PRESENT
.
.
.
River Flows in You
.
.
.
CAST
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Do Kyungsoo
Aracelli
Arlo
Wu Yifan
.
.
.
M
.
.
.
Chanbaek / ChanSoo (Slight) / KrisBaek (Slight) / (GS)
.
.
.
Firstly, mau ucapin makasih banyak buat yang udah follow, fav dan juga isi kolom review. Semua kritik dan sarannya aku terima dengan baik, karena aku juga masih bener-bener belajar dan terbilang 'newbie' di dunia per-ff-an. Jadi makasih yang udah nyempetin waktunya buat baca fanfic ini dan kasih respon, itu berguna bgt buat aku.
Ada kabar baik di Fanfic ini, setelah melihat beberapa Review dan PM yang pengen cerita ini gak cepet-cepet selesai, jadi aku berniat buat lanjutin fanfic ini sampai selesai. Gak mau janjiin ini bakal abis berapa Chapt, berjalan gitu aja sampai bener-bener THE END. #AuthorLabil #SenengLiatFeedBack #Appreciate
Pengen bahas dikit masalah alur yang katanya berantakan. Mohon maaf karena disini terjadi kesalahan teknis. Fanfic ini aku ketik dari Hp, pake Word dari Hp juga. Publishnya jugaa.. *niat. Jadi ini cuma masalah tampilan aja yang beda. Pas bikin di Hp aku selalu sertain PAGE BREAK dan DOUBLE ENTER, tapi ternyata pas aku publish semua PAGE BREAK dan DOUBLE ENTER aku ilang/gak ada efeknya. Alhasil, kalian jadi bingung bacanya karena semua terkesan jadi kecampur. Jadi di Chapt ini bakal aku siasatin pake TITIK-TITIK ke bawah.
So, mohon dimaafkan. Semoga segala kekurangan-kekurangan yang ada di fanfic ini bisa dimaklumi.
.
.
.
.
Chanyeol membuka pintu mobil, menuntun kedua anaknya agar masuk kedalam dan tak lupa memakaikan sabuk pengaman pada mereka.
"Ayah kenapa kita terburu-buru? Bahkan kita belum masuk ke dalam." Ujar Aracelli. Chanyeol tidak bisa menyalahkan anaknya yang tidak tau apa-apa. Saat ini tubuhnya sedikit gemetar karena mengetahui fakta terbaru bahwa Baekhyun telah memiliki kekasih baru.
Chanyeol menghela nafasnya, "kita sepertinya hanya akan menganggu mereka." Sahut Chanyeol.
BRUMMMM...
Mobilnya melaju dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan, Chanyeol terus saja mengingat kejadian itu. Reflek ia memukul setiran mobilnya, membuat Aracelli menoleh ke arah ayahnya bingung.
"Kau kenapa,yah?" Tanyanya. Pria itu hanya tersenyum miris dan menggeleng.
"Huwwwaaaa... Aaa..yahhhh... Huwwwwaaaa..." Arlo tiba-tiba saja menangis. Chanyeol menoleh sebentar karena saat ini ia sedang fokus mengemudi.
"Sayang, kenapa kau menangis,hem?"
"Huwaaaaa... Aaa...yaahhhh..." Tangisan itu semakin kencang. Arlo duduk seorang diri di samping, tubuhnya terikat sabuk pengaman dan sepertinya ia tidak betah.
Aracelli mengambil botol susu di dalam tas kemudian sedikit memajukan tubuhnya menyempil di ruang kosong yang ada di antara kursi Chanyeol - Arlo dan memberikan susu itu pada adik kecilnya.
"Noooo... Huwaaaa... Huwaaaa... A..yaahhh.." Arlo menolak pemberian Aracelli, tapi gadis itu tetap berusaha untuk memberikannya susu. Tubuh Arlo bergerak kesana-kesini menunjukkan bahwa saat ini ia sedang berontak.
"Ayah bagaimana ini? Adik tidak mau susunya." Ujar Aracelli. "Kau mau apa, Arlo? Ayah sedang mengemudi. Jangan menangis terus."
"Sayang diamlah, ayo minum susunya ya. Sebentar lagi kita sampai dirumah Gema." Chanyeol mengusap surai halus anak laki-lakinya. Arlo mencoba untuk meraih tangan Chanyeol agar ayahnya mau mengeluarkan tubuhnya dari ikatan sabuk pengaman.
"Mungkin Arlo ingin di pangku,yah. Dia tidak betah duduk disana." Ujar Aracelli lagi.
Suasana hati dan pikiran Chanyeol benar-benar sedang berantakan. Bahkan untuk sekedar mengerti dan menenangkan putranya saja ia tidak bisa. Tanpa sadar Chanyeol melajukan kecepatan mobilnya dan hampir menabrak mobil yang ada didepan.
"Ayah!" Teriak Aracelli.
CIIIIIIIITTTTTTT
Mobil itu mendadak berhenti. Chanyeol menginjak remnya dalam-dalam. Membuat semua yang ada di mobil sedikit terpental ke depan.
Ia segera tersadar kemudian melihat ke arah anak-anaknya. Harusnya Chanyeol tidak seperti ini, seharusnya dia adalah sosok pria yang kuat. Tatapannya sempat kosong ke arah Arlo yang sejak tadi menangis sambil meminta tubuhnya di gendong oleh Chanyeol.
"A-ayaahhh..." Lagi-lagi Aracelli memanggil Chanyeol, memastikan apakah semua baik-baik saja. Karena sejak tadi sang ayah berlaku aneh.
Chanyeol segera tersadar dan membuka sabuk pengaman Arlo kemudian menggendongnya, memeluknya begitu erat serta menciuminya berkali-kali.
"Maafkan ayah sayang. Maafkan ayah yaaa.."
"Huwaaaa.. Ayahhh..." Arlo nampak ketakutan.
"Kau pasti sangat sedih karena Baekhyun Eonnie sekarang sudah memiliki kekasih baru dan pastinya eonnie tidak akan bisa lagi sering-sering menemui kita kan yah?"
Chanyeol meraih tangan sang putri dan mengecupnya singkat. "Sudahlah lupakan itu semua, Kau baik-baik saja?", dibalas sebuah anggukan dari putrinya.
Pria itu telah membuat kesalahan. Ia begitu lengah hingga hampir saja membuat keluarganya celaka. Chanyeol merasa bersalah.
.
.
.
.
"Jadi itu pria yang bernama Park Chanyeol? Pria yang membuatku semakin sulit untuk masuk ke dalam hatimu."
Pertanyaan itu menyadarkan Baekhyun dari lamunannya. Saat ini ia sedang berdiri di balkon seorang diri, posisinya tidak berubah sejak 30 menit lalu setelah kepergian Park Chanyeol dan kedua anaknya dari flat begitu saja ketika mendengar Wu Yifan yang mengklaim dirinya sebagai tunangan Baekhyun.
"Memangnya kenapa?" Baekhyun membalikkan tubuhnya, dan Wu Yifan berdiri di ambang pintu.
"Matamu... Mengisyaratkan sebuah perasaan yang sangat dalam ketika kalian sedang bertatapan."
"..."
"Baek, jika kau mencintainya lalu kenapa kau mau bertunangan denganku? Apa aku hanya pelampiasanmu saja?"
Baekhyun memalingkan pandangan, jarinya sibuk memilin cincin berlian yang ada dijari manisnya itu.
"Sudahlah Yifan. Park Chanyeol hanya masalaluku, dan kau adalah masadepanku. Jadi, biarkan semua berjalan apa adanya."
"Apa itu artinya kau akan membuka hatimu untukku?"
DEG
Baekhyun kembali melihat Wu Yifan, dengan berat hati ia mengangguk agar tunangannya itu tidak memberikan banyak pertanyaan-pertanyaan menyangkut dirinya dengan si duda.
Wu Yifan tampak senang, ia melangkahkan kakinya menuju Baekhyun dan segera memeluk gadis mungil itu. Tubuhnya terlalu tinggi hingga membuat Baekhyun seperti anak kecil.
"Terima kasih,Baek. Aku berjanji akan membuatmu melupakan pria itu dan hidup bahagia bersamaku." Ucap Yifan mengusap lembut rambut Baekhyun. Sementara yang sedang diusap diam tak bergeming.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan, sosok Baekhyun perlahan mulai memudar di dalam keluarga Park. Pria itu meminta pada kedua anaknya agar jangan pernah membahas soal Baekhyun lagi.
Chanyeol terbangun dari tidurnya, ia melirik jam sudah pukul 7 pagi. Anak-anak sedang di rumah Gema-nya. Belakangan kondisi kesehatan pria itu sedikit terganggu, jadi untuk sementara waktu anak-anak di titipkan di rumah Ny. Do.
KRING... KRING...
"Ya dokter ini aku.."
"Kau tidak lupakan hari ini kita ada konsultasi?" Sahut seberang sana.
"Tentu, sampai bertemu di rumah sakit nanti"
"Ok kalau begitu, see u soon."
Sebut saja Dr. Joy seorang psikiater yang bekerja disalah satu rumah sakit jiwa yang terletak di Seattle. Dokter cantik berdarah Korea-Amerika itu adalah sepupu mendiang Kyungsoo.
Lalu kenapa Park Chanyeol harus berkonsultasi dengan psikiater? Apa yang terjadi padanya?
*Flashback ON
Ny. Do saat itu sedang asik bermain dengan cucunya di halaman belakang. Ada yang aneh dengan menantunya akhir-akhir ini, wanita itu sering melihat sang menantu mengurung diri di kamarnya, tatapannya sendu bahkan pria itu lebih sering di rumah ketimbang pergi ke Kedai.
Ny. Do paham dengan keadaan menantunya saat ini, setelah ia mendengar cerita dari cucunya bahwa hubungan Park Chanyeol berakhir karena Byun Baekhyun sudah memiliki kekasih yang lain.
Hari itu, menantunya sedang menginap dirumahnya. Sudah sore hari pria itu tidak juga keluar kamar. Khawatir karena sang menantu belum makan apa-apa sejak pagi, akhirnya ia memutuskan untuk pergi menemui Park Chanyeol.
"Kyungsoo... Kau dimana? Aku membutuhkanmu, Kyung!"
Samar-samar Ny. Do mendengar perkataan Chanyeol yang nyaris histeris.
"Kyungsoo apa kau sudah melupakanku? Kenapa kau tidak pernah menunjukan dirimu lagi, hah?"
Ny. Do berdiri persis di depan pintu kamar yang ditempati oleh menantunya. Ia menempelkan telinganya supaya bisa mendengarkan ucapan Chanyeol didalam sana.
"Ahh Kyungsoo-ku sayang. Aku sungguh senang akhirnya kau bisa datang. Aku kesepian dan juga merindukanmu, apa kau tidak merasakan hal yang sama?"
"..."
"Kyung, bolehkah aku menciummu,hem?"
"..."
"Hahahahaha.. Kau sungguh menggemaskan,Kyung. Aku mencintaimu."
BRAK!
Ny. Do membuka pintu kamar itu. Betapa terkejutnya saat ia melihat sang menantu tengah bermonolog di depan cermin dengan tatapan yang begitu hampa.
"Chanyeolllll..."
Pria itu melirik bayangan Ny. Do dari cermin. Ia malah tersenyum, senyum seringai yang menurut wanita itu cukup mengerikan.
"Bu.. Lihatlah Kyungsoo datang dan hari ini dia sangat cantik.." Chanyeol menunjuk ke cermin dan menatap pantulan dirinya disana.
"Ya Tuhan apa yang terjadi pada menantu tersayangku? Kenapa dia seperti ini? Hixs hixs" batin Ny. Do
Pemandangan didepannya cukup mengagetkan Ny. Do. Bagaimana mungkin seorang Park Chanyeol berakhir seperti ini, apakah dua kali kehilangan orang yang di cintainya membuat pria itu menjadi depresi?
Ny. Do mendekatkan dirinya ke arah menantunya yang sedang senyum-senyum sendiri. Ia merangkul bahu lebar milik Park Chanyeol sambil terisak, hatinya begitu sedih melihat kondisi menantunya. Akhirnya tanpa pikir panjang, Ny. Do menghubungi Dr. Joy guna mengobati penyakit yang di derita sang menantu.
*Flashback END
.
.
.
.
Chanyeol duduk diruang tunggu sendirian, suasana rumah sakit tidak begitu ramai hari ini. Sebenarnya pria itu tidak begitu suka harus datang menemui Dr. Joy karena ia merasa dirinya baik-baik saja.
Pria itu ingat saat pertama kali sang mertua membawanya ke sini. Tanpa seizinnya, wanita itu mendaftarkannya sebagai pasien. Awalnya Chanyeol tidak mengerti apa tujuan mertua membawanya ke rumah sakit jiwa, tapi begitu mereka bertemu dengan Dr. Joy dan memberikan banyak pertanyaan seputar sosok Do Kyungsoo yang sering datang akhirnya Chanyeol paham bahwa Ny. Do menganggap dirinya gila.
Setelah menunggu lama, Chanyeol masuk ke dalam ruangan dokter yang juga sepupu dari mendiang istrinya. Mereka tidak begitu akrab, tapi beberapa kali pernah bertemu. Dulu, Kyungsoo pernah mengundangnya makan malam di rumah Ny. Do pada saat hari 'Thanksgiving' dan Natal beberapa tahun lalu.
"Hay Mr. Park.." Sapa wanita itu dengan aksen Amerika. Chanyeol duduk di sofa yang telah disediakan. Ruangan itu cukup luas dan suasananya sangat tenang.
"Bagaimana kabarmu hari ini, Mr. Park?"
"Baik. Dokter sampai kapan aku harus melakukan konsultasi seperti ini?"
Dr. Joy terkekeh kecil sambil mengambil posisi duduk di kursi yang terletak di samping sofa.
"Just Relax !" Dr. Joy menyuruh Chanyeol untuk membaringkan tubuhnya di sofa dan memejamkan matanya dan pria itu mau tidak mau menurutinya.
Sesaat Chanyeol membuka kembali matanya, "Dengar Dr. Joy jika kau masih beranggapan yang sama dengan mertuaku maka kau salah. Aku tidak gila, aku baik-baik saja. Bahkan aku masih bisa mengurus kedaiku, mengendarai mobil dan sangat mengingat siapa diriku." Tutur Chanyeol panjang lebar.
"Sssttt... Tenanglah, aku tidak menganggapmu gila. Aku tau kau baik-baik saja. Aku hanya ingin membuatmu relax, Mr. Park, that's all." menyapu mata Chanyeol dengan tangannya agar mata besar itu menutup.
"Tenanglahhh... Anggap saja kau sedang berada di sebuah taman. Taman yang indah bersama kedua anakmu dan juga wanita yang kau cintai." Dr. Joy mencoba memberikan stimulus pada Chanyeol dan sepertinya pria itu sudah mulai menerima stimulus-stimulus tersebut.
Dr. Joy melihat Chanyeol tersenyum, pria itu sudah masuk ke alam bawah sadarnya. "Mr. Park apa kau bahagia bersama mereka? Apa yang kau lihat disana?"
"Aracelli dan Arlo sedang bermain sepeda. Mereka sangat lucu."
"Hanya mereka? Apakah sepupu ku ada disana?" Tanya Dr. Joy. Chanyeol mengerutkan dahi, menggerakan kepalanya seolah-olah ia sedang mencari sosok yang ditanyakan.
"B...yun.. Baekh..yunnn.."
"Hmm siapa? Siapa itu Mr. Park?" Dr. Joy tidak mengenal Baekhyun.
"Baekhyun.. Kau disini?"
"..." Dr. Joy mencoba untuk memberikan kesempatan Chanyeol dengan alam bawah sadarnya tersebut.
.
.
.
.
Alam bawah sadar Chanyeol
Chanyeol duduk di sebuah bangku taman dimana hamparan hijau terbentang luas dihadapannya. Cuaca hari ini sangat cerah. Pria itu ingat saat ini adalah ulang tahun Do Kyungsoo tahun lalu.
Aracelli masih berusia 9 tahun dan Arlo 2 tahun, mereka merayakan ulang tahun Do Kyungsoo dengan bertamasya di taman indah. Disana ada sebuah danau kecil yang terdapat beberapa angsa sedang berenang membuat danau tersebut semakin indah.
Aracelli bermain sepeda. Arlo ditempatkan di Keranjang yang berada di depan sepedanya. Mereka tertawa bahagia.
Seingat Chanyeol, yang duduk di sampingnya pada saat itu adalah Do Kyungsoo dimana sang istri meletakkan kepalanya dibahu pria itu sambil memeluk lengan besarnya.
Tapi saat ia menoleh, bukannya Do Kyungsoo melainkan Byun Baekhyun. Aneh! Tapi itulah yang Chanyeol lihat. Baekhyun persis melakukan kegiatan-kegiatan yang dilakukan Kyungsoo pada saat itu.
Bahkan anting berlian yang Chanyeol berikan untuk Kyungsoo sebagai hadiah ulang tahun juga terpasang dengan indahnya di telinga Baekhyun.
"Dimana istriku? Kau sedang apa disini,Baek?" Tanya Chanyeol.
Baekhyun tersenyum dan tetap tenang, "istrimu? Aku ini istrimu, Chan."
"T-tidak! Istriku Do Kyungsoo. Kau adalah Baekhyun dan kau sudah meninggalkanku." Chanyeol melepaskan pelukan Baekhyun, ia berdiri menghadap wanita itu.
"Apa maksudmu,Chan? Siapa Do Kyungsoo itu? Disini tidak ada yang bernama Do Kyungsoo."
DEG
"Tidak, tidak mungkin. Apa yang terjadi padaku?" Chanyeol meremas rambutnya begitu kencang, ia tampak frustasi.
"Chanyeooollll..." Baekhyun mencoba meraih tangan pria itu, tapi Chanyeol memundurkan langkahnya menjauhi Baekhyun.
"Do Kyungsoo!" Teriak Chanyeol
Chanyeol membuka matanya dengan peluh yang membasahi area wajahnya. Nafasnya menderu-deru, ia begitu frustasi dengan apa yang baru saja ia lihat itu.
"Apa yang terjadi Mr. Park?" Tanya Dr. Joy. "Kau baik-baik saja?"
Chanyeol merubah posisinya menjadi duduk. Dr. Joy mengusap punggung pria itu guna menenangkannya.
"Apa yang kau lihat disana?" Sekali lagi Dr. Joy bertanya.
"Aku tidak menemukan Do Kyungsoo disana."
"Lalu siapa Byun Baekhyun yang kau sebut-sebut itu?"
Chanyeol menoleh ke arah Dr. Joy yang berdiri disampingnya.
"Dia wanita yang sempat menjalin hubungan denganku."
Baiklah ini semakin seru. Dr. Joy mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Chanyeol. Pria itu menghabiskan air itu hanya sepersekian detik, seperti orang yang kehausan berada di padang pasir yang sangat gersang.
"Oh ya? Lalu kemana dia sekarang?"
"Aku melakukan kesalahan, kesalahan yang sangat besar." Chanyeol menunduk, menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Bisa ceritakan lebih detail lagi?" Dr. Joy kembali ke tempat duduknya dengan sebuah pulpen dan buku analisis.
Chanyeol berdeham sebentar, ia merubah posisi duduknya senyaman mungkin dan mulai menceritakan semuanya. Dari kemunculan Do Kyungsoo hingga awal ketika Baekhyun hadir. Karena kehadiran Baekhyun hanya berselang beberapa hari setelah kematian istrinya. Dr. Joy menjadi pendengar yang baik. Sesekali ia mencatat apa yang dikatakan Chanyeol.
"Baiklah!" Dr. Joy menutup bukunya. Ia mulai bisa menjawab kasus ini.
"Begini saudaraku. Dari apa yang aku baca dari ceritamu, sepertinya kau mengalami gangguan Delusional. Kau tau apa itu Delusi? Delusi adalah waham atau keyakinan yang bertentangan dengan kenyataan, gangguan delusi merupakan jenis penyakit mental psikosis. Psikosis sendiri di tandai dengan ketidaksinambungan antara pikiran dan emosi sehingga penderita kehilangan dengan realita sebenarnya."
"Bisa kau jelaskan dengan kalimat sederhana? Aku tidak mengerti."
"Seperti pada kasusmu, kau selalu mencoba untuk menghadirkan sosok Kyungsoo ke dalam khayalanmu, seolah-olah ia masih ada dan berada disisimu. Padahal kau tau bahwa istrimu sudah meninggal. Itu semua diakibatkan oleh ketidakmampuanmu untuk mengeluarkan segala emosi yang terjadi padamu. Kau begitu sedih kehilangan istrimu, maka hadirlah sosok Kyungsoo seperti yang kau katakan. Kau mulai jatuh cinta lagi tapi tertekan karena sikap bibiku, maka hadirlah perkataan-perkataan Do Kyungsoo yang seolah-olah menyuruhmu untuk bersama kekasihmu itu."
"..."
"Ketahuilah Mr. Park, gangguan yang kau alami ini sungguh tidak baik. Jika kau terus membiarkan ini terjadi, aku khawatir gangguanmu akan berlanjut hingga ke tahap selanjutnya, yaitu GILA."
DEG
Tangan Chanyeol gemetar, apa ia benar-benar mengalami gangguan seperti itu? Sungguh tidak menyangka.
"Apa ada solusinya? Bagaimana cara untuk menyembuhkannya?"
Dr. Joy tersenyum simpul, ia senang mendengar pasiennya mempunyai inisiatif untuk mencari solusi dan pastinya keinginan untuk sembuh.
"Kita bisa melakukan teraphy dan aku akan memberikanmu obat-obatan untuk menenangkan perasaan gelisahmu."
"B-baiklah, Kapan kita bisa mulai teraphynya?"
"Secepat mungkin, Mr. Park."
Setelah itu Chanyeol bersiap untuk pergi, karena ia harus ke kedai. Ini sudah hampir sore, pasti Kim Jongdae sudah menunggunya.
"Aku permisi dulu, sampai bertemu lagi dok."
"Mr. Park..." Panggil Dr. Joy
"Dengar, seberapa kuat kita melakukan teraphy itu tidak akan berguna jika kau masih saja membiarkan Do Kyungsoo masuk ke dalam khayalanmu. Itu semua tergantung dari bagaimana kau memberikan suggesti positive untuk dirimu sendiri."
"Hmm aku mengerti." Chanyeol mengangguk. "Tapi apa maksud dari penglihatanku tadi. Kenapa sosok Do Kyungsoo berubah menjadi Byun Baekhyun?"
Sejenak Dr. Joy berpikir kemudian ia mengedikan bahunya. "Mungkin saat ini sosok Byun Baekhyun dalam hidupmu sudah mulai mendominasi. Kau mencintainya? Tentu saja, perannya dalam hidupmu saat ini penting. Dan adalah hal wajar ketika ia hadir dalam alam bawah sadarmu."
Chanyeol tak menjawab, ia membungkuk memberi salam kemudian meninggalkan ruangan tersebut.
.
.
.
.
Baekhyun pulang larut malam karena kesibukannya di kampus. Ia merasa lapar dan memutuskan untuk makan di salah satu kedai Ramen korea. Baekhyun tidak sendirian ia bersama Wu Yifan. Pria itu tadi menjemputnya di kampus.
"Jadi lusa kau kembali ke Korea?" Tanya Baekhyun sambil mengaduk-aduk kuah Korea yang asapnya masih mengepul.
"Ya, aku sudah dua minggu disini. Meskipun ayahmu mengizinkanku disini selama yang aku mau, tapi rasanya tetap saja ada yang berbeda."
"Heuh.. Akhirnya kau menyadarinya." Sindir Baekhyun.
Wu Yifan tidak ikut makan, karena Ny. Byun membuatkannya nasi goreng kimchi tadi. Mereka makan bersama sesaat sebelum menjemput Baekhyun.
"Oh ya Baek, lalu kapan kau akan ke Korea?" Baekhyun mengerti maksud Yifan, pasti soal pernikahan.
"M-mungkin minggu depan, aku akan mengambil cuti kuliahku."
"Kau yakin setelah menikah kita akan menjalani hubungan jarak jauh hingga kuliahmu selesai?"
"Kita sudah membahasnya Yifan. Kau yang menginginkan kita untuk cepat-cepat menikah. Jadi kau harus mengerti juga keadaanku."
"Yaa. Yasudah lanjutkan makanmu."
Wu Yifan menikmati Araknya sementara Baekhyun diam-diam mencuri pandang ke arah pria itu. Dalam hati bertanya-tanya, apakah benar Wu Yifan adalah akhir dari perjalanannya. Pria yang sama sekali tidak ia cintai. Pria yang sudah ia tolak, tapi tetap bersikap baik padanya. Apakah ia bisa menjalani hidup bersama Yifan? Apakah hidupnya akan bahagia karena menikah bukan atas dasar cinta? Sesaat ia menghela nafasnya dan menganggap bahwa semua ini adalah doa sang ibu yang mungkin di dengar oleh tuhan.
.
.
.
.
Baekhyun dan Wu Yifan kembali ke flat. Disana tidak ada Ny. Byun. Tumben sekali, padahal biasanya Ny. Byun tidak akan pergi keluar seorang diri. Wu Yifan menemukan memo yang tertempel di kulkas, ia mencabut dan memberikannya pada Baekhyun.
"Ibu keluar sebentar. Semenjak disini ibu tidak pernah berdoa di gereja. Jadi ibu pergi ke gereja bersama Ny. Smith."
Baekhyun kenal Ny. Smith itu adalah tetangga depan kamarnya. Seorang janda berusia 60 tahun yang tidak memiliki anak. Hidupnya sendirian dan ia hidup dibawah naungan pemerintah, setiap sebulan sekali ada seorang pengacara yang akan berkunjung ke flatnya memberikan uang saku. Begitulah kurang lebih.
Kini tinggal Baekhyun dan Yifan disana. Entah kenapa mendadak suasana menjadi sangat canggung. Setelah sekian lama, baru ini lagi mereka berada dalam satu ruangan hanya berdua saja. Baekhyun kurang nyaman dengan situasi seperti ini.
"Aku ingin mandi." Kata Baekhyun meletakkan tasnya di atas meja.
"Ya, aku ingin merokok di Balkon." Sahut Yifan membuka pintu balkonnya selebar mungkin, membiarkan sirkulasi udara masuk ke dalam ruangan.
15 menit kemudian..
Baekhyun keluar hanya mengenakan Bathrope dengan rambut yang ia bungkus dengan handuk. Tak sengaja mata Yifan menangkap sosok Baekhyun yang sedang sibuk di dapur, jika di cium dari aromanya wanita itu sedang membuat kopi.
Sial! Yifan merutuki dirinya sendiri, tubuhnya memanas melihat sosok Baekhyun. Padahal ia sudah pernah melihat wanita itu dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, tapi entah kenapa malam ini ada sesuatu yang menggoda dan memicu hasrat pria berkacamata tebal itu.
Sepertinya efek Arak yang tadi ia minum baru bereaksi. Yifan membuka dua kancing teratas kemejanya, ia butuh udara yang lebih banyak untuk dihirup karena saat ini ia sedang bergairah.
Wu Yifan membuang rokoknya yang belum ia habiskan, dan berjalan ke arah Baekhyun yang masih berada di dapur. Wanita itu bersenandung kecil dan menggerakan tubuhnya sesekali membuat Bathrope tersebut beberapa kali ikut bergoyang.
GREP
"Wu yifan! Apa yang kau lak..."
"Sssttt... Baek, ku mohon diamlah. Biarkan aku memelukmu, sudah sangat lama rasanya. Aku merindukanmu.."
Ucapan Wu Yifan sungguh membuat Baekhyun bergidik ngeri. Bagaimana mungkin pria itu mengambil kesempatan disaat-saat seperti ini. Tidak tau malu.
"Lepaskan aku!" Baekhyun mencoba melepaskan pelukannya. Ia berontak tapi apa daya, kekuatan Wu Yifan lebih besar daripadanya.
"Kenapa kau menolakku? Sebentar lagi kita akan menikah. Bahkan dulu kita pernah melakukannya."
"Dengar Yifan, jika kau berani macam-macam aku akan berteriak!"
"Kau mengancamku?" Dengan sigap Wu Yifan membalik tubuh mungil yang ada didepannya. Ia mengangkat tubuh tersebut hingga menyerupai anak koala.
"Yifannn.. Sadarlah Yifannn..."
Yifan tidak peduli, masih di posisi yang sama ia melepas tali Bathrope milik Baekhyun hingga terbuka dan memperlihatkan tubuh yang indah.
"Kau sungguh indah, Baek. Persis seperti dulu."
Baekhyun terus menggerakan tubuhnya. Namun pemberontakan tersebut malah semakin membuat Yifan bergairah, ia melangkah kakinya hingga ke ruangan yang sedikit luas. Baekhyun masih berada di gendongannya, tak mau mengulur waktu karena khawatir Ny. Byun kembali Yifan menghisap payudara Baekhyun kuat-kuat.
"Yiiihhhh.. Fannhhh.. Henhh.. Tiikannhh.. Ssstttthhh..."
Perlahan gerakan berontak Baekhyun melemah, tak dipungkiri ia merasakan aliran darahnya mengalir dua kali lebih cepat saat merasakan hisapan Wu Yifan. Saat ini hati dan pikirannya sedang bertentangan, ia sadar betul jika Wu Yifan adalah pria yang tidak ia cintai tapi hati kecilnya tak bisa mengelak jika semenjak berpisahnya dengan Chanyeol ia merasakan kehampaan yang luar biasa, ia butuh kehangatan selayaknya manusia normal kebanyakan.
Tangan Wu Yifan mulai menanggalkan Bathrope tersebut dan Baekhyun tak melarangnya. Ada kebahagiaan terselip disana, saat wanita yang ia cintai mulai menerima sentuhan-sentuhan yang ia berikan.
Kini Yifan menuntun kepala Baekhyun untuk sedikit menunduk karena ia ingin mencium bibir tipis wanita itu.
"Mmmhhhh..." Keduanya melenguh bersamaan. Baekhyun mulai mengalungkan tangannya di leher Yifan. Mereka benar-benar menikmati 'french kiss' mereka.
Lagi-lagi karena masalah waktu, tanpa melakukan pemanasan yang lama. Wu Yifan membuka celananya tanpa melepas kemejanya lalu menancapkan kepunyaannya pada milik Baekhyun. Pria itu menghentakkannya secara bertubi-tubi membuat Baekhyun serasa terbang ke awan.
"Aku mencintaimu, Byun Baekhyun. Ku mohon cintailah aku." Lirih Yifan disela-sela bercintanya.
DEG
Baekhyun sedikit tertegun mendengar itu. Kenapa cinta itu harus ia dapatkan dari Yifan bukan dari seorang Chanyeol? Apakah ini yang dinamakan Hukum karma? Baekhyun pernah menyakiti Yifan, ia mendapatkan karmanya bersama Chanyeol dan kini disaat ia terluka bahkan Wu Yifanlah yang justru memberikan cinta yang tulus.
TESS
TESS
TESS
Baekhyun menitikkan air matanya sambil menatap Wu Yifan,"Menikahlah denganku, Yifan." Permintaan yang lebih condong ke arah perintah itu membuat Wu Yifan ikut terharu, ia kemudian mencium kening wanita itu.
.
.
.
.
Keesokan harinya, Ny. Do dan para pelayannya berencana untuk datang ke rumah Chanyeol, mengingat keadaan rumah menantunya yang sudah tidak layak disebut rumah. Ia memutuskan untuk membereskan segala kekacauan yang ada disana.
Ditengah perjalanan, Ny. Do tak sengaja bertemu dengan Baekhyun yang baru keluar dari swalayan. Ia menyuruh supirnya untuk berhenti sebentar.
Baekhyun membungkuk kecil memberi salam pada sosok wanita yang ada dihadapannya, yaitu Ny. Do. Sudah lama mereka tidak bertemu, semenjak Baekhyun memutuskan untuk menghilang dari keluarga Chanyeol.
"Nona Byun, bisa kau ikut aku sebentar?"
Setelah Ny. Do meminta para pelayannya untuk pergi ke rumah Chanyeol lebih dulu kini ia dan Baekhyun berada di sebuah restaurant. Hanya ada secangkir kopi dan teh hijau beserta kentang goreng di atas meja.
"Bagaimana kabar anda, nyonya?" Baekhyun memulai perbincangannya.
"Aku baik-baik saja. Kau sendiri? Aku dengar-dengar kini kau sudah bertunangan?" Ny. Do bukan tipe yang suka berbasa-basi.
"Apa menantumu yang memberitahu?" Ny. Do mengangguk pelan.
"Kenapa kau meninggalkannya?"
"Bukankah ini semua keinginan anda? Anda tidak suka dengan kehadiranku diantara cucu-cucu anda dan juga menantu anda." Baekhyun sedikit ketus. Ny. Do tetap bersikap tenang meski tanpa sadar tangannya menggenggam batang cangkir begitu erat.
"Aku mengakui kesalahanku. Tapi apa kau tau bagaimana keadaan menantuku saat kau pergi meninggalkannya?"
"Nyonya, menantumu sudah gila!"
DEG
"Bagaimana mungkin aku hidup dengan pria yang berhalusinasi akan mendiang istrinya. Bahkan ia menganggap Ny. Kyungsoo masih hidup."
Pernyataan Baekhyun membuat Ny. Do sedikit terngaga, ternyata Baekhyun juga mengetahuinya.
"Menantumu tidak mencintaiku, dia mencintai putrimu. Hanya putrimu. Bahkan ia ingin menikahiku karena kedua cucumu yang menyukaiku. Apa dia pantas untuk wanita sepertiku yang mencintainya dengan tulus?" Suara Baekhyun bergetar. Hatinya kembali pilu tiap kali mengingat kejadian malam itu.
"Maaf nyonya aku begitu emosional. Hatiku sudah hancur, aku memaafkannya tapi rasanya tidak mungkin untuk kembali pada menantumu." Tambahnya.
Ny. Do menghela nafasnya dan tetap mempertahankan senyum basa-basinya.
"Chanyeol kini sedang menjalani pengobatan." Baekhyun mengernyitkan dahinya. "Ya, yang kau katakan benar menantuku sudah gila. Ia berhalusinasi tentang Do Kyungsoo. Selepas kepergianmu, penyakit Chanyeol semakin menjadi. Ia begitu murung dan mengurung dirinya dikamar."
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang?" Potong Baekhyun cemas.
"Aku sudah membawanya ke psikiater. Dan Chanyeol dinyatakan mengalami gangguan Delusional."
"..." Baekhyun meneteskan air matanya.
"Kita tidak pernah tau seberapa dalamnya kesedihan Chanyeol, ia terus memendamnya sehingga menyebabkan halusinasi. Dr. Joy sudah menjelaskan semuanya padaku, bahkan kau sering disebut-sebut olehnya."
Ny. Do menceritakan panjang lebar perihal kondisi Chanyeol. Ada sedikit penyesalan yang hinggap di hati Baekhyun, tapi ia sudah terlanjur mengeluarkan pernyataan yang mengatakan bahwa ia tidak akan kembali pada Park Chanyeol. Lagipula, dia sudah berjanji untuk mulai membuka hatinya pada Yifan. Ia tidak ingin menyakiti Yifan untuk kedua kalinya.
"Baiklah, Nn. Byun aku rasa aku harus segera pergi. Ku doakan semoga kau bahagia dengan kehidupan baru mu kelak. Aku tidak bermaksud membuatmu goyah, aku tau apa yang dilakukan Chanyeol sangat keterlaluan. Aku pamit."
Ny. Do pergi meninggalkan Baekhyun yang mematung disana.
.
.
.
.
Sementara Chanyeol sedang berada di kedai, ia benar-benar menyibukkan dirinya guna menghindari dari pikiran kosong. Tekadnya untuk sembuh sungguh tinggi. Pria itu tidak mau berakhir menjadi GILA, bagaimana nasib anak-anaknya nanti?
"Istirahatlah, boss. Sejak tadi kau tidak berhenti bekerja. Bahkan kau mengambil tugasku." Ujar Kim Jongdae.
"Aku tidak lelah, Tuan Kim." Sahut Chanyeol singkat, ia kembali menyibukkan dirinya. Para pegawai yang lain sampai kebingungan, karena hari ini hampir 80 persen semua pekerjaan mereka diambil alih oleh duda itu.
Sementara dari kejauhan ada sepasang mata yang diam-diam mengintip dari balik jendela memperhatikan Chanyeol. Ya, dia adalah Byun Baekhyun. Hatinya sangat sedih melihat kekasih hatinya saat ini. Pria itu nampaknya kurusan, rambutnya sudah tidak tertata rapih seperti dulu. Baekhyun benar-benar merindukan Park Chanyeol.
Setelah puas melihat Park Chanyeol dari kejauhan, gadis itu memutuskan untuk pergi. Tapi tak lama kemudian matanya membulat saat ia mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.
"BAEKHYUN!"
Itu Chanyeol. Jantung Baekhyun berdebar sangat kencang. Kenapa pria itu harus memergokinya disini. Baekhyun menoleh, melihat Chanyeol berdiri diujung sana.
"P-park Chanyeol.." Sahutnya, pria itu berlari kecil ke arahnya. Kini mereka saling berhadapan. Baekhyun salah tingkah.
"Kenapa tidak masuk?" Tanya Chanyeol.
"Kau melihatku?"
"Bukan aku, tapi Kim Jongdae. Kau sedang apa disekitar sini?" Chanyeol memasang senyumnya, salah satu ekspresi favorit Baekhyun.
"T-tidak, aku hanya tak sengaja lewat sini."
"Oh begitu..." Chanyeol mengangguk. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Kau?" Baekhyun mendadak teringat perkataan tadi.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik sajakan." Chanyeol tersenyum lebar berusaha membuktikan bahwa ia memang sehat.
Sesaat mereka terdiam, karena memang tidak ada bahan perbincangan. "Mana tunanganmu,Baek?"
DEG
Baekhyun tertegun sampai akhirnya ia kembali tersadar, "Dia sedang bersama ibuku. Ini aku baru saja dari swalayan, hari ini kami ingin makan malam bersama." Lidah Baekhyun begitu keluh. Rasanya terlalu canggung jika harus membahas masalah Wu Yifan dengan Chanyeol.
"Begitu ya.. Yasudah sepertinya kau sedang terburu-buru. Kau tau, aku senang bertemu lagi denganmu." Chanyeol menepuk lengan Baekhyun kemudian pergi meninggalkan wanita itu.
"Chan..." Panggil Baekhyun pelan.
"Hmm ada apa Baek?" Chanyeol menoleh.
"Jika kau sempat, datanglah ke Korea. Kami akan menikah."
Chanyeol terdiam, lama ia menatap Baekhyun dengan tatapan sulit di artikan. Baekhyun menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan Chanyeol, tiba-tiba pria itu mengeluarkan senyumnya.
"Kalau begitu aku ucapkan selamat, Baek. Semoga kau bahagia." Ucapnya datar kemudian melanjutkan langkahnya.
Baekhyun meratapi kepergian Chanyeol, "apakah dia sudah melupakanku?" Batinnya.
.
.
.
.
"Boss... Tadi Ny. Do menghub..."
"Nanti kita bicarakan lagi." Potong Chanyeol berlari melewati Kim Jongdae begitu saja ke arah lantai atas. Barista itu bertanya-tanya apa yang terjadi pada bossnya tersebut.
BRAK!
Chanyeol merosotkan tubuhnya dipintu. Air matanya mengalir sangat deras, ia begitu sedih mendengar kabar bahwa Baekhyun akan menikah. Chanyeol benar-benar menyesal telah menyakiti gadis itu, dan sekarang ia harus membayar semuanya.
Dadanya begitu sesak hingga ia sulit bernafas. Ia butuh obat penenangnya, karena pikirannya kembali kacau. Dengan merangkak layaknya bayi, Chanyeol menghampiri nakas disamping ranjang membuka laci tersebut dengan cepat dan mengambil obat.
Chanyeol menenggak 5 butir obat sekaligus. Nafasnya masih menderu, ia meremas rambutnya keras-keras dan menjedoti kepalanya di nakas tersebut sambil menangis.
"Hixsss... Hixsss... Arrrrggghhhh!"
.
.
.
.
"Jaga dirimu baik-baik, dan jangan lupa minggu depan untuk kembali ke Korea. Ibu dan Yifan akan mengurus semuanya disana." Ujar Ny. Byun. Baekhyun kini sedang ada di bandara. Ia mengantar kepergian Wu Yifan dan juga ibunya
"Tenang saja bu, aku juga akan mengurus cutiku." Baekhyun mengangguk patuh. Ny. Byun mencium kening putrinya kemudian pergi karena harus boarding pass.
Tinggal Wu Yifan dan Baekhyun disana. "Entah kenapa, aku merasa kau tidak akan datang ke Korea." Kata Yifan membuat Baekhyun mengerutkan dahinya sesaat kemudian memukul lengan pria tinggi itu.
"Kau sudah gila! Jangan berkata yang tidak-tidak. Apa kau mau itu benar terjadi,hem?"
"Tidak! Tidak! Tidak! Aku tidak akan sanggup membayangkannya."
"..."
"Yasudah aku pergi dulu ya, sampai bertemu di Korea." Pamit Yifan mengusap rambut Baekhyun kemudian memeluk wanitanya, menyesap aroma tubuh wanita itu sebagai bekal rindu selama di Korea.
Mereka saling melambaikan tangan. Baekhyun kemudian teringat oleh perkataan Yifan barusan, bagaimana jika takdir memang tidak membawanya kembali ke Korea? Tapi kemudian ia menggeleng kepalanya, karena tuhan sudah menakdirkan dirinya dengan Wu Yifan.
.
.
.
.
Waktu terus berjalan, Baekhyun mulai mengurus cutinya. Besok siang keberangkatannya ke Korea, Ny. Do mengatakan bahwa persiapan pernikahannya sudah 98 persen, karena 2 persennya adalah kehadiran calon mempelai wanitanya. Baekhyun berencana untuk mengambil cuti selama dua semester alias satu tahun. Pelan-pelan Baekhyun mulai memasukan pakaian dan barang-barang penting yang akan Ia bawa ke Korea. Ada perasaan tak sabar jika menyebut soal kampung halamannya, ia sangat rindu dengan ayahnya disana. Dilain sisi rasanya ia begitu berat meninggalkan kota ini, meski terbilang baru tapi kota ini sudah memberikan banyak kenangan terhadap Baekhyun.
Baekhyun merasa kepalanya sedikit pusing, mungkin ia butuh udara segar. Jadi ia memutuskan untuk keluar sebentar. Duduk-duduk di taman kota mungkin tak ada salahnya.
Tubuh mungilnya kini duduk di sebuah ayunan kosong. Ia mengayunkan ayunan itu pelan. Baekhyun tidak tau apa yang sedang ia pikirkan, terlalu banyak yang masuk kedalam otaknya sehingga semua terasa semrawut.
"Hai Nona Byun..."
Baekhyun mengerjap bingung siapa yang telah memanggilanya malam-malam di tempat seperti ini. Ia menoleh ke sampingnya dimana telah duduk seorang wanita mungil yang memakai pakaian serba putih di ayunan yang masih kosong itu.
Wanita itu tersenyum sangat cantik, benar-benar ayu. Baekhyun kenal siapa wanita itu, itu adalah DO KYUNGSOO.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Nahloh? Chapt ini makin ribet aja kayanya. Pake segala ada si CY nya sakit gangguan mental pula. Tapi gak apa, itung-itung belajar ilmu psikologi dikit-dikit.
Awalnya gak mau bikin CY kayagitu karena keterbatasan ilmu psikologi yang aku punya dan sedikit melenceng dari cerita. Tapi aku pikir udah terlanjur karena disini Chanyeol suka berkhayal, jadi sedikit mau selipin adegan soal pembahasan penyakit yang di derita CY.
Mau ucapin makasih buat sahabat aku, kebetulan dia anak psikologi jadi aku sempet sharing sama dia, tanya-tanya soal penyakit Delusional itu. Dan Tadaaaa... Jadi deh kaya yang di Chapt ini. Semoga kalian jelas ya sama kasus CY yang suka ngayalin kyungsoo. Dia enggak gila, tapi dia Delusi. That's all.
Jangan lupa Reviewnya yaa *blowingkiss
.
.
.
.
Ervyanaca: iya Baekkie sakit hati, patah hati gara2 CY yang kurang ajar sama dia. Heuhhh :(
Ekayoon: heii, kamu follow aku ya di IG. Makasih ya udh follow aku salam kenal. Iyaa eka, ini sedang diusahakan buat bikin Fanfic ini jadi beberapa Chapt. Pantengin terus yaa ;)
Tannurfr: DONE :)
ORG: iya gak apa. Kalau kamu bilang gak jelas. Di atas udah saya jelasin alasan kenapa alur ini berantakan, karena ada kesalahan teknis. Dan soal Kedai dan kamar itu, memang di Kedai CY itu ada kamar yang terletak dilantai atas. Trims atas Reviewnya. :)
AIP18: haii sayang makasih ya, pantengin terus Fanfic ini yaa :)
Chanhungf: kwkwkwk iyaa parah ya mesum juga do'I. Tapi gak apalah, mumpung sama Duren, duda keren. Kwkwkwk... Iya dek, ini udah dilakuin kok. Makasih ya atas sarannya.
Misslah: Done :)
Beesaraswati: abis aku bingung mau masukin siapa lagi. Lebih mood Crack pair nya si KrisBaek. Kan Ny. Do nya sebenarnya baik, itu cuma kekhawatirannya dia aja sayang.
Park RinHyun-Uchiha: Maafkan akuuuu T_T , iya sama-sama bodoh, aku aja yang nulis greget. :D
Parkobyunxo: adaawww.. Gak nyangka kalau kamu sampe kebawa sama cerita ini. Iya Happy ending kok, itu udah konsep dari awal. Cuma tetep ya, mereka harus aku siksa duluuu. *peace
Dya kim: iya makanya, biarin si CY kena karma dulu ya atas apa yg udah dia lakuin ke Baekkie. Heuhh ZBL!
Keenz: say goodbye buat Chanyeooolll.. Mangenakkk! :p
Yeollo: its already :)
Rama park: iya Baekhyun tar hamil, tapi pas udah nikah aja ya. Gimana? :D
Guest: thanks Guest :)
Daebaktaeluv: iyaa dia bodoh. Kebodohannya bikin jadi bumerang buat dia sendiri.
Yeolangghraeni: iyaa CY harus rasain apa yang dia rasain. *senyumEvil
Jinyoungie98: hancur berkeping-keping sama depresiii T_T
Whey.k: iya Baekkie terbawa suasana, dia naksir sm CY gara2 sosok Hot daddy-nya. Jadi terbuai.
SyiSehun: kira-kira batalin gak ya? Maunya gimana? Pantengin Chapt selanjutnya ya. :D
FufuXoXo: iyaa hehehe maaf ya itu sudah aku benerin kok. Semoga better ya.
Latifanh: aku enggak tersinggung. Kritik dan saran aku butuhin banget untuk membangun supaya lebih baik. Iya CY ngalamin gangguan Delusi, makanya di Chapt ini sedikit dijabarin soal penyakit dia. Makasih ya udah baca Fanfic ini :)
Saaaaaa: ini bakalan Happy ending kok sayang. :)
Oh syehyunie: serius kamu nangis? Huhu aku jadi terharu liatnya. T_T Aracelli sama Arlo itu nama anak-anak aku nanti, cita-cita kalau punya anak mau aku kasih nama itu. Bagus gak? :D
Laxyovrds: kamu kurang suka ya sama KrisBaek?
ChanBmine: karena CY terlalu Naiv, dia cuma lagi dalam suasana Dillema aja. Kasian ya :'(
CussonsBaekby: iya, parah bgt yaa. Pernikahan sama Baekkie mau dia Jadiin kaya simbiolis mutualisme gitu. Gilaaa si CY! KZL!
Diana: makasih diana :)
Rly: iyaa mamam tuhhhh!
.
.
.
.
GOMAWO :*
