PRESENT
.
.
.
River Flows in You
.
.
.
CAST
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Do Kyungsoo
Aracelli
Arlo
Wu Yifan
.
.
.
M
.
.
.
Chanbaek / ChanSoo (Slight) / KrisBaek (Slight) / (GS)
.
.
.
Huyy, kita ketemu lagi ya. Senangnya bisa dapat kepercayaan dari para readers tercinta untuk ngelanjutin Chaptnya.
Mau kasih tau kalau di Chapt ini bakalan ada KrisBaek moment, bahkan hampir 60 persen. Karena aku ngambil dari sisi Baekhyun. Jadi yang kurang setuju, di setuju-setujuin aja ya. :D
Mohon maaf atas kepelikan yang terjadi di hidup Chanyeol dan Baekhyun. But That's life! Aku nulis ini berdasarkan apa yang aku amati di sekitar. Dari sudut pandang aku yang udah diumur 25 tahun ini, sebagai orang dewasa. Saat seseorang menginginkan sesuatu, kadang Tuhan gak secara langsung ngasih itu semua dengan mudah. Mereka harus di uji. Juga tentang perjalanan-perjalanan hidup manusia yang mereka sendiri gak akan bisa menduga apa yang bakal mereka alamin ke depannya. So, itulah yang ngebuat aku tertarik bikin Fanfic bergenre Drama. Gak ada yang instant di dunia ini, meskipun ini cuma dunia per-FF-an yang segala sesuatunya bisa terjadi sesuai yang kita mau. Tapi aku pengen aja, kalian bisa ambil intisari dari cerita ini. Cerita kehidupan sehari-hari yang gak selamanya bahagia.
Aku yakin pada Chapt kali ini bakalan timbul pro-kontra, tapi aku akan terima semua komentar kalian dengan baik.
.
.
.
.
Happy Reading :*
.
.
.
.
Baekhyun terkejut setengah mati, ia menepuk pelan kedua pipinya dan ternyata itu bukan mimpi. Baekhyun mengucak matanya untuk memastikan kembali apa yang dilihatnya benar atau salah. Tapi lagi-lagi Do kyungsoo masih ada disana.
"Nyo...nya Kyungsoo.."
"Tenang saja aku bukan khayalanmu nona." Jawab Kyungsoo santai sambil mengayunkan ayunan membuat rambut panjang indahnya terbang terbawa angin.
"Jadi kau hantu?" Bulu kuduk Baekhyun merinding, saat ini ia hampir mati ketakutan. Meski wanita itu sangat cantik tapi tetap saja dia hanyalah Arwah.
"Jangan takut." Kyungsoo terkekeh kecil. "Nona, apa benar kau akan menikah?" Tanya Kyungsoo to the point persis seperti Ny. Do
"Ya." Baekhyun menunduk.
"Kenapa kau membohongi perasaanmu? Kau mencintai suamiku, tapi kau malah menikahi pria itu?"
"Suamimu masih belum bisa melupakanmu Nyonya. Dia tidak mencintaiku sepenuhnya, ia menikah hanya karena memikirkan masa depan anak-anak kalian." Lirih Baekhyun.
Kyungsoo menghentikan ayunannya, agar pembicaraan mereka lebih intens. "Jika Park Chanyeol belum melupakan aku, apakah itu dimatamu sebuah kesalahan, hem? Kenapa pikiranmu begitu sempit."
DEG
Baekhyun menggeleng.
"Kau salah Nona.. Pria bodoh itu mencintaimu. Hanya saja ia begitu sulit mengungkapkannya."
"..."
"Dia memang sedikit keras kepala, tapi percayalah bahwa apa yang dia lakukan padamu itu atas dasar ketidaksengajaan saja. Aku tau betul siapa suamiku, kadang ia tidak tau apa yang harus dilakukannya. Bertingkah seperti orang bodoh, tapi itu sangat menggemaskan. Jika ia mengatakan sesuatu padamu maka itu adalah yang sebenarnya terjadi. Chanyeol-ku tidak seperti pria lain yang mengumbar segala sesuatunya pada orang lain."
Raut wajah pucat itu kini berubah menjadi murung, "Aku sangat sedih melihat keadaannya saat ini. Ternyata suamiku menyimpan kesedihannya sendiri. Ini semua salahku yang meninggalkannya, disini ia hanya seorang diri. Jika bukan aku, tidak ada lagi yang bisa ia jadikan tempat bertumpu, mengeluarkan keluh kesahnya."
Baekhyun memperhatikan Kyungsoo, ia mendengarkan segala perkataan arwah cantik itu. Tanpa sadar rasa takutnya menghilang, meskipun ia sadar sepenuhnya bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah Kyungsoo yang bukan lagi seorang manusia.
"Bukankah kau sendiri yang tidak ingin mempermainkan sebuah pernikahan? Lalu kenapa kau sekarang malah bermain-main dengan pernikahanmu sendiri?"
DEG
"Kau tidak mencintai pria itu. Kau hanya kasihan padanya. Bukankah itu jauh lebih menyakitkan untuknya?"
DEG
"Kau dan Chanyeol saling mencintai. Apalagi yang kalian tunggu? Bahkan aku merestui kalian, aku percaya bahwa kau bisa menjadi ibu yang baik untuk anak-anakku." Kyungsoo tersenyum.
TES
TES
TES
Baekhyun menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia menangis. Benar-benar tidak tau apa yang harus ia lakukan. Keberangkatannya esok hari, segala persiapan pernikahannya di Korea sudah rampung, hanya tinggal menunggu kedatangannya saja.
Baekhyun mencintai Park Chanyeol. Tapi Wu Yifan sudah menunggunya dengan penuh harap. Bagaimana ini? Rasanya Baekhyun ingin sekali terjun bebas dari atas gedung saja agar terlepas dari segala kedillemaan hatinya. Tapi bunuh diri juga sangat berdosa, ia masih harus mempertanggungjawabkan lagi pada Tuhan di akhirat nanti.
"Pikirkanlah Nona. Waktumu tidak banyak. Tanyakan pada hati kecilmu, siapa yang sebenar-benarnya ingin kau pilih. Yang akan membuatmu bahagia."
"Hanya kau yang bisa. Untuk itu aku menyerahkan keluarga kecilku padamu. Berharap kau bisa menjadi Lentera di tengah kegelapan yang ada." Tambah Kyungsoo.
Lama Baekhyun meratapi kesedihannya disana. Sampai akhirnya, ia kembali membuka wajahnya. Ia mengedarkan pandangannyan ternyata Do Kyungsoo sudah tidak ada disana. Baekhyun tersenyum tipis, ia merasa senang bisa bertemu dengan wanita itu.
.
.
.
.
Baekhyun mengirim pesan pada Chanyeol agar menemuinya di Seattle Waterfront. Saat ini masih pukul 10 malam, Baekhyun mengeratkan tali mantelnya, karena malam ini lumayan dingin. Ia pergi menuju ke tempat tujuannya, berharap Chanyeol juga datang kesana.
Baekhyun perlu bicara empat mata dengan pria itu. Mengeluarkan segalanya yang tertahan di dalam hati. Baekhyun yakin setelah malam ini akan ada perubahan dalam hidup. Perubahan yang menentukan nasib dirinya.
Sesampainya disana wanita itu duduk di kursi kayu yang ada di pinggir laut itu, melihat beberapa kapal feri yang sedang berlabuh disana. Angin malam membuat tubuh Baekhyun sedikit kedinginan. Di dalam khayalannya, Park Chanyeol akan datang dengan membawa Kopi hangat kesukaannya. Membayangkan itu, bibir tipisnya melengkung keatas.
1 jam kemudian...
Park Chanyeol belum datang.
2 jam kemudian...
Belum juga.
3 jam kemudian...
Tidak ada tanda-tanda pria itu akan datang.
Baekhyun masih berpikiran positive, dengan setia ia menunggu pria itu meski ini sudah sangat larut malam. Lampu-lampu kota sebagian sudah padam tak seterang tadi. Semilir angin malam pun semakin dingin masuk hingga menusuk tulang.
Dimana Park Chanyeol?
Kenapa dia tidak datang?
Apakah ia tidak membaca pesannya?
Mungkinkah ia menolak untuk datang?
Bagaimana keadaanya saat ini?
Pertanyaan bertubi-tubi itu menganggu pikiran Baekhyun. Rasa putus asa mulai datang. Sekali lagi, manusia bisa berencana tapi Tuhanlah yang berkehendak. Chanyeol bukanlah takdirnya. Pria itu tidak datang.
Sementara di tempat lain..
Chanyeol tengah terlelap dalam tidurnya. Hari ini ia melakukan Teraphy untuk pertama kalinya, dan ia mengkonsumsi obat penenang karena sesaat sebelum tidur pikirannya kembali teringat akan Baekhyun. Ia sedih karena wanita itu akan segera menikah. Lelah karena sosok Baekhyun selalu hadir di pikirannya, akhirnya ia meminum obat penenangnya.
Chanyeol telah melewatkan momen penting dalam hidupnya. Tanpa ia ketahui ada Baekhyun disana yang menunggunya hingga lelah. Baekhyun yang ingin menyelesaikan segala kemelut di antara mereka.
.
.
.
.
"Baekhyunnnnnnnn!"
Chanyeol berlari kesana-kemari mencari sosok itu sedari tadi. Hampir semua orang yang sedang lari pagi disekitar sana ia tanyai tentang keberadaan Baekhyun. Semuanya NIHIL.
Chanyeol tau ini sudah terlambat. Tadi pagi ketika ia terbangun dari tidur, matanya membulat saat membaca pesan dari Baekhyun yang masuk sejak tadi malam itu. Tanpa pikir panjang, masih mengenakan piyama pria itu pergi menuju pelabuhan tersebut.
Chanyeol kelelahan mencari Baekhyun. Ia terduduk di kursi kayu dan sibuk merutuki dirinya sendiri yang terlalu bodoh dan lengah.
Chanyeol kemudian berlari ke arah mobilnya dan pergi menuju flat Baekhyun. Sesampainya disana, ia menekan bel Baekhyun berkali-kali tapi tak ada sahutan.
"Excuse me.."
Chanyeol menoleh Ny. Smith hanya mengeluarkan separuh kepalanya dari balik pintu kamarnya.
"Maaf Ny, apa kau tau wanita yang tinggal disini kemana?"
"Oh Ms. Byun. Kau mencarinya?"
Chanyeol mengangguk.
"Pagi-pagi sekali ia sudah pergi. Dia akan ke Korea, keberangkatannya pukul 11 tapi katanya ia ingin pergi cepat-cepat."
Chanyeol melirik ke jam tangannya, masih pukul 9. Pikirnya ini belum terlambat.
"Baiklah, terima kasih Nyonya."
Pria itu segera bergegas menuju bandara dengan kecepatan tinggi ia menerobos jalanan.
Drrttt
Drrttt
Ponsel Ny. Do bergetar.
"Ya Chan ada apa pagi-pagi begini..."
"Bu, bisakah kau membawa anak-anak ke bandara sekarang juga?"
"Memangnya kenapa, Chan?"
"Nanti akan aku jelaskan. Aku tunggu disana ya."
PIP
Ny. Do tampak kebingungan, kenapa mendadak menantunya memintanya untuk pergi ke Bandara. Sang menantu tampak sedang tergesa-gesa. Tapi sebaiknya ia cepat-cepat melakukan apa yang menantunya minta, toh disana ia akan mendapat penjelasannya.
Baekhyun saat ini tengah duduk di kursi tunggu, mengenakan kaca mata hitam dan Hoodie. Ia sangat mengantuk, semalaman ia tidak bisa tidur. Wanita itu menghabiskan malamnya dengan menangis.
Baekhyun meletakkan kepalanya di atas koper, masih ada dua jam lagi jadi ia pikir tak ada salahnya untuk tidur sebentar.
1 jam kemudian...
Chanyeol sampai di Bandara. Ia berlari kecil mencari-cari sosok Baekhyun. Banyak sekali orang disana, sadar akan tubuh kecil yang dimiliki wanita itu membuatnya semakin sulit untuk ditemui. Apalagi ini Amerika, dimana mereka memiliki perawakan tubuh yang tinggi besar. Baekhyun hanya akan semakin tidak ada apa-apanya jika berada di antara kerumunan mereka.
Tak lama kemudian Ny. Do dan anak-anak sampai juga. Ia melihat sang menantu sedang berlarian seperti orang kebingungan. Siapa yang sedang di cari menantunya? Pikir Ny. Do.
"Ayahhhhh..." Panggil Aracelli berlari ke arah ayahnya.
"Sayang.. Mana Gema dan adikmu?". Aracelli menunjuk ke arah Ny. Do dan Arlo.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kau sedang mencari siapa? Kenapa kau meminta ibu untuk membawa anak-anak kesini?" Tanya Ny. Do saat menghampiri menantunya.
"Byun Baekhyun..."
DEG
"Apa?"
"Hari ini ia akan pergi ke korea bu. Aku harus menemuinya."
Aracelli menarik bagian bawah Piyama ayahnya,"ada apa sayang?" Chanyeol tak menoleh padanya, karena ia sedang melihat kesana-kemari.
"Apa Baekhyun Eonnie akan pergi?" Mata gadis kecil itu berkaca-kaca, ia merindukan eonnienya tapi kenapa sekarang malah mendengar kabar bahwa wanita itu akan pergi jauh.
"Ayahhh.. Cegah eonnie, jangan biarkan ia pergi yah ku mohonnn.." Aracelli kini menumpahkan air matanya membuat Chanyeol dan Ny. Do semakin sedih melihatnya.
"Sayang, biarkan ayahmu mencari eonnie-mu dulu ya. Ayahmu juga sedang berusaha untuk mencegahnya." Ny. Do mencoba menenangkan.
Setelah mereka berkeliling bandara, kini mereka sudah berada di puncak frustasinya. Wanita itu tidak berhasil di temukan.
"Bu.. Pesawatnya belum berangkat, tapi kenapa Baekhyun tidak bisa kita temukan?" Ujar Chanyeol, keadaanya sudah kacau. Ny. Do khawatir akan terjadi apa-apa dengan menantunya.
"Sudahlah Chan, lebih baik kita pulang. Mungkin memang Tuhan tak mengizinkanmu untuk bertemu dengannya." Ny. Do mengusap lengan Chanyeol lembut.
"Gemaaaa... Ayah harus menemukan eonnie. Aku tidak mau eonnie pergiiii..." Rengek Aracelli.
"Pesawat keberangkatan korea akan segara lepas landas, para penumpang diharapkan segera memasuki pesawat."
Chanyeol menoleh ke arah para kerumunan yang mulai berjalan ke arah tempat boarding pass. Namun tetap saja ia tidak menemuinya. Pria itu menghela nafas panjang, akhirnya ia menyerah.
"Maafkan ayah sayang. Ayah gagal menahannya pergi." Ujar Chanyeol menggendong Aracelli berdampingan dengan Ny. Do.
Mereka melangkahkan kakinya, tiba-tiba..
"Ooonyyyiiiiii..."
Arlo berseru. Aracelli tau siapa 'onyi' yang dimaksud adiknya itu, itu adalah Baekhyun Eonnie. Gadis kecil itu mengikuti arah telunjuk adiknya. Dan benar saja, disana Baekhyun tengah menggeret dua buah koper besar dengan langkah gontai.
"Ayah! Itu Eonnieeee..." Ujar Aracelli membuat mereka semua menoleh ke arah yang dituju.
DEG
Chanyeol tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Ternyata wanita itu ada disana. Ia berterima kasih pada si tampan Arlo.
Aracelli meminta Chanyeol untuk menurunkan tubuhnya. Ia segera berlari ke arah Baekhyun.
"Eoooniiieeeeee..." Panggil Aracelli.
Langkah Baekhyun terhenti tatkala ia mendengar suara Aracelli memanggilnya. Benar saja, gadis kecil itu tengah berlari ke arahnya dengan air mata membasahi pipi tembamnya.
"Aracelli-ku sayanggg.." Sahut Baekhyun, mereka berhambur dalam satu pelukan.
Mereka saling merindukan satu sama lain. Rasanya sudah lama sekali tidak bertemu. Baekhyun melihat di ujung sana Park Chanyeol, Ny. Do dan juga Arlo yang sedang mematung.
"Eonnie, benarkah kau akan pergi?"
"Benar sayang, Eonnie hanya pergi sebentar. Eonnie janji akan kembali secepatnya."
"Apa benar kau akan menikah dengan pria yang waktu itu aku temui di flat? Kenapa kau menikah dengannya? Kenapa kau tidak menikahi Ayahku. Ayahku tidak kalah tampan dengannya."
"Sayangggg..."
"Jika kau menikah dengan ayahku, bukankah kita bisa bertemu setiap harinya? Aku akan sangat bahagia jika kau bisa menjadi ibuku. Kau taukan, aku dan Arlo tidak mempunyai ibu, dan aku ingin sekali kau menjadi ibuku."
DEG
Baekhyun membuka kacamatanya. Ia tak kuasa menahan air matanya. Aracelli yang malang.
"Baekkk..."
Baekhyun menoleh ke Chanyeol, pria itu kini ada di hadapannya dengan wajah yang mengisyaratkan permohonan padanya agar jangan pergi.
"Ayahhh... Bujuk eonnie agar dia mau menikahimu,yah." Rengek Aracelli lagi.
Ny. Do menarik tangan Aracelli agar Chanyeol memiliki kesempatan berdua dengan Baekhyun. "Sayang ayo ikut Gema, ayah ingin bicara dengan eonnie-mu." Aracelli mematuhi perintah Gemanya. Mereka sedikit menjauh membiarkan Chanyeol bersama Baekhyun.
"Baek.. Maafkan soal semalam, aku..."
"Sudahlah Chan, lupakan semuanya. Apapun alasannya, kau tetap saja tidak datang." Potong Baekhyun.
"Baek aku mencintaimu. Ku mohon jangan pergi." Lirih Chanyeol dengan tangisan tanpa suaranya itu.
"Semua sudah terlambat Chan, bahkan kau tidak berusaha menghubungiku, mencariku bahkan membujukku. Kau tidak bersungguh-sungguh padaku."
Chanyeol menggeleng pelan.
"Kemana saja kau selama ini. Disaat aku merindukanmu, aku membutuhkanmu? Apa karena kehadiran seorang Wu Yifan lalu kau dengan mudahnya menyerah pada keadaan?" Baekhyun menaikkan intonasi bicaranya.
"Maafkan aku, tapi percayalah aku sangat mencintaimu." Chanyeol tak mempunyai pembelaan atas dirinya. Hanya itu yang bisa ia katakan.
"Kau mencintaiku? Lalu apa usahamu selama ini? Saat terakhir kali kita bertemu, kau menunjukkan sikap tak pedulimu atas kabar pernikahanku. Apa kau tau, itu sungguh menyakitkanku, hah?" Baekhyun memukul dada Chanyeol. Ia meluapkan semuanya.
"Bahkan kau baru datang disaat pernikahanku sudah di depan mata. Apa ini yang kau sebut cinta? Kau jahattt Park Chanyeol. Hixs hixs.."
Tubuh Baekhyun merasa lemas, ia hampir terjatuh ke lantai dengan sigap Chanyeol menahannya dan memeluk dengan erat.
"Kauuu sungguh jahat, Chan. Hixss.. Hixss.. Kau selalu saja membuatku menderita. Aku benci padamu.."
Baekhyun menangis tersedu-sedu di dalam pelukan pria itu. Tak dapat dipungkiri, ia begitu merindukan pelukan Park Chanyeol.
"Pesawat keberangkatan korea akan segara lepas landas, para penumpang diharapkan segera memasuki pesawat."
Baekhyun tersadar, ia segera melepaskan pelukan Chanyeol dan menghapus air matanya.
"Apa kau akan tetap pergi?" Tanya Chanyeol.
"Maafkan aku, Chan. Aku harus pergi. Jaga dirimu baik-baik."
Baekhyun menghela nafasnya, ia menoleh ke arah Ny. Do dan anak-anak dan membungkuk memberi salam. Salam perpisahan.
Aracelli berlari ke arah Chanyeol dan memeluknya. Menangis begitu sedih melihat kepergian Baekhyun. Wanita itu bisa mendengar suara tangisan Aracelli, tapi ia berusaha sekuat tenaga untuk kuat.
Baekhyun mempercepat langkahnya, ia tidak ingin berlama-lama disana karena hanya akan memberatkan segalanya.
"Selamat tinggal Chan.. Aku mencintaimu." Batin Baekhyun.
.
.
.
.
Wu Yifan terbangun dari tidurnya. Seperti biasa. Ini sudah bulan ke 11-nya menjalani rumah tangga bersama Byun Baekhyun. Setelah menikah mereka memutuskan untuk tinggal di rumah Yifan. Lalu apa yang sudah terjadi selama 11 bulan ini? Ya, mereka menjalaninya dengan baik. Senormal mungkin. Hampir tidak ada perdebatan antar keduanya. Yifan suami yang lembut, penyayang dan juga sabar. Sikap Yifan membuat Baekhyun semakin tidak ada alasan untuk tidak membalas sikapnya apalagi meninggalkannya.
Seiring waktu berjalan, Baekhyun menjadi lebih dewasa. Sifat malasnya mulai berkurang, karena ia sadar akan kodratnya sebagai istri. Kehidupan rumah tangganya terbilang biasa saja, setiap harinya Yifan berangkat kerja dan pulang disambut oleh Baekhyun.
Kesibukan Baekhyun selama di Korea tidak banyak. Menemani sang suami di beberapa acara penting kantornya, berbelanja dengan sahabat lamanya dan sisanya ia habiskan dirumah. Mereka juga memutuskan untuk tidak memiliki anak dulu, mengingat belum selesainya kuliah Baekhyun di Seattle. Mereka khawatir akan sedikit sulit untuk mengatur semuanya jika Baekhyun harus hamil. Sebenarnya itu adalah permintaan Baekhyun, awalnya Yifan kurang setuju. Tapi kembali lagi, kira-kira siapa di dunia ini yang bisa menolak permintaan orang yang ia cintai?
Wu Yifan beranjak dari ranjangnya, ia mendapati sang istri tengah fokus karena sedang melakukan senam Yoga di halaman belakangnya.
"Pagi sayang..."
CHU
"Yak! Kau mengangguku, Yifan!" Lagi-lagi Wu Yifan membuyarkan konsentrasi Baekhyun pagi ini. Ia mengeluarkan delikan tajam, sebuah delikan yang Yifan sukai sejak dulu.
"Kau selalu saja meninggalkanku tidur dan setiap pagi aku selalu terbangun dalam keadaan kau tidak ada disampingku." Yifan mengerucutkan bibirnya.
Baekhyun beranjak dari duduknya, ia berbalik dan tersenyum pada sang suami. "Siapa suruh kau pulang terlalu larut?". Bela Baekhyun melewati Yifan begitu saja masuk ke dalam sambil mengelapi tubuhnya dengan handuk kecil.
"Huhh alasan lagiii..." Ujar Yifan mengikuti istrinya.
Baekhyun berhenti di meja makan, menuangkan Orange juice ke dalam gelasnya dan gelas Yifan kemudian meminumnya sekaligus.
"Sayang, kau tidak lupakan besok malam adalah ulang tahun ibumu?"
"Ya, tapi aku belum sempat membeli hadiah untuk ibu."
"Nanti siang kita akan pergi ke mall. Bagaimana?" Yifan duduk di kursi dan menarik pinggang nan ramping itu agar duduk dipangkuannya.
"Benarkah?" Baekhyun memastikan. Yifan mengangguk.
.
.
.
.
Ini hari sabtu Wu Yifan libur maka ia bisa mengajak sang istri untuk pergi ke luar. Saat ini mereka tengah berada di salah satu mall di Seoul. Baekhyun tampak bingung soal kado apa yang akan ia berikan untuk ibunya.
Tangan Yifan menarik Baekhyun untuk masuk ke dalam toko perhiasan. Banyak sekali perhiasan yang indah disana. Mata sipit itu menangkap satu gelang kaki dimana di gelang kaki tersebut dilingkari bandol-bandol kecil bermatakan berlian. Sangat sederhana tapi cukup berkilau.
Yifan melihat gerak-gerik sang istri akhirnya mengetahui apa arti tatapan wanita itu terhadap gelang kaki yang bertengger di dalam etalase. Ia tersenyum.
Setelah hampir dua jam berada di dalam mall, KrisBaek memutuskan untuk membelikan Ny. Byun satu set perhiasan emas putih. Mereka yakin Ny. Bun akan senang dengan hadiah yang mereka belikan.
"Aku yakin ibu akan menyukainya." Ujar Baekhyun sambil memeluk lengan Yifan sambil berjalan ke pintu keluar.
"Tentu sayang."
Saat jalan beriringan, Yifan tak sengaja melihat ke arah toko perlengkapan bayi. Hatinya bergetar saat melihat benda-benda lucu yang ada disana. Baekhyun menyadari akan hal itu, tapi rasanya ia belum siap untuk memutuskan hal sebesar itu. Bayi bukanlah jalan terbaik saat ini. Wanita itu lagi-lagi mengatasnamakan soal kuliahnya yang belum selesai.
Baekhyun menunduk, seolah-olah ia tidak peka akan gelagat Yifan barusan. Sementara Yifan merasa sangat miris karena ternyata Baekhyun lebih memilih untuk berpura-pura tidak peduli.
Sepanjang jalan pulang Baekhyun merasa Yifan seperti mendiaminya. Terbukti saat Baekhyun memintanya untuk berhenti sebentar di kedai kopi, tapi suaminya malah menerobos jalan begitu saja. Baekhyun mendengus sebal, dan lagi-lagi Yifan hanya diam seolah-olah tidak ada Baekhyun disampingnya.
CIIIITTTTT...
Mereka telah sampai dirumah. "Yifan..." Panggil Baekhyun menahan lengan suaminya.
"Ya sayang ada apa?" Sahut Yifan kali ini dingin.
"Kenapa kau diam saja? Apa kau marah padaku? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanya Baekhyun sedikit hati-hati.
Yifan tersenyum tipis. "Sudahlah lupakan. Mungkin memang aku saja yang terlalu mendramtisir ini semua."
Yifan turun dari mobil disusul oleh Baekhyun. "Maksudmu? Mendramatisir apa? Aku tidak mengerti." Sahut Baekhyun, kini mereka sudah berada di ruang tengah.
"Pertanyaannya, memang sejak kapan mencoba untuk mengerti? Bukankah selama ini hanya aku yang berusaha mengertimu."
DEG
Baekhyun sedikit terperangah mendengarnya. Jadi selama ini Yifan diam-diam memperhatikan sikap Baekhyun. Pria itu tidak pernah mengeluh tiap kali sisi egois Baekhyun sedang muncul. Tapi siang ini, hanya karena Baekhyun yang berpura-pura tidak peduli soal keinginan Yifan untuk memiliki anak, pria itu menunjukkan protesnya secara terang-terangan.
"Kau marah hanya karena aku tidak mau memberikanmu seorang anak? Bukankah kita sudah membahasnya, lalu kenapa sekarang seakan-akan kau menyalahkanku atas semua ini?" Sahut Baekhyun.
"Dengar sayang, bahkan kau bisa mencari universitas disini jika soal kuliahmu yang menjadi permasalahannya. Tapi semakin lama aku semakin ragu, sepertinya alasanmu sebenar-benarnya itu bukanlah soal kuliahmu. Melainkan..." Yifan menarik nafas dalam-dalam.
"Melainkan apa, Yifan?"
"Aku rasa kau tau jawabannya." Yifan masuk ke dalam kamar meninggalkan Baekhyun yang mematung disana.
.
.
.
.
Pertengkaran tadi siang membuat pasangan suami istri itu saling berdiam diri satu sama lain. Yifan tak keluar-keluar kamar sejak tadi. Baekhyun terpaksa beristirahat di sofa depan TV.
Baekhyun menggeliat, matanya terbuka melihat ruangan yang gelap. Tadi ia tertidur dan ternyata sekarang sudah malam. Ia beranjak dari sofa melirik sebentar ke arah pintu kamar, nampaknya Yifan belum keluar juga.
Dengan gontai wanita itu pergi menuju dapur, tak dipungkiri ia merasa lapar. Ia memutuskan untuk membuat Ramen saja. Tak lama kemudian, ia mendengar suara pintu terbuka dan itu Yifan. Pria itu memakai pakaian rapih seperti ingin pergi ke club malam saja. Baekhyun penasaran mau kemana suaminya malam-malam begini.
"Aku akan pulang malam. Jangan tunggu aku!" Ujar Yifan dingin tak menoleh ke arah Baekhyun sedikitpun.
Baekhyun tak menjawab, matanya hanya mengikuti Yifan yang pergi ke arah pintu utama kemudian menghilang di balik pintu tersebut.
BLAM
Baekhyun mengerjap. Ia merutuki dirinya yang tadi hanya bisa diam saat membiarkan suaminya pergi. Harusnya ia melarangnya, paling tidak menanyakan kemana tujuan suaminya. Ia berhak melakukan semua itu, karena ia adalah istrinya.
Merasa kesal, Baekhyun malah membuang Ramennya. Hilang sudah nafsu makannya. Ia masuk ke dalam kamar, matanya membola saat ia melihat sesuatu yang sangat indah di atas ranjang. Gelang kaki yang tadi ia lihat di toko perhiasan tadi.
DEG
Baekhyun berlari ke arahnya, dan meraih gelang kaki yang masih berada di dalam kotaknya. Wanita itu terharu, bagaimana mungkin Yifan tau kalau Baekhyun menginginkan gelang kaki di toko tadi.
Dibawah kotak tersebut terdapat memo, Baekhyun membuka lipatan kertas itu dan mulai membaca.
"Pakailah. Kau akan sangat cantik dengan gelang kaki itu. Jangan tanyakan bagaimana aku bisa mengetahui kau menyukai gelang kaki tersebut. Kau akan mengetahuinya jika kau benar-benar mengerti apa itu kekuatan cinta."
Baekhyun seperti tertohok saat membaca memo tersebut. Ya, Yifan benar. Ia mencintai Baekhyun maka dengan sendirinya akan ada perasaan Peka yang mengalir begitu saja. Tidak seperti Baekhyun yang lebih memilih untuk tidak mau mengerti kondisi suaminya.
Ia terduduk di pinggir ranjang kemudian menangis sambil menggenggam gelang kaki tersebut. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya. Yifan terlalu baik untuk seorang Baekhyun.
Yifan tidak seperti laki-laki dewasa kebanyakan. Disaat mereka sedang sedih atau kalut, mereka akan berakhir di sebuah club menghabiskan beberapa gelas minuman keras hingga tak sadarkan diri. Lalu dimana pria itu? Yifan kini sedang duduk seorang diri di tepian sungai Han. Sudah satu jam ia tak bergeming. Pakaiannya terlalu bagus hanya untuk sekedar duduk-duduk disana. Terpaksa dia berlaga seolah ia akan pergi ke sebuah club.
Matanya terpejam, memikirkan sesuatu disana. Selama 11 bulan ini, Baekhyun memang menunjukkan perubahannya. Wanita itu bersikap hangat padanya, tapi ada sesuatu yang mengganjal. Yifan tak pernah menemukan cinta dimata istrinya. Bahkan untuk sekedar membalas sebutan sayangnya. Yifan pikir Baekhyun cukup pintar memanipulasi perasaannya sendiri. Sangat miris.
.
.
.
.
Pagi harinya, Baekhyun menyiapkan sarapan sebelum mereka bersiap-siap ke gereja. Yifan saat ini sedang mandi. Semalam ia pulang sangat larut disaat Baekhyun sudah terlelap.
Tak lama kemudian Yifan keluar kamar dengan setelan kemeja putih dan celana bahan abu-abunya. "Kita sarapan dulu." Kata Baekhyun sibuk mengolesi selai cokelat ke roti dan meletakannya di piring Yifan.
Yifan hanya diam, ia duduk di bangku yang telah dipersiapkan Baekhyun. Sejenak Yifan melirik ke arah kaki mulus istrinya, memastikan apakah hadiah pemberiannya benar-benar dipakai atau hanya disimpan di dalam lemari. Yifan bernafas lega karena Baekhyun memakainya, dan itu menambah kadar kecantikan istrinya.
"Terima kasih."
Yifan menoleh ke arah Baekhyun. Wanita itu tersenyum tulus padanya.
"Aku sangat menyukai gelang kakinya. Aku tidak akan pernah melepaskannya." Tambah Baekhyun.
"Oh ituuu.. Ya, sama-sama sayang. Aku senang jika kau menyukainya." Jawab Yifan masih sedikit dingin.
Tiba-tiba Baekhyun duduk di atas pangkuannya. "S-sayanggg...?" Yifan sedikit terkejut apalagi di tambah Baekhyun mengalungkan tangannya di lehernya.
"Maafkan aku yaa. Aku tidak ingin kita bertengkar lagi." Ucap Baekhyun dengan nada manja. Yifan tersipu mendengarnya, Baekhyun sungguh berbeda dari biasanya.
CHU
Bahkan wanita itu mendaratkan ciumannya di atas bibir tebal milik Yifan.
"Heheheh.. Wajahmu memerah. Apa kau sedang tersipu, hem?" Goda Baekhyun. Yifan menunduk malu, kemudian keduanya terkekeh geli.
.
.
.
.
Salah satu sahabat Yifan, Taemin. Mengadakan sebuah pesta pelepasannya sebelum ia menikah. Acara itu diadakan di sebuah klub, hanya saja Taemin menyewa tempat khusus hingga hanya tamu-tamu tertentu yang bisa masuk kesana.
Baekhyun malam itu tampak cantik dan seksi, begitu juga dengan Yifan. Meski kutu buku, pria itu masih memiliki sisi lain yaitu tampan dan bertubuh proporsional.
"Woww suatu kehormatan besar kau bisa datang ke tempat seperti ini, Hyung." Sapa Taemin memeluk Yifan sebentar lalu melepasnya lagi.
"Aku khawatir tamu yang akan datang hanya sedikit kemudian membuatmu bersedih, jadi ku pikir tak ada salahnya jika aku datang kesini untuk menambah-nambah jumlah tamu yang ada." Sahut Yifan.
"Begitu ya.. Lalu siapa wanita cantik yang bersedia datang bersamamu malam ini? Apakah matanya cukup rabun untuk menerima ajakan kutu buku yang hidupnya dihabiskan hanya untuk bercinta dengan komputer?"
Yifan mendelik tajam. Baekhyun terkekeh kecil melihat sahut-sahutan mereka. Ternyata pria seperti Yifan mempunyai sisi lain yang tidak pernah ia ketahui.
"Aku Taemin, sahabat baik dari suamimu. Maafkan aku tidak bisa hadir di pernikahanmu waktu itu, karena aku sedang tugas keluar kota."
"Aku Byun Baekhyun. Hmm tenang saja, itu tidak jadi masalah." Keduanya saling berjabat tangan.
"Yasudah kalau begitu nikmatilah pesta ya."
"Taemin, selamat ulang tahun." Yifan memberi ucapan.
"Terima kasih Hyung."
Suasana disana sangat ramai. Musik yang berdentum kencang dimana para tamu sebagian menari di depan meja Dj dan sebagian lagi sibuk berbincang.
"Aku pesan Jack-D dua gelas." Ucap Baekhyun pada pelayan sambil duduk di salah satu sofa. Sang pelayan mengangguk.
"Jack-D? Kau memesan itu? Hey, sayang aku tidak ingin kau mabuk." Yifan menggeleng, melarang keras.
"T-tapiii.. Sudah lama sekali aku tidak minum. Ku mohon malam ini saja. Bagaimana?" Baekhyun memelas.
"Baiklah, jika kau sampai mabuk. Kau akan mendapat hukumannya." Yifan mengeluarkan seringainya membuat Baekhyun sedikit merinding.
Kedua pasangan itu menikmati pestanya, tanpa sadar Baekhyun telah menghabiskan 3 gelas Jack-D. Wajahnya kini sangat merah dan tak henti-hentinya kecegukan.
"Sayanggg aku mau buang air kecil." Ujar Baekhyun sudah sangat mabuk. Ia meletakkan kepalanya di paha Yifan. Sementara pria itu menyenderkan kepalanya di sofa, mengangkat tinggi-tinggi kepalanya sambil terpejam. Meski hanya minum satu gelas, tapi toleransinya terhadap minuman beralkohol sangat kecil. Alhasil, ia jadi ikut-ikutan mabuk. Wu Yifan lebih menyukai susu hangat di pagi hari.
"Hmm baiklah."
Yifan membantu sang istri untuk berjalan ke arah toilet yang ada di ruangan itu. Mereka meninggalkan keramaian disana.
"Hati-hati sayanggg. Kau sangat mabuk. Sudah ku katakan untuk tidak banyak minum" kata Yifan.
Baekhyun tak peduli karena saat ini kepalanya sangat pusing pandangannya buram. Ia masuk ke dalam Toilet dan menduduki toilet tersebut tanpa menutup pintunya. Sementara Yifan mencolok-colok tenggorokannya supaya muntah.
"Huwekkkssss.."
Setelah keluar semua apa yang ia minum tadi, pria itu membasuh wajahnya agar merasa lebih segar.
"Kau sudah selesai, sayang?" Teriak Yifan.
"..."
Tak ada jawaban.
Yifan menghampiri istrinya dan mendapati sang istri tertidur disana dalam keadaan celana dalam yang masih menyangkut di betis. Yifan terkekeh kecil sesaat sebelum ia berniat untuk membangunkan istrinya.
"Wu Yifannnnn..." Gumam Baekhyun.
"Sayang bangunlah, ayo kita pulang. Kau sudah sangat kacau." Sahut Yifan menarik celana dalam istrinya dan memasukannya ke dalam saku celananya.
Wu Yifan meraih tangan istrinya dan memapahnya berjalan keluar dari toilet. Baekhyun benar-benar mabuk berat.
"Wu Yifannnn..." Lirih Baekhyun lagi.
"Ada apa sayang?"
"Aku mencintai..."
Yifan tersenyum mendengar itu. Meskipun sang istri hanya mengutarakannya melalui racauannya yang tidak jelas. Tapi paling tidak ia sudah mengetahui perasaan istrinya saat ini.
"Iya sayang, ayo kita pulang."
"Aku mencintai Park Chanyeol..."
DEG
Langkah Yifan terhenti.
"Chan... Aku merindukanmu. Ssttthh ahh kepalaku pusing, Chan."
"Aku ingin bertemu denganmu. Aku mencintaimu."
DEG
Yifan mengepal tangannya erat. Matanya memerah menahan rasa panas yang keluar dari dalam dirinya. Saat ini seperti ada jutaan Volt aliran listrik yang menyetrum tubuh laki-laki itu hingga membuat ia kehabisan darah. Sekuat tenaga ia melanjutkan langkahnya dan kembali pulang.
Kini Baekhyun sudah tertidur dengan lelapnya di atas ranjang. Terbalut dengan selimut hangat. Sesampainya dirumah, sang suami langsung menggantikan pakaiannya dengan baju tidur.
Sementara Wu Yifan duduk menyendiri di kursi halaman belakang dengan sebatang rokok yang menyala di sela-sela jarinya. Pikirannya kacau, hatinya sakit. Wu Yifan benar-benar harus melakukan sesuatu.
.
.
.
.
Keesokan harinya..
"Kau sudah memikirkan ingin kemana?" Tanya Yifan.
"Ingin kemana maksudnya?" Baekhyun tidak mengerti.
Yifan tersenyum. "Kau pasti lupa. Minggu depan adalah hari pernikahan kita yang ke satu tahun. Kau ingin kita merayakan dimana? Bagaimana jika kita makan malam saja?"
"Mungkin itu ide yang bagus." Baekhyun meraih tangan suaminya dengan tatapan bersalah. "Maaf, bukan aku melupakan hari pernikahan kita, hanya sajaa.."
"Sssttt.. Tidak apa sayang. Sudah lanjutkan sarapanmu." Jawab Yifan santai.
Baekhyun terus memperhatikan Yifan, ada yang aneh dengan suaminya pagi ini. Sikap Yifan sejak ia bangun tadi sangat dingin, bahkan sang suami seringkali tak menatap matanya saat sedang berbicara.
Ia terus mencoba untuk mengingat apa yang terjadi semalam. Khawatir melakukan kesalahan tanpa sadar sehingga membuat Wu Yifan marah. Sayangnya, wanita itu tidak dapat mengingat apa-apa. Ia benar-benar mengutuk dirinya yang terlalu ceroboh.
.
.
.
.
Hari ini tepat satu tahunnya pernikahan Baekhyun dengan Yifan. Mereka memutuskan untuk makan malam di sebuah restaurant mewah daerah gangnam. Nuansa malam itu sangat romantis. bagaimana tidak, pada saat mereka tiba ada dua pemain biola yang mengiringi mereka dari pintu masuk hingga ke meja. Baru saja duduk, seorang pelayan dengan sigap menuangkan sampanye ke dalam gelas tinggi. Alunan musik disana begitu syahdu, tidak banyak pengunjung yang duduk disana karena itu adalah ruangan VIP. Wu Yifan mempersiapkannya dengan sangat baik dan sungguh diluar dugaan Baekhyun.
"Kau bahagia?" Tanya Yifan meraih gelas berisi sampanye tersebut mengajak Baekhyun untuk bersulang.
"Jadi ini sisi lain dari seorang Wu Yifan yang tidak pernah ku ketahui?" Sindir Baekhyun. Senyumnya begitu lebar karena wanita itu sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan keindahan.
CLING
Kedua gelas itu saling mengenai satu sama lain. Mereka bersulang.
"Terima kasih Wu Yifan." Ujar Baekhyun. Kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecilnya.
"Apa ini?" Tanya Yifan meraih kotak panjang tersebut.
"Buka saja." Titah Baekhyun.
Perlahan Yifan membuka kotak tersebut dan ternyata isinya adalah sebuah jam tangan yang sangat cocok untuk Yifan.
"Kemarikan tanganmu."
Baekhyun membuka jam tangan yang sedang dipakai suaminya kemudian menggantinya dengan Jam tangun yang baru. Ia tersenyum simpul melihat hadiah yang ia berikan ternyata tidak salah.
"Kenapa kau memberikanku jam tangan? Padahal aku tidak menginginkan apa-apa." Ucap Yifan.
"Kau sering pulang terlambat. Sengaja aku berikan ini, jika kau sedang dikantor maka kau akan ingat waktu dan juga aku tentunya." Baekhyun mengerucutkan bibir tipisnya.
"Hehehehe.. Kau bisa saja."
"Lalu mana hadiah untukku?"
Kekehan Yifan terhenti saat sang istri menagih sebuah hadiah padanya. Ia berdeham sebentar kemudian membenarkan posisi duduknya.
"Kita pesan makanan saja dulu. Setelah ini, aku akan memberikan hadiahnya."
"Apa? Kenapa tidak sekarang saja?" Rengek Baekhyun.
"Tidak boleh. Kita harus makan dulu. Aku sudah sangat lapar, sayang." Tegas Yifan mau tidak mau Baekhyun menurut.
Mereka menikmati makan malamnya. Baekhyun memesan beef steak dengan tambahan mashed pottato sementara Wu Yifan memesan menu lobster. Dua menu yang sangat lezat, karena keduanya termasuk dalam daftar menu yang di rekomendasi.
Baekhyun sudah tidak sabar kira-kira hadiah apa yang akan diberikan oleh suaminya. Ia mempercepat makannya. Tidak mau berlama-lama mengunyah makanan yang masuk kedalam mulutnya. Yifan memperhatikan Baekhyun sejak tadi hanya menggeleng tak percaya. Berbeda dengan istrinya, justru Yifan sengaja melambatkan makannya. Ia tidak ingin semua cepat-cepat selesai. Kali ini ia akan membiarkan sang istri menunggunya sedikit lebih lama.
"Pesan saja dessert sayang." Ujar Yifan di sela-sela makannya. Sudah 2 menit yang lalu Baekhyun selesai.
"Malam ini kau lama sekali menghabiskan makananmu? Biasanya kau yang lebih dulu daripada aku?" Tanya Baekhyun.
"Ini terlalu lezat untuk cepat-cepat ku habiskan, sayang."
"Ppffftttt... Baiklah. Aku akan bersabar."
Baekhyun memainkan garpu dengan malas menunggu Wu Yifan yang sebentar lagi selesai.
"Aku selesai."
Muncul senyum bahagia di wajah Baekhyun. Akhirnya setelah 10 menit, Wu Yifan berhasil menghabiskan makanannya. Seorang pelayan mengangkat kedua piring di atas meja mereka dan tak lama dua porsi es krim datang.
"Kau memesan es krim?" Tanya Baekhyun.
"Tidak. Tapi mungkin ini hadiah dari mereka untuk kita. Sudah nikmati saja."
Baekhyun sedikit kesal, karena penantiannya masih harus diperpanjang. Hanya memakan dua sendok, wanita itu akhirnya menyudahinya. Ia menggeser gelas berisi es krim tersebut ke samping.
"Aku sudah tidak sabar lagi. Baiklah, mana hadiahku." Baekhyun menjulurkan tangannya ke arah Yifan untuk menagih hadiah.
Yifan terdiam menatap tangan itu. Tapi kemudian ia mengelap mulutnya dengan kain serbet dan menggeser piringnya juga.
"Baiklah. Sebelum aku memberikannya padamu, ada yang ingin aku tanyakan."
"Apa?"
"Apa yang kau inginkan dariku?"
"Sebuah hadiah yang indah tentunya." Baekhyun nampak berpikir.
"Begitukah? Dengar sayang, aku akan memberikan sesuatu padamu. Sesuatu yang kau inginkan. Dan malam ini aku akan mengabulkannya untukmu."
Perkataan Yifan membuat Baekhyun bertanya-tanya. Apalagi jika melihat ekspresi wajahnya yang sangat serius.
Pria itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku yang ada dibalik jas hitamnya. Sebuah amplop cokelat berukuran sedang. Baekhyun terus melihat ke arah amplop tersebut hingga amplop itu berhasil diletakkan di atas meja.
Wu Yifan mendorong amplop tersebut hingga mendekati Baekhyun. Kemudian ia tertunduk dengan wajah yang sendu.
"Sekarang kau boleh membukanya,sayang." Titah Yifan dengan nada sangat pelan.
"Apa ini?" Tanya Baekhyun dengan perasaan gelisah.
"Buka saja maka kau akan mengetahuinya."
Baekhyun meraih amplopnya dan membukanya dengan cepat. Mata sipitnya terbelalak saat ia melihat sebuah kertas putih didalam sana yang bertuliskan bahwa itu adalah SURAT CERAI.
TiaraCrystal
*Flashback On
Wu Yifan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat itu ia sedang istirahat makan siang. Dan ia membuat janji dengan Ny. Byun untuk bertemu di rumah sang mertua.
Sesampainya disana, ia disambut oleh Ny. Byun yang sedang makan siang di kediamannya. Wu Yifan adalah menantu satu-satunya dan juga tersayang, mengingat bagaimana ia mati-matian mencoba untuk menyatukan anaknya dengan pria itu karena hanya Wu Yifan pria yang pantas untuk putrinya.
"Duduklah, kau pasti belum makan, kan?" Ujar Ny. Byun
"Terima kasih bu, aku sudah makan tadi. Kalau begitu aku akan menunggumu di ruang tengah." Ny. Byun mengangguk dan pria itu berlalu.
10 menit kemudian, Ny. Byun datang menemui Yifan yang tengah duduk di sofa dengan gerak-gerik gelisah. Ia sudah bisa menebak sesuatu telah terjadi dengan rumah tangga anaknya.
"Apa yang ingin kau bicarakan,nak?"
"Bu.. Aku ingin bercerai dengan putrimu."
"APA?" Ny. Byun terkejut.
Setelah Wu Yifan menjelaskan semuanya pada Ny. Byun, akhirnya wanita itu sedikit banyak bisa mengerti bagaimana perasaan menantunya. Ny. Byun akui rasa sayangnya terhadap Wu Yifan sudah seperti pada anaknya sendiri. Itulah yang membuat wanita itu ikut merasakan kesedihan yang menimpa menantunya. Tapi dilain sisi ia juga menyadari ternyata selama ini putrinya juga ikut tersiksa akibat keegoisannya. Dan ini semua adalah akibat dari paksaan yang ia ciptakan. Harusnya Ny. Byun sadar sejak awalnya putrinya tak pernah mencintai Wu Yifan, dan itu hanya akan menghancurkan keduanya.
"Baiklah nak jika itu adalah jalan terbaik untuk kalian. Aku akan mengizinkannya. Tapi satu permintaanku, jangan pernah membenci keluarga kami. Hixs.. Hixs.." Ny. Byun menangis disamping menantunya.
"Aku dan Baekhyun hanya mengakhiri status pernikahan kami. Tapi aku akan tetap menyayangi kalian sebagai keluargaku. Jangan cemaskan hal itu, bu." Sahut Yifan mencium punggung tangan mertuanya.
*Flashback End.
.
.
.
.
Baekhyun membereskan semua barang-barangnya. Setelah sidang perceraiannya tadi siang dimana sang hakim memutuskan bahwa mereka telah resmi bercerai kini Baekhyun harus meninggalkan rumah yang pernah ia tempati selama satu tahun. Baekhyun tak menuntut harta gono-gini pada Yifan meskipun pria yang sekarang menyandang status sebagai mantan suaminya itu sangat ingin memberikannya.
"Apakah harus sekarang ini juga kau pergi? Penerbanganmu masih 4 jam lagi, Baek" Tanya Yifan bersedekap diambang pintu.
"Ya, semakin cepat semakin baikkan?" Sahut Baekhyun sambil mengemasi pakaiannya. Suaranya parau seperti habis menangis.
Yifan mengangguk kemudian meninggalkan Baekhyun sendiri dikamar. Pria itu memutuskan untuk duduk di sofa, ia mengedarkan pandangannya dan mulai membayangkan hari-hari selanjutnya tanpa Baekhyun lagi. Ia akan merindukan wanita itu. Sangat.
Baekhyun tidak pulang ke rumah orang tuanya. Tapi ia akan langsung ke bandara, karena masa cutinya yang sudah habis. Ya, Baekhyun tak pernah menyangka bahwa ia akan kembali ke Seattle dalam keadaan seperti ini.
Tak lama terdengar Baekhyun keluar dari kamar dengan koper dibelakangnya. Ia melintasi ruang tengah tempat Yifan berada.
"Kau sudah selesai?" Tanya Yifan sekali lagi. Hatinya saat ini begitu sedih, rasanya ia ingin sekali menahan kepergian wanita itu dan mengatakan berkali-kali bahwa ia sangat mencintainya. Tapi ia sadar itu bukanlah hal yang tepat, karena keputusannya menceraikan Baekhyun atas dasar ia tidak ingin mengikat wanita itu dan membuatnya tersiksa. Wu Yifan tidak ingin menyakiti Baekhyun.
"Aku pergi dulu, jaga dirimu baik-baik." Sahut Baekhyun melanjutkan langkahnya. Yifan hanya meratapi kepergian sang mantan istri yang semakin berlalu. Setelah sosok wanita yang ia cintai menghilang dari pandangannya, Yifan terjatuh ke lantai dan menangis sejadi-jadinya disana.
"Selamat tinggal, Byun Baekhyun." Lirih Yifan.
Baekhyun menitikkan air matanya di dalam taxi. Ia kecewa pada Yifan yang dengan mudah melepaskannya begitu saja dengan alasan yang tidak masuk akal, yaitu Baekhyun tidak ingin memberinya seorang anak. Ya, Wu Yifan berbohong, ia mengatasnamakan masalah anak pada kasus perceraiannya itu. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah Byun Baekhyun tidak memberikan Hatinya. Menyandang status Janda adalah sesuatu yang sulit. Pandangan-pandangan miring orang terhadap wanita muda yang sudah menjadi Janda itu akan ia rasakan ke depannya.
Baekhyun menghela nafas panjang dan berdoa dalam hati agar Tuhan memberinya kekuatan untuk menjalani hidupnya. Dan sekarang tak ada gunanya untuk menoleh ke belakang. ia harus tetap melanjutkan langkahnya, yaitu kembali ke Seattle dan menyelesaikan sekolahnya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
Hai Baekkie, selamat menyandang status baru, Janda.
Gpp jadi janda kan masih ada si Duren CY. Jadi cocoklah Janda sama duda. Biar sama-sama lebih pengalaman. Hhe
Di Chapt selanjutnya, aku bakal temuin CY sama Baekkie dan bakal bikin Sesi pengejaran CY part 2. Ditunggu ya ya ya :)
TiaraCrystal
Phantom.d'esprit : Done.
Park RinHyun-uchiha : Baekhyun udah berada di ambang putus asa dan patah hati. Dia pikir dengan nikah sama Yifan mungkin bisa lupain CY, ternyata salah.
Sehunhanz94 : iya cuma buat kasih sedikit pencerahan sama si Baekkie, tapi nyatanya CY matahin hati dia lagi untuk yang kesekian kali. Jadi... Say goodbye PCY.
ChanBMine : hehehe iya maaf Typo tapi langsung aku benerin kok sayang. Kamu jeli juga yaa ternyata, makasih udh di kasih tau. Iya pasti akan aku buat Chanyeol usaha buat dapetin Baekkie, sesuai dengan konsep cerita. :))
SyiSehun : kamu lemes apalagi akuuu dek. Sebenarnya gak rela misahin CY sama Baekkie, tapi apa boleh buat? Tuhan belum izinin mereka buat bersatu dulu.
RiFiY: dia enggak gila. Hanya kena gangguan Delusional. Orang awam memang taunya dia Gila, padahal tahapnya belum smp kesitu kok. Yah, jangan mati gak seru kalau dia mati. Hhe
Cybh614 : gak bisaaaaa T_T karena itu udah takdir Tuhan. Tapi tenang aja, di Chapt selanjutnya Baekkie bakal ketemu sm CY lagi kok.
Ai : Dan ternyataaa Baekkie beneran datang. Tuhan berkata lain, bahkan mereka nikah. Tapi udah cerai lagi. Hixs hixs
L : makasih sarannya. Aku bakal berusaha untuk mulai kurang-kurangin kok. :)) iyaa ribet bangetttt aduhhh..
Tamimei : maaf ya author labil nih. Banyak yang pengen cerita ini dipanjangin. :D
Guest : Alhamdulillah kalau kamu seneng ya. Ok, makin semangat nih nyiksa CY kalau gitu. Xixixixi..
Daebaektaeluv : iya iya semua salah. Tapi tetep ini Baekkie bakalan sm CY kok. Asal sabar ya nungguinnya. Hihihi...
Guest : yahhh Baekkie tapi tetep dateng. Bahkan smp nikah.. :( maaf yaa..
Rama park : yaampun, jangan sedih yaa. Di Chapt depan aku bakalan bikin Baekkie ketemu sm CY ya. Okay, kalau perlu aku buat Baekkie hamil kembar? Gimana? :D
Keenz : ternyata Baekhyun harus nikah dulu sama Yifan baru bisa ketemu sm CY lagi. :D
Chanbaekhunlove : Done :)
Guest : bisaaaa dong. Kyungsoo mau kasih pencerahan buat Baekkie biar gak salah pilih. Makasih udah ngefeel sm fanfic ini :)
Guest : yahh kok males?
Yeolangghraeni : iya iyaa CY bakal nikah sama Baekkie, tapi nanti di akhir yaa. Pantengin aja. :)
Rly : enggak kok. Itu beneran Kyungsoo yang dateng. Pake baju serba putih duduk di ayunan. Aku bayanginnya kaya suzzana deh. Asli hihhh O_O
Diana : enggak kok. Dia sehat walafiat :))
Jinyoungie98 : iya hukum karma berlaku yaa.
Whey.K : kamu kecewa gak sama Chapt ini, btw?
Galaxy aquarius : Done :)
Ekayoon : Semuanya butuh proses. Kita liat di Chapt selanjutnya seberapa usaha CY buat dapetin Baekkie lagi. Ok? Stay tune yaa dek ;)
FufuXoXo : iyaa diusahakan untuk enggak melenceng kok. Cuma ini mau bikin lebih detail aja perjalanan hidup CY sama Baekkie, apa aja yang mereka alamin sebelum mereka bersama pada akhirnya.
Ssuhisnet : Thank u :))
Choi96 : Baekkie sempet pengen baikan sama CY, tapi CY malah gak nemuin Baekkie, yaudah Baekkie kesel. Di tinggalin deh tuh si CY. Tapi mereka akan happy ending kok. Pantengin terus ya.
.
.
.
.
Ok, terima kasih yang udah ngerivew Chapt ini. Kalau ada yang kecewa mohon dimaafkan. Aku berharap kalian bisa baca dengan teliti kalimat pembuka di atas supaya enggak kebawa emosi atas keputusan Baekhyun di Chapt. Ini.
.
.
.
.
Review please?
.
.
.
.
Gomawo :*
