Baekhyun berhasil menapakan kakinya kembali di Seattle. Kota yang dikenal dengan hujannya dan kopinya. Kota yang ia tinggalkan setahun lalu. Saat ini masih awal tahun dimana kota Seattle masih tertutup oleh salju. Ia menghirup udara dalam-dalam menikmati setiap udara yang masuk dimana ada terpaan angin beku yang membuat kerinduan akan kota ini membuncah. Tak banyak yang berubah dari kota tersebut, hanya Usia yang bertambah, yang hidup menjadi mati bahkan mereka yang dulunya menikah mungkin sekarang sudah bercerai, - Seperti dirinya.
Mengingat soal statusnya yang kini menjadi seorang janda. Rasanya Baekhyun sedikit miris, ia tidak tau apa yang akan dikatakan oleh teman-temannya di kampus nanti mengenai pernikahannya yang hanya seumur jagung. Tapi saat ini yang terlintas dipikiran Baekhyun adalah saat ia menemui mereka ia hanya perlu tersenyum dan mengatakan bahwa semua adalah yang terbaik. Itu saja.
"Welcome Homeeee.." Si tubuh mungil itu mendarat di atas ranjang yang masih tertutup oleh kain putih. Ia membiarkan koper-kopernya di sembarang tempat karena saat ini ia ingin melepas rindu dengan ruangan kecil itu.
Tak ada waktu bermalas-malasan karena besok ia sudah harus pergi ke kampusnya untuk mengurus pendaftaran ulang. "SEMANGAT BAEK!" Serunya. Dimalam itu juga akhirnya ia merapihkan ruangannya tanpa terkecuali dan berakhir dengan tidur yang sangat lelap.
.
.
Pagi ini Baekhyun terpaksa sedikit berlari menuju halte bus. Ya, wanita itu bangun kesiangan karena semalam ia lupa menyalakan alarmnya. Hari ini ada beberapa destinasi yang harus ia datangi, ia memutuskan untuk mengurus kuliahnya terlebih dahulu setelah itu melanjutkan urusannya yang lain.
Sudah 15 menit ia menunggu bus. Hampir semua bus yang menuju ke kampusnya itu penuh. Baekhyun semakin jengkel saja. Tanpa ia sadari sejak tadi ada seseorang yang melihat kegiatannya disana. Siapa dia? Kim Jongdae. Sahabat sekaligus Barista di Kedai Chanyeol.
Jongdae menghampiri Baekhyun dengan perasaan antara percaya dan tidak percaya. "Baekhyun ada disini?" Batinnya.
Pria itu sampai di belakang Baekhyun, ia berdeham membuat wanita itu menoleh ke belakang. Mata sipit Baekhyun sedikit terbuka lebih besar kala melihat sosok pria yang ada di belakangnya.
"Oppa!" Pekik Baekhyun.
"Baekhyun, k-kau disini? Sejak kapan?"
"Tadi malam. Bagaimana kabarmu?"
"Aku sangat-sangat baik. Oh ya Baek.."
Belum selesai Jongdae berbicara tiba-tiba bus yang akan mengangkut Baekhyun datang.
"M-maaf Oppa aku harus segera pergi, karena bus ku sudah datang." Jongdae mengangguk dan membiarkan Baekhyun pergi. Terlihat sangat jelas bahwa wanita itu pergi dengan tergesa-gesa seperti ada sesuatu yang harus ia tutupi. Sementara didalam bus, Baekhyun merasakan kelegaan yang luar biasa. Dia khawatir Jongdae akan menanyakan keadaan dirinya terutama soal rumah tangganya.
.
.
"Kau yakin?" Ny. Do memastikan.
"Tentu nyonya, aku yakin karena aku mengobrol sebentar dengannya." Jawab Jongdae berdiri di samping kursi Ny. Do. Kim Jongdae saat ini sedang berada di Kedai bersama Ny. Do.
"Haruskah kita memberitahu ini pada Chanyeol?" Tanya Jongdae.
"Bukankah membicarakan wanita itu hanya akan membuka luka lama menantuku?" Sergah Ny. Do.
"..." Jongdae hanya diam, menelaah setiap perkataan yang keluar dari mulut Ny. Do.
"Lagipula Baekhyun sudah menikah, untuk apa lagi memberitahu Chanyeol soal keberadaan wanita itu. Biarkan menantuku menjalani hidupnya seperti sekarang, ia sudah cukup bahagia."
"Hmm kau benar nyonya. Baiklah, aku permisi ke dapur dulu karena Kedai sebentar lagi akan di buka." Jongdae memutuskan untuk pergi dari sana, karena ia bisa melihat kegusaran pada Ny. Do , ya Jongdae memaklumi itu.
Ny. Do menatap gelas berisikan teh hijau itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
TiaraCrystal
Hari sudah berganti malam, tidak seperti musim sebelumnya Kedai 'ChanSoo' akan tutup sampai pukul 9 malam saja. Chanyeol tinggal sendiri disana karena ia masih harus menyelesaikan pekerjaannya. Sebagian lampu kedai sudah padam, namun televisi disana sengaja ia nyalakan untuk memantau berita soal cuaca.
"Cuaca malam ini akan diperkirakan datang badai salju. Untuk para penduduk di haruskan berhati-hati..."
Begitulah yang terdengar oleh telinga besar itu. Meskipun pikirannya fokus pada pekerjaannya tapi telinganya masih dapat mendengar pembaca berita itu membacakan beritanya dengan jelas.
Sementara di tempat lain yang tak jauh dari kedai 'ChanSoo' ada Baekhyun yang sedang berjalan sedikit lebih cepat sambil memeluk dirinya sendiri karena kedinginan. Baekhyun hanya berlindung dibalik mantel tebalnya. Sepulang dari kuliah, teman-temannya mengajak wanita itu untuk minum kopi sebentar. Mereka berpisah hingga menyisakan Baekhyun seorang diri, tujuannya saat ini ke Halte bus.
"Ya Tuhan, anginnya kencang sekali." Gumam Baekhyun mempercepat langkahnya.
Jalanan malam ini sudah sepi, bahkan ia sangat sulit menemukan Taxi karena sebagian jalan sudah tertimbun oleh salju. Saat pikirannya sedang berpikir keras bagaimana cara ia bisa pulang ke flatnya, tiba-tiba ia tersadar bahwa saat ini ia sedang berada di dekat Kedai milik Chanyeol, benar saja hanya melihat ke arah jarum jam 1 ia sudah bisa melihat kedai tersebut.
Baekhyun ragu-ragu untuk melintasi kedai 'ChanSoo' karena khawatir akan bertemu dengan orang-orang disana terutama Chanyeol. Mengingat nama duda tampan itu mendadak hati Baekhyun berdebar. Baekhyun tidak ingin bertemu dengan pria itu. Baekhyun malu jika Chanyeol mengetahui kenyataan yang ada pada dirinya saat ini. Sejak Baekhyun resmi menjadi seorang janda dan memutuskan untuk kembali ke Seattle, ia berjanji pada dirinya sendiri untuk berdamai dengan masalalunya, apapun itu. Park Chanyeol hanyalah masalalu, jika Tuhan menakdirkan mereka untuk bertemu lagi, maka Baekhyun akan bersikap sebiasa mungkin.
Tujuan Baekhyun kali ini adalah fokus pada kuliahnya. Ia mengesampingkan masalah asmara. Kegagalannya bersama Wu Yifan membuat wanita itu lebih berhati-hati. Bukan karena Wu Yifan menceraikannya secara tiba-tiba lalu ia menjadi trauma dengan sosok laki-laki, tapi karena Baekhyun yang menyadari bahwa pernikahan bukan atas dasar cinta adalah kesalahan. Hidup sendiri dan menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin adalah hal yang terbaik untuknya saat ini. Setelah menata dirinya menjadi lebih baik baru ia akan mencari seseorang yang tepat, yang tentunya juga ia cintai. Seperti ia mencintai seorang Park Chanyeol. Berbicara soal pria itu, Baekhyun yakin Chanyeol pasti sudah mempunyai kehidupan baru yang lebih baik. Dan ia berharap pria itu sudah sembuh dari penyakitnya.
Baekhyun memutuskan untuk memutar jalan saja siapa tau di ujung jalan sana ada Taxi atau bus yang lewat. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti karena melihat sosok tinggi di ujung sana sedang membawa sesuatu di tangannya. Ternyata itu Park Chanyeol yang baru saja dari toko donat. Keduanya mematung dengan mata yang sedikit membesar. Saling tak percaya satu sama lain dengan apa yang mereka lihat saat ini. Tuhan baru saja mendengar suara hati Baekhyun.
"P-park Chanyeol..."
"B-byun Baekhyun..."
Panggil keduanya secara bersamaan.
Baekhyun diam di tempat sementara Chanyeol melangkahkan kakinya ke arah wanita itu, meski pelan tapi pasti. Semakin dekat jantung keduanya semakin berdebar cepat hingga mungkin saja bisa terdengar. Baekhyun reflek tertunduk ia meremas dada bagian kirinya karena tak kuasa menahan debaran itu.
"Hi Baek..."
NYESSSS
Seketika Baekhyun merasa lemas, ia mencoba menahannya sekuat tenaga. Jika tidak, bisa dipastikan wanita itu akan terjatuh. Jatuh ke pelukan Chanyeol.
"Bagaimana kabarmu?" Tambah Chanyeol.
Baekhyun sedikit menaikan kepalanya, pandangannya hanya sampai pada bibir pria itu, karena ia masih tak berani menatap mata besar milik Chanyeol. "Aku baik. Kau sendiri?"
"Sama sepertimu. Aku baik."
SWINGGG... SWINGGGG...
Angin berhembus semakin kencang. Atap-atap sedikit terangkat dan sampah-sampah yang ada dijalanan mulai berterbangan. Sepertinya badai mulai datang. Keduanya mulai panik.
GREP
Baekhyun sedikit terperangah saat ia melihat Chanyeol menarik tangannya. "Kau sudah dengar berita? Malam ini akan datang Badai. Lebih baik kita ke kedai ku saja." Ujar Chanyeol. Baekhyun hanya terpaku dan tubuhnya menuruti kemanapun pria itu membawanya.
"Astaga! Apa yang terjadi padaku? Kenapa debaran ini masih sama seperti dulu?" Batin Baekhyun disela-sela perjalanannya menuju kedai.
Sampailah mereka di Kedai. Chanyeol menutup pintu kedainya. Sedangkan Baekhyun duduk di salah satu kursi, ia mengedarkan pandangannya melihat perubahan-perubahan yang ada disana.
"Kau mengubah dekorasinya?" Tanya Baekhyun sambil menghempaskan kepingan salju yang menempel di mantelnya.
"Hmm ya. Setiap setahun sekali aku wajib menggantinya, agar pengunjung tidak bosan." Sahut Chanyeol berjalan ke arah dapur. Tak lama ia keluar lagi dengan membawakan beberapa potong donat, 1 loyang pizza dan dua cangkir kopi panas.
"Makanmu banyak sekali?"
"Aku sedang tidak diet. Kenapa? Apa kau sedang diet?" Tanya Chanyeol balik dan Baekhyun menggeleng dengan cepat.
"Aku tak percaya kau kembali." Chanyeol duduk di depan Baekhyun, kini mereka saling berhadapan. "Apa kau kesini bersama.. Suamimu?"
DEG
Baekhyun salah tingkah, ia meraih cangkir kopinya dan juga donat. Bahkan wanita itu melahapnya dengan cepat membuat Chanyeol sedikit tercengang.
"Kau lapar?" Tanya Chanyeol.
"Ya, engghh.. Donat ini enak sekali. Kau beli dimana?"
Chanyeol menyodorkan piring berisi donat itu ke arah Baekhyun, dan lagi-lagi wanita itu mengambilnya hingga mulut kecilnya terisi penuh.
"Uhukkkk..." Baekhyun tersedak dan Chanyeol panik.
"Astaga Baek!" Chanyeol berlari mengambil air putih untuk Baekhyun.
"Hati-hati Baek, kau terlalu terburu-buru memakan donat-donat itu."
Baekhyun menghabiskan air putihnya sambil memukul pelan dadanya agar rasa sakit itu hilang.
TiaraCrystal
Badai salju sudah berhenti. Keadaan diluar sudah tenang kembali. Saat ini sudah pukul 3 pagi. Namun dua insan yang ada didalam kedai itu masih saja saling berdiam diri, menyibukkan diri dengan kegiatan masing-masing. Chanyeol memilih untuk menonton tv duduk di kursi lain yang lebih dekat dengan posisi Tv tersebut, sedangkan Baekhyun mengerjakan tugas kuliahnya. Ia terpaksa mengerjakan disana, karena besok pagi tugas itu harus ia presentasikan di depan kelas.
Setelah kejadian tadi, Baekhyun sengaja untuk mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya dengan cara mengerjakan tugasnya. Chanyeol memakluminya, mungkin membicarakan soal rumah tangga dengannya adalah hal yang canggung.
"Chan..." Panggil Baekhyun disela-sela kesibukannya.
"Hmm..."
"Bagaimana kabar anak-anak dan Ny. Do?"
"Mereka baik." Chanyeol tersenyum.
"Aku merindukan anak-anak."
"Kau ingin bertemu dengan mereka?"
"Boleh jika kau mengizinkannya."
"Tentu saja aku akan mengizinkannya, aku tak sabar untuk menceritakan pada anak-anak bahwa Baekhyun-mereka telah kembali." Chanyeol tak bisa menutupi keantusiasannya.
"..."
"Tapi Baek, apa suamimu akan mengizinkan jika kau datang menemui anak-anak?"
"..."
"Baek..." Chanyeol menoleh ke arah Baekhyun ternyata wanita itu meletakkan kepalanya di atas meja. Laptopnya ia biarkan menyala.
Pria itu segera menghampiri Baekhyun. Ia melihat ternyata si mungil itu tertidur dengan mulut yang sedikit menganga. Sebuah senyuman reflek terlukis di bibir Chanyeol, ia tak percaya malam ini akan melihat pemandangan seindah itu.
Chanyeol menatap lama wajah itu. Sudah setahun lamanya mereka tidak bertemu hanya satu perubahan yang terjadi pada gadis bermata sipit itu, yaitu bertambah cantik.
Chanyeol sangat merindukan Baekhyun. Ingin sekali ia menyentuh wanita yang ada bersamanya saat ini. Tapi Chanyeol sadar bahwa Baekhyun sudah bersuami dan ia tidak akan menyentuh milik orang lain. Memandangnya seperti ini saja sudah cukup baginya. Jadi terpaksa ia urungkan niatannya.
Tak tega membangunkan Baekhyun, Chanyeol membuka flanel yang sedang ia kenakan kemudian ia berikan pada Baekhyun agar tubuh wanita itu semakin hangat.
"Jaljayo Baek." Gumam Chanyeol.
TiaraCrystal
KRINGG... KRINGG...
Suara alarm berbunyi cukup memekik telinga Chanyeol. Ia terbangun dari tidurnya. Pria itu beranjak dari sofa dan menoleh ke arah Baekhyun dan ternyata wanita itu masih setia dengan posisinya.
Sebelum membangunkan Baekhyun, pria itu membuatkan secangkir kopi. Setelah itu ia pergi ke tempat dimana Baekhyun masih memejamkan matanya.
Chanyeol ingin menyentuh Baekhyun dengan ujung jarinya, tapi begitu ia melihat wajah cantiknya rasanya terlalu sayang jika harus pemandangan itu segera berakhir. Ia memutuskan untuk duduk di samping Baekhyun dan meletakkan kepalanya juga di atas meja menghadap wanita itu.
Ia menatapnya. Benar-benar menatapnya. Sesekali Baekhyun bergerak gelisah karena merasa silau akibat sinar matahari yang mulai masuk ke dalam ruangan. Chanyeol merasa gemas dengan ekspresi Baekhyun yang seperti itu. Ia menggerakan tangannya di depan persis wajah Baekhyun. Wanita itu tak memberi respon pertanda ia benar-benar masih dalam keadaan nyenyak.
Drrrtttt... Drrrtttt...
Ponsel Baekhyun bergetar persis di samping laptopnya. Mata kecil itu tiba-tiba terbuka, ia terkejut setengah mati saat melihat Chanyeol yang tengah menatapnya dengan tatapan berbinar.
"Astaga Chan. Apa yang kau lakukan?" Sontak Baekhyun mengangkat kepalanya. Chanyeol yang merasa di pergoki pun menjadi salah tingkah, ia menggaruk canggung kepalanya.
"A-aku hanyaaa..." Pipinya memerah karena malu.
Baekhyun tak menghiraukan jawaban Chanyeol yang menggantung itu. Ia meraih ponselnya dan ternyata itu adalah alarm yang berbunyi. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi, dan Baekhyun harus segera bersiap untuk ke kampus.
"Chan, bolehkah aku meminjam toiletmu?" Tanya Baekhyun.
"Tentu. Silahkan."
Baekhyun cepat-cepat pergi menuju toilet meninggalkan Chanyeol yang mati kutu karena aksinya telah di ketahui oleh wanita itu.
BLAM
Baekhyun menyenderkan tubuhnya di pintu. Hatinya berdebar kencang bahkan tangannya saat ini gemetaran. Ia tidak bisa mengontrol debarannya saat ini. Terbangun dari tidur dan melihat wajah Park Chanyeol sedang menatapnya adalah hal yang tak bisa diungkapkan oleh kata-kata menurut Baekhyun.
BLUSH
Ia tersipu mengingatnya. Bagaimana mungkin Chanyeol bisa menempatkan wajahnya sedekat itu tadi. Baekhyun benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi.
Setelah selesai mandi, Baekhyun izin pamit pada Chanyeol karena ia harus berangkat ke kampusnya.
"Chan aku pergi dulu. Terima kasih." Ujarnya.
"Hati-hati dijalan."
Keduanya membungkuk memberi salam. Sial! Keduanya bahkan saling salah tingkah. Mereka baru saja melakukan hal yang menurut mereka itu memalukan. Mereka terlalu bersikap formal.
Setelah kepergian Baekhyun satu hal yang disesali oleh Chanyeol, yaitu ia lupa meminta nomor telepon Baekhyun. Chanyeol yakin wanita itu pasti sudah mengganti nomornya dan ia tidak mungkin datang ke flat Baekhyun karena pasti disana ada Wu Yifan, pikirnya.
TiaraCrystal
"Jadi ibu sudah mengetahuinya? Kenapa ibu tidak memberitahuku?" Ujar Chanyeol bersedekap dan menyenderkan tubuhnya di meja.
"Ibu juga baru mengetahuinya dari Kim Jongdae. Ia tak sengaja bertemu dengan Ny. Byun di halte waktu itu." Sahut Ny. Do sambil berkutat dengan alat-alat masaknya di dapur.
"Tapi kenapa ibu tidak langsung memberitahuku?"
Ny. Do menghentikan kegiatannya. "Apa itu masih penting untukmu? Wanita itu sudah bersuami, Chan. Kau harus ingat itu."
Chanyeol mendengus, "aku sadar akan hal itu. Tapi apa salahnya jika aku tau tentangnya."
"Itu jelas salah, karena Ny. Byun sudah bukan wanita lajang lagi. Jadi untuk apa kau masih ingin mengetahui tentangnya?" Ny. Do membalikkan tubuhnya.
"..."
"Chan, ingat kesehatanmu. Ibu tidak ingin kau sakit lagi. Kau sudah cukup bahagia bukan dengan kehidupanmu yang sekarang. Jangan bermain api dengan milik orang lain. Nanti kau yang akan terbakar."
DEG
"Ku rasa ibu terlalu berlebihan. Aku hanya berusaha untuk berdamai dengan masalaluku, bu. Bahkan semalam kami bisa melewatinya dengan baik-baik saja."
"Kau sungguh keras kepala,Chan."
"Bahkan Baekhyun ingin bertemu dengan anak-anak. Apakah itu.."
"Tidak!" Potong Ny. Do dengan tegas.
"Apa maksudmu,bu?"
"Aku tidak akan mengizinkan kau membawa anak-anak untuk menemui wanita itu?"
Chanyeol memutar matanya malas, "Bu ayolah, jangan kembali seperti dulu. Kau kan tau Baekhyun sangat menyukai anak-anak. Ia sangat merindukan mereka, dan aku yakin mereka juga merasakan hal yang sama."
"Terserah apa katamu, Chan. Yang jelas aku tidak akan mengizinkan. Ibu tidak ingin anak-anak terlibat oleh masalahmu dan juga wanita yang sudah bersuami itu."
DEG
"Aku ayah mereka. Aku berhak atas mereka bu."
"Tapi ibu yang merawatnya! Kalau kau memang masih mencintai wanita itu, terserah padamu. Tapi jangan melibatkan anak-anak sebagai senjatamu agar kau bisa tetap bersama dengan wanita itu."
Chanyeol sedikit tersentak mendengar pernyataan ibu mertunya. Ia memutuskan untuk pergi meninggalkan ruangan itu dan masuk ke dalam kamar.
Ny. Do merasa apa yang kali ini ia lakukan adalah benar. Ia sadar bahwa sang menantu sangat keras kepala, ia khawatir jika nanti terjadi sesuatu. Baekhyun sudah bersuami, Ny. Do tidak ingin menantunya menjadi perusak hubungan rumah tangga orang. Apalagi jika harus melibatkan cucu-cucunya ke dalam permasalahan ini.
Chanyeol memang sudah dinyatakan sembuh setelah berbulan-bulan lamanya ia rajin melakukan perawatan dan juga mendapat dukungan-dukungan dari orang terdekatnya. Akhirnya ia bisa terlepas dari gangguan Delusional tersebut. Setelah sembuh, Chanyeol benar-benar memulai hidupnya dari awal lagi bersama kedua anaknya dan tentu saja Ny. Do yang senantiasa menjaganya. Ia juga berniat untuk tidak cepat-cepat menikah lagi karena mengingat riwayat kisah cintanya yang cukup membuatnya terpuruk. Ny. Do bahagia mendengar keputusan Chanyeol, tetapi ia juga tidak memaksakan jika memang menantunya itu suatu saat bertemu dengan seseorang yang tepat untuknya dalam waktu yang dekat.
TiaraCrystal
Sore memamerkan keindahan warnanya, tapi kali ini kuning keemasannya sedikit tertutup awan mendung. Meski dingin dan basah tak mengurungkan niat Park Chanyeol menghabiskan waktunya disini. Dimana lagi jika bukan di Seattle Waterfront. Salju tak membuat semangat burung camar berkurang untuk berterbangan kesana kemari memperindah langit sore ini. Seattle waterfront, airnya tak sejernih kemarin-kemarin. Sebagian dari airnya harus membeku karena suhu derajat disana sangat rendah. Kapal-kapal yang biasanya berlalu-lalang dan terparkir dengan baik pun tak banyak seperti biasanya.
Sangat ironis, karena mengingat ini juga adalah tempat dimana Baekhyun menunggu Chanyeol saat sebelum ia pergi meninggalkan Seattle, tapi sayang Chanyeol tidak datang waktu itu. Pria itu meratapi penyesalannya, andai saja waktu itu ia tidak tertidur. Mungkin saat ini, ia dan Baekhyun sudah bahagia.
Terlepas dari itu semua, Seattle Waterfront adalah tempat favorit Chanyeol dan kedua anaknya jika sedang bosan dengan segala kesibukannya di Kedai. Ya, karena kondisi pria itu sudah berbeda, ia tidak bisa terlalu banyak mendapat tekanan.
"Ayah.." Panggil Arlo yang kini sudah bisa berbicara, Arlo tengah digendong oleh Aracelli di pinggir pagar, keduanya melihat ke arah sungai.
"Hati-hati sayang. Jangan terlalu dekat dengan pagar ya." Sahut Chanyeol sambil memainkan tablet, memantau harga-harga biji kopi dan juga beberapa bahan makanan di pasar.
Beberapa minggu lalu, seorang investor asal new orleans mendatangi kedai Chansoo, ia ingin sekali mengajak Chanyeol untuk membuka cabang kedainya disana. Tapi, rasanya Chanyeol masih belum siap untuk melebarkan sayapnya. Saat investor itu meminta jawabannya, Chanyeol hanya mengatakan bahwa ia akan memikirkan hal tersebut matang-matang.
Sementara itu, Baekhyun sedang berada di sebuah tempat Yoga. Ia sadar akhir-akhir ini pikirannya banyak sekali terjadi kekacauan, ia butuh rileksasi. Sepulang kuliah kini Baekhyun langsung disibukan dengan kelas Yoganya. Entah hari ini, dirinya seperti tidak menemukan titik fokus. Bayang-bayang soal Chanyeol terus menghantui pikirannya. Semenjak pertemuannya minggu lalu Baekhyun memang tidak pernah bertemu dengan pria itu, mungkinkah ini yang dinamakan sebuah Rindu? Tidak.. Tidak.. Baekhyun segera membuka matanya dengan cepat. Tidak, Baekhyun tidak merindukan Chanyeol, begitu ia mensugestikan pikirannya. Ia pikir hari ini rasanya percuma saja berusaha untuk tetap di ruangan ini, akhirnya Baekhyun memutuskan untuk meninggalkan tempat lesnya.
"Dingin sekali." Baekhyun lagi-lagi mengeratkan mantelnya. Segelas Kopi hangat mungkin adalah solusinya.
Entah apa yang membuat langkah mungil itu pergi ke Kedai Chanyeol, tapi disinilah dia sekarang. Berdiri dengan sedikit ketegangan persis di depan pintu yang bertuliskan 'Open' disana.
KRING
Suara bel itu berbunyi tiap kali pintu tersebut terbuka menandakan ada pengunjung yang datang atau meninggalkan kedai. Ny. Do yang hendak membuang sampah seakan tak percaya melihat sosok yang sudah lama tidak ia temui. "Nn. Byun." Sapanya dengan sedikit ragu-ragu.
Sontak Baekhyun membungkukkan tubuhnya memberi salam pada Ny. Do, "lama tidak bertemu dengan anda." Sahutnya.
.
.
Kim Jongdae membawakan Hot Cappucino, kali ini ia membuatkannya begitu spesial untuk wanita secantik Baekhyun. Sang barista itu sungguh bersemangat saat ia melukis sebuah wajah perempuan cantik di atas kopinya. Sayang sekali, kemana si duda beranak itu? Ponselnya saja tidak aktif. Oh ya, Jongdae baru ingat, temannya itu mempunyai kebiasaan baru. Biasanya sore-sore begini Chanyeol bersama Aracelli dan Arlo akan pergi ke Seattle Waterfront. Tapi jika dilihat dari wajah Ny. Do nampaknya ia akan marah jika Jongdae memberitahu keberadaan mereka pada Baekhyun.
"Ini Hot Cappucino yang penuh cinta untukmu Nyonya." Ujar Jongdae meletakkan cangkir tersebut di atas meja.
"Terima kasih, Oppa. Aku sangat merindukan kopimu ketika aku di Korea." Jawab Baekhyun dengan wajah cerianya. Bibirnya begitu ranum hingga menambah kadar kecantikan diwajah orientalnya.
"Oh ya, bagaimana menurutmu? Apa kau menyukai gambarku,hem?"
"Tentu. Kau adalah barista yang hebat." Puji Baekhyun memberikan jempolnya pada Kim Jongdae.
Ny. Do berdeham membuat Kim Jongdae dan Baekhyun terdiam sesaat, "Jika sudah selesai, kau boleh kembali ke ruanganmu Jongdae." Perintah Ny. Do. Suasana yang tadinya mulai mencair kini kembali menegang setelah Jongdae mengangkat kakinya dari sana.
Baekhyun mulai menyesap kopi hangatnya, rasanya benar-benar menenangkan. Aneh tapi nyata tapi itulah yang terjadi. Tubuh mungil yang kedinginan itu kini mulai menghangat.
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Ny. Do singkat.
Baekhyun meletakkan cangkirnya kembali, "Aku baik nyonya. Aku tak sengaja lewat sekitar sini, ku pikir tak ada salahnya jika aku mampir untuk menikmati kopi sebentar."
"Maksudmu? Apa kau berpikir bahwa aku mengiramu sengaja datang kesini untuk bertemu menantuku?" Ny. Do tak berubah, ia masih setothepoint itu ternyata.
"Bagaimana kabar anak-anak?" Baekhyun mengalihkan pembicaraan.
"Mereka baik-baik saja."
Baekhyun mengangguk mengerti. "Syukurlah kalau begitu. Aku juga senang melihat keadaan Chanyeol yang tampak lebih sehat. Apa ia sudah mengatakan pada anda, bahwa kami sudah bertemu?"
"Ya dia sudah mengatakannya padaku. Bahkan ia mengatakan bahwa kau ingin bertemu dengan anak-anak?"
Baekhyun menatap mata Ny. Do, ia menemukan ketidaksukaan disana. Begitu jelas. Ayolah, itu adalah tatapan saat pertama kali Baekhyun bertemu dengannya dulu.
"Apa ada masalah dengan itu?" Baekhyun memastikan.
Ny. Do tersenyum miring kemudian wajah cantiknya yang sudah mengeriput itu memasang ekspresi yang sangat dingin. "Begini.. Mengingat statusmu yang sudah menikah, bukankah itu hanya akan menambah masalah saja?..."
Sementara itu, diujung jalan sana Park Chanyeol dan kedua anaknya tengah berjalan kaki menuju kedai. Satu disisi kanan, satunya lagi disisi kiri. Chanyeol tersenyum melihat tingkah laku Arlo yang semakin pintar itu. Ia yakin dimana pun Kyungsoo berada pasti ia akan bahagia melihat kedua anaknya seperti sekarang ini.
"Ayah, nanti belikan aku eskrim lagi ya?" Kata Aracelli menatap nanar ayahnya.
"Ingat sayang apa yang dikatakan dokter Jeany kemarin? Kau tidak boleh terlalu banyak memakan makanan manis kan? Jika kau tidak mematuhinya gigimu akan berlubang."
"Tapi kan dalam sebulan aku hanya dua atau tiga kali memakannya." Rengek Aracelli.
"Iya sayang ayah mengerti, tapi kan ayah melarangmu karena tidak ingin melihat kau kesakitan seperti waktu itu lagi."
Seakan tak mengerti maksud baik ayahnya. Aracelli malah merajuk, ia kesal jika keinginannya tidak dipenuhi. Padahal apa salahnya jika memakan eskrim? Ayahnya terlalu berlebihan, pikir Aracelli.
Gadis kecil itu berlari meninggalkan Chanyeol. "Ayah jahat!" Teriak Aracelli membuat Chanyeol sedikit merasa bersalah.
"Ah Kyungsoo, bisa kau lihat kelakuan putri kita?" Keluh Chanyeol menatap ke arah langit seolah-olah ia tengah bercakap dengan Kyungsoo. Pria itu mengusap wajahnya frustasi. Chanyeol menggendong Arlo, kemudian mengejar puterinya.
"Sayang! Tunggu ayahhh..."
Kembali lagi ke Ny. Do dan Baekhyun. Mereka masih melanjutkan perbincangan mereka tadi. "Rasanya tidak mungkin jika seorang wanita yang sudah menikah harus menemui pria yang notabenenya adalah mantan kekasihnya. Aku mengerti, jika kau sangat menyayangi cucu-cucuku. Aku berterimakasih atas hal itu, tapi sudahlah Ny. Byun biarlah ini menjadi masalalu yang harus dilupakan. Aku begitu menyayangi cucu dan juga menantuku, jika suamimu mempermasalahkan ini kemudian melakukan sesuatu pada mereka. Kau adalah orang pertama yang akan aku salahkan." Tegas Ny. Do membuat Baekhyun begitu tersinggung. Saat ini Baekhyun ingin sekali memberitahu bahwa ia tidak seperti yang dipikirkan oleh Ny. Do, tapi ia tidak berdaya. Biarlah ia menyimpan segala rahasia tentangnya, ini begitu memalukan.
KRINGGG
Pintu kedai terbuka, itu adalah Aracelli. Ia masih dengan acara merajuknya. "Gemma!" Panggil gadis itu mencari dimana keberadaan neneknya.
Mendengar itu, Ny. Do seperti gusar pasalnya apa yang ia takutkan selama ini malah menjadi kenyataan. Bagaimana ini? Baekhyun ada disini. Ia tidak ingin cucunya bertemu dengan wanita itu.
Sementara Baekhyun, ia yang sangat merindukan gadis kecil itu pun menoleh ke arah belakangnya dimana sosok yang ia rindukan itu datang, "Aracelli..." Panggil Baekhyun membuat langkah Aracelli terhenti tak jauh dari posisi Baekhyun dan Ny. Do berada.
Baekhyun sontak berdiri, seperti melupakan apa yang baru saja Ny. Do peringatkan padanya. Masa bodoh, yang terpenting saat ini ia bisa bertemu lagi dengan gadis kecil yang sudah berhasil merebut hatinya. Tapi kenapa Aracelli hanya mematung disana? Bukankah ia juga sangat merindukan Baekhyun? Selain Chanyeol, dialah orang yang paling sedih saat Baekhyun meninggalkan Seattle waktu itu.
Ny. Do mengernyitkan dahinya, bertanya-tanya atas sikap aneh cucunya. Tak biasanya Aracelli seperti itu. Apalagi ia sudah mengenal baik Byun Baekhyun.
"Sayang..." Panggil Baekhyun sekali lagi. Ia membuka kedua tangannya, pertanda bahwa ia sudah sangat siap menyambut kedatangan Aracelli.
Tak lama,
KRINGGG
Pintu itu terbuka lagi, kali ini adalah Park Chanyeol bersama Arlo. Pria itu terkejut melihat kehadiran Baekhyun, dalam hati ia sangat senang karena akhirnya wanita itu datang lagi walau sempat terjadi kekhawatiran bahwa ia tidak akan bertemu dengannya lagi.
"Baek, kau datang?" Tanya Chanyeol. Baekhyun hanya mengangguk karena tatapannya fokus pada Aracelli yang berdiri di depan Chanyeol saat ini.
"S-sayang, kenapa kau diam? Itu Baekhyun Eonnie datang." Kata Chanyeol menghampiri Aracelli.
"Nyu..nyaa..." Panggil Arlo, Baekhyun tersenyum mendengar sapaan dari Arlo. Anak laki-laki itu semakin tampan saja.
Tapi saat Chanyeol berdiri tepat disamping Aracelli, tiba-tiba gadis kecil itu memeluk pinggang Chanyeol dengan tatapan yang berubah menjadi sinis.
"Kenapa dia datang lagi, ayah?"
DEG
Tak ada yang pernah menyangka bahwa kalimat itulah yang akan diucapkan oleh Aracelli.
Semua yang ada disana terperangah mendengarnya. Terutama Baekhyun. Ternyata Aracelli sekecewa itu padanya. Ya ampun, Baekhyun benar-benar sedih.
"Aracelli, kenapa kau bilang begitu. Apa kau tidak merindukanku, hem?" Baekhyun melangkahkan kakinya, mendekati gadis itu. Tapi apa yang ia dapat? Aracelli malah bersembunyi dibalik tubuh giant ayahnya.
"Ayah suruh dia pergi. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia wanita jahat ayah.." Ujar Aracelli mendadak histeris. Untunglah saat itu keadaan kedai sedang sepi. Beberapa pengunjung belum lama pergi.
DEG
Baekhyun semakin terkejut oleh penuturan Aracelli. Rasanya begitu menyesakkan, ia pernah mengalami penolakan semacam ini, yaitu Park Chanyeol. Ternyata pepatah yang mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya itu benar adanya. Hari ini Aracelli mengingatkan Baekhyun pada perlakuan Chanyeol yang dulu.
Merasa malu, akhirnya Baekhyun meraih tasnya dan pergi meninggalkan kedai, "maaf aku harus pergi." Katanya.
"Baekhyun!" Teriak Chanyeol mencoba untuk menahannya. Tapi genggaman tangan mungil milik puterinya jauh lebih kuat. Ia rasa tak mungkin meninggalkan Aracelli hanya demi Baekhyun.
Ny. Do tersenyum samar, dalam hatinya ia bersorak riang. Ternyata kali ini Tuhan ada dipihaknya. Ia hanya berusaha melakukan yang terbaik demi keluarganya.
.
.
Setelah kejadian menegangkan itu, Ny. Do membawa pulang kedua cucunya karena hari sudah mulai malam. Tak banyak perbincangan antara Ny. Do dengan menantunya. Dia bisa melihat betapa murungnya wajah Chanyeol. Sedangkan Aracelli, ia juga mendadak menjadi pendiam. Khawatir akan semakin runyam, akhirnya Ny. Do memilih untuk pulang ke rumah.
"Kau nanti pulang ke rumah atau menginap disini?" Tanya Ny. Do sesaat sebelum ia masuk ke dalam Taxi.
"Aku akan pulang, bu. Oh ya, aku ingin tidur bersama puteriku. Jangan bawa dia ke dalam kamarmu, ya?"
Ny. Do menatap Chanyeol curiga, "apa kau ingin memarahi puterimu atas kejadian tadi?"
"Aku hanya ingin berbicara sebentar dengannya." Jawab Chanyeol diakhiri dengan dengusan kecil.
"Baiklah. Tapi perlu kau tau, Puterimu sudah melakukan hal yang benar. Wanita itu sudah meninggalkanmu, dan Aracelli berhak untuk membencinya."
"Selamat malam,bu." Chanyeol tak membalas perkataan ibu mertuanya. Ia pikir jika meladeni ucapan mertuanya, itu akan memperpanjang masalah.
"Kau ini..." Ketus Ny. Do kemudian ia masuk ke dalam taxi dan berlalu.
Chanyeol kembali masuk ke dalam kedainya, ia benar-benar frustasi sekarang. Bagaimana mungkin puterinya yang dulu menyayangi Baekhyun kini berbalik menjadi membencinya. Padahal, Chanyeol baru saja ingin memulai hubungan baik yang baru bersama wanita itu.
"Hey!"
Lamunan Chanyeol dihentikan oleh Kim Jongdae yang membawa Teh hangat untuknya.
"Santai bung." Tambahnya memijat pelan bahu lebar milik Park Chanyeol.
"Kau bisa lihat sendiri bagaimana kejadiannya kan?" Chanyeol menghela nafas panjang.
Keduanya berdiri di meja kasir, malam ini pengunjungnya lumayan ramai. Suasana kedai begitu bising.
"Wajar saja, karena Aracelli belum mengetahui banyak hal. Kau bisa menjelaskan padanya dengan pelan-pelan, aku yakin ia akan mengerti."
Chanyeol sedikit lega mendengar itu. Ia sangat berterimakasih pada sahabatnya satu ini. Kim Jongdae kerap kali memberikan solusi untuk tiap permasalahannya. Sungguh Kim Jongdae yang baik.
.
.
Chanyeol menempatkan tubuhnya di ranjang kecil milik puterinya dengan sangat hati-hati karena tak ingin gerakan tubuhnya membuat Aracelli terbangun.
Duda itu memeluk putrinya dari belakang, menyesap aroma permen karet dari rambut sang tuan putri kecil tersebut. Ritual inilah yang membuat segala lelah dan beban dipundak Chanyeol menjadi berkurang rasanya.
"Ayah sudah pulang..."
Chanyeol terkejut mendengar itu, ternyata Aracelli belum tidur.
"Kau belum tidur sayang?"
"Aku menunggumu ayah."
"Ayah sudah disini sekarang, jadi kau harus tidur ya." Ucap Chanyeol mengusap lengan putrinya.
"Ayah tidak marah kan dengan sikapku tadi?"
"T-tidak sayang. Tapi..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya.
"Baekhyun eonnie sudah meninggalkan ayah dan menikah dengan pria lain. Dia tidak mencintai ayah seperti ibu mencintaimu. Bahkan eonnie tidak ada disaat ayah melewati masa-masa terberat ayah ketika ayah sakit. Jadi, aku berhak membencinya kan, yah?"
DEG
Lagi-lagi Chanyeol dibuat tak percaya oleh penuturan anaknya. Chanyeol sadar, putrinya memang sudah bukan anak dibawah umur 10 tahun, dia pasti sudah bisa mencerna segala sesuatu yang menimpanya. Tapi, bukan salah Baekhyun sepenuhnya, jika ada yang patut dipermasalahkan adalah dirinya. Dirinyalah yang dulu menyakiti Baekhyun, tak menganggap keberadaan wanita itu. Jadi jika Baekhyun meninggalkan dirinya, itu adalah ganjaran yang harus Chanyeol terima.
"Sudahlah, kita akan membahasnya lain waktu. Ini sudah malam, kau harus tidur sayang." Chanyeol mengecup bagian belakang kepala Aracelli. Dan merekapun tertidur.
.
.
Baekhyun hanya menghabiskan waktunya di flat saja, hari ini ia libur kuliah. Diluar terlalu dingin, padahal wanita itu merasa sangat bosan. Ia masih berada dalam masa-masa pemulihan setelah Aracelli gadis kecil yang ia sayangi itu mematahkan hatinya.
Baekhyun meringkukkan tubuhnya di atas ranjang dengan ponsel yang ia biarkan di samping kepalanya. Wanita itu benar-benar sendirian di kota ini. Tak ada sanak saudara, dan tak dipungkiri ia mulai merindukan ibunya.
Drrrtttt
Drrrtttt
Ponsel Baekhyun bergetar, tapi ia malas menerima panggilan dari siapapun. Tapi sepertinya panggilan itu penting, dengan gontai ia meraih ponselnya tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
WU YIFAN
Ya ampun, ada apa ini? Apakah ada barang Baekhyun yang tertinggal dirumah pria itu? Tapi Baekhyun sangat yakin bahwa ia sudah membawa barang-barangnya tanpa terkecuali.
Perlahan ia menekan tombol hijau itu, dengan sedikit gugup ia mulai membuka mulutnya, "y-yifannn.."
"Akhirnya kau mengangkat teleponmu juga. Ahh Baek, kau sedang apa?"
"Aku? Nghh.. Aku sedang tidak melakukan apa-apa." Baekhyun membetulkan posisinya menjadi duduk. "Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Aku khawatir seperginya kau kesana, kau tidak pernah menghubungiku. Bahkan ibu kemarin bertemu denganku, ia mengeluhkan hal yang sama. Katakan, apa kau sangat sibuk disana?"
"Tidak Yifan. Hanya saja..." Lirih Baekhyun.
"Dengar Baek, aku tidak ingin kau menjadi canggung denganku. Tentang masalalu kita, lebih baik kita lupakan. Kau bisa menganggapku teman, bagaimana?"
DEG
Baekhyun sedikit terkejut, ternyata Wu Yifan benar-benar sebaik itu. Sadar dari lamunannya ia pun menyetujui permintaan Yifan. Tak ada salahnya memulai hubungan baru sekalipun itu dengan mantan suami.
"Jadi bagaimana kuliahmu, hem?" Tanya Yifan lagi.
"Semua berjalan lancar, doakan saja agar aku bisa cepat-cepat menyelesaikan kuliahku disini dan kembali ke korea." Sahut Baekhyun menghela nafas panjang.
"Kau yakin hanya itu saja?"
"Maksudmu?"
"Park Chanyeol. Kau masih mencintainya kan?"
"UHUKKK!" Baekhyun tersedak.
"Baek, kau baik-baik saja? Apa aku salah bicara?"
"Yifan, sudahlah jangan bahas soal Park Chanyeol. Aku ingin fokus dengan kuliahku."
"Begitukah? Padahal aku berharap, kisah cintamu kali ini akan berhasil. Tapi, semua kuserahkan padamu."
Baekhyun tak menyangka jika Wu Yifan sefrontal itu mengatakan hal tentang Chanyeol. Perceraiannya belum juga satu bulan, tapi rupanya pria itu sudah benar-benar melupakannya. Paling tidak rasa bersalah Baekhyun terhadap Yifan sedikit berkurang.
.
.
Seperti biasa, Chanyeol selalu menunggu kedatangan Baekhyun. Setelah kejadian itu, Baekhyun tak pernah datang. Chanyeol sangat memaklumi jika Baekhyun merasa kecewa dan juga malu. Ia ingin sekali meminta maaf pada wanita itu, tapi kemana harus mencarinya? Tunggu, Chanyeol tau kemana harus mencari Baekhyun.
Disinilah pria giant itu berada, taman kampus Baekhyun. Ia melangkahkan kakinya mengecek setiap sudut barangkali ada sosok yang ia cari. Setelah beberapa menit berkeliling di wilayah taman, akhirnya ia beranjak ke dalam gedung. Chanyeol ingat, Baekhyun adalah mahasiswi sastra inggris. Ia pun pergi menuju fakultas sastra inggris.
Semua tampak asing dimata Chanyeol, rasanya lumayan sulit mencari wanita berperawakan oriental di tengah-tengah kerumunan orang amerika. Tapi pria itu tak menyerah, ia harus bersikap gentle, menemui Baekhyun kemudian memintamaaf atas apa yang sudah terjadi.
"Chanyeol!"
Langkah kaki pria itu terhenti tatkala mendengar seseorang memanggilnya dari belakang.
"Baekhyun..."
Senyum simpul terpampang jelas di wajah Chanyeol saat ia melihat sosok mungil dibelakangnya.
Baekhyun berjalan ke arahnya, sepertinya wanita itu baru saja dari perpustakaan terlihat dari beberapa buku tebal yang ia dekap didadanya.
"Kau mencariku?" Tanya Baekhyun saat sudah sampai di depan Chanyeol.
"Hmm ya, akhirnya aku menemukanmu."
"Bukan kau, tapi aku yang menemukanmu. Ada apa?"
"Bisakah kita makan siang bersama?"
Baekhyun menatap dalam Chanyeol sehingga membuat pria itu gelisah setengah mati. Mata sipit itu menatap dengan tatap penuh intimidasi.
Akhirnya mereka berakhir di kantin kampus. Makanan keduanya sudah tersaji 10 menit lalu, tapi tak ada satupun yang memakannya. Keduanya hanya saling berdiam diri melupakan tujuan awal mereka. Tapi Baekhyun merasa tak nyaman dengan situasi seperti itu, akhirnya ia memecah keheningan tersebut.
"Jika tidak lapar kenapa pesan makan? Jika tidak ingin bicara kenapa datang kesini?"
Seakan tersadar, Chanyeol mengerjap dan merenggangkan otot-otot yang lumayan terasa kaku dibagian lehernya.
"Oh iya aku lupa." Sahutnya, ia mulai meraih garpu dan mengaduk-aduk spagethy yang ada didepannya.
"Baek, maafkan atas sikap Aracelli waktu itu. Maukah kau memaafkannya?"
"Aku sudah memaafkannya. Aku memaklumi sikap Aracelli, mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika ada seseorang yang menyakiti ayahku."
"Baekkkkk..." Sergah Chanyeol.
Baekhyun tersenyum kecut, "Sudahlah Chan, sungguh itu bukan masalah yang berat. Aracelli hanyalah seorang anak kecil. Bukan begitu?"
Chanyeol hanya mengangguk, meski ia tak yakin apakah Baekhyun benar-benar memaafkan putrinya. Wajah Baekhyun sungguh tak mencerminkan perkataannya barusan.
"Hay Baek..." Panggil seseorang dari kejauhan, merasa dipanggil Baekhyun melambaikan tangannya ke arah orang tersebut. Chanyeol menoleh ke sosok itu, wanita cantik dengan tubuh proporsionalnya.
"Zi Tao, kemarilah!" Baekhyun menepuk bangku kosong yang ada disampingnya.
Tao berlari kecil ke arah mereka. "Siapa dia?" Tanya Chanyeol.
"Sahabat ku di kampus. Ia dari cina dan kami satu fakultas." Jawab Baekhyun.
Tak lama Tao sampai dan langsung menempatkan dirinya di samping Baekhyun, "ahh maaf aku sedikit terlambat karena jalanan siang ini lumayan macet."
Tao yang menyadari keberadaan sosok asing di depannya itu pun langsung menyenggol lengan Baekhyun, "hay Baek, punya kekasih baru setampan ini kenapa tidak dikenalkan padaku?"
DEG
Chanyeol mengernyit mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Tao. Sementara Baekhyun merasa panik setelah secara frontal Tao berbicara seperti itu. Gawat! Baekhyun khawatir Chanyeol akan curiga.
"Huang Zi Tao!" Pekik Baekhyun membuat Tao terdiam. Ia tidak mengerti kenapa Baekhyun membentaknya.
"Ada apa Baek? Kenapa kau berbicara dengan nada tinggi seperti itu?"
Baekhyun melirik sebentar ke arah Chanyeol yang ternyata tengah menatapnya dengan penuh tanya.
Baekhyun tertawa renyah, "Kau ini bicara apa? Bagaimana mungkin aku memiliki kekasih baru, aku kan sudah menikah. Ini adalah Park Chanyeol, dia... Nghh.. Dia..." Baekhyun menggantungkan perkataannya sambil melihat ke arah Chanyeol. Sungguh, dia merasa bingung harus menganggap Chanyeol itu apa.
Sementara Tao, dia tidak mengerti apa yang dikatakan Baekhyun. Tao mengetahui dengan jelas soal hidupnya Baekhyun yang baru saja bercerai. Tapi dia tidak bodoh, sedikit menerka mungkin Baekhyun sedang menyembunyikan sesuatu pada pria yang bernama Park Chanyeol itu. Akhirnya ia memilih untuk mengiyakan perkataan sahabatnya.
"Hahahaha.. Astaga aku ini bicara apa? Aku hampir lupa jika kau sudah menikah. M-maafkan aku, Baek." Tao memeluk lengan sempit Baekhyun dengan cengiran yang ia paksakan agar kebohongannya tak diketahui.
Baekhyun bernafas lega, kali ini ia benar-benar selamat. "Oh ya, apa kita jadi pergi ke bioskop sepulang kuliah nanti?" Tanya Baekhyun mengalihkan pembicaraan.
"Hmm tennn..."
"Baek, aku harus pergi." Chanyeol beranjak dari duduknya. "Nona Tao, aku pamit dulu. Senang bertemu denganmu." Chanyeol menjabatkan tangannya dan disambut baik oleh Tao.
"Iya Tn. Chanyeol, senang bertemu denganmu juga." Sahut Tao.
Chanyeol membungkuk sedikit memberi salam, sementara Baekhyun hanya diam memperhatikan Chanyeol. Setelah itu, Chanyeol pun pergi meninggalkan mereka. Baekhyun hanya meratapi kepergian pria itu, ada sesuatu yang menyesakkan tiap kali melihat punggung lebar itu menjauh. Tapi mungkin ini yang terbaik. Sudahlah.. Baekhyun harus hidup maju ke depan.
.
.
BLAM
Chanyeol menutup pintu mobilnya, sejenak ia terdiam disana memikirkan apa yang dikatakan oleh Tao tadi. Ada yang aneh, hatinya mengatakan bahwa ada sesuatu yang sedang ditutup-tutupi oleh Baekhyun.
Drrttt...
Drrttt...
Chanyeol disadarkan oleh bunyi ponselnya, itu adalah Ny. Do. Segera ia menekan tombol hijau yang ada dilayar ponselnya.
"Ya bu ada apa?"
"Chan, kau dimana? Apa kau lupa hari ini Aracelli ada kelas tari. Ibu tidak bisa menjemputnya."
"Astaga aku lupa!" Chanyeol menepuk jidatnya kemudian melirik jam tangannya. "Baiklah bu, aku akan kesana sekarang. Sudah dulu ya bu."
PIP
Chanyeol menyalakan mesin mobilnya kemudian bergegas ke tempat les tari Aracelli.
Sementara itu, Aracelli yang sejak tadi sudah menunggu jemputan merasa hari ini hatinya tidak karuan. Ia merindukan Kyungsoo sang ibu. Sudah setahun lebih, ia kehilangan ibunya. Kadang ia merasa iri dengan beberapa teman lesnya yang dijemput oleh ibu mereka. Aracelli anak yang tegar, ia pandai menyembunyikan kesedihan itu. Tapi hari ini, hatinya mengatakan yang lain. Duduk sambil menghadap jendela, menatap kosong langit yang sejak tadi menurunkan ribuan kepingan salju berharap disana ia temukan wajah Kyungsoo meski hanya sekelibat saja.
Tak lama kemudian, mini cooper berwarna mocca itu tiba di depan lobby gedung les Aracelli, Chanyeol mengeratkan mantelnya karena sangat dingin. Ia berlari kecil masuk ke dalam gedung tersebut, Chanyeol yakin pasti putrinya akan merajuk karena ia telat menjemputnya.
Chanyeol sampai di depan pintu kelas Aracelli, tapi apa yang ia dapatkan disana. Sesuatu yang membuat hatinya hancur. Ya, Aracelli tengah menangis sambil memanggil ibunya.
"Hixs.. Hixs.. Ibu.. Aku merindukanmu, bu. Ku mohon kembalilah bu. Hixs.. Hixs.."
DEG
Chanyeol sungguh hancur melihat itu semua, tanpa sadar air matanya terjatuh juga.
"Ibuuuu... Hixss.. Hixss.. Aku ingin bersama ibuuuu.."
Tubuh Aracelli bergetar hebat, sungguh gadis yang malang. Ia masih terlalu kecil untuk mengalami ini semua. Segera, Chanyeol berlari ke arah putrinya diujung sana kemudian memeluk putrinya dengan sangat erat.
"Ayahh... Mana ibu? Aku ingin ibuuu... Hixs.. Hixs.."
Chanyeol menciumi kepala putrinya, ia benar-benar menyayangi Aracelli. Sebisa mungkin berusaha menenangkannya.
"Sayang tenanglah sayang. Ada ayah disini.." Sahut Chanyeol.
"Tidak, aku mau ibuuu.. Aku rindu padanya, yah"
Tangisan Aracelli semakin menjadi. Sungguh, ini sangat menyakitkan untuk Chanyeol. Ia telah gagal menjadi ayah, terbukti dari Aracelli yang ternyata tak merasa cukup hanya dengan kehadirannya.
"Dengarkan ayah gadis manis." Chanyeol melepaskan pelukannya, menyelipkan rambut putrinya ke sela-sela kuping, "Ayo kita ke makam ibu, bagaimana? Disana kau bisa bertemu dengan ibu. Hem?" Tambahnya.
.
.
Baekhyun merasa aneh, sejak tadi perasaannya gelisah. Ia tak tau sebabnya apa. Pikirannya selalu tertuju pada Aracelli, ia mulai bertanya-tanya ada apa sebenarnya. Saat ini, ia masih berada di dalam kelas. Mata kuliah terakhir ini sungguh membosankan.
"Kenapa kau diam saja, Baek?" Tanya Tao duduk disampingnya.
"Entahlah, perasaanku tidak enak."
"Kau sakit?" Tao mendaratkan punggung tangannya ke dahi Baekhyun.
"Tidak. Tapi perasaanku mengatakan ada sesuatu yang tak beres."
"Kalau begitu kita batalkan saja acara pergi ke bioskop kita. Kau pulang saja, aku khawatir kau akan sakit."
"Apa tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa, Baek. Masih ada hari esok. Kau tenangkan saja dirimu terlebih dulu." Jawab Tao menepuk bahu Baekhyun sambil tersenyum.
Sepulangnya dari kuliah, Baekhyun memutuskan berjalan kaki saja. Ia tak mempedulikan suhu dingin yang menyelimuti tubuh mungilnya itu. Tapi seakan tak percaya, di ujung jalan sana masih disekitaran kampusnya ia melihat sosok yang cukup membuatnya terkejut.
"Wu Yifan!"
Ya, Yifan berdiri disana menunggu kedatangan Baekhyun sambil mengangkat gelas kopi ditangannya. Baekhyun sedikit terbata melanjutkan langkahnya, seingatnya terakhir berbicara di telepon dengan pria tampan itu mereka hanya menanyakan kabar, tidak ada membuat janji untuk kembali bertemu.
Yifan bukan seorang pengusaha, waktunya tidak seflexible itu. Harusnya karyawan biasa sepertinya saat ini sedang ada di dalam kantor berkutat dengan komputer. Mungkinkah, Yifan datang ke Seattle untuk meminta Baekhyun kembali padanya? Karena seharusnya pria itu tau jawabannya. Baekhyun sungguh tersesat oleh pikirannya sendiri.
Sampailah ia di hadapan pria yang tingginya melebihi Park Chanyeol itu, dengan wajah bingung Baekhyun tak sedikitpun membiarkan matanya melirik ke yang lain. Ia meminta penjelasan pada mantan suaminya.
"Ini..." Yifan memberikan satu gelas kopi hangat untuk Baekhyun.
"Kau.. Kapan kau sampai?" Tanya Baekhyun sambil meraih gelas kopinya.
"Kejutan!" Pekik Yifan, senyuman pria itu sungguh tampan seperti biasanya.
"..." Baekhyun masih tak percaya, ia tak bisa berkata apa-apa.
Melihat wajah bingung mantan istrinya membuat Yifan terkekeh kecil. Ia mengusap pucuk kepala Baekhyun, "Tenang saja aku datang kemari untuk mengikuti seminar IT, besok aku sudah harus kembali ke Korea. Ku pikir selagi aku disini, tak ada salahnya jika aku menemui calon istriku ini." Goda Yifan membuat Baekhyun malu.
Syukurlah,
Ternyata terkaanku salah semua.
Bodoh kau, Baek.
"Disini sangat dingin, maukah kita mencari tempat untuk mengobrol sebentar?" Ujar Yifan.
.
.
Hari sudah berganti malam, setelah dari makam Kyungsoo perasaan Aracelli sudah kembali membaik. Meskipun hati kecilnya masih merasakan kesedihan, tapi setidaknya ia sudah meluapkan segala kerinduannya saat dimakam tadi.
Chanyeol sangat lelah hari ini, ia duduk di pinggir ranjangnya menghadap ke luar jendela dimana bulan bersinar dengan terangnya. Benar juga, semenjak bayang-bayang Kyungsoo menghilang ada perasaan rindu yang menyelimuti hati Chanyeol.
Pria itu memejamkan matanya, sedikit menunduk selayaknya orang yang sedang berdoa. Dalam hatinya ia terus saja menyebut nama Kyungsoo, berharap sesuatu terjadi. Chanyeol berusaha untuk menghadirkan bayang-bayang Kyungsoo lagi, tapi sekeras apapun usahanya nyatanya Kyungsoo tidak akan pernah ada.
Sementara itu, Baekhyun tengah termangu sambil menghadap ke perapian yang ada di flatnya. Sesekali menyesap Wine mencari kehangatan disana. Suasana hati Baekhyun tak kunjung membaik, padahal dari tadi ada Yifan yang menemaninya. Entahlah..
"Pakai ini, jika tidak kau bisa mati beku." Ujar Yifan memakaikan selimut tebal pada Baekhyun.
"Sudah selesai menelponnya?" Tanya Baekhyun disusul Yifan duduk disampingnya. Keduanya sama-sama melihat perapian.
"Sudah." Jawab Yifan singkat.
"Siapa yang menelponmu?"
"Bukan siapa-siapa hanya teman biasa."
Baekhyun mengangguk, sejatinya ia tidak begitu peduli sekalipun itu adalah teman spesial mantan suaminya.
"Baek..." Panggil Yifan.
"Hmm.."
"Apa kau benar-benar sudah melupakan pria itu?"
Baekhyun sontak menoleh ke arah Yifan, "k-kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Tidak. Aku hanya ingin tau saja. Sebenarnya yang barusan telpon itu adalah teman kencanku, kami baru bertemu dua minggu yang lalu. Ku akui, setelah berpisah denganmu aku sangat kesepian. Berusaha melupakanmu dengan cara menyibukan diri di kantor ternyata itu tidak ampuh. Seseorang pernah berkata, obat patah hati adalah hati yang baru. Lalu aku berusaha untuk mulai hidupku yang baru. Seperti itulah, Baek."
Mendengar itu sungguh Baekhyun sangat bahagia. Rasa bersalahnya semakin berkurang karena Yifan akhirnya mau mencoba untuk melupakannya. Jelas, sebagai mantan istri sekaligus temannya Baekhyun sangat mendukung keputusan Yifan.
"Aku bahagia mendengarnya. Kapan-kapan kenalkan padaku ya?" Jawab Baekhyun sambil tersenyum.
"Baek, ku mohon hiduplah dengan bahagia." Lirih Yifan.
Baekhyun tak mengerti kenapa Yifan berbicara seperti itu, apakah Baekhyun terlihat sangat menyedihkan saat ini? Seketika senyumnya memudar.
"Hah?" Baekhyun mendegus, "memangnya ada apa denganku? Aku baik-baik saja." Dustanya.
"..." Yifan hanya diam, tetapi tatapannya sungguh membuat Baekhyun salah tingkah seperti anak kecil yang ketahuan berbohong.
"Kenapa kau ingin sekali aku kembali pada Chanyeol? Hubunganku dengannya sangat rumit. Dan aku rasa, saat ini aku sudah lelah harus menghadapi masa-masa seperti itu. Aku ingin bebas, hingga waktunya tiba aku baru akan mencari pasangan hidupku."
"..." Yifan menyimak Baekhyun.
"Pasangan yang aku cintai. Pasangan yang juga mencintai aku. Pasangan yang memperjuangkan aku. Ya pasangan seperti itu yang aku inginkan."
Tess...
Tess...
Air mata mengalir tanpa permisi di pipi tirus milik Baekhyun. Ingatan tertuju pada masa-masa sulitnya bersama Park Chanyeol, pria yang sangat ia cintai. Pria yang mampu membuat Baekhyun menyerahkan seluruh hidupnya. Pria yang juga menghancurkan hati Baekhyun, ya dia adalah Park Chanyeol.
"Lagipula melihatnya sudah sembuh seperti sekarang ini. Aku sudah sangat bahagia. Kau tau, ia memiliki dua orang anak yang sangat lucu-lucu. Aku sangat menyayangi mereka. Hanya saja saat ini putrinya yang bernama Aracelli sedang marah padaku, mungkin karena aku pernah meninggalkan ayahnya. Menghancurkan harapannya karena ia sangat menginginkan aku menjadi ibunya. Tapi aku memaklumi itu semua, Aracelli belum mengerti apa-apa. Ahh.. Astaga! Lupakan saja, aku tidak ingin berlarut seperti ini." Tambah Baekhyun. Ia pun kembali menyesap wine-nya.
Perkataan Baekhyun sungguh membuat Wu Yifan mengerti bahwa wanita itu memang masih sangat mencintainya. Hasrat Baekhyun untuk kembali padanya tak bisa terelakan, hanya saja Baekhyun menutup hatinya dan tidak ingin kembali pada pria itu. Yifan harus melakukan sesuatu.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam, Baekhyun sudah tertidur dengan nyenyaknya di depan perapian tadi. Ia mabuk berat akibat banyak menenggak wine. Yifan memutuskan untuk kembali ke hotel, tetapi sebelum meninggalkan flat mantan istrinya Yifan menggotong tubuh wanita itu ke ranjang kemudian menyelimutinya agar hangat.
"Selamat malam, Baekhyun."
.
.
Keesokan harinya, Chanyeol terkejut dengan kehadiran Wu Yifan di kedainya. Pria tampan bermantelkan hitam polos itu, tersenyum ke arah Chanyeol seolah-olah Chanyeol adalah sahabatnya.
"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku datang kesini, kan?" Tanya Yifan sambil menyesap kopi hitamnya.
"Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada Baekhyun?" Tanya Chanyeol setenang mungkin. Ia harus menjaga wibawanya sebagai pria yang tengah berhadapan dengan orang yang bisa dikatakan Rivalnya.
Yifan terkekeh kecil seolah meremehkan Chanyeol. "Dia baik-baik saja. Hanya, aku tak mengerti kenapa selama sebulan ini kau tak juga ada pergerakan padanya?"
"Pergerakan?" Chanyeol mengernyit, "pergerakan apa?"
"Jadi benar yang dikatakan Baekhyun semalam. Kau belum tau yang sebenarnya." Yifan sengaja menggantungkan perkataannya agar membuat Chanyeol penasaran.
"Katakan yang sebenarnya, tuan Wu. Kau tidak perlu bertele-tele seperti itu."
"Kau tau apa alasan dia kembali ke Seattle?" Tanya Yifan lagi.
"Melanjutkan kuliah." Sergah Chanyeol.
"Selain itu?"
Chanyeol menggeleng cepat.
"Karena kami telah bercerai."
DEG
.
.
Chanyeol menyalakan mesin mobilnya dan pergi mencari Baekhyun berada. Ia sungguh kacau saat ini, apapun yang terjadi ia harus menemukan wanita itu.
"Aku menceraikan Baekhyun karena aku tau aku tidak akan pernah bisa memenangkan hatinya. Baekhyun hidup bersamaku, tapi hatinya hanya untukmu, Tuan Chanyeol."
Chanyeol menangis didalam mobil, ia benar-benar sedih karena ternyata Baekhyun sudah melakukan pengorbanan sebesar itu untuknya.
"Bibirnya saja yang mengatakan bahwa ia tidak akan kembali padamu. Tapi semalam, aku masih menemukanmu dimatanya. Kali ini, selesaikanlah kisah kalian yang sempat tertunda. Hiduplah bahagia bersama Baekhyun."
Chanyeol sampai di kampus Baekhyun, ia berlarian mencari dimana wanita itu berada. Ya Tuhan saat ini, Chanyeol ingin sekali memeluk Baekhyun, wanita yang masih sangat ia cintai.
Disana, mata besar itu menangkap sosok mungil tengah bercengkrama dengan sahabatnya. Sosok cantik itu tengah tertawa lepas seolah-olah tak mempunyai beban apapun. Padahal, hatinya memiliki luka yang sangat parah. Chanyeol berjanji akan menjaga wanita itu, ia tidak akan membiarkan dirinya kehilangan orang yang ia cintai lagi.
Chanyeol memperlambat langkahnya membiarkan air matanya terus berderai tak peduli dengan orang yang melihatnya.
"Jagalah Baekhyun, cintai dia. Yakinlah, hanya kau pria yang ia cintai. Aku percaya padamu. Kau bisa menjadi pelindung baginya..."
Perlahan tapi pasti, sampailah Chanyeol tepat di belakang Baekhyun. Wanita itu belum menyadari keberadaannya. Tao, yang menyadari itu, segera membalikan tubuh Baekhyun agar menghadap ke arah Chanyeol.
DEG
Baekhyun terkejut bukan main saat ia melihat sosok tinggi itu berdiri sambil menangis di depannya.
"Baek, aku pergi dulu." Ujar Tao pergi meninggalkan tempat itu.
Setelah Tao pergi, Baekhyun akhirnya angkat suara, "Kau? Kenapa kau menangis?" Tanya Baekhyun melirik ke pipi Chanyeol yang basah akibat air mata.
Tiba-tiba Chanyeol memegang kedua lengan Baekhyun, "Katakan padaku apa benar kau kembali kesini karena aku? Karena kau masih mencintaiku? Jawab aku, Baek!"
DEG
Wu Yifan! Baekhyun yakin sekali pasti ini semua ulah pria itu.
"..." Baekhyun mulai menatap sendu Chanyeol. Matanya berkaca-kaca melihat Chanyeol dalam keadaan seperti itu.
"Kenapa kau begitu rapat menutupinya? Kenapa kau tak memberitahu soal perceraianmu? Apa kau begitu malu dengan itu, hem?"
"..." Lagi-lagi Baekhyun hanya diam. Perlahan air matanya mulai turun.
"Aku mencintaimu Byun Baekhyun. Rasa cintaku masih sama seperti dulu. Maafkan aku yang selalu menyakitimu. Izinkan aku untuk menebus semua kesalahanku dimasalalu. Hixs hixs.."
Baekhyun tidak tau harus berkata apa. Hatinya mengatakan bahwa ia juga masih sangat mencintai Chanyeol, tapi.. Memulai suatu hubungan baru bukanlah saat yang tepat saat ini. Baekhyun masih belum siap untuk semua itu. Meski jauh didalam lubuk hatinya ia bahagia karena Chanyeol telah mengetahui statusnya saat ini. Akan tetapi, Baekhyun terlalu lelah harus menjalani hari-hari berat bersama Chanyeol. Baekhyun lelah harus mendapat tekanan dari ibu mertua Park Chanyeol yang dengan sangat terang-terangan tidak menyukainya. Dia sadar betul, menaklukan hati Ny. Do adalah hal yang tidak mungkin karena wanita itu tidak akan membiarkan seseorang menggantikan mendiang anaknya, ditambah Aracelli yang sangat ia sayangi itu kini membencinya. Rasanya hubungannya bersama Chanyeol tidak akan berhasil.
Dengan berat hati, Baekhyun menghempaskan tangan Chanyeol. "Lepaskan aku!" Ujar Baekhyun.
"Baek..."
"Tidak Chan tidak. Semua ini tidak benar. Hixs .. Hixs .. Sadarlah Chan, cinta kita tidak akan pernah bisa bersatu. Sudah berapa kali kita seperti ini? Sudah berapa kali kita mencoba untuk memperbaiki hubungan ini? Tapi nyatanya selalu saja ada halangannya. Bukankah itu cara Tuhan memberitahu kita bahwa kita bukan ditakdirkan untuk bersatu."
Baekhyun menunduk, ia tak kuasa menahan air matanya.
"Tidak Baek.. Jangan berkata begitu. Katakan padaku bahwa kau masih menyimpan perasaan itu untukku? Taukah Baek, aku sungguh merindukanmu."
"Aku lelah dengan hubungan konyol yang hanya akan membuang waktuku." Baekhyun berusaha untuk terlihat tegar. Ia tidak ingin dianggap terlalu mudah untuk luluh pada perkataan Chanyeol.
"Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa membuktikan padamu, bahwa kali ini kita bisa melewatinya bersama?"
Sejenak Baekhyun diam, ia menengadahkan kepalanya. Menatap Chanyeol yang menanti jawaban. Dimata itu memang ia temukan kesungguhan, tapi.. Apakah Chanyeol bisa menjamin hidup di bawah kuasa sang mertua akan bahagia? Maka kali ini Baekhyun memutuskan untuk menguji kesungguhan pria itu, apakah Chanyeol benar-benar bisa memperjuangkan cintanya kali ini atau tidak? Masih banyak yang harus Baekhyun kejar, ia tidak ingin membuang waktunya hanya dengan drama pelik antara dirinya dengan keluarga Park Chanyeol.
"Jika kau memang ingin mencoba memulainya kembali padaku, maka hanya ada satu pilihannya. Kau pilih aku atau ibu mertuamu?"
DEG
.
.
.
.
TBC
.
.
.
Huy hallo ketemu lagi kitaa.. Maaf ya benar-benar superlate post. Oh ya, maaf untuk bagian Chapt. Ini agak sedikit ngebosenin. Tapi aku berusaha tetep dijalurnya kok. Aku buat disini Baekhyun ngetest Chanyeol, jangan kaya yg udah-udah. Karena Baekhyun rada trauma sama perlakuan Chanyeol jaman dulu. Jadi kita liat aja, apa kali in Cy bener-bener apa enggak sama Baekhyun. Ya gak? Hahaha
Gimana.. Gimana? Masih ada yang setia sama FF ini gak? Mohon Reviewnya ya. Dan makasih yang udah review di Chapt. Sebelumnya. Emuahhh... Pai-pai :)))))
Btw, disini ada yang ngikutin K-Drama Goblin gak? Waktu nulis Chapt ini, aku ditemenin sm soundtracknya Goblin. Karena menurut aku soundtracknya lumayan enak-enak. Hoho..
Daeri2124: hehehe makasih ya. Gpp kok telat daripada gak sama sekali. Ok, aku usahain ya :)
Oh jemma: ini aku update darling :)
Parkoobyunxo: iyaa sayang ini aku update. Mudah2an suka yaa.. Aku juga kangen sm arlo dan aracelli.
Misslah: hari iniii :)
Guest: makasih. Pantengin terus yaa :)
Jakunnya baek: aku usahakan yaa :)
Park hye cha : iyaa aku juga maunya gitu. Tapi sengaja bikin tarik ulur Chanyeol dulu. Hhe maafkan Baekhyun yg labil ya.
Leeminoznurhayati: iyaa Kris itu baik bgt sumpah. Yang jahat cuma Ny. Do hhe makasih yaa udh baca ff aku. Moga gak bosen.
Phyv: thank you :*
Hannie : iyaa sama kamu aja deh. Hhe
Yulia370 : iyaa aku juga penasaran sama endingnya. Pantengin yaa :)
YuliaPCY: sama aku jua hhe
Leon: iya makasih ya buat kritikannya. Aku usahain biar selanjutnya gak aneh lagi. Maafin yaa :)
N3208007: Done :)
Piupiuchan: iyaa itu hadiah kebebasan Baekhyun dari Yifan. Karena dia kasian ngiket Baekhyun, padahal Yifan cintaaa. Hixs
Diana: hhe iyaa kita doakan yang terbaik buat hub Chanbaek dan juga kriss yaa. Hhe
Baixian: gpp sayang. Makasih ya udah mau baca ff ini. Iya kita doakan yang terbaik buat Yifan. Aminnn..
Daebaektaeluv: hhe enggak kok cumaa disini Baekhyun aku buat agak jahat dikit karena udh lelah sama tekanan dari Ny. Do
Rly: hoho.. Chanyeol hanya untuk Baekhyun kok.
Parkwillsy: hehehe iya aku sengaja bikin mereka cerai, supaya Yifan sama kamu dek. Hhehehehe..
SNAmalia: iyaa kita berusaha bgt buat dapetin hidup yang baik sekalipun kita gak pernah tau apa yang Tuhan takdirin buat kita ya. Makasih yaa udh baca ff ini. :)
Cybh614: iyaa darling udah aku temuin kok. Cuma disini masih biasa aja ya chanbaek momentnya.
Dubiduchen: iyaa pastiiii hhe
Rama Park: iyaa malah si Baekhyun tega nyuruh Channie milih lho.. Kira-kira enaknya gimana?
Ekayoon: udah ya sayang. Aku udh update. Enjoyy :)
ChanBmine: iya aku skip dek, takut kalian pada bosen kalau kelamaan.
Bubbletea947 : enggak kok. Chanyeol sibuk pengobatan. Hhe
Whey.k : Chanyeol kan tipe setia. Hot Daddy hahahaha
Callme Choi: iya sayang makasih ya kamu bener-bener bisa ngerti maksud tujuan aku kenapa aku tulis itu. Terus semangatin aku ya biar semangat nulis Chapt selanjutnya.
Parkoobyunxo: iyaa, makanya itu udah jadi fakta ya deee.. Hhe semoga beneran ada ya laki-laki yang kaya Yifan. Huhu.. Baik bgt sumpah.
Chanbaekhunlove: iyaa hhehe
Park Rin-hyun-uciha: heheheh eh Tao ada lho disini. Gimana? Mau di persatukan ajakah mereka?
SyiSehun: iya dek. ChanBaek forever. Hhe
Yong1237: pantengin yaa. Jangan bosen.
Guest: xixixi kamu jengkel yaa. Aku juga sih, tapiii dia kayagitu awalnya gara2 si Cy juga kan. Huft
Guest: iyaa kalau enggak, CBHS bisaaa ngamuk. Hhe
Keenz: iyaa semoga yaa. Doain yg terbaik buat Chanbaek. :)
