Chanyeol saja menutup pintu hatinya, tidak mengizinkan siapapun masuk untuk mengganti posisi Do Kyungsoo.
"You stabbed me in the back and then asked why I was bleeding"
"Bagaimana bisa kau lengah, Chan? Jika anak itu tersesat bagaimana? Aku semakin tidak yakin, kau bisa mengurus anakmu dengan baik." Ucap Ny. Do panjang lebar membuat kepala Chanyeol mau pecah. Bukannya mencari solusi, tapi wanita itu malah memojokannya.
"Aku sedang di dapur bu. Tadi dia sedang menikmati Milkshakenya disini. Baru aku tinggal 10 menit, anak itu sudah menghilang." Sahut Chanyeol berdiri disamping Ny. Do
Aksi mereka mendapat perhatian dari beberapa pengunjung yang datang. Kim Jongdae mengambil alih, sementara sang Boss sedang berdebat dengan mertuanya.
"Apa sebelumnya dia meminta sesuatu padamu?"
Chanyeol ingat, putrinya memintanya untuk bertemu dengan Baekhyun. Tapi apa mungkin Aracelli nekat pergi ke tempat wanita itu?
Chanyeol tak menjawab, keinginan Aracelli tadi pasti akan membuat Ny. Do marah.
"Ahh Boss itu Aracelli.." Teriak Kim Jongdae menunjuk ke arah pintu.
Ny. Do dan Chanyeol segera menuju ke arah pintu. Mereka sedikit terkejut saat melihat Aracelli turun dari Taxi bersama Byun Baekhyun.
"Wanita ituu.." Gumam Ny. Do
Chanyeol keluar dari dalam kedai menghampiri putrinya yang sedang memakan Lollipop.
"Aracelli kau kemana saja?" Tanya Chanyeol begitu cemasnya. Ia memeluk sebentar putrinya.
"Ayah tidak mau mengantarku ke tempat Eonnie, aku pikir lebih baik aku saja sendiri yang kesana."
Ny. Do datang, tanpa mengeluarkan satu pertanyaanpun segera meraih tangan cucunya yang semula ada di genggaman Baekhyun dan membawanya kembali masuk ke dalam.
"Eonnie, kapan-kapan kita bertemu lagi ya. Pai-pai.." Aracelli memberikan blowing kissnya pada si mungil Baekhyun.
Tapi kemudian Baekhyun tertunduk, ia yakin sekali bahwa saat ini Ny. Do sudah berpikir yang tidak-tidak. Lagi-lagi ia hanya mengalah, membiarkan wanita itu dengan pikiran-pikirannya.
Kini tinggal Chanyeol dan Baekhyun disana. Seketika suasana menjadi sangat canggung, Baekhyun melirik kesana kemari sengaja menghindari kontak mata dengan pria tinggi yang ada dihadapannya.
"Masuklah, akan aku buatkan kau kopi." Ucap Chanyeol pelan.
DEG
Akhirnya Baekhyun bisa mendengar suara itu lagi. Ia sangat merindukannya.
"Tidak perlu, aku datang kemari hanya untuk mengantar putrimu." Jawab Baekhyun sedingin mungkin, memperlihatkan bahwa ia masih dalam keadaan marah pada pria itu.
"Maafkan jika Aracelli merepotkanmu. Ia bilang padaku bahwa ia sangat merindukanmu, Baek."
"Hmm iyaaa."
"Oh ya Baek, boleh aku bertanya satu hal padamu?"
"Kau marah oleh ucapan ku waktu itu?" Baekhyun mendongakan kepalanya, maniknya bertemu dengan milik Park Chanyeol.
"Terlepas dari masalah kita, Bisakah kau tetap menjadi teman dari anak-anakku."
Baekhyun terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa. Pikiran dan batinnya saling bertentangan. Pikirannya mengatakan, bahwa Park Chanyeol sudah menyakitinya, tapi jauh didalam hatinya ia masih mengharapkan kebersamaanya bersama pria itu dan kedua anaknya yang sangat menggemaskan. Baekhyun serba salah, jika ia terus melangkah, hanya akan ada sebuah harapan kosong disana. Tapi jika berhenti, rasanya tidak tega menghancurkan mimpi indah gadis kecil yang sudah mulai ada dihatinya itu.
"Kau tidak perlu menjawabnya sekarang. Aku mengerti. Tapi aku akan sangat berterima kasih jika kau mau menerimanya."
Ini sudah hari ketiga setelah kejadian Aracelli menemuinya. Semenjak itu, pikiran Baekhyun selalu saja dipenuhi oleh perkataan Chanyeol.
Baekhyun merasa sedikit stress akhir-akhir ini, matanya menatap kosong meja yang berserakan sampah hotdog yang ia habiskan sebanyak 3 porsi tadi.
"Park Chanyeol! Enyahlah kau dari pikiranku!"
Baekhyun melonjak-lonjak di atas ranjangnya, berharap merasa lelah kemudian tertidur dan berhenti sejenak memikirkan pria yang berkharismatik itu.
Tapi usahanya tak kunjung berhasil, kata orang semakin kita berusaha untuk melupakan seseorang maka orang tersebut akan semakin menempel di pikiran kita. Itulah yang di alami Baekhyun. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi keluar mencari udara segar.
Sementara di kediaman Chanyeol.
"Kau yakin tidak mau ikut?" Tanya Chanyeol sambil memakai mantelnya.
"Tidak yah, aku harus mengerjakan PR ku. Oh ya, kau tidak lupa kan persediaan susu ku sudah habis, yah."
"Tentu sayang. Tunggulah, 20 menit lagi ayah akan kembali."
Chanyeol pergi berjalan kaki menuju swalayan. Ia berencana ingin membuat bibimbap untuk makan malam kali ini.
Setelah membeli kebutuhannya, ia bergegas untuk cepat kembali pulang karena tidak ingin membiarkan putrinya seorang diri dirumah malam-malam begini.
Tapi siapa disangka ia bertemu dengan Baekhyun di tengah jalan. Wanita itu tengah asik menikmati es krim sambil duduk di kursi pinggir jalan mengayun-ayunkan kakinya persis seperti anak kecil.
"Ehemmm.. Baekhyun." Sapa Chanyeol
Baekhyun segera menoleh ke arah belakangnya. Ia tak percaya harus bertemu dengan duda itu disini. Chanyeol terkekeh kecil saat melihat ada sisa-sisa krim yang mengenai pinggiran mulut mungil Baekhyun.
"Chan.. Kau habis dari swalayan? Mana Aracelli?" Tanya Baekhyun melirik ke kantung belanjaan Chanyeol.
"Dia dirumah. Kau sedang apa disini sendirian?"
"A-aku hanya sedang merasa bosan. Banyak tugas yang harus ku kerjakan. Tapi aku masih terla..."
"Tunggu sebentar, Baek."
DEG.. DEG..
Jantung Baekhyun berdebar saat duda itu mendekat ke arahnya.
"Astaga, apakah ia akan menciumku? Tidak! Tidak mungkin.. Dia tidak mencintaiku." Batin Baekhyun.
Namun Chanyeol semakin mendekat. Lagi-lagi Baekhyun pasrah, ia memejamkan matanya menanti kira-kira apa yang akan dilakukan Park Chanyeol.
Tiba-tiba, ibu jari pria itu mengusap lembut pinggiran mulut Baekhyun membuat wanita itu mengerjap lucu.
"Eskrim mu tertinggal di sisi mulutmu,Baek."
BLUSH
Saat ini wajah pucat Baekhyun berubah menjadi kemerahan seperti saos tomat yang siap di tumpahkan ke permukaan Pizza.
Apa ini? Harusnya Baekhyun marah padanya. Perbuatannya waktu itu cukup membuat wanita itu sakit hati. Tapi dia lemah bahkan terlalu lemah hingga kekecewaannya terhadap duda itu seperti hilang seketika.
Aracelli masih dengan kesibukannya mengerjakan PR. Dia mendengar suara pintu terbuka, siapa lagi kalau bukan ayahnya.
"Hai, cantikkkk..."
Tunggu! Suara itu bukan suara berat milik laki-laki tertampan no. 1 dalam hidupnya. Tapi suara itu milik wanita yang akhir-akhir ini ia sebut 'Eonnie'. Tanpa pikir panjang, ia menoleh ke arah pintu. Dan benar saja, wanita mungil yang tingginya hampir sama dengannya itu berdiri disana.
"Eonnieeeeee..."
Aracelli segera berlari dan memeluk Baekhyun. Chanyeol melihat itu hanya tersenyum samar. Kemudian pergi menuju dapur.
Baekhyun mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan rumah Chanyeol. Rumah sederhana yang indah hanya saja begitu berantakan, tidak jauh berbeda dengan gudang.
"Ayo duduk eonnie." Tangan mungil Aracelli menarik Baekhyun ke sofa yang bahkan tidak ada ruang untuk bisa di duduki, karena disana banyak terdapat buku-buku dan baju-baju kotor yang terlempar asal.
Chanyeol kembali dengan secangkir teh untuk Baekhyun. Diletakkannya cangkir itu di atas tumpukan file-file milik Chanyeol yang sudah meninggi setinggi meja.
"Maaf, rumah kami berantakan." Ujar Chanyeol. Sepertinya pria itu membaca ekspresi wajah Baekhyun.
"Tidak apa, Chan. Santai saja."
Mereka bertiga berbincang-bincang hingga lupa tujuan awal Chanyeol untuk membuatkan anaknya bibimbap. Akhirnya ia hanya memasak Mie Ramen untuk Aracelli.
Aracelli tertidur dengan pulasnya di atas matras yang ada di depan TV. Baekhyun melirik ke jam dinding sudah pukul 11 malam. Rasanya sudah tidak ada alasan untuknya berlama-lama lagi dirumah itu.
"Aku pamit dulu."
"Mau ku antar?"
"Tidak perlu Chan, aku bisa pulang sendiri. Lagipula, kasihan Aracelli jika ditinggal sendirian. Kau temani saja dia."
"Baiklah." Chanyeol menemani Baekhyun hingga depan pagar.
Setelah kepergian Baekhyun, Chanyeol memindahkan putrinya ke dalam kamar. Ia memakaikan selimut agar putrinya tetap merasa hangat.
BLAM
"Kau membiarkannya pulang begitu saja?"
"Kyung, kau mengagetkanku." Sahutnya datar, berjalan melewati sang istri.
"Bahkan kau tidak memintamaaf soal waktu itu." Dengus Kyungsoo.
Chanyeol merebahkan dirinya di sofa, mencari chanel yang seru untuk di tonton. Kyungsoo duduk disampingnya, tapi Chanyeol tak mau menoleh ke arahnya.
"Cepat kejar dia!" Titah Kyungsoo.
"Baekhyun sudah dewasa, ia bisa pulang sendiri."
"Aku-bilang-cepat-kejar-dia!"
Chanyeol melempar remote asal. Kyungsoo sedikit tersentak melihat itu. Pria itu berdiri, berkecak pinggang menghadap Kyungsoo yang sedari tadi tak memutus kontak matanya.
"Kau sudah gila, Kyung! Untuk apa aku mengejarnya? Apa kau tidak tau, bagaimana rasanya menjadi aku? Mendapat tekanan sana sini. Yang satu menginginkan aku untuk menikah lagi, tapi yang satu tidak menginginkannya. Aku harus bagaimana?" Suara Chanyeol sedikit meninggi, membuat Kyungsoo tertunduk.
"Hargai perasaannya,Chan. Tidakkah kau mengerti, setelah kau menyakiti hatinya kau memintanya untuk bersikap baik-baik saja terhadap anak-anak. Apa itu tidak terlalu Naiv, hah?"
"..."
"Kau memintanya untuk terus bertemu denganmu walau mengatasnamakan anak-anak sementara kau tidak pernah menghargai sedikit saja kebaikannya. Kau sendiri sudah tau kan kalau Nn. Byun itu menyukaimu? Tapi kau sengaja membutakan matamu."
Hixs... Hixs...
Chanyeol melemah mendengar suara isakan istrinya. Ia berlutut dan meraih tangan sang istri.
"Kyung.. Aku sangat mencintaimu. Rasanya akan aneh jika aku harus membagi hatiku dengan yang lain."
Kyungsoo menoleh ke Chanyeol, ia mengusap rambut suaminya. Nampak sedikit berminyak akibat rutinitas sehari-harinya yang sibuk melayani para pengunjung.
"Aku tidak pernah menyuruhmu untuk menggantikan posisiku dihatimu. Aku tidak pernah memintamu untuk berhenti mencintaiku, tapi aku ingin kau memikirkan masa depan anak-anak. Berilah sedikit ruang untuk wanita lain. Itu tidak ada salahnya. Bahkan aku akan merestuimu."
"..."
"Ibuku sudah semakin tua. Anak-anak tidak bisa selamanya kau titipkan padanya?"
"Lalu aku harus bagaimana,Kyung?"
TAP
TAP
TAP
"Baekhyuuuuuunnnnnnn..." Panggil Chanyeol yang berlari ke arah Baekhyun. Wanita itu menoleh saat ia hendak menaiki bus malam, bus terakhir yang akan membawanya ke flat.
"Park Chanyeol." Lirih Baekhyun.
Huhhh... Haaahhh... Huhhh... Hahhh..
Nafas duda itu berderu, wajahnya penuh dengan keringat bahkan ia tidak memakai sendal hanya untuk mengejar Baekhyun.
GREP
Baekhyun terpaku saat tubuhnya dipeluk oleh Chanyeol. Bahkan sangat erat, berbeda dengan malam itu. Malam ketika pertama kalinya mereka bercinta di Kedai.
"Jangan pergi, Baek." Ucap Chanyeol menenggelamkan wajahnya diperpotongan leher Baekhyun.
"Aku tidak akan pergi. Bukankah aku sudah berjanji, aku akan selalu menemui anak-anak..."
"Tidak, bukan itu maksudku. Tapi..."
Chanyeol menjauhkan wajahnya, ia memegang kedua pipi Baekhyun agar wanita itu mau menatapnya dalam-dalam.
"Maukah kau berkencan denganku."
DEG
Baekhyun tak percaya. Sungguh tak percaya. Apakah ini mimpi? Tapi kenapa ini terlalu nyata untuk sebuah mimpi.
"Hey, Baek.. Jawablah, kenapa kau diam?"
"Chan..." Baekhyun tanpa pikir panjang mengangguk menandakan bahwa ia bersedia berkencan dengan duda itu.
Mereka pun kembali berpelukan. Baekhyun merasa sangat bahagia, karena akhirnya ia bisa bersama dengan pria yang ia cintai.
Pria pertama yang memberikan pertolongan padanya saat baru menginjakkan kakinya di Seattle. Pria yang begitu menyayangi kedua anaknya. Pria yang setia menjaga cinta untuk istrinya meskipun telah tiada. Pria yang menghargai ibu mertuanya. Ya, itulah Park Chanyeol.
Chanyeol melirik ke arah seberang jalan, disana Do Kyungsoo berdiri sambil tersenyum lebar. Wanita itu memberikan restunya untuk sang suami dan juga Byun Baekhyun.
Mereka berempat -Chanyeol,Baekhyun,Aracelli,Arlo- seringkali menghabiskan waktu bersama. Banyak tempat yang sudah mereka kunjungi walau hanya dalam hitungan minggu saja. ChanBaek sepakat untuk menyembunyikan hubungan ini dari Ny. Do sementara waktu.
Ada sedikit kecurigaan yang melanda dihati Ny. Do. Pasalnya, Chanyeol meminta Arlo kembali padanya dan mereka menjadwal ulang waktu kunjungannya. Aracelli dan Arlo akan menginap dirumah sang nenek pada akhir pekan saja. Tapi, Ny. Do merasa sudah tidak mau terlalu ambil pusing dengan kehidupan Chanyeol selama menantunya itu tidak menjauhkan dirinya dari kedua cucunya.
Baekhyun benar-benar hidup seperti dalam mimpi indah. Hampir setiap hari ia habiskan bersama orang-orang yang ia cintai, hingga ia lupa akan satu hal. Yaitu sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa Baekhyun sudah dijodohkan oleh Wu Yifan.
TING TONG
"Ya.. Tunggu sebentar." Teriak Baekhyun.
CEKLEK
"Baekkieeee!"
"Ibuuuu..." Sahut Baekhyun sedikit tercengang ketika melihat sosok yang ada dibelakang sang ibu, yaitu Wu Yifan.
Chanyeol menyerahkan kedua anaknya pada Ny. Do, karena sang mertua berjanji pada Aracelli dan Arlo akan mengajaknya bertamasya.
"Aku titip mereka ya bu."
Aracelli dan Arlo sudah masuk ke dalam karena tak sabar ingin bermain Puzzle yang baru dibelikan oleh sang nenek.
"Nak, ada yang ingin ibu katakan padamu."
Chanyeol sedikit penasaran. Kira-kira apa yang akan dibicarakan oleh ibu mertuanya.
Mereka duduk di kursi halaman belakang kediaman keluarga DO. Chanyeol melihat ke arah sang mertua yang seperti orang yang hidupnya sudah pasrah.
"Apa yang ingin ibu katakan?" Tanya Chanyeol.
"Sudah hampir 3 bulan Do Kyungsoo meninggalkan dunia ini. Ibu rasa, sudah saatnya kau mencari ibu pengganti untuk anak-anak, Chan"
"Bu..."
"Biarkan ibu bicara."
"..."
"Maafkan atas sikap ibu yang menyebalkan ini. Aku tau, kau merasa kesal pada ibu kan? Tapi semua ini ibu lakukan karena ibu merasa takut, jika kau memiliki kehidupan baru kau akan melupakan ibu dan menjauhkan anak-anak dariku." Ny. Do menghela nafas. Chanyeol masih setia dengan posisinya, memiringkan tubuhnya menghadap sang mertua.
"Aku yakin Kyungsoo pasti juga memiliki pikiran yang sama dengan ibu. Anak-anak adalah prioritasmu, Chan. Kau tidak boleh merasa egois."
"Jika kau mau ibu akan mengenalkanmu dengan anak teman lama ibu, dia gadis yang..."
"Hmm bu, ku rasa itu tidak perlu." Potong Chanyeol secepat mungkin. Ny. Do menoleh ke arah menantunya.
"Kenapa? Apa kau sudah memiliki calonnya?"
Chanyeol mengangguk. "Byun Baekhyun."
Ny. Do terdiam sebentar, kemudian ia mengerjap dan memalingkan lagi pandangannya. "Ibu sudah merasakan ada sesuatu yang kau sembunyikan soal wanita itu. Tapi jika memang dia yang terbaik, ibu hanya bisa merestuimu, nak."
Chanyeol meraih tangan yang sudah mengisut itu. Wangi bunga-bungaan menyeruak ke dalam hidungnya tatkala mencium tangan tersebut.
"Ini semua keinginan Kyungsoo bu. Aku sendiri belum bisa menyimpulkan bagaimana perasaanku terhadap Baekhyun. Tapi sepertinya anak-anak merasa nyaman. Bukankah itu yang terpenting?"
"Keinginan Kyungsoo?" Ny. Do nampak berpikir.
"Sulit untuk menjelaskannya. Tapi percayalah bu. Kyungsoo masih ada disekitarku. Ia sering hadir disaat-saat tertentu."
DEG
Ny. Do seketika merasakan bulu kuduknya berdiri. Ia melihat ke arah sekitar, hanya ada kegelapan di halaman belakangnya.
"Apa yang kau bicarakan, Chan?"
"Sungguh. Aku bicara terus terang,bu. Saat ini aku mungkin tidak bisa membuktikannya. Tapi suatu saat kau pasti akan percaya."
Ny. Do memilih diam dan berpura-pura untuk percaya dengan perkataan sang menantu yang menurutnya kurang masuk akal itu. Wanita itu berpikir menantunya mungkin hanya berhalusinasi, dan itu semua akibat dari ketidakterimaannya atas kepergian istrinya yang mendadak.
"Kau dimana?"
Baekhyun baru saja mendapat pesan dari Chanyeol. Saat ini ia sedang makan malam bersama ibunya dan tentu saja si kutu buku Wu Yifan.
Ia menatap dalam layar ponselnya dengan perasaan gelisah. Ini malam sabtu, jadwalnya anak-anak dititipkan ke rumah Gemanya dan seharusnya juga ini menjadi jadwal Baekhyun untuk menginap di rumah Chanyeol.
"Pesan dari siapa?" Tanya Yifan membuat lamunan Baekhyun tersadar.
"Bukan siapa-siapa." Jawabnya datar sambil memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
Ny. Byun merasakan betul sikap dingin anaknya terhadap Wu Yifan, tapi ia dengan pintarnya bisa mencairkan suasana dengan melakukan sesuatu yang menurut Baekhyun itu terlalu 'Fake'. Melihat tingkah sang ibu, Baekhyun hanya bisa memutar matanya malas. Makan malam ini sungguh membosankan. Apalagi bersama dengan orang seperti Wu Yifan yang tak jauh-jauh membicarakan soal pekerjaannya atau soal perkembangan dunia digital.
"Tidak dibalas. Apa kau sedang sibuk? Aku baru saja mengantar anak-anak. Aku sangat lapar, temani aku makan."
Baekhyun menggigit bibirnya keras-keras. Ia menahan keinginannya untuk segera membalas pesan tersebut. Apalagi isi pesannya berupa ajakan Chanyeol untuk bertemu. Itu adalah momen yang ia tunggu-tunggu setiap harinya.
"Balas saja pesan itu, Baek. Sepertinya itu penting." Celetuk Yifan. Pria itu diam-diam memperhatikan Baekhyun sejak tadi.
Baekhyun meninggalkan mejanya dan pergi keluar restaurant. Ia berdiri tak jauh dari pintu masuk.
"Kau sangat sibuk ya?"Ujar Chanyeol di telepon. Baekhyun memutuskan untuk menghubunginya.
"Aku lupa memberitahumu. Tadi siang ibuku datang. Kami sedang makan malam bersama. Jadi..."
"Benarkah? Kenapa mendadak sekali?"
"Tidak juga. Sebenarnya sudah beberapa minggu lalu ibuku mempunyai rencana ini."
"Apa aku harus kesana?" Tanya Chanyeol yang sebenarnya hanya berbasa-basi dan sangat berharap Baekhyun menjawabnya dengan kata 'Tidak', karena Chanyeol sendiri belum siap untuk bertemu dengan ibu Baekhyun.
"T-tidak perlu,Chan. Aku belum menceritakan soal kita padanya. Mungkin besok atau jika waktunya sudah siap."
Chanyeol bersorak ria di seberang sana. Ia sangat bersyukur Tuhan mendengar suaraa hatinya itu.
"Ok, jadi kau tidak bisa menemaniku malam ini?"
"Tidak."
"Baiklah, aku tutup dulu ya. Sampai nanti."
PIP
"Siapa dia? Dan kenapa kau ingin menceritakan soalnya padaku, Baek?"
Matanya membulat saat ia mendengar suara ibunya dari belakangnya telak. Ia segera menoleh ke belakang dan melihat ibunya disana.
"Ibu menguping pembicaraanku?"
"Kau sudah memiliki kekasih,hem?"
"Kami hanya berteman,bu. Sudahlah ayo kita masuk kedalam." Elak Baekhyun.
"Dengar Baek. Kau jangan melupakan apa yang ibu katakan. Jika kau ingin mencari calonmu sendiri, kau harus memastikan bobot si pria tersebut." Ujar Ny. Byun membuat Baekhyun terpatung disana.
Ia sadar Park Chanyeol hanyalah seorang pemilik Kedai kopi yang berstatus duda beranakan dua. Mengingat dirinya yang kini sedang melanjutkan studinya ke jenjang S2 dan tentu seorang gadis yang belum pernah menikah, rasanya agak timpang jika harus menikah dengan pria seperti Park Chanyeol. Cinta membutakan segalanya. Baekhyun tidak mempermasalahkan itu semua. Tapi bagaimana dengan orangtuanya jika mengetahui latar belakang Chanyeol?
Di flat sekecil itu, Baekhyun harus rela membagi ranjang singlenya dengan sang ibu. Ny. Byun memaksa Baekhyun agar tidur bersama dengan Yifan di matras yang terletak di bawah ranjang milik putrinya.
Meskipun Baekhyun pernah 'tidur' dengan pria itu. Tapi rasanya sungguh canggung karena hubungan itu sudah berakhir, meski sang ibu lagi-lagi berusaha untuk menyatukan mereka.
Berbagi satu bantal kepala dan guling dengan Wu Yifan bukanlah hal romantis menurut gadis penggila makan itu. Pasti ini akan berakhir dengan mimpi buruk, pikirnya.
ZZZZTTTTT...
ZZZZTTTTT...
Ny. Byun sudah sangat lelap pasca memakan hidangan laut tadi dengan porsi yang lumayan banyak. Ia kekenyangan dan berakhir dengan dengkuran yang cukup mengganggu Baekhyun.
"Kau pasti berpikir kenapa aku tidak menginap di hotel saja kan?" Ujar Yifan ditengah keheningan mereka. Baekhyun memunggungi Yifan yang sedari tadi telentang menghadap langit-langit, ditengah-tengah mereka ada sebuah guling yang dijadikan pemisah. Lucu bukan?.
"Aku tau ini semua keinginan ibu. Yang aku pikirkan, kenapa kau memenuhi keinginan konyolnya?" Baekhyun terdengar ketus. Kesinisan Baekhyun adalah hal yang biasa bagi Yifan. Ia tidak mengambil hati.
"Apalah dayaku,Baek. Bahkan beliau yang meminta izin pada ayahmu untuk memberikanku izin Cuti selama yang ia mau."
"Lucu sekali. Jika kau memang seorang pegawai yang profesional, seharusnya kau bisa menolak ajakan konyol ibuku dan lebih memilih untuk melakukan tanggung jawabmu dikantor." Dengus Baekhyun.
"Baek.. Semua ini untukmu. Apa kau sama sekali tidak merasakannya."
DEG
Ternyata Wu Yifan masih menyimpan perasaan padanya. Baekhyun terdiam, bukan karena ia tersentuh, melainkan ia begitu malas jika harus membahas masalah yang menyangkut perasaan Yifan.
Merasa tak mendapatkan jawaban, Yifan menyentuh lengan Baekhyun dengan ujung jarinya guna memastikan apa Baekhyun sudah tertidur atau memang tidak mau menjawab.
Ia sedikit mengangkat kepalanya dan melihat ke arah wajah gadis itu. Ternyata Baekhyun sudah terpejam. Ia tersenyum samar, lagi-lagi gadis itu meninggalkannya tidur.
"Jaljayeo, Baekkie." Bisik Yifan masih terdengar oleh Baekhyun yang ternyata hanya berpura-pura tidur itu.
Baekhyun dan Park Chanyeol kini sedang melewati malam panasnya bersama. Gadis itu berhasil keluar dari Flatnya dengan alasan ingin mengerjakan tugas di rumah salah satu teman kuliahnya. Meninggalkan sang ibu bersama pria aneh yang entah bagaimana Baekhyun harus menyebutnya dengan apa. Masa bodo dengan pria itu.
Baekhyun berada di atas pangkuan Chanyeol, pria itu sejak tadi asik menghisap bahkan menjilati titik sensitif dari payudara milik Baekhyun sambil menghentakan bagian bawahnya ke dalam milik wanita itu. Sesekali Baekhyun mengerang. Bagaimana tidak, Park Chanyeol begitu ahli dalam hal seperti ini. Baekhyun sedikit menekan tengkuk milik kekasihnya agar memperdalam hisapannya, itu begitu nikmat. Melebihi apapun didunia ini.
"Ssshhhh.. Chanyeol. Lebih cepat lagi Chan.." Desis Baekhyun. Seolah-olah membuat pria bertubuh tinggi itu semakin bersemangat.
"Apa kau menikmatinya?" Tanya Chanyeol sambil meremas dada Baekhyun dan tetap setia dengan penyatuan dibawah sana.
"Yess. Sshhh... Ahhhh..."
Ini sudah ketiga kalinya mereka melakukannya malam ini. Baekhyun bisa mengimbangi permainan Chanyeol dengan baik. Bahkan, wanita itu memiliki inisiatif tersendiri untuk melakukan fantasi-fantasinya bersama Chanyeol. Sungguh berbeda dengan Do Kyungsoo yang lebih lembut dan terkesan malu-malu ketika bercinta dengan suaminya meski mereka sudah lama menikah.
Baekhyun berdiri, melepaskan penyatuannya membuat Chanyeol merasa kakinya melemas akibat hasratnya yang terputus. Wanita itu menarik lengan prianya dan pergi menuju dapur.
Chanyeol hanya diam sambil mengelus kepunyaannya agar ketegangannya tetap terjaga. Sementara Baekhyun menaiki tubuhnya ke atas meja dapur yang berserakan piring kotor, ia menggeser asal piring-piring tersebut membuat sebagian terjatuh kelantai dan pecah.
"Kemarilah Chan.." Lirih Baekhyun dengan wajah yang sangat menggoda.
Baekhyun membaringkan tubuhnya disana dengan posisi paha yang mengangkang lebar memperlihatkan lubang sempit yang hangat itu.
"Sial!" Chanyeol tak kuasa menahan godaan itu. Tapi sejujurnya ia juga sedang merutuki dirinya karena tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti itu dari Kyungsoo dulu.
Ia berjalan menghampiri Baekhyun yang sudah tidak sabar untuk diberi tumbukan-tumbukan darinya.
Meja itu ternyata setara dengan pinggulnya. Maka ia tidak kesulitan untuk menyetarakan kepunyaannya dengan lubang surga itu.
JLEB
Masuk dengan sempurna dan masih hangat.
"Ahhh... Baekkk.."
Chanyeol merasakan sensasi yang berbeda dengan posisi seperti ini. Ini adalah kejutan yang tak pernah ia dapatkan dari mendiang istrinya.
"Fuck me harder, Chan!" Seru Baekhyun, tangannya memegang pinggang Chanyeol dan membantunya menggerakan pinggang ramping kekasihnya itu agar semakin cepat.
PLAK
PLAK
PLAK
"Ahh yeahhh.. Yeahhh..." Desah Baekhyun.
"Baek, aku hampir sampai."
Baekhyun hanya mengangguk dengan tatapan berbinar. Ia bahagia melihat Chanyeol yang nampak sangat menikmati permainannya malam ini.
CROTTT!
Chanyeol menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh Baekhyun. Ia merasa lemas karena sudah ketiga kalinya harus mengeluarkan spermanya. Baekhyun kemudian mengecup kening Chanyeol dengan penuh sayang.
Mereka sudah berpindah lagi ke dalam kamar. Keduanya masih dalam keadaanya bugil. Saking bahagianya, Baekhyun tidak bisa memejamkan matanya. Rasanya tidak rela harus melewatkan satu detik saja untuk tidak menatap kesayangannya.
"Aku mecintaimu, Park Chanyeol." Bisiknya. Pria itu menggeliat kecil dan memasang wajah sedemikian lucunya membuat Baekhyun ingin sekali mengigit bibir bawahnya yang sangat tebal itu.
"Kyung..." Igau Chanyeol samar-samar.
"Apa?" Baekhyun tidak mendengarnya. Ia pikir Chanyeol telah mengatakan sesuatu dalam tidurnya. Baekhyun sedikit penasaran dengan apa yang sedang diimpikan oleh pria itu.
"Aku mencintaimu..."
Pipi Baekhyun memerah mendengarnya. Mungkinkah saat ini ia sedang hadir ke dalam mimpi pria itu?
"Kyungsoo.. Aku mencintaimu. Hmmm.. Kenapa kau memintaku untuk menikahinya?"
DEG
Seperti tertampar oleh tapak tangan terbesar didunia. Baekhyun tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Chanyeol saat ini. Apa yang pria itu igaukan seolah-olah adalah curahan hati darinya.
Ia segera mengguncang tubuh pria itu dan berhasil membuat Park Chanyeol terbangun dengan ekspresi yang sedikit terkejut.
"Baek ada apa?" Tanyanya.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan tajam dan sedikit merah karena menahan air mata.
"K-kau kenapa Baek?" Tanya Chanyeol lagi.
"Apakah kau mencintaiku?"
DEG
"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan itu,Baek?" Chanyeol kebingungan. Bahkan saat ini ia sedang merasa sangat mengantuk.
"Jawab aku!"
"Kau aneh Baek. Membangunkanku hanya untuk menanyakan hal itu." Chanyeol berusaha mengalihkan.
Baekhyun beranjak dari ranjang dan memakai kembali pakaian yang berurakan dilantai.
"Kau mau kemana?" Tanya Chanyeol.
"Aku ingin pulang." Jawab Baekhyun sedikit bergetar.
"Ini sudah pukul 2 malam,Baek. Ayolahh ada apa denganmu?"
"Aku mendengar kau mengigau, Chan. Ternyata kau masih sangat mecintai Ny. Kyungsoo. Dan sebenarnya kau hanya terpaksa denganku,kan?"
Baekhyun membuka pintu kamar dan beralih ke ruang Tv. Chanyeol bergegas menyusulnya sambil memungut pakaiannya dan memaikanya.
"Tunggu! Apa maksudmu?" Chanyeol menahan lengan sempit Baekhyun.
"Katakan padaku, apa semua ini tulus dari hatimu? Atau kau hanya terpaksa saja,hah?" Baekhyun meninggikan intonasi suaranya.
"Kau tidak akan mengerti,Baek?"
"Apa yang tidak aku mengerti? Katakan padaku, barangkali aku bisa mengerti setelah mendengarnya."
Chanyeol melepas pegangannya. Ekspresi wajah Baekhyun sudah berubah persis seperti orang yang sedang kerasukan. Mata memerah dan penuh amarah.
"Kyungsoo ada disini. Ia selalu menemuiku." Chanyeol melirik ke arah pojok ruangan, disana Kyungsoo sedang berdiri dengan wajah paniknya.
Baekhyun tidak mengerti apa yang dikatakan Chanyeol. Apa pria itu masih dalam kondisi mengigaunya?
"Kyungsoo tidak benar-benar pergi. Ia selalu datang menemuiku."
"Kau sudah gila.." Potong Baekhyun sambil bersedekap.
"Terserah padamu. Aku mengatakan yang sesungguhnya. Bahkan saat ini ia sedang melihat kita." Chanyeol menunjuk ke arah Kyungsoo.
Baekhyun mengedarkan pandangannya. Sempat terpikir oleh wanita itu bahwa apa yang dikatakan kekasihnya adalah benar. Ia pernah membaca sebuah novel yang ceritanya persis seperti yang dikatakan Chanyeol. Tapi kemudian ia mulai berpikir secara logis, itu hanya sebuah novel dan mana mungkin orang yang sudah meninggal bisa datang lagi meskipun hanya sekedar arwahnya.
"Dengar Chan, aku tidak butuh omong kosongmu. Aku hanya butuh jawaban atas pertanyaanku tadi."
Chanyeol duduk di sofa membakar sebatang rokok disana.
"Aku hanya memikirkan nasib anak-anakku,Baek. Mereka membutuhkan sosok ibu. Dan kedua anakku menyukaimu. Itu sajaaa.." Jawab Chanyeol datar.
"Jika kau ingin tau jawaban atas pertanyaanku, maka jawabanku adalah.. Tidak."
DEG
"Tidak untuk saat ini. Tapi aku berjanji seiring waktu berjalan, aku akan mulai membuka hatiku untukmu Baek. Bisakah kau mengerti, kehilangan Do Kyungsoo adalah hal tersulit dalam hidupku. Rasanya akan sangat tidak adil jika aku melupakannya dalam waktu secepat ini."
DEG
"Kau mencintaiku dan anak-anakku menyukaimu. Jika kita menikah kau bisa memilikiku, bukan? Bukankah itu menguntungkan juga untukmu?"
Baekhyun sudah tidak tau lagi apa yang dibicarakan oleh Park Chanyeol. Menurutnya sosok pria baik nan hangat itu hilang seketika. Perasaannya sudah melampaui batas kecewa. Ia tidak habis pikir dengan kekasihnya yang menganggap sebuah pernikahan adalah sebuah permainan.
"Nona Kyungsoo!" Teriak Baekhyun. Chanyeol terkejut.
"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya nya.
"Nona Kyungsoo! Apakah benar ini suamimu, Park Chanyeol?"
Chanyeol melirik ke arah Kyungsoo, istrinya sangat ketakutan dengan suara teriakan Baekhyun.
"Apa kau tidak menyesal menikahi pria yang tak lebih dari seorang bajingan ini,hah? Jawab aku Nona Kyungsoo?"
Chanyeol menghampiri Baekhyun, berusaha untuk menutup mulut gadis itu. Ini sudah larut malam, khawatir para tetangga akan mendengarnya. Tapi Baekhyun berusaha untuk berontak.
"Jawab aku! Suami mu bilang kau ada disini? Buktikanlah kalau memang benar? Atau memang ini semua hanya kebohongan suamimu? Ayo jawab aku!"
"Hentikan,Baek. Kau membuat Kyungsoo-ku takut."
DEG
Baekhyun menitikkan air matanya. Chanyeol sudah gila. Ia menghempaskan tangan pria itu.
"Semoga kau bahagia dengan istrimu." Lirih Baekhyun. Ia berlari keluar rumah sambil menangis tersedu-sedu, bahkan ia lupa memakai sepatunya.
Malam begitu dingin dan sepi, tapi tak menyurutkan wanita itu untuk pergi meninggalkan kekasihnya yang sudah gila.
Sementara Chanyeol, ia menghampiri Do Kyungsoo yang masih disana dengan wajah ketakutan. Wanita itu terlalu lembut, ia tidak bisa mendengar keributan seperti itu.
"Kyung.. Apa kau baik-baik saja?"
"Hentikan Chan. Hentikan segala keributan ini, ku mohon."
Chanyeol merengkuh tubuh mungil itu dan membawanya duduk di sofa.
"Kyung, maafkan aku.. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri."
Hixs.. Hixss
"Soal apa?"
"Soal perasaanku padanya. Aku tidak mencintainya."
"Kau bohong! Kau mencintainya, Chan."
"Apa yang kau katakan, Kyung?"
"Apa kau tidak sadar bahwa aku ini hanyalah ilusimu? Aku adalah sisi lain darimu yang tidak bisa kau utarakan selama ini."
Kedua alis Chanyeol menekuk. Ia tidak mengerti sama sekali.
"Apa maksudmu?"
"Kau begitu sulit menerima kenyataan bahwa aku sudah tiada. Kau menjadikan aku Objek atas ilusimu selama ini sebagai teman kesepianmu, tapi selain itu juga aku adalah apa yang sebenar-benarnya yang terjadi di dasar hatimu. Kau tidak mau menyadarinya, berusaha menyangkalnya,Chan."
Chanyeol sejenak terdiam tak lama ia tertunduk dan menangis sekuat-kuatnya. Menyadari apa yang sebenarnya terjadi, benar apa yang dikatakan Kyungsoo bahwa itu semua hanyalah sebuah ilusi saja. Kyungsoo yang sebenarnya sudah tenang di Surga.
"Kau tidak perlu menangis, yang kau lakukan adalah mengejar Nona Byun memintamaaf padanya agar kau tidak kehilangan cintamu untuk yang kedua kalinya." Ujar Kyungsoo.
Chanyeol berlari secepat mungkin persis seperti apa yang ia lakukan malam itu. Ketika ia mengejar Baekhyun kemudian mengajaknya berkencan.
"Baekhyunnn.. Tunggu akuuu..." Batinnya.
"Kejarlah dia Chan. Binalah kehidupanmu yang baru bersamanya. Mulailah belajar untuk menerima segala kekurangannya, bukankah ia menerimamu apa adanya?"
"Bantu dia merubah sifat-sifat kurang baiknya. Ajarkan dia menjadi seorang istri dan ibu yang baik. Seiring waktu berjalan semua akan berubah."
"Lalu bagaimana denganmu?"
"Aku akan pergi Chan. Aku tidak ingin ada diantara kau dan Nona Baekhyun. Aku hanyalah masalalumu. Kau harus melanjutkan hidup, dan simpan baik-baik segala kenangan kita."
"Kyung.. Ku mohon jangan pergi Kyungsoo."
"..."
"Kyungsoooooooo..."
Chanyeol melihat diujung jalan sana Baekhyun masih berjalan, sepertinya wanita itu masih dalam keadaan menangis.
"Baek!" Teriak Chanyeol yang kali ini tidak mempedulikan lagi suara besarnya yang akan mengganggu para tetangga.
Baekhyun menoleh sedikit, untuk apa pria itu mengejarnya?. Rasanya sudah terlambat jika ingin memintamaaf. Baekhyun bukan seorang malaikat, ia hanya manusia biasa yang mempunyai batas kesabaran.
CITTTTT...
Sebuah Bus malam berhenti tepat di depan Baekhyun. Melihat itu, Chanyeol mempercepat langkahnya.
Pintu Bus itu terbuka, saat Baekhyun hendak menaiki bus tersebut. Chanyeol menahannya.
"Baekkk.. Ku mohon jangan pergi. Aku sungguh minta maaf atas apa yang terjadi tadi. Aku... Aku sadar bahwa aku mencintaimu. Benar-benar mencintaimu,Baek." Chanyeol bahkan bersimpuh.
Hati Baekhyun sudah terlanjur sakit dan hancur. Ia tidak bisa mengembalikan lagi serpihan-serpihan dari hatinya yang telah hancur itu.
"Baekkk.. Ku mohon Baek. Beri aku kesempatan sekali lagi."
Baekhyun tak sedikitpun melihat ke arahnya. Matanya begitu sembab akibat dari air mata yang tak henti-henti keluar.
"Maaf Nona, apa anda ingin naik atau tidak?" Tanya Supir Bus itu. Chanyeol menggeleng pelan.
"Lepaskan tanganku, Chan. Dan hentikan pengejaranmu sampai disini. Jangan pernah temui aku lagi. Teruslah hidup dengan masalalu mu. Aku pergi." Ucap Baekhyun melanjutkan langkahnya. Pintu itu pun tertutup, Baekhyun duduk dibangku paling belakang. Dan bus pun melanjutkan jalannya. Chanyeol berdiri kemudian mengejar bus tersebut.
"Baekhyuuuunnnnn..."
"Byun Baekhyyyuuuunnnnnn..."
Chanyeol akhirnya menyerah, nafasnya tersenggal-senggal. Ia begitu merasakan sesak didadanya. Kini, ia harus kehilangan Byun Baekhyun.
"Aku mencintaimu, Baek." Lirihnya.
"Eonnie!"
Baekhyun terkejut mendengar suara itu. Aracelli bersama Arlo dan juga Park Chanyeol kini berada di depan pintu flatnya.
"K-kaliann?"
"Aku dan Arlo merindukanmu. Kau kemana saja?"
Baekhyun tersenyum canggung dan panik. Ia melirik ke arah Chanyeol yang sedang menatapnya penuh harap ke arahnya.
"A-akuuuu..."
Tiba-tiba...
"Siapa yang datang, Baek?"
Muncul sosok Wu Yifan dari dalam, membuat Chanyeol dan Aracelli mengerutkan dahinya. Siapa pria itu?
"Hai, apa kalian tamu Baekyun, kenalkan aku adalah Tunangan Baekhyun?"
DEG
((((TUNANGAN))))
"Wu Yifan, aku bersedia untuk melanjutkan pertunangan kita dan menikah secepatnya. Apa kau setuju?"
"B-benarkah? Apa ini mimpi?"
"Bodoh!"
CHU
Sebuah ciuman mendarat dibibir pria IT itu.
"Bagaimana? Apa ini masih terasa seperti mimpi bagimu?"
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Yihiyyy.. Jadi kejawab ya, sebenarnya Kyungsoo itu cuma ilusi dari CY, bentuk lain dari curahan hatinya yang selama ini terpendam. Semoga paham ya maksud dari sosok Kyungsoo disini.
Say goodbye dulu buat Kyungsoo (ilusi) karena gak bakal ketemu lagi di Chapt terakhir depan. T_T
Oh ya, sesuai janji mau balesin Review-review kalian ya. Mau ucapin yang sebesar-besarnya buat kalian yang udah isi kolom review aku, ayooo Review lagi biar aku makin semangat nulisnya. :)
Guest: ini bukan Remake'an, ini pure dari pikiran aku.
SyiSehun: hehehe.. Iya CY memang jaharaaaaa. Padahal mah doyan-doyan juga. :D
Ekayoon: iyaa udah PHP-in anak orang, terus nikmatin juga lagi. #ehh. :D
CussonsBaekby: huwaaa.. Ini udah diusahakan untuk menistakan Baekhyun senista mungkin. Parah Baekhyun dibuat tekanan batin sama CY. T_T
Inspirit7starlight: u're welcome :)
Park Rinhyun-uchiha: hehehe.. Iya kaya kebawa suasana gara-gara Kyungsoo maksa dia buat deketin Baekhyun.
Phantom.d'esprit: Done :)
Cici fu: its already :)
Rly: hehehe maklum CY lagi kaget campur stress.
Galaxy Aquarius: makasih ya udah bilang fanfic ini keren. Bikinnya juga sambil nahan gemes sama sikap CY yang gak gentle. Oh gak ngefeel ya sama Chansoo? Tapi selain sama Kyungsoo, aku rasa gak ada lagi yang cocok sm CY crack pairnya. Iya itu cuma ilusi aja, tadinya mau dibuat itu arwah beneran, cuma kayanya udah mainstream aja. Hhe.. Jangan lupa Reviewnya ya :)
ChanbMine: iyaa itu Baekhyun udah pergiiii. Udah kapok sama Chanyeol yang gagal Moveon, gantian skrg giliran Chanyeol yang ngejar-ngejar.
Tannurfr: makasih karena udah suka Chansoo. Aku pikir Chansoo itu notbadlah. :)
ZenBaek: iyaa CY jahat, jahat bangett. Ny. Do sinis banget maklum emaknya Kyungsoo nurun ke anaknya. Hahaha.. Tapi itu karena kekhawatiran Ny. Do aja kok, takut cucunya dijauhin dari dia.
Saaaa: Baek hamilnya nanti kalau udah nikah aja. Kalau belum nikah kasian makin galau hidupnya. Hhe tapi sarannya boleh juga tuh buat di pertimbangin. :D
Sweetchocolate: iyaa Baekkie Baper abis digituin CY. Heuhh Poor Baekkie :(
Dya Kim: yeayyy saran kamu dipenuhi di Chapt ini, aku masukin Yifan sebagai tokoh tambahan.
Chanbaekjjang: makasih. Terus semangatin aku yaa..
Misslah: Done :)
Parkizuna: kok gitu? Pasti mau bikin Kyungsoo gue nistaaa senistaa mungkin dehhh. Awas ajaaa!
Chanyeol park: ini udah diusahakan secepat mungkin kok. :)
Baekkipark: ini udah cepet kok. Gimana? Puas gak sama Chapt ini?
Daebaektaeluv: iya ini memang M kok ratingnya, tsay! :)
Ervyanaca: iya nih parah yaaa keterlaluan, keroyok si Dobi yukksss. :D
Yeolangghraeni: DONe :)
Byunjaehyunee: jahat pake banget! ZBL!
Oh Sehyunie: thank you :)
.
.
.
GOMAWO :*
IG: TiaraCwenur
